Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

1 | SUMBER AJARAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang sempurna yang tentunya sudah memiliki aturan dan hukum
yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh seluruh umatnya. Setiap aturan dan hukum memiliki
sumber-sumbernya sendiri sebagai pedoman dan pelaksananya. Kehadiran agama Islam yang
dibawa Nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia
yang lebih baik, sejahtera lahir dan batin. Untuk itu kita sebagai umat Islam yang taat harus
mengetahui sumber-sumber ajaran Islam yang ada, serta mengetahui isi kandunganya.
Namun sumber-sumber tersebut tidak hanya di jadikan sebagai pengetahuan saja, tetapi harus
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber-sumber yang berasal dari agama Islam merupakan sumber ajaran yang sudah
dibuktikan kebenarannya yaitu bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia, sumber-sumber
ajaran Islam merupakan sumber ajaran yang sangat luas dalam mengatasi berbagai
permasalahan seperti bidang akhidah, sosial, ekonomi, sains, teknologi dan sebagainya.
Al-Quran adalah kitab suci yang isinya mengandung firman-firman Allah SWT
turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat jibril. Sunnah
adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW baik perbuatan, perkataan,
dan penetapan pengakuan. Islam mengajarkan kehidupan yang damai, menghargai akal
pikiran mengenai berbagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap
seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan
kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, mencintai kebersihan,
mengutamakan persaudaraan, menghormati antar agama, berakhlak mulia, dan bersikap
positif lainnya.

2 | SUMBER AJARAN ISLAM

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sumber Ajaran Islam


Agama Islam memiliki aturanaturan sebagai tuntunan hidup kita baik dalam
berhubungan sosial dengan manusia (hablu minannas) dan hubungan dengan sang khaliq
Allah SWT (hablu minawallah) dan tuntunan itu kita kenal dengan hukum Islam atau syariat
Islam atau hukum Allah SWT. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai sumber-sumber
syariat Islam, terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi dari hukum Islam atau syariat
Islam. Hukum artinya menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya. Menurut ulama
usul fikih, hukum adalah tuntunan Allah SWT (Alquran dan hadist) yang berkaitan dengan
perbuatan mukallaf (orang yang sudah balig dan berakal sehat), baik berupa tuntutan,
pemilihan, atau menjadikan sesuatu sebagai syarat, penghalang, sah, batal, rukhsah
(kemudahan) atau azimah.
Melalui penjelasan singkat mengenai pengertian hukum tadi barulah kita mengerti
pengertian hukum Islam. Yang dimaksud sebagai sumber hukum Islam ialah segala sesuatu
yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat Islam. Pada umumnya para ulama fikih
sependapat bahwa sumber utama hukum Islam adalah Alquran dan hadist. Dalam sabdanya
Rasulullah SAW bersabda,
Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat
selamanya, selama kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan
sunahku (Hadis). (H.R. Al Baihaqi) dan disamping itu pula para ulama fikih menjadikan
ijtihad sebagai salah satu dasar hukum Islam, setelah Alquran dan hadist.
Sumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas oleh Rasulullah SAW, yakni terdiri dari
tiga sumber, yaitu kitabullah (Alquran), as- sunnah (hadist), dan rayu atau akal pikiran
manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Ketiga sumber ajaran ini merupakan satu
rangkaian kesatuan dengan urutan yang tidak boleh dibalik. Sumber-sumber ajaran Islam ini
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sumber ajaran Islam yang primer (Alquran dan
hadist) dan sumber ajaran Islam sekunder (ijtihad).

3 | SUMBER AJARAN ISLAM

B. Al-Quran sebagai Sumber Utama Ajaran Islam


1.

Pengertian Al-Quran
Secara etimologi Al-Quran berasal dari kata qaraa, yaqrau, qiraatan, quranan

yang berarti mengumpulkan dan menghimpun huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian ke
bagian lain secara teratur. Ada juga sumber lain mengatakan bahwa Al-Quran secara harfiah
berarti bacaan sempurna merupakan suatu nama pilihan Allah yng sungguh tepat, karena
tiada satu bacaanpun sejak anusia mengenl baca tulis yang dapat menandingi Al-Quran alKarim, secara terminologi Al-Quran adalah kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi
Muhammad SAW. Yang diampaikan lewat malaikat jibril, yang dikomunikasikan dengn
bahasa arab, harus dipercayai tanpa syarat dan menjadi pedoman bagi para pengikutnya yaitu
umat Islam diseluruh dunia.
Pengertian Al-Quran dari segi terminologinya dapat dipahami dari pandangan
beberapa ulama, bahwa:
a.

