Anda di halaman 1dari 5

I.1 Pendahuluan

PRASEDIMENTASI

Prasedimentasi merupakan salah satu unit pada bangunan pengolahan air minum yang umumnya digunakan sebagai pengolahan pendahuluan. Bentuk unit prasedimentasi yang umum digunakan adalah rectangular dan circular serta terdiri dari empat zona yaitu zona inlet, zona pengendapan , zona outlet, dan zona lumpur. Keempat zona ini akan mempengaruhi proses pengendapan yang terjadi di zona pengendapan. Pengendapan dapat berlangsung dengan efisien apabila syarat- syaratnya terpenuhi. Menurut Lopez (2007), efisiensi pengendapan tergantung pada karakteristik aliran, sehingga perlu diketahui karakteristik aliran pada unit tersebut. Karakteristik aliran dapat diperkirakan dengan bilangan Reynolds dan bilangan Froude (Kawamura, 2000).

Bentuk bak prasedimentasi dapat mempengaruhi karakteristik aliran, sehingga bentuk merupakan hal yang harus diperhatikan pada saat merancang unit prasedimentasi. Selain bentuk, rasio lebar dan kedalaman merupakan hal yang juga menentukan karakteristik aliran. Hal ini dikarenakan formula perhitungan bilangan Reynolds dan Froude mengandung jari-jari hidrolis R sebagai salah satu fungsinya. Jari-jari hidrolis terkait dengan luas permukaan basah A dan keliling basah P yang merupakan fungsi dari lebar dan kedalaman, sehingga rasio antara lebar dan kedalaman juga akan mempengaruhi karakteristik aliran.

Berdasarkan SNI 6774 tahun 2008 tentang tata cara perencanaan unit paket instalasi pengolahan air, bilangan Reynolds pada unit prasedimentasi harus memiliki nilai kurang dari 2000, sedangkan Bilangan Froude harus lebih dari 10-5. Kedua persyaratan tersebut seharusnya terpenuhi, tetapi pada kenyataannya akan sulit memenuhi kedua bilangan tersebut sekaligus dalam perancangan unit prasedimentasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi literatur untuk mengetahui acuan yang harus diutamakan untuk dipenuhi. Bentuk dan rasio antara lebar dan kedalaman memiliki peran penting dalam menentukan karakteristik aliran, sehingga kedua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam menetapkan acuan. Selain karakteristik aliran, ada beberapa faktor lain yang menentukan kondisi pengendapan, yaitu overflow rate, vhorizontal (vh), serta bilangan Reynolds partikel. Apabila faktor-faktor tersebut benar-benar diperhatikan, maka dapat tercapai kondisi pengendapan sesuai dengan yang diharapkan, sehingga pada saat mendesain zona pengendapan, faktor-faktor harus benar-benar diperhatikan. Selain kondisi zona pengendapan, ketiga zona lainnya, yaitu zona inlet, zona lumpur, dan zona outlet saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam menentukan efisiensi pengendapan.

Adanya ketidakseimbangan pada zona inlet dapat menyebabkan adanya aliran pendek, turbulensi, dan ketidakstabilan pada zona pengendapan (Kawamura, 2000). Begitu juga halnya terhadap zona lumpur. Zona lumpur merupakan zona dimana terkumpulnya partikel diskret yang telah terendapkan. Apabila terjadi aliran turbulen, partikel diskret yang telah terendapkan dapat mengalami penggerusan, sehingga partikel yang telah terendapkan dapat kembali naik. Zona outlet juga mempengaruhi karakteristik aliran, sehingga zona outlet harus didesain untuk

meminimalisasi terjadinya aliran pendek. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi literatur untuk mengetahui bagaimana desain seluruh zona pada unit prasedimentasi agar tercapai kondisi pengendapan sesuai dengan yang diharapkan.

I.2 Metoda Studi

Pada makalah ini kami menggunakan studi literature, baik text book maupun dari jurnal hasil penelitian.

