Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Daun Baroko
a. Definisi
Boroko (Celosia Argentea L) merupakan tumbuhan liar yang bisa
ditemukan pada daerah berpasir yang basah, seperti di tepi selokan atau di tepi
sungai, tegalan, kebun, dan semak. Kadang juga dibudidayakan sebagai tanaman
hias atau sayuran. Asalnya mungkin dari Amerika, tersebar ke Cina Selatan, Sri
Lanka, India, dan Afrika. Di Indonesia dapat ditemukan pada ketinggian 1-1700
mdpl. Baroko memiliki rasa pahit dan bersifat sejuk.
b. Klasifikasi 8,9,10
Kerajaan

: Plantae

Sub Kerajaan

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub kelas

: Hamamelidae

Bangsa

: Caryophyllales

Suku

: Amaranthaceae (Suku bayam-bayaman)

Marga

: Celosia

Jenis

: Celosia argentea Linn.

c. Nama8,9,10,11
Sinonim

: Celosia linearis Sweet, Celosia margaritacea L.

Nama ilmiah

: Celosia argentea Linn.

Nama daerah

: Sangsri (Jawa), sangsri (Sunda), bayam bludu (Sumatera


Utara), janggar siap (Bali).

Nama asing

: Quail grass (Inggris) dan qing xiang zi (Cina).

d. Morfologi9,10
Tumbuh tegak, tinggi 30-100 cm. Tumbuh liar di sisi jalan, tanah lapang
yang terlantar. Batang bulat dengan alur kasar memanjang, bercabang banyak,
warna hijau atau merah. Daun ada yang berwarna hijau dan ada yang berwarna
merah, bentuk bulat telur memanjang, ujung lancip, pinggir bergerigi halus
hampir rata. Bunga bentuk bulir panjang 3-10 cm, warna merah muda/ungu, biji
hitam agak cerah, bunga tumbuh di ujung-ujung batang.
e. Khasiat9,10
Berkhasiat sebagai antihipertensi, antiradang mata, disentri, infeksi saluran
kencing, keputihan, muntah darah, obat cuci mata, dan radang kornea (keratitis).
f. Kandungan kimia, efek biologi dan farmakologi8,10
Daun baroko mengandung flavonoid dan polifenol. Senyawa flavonoid
atau bioflavonoid adalah suatu kolompok senyawa fenol yang terbesar yang
ditemukan dialam. Senyawa ini merupakan persenyawaan glucoside yang terdiri
dari gula yang terikat dengan flavon12.
Flavonoid dapat bersifat polar karena adanya gula yang terikat padanya,
bentuk ini cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air.
Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavonon, dan flavon
serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut
seperti eter dan klorofom13. Flavonoid berfungsi sebagai antimikroba dan diduga
dapat bersifat toksik pada kadar tertentu4.
g. Bagian yang digunakan8,10
Bagian yang digunakan pada tumbuhan liar baroko adalah bunga kering
atau segar, daun kering atau segar, biji, batang, dan seluruh tumbuhan.

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah teknik pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan
distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang saling bercampur. Pada umumnya
zat terlarut yang diekstrak bersifat tidak larut atau larut sedikit dalam suatu pelarut
tetapi mudah larut dengan pelarut lain. Metode ekstraksi yang tepat ditemukan
oleh tekstur kandungan air bahan-bahan yang akan diekstrak dan senyawasenyawa yang akan diisolasi14.
Proses pemisahan senyawa dalam simplisia, menggunakan pelarut tertentu
sesuai dengan sifat senyawa yang akan dipisahkan. Pemisahan pelarut
berdasarkan like dissloved like artinya suatu senyawa polar akan larut dalam
pelarut polar. Ekstraksi dapat dilakukan dengan bermacam-macam metode,
tergantung dari tujuan ekstraksi, jenis pelarut yang digunakan dan senyawa yang
diinginkan. Metode paling sederhana adalah maserasi16.
Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk
simplisia kering (penyerbukan). Dari simplisia dibuat serbuk simplisia dengan
peralatan tertentu sampai derajat kehalusan tertentu. Proses ini dapat
mempengaruhi mutu ekstrak karena makin halus serbuk simplisia, proses
ekstraksi makin efektif dan efisien. Namun makin halus serbuk, maka makin
rumit secara teknologi peralatan untuk tahapan filtrasi. Pemekatan berarti
peningkatan jumlah partial solute (senyawa terlarut) secara penguapan pelarut
tanpa sampai menjadi kondisi kering, ekstrak hanya menjadi kental/pekat.
Pengeringan berarti menghilangkan pelarut dari bahan sehingga menghasilkan
serbuk, masa kering-rapuh, tergantung proses dan peralatan yang digunakan.
Rendemen adalah perbandingan antara ekstrak yang diperoleh dengan simplisia
awal11,14,15.
Berdasarkan suhu, metode ekstraksi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu11,14,15 :
a. Cara dingin
Ekstraksi dingin dilakukan untuk zat yang bersifat termolabil, tetapi
memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan metode ekstraksi panas.

1) Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan (kamar). Metode ini dapat menghasilkan ekstrak dalam jumlah banyak,
serta terhindar dari perubahan kimia senyawa-senyawa tertentu karena
pemanasan16.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyari, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga
sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam dan di luar sel, maka larutan yang
terpekat

didesak

keluar.

Peristiwa

tersebut

berulang

sehingga

terjadi

keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar dan di dalam sel.


2) Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur
ruangan. Proses terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap maserasi antara,
tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus-menerus
sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.
b. Cara panas
1) Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu
pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.
3) Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

4) Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinyu) pada


temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-50 oC.
5) Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air.
Bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98 oC
selama 15-20 menit.
6) Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama ( 30 menit) dan
temperatur sampai titik didih air.
c. Hasil ekstraksi
Setelah didapatkan ekstrak kental dilakukan penetapan standar mutu dan
kandungan kimia ekstrak. Cairan Pelarut persyaratan mutu ekstrak meliputi
parameter standar umum dan parameter standar spesifik. Standarisasi ini
dimaksudkan agar dapat menjamin bahwa produk ekstrak mempunyai nilai
parameter tertentu yang konstan17.
Pada pemeriksaan organoleptik ekstrak meliputi bentuk,warna, bau, dan
rasa. Penentuan organoleptik ini termasuk salah satu parameter spesifik yang
ditentukan dengan menggunakan panca indera dan bertujuan untuk pengenalan
awal secara sederhana dan subjektif.
Kadar air ditetapkan untuk menjaga kualitas ekstrak. Disamping untuk
penentuan kadar air, dapat juga untuk menentukan jumlah zat lain yang mudah
menguap pada ekstrak. Menurut literatur kadar air dalam ekstrak tidak boleh lebih
dari 10%. Hal ini bertujuan untuk menghindari cepatnya pertumbuhan jamur
dalam ekstrak18. Ekstrak kental disimpan pada tempat yang terlindung dari sinar
matahari langsung untuk mencegah reaksi yang dikatalisis oleh cahaya matahari
yang dapat merusak komponen zat aktif19.
Cairan pelarut dalam pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik
(optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan
demikian senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan dan dari senyawa
kandungan lainnya, serta ekstrak hanya mengandung sebagian besar senyawa