Muhammad Salim Muhsin dalam bukunya Tarikh Al-Quran al-Karim menyatakan

bahwa Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Yang
ditulis dalam mushaf-mushf dan dinukilkan/ diriwayatkan kepada kita dengan jalan
mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak
percaya) ataupun surat terpendek.
b.

Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan Al-Quran sebagai firman Allah SWT yang

diturunkan melalui Roh al-Amin (Jibril) kepada nabi Muhammad SAW. Dengan bahasa arab,
isinya dijamin kebenarannya, dan sebagai hujah kerasulannya, undang-undang bagi seluruh
manusia dan petunjuk dalam beribadah serta dipandang ibadah dalam membacanya, yang
terhimpun dalam mushaf yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri surat an-Nas, yang
diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir.
c.

Muhammad abduh mendefinisikan Al-Quran sbagai kalam mulia yang diturunkan oleh

Allah SWT kepada nabi yang paling smpurna (Muhammad SAW) ajarannya mencakup
keseluruhan ilmu pengetahuan, ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak
dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci daan berakal cerdas.
2.

Tahapan turunnya Al-Quran


Turunnya Al-Quran merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan

kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi. Turunnya Al-Quran yang pertama kali pada
malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari
4 | SUMBER AJARAN ISLAM

malaikat-malaikat akan kemuliaan nabi Muhammad SAW dan umatnya dengan risalah baru
agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Allah menurunkan kepada
manusia melalui 3 tahap yaitu:
1)

Al-Quran diturunkan Allah dari Lauhul Mahfudz


Al-arqani tidak menyinggung lebih jauh tentang kapan penurunan Al-Quran

di Lauhul Mahfudz ini. Beliau hanya menyatakan tidak ada yang tahu persis kapan
Al-Quran diturunkan di Lauhul Mahfudz kecuali Allah sendiri.
2)

Dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izza


Yaitu langit yang pertama yang tampak ketika dilihat di dunia ini namun tidak

diketahui letak persisnya. Adapun jumlahnya adalah semuanya pada waktu Lailatul
Qadr. Namun tanggalnya tidak diketahui, dan pada bulan Ramadhan.
3)
Dari Baitul Izza ke Rasulullah
Penurunannya tidak secara langsung sekaligus, namun diangsur-angsur selama
dua puluh tiga tahun berdasarkan kebutuhan, peristiwa atau bahkan melalui
permintaan malaikat jibril. Adapun kitab-kitab lain seperti tauraut, zabur dan injil
diturunkan oleh Allah SWT dengan cara sekaligus tidak secara berangsur-angsur.
3.

Isi dan pesan-pesan Al-Quran


Alquran diturunkan kepada nabi Muhammad kurang lebih selama 23 tahun, dalam

dua fase yaitu 13 tahun pada fase sebelum beliau hijrah ke Madinah (Makiyah) dan 10 tahun
pada fase sesudah hijrah ke Madinah (Madaniyah). Isi Al-Quran terdiri dari 114 surat, 6236
ayat, 74437 kalimat, dan 325345 huruf. Proporsi masing-masing fase tersebuut adalah 86
surat untuk ayat-ayat Makiyah dan 28 surat untuk ayat-ayat Madaniyah.
Abdul Wahab Khalaf lebih memerinci pokok-pokok kandungan Al-Quran ke dalam 3
kategori, yaitu:
a.

Masalah kepercayaan (Itiqadiyah) yang berhubungan dengan rukun iman

kepada Allah, malaikat, kitabullah, rasulullah, hari kebangkitan dan taqdir.


b.
Masalah etika (khuluqiyah) berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan perhisan
bagi seseorang untuk berbuat keutamaan dan meninggalkan kehinaan.
c.
Masalah perbuatan dan ucapan (amaliyah) yang terbagi dalam dua macam
yaitu ibadah dan muamalah. Ibadah berkaitan dengan rukun Islam, nazar, sumpah dan
ibadah-ibadah yang lain yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT.
Muamalah berkaitan dengan akad, pembelanjaan, hukuman, jual-beli dan lainnnya
yang mengtur hubungan manusia dengan sesama.

5 | SUMBER AJARAN ISLAM

Ada dua segi pembahasan isi/kandungan Al-Quran, yaitu dimensi keagamaan dan
dimensi keilmuan.
a.