I.3 Pembahasan

  • 1. Definisi Prasedimentasi Prasedimentasi merupakan unit dimana terjadi proses

pengendapan

partikel diskret. Partikel diskret adalah partikel yang tidak mengalami perubahan bentuk, ukuran, maupun berat pada saat mengendap. Pengendapan dapat berlangsung dengan efisien apabila syarat-syaratnya terpenuhi. Menurut Lopez (2007), efisiensi pengendapan tergantung pada karakteristik aliran, sehingga perlu diketahui karakteristik aliran pada unit tersebut. Karakteristik aliran dapat diperkirakan dengan bilangan Reynolds dan bilangan Froude (Kawamura, 2000).

Bangunan prasedimentasi merupakan bangunan pertama dalam sistem instalasi pengolahan air bersih. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat proses pengendapan partikel diskrit seperti pasir, lempung, dan zat-zat padat lainnya yang bisa mengendap secara gravitasi. Prasedimentasi bisa juga disebut sebagai plain sedimentation karena prosesnya bergantung dari gravitasi dan tidak termasuk koagulasi dan flokulasi. Oleh karena itu prasedimentasi merupakan proses pengendapan grit secara gravitasi sederhana tanpa penambahan bahan kimia koagulan. Tipe ini biasanya diletakkan di reservoir, grit basin, debris dam, atau perangkap pasir pada awal proses pengolahan.

Gambar 1 Diagram alir ukuran partikel-partikel dalam air  Partikel Tersuspesi -Diskrit: Uk. 1 s/d 1000

Gambar 1 Diagram alir ukuran partikel-partikel dalam air

Partikel Tersuspesi -Diskrit: Uk. 1 s/d 1000 mikron (0.0001 s/d 10 mm).

Partikel Terlarut:

Uk.

0.0001

s/d

1

mikron

(0.00000001 s/d

0.0001mm).

  • 2. Fungsi Prasedimentasi Fungsi proses prasedimentasi adalah untuk melindungi peralatan mekanis bergerak dan mencegah akumulasi grit pada jalur transmisi air baku dan proses pengolahan selanjutnya.

  • 3. Jenis Prasedimentasi Pada dasarnya, prasedimentasi memiliki tiga bentuk, yaitu rectangular, circular, dan square. Menurut Montgomery (1985), bak berbentuk square sangat jarang digunakan. Oleh karena itu, pembahasan bak prasedimentasi hanya untuk dua bentuk, yaitu bak prasedimentasi berbentuk rectangular dan circular.

3.1Bak Sedimentasi berbentuk Rectangular Bak prasedimentasi bentuk rectangular terbagi menjadi empat zona, yaitu zona inlet, zona pengendapan, zona outlet, serta zona lumpur. Berikut ini adalah pembahasan untuk masing-masing zona tersebut.

  • A. Zona Inlet Zona inlet berfungsi untuk mendistribusikan air ke seluruh area bak secara seragam, mengurangi energi kinetik air yang masuk, serta untuk memperlancar transisi dari kecepatan air yang tinggi menjadi kecepatan air yang rendah yang sesuai untuk terjadinya proses pengendapan di zona pengendapan.

  • B. Zona Pengendapan Proses

pengendapan

pada zona pengendapan pada dasarnya

ditentukan oleh dua faktor, yaitu karakteristik partikel tersuspensi dan hidrolika bak.

  • 1. Karakteristik partikel tersuspensi Proses pengendapan yang terjadi di unit prasedimentasi merupakan pengendapan partikel diskret. Partikel diskret adalah partikel yang tidak mengalami perubahan bentuk, ukuran, maupun berat pada saat mengendap. Pada saat mengendap, partikel diskret tidak terpengaruh oleh konsentrasi partikel dalam air karena partikel diskret mengendap secara individual dan tidak ada interaksi antar partikel. Contoh partikel diskret adalah silika, silt, serta lempung. Partikel diskret memiliki spesifik gravity sebesar 2,65 dengan ukuran partikel < 1 mm dan kecepatan mengendap < 100 mm/detik.