kandungan yang diinginkan. Dalam hal ekstrak total, maka cairan pelarut yang
dipilih yang melarutkan hampir semua metabolit sekunder yang terkandung.
Faktor-faktor utama untuk pertimbangan pada pemilihan cairan penyari antara
lain; selektivitas, kemudahan bekerja dan proses dengan cairan tersebut,
ekonomis, ramah lingkungan dan keamanan11,14,15
2.3 Skrining Fitokimia
Skrining Fitokimia dilakukan dengan metode uji tabung menggunakan
pereaksi-pereaksi yang sesuai untuk golongan senyawa yang akan diuji yaitu
alkaloid, polifenol, tanin, flavonoid dan saponin6.
Pereaksi Dragendroff dan perekasi Mayer digunakan untuk mendeteksi
golongan senyawa alkaloid lalu diamati ada tidaknya endapan. Pereaksi FeCl 3
digunakan untuk pemeriksaan polifenol dengan mengamati warna larutan hasil
reaksi. Pereaksi gelatin 1% digunakan untuk pemeriksaan tanin diamati ada
tidaknya endapan. Fraksi ditambahkan serbuk Mg, lalu ditambahkan asam klorida
pekat, apabila terbentuk warna orange, merah atau kuning berarti positif
flavonoid. Fraksi ditambahkan larutan vanilin 10% dalam asam sulfat pekat bila
terjadi warna-warna menunjukkan adanya senyawa mono dan seskuiterpen.
Dengan Pereaksi Liebermann Burchard bila terjadi warna ungu menunjukkan
adanya senyawa triterpenoid sedangkan adanya warna hijau biru menunjukkan
adanya senyawa steroid. Fraksi ditambahkan larutan KOH 5% adanya senyawa
kuinon ditandai dengan terjadinya warna kuning. Uji buih dan penambahan HCL
digunakan untuk mendeteksi adanya saponin6.
2.4 Fraksinasi
Proses fraksinasi menggunakan pelarut kloroform dan campuran airetanol. Hal ini dilakukan karena dasar dari pemisahan dengan cara partisi cair-cair
adalah perbedaan kelarutan dan syarat untuk melakukan partisi adalah dua pelarut
yang digunakan tidak saling bercampur. Proses partisi bertujuan untuk menyari
senyawa-senyawa yang terlarut dalam kloroform20.
Untuk senyawa flavonoid bisa dikerjakan dengan metode Charaux-Paris
ekstrak etanol kental diincerkan dengan air : etanol ( 8 : 2 ) diaduk sampai

10

homogen, kemudian dimasukkan dalam corong pisah, difraksi berturut-turut


secara ekstrasi cair-cair dengan pelarut n-heksan, kloroform dan etil asetat. Mulamula difraksinasi dengan pelarut n-heksan 150 mL. Diperoleh fraksi n-heksan dan
fraksi air. Fraksi n-heksan dipisahkan, kemudian fraksi air difraksinasi dengan
kloroform sebanyak 150 mL, diperoleh fraksi kloroform dan fraksi air. Fraksi
kloroform dipisahkan, fraksi air difraksinasi dengan etil asetat sebanyak 100 mL,
diperoleh fraksi etil asetat dan fraksi air.

2.5 Mikroorganisme
Pada umumnya kita mengambil ketentuan bahwa semua makhluk yang
berukuran beberapa mikron atau lebih kecil lagi itu kita sebut mikroorganisme. 1
mikron = 0,001 mm. Jadi yang termasuk golongan ini ialah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bakteri.
Cendawan atau jamur tingkat rendah.
Ragi, yang menurut sistematika masuk bangsa jamur juga.
Ganggang yang bersahaja
Hewan bersel satu atau protozoa
Virus yang hanya nampak dengan mikroskop elektron, dan oleh
karenanya dikatakan makhluk ultramikroskopik.

Berdasarkan bentuk morfologinya, maka bakteri dapat dibagi, atas tiga


golongan, yaitu golongan basil, golongan kokus, dan golongan spiril. Basil (dari
bacillus) berbentuk serupa tongkat pendek, silindris. Sebagian besar bakteri
berupa basil. Basil dapat bergandeng-gandengan panjang, bergandengan dua-dua,
atau terlepas satu sama lain. Yang bergandeng-gandeng panjang disebut
streptobasil, yang dua-dua disebut diplobasil. Kokus (dari coccus) adalah bakteri
yang bentuknya serupa bola-bola kecil. Golongan ini tidak sebanyak golongan
basil. Kokus ada yang bergandeng-gandengan panjng serupa tali leher, ini disebut
streptokokus; ada yang bergandengan dua-dua, ini disebut diplokokus; ada yang
mengelompok merupakan suatu untaian disebut stafilokokus, sedangkan kokus
yang mengelompok serupa kubus disebut sarsina. Spiril (dari spirillum) ialah

11

bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral. Bakteri yang


berbentuk spiral itu tidak banyak terdapat. Golongan ini merupakan golongan
yang paling kecil jika dibanding dengan golongan kokus maupun golngan basil.
Lazimnya orang berpendapat, bahwa pada sel bakteri itu ada dinding luar,
ada sitoplasma,dan bahan inti. Dinding luar terdiri atas 3 lapisan, dari luar
kedalam berturut-turut yaitu lapisan lendir, dinding sel, dan membran
sitoplasma21.
Mikroba

