Anda di halaman 1dari 17

Nama : Elsa Abel Nuine

Prodi : S1 Keperawatan III.B


SHOLAT
1. Pengertian Dan Kewajiban Shalat
Secara etimologi shalat berarti doa dan secara terminology / istilah. Secara lahiriah shalat
berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam,
yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat syarat yang telah ditentukan (Sidi
Gazalba,88)
Adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan
takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesarannya dan kesempurnaan
kekuasaan-Nya atau mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah
dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua duanya (Hasbi Asy-Syidiqi,59)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa shalat adalah merupakan ibadah
kepada Tuhan, berupa perkataan denga perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan
salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara. Juga shalat merupakan penyerahan
diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam rangka ibadah dan memohon ridho-Nya.
a. Sejarah Tentang Diwajibkan Shalat
Perintah tentang diwajibkannya mendirikan shalat tidak seperti Allah mewajibkan zakat dan
lainnya. Perintah mendirikan shalat yaitu melalui suatu proses yang luar biasa yang dilaksanakan
oleh Rasulullah SAW yaitu melalui Isra dan Miraj, dimana proses ini tidak dapat dipahami
hanya secara akal melainkan harus secara keimanan sehingga dalam sejarah digambarkan
setelahnya Nabi melaksanakan Isra dan Miraj, umat Islam ketika itu terbagi tiga golongan yaitu,
yang secara terang terangan menolak kebenarannya itu, yang setengah tengahnya dan yang
yakin sekali kebenarannya. Dilihat dari prosesnya yang luar biasa maka shalat merupakan
kewajiban yang utama, yaitu mengerjakan shalat dapat menentukan amal amal yang lainnya,
dan mendirikan sholat berarti mendirikan agama dan banyak lagi yang lainnya
b. Dalil Dalil Tentang Kewajiban Shalat
Al-Baqarah, 43, Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang
orang yang ruku
Al-Baqarah 110, Artinya : Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan apa apa yang kamu
usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan dapat pahalanya pada sisi Allah
sesungguhnya Allah maha melihat apa apa yang kamu kerjakan
Dari dalil dalil Al-Qur'an di atas tidak ada kata kata perintah shalat dengan perkataan
laksanakanlah tetapi semuanya dengan perkataan dirikanlah. Dari unsur kata kata
melaksanakan itu tidak mengandung unsur batiniah sehingga banyak mereka yang Islam dan
melaksanakan shalat tetapi mereka masih berbuat keji dan munkar. Sementara kata mendirikan
selain mengandung unsur lahir juga mengandung unsur batiniah sehingga apabila shalat telah
mereka dirikan, maka mereka tidak akan berbuat jahat

2. Hikmah Sholat
Sholat merupakan rukun Islam yang kedua dan merupakan rukun Islam yang terpenting
setelah dua kalimat syahadat
Sholat merupakan media penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya
Sholat adalah penolong dalam segala urusan penting.

Sholat adalah pencegah dari perbuatan maksiat dan kemungkaran


Sholat adalah cahaya bagi orang-orang yang beriman yang memancar dari dalam hatinya dan
menyinari ketika di padang Mahsyar pada hari kiamat.
Sholat adalah kebahagiaan jiwa orang-orang yang beriman serta penyejuk hatinya
Sholat adalah penghapus dosa-dosa dan pelebur segala kesalahan, sebagaimana sabda
Sholat merupakan tiang agama, barangsiapa yang menegakkannya maka ia telah menegakkan
agama
Sholat merupakan pembeda antara orang yang beriman dengan orang yang kafir dan musyrik
Sholat merupakan sebaik-baik amalan
Sholat adalah perkara pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) pada setiap hamba

3. Waktu-Waktu Sholat
Kaum muslimin sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya
adalah firman Allah Subhanahu wa Taala, Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [ QS. An Nisa (4) : 103]
Berikut penjelasan waktu-waktu sholat.