Pengendapan

partikel

diskret

merupakan

jenis

pengendapan tipe I, yaitu proses pengendapan yang berlangsung tanpa adanya interaksi antar partikel. Selain pengendapan partikel diskret, contoh lain pengendapan tipe I adalah pengendapan partikel grit pada grit chamber. Contoh partikel grit adalah pasir, dengan spesifik gravity antara 1,2-2,65 dengan ukuran partikel ≤ 0,2 mm dan kecepatan pengendapan sebesar 23 mm/detik.

  • 2. Overflow rate dan efisiensi bak

Partikel memiliki kecepatan horizontal, vH dan kecepatan pengendapan vS. apabila overflow rate/kecepatan horizontal sebanding dengan kedalaman/panjang bak, maka

sehingga,

=

vo = .vH vo =

.

  • C. Zona Outlet Zona outlet air keluar yang akan mengalirkan effluent secara baik dengan menjaga aliran tetap laminer. Desain outlet biasanya terdiri dari pelimpah yang dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi terjadinya aliran pendek. Weir loading rate adalah beban pelimpah (dalam hal ini debit air) yang harus ditanggung per satuan waktu dan panjangnya.

Jika

pada

bak

terjadi

density

current,

weir

loading

rate

diharapkan tidak terlalu besar karena dapat menyebabkan terjadinya penggerusan pada partikel yang mengendap di sekitar outlet, sehingga diharapkan weir loading rate dapat sekecil mungkin. Pada dasarnya satu pelimpah sudah cukup, namun jika hanya ada satu pelimpah, maka weir loading rate akan menjadi besar. Hal tersebut dapat mengganggu proses pengendapan, sebab terjadi aliran ke atas menuju pelimpah dengan kecepatan cukup besar

yang menyebabkan partikel yang bergerak ke bawah untuk mengendap terganggu. Terdapat beberapa alternatif untuk mendesain pelimpah agar luas yang dibutuhkan untuk zona outlet

tidak terlalu besar dan beban pelimpah juga tidak terlalu besar. Selain menggunakan pelimpah, outlet unit prasedimentasi dapat menggunakan perforated baffle karena pada dasarnya outlet berfungsi untuk mengalirkan air yang telah terpisah dari suspended solid tanpa mengganggu partikel yang telah terendapkan di zona lumpur, sehingga perforated baffle dapat digunakan, hanya saja bukaan diletakkan 30-90 cm dari permukaan, dan tidak diletakkan terlalu di bawah, sebab apabila bukaan diletakkan terlalu bawah, partikel yang telah terndapakan dapat ikut terbawa ke outlet D. Zona Lumpur

Zona

lumpur

merupakan

zona dimana partikel-partikel

diskret yang telah mengendap berada. Zona ini memiliki kemiringan tertentu menuju ke hopper yang terletak di bagian bawah inlet. Menurut Qasim (1985), kemiringan dasar bak rectangular adalah sebesar 1-2%. Zona lumpur didesain memiliki kemiringan didesain memiliki kemiringan tertentu agar mempermudah pada saat pembersihan lumpur. Kemiringan yang cukup terutama untuk pembersihan yang dilakukan secara manual, sebab pembersihan secara manual biasanya dilakukan dengan cara menggelontorkan air agar lumpur terbawa oleh air. Hopper terletak di bagian bawah inlet, sebab sebagian besar partikel besar mengendap di ujung inlet. Selain itu, apabila hopper diletakkan di bawah zona outlet, dikhawatirkan partikel yang telah terendapkan dapat tergerus karena adanya pergerakan air menuju pelimpah. Gambar 9 menunjukkan hopper pada bak prasedimentasi bentuk rectangular.