normal

yang

menetap

tersebut

dapat

dikatakan

tidak

menyebabkan penyakit dan mungkin menguntungkan bila berada di lokasi yang


semestinya dan tanpa adanya keadaan abnormal. Mikroba ini dapat menyebabkan
penyakit bila karena keadaan tertentu berada di tempat yang tidak semestinya atau
bila ada faktor predisposisi.
Kebanyakan mikroba asli di dalam tubuh manusia adalah komensal:
mereka memanfaatkan hubungan dengan inang, tetapi inangnya tidak terpengaruh.
Mikroba komensal mendapatkan makanannya dari sekresi dan produk-produk
buangan tubuh manusia. Mikroorganisme asli yang lain mempunyai hubungan
mutualistik dengan inangnya yaitu mereka memanfaatkan inangnya dengan hidup
dari situ.
Kulit dan selaput mukosa selalu mengandung berbagai mikroorganisme
yang dapat dikelompokkan dalam dua golongan:
(1) Flora menetap yang terdiri atas mikroorganisme yang jenisnya relatif tetap
dan biasa ditemukan didaerah-daerah tertentu pada umur tertentu; bila
terganggu, mikroorgsnisme itu tumbuh kembali dengan segera.
(2) Flora sementara yang terdiri dari mikroorganisme non-patogen atau potensial
patogen yang mendiami kulit atau mukosa; mikroorganisme ini berasal dari
lingkungan sekitarnya, tidak menimbulkan penyakit, dan tidak menetap
secara permanen pada permukaan kulit. Akan tetapi, bila flora yang menetap
terganggu, mikroorganisme sementara dapat berkoloni, berproliferasi dan
menimbulkan penyakit.

12

Flora yang menetap pada daerah-daerah tertentu memegang peranan dalam


mempertahankan kesehatan dan fungsi normal tubuh. Pada selaput mukosa dan
kulit, flora penetap dapat mencegah kolonisasi oleh mikroba patogen dan
kemungkinan timbulnya penyakit melalui interferensi bakteri. Sebaliknya,
anggota flora normal sendiri dapat menimbulkan penyakit dalam keadaan tertentu.
Organisme-organisme ini menyesuaikan diri terhadap cara kehidupan tidak invasif
karena adanya perbatasan lingkungan. Bila dipaksa disingkirkan dari lingkungan
yang terbatas ini dan dimasukkan ke dalam aliran darah atau jaringan, organismeorganisme ini dapat menjadi patogen23,24.
2.6 Mikroba Uji
Mikroba uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri
Staphylococcus aureus dan khamir Candida albicans.
Staphylococcus aureus22
a.Klasifikasi
Kerajaan

: Protista

Divisi

: Protophyta

Kelas

: Schyzomycetes

Bangsa

: Eubacteriales

Suku

: Micrococcaceae

Marga

: Staphylococcus

Jenis

: Staphylococcus aureus

b. Morfologi dan identifikasi


Sel-sel berbentuk bola dengan garis tengah sekitar 1 m dan tersusun
dalam kelompok yang tidak teratur. Pada biakan cair kokus tunggal, berpasangan,
berbentuk tetrad, dan rantai. Koloni pada pembenihan padat berbentuk bundar,
halus, menonjol, berkilau dan berwarna abu-abu sampai kuning emas tua.
Staphylococcus tidak motil dan tidak membentuk spora. Mudah tumbuh pada

13

medium bakteriologik dalam lingkungan aerobik atau mikroaerofilik. Bakteri ini


tumbuh paling cepat pada suhu 370C tetapi untuk membentuk pigmen paling baik
pada suhu kamar (20-250C).
Candida albicans21,23
a. Klasifikasi
Kerajaan