Dimensi keagamaan
Menurut Masyfuk Zuhdi bahwa isi atau kandungan ajaran Al-Quran pada hakekatnya

mengandung lima prinsip, yaitu:


1)

Tauhid
Sekalipun Nabi Adam AS sebagai manusia pertama dan Nabi pertama adalah
seorang monotheisme/muwahhid dan mengajarkan tauhid kepada turunannya, namun
kenyataannya tidak sedikit manusia keturunannya itu yang menyimpang dari ajaran
tauhid. Untuk meluruskan kepercayaan mereka yang menyimpang dari Tuhan dan
untuk membimbing mereka ke arah yang lurus dan diridlai Tuhan, maka diutuslah
para Nabi/Rasul secara silih berganti mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad
sebagai nabi penutup.
Sebelum kelahiran Nabi Muhammad (pra Islam), keadaan manusia pada
umumnya telah menyimpang dari ajaran tauhid dan ajaran-ajaranlainnya dari para
nabi dan rasul sebelumnya, sekalipun sebagian mereka ada pula yang masih mengaku
percaya pada keesaan Tuhan, tetapi sebenarnya tauhidnya sudah tidak murni lagi.
Sebab Tuhan dianggap tidak tunggal sepenuhnya, melainkan ia terdiri dari beberapa
oknum, misalanya doktrin tri murti atau trinitas dari agama Hindu dan Kristen.

2)

Janji dan ancaman tuhan


Tuhan menjanjikan kepada setiap orang yang beriman dan selalu mengikuti
semua petunjuk-Nya akan mendapatkan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di
akhirat. Sebaliknya Tuhan akan mengancam kepada siapa saja yang ingkar kepada
tuhan dan memusuhi nabi/rasul-Nya serta melanggar perintah-perintah dan laranganlaranga-Nya, akan mendapat kesengsaraan hidup di dunia maupun akhirat.

3)

Ibadah
Tujuan hidup manusia didunia ini adalah untuk meribaddah kepada
Tuhan.pengertian ibadah menurut Islam adalah cukup luas,sebab tidak hanya berbatas
padaslat,puasa, haji dan semacamnya. Tetapi semua aktifitas yang dilakukan manusia
denga motivasi niat yang baik seprti untuk mencari ridlo Allah, semuanya dipandang
ibadah.
Ibadah bagi manusia adalah berfungsi sebagai manifestasi manusia bersyukur
kepada tuhan pencipta atas segala nikmat dan karunia. Dan juga berfungsi sebagai

6 | SUMBER AJARAN ISLAM

relisasi dan konsekwensi manusia atas kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
4)

Jalan dan cara mencapai kebahagiaan


Setiap orang yang breagama pasti bercita-cita ingin mendapatkan kebahagiaan
hidup di dunia maupun akhirat. Untuk bisa mencapai cita-citanya, Tuhan dalam AlQuran memberikan petunjuk-petunjuk-Nya bahwa manusia harus menempuh jalan
yang lurus dengan cara menghayati dan mematuhi segala aturan agam yang
ditetapkan Allah dan rasul-Nya.

5)

Cerita-cerita/sejarah-sejarah umat manusia sebelum Nabi Muhammad SAW


Didalam Al-Quran terdapat cerita-cerita tentang para nabi dan umatnya
masing-masing. Cerita-cerita tersebut diungkapkan kembali didalam al-quran dengan
maksud agar dijadikan pelajaran bagi manusia sekarang tentang bagiamna nasib
manusia yang taat kepada tuhan. Disamping itu juga sebagai hiburan bagi Nabi
Muhamad dan umat Islam pada permulaan Islam, agar nabi dan sahabat-sahabatnya
tetap berteguh hati, tidak berkecil hati dalam menghadapi segala macam hambatanhambatan dan tantangan-tantangan yang sama bahkan yang lebih.

b.

Dimensi keilmuan
Al-Quran

adalah

sumber

segala

pelajaran

dan

pengetahuan,

didalamnya

pembicaraan-pembicaraan dan kandungan isinya tidak semata-mata terbatas pada bidangbidang keagamaan, ia meliputi berbagai aspek hidup dan kehidupan manusia.
Menurut Dr. Muhammad Ijazul Khatib dari Universitas Damaskus, tak ada yang lebih
menekankan pentingnya sains dari pada kenyataan bahwa: berbeda dengan bagian legislatif
yang hanya 250 ayat saja, sedangkan 750 ayat Al-Quran hampir seperdelapannya- menegur
orang-orang mukmin untuk mempelajari alam semesta, untuk berfikir, untuk menggunakan
penalaran yang sebaik-baiknya, untuk menjadikan kegiatan ilmiah ini sebagai bagian dari
kehidupan umat.
Sekarang banyak ditemukan orang yang mencoba menafsirkan beberapa ayat AlQurandalam sorotan ilmiah modern. Dengan tujuan untuk menunjukkan mujizat Al-Quran
dalam lapangan keilmuan untuk meyakinkan orang-orang non-muslim akan keagungan dan
keunikan Al-Quran, dan untuk menjadikan kaum muslimin bangga memiliki kitab seperti
itu.
Pandangan mengenai Al-Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan bukanlah
merupakan sesuatu yang baru, karena banyak ulama besar kaum muslimin yang
berpandangan demikian.
7 | SUMBER AJARAN ISLAM