Sholat Zhuhur

Secara bahasa Zhuhur berarti waktu Zawal yaitu waktu tergelincirnya matahari (waktu matahari
bergeser dari tengah-tengah langit) menuju arah tenggelamnya (barat).
Sholat zhuhur adalah sholat yang dikerjakan ketika waktu zhuhur telah masuk. Sholat zhuhur
) karena sholat yang pertama kali dikerjakan Nabi shollallahu
disebut juga sholat Al Uulaa ((
alaihi was sallam bersama Jibril Alaihis salam. Disebut juga sholat Al Hijriyah ().
Awal Waktu Sholat Zhuhur
Awal waktu zhuhur adalah ketika matahari telah bergeser dari tengah langit menuju arah
tenggelamnya (barat). Hal ini merupakan kesepakatan seluruh kaum muslimin, dalilnya adalah
hadits Nabi Shollallahu alaihi was sallam dari sahabat Abdullah bin Amr rodhiyallahu anhu,
Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju arah tenggelamnya)
hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu Ashar.
Akhir Waktu Sholat Zhuhur
Para ulama bersilisih pendapat mengenai akhir waktu zhuhur namun pendapat yang lebih tepat
dan ini adalah pendapat jumhur/mayoritas ulama adalah hingga panjang bayang-bayang
seseorang semisal dengan tingginya (masuknya waktu ashar). Dalil pendapat ini adalah hadits
Nabi Shollallahu alaihi was sallam dari sahabat Abdullah bin Amr rodhiyallahu anhu di atas.
Disunnahkan Hukumnya Menyegerakan Sholat Zhuhur di Awal Waktunya
Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Samuroh rodhiyallahu anhu, Nabi Shollallahu alaihi was
sallam biasa mengerjakan sholat zhuhur ketika matahari telah tergelincir
Disunnahkan Hukumnya Mengakhirkan Sholat Zhuhur Jika Sangat Panas
Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shollallahu alaihi was sallam,Nabi Shollallahu alaihi was
sallam biasanya jika keadaan sangat dingin beliau menyegerakan sholat dan jika keadaan sangat
panas/terik beliau mengakhirkan sholat

Sholat Ashar

Ashar secara bahasa diartikan sebagai waktu sore hingga matahari memerah yaitu akhir dari
dalam sehari. Sholat ashar adalah sholat ketika telah masuk waktu ashar, sholat ashar ini juga
disebut sholat woshtho ()(.
Awal Waktu Sholat Ashar
Jika panjang bayangan sesuatu telah semisal dengan tingginya (menurut pendapat jumhur
ulama). Dalilnya adalah hadits Nabi shollallahu alaihi was sallam, Waktu Sholat Zhuhur adalah
ketika telah tergelincir matahari (menuju arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang
sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu ashar dan waktu ashar masih tetap ada
selama matahari belum menguning
Akhir Waktu Sholat Ashar
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu anhu ketika Jibril
alihissalam menjadi imam bagi Nabi shollallahu alaihi was sallam, Jibril mendatangi Nabi
shollallahu alaihi was sallam ketika matahari telah tergelincir ke arah tenggelamnya kemudian
dia mengatakan, Berdirilah wahai Muhammad kemudian shola zhuhur lah. Kemudian ia diam
hingga saat panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Jibril datang kemudian
mengatakan, Wahai Muhammad berdirilah sholat ashar lah. Kemudian ia diam hingga
matahari tenggelam.diantara dua waktu ini adalah dua waktu sholat seluruhnya
Disunnahkan Hukmnya Menyegerakan Sholat Ashar
Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shollallahu alaihi was sallam yang diriwayatkan dari Sahabat
Anas bin Malik rodhiyallahu anhu Rosulullah shollallahu alaihi was sallam sering
melaksanakan sholat ashar ketika matahari masih tinggi Sunnah ini lebih dikuatkan ketika
mendung, hal ini berdasarkah hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Abul Mulaih rodhiyallahu
anhu. Dia mengatakan, Kami bersama Buraidah pada saat perang di hari yang mendung.
Kemudian ia mengatakan, Segerakanlah sholat ashar karena Nabi shollallahu alaihi was
sallam mengatakan, Barangsiapa yang meninggalkan sholat ashar maka amalnya telah batal
Hadits ini juga menunjukkan betapa bahayanya meninggalkan sholat ashar.