: Fungi

Divisi

: Ascomycota

Sub divisi

: Saccharomycotina

Kelas

: Saccharomycetes

Suku

: Saccharomycetaceae

Marga

: Candida

Jenis

: Candida albicans

b. Morfologi dan identifikasi


Mikroorganisme ini termasuk kelompok khamir yang merupakan
mikroflora normal tubuh yang secara normal ditemukan di mulut, tenggorokan,
usus, kulit, dan sering dijumpai di vagina perempuan asimtomatik. Ukuran
berkisar 1-5 m, lebar dan panjangnya 5-30 m atau lebih.berbentuk oval,
diameternya 4-6 m. Pada suasana aerob dapat tumbuh pada suhu 37C, genus
candida menghasilkan koloni halus, berwarna krem dengan aroma ragi. Bentuk
selnya bermacam-macam dan menghasilkan banyak pseudomiselium, dapat
berbentuk miselium sejati dan klamidiospora. Blatospora dapat dijumpai pada
posisi yang khas menurut masing-masing spesies. Di dalam medium cair dapat
terbentuk endapan seringkali berbentuk cincin dan pelikel.
c. Patogenesis, patologi dan antibakteri
Staphylococcus aureus dapat menyebabkan furunkel atau abses setempat
lainnya merupakan suatu contoh lesi oleh Stafilokokus. Kuman berkembang biak
dalam folikel rambut dan menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan setempat.
Kemudian terjadi koagulasi fibrin disekitar lesi dan pembuluh getah bening,

14

sehingga terbentuk dinding yang membatasi proses nekrosis. Selanjutnya disusul


dengan serbukan sel radang, di pusat lesi akan terjadi pencairan jaringan nekrotik,
cairan abses ini akan mencari jalan keluar di tempat yang paling kurang
tahanannya. Pengeluaran cairan abses diikuti dengan pembentukan jaringan
granulasi. Peradangan setempat merupakan sifat khas dari infeksi Stafilokokus.
Dari fokus ini kuman akan menyebar ke bagian tubuh lain lewat pembuluh getah
bening dan pembuluh darah. Pada osteomielitis, fokus primer dari kuman terdapat
pada pembuluh darah bagian terminal dalam metafisis tulang panjang, kemudian
terjadi nekrosis dari tulang dan peradangan yang kronis.
Antibakteri merupakan bahan atau senyawa yang khusus digunakan untuk
kelompok bakteri. Antibakteri dapat dibedakan berdasarkan mekanisme kerjanya,
yaitu antibakteri yang menghambat pertumbuhan dinding sel, antibakteri yang
mengakibatkan perubahan permeabelitas membran sel atau menghambat
pengangkutan aktif melalui membran sel, antibakteri yang menghambat sintesis
protein, dan antibakteri yang menghambat sintesis asam nukleat sel. Aktivitas
antibakteri dibagi menjadi 2 macam yaitu aktivitas bakteriostatik (menghambat
pertumbuhan tetapi tidak membunuh patogen) dan aktivitas bakterisidal (dapat
membunuh patogen dalam kisaran luas)25.
Candida albicans dapat menyebabkan candidiasis superfisial (kulit atau
mukosa) ditandai oleh penambahan cacah lokal candida dan kerusakan kulit atau
epitel yang memungkinkan invasi lokal oleh ragi dan pseudohifa. Secara
histologik, berbagai lesi kulit pada manusia menunjukkan peradangan.
Candidiasis sistemik terjadi bila candida masuk ke aliran darah dan pertahanan
fagositik inang tidak kuat untuk menahan pertumbuhan dan penyebaran ragi. Dari
sirkulasi, candida dapat menginfeksiginjal, menempel pada katup jantung buatan,
atau menimbulkan infeksi candida seperti meningitis, arthritis, endophthalmitis.
Histologi lokal lesi kulit atau mukokutan ditandai oleh reaksi peradangan yang
bervariasi.
2.7 Pengujian Aktivitas Antimikroba Fraksi26
Uji aktivitas mikroba dapat dilakukan dengan metode difusi dan metode
pengenceran. Disc diffusion test atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur

15

diameter zona bening (clean zone) yang merupakan petunjuk adanya respon
penghambatan pertumbuhan mikroba oleh senyawa antimikroba dalam ekstrak.
Parameter yang digunakan untuk mengukur daya hambat suatu zat
terhadap pertumbuhan suatu mikroorganisme tertentu adalah Konsentrasi Hambat
Minimum (KHM) atau Minimum Inhibiting Concentration (MIC). Konsentrasi
Hambat Minimum (KHM) adalah konsentrasi terkecil dari suatu obat atau suatu
zat yang masih memberikan daya hambat terhadap pertumbuhan mikroorganisme.
Metode pengujian aktivitas antimikroba yang dikenal secara umum untuk
digunakan antara lain :
a. Metode Pengenceran(26,27)
Prinsip metode pengenceran adalah senyawa mikroba diencerkan hingga
diperoleh

beberapa

konsentrasi,

kemudian

masing-masing

konsentrasi

ditambahkan suspensi mikroba uji dalam media. Perlakuan tersebut akan


diinkubasi dan diamati ada atau tidaknya pertumbuhan mikroba, yang ditandai
dengan terjadinya kekeruhan.
Metode ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1)