Dari keterangan diatas, para ulama berkeyakinan bahwa Al-Quran merupakan kitab
petunjuk bagi kemajuan manusia, dan mencakup apa yang diperlukan manusia dalam wilayah
iman dan amal. Al-Quran juga mengandung rujukan-rujukan pada sebagian fenomena alam.
4.

Fungsi dan tujuan Al-Quran


Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam merupakan kumpulan firman Allah yang

diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat
manusia. Menurut Dr. M. Quraish Shihab dalam wawasan Al-Quran menyebutkan delapan
tujuan diturunkannya Al-Quran:
a.

Untuk menbersihkan dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta

mementapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi tuhan semesta alam.
b.

Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia

merupakan umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengapdian kepada Allah dan
pelaksanaan tugas kekhalifahan.
c.

Untuk menciptakan perstuan dan kesatuan.

d.

Untuk mengajak manusia berfikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan

bermasyarakat dan bernegara.


e.

Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit dan

penderitaan hidup,serta pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial, ekonomi,
politik, dan juga agama.
f.

Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang.

g.

Untuk memberikan jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah

kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan
mencegah kemungkaran.
h.

Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan suatu peradaban

yang sejalan dengan jati diri manusia dengan panduan dan panduan Nur Ilahi.
Berikut adalah fungsi al-quran menurut nama-namanya:
a.

Al-huda (petunjuk). Dalam al-quran terdapat 3 kategori tentang posisi al-quran

sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Kedua, al-quran
adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Ketiga, petunjuk bagi orang-orang
beriman.
b.
Al-furqan (pemisah). Dalam al-quran dikatakan bahwa ia adalah ugeran untuk
membedakan dan bahkan memisahkan antara yang hak dan batil.

8 | SUMBER AJARAN ISLAM

c.

Asy-syifa (obat). Al-quran dikatakan berfungsi sebagai obat bagi penyakit-

penyakit dalam dada. Yang dimaksud penyakit dalam dada adalah penyakit-penyakit
psikologis.
d.
Al-mauizhah (nasihat). Al-quran berfungsi sebagai nasihat orang-orang yang
bertakwa.
C.

Hadits sebagai sumber hukum Islam


Umat Islam telah sepakat bahwa hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-

Quran.Dan tidak boleh seorang muslim hanya mencukupkan diri dengan salah satu dari
kedua sumber Islam tersebut. Al-Quran dan hadits merupakan dua sumber hukum Islam
yang tetap. Umat Islam tidak mungkin dapat memahami tentang syariat Islam dengan benar
sesuai dengan tanpa Al-Quran dan Hadits. Banyak dari ayat Al-Quran yang menerangkan
bahwa hadits merupakan sumber hukum Islam selain Al-Quran yang wajib diikuti. Baik itu
dalam hal perintah ataupun larangan.
Berikut uraian sedikit tentang kedudukan hadits sebagai sumber hukum Islam:
1.

Dalil Al-Quran
Banyak dari ayat Al-Quran yang menerangkan tentang kewajiban untuk dapat
mempercayai dan menerima apa saja yang telah disampaikan oleh Rasul kepada umat beliau
untuk dijadikan sebuah pedoman hidup. Seperti dalam Q.S An-Nisa ayat 59, Allah berfirman

()

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih
baik akibatnya
Dalam Q.S al-Maidah ayat 92,
()

9 | SUMBER AJARAN ISLAM

Artinya: dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhatihatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami,
hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
Selain Allah SWT memerintahkan agar umatnya percaya kepada Rasul juga dapat
menaati semua perintah atau peraturan yang telah ditetapkan atau dibawa oleh beliau. Taat
kepada Rasul sama dengan taat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah QS. Al- Imran:32
yang berbunyi:

Artinya: "Katakanlah: 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang kafir'." (QS. Al- Imran 3:32)
Dari banyaknya ayat Al-Quran ini membuktikan bahwa dimana setiap ada perintah
taat kepada Allah, pasti ada perintah taat kepada Rasul. Demikian pula mengenai ancaman.
Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dalam penetapan untuk taat kepada semua
yang diperintah Rasulullah SAW.
2.