Sholat Maghrib

Secara bahasa maghrib berarti waktu dan arah tempat tenggelamnya matahari. Sholat maghrib
adalah sholat yang dilaksanakan pada waktu tenggelamnya matahari.
Awal Waktu Sholat Maghrib
Kaum Muslimin sepakat awal waktu sholat maghrib adalah ketika matahari telah tenggelam
hingga matahari benar-benar tenggelam sempurna.
Akhir Waktu Sholat Maghri
Para ulama berselisih pendapat mengenai akhir waktu maghrib.
Pendapat pertama mengatakan bahwa waktu maghrib hanya merupakan satu waktu saja yaitu
sekadar waktu yang diperlukan orang yang akan sholat untuk bersuci, menutup aurot, melakukan
adzan, iqomah dan melaksanakan sholat maghrib.Dalil pendapat ini adalah hadits yang
diriwayatkan dari Jabir ketika Jibril mengajarkan Nabi shallallahu alaihi was sallam sholat,
Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu alaihi was sallam ketika matahari telah
tenggelam (sama dengan waktu ketika Jibril mengajarkan sholat kepada Nabi pada hari

sebelumnya) kemudian dia mengatakan, Wahai Muhammad berdirilah laksanakanlah sholat


maghrib..
Pendapat kedua mengatakan bahwa akhir waktu maghrib adalah ketika telah hilang sinar merah
ketika matahari tenggelam. Pendapat ini adalah pendapatnya Sufyan Ats Tsauri, Imam Ahmad,
Ishaq, Abu Tsaur, Mahzab Hanafi serta sebahagian mazhab Syafii dan inilah pendapat yang
dinilai tepat oleh An Nawawi rohimahumullah. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Amr
rodhiyallahu anhu, Waktu sholat maghrib adalah selama belum hilang sinar merah ketika
matahari tenggelam
Disunnahkan Menyegerakan Sholat Maghrib
Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu alaihi was sallam dari Sahabat Uqbah bin Amir
rodhiyallahu anhu Umatku akan senantiasa dalam kebaikan (atau fithroh) selama mereka tidak
mengakhirkan waktu sholat maghrib hingga munculnya bintang (di langit)

Sholat Isya

Isya adalah sebuah nama untuk saat awal langit mulai gelap (setelah maghrib) hingga sepertiga
malam yang awal. Sholat isya disebut demikian karena dikerjakan pada waktu tersebut.
Awal Waktu Sholat Isya
Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat isya adalah jika telah hilang sinar merah di langit.
Akhir Waktu Sholat Isya
Para ulama berselisih pendapat mengenai akhir waktu sholat isya.
Pendapat pertama mengatakan bahwa akhir waktu sholat isya adalah sepertiga malam. Ini
adalah pendapatnya Imam Syafii dalam al Qoul Jadid, Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur
dalam mazhab Maliki. Dalilnya adalah hadits ketika Jibril mengimami sholat Nabi shallallahu
alaihi was sallam,Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu alaihi was sallam untuk
melaksanakan sholat isya ketika sepertiga malam yang pertama..
Pendapat kedua mengatakan bahwa akhir waktu sholat isya adalah setengah malam. Inilah
pendapatnya Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarok, Ishaq, Abu Tsaur, Mazhab Hanafi dan Ibnu
Hazm rohimahumullah. Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Amr rodhiyallahu anhu, Waktu sholat isya adalah hingga setengah malam
Pendapat yang tepat menurut Syaukani dalam masalah ini adalah akhir waktu sholat isya yang
terbaik adalah hingga setengah malam berdasarkan hadits Abdullah bin Amr sedangkan batas
waktu bolehnya mengerjakan sholat isya adalah hingga terbit fajar berdasarkan hadits Abu
Qotadah. Sedangkan pendapat yang dinilai lebih kuat menurut Penulis Shahih Fiqh Sunnah
adalah setengah malam jika hadits Anas adalah hadits yang tidak shohih
Dimakruhkan Tidur Sebelum Sholat Isya dan Berbicara yang Tidak Perlu Setelahnya Hal ini
berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi was sallam, Nabi shallallahu alaihi was sallam
membenci tidur sebelum sholat isya dan melakukan pembicaraan yang tidak berguna
setelahnya
Sholat Shubuh/Fajar
Fajar secara bahasa berarti cahaya putih. Sholat fajar disebut juga sebagai sholat shubuh dan
sholat ghodah.Fajar ada dua jenis yaitu fajar pertama (fajar kadzib) yang merupakan pancaran
sinar putih yang mencuat ka atas kemudian hilang dan setelah itu langit kembali gelap. Fajar
kedua adalah fajar shodiq yang merupakan cahaya putih yang memanjang di arah ufuk, cahaya
ini akan terus menerus menjadi lebih terang hingga terbit matahari.