Metode Pengenceran Tabung 26


Metode ini sering digunakan untuk mengetahui dan menentukan nilai

konsentrasi terkecil dari suatu antimikroba. Metode ini akan dapat memberikan
suatu

gambaran

kemampuan

zat

antimikroba

dalam

menghambat

mikroorganisme. Hasil yang diperoleh dapat ditentukan secara kuantitatif dengan


konsentrasi terkecil dari suatu zat uji yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri atau kapang.
Zat yang akan ditentukan daya antimikrobanya dicampurkan ke media
agar dengan menggunakan tabung yang steril, kemudian pada tabung tersebut
ditambahkan 0,1 mL suspensi mikroba, yang kemudian diinkubasikan selama 18
24 jam pada suhu 37oC untuk bakteri dan 72 jam untuk kapang dan khamir.
Pembacaan hasil Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditandai dengan tidak
timbulnya koloni mikroba pada permukaan dari konsentrasi terkecil dari hasil
pengenceran.
2) Metode Pengenceran Agar 26

16

Zat yang memiliki daya antimikroba disiapkan dalam berbagai


konsentrasi, kemudian masingmasing dicampurkan pada agar yang masih cair
pada suhu 4550oC dalam tabung reaksi. Pencampuran dilakukan dengan cara
memutarkan tabung 2 3 kali kemudian dituangkan dalam cawan petri steril dan
kemudian dibiarkan memadat. Mikroba uji kemudian ditanamkan dengan cara
dioleskan diatas permukaan agar secara merata pada tiap sisinya, pengolesan
dilakukan dengan menggunakan jarum ose. Prinsip dari pengenceran media
adalah sama dengan pengenceran tabung untuk uji Konsentrasi Hambat Minimum
(KHM) dan ditandai dengan tidak tumbuhnya koloni bakteri pada permukaan agar
dari konsentrasi tertentu dan hasil pengenceran.
b. Metode Difusi Agar27
Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan.
Metode difusi

dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu silinder, metode

lubang/sumuran yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah diinokulasi
dengan mikroba. Jumlah dan letak lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian,
kemudian lubang diinjeksi dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan
inkubasi, pertumbuhan mikroba diamati untuk melihat ada tidaknya daerah
hambat di sekeliling lubang.
Prinsip metode ini adalah berdasarkan adanya difusi bahan uji dari
wadahnya menuju media agar kemudian menghambat pertumbuhan bakteri uji
yang ada. Wadah bahan uji dapat berupa:
1) Silinder
Silinder gelas yang disterilkan diletakkan di atas media beku yang
mengandung suspensi mikroba, kemudian silinder tersebut diisi dengan zat yang
diperiksa, lalu diinkubasi pada suhu 35-37oC untuk bakteri selama 24 jam dan
pada suhu 25-30oC untuk kapang selama 72 jam. Diameter hambat yang terjadi
kemudian diukur.
2) Lubang Sumuran
Media agar yang masih cair pada suhu 45 50 oC dicampurkan dengan
suspensi mikroba pada cawan petri steril, kemudian dibiarkan memadat dan dibuat

17

lubang-lubang dengan menggunakan perforator. Lubang tersebut diisi dengan zat


yang akan diuji daya anti mikrobanya dengan konsentrasi yang berbeda-beda.
Cawan diinkubasi selama 18 24 jam pada suhu 37 oC untuk bakteri, dan 72 jam
pada suhu 25 30oC untuk kapang dan khamir. Diameter hambat pertumbuhan
mikroba yang terjadi diukur.
3) Cakram Kertas
Pengujiannya menggunakan cakram kertas saring yang telah diserapkan
zat anti mikroba dengan konsentrasi tertentu. Cakram kertas tersebut diletakkan
pada permukaan agar yang telah diinokulasi mikroba uji, lalu diinkubasikan pada
suhu 37oC selama 18 24 jam. Diameter hambat yang terjadi kemudian diukur
dengan jangka sorong.