Dalil al-hadits
Begitu pula halnya dalam hadits-hadits Nabi Saw, banyak kita temukan perintah yang
mewajibkan kita mengikuti Nabi Saw dalam segala perkara. Di antaranya adalah:
: :
( ) :
Artinya: Dari Abi Hurairah, bahwa rasulullah Saw. bersabda: Setiap umatku pasti akan
masuk surga, kecuali yang enggan. Sahabat bertanya: Siapa yang enggan itu wahai
Rasulullah? Beliau menjawab: siapa saja yang mentaatiku pasti akan masuk surga, dan
siapa yang mendurhakaiku, sungguh ia telah enggan. (H.R Bukhari)
Masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan tentang pedoman hidup
maupunpenetapan hukum. Hadits-hadits

tersebut

menunjukkan

terhadap

kita

bahwa

berpegang teguh kepada hadits sebagai pedoman hidup iitu wajib, sebagaimana wajib pada
Al-Quran.
3.

Kesepakatan ulama (ijma)


Umat Islam telah sepakat tentang wajibnya beramal dengan Sunnah Nabi Saw yang
shahih, bahkan yang demikian termasuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Kaum
muslimin sejak masa sahabat Rasulullah Saw, tabiin, tabi tabiin, dan generasi-generasi
10 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

sesudahnya sampai hari ini mereka selalu mengembalikan setiap persoalan agama kepada alQuran dan sunnah, berpegang dengannya, dan menjaganya.
Di antara dalil-dalil yang menyatakan para sahabat dan tabiin berpegang kepada alQuran dan sunnah adalah:
1). Dalam sebuah riwayat Abu Bakr pernah berkata:Aku tidak akan meninggalkan
sesuatupun yang diamalkan oleh Rasulullah Saw. karena aku khawatirbila aku meninggalkan
perintahnya aku akan sesat.(HR. Ahmad)
2). Umar berkata:Sesungguhnya aku mengutus para qadhi agar mereka mengajarkan
al-Quran dan Sunnah Nabi Saw kepada Umat agar mereka membagi rampasan perang dengan
adil, dan barangsiapa ragu-ragu hendaklah ia datang menemuiku.(HR. Darimy)
3). Umar bin Khatab berdiri di hadapan Hajar Aswad seraya berkata: Sesungguhnya
aku tahu bahwa engkau adalah batu, engkau tidak bisa mendatangkan manfaat dan bahaya,
seandainya aku tidak melihat Nabi Muhammad Saw menciummu, niscaya aku tidak akan
menciummu.(HR. Ahmad)
4). Said bin Musayyab mengatakan:Aku berwudhu seperti wudhunya Rasulullah
Saw dan aku shalat seperti shalatnya Rasulullah Saw.(HR. Ahmad)
5) Ali berkata tentang berdiri ketika jenazah lewat: Aku pernah melihat Rasulullah
Saw. berdiri, maka kami berdiri, dan beliau duduk, maka kamik pun duduk.
Hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua berfungsi :
1)

Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al-Quran, sehingga kedua-duanya


(Al-Quran dan Al-Hadits) menjadi sumber hukum. Seperti ayat Al-Quran yang berkaitan
dengan keimanan kemudian dikuatkan oleh sunnah Rasul.

2) Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Quran yang masih bersifat global.
Misalnya ayat Al Quran yang memerintahkan shalat, membayar zakat, dan menunaikan haji,
semuanya itu bersifat garis besar, Tetapi semua itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW
dalam Haditsnya.
3) Mengkhususkan atau menberi pengecualian terhadap pernyataan Al-Quran yang bersifat
umum

(takhsish

al-amm).

Misalnya,

Al-Quran

mengharamkan

bangkai

dan

darah diharamkan bagimu (memekan) bangkai, darah dan daging babi..., kemudian
sunnah memberikan pengecualian dihalalkan kepada kita dua bangkai dan dua macam
darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang, dan dua darah adalah hati dan
limpa. (HR.Ahmad, Ibnu Majah, dan Baihaqi).