Awal Waktu Sholat Shubuh/Fajar


Para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat fajar dimulai sejak terbitnya fajar kedua/fajar
shodiq.
Akhir Waktu Sholat Shubuh/Fajar
Para ulama juga sepakat bahwa akhir waktu sholat fajar dimulai sejak terbitnya matahari.
Disunnahkan Menyegerakan Waktu Sholat Shubuh/Fajar Pada Saat Keadaan Gholas (Gelap yang
Bercampur Putih) Jumhur ulama berpendapat lebih utama melaksanakan sholat fajar pada saat
gholas dari pada melaksanakannya ketika ishfar (cahaya putih telah semakin terang). Diantara
ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Ishaq dan
Abu Tsaur rohimahumullah. Diantara dalil mereka adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin
Malik, Sesungguhnya Rosulullah shallallahu alaihi was sallam berperang pada perang
Khoibar, maka kami sholat ghodah (fajar) di Khoibar pada saat gholas[20]
4. Rukun Sholat
Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan
membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak teranggap
secara syari dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.
13 Rukun Rukun Shalat
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)
12)
13)

Niat Shalat
Takbiratul Ihram,.
Berdiri tegak bagi yg sehat
Membaca Surat Al-Fatihah pd tiap2 Rakaat
Ruku dg Thumaninah
Itidal dg Thumaninah
Sujud 2 kali dengan Thumaninah
Duduk antara dua sujud dg Thumaninah
Duduk tasyahud akhir dg Thumaninah
Membaca tasyahud akhir
Membaca Shalawat Nabi pada tasyahud akhir
Dua Kali salam
Tertib

Penjelasan 13 Rukun Shalat Wajib


1. Niat Shalat
Sebelum melakukan / mengerjakan Shalat di wajibkan seorang Muslim untuk mengucapkan Niat
Shalat Wajib, didalam 5 Shalat Wajib sendiri terdapat perbedaan Lafal niatnya sehingga anda
jangan sampai salah mengucapkan Niat Shalat Wajib.

2. Takbiratul Ihram
Ialah mengucapkan kalimat Allahu Akbar dan tidak boleh mengucapkan kata lain-nya lagi
seperti pada Hadist yg berbunyi : Pembukaan (dimulainnya) shalat dg takbir dan penutupnya dg
salam (HR. Abu dawud) dan Jika Kamu telah berdiri untuk Shalat maka bertakbirlah..