11 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

4) Menetapkan hukum atau aturan yang tidak didapati dalam Al-Quran. Misalnya cara
mensucikan bejana yang dijilat anjing, dengan membasuh tujuh kali, salah satu dicampur
dengan tanah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Menyucikan bejanamu yang dijilat anjing, sebanyak tujuh kali, salah satunya menyucikan
dicampur dengan tanah. (H.R. Muslim Ahmad, Abu Daud dan Baihaqi).
b. As-Sunnah dibagi menjadi empat macam, yakni:
1) Sunnah Qauliyah
Yang dimaksud dengan Sunnah Qauliyah adalah segala yang disandarkan kepada Nabi
SAW., yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara, peristiwa,
dan keadaan, baik yang berkaitan dengan aqidah, syariah, ahlak maupun yang lainnya.
Contonya tentang doa Rosul SAW dan bacaan al-Fatihah dalam shalat.
2) Sunnah Filiyah
Yang dimaksudkan dengan Sunnah Filiyah adalah segala yang disandarkan kepada
Nabi SAW., berupa perbuatannya sampai kepada kita. Seperti Hadis tentang Shalat dan Haji.
3) Sunnah Taqririyah
Yang dimaksud Sunnah Taqririyah adalah segala hadts yang berupa ketetapan Nabi
SAW. Membiarkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat, setelah memenuhi
beberapa syarat, baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya. Diantara contoh hadis
Taqriri, ialah sikap Rosul SAW. Membiarkan para sahabat membakar dan memakan daging
biawak.[12]
4) Sunnah Hammiyah
Yang dimaksud dengan Sunnah Hammiyah adalah hadis yang berupa hasrat Nabi SAW.
Yang belum terealisasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 Asyura. Dalam riwayat
Ibn Abbas, disebutkan sebagai berikut:
Ketika Nabi SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk
berpuasa, mereka berkata: Ya Nabi! Hari ini adalah hari yang diagung-agungkan orang
Yahudi dan Nasrani .Nabi SAW. Bersabda: Tahun yang akan datang insyaAllah aku akan
berpuasa pada hari yang kesembilan. (HR.Muslim)
Nabi SAW belum sempat merealisasikan hasratnya ini, karena wafat sebelum sampai bulan
Asyura. Menurut Imam Syafiiy dan para pengikutnya, bahwa menjalankan Hadits Hammi
ini disunnahkan, sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah yang lainnya.
D.

Ijtihad sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Quran dan Hadits


12 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

1.

Pengertian Ijtihad
Ijtihad secara bahasa berasal dari kata jahada yang berarti mengerahkan segala
kemampuan. Sedangkan Ijtihad secara terminologi berarti mengerahkan segala kemampuan
secara maksimal untuk mengeluarkan hukum syari dari dalil-dalil syara, yaitu Alquran dan
hadist.Orang yang menetapkan hukum dengan jalan ini disebut mujtahid. Hasil

dari

ijtihad

merupakan sumber hukum ketiga setelah Alquran dan hadist. Ijtihad dapat dilakukan apabila
ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di dalam Alquran maupun hadist, maka
dapat dilakukan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu pada
Alquran dan hadist. Ijtihad memiliki arti kesungguhan, yaitu mengerjakan sesuatu dengan
segala kesungguhan. Ijtihad dari sudut istilah berarti menggunakan seluruh potensi nalar
secara maksimal dan optimal untuk meng-istinbath suatu hukum agama yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok ulama yang memenuhi persyaratan tertentu, pada waktu tertentu
untuk merumuskan kepastian hukum mengenai suatu perkara yang tidak ada status hukumnya
dalam Al-Quran dan sunnah dengan tetap berpedoman pada dua sumber utama.
Dengan demikian, ijtihad bukan berarti penalaran bebas dalam menggali hukum satu
peristiwa yang dilakukan oleh mujtahid, melainkan tetap berdasar pada Al-Quran dan
sunnah. Walaupun ijtihad diperbolehkan untuk dilakukan oleh mujtahid (orang yang
berijtihad) yang memenuhi syarat, namun tidak berarti bahwa ijtihad dapat dilakukan dalam
semua bidang. Ijtihad memiliki ruang lingkup tertentu.
Syaikh Muhammad Salut, misalnya membagi lingkup ijtihad ke dalam dua bagian:
a.

Permasalahan yang tidak ada atau tidak jelas ketentuan hukumnya dalam Al-Quran atau
hadist Nabi.

b.

Ayat-ayat Al-Quran tertentu dan hadis tertentu tidak begitu jelas maksudnya yang mungkin
disebabkan oleh makna yang dikandung lebih dari satu sehingga perlu ditentukan dengan
jalan ijtihad untuk mengetahui makna-makna yang sesungguhnya yang dimaksud.[11]

2.

Macam-macam Ijtihad
a.

Ijmak.
Ijmak berarti menghimpun, mengumpulkan, atau bersatu dalam pendapat, dengan kata

lain ijmak merupakan consensus yang terjadi di kalangan para mujtahid terhadap suatu
masalah sepeninggal Rasulullah SAW. Ahli ushul fikih mengemukakan bahwa ijmak adalah
kesepatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa sepeninggal Rasulullah SAW
terhadap suatu hukum syariat mengenai suatu peristiwa. Apabila terjadi suatu peristiwa yang
memerlukan ketentuan hukum yang tidak ditemukan dalam kedua sumber sebelumnya (AlQuran dan sunnah) maka para mujtahid mengemukakan pendapatnya tentang hukum suatu
13 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

peristiwa dan jika disetujui atau disepakati oleh para mujtahid lain, kesepakatan itulah yang
disebut ijmak.
Ijmak merupakan salah satu sumber hukum Islam yang memiliki posisi kuat dalm
menetapkan hukum dari suatu peristiwa. Bahkan telah diakui luas sebagai sumber hukum
yang menempati posisi ketiga dalam hukum Islam. Sejumlah ayat dan hadits nabi menjadi
pembenaran teologis kekuatan ijmak sebagai sumber hukum dalam Islam. Pemberian warisan
kepada nenek laki-laki (jadd) ketika ia berkumpul dengan laki-laki orang yang meninggal
dunia yang dalam keadaan seperti ini nenek laki-laki tersebut menggantikan ayah (orang yang
meninggal) untuk menerima seperenam dari harta warisan atau harta peninggalannya
merupakan contoh penetapan hukum berdasarkan ijmak sahabat.
Dalam transaksi jual beli, misalnya istishna atau pemesanan barang yang baru akan
dibuat yang seharusnya tidak boleh,karena dinilai sama seperti halnya membeli barang yang
tidak ada, merupakan contoh hukum yang bersumber dari hasil ijmak sahabat. Penggunaan
ijmak sebagai sumber hukum dalam menetapkan hukum suatu peristiwa secara historis terjadi
pasca wafatnya Nabi SAW. Selama beliau hidup, setiap peristiwa yang muncul selalu diminta
untuk ditetapkan hukumnya sehingga tidak mungkin terjadi perlawanan hukum terhadap
suatu masalah. Ijmak yang memiliki kehujahan sebagai sumber hukum didasarkan pada
sejumlah argumentasi teologis terutama ayat 59 surah An-nisa yang didalamnya terdapat
anjuran untuk taat pada ulil amri setelah taat pada Allah SWT dan Rosul-Nya. Ulil amri
dalam ayat tersebut dipahami sebagai pemegang urusan dalam arti luas mencakup urusan
dunia ( seperti kepala Negara, menteri, legislative, dan lain-lain) dan pemegang urusan agama
seperti para mujtahid, mufti, dan ulama. Karena itu, apabila ulil amri telah sepakat dalam
status hukum suatu urusan maka wajib ditaati, diikuti, dan dilaksanakan sebagaimana
mentaati, mengikuti, dan melaksanakan perintah Allah SWT dan Rosul-Nya dalam (QS. Annisa [4] : 83 ):







Artinya: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun
ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul
dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya
(akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena
karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian
kecil saja (di antaramu). (QS. An-nisa 4: 83)

14 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

Argumentasi yang kedua yang dijadikan pembenaran kehujahan ijmak sebagai sumber
hukum Islam adalah sejumlah hadis Nabi SAW yang menjelaskan terpeliharanya umat Islam
dari bersepakat membuat kesalahan dan kesesatan separti hadis Nabi SAW yang diriwayatkan
Ibnu Majah, yang mengatakan : umatku tidak sepakat untuk membuat kekeliruan. Hal ini
berarti bahwa kesepakatan yang telah dicapai oeh para mujtahid memiliki kehujahan yang
kuat sebagai sumber hukum dalam Islam dan wajib diikuti oleh umat Islam pada umumnya.
b.

Qiyas
Secara harfiah berarti analogi atau mengumpamakan. Adapun menurut pengertian para
ahli fikih, qiyas adalah menetapkan hukum tentang sesuatu yang belum ada nash atau
dalilnya yang tegas, dengan sesuatu hukum yang sudah ada nash atau dalilnya yang
didasarkan atas persamaan illat antara keduanya. Misalnya, menetapkan haramnya minuman
bir yang tidak ada dalilnya dalam Al-Quran dengan khamar yang ada hukumnya di dalam
Al-Quran. Menyamakan atau menganalogikan bir dengan khamar ini didasarkan pada adanya
persamaan illat antara keduanya, yaitu memabukkan.

c.

Al-mashlahat al-mursalah
Secara harfiah berarti sesuatu yang membawa kebaikan bagi orang banyak. Adapun
menurut para ahli hukum Islam, Al-mashlahat al-mursalah adalah sesuatu yang didalamnya
mengandung kebaikan bagi masyarakat, sehingga walaupun pada masa lalu hal tersebut tidak
diberlakukan, namun dalam keadaan masyarakat yang sudah makin berkembang, keadaan
tersebut dianggap perlu dilakukan. Misalnya, pembukuan Al-quran dalam bentuk mushaf
seperti yang ada sekarang perlu dilakukan, mengingat jumlah para penghafal Al-Quran makin
sedikit karena meninggal dunia, serta pertentangan dalam membaca Al-Quran sering terjadi.

d.

Urf
Secara harfiah berarti sesuatu yang berlaku atau yang sudah dibiasakan. Adapun menurut
para ahli hukum Islam, urf adalah sesuatu yang berlaku dimasyarakat atau tradisi yang
mengandung nilai-nilai kebaikan bagi masyarakat. Contonya kebiasaan merayakan hari raya
yang pada zaman sebelum Islam, namun dinilai mengandung kebaikan, maka tetap
dilanjutkan.

e.

Istihsan
Secara harfiah berarti memandang sesuatu sebagai yang baik. Menurut Islam, istihsan
artinya segala sesuatu yang dipandang manusia pada umumnya sebagai hal yang baik, dan
tidak bertentangan dengan al-Quran dan sunnah. Penggunaan istihsan ini antara lain
didasarkan pada sabda Rasulullah SAW : Artrinya : segala sesuatu yang dinilai oleh kaum

15 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka yang demikian itu disisi Allah dipandang sebagai
hal yang baik.
f.

Qaul al-shahabat
Secara harfiah berarti ucapan sahabat. Dalam pengertian umum, Qaul al-shahabat adalah
pendapat, pandangan, pikiran, dan perbuatan para sahabat yang sejalan denganAl-Quran dan
sunnah. Penggunaan Qaul al-shahabat sebagai dasar hukum, mengingat para sahabat selain
sebagai orang yang dekat, bergaul dan ikut berjuang dengan Rasulullah SAW, juga memang
memiliki pemikiran, gagasan, dan karya-karya yang layak untuk dijadikan bahan renungan
dan pertimbangan dalam mengembangkan ajaran Islam pada masa selanjutnya.

g.

Syarun man qablana


Secara harfiah berarti agama sebelum kita. Dalam pengertian yang lazim, Syarun man
qablana adlah ajaran yang terdapat didalam agama yang diturunkan Tuhan sebelum Islam
yang terdapat di dalam kitab Zabur, Taurat, Injil yang masih asli yang tidak bertentangan dan
masih sesuai dengan kebutuhan zaman. Di dalam kitab Taurat yang ditinggalkan Nabi Musa
misalnya terdapat ajaran mengesakan Tuhan, larangan menyekutukan-Nya, memuliakan
kedua orang tua, memiliki kepedulian terhadap kerabat, orang miskin, ibnu sabil, bersikap
boros, membunuh anak, berbuat zina, memakan harta anak yatim, mengurangi timbangan,
menjadi saksi palsu, dan larangan bersikap sombong. Ajaran yang dibawa Nabi Musa ini
terus dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana terdapat dalam QS. Bani Israil
(17) ayat 23 sampai dengan ayat 37. Ajaran yang pernah berlaku pada zaman Nabi Musa itu,
masih tetap diberlakukan dimasa sekarang, karena masih dianggap cocok dan dibutuhkan
untuk zaman sekarang dan yang akan datang.

3. Sedangkan Fungsi Ijtihad, antara lain sebagai berikut:


1)

Memberikan kebebasan berpikir kepada manusia untuk memecahkan beragam

persoalan yang dihadapi dengan akal pikiran yang sesuai dengan ketentuan hukum Islam;
2)

Memberikan kebebasan berpikir kepada umat Islam untuk kembali mengkaji hukum-

hukum Islam yang telah lalu sehingga hukum tersebut tetap dapat digunakan untuk masa kini;
3)

Agar tidak terjadi kemandekan cara berpikir umat islam dan menghindari segala bentuk

taklid (mengikuti dengan cara apa adanya);


4)

Untuk memberi kejelasan hukum terhadap persoalan-persoalan yang tidak ada

ketentuan hukum sebelumnya.

16 | S U M B E R A J A R A N I S L A M

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sumber-sumber Islam merupakan hal yang penting bagi kita, karena sumber Islam
merupakan petunjuk kita untuk menjalani hidup. Adapun yang di namakan dengan sumber
hukum Islam yaitu segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang
mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat yang apabila di langgar akan menimbulkan
sanksi yang tegas dan nyata.
Sumber ajaran Islam di rumuskan dengan jelas oleh Rasuluallah SAW, yakni terdiri
dari tiga sumber, yaitu kitabuallah (Al-Quran), As-Sunnah (Hadits), dan Rayu atau akal
pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad.

17 | S U M B E R A J A R A N I S L A M