3. Berdiri Tegak
Berdiri tegak pd saat melakukan Shalat fardhu adalah suatu kewajiban untuk orang mukmin yg
masih sehat, tetapi jika seorang mukmin sedang mengalami sakit yg sangat parah sampai-sampai
tidak bisa untuk berdiri maka dia (Orang sakit) itu boleh Shalat dg tidur atau duduk.
4. Membaca Al-fatihah
Bacaan Al-fatiah merupakaan bacaan yg sangat penting saat mengerjakan Shalat karena Bacaan
ini harus di ucapkan di semua setiap Rakaat dlm Shalat. Sebagaimana tercantum didlm suatu
Hadits oleh Muttafaqun alaih yg berbunyi : Tidak ada Shalat bagi orang yg tidak membaca /
mengucapkan Al-fatihah.
5. Ruku dg Thumaninah
6. Itidal atau berdiri tegak setelah ruku dg Thumaninah
7. Sujud 2 kali dg Thumaninah atau tujuh anggota tubuh secara khusyu
8. Duduk diantara 2 Sujud
Hal ini seperti yang pernah di sampaikan didlm Firman Alloh SWT yang berbunyi : Wahai
Orang Orang yg beriman ber-Rukulah dan ber-sujudlah (QS : Al Hajj : 77) . Kemudian Nabi
Muhammad Saw juga pernah bersabda dlm hadistnya yang berbunyi : Saya telah diperintahkan
untuk sujud dg tujud sendi.
9. Duduk Tasyahud akhir dg Thumaninah
10. Membaca Tasyahud Akhir
Tasyahud akhir adlh urutan rukun dlm shalat yg harus dikerjakan oleh para mukmin dlm
mengerjakan suatu shalat, adapun dlm sabda Nabi Muhammad Saw dlm Tasyahud Akhir ini yg
berbunyi : Jangan kalian mengatakan, Assalaamu alallahi min ibaadih ( Keselamatan atas Alloh
azza wa jalla dari para hamba-nya); sebab sesungguhnya Alloh azza wa jalla dialah As-salam /
Dzat yg memberi keselamatan akan tetapi katakanlah, segala penghormatan bagii Alloh, shalawat
dan kebaikan..
11. Membaca Shalawat Nabi Muhammad Saw pada Tasyahud akhir
12. Dua kali salam
13. Tertib
Yang dimaksud Tertib disini adalah tertib pada urutan tiap rukun shalat yg akan dikerjakan,
seperti Sabda Nabi Muhammad Saw kepada salah satu seorang muslim yg berbunyi : Jika kamu
berdiri hendak melakukan suatu shalat, maka takbirlah, baca (Surat/ayat) apa yg mudah dari AlQuran kemudian Rukulah hingga kamu tenang dlm ruku, lalu bangkit hingga kamu tegak
berdiri, lalu sujudlah hingga kamu tenang dlm sujud, bangkitlah hingga km tenang dlm duduk lalu
lakukanlah hal itu pd semua Shalatmu (HR. Abu Dawud)Sunat Sholat

5. Sunnah Sholat
Diantara sunnah-sunnah shalat adalah
1) Doa Istiftaah

2) Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala
berdiri sebelum ruku
3) Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi
bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku, bangkit dari ruku, dan ketika berdiri dari
tasyahhud awal menuju rakaat ketiga
4) Tambahan dari sekali tasbih dalam tasbih ruku dan sujud
5) Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku
6) Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah (yaitu bacaan Rabbighfirlii) Diantara
dua sujud
7) Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku
8) Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha
dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud
9) Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud
10) Duduk iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada
tasyahhud awal dan Diantara dua sujud.
11) Duduk tawarruk (duduk pada lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang
tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat rakaat
12) Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai
duduk sampai selesai tasyahhud
13) Mendoakan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim alaihis salam dan keluarga beliau pada
tasyahhud awal
14) Berdoa pada tasyahhud akhir
15) Mengeraskan (jahr) bacaan pada shalat Fajar (Shubuh), Jumat, Dua Hari Raya, Istisqaa`
(minta hujan), dan pada dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya`
16) Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, Ashar, pada rakaat ketiga shalat
Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat Isya`
17) Membaca lebih dari surat Al-Fatihah.
Demikian juga kita harus memperhatikan apa-apa yang tersebut dalam riwayat tentang
sunnah-sunnah selain yang telah kami sebutkan. Misalnya, tambahan dari ucapan
Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku untuk imam, makmum, dan yang
shalat sendiri, karena hal itu termasuk sunnah. Meletakkan kedua tangan dengan jari-jari
terbuka (tidak rapat) pada dua lulut ketika ruku juga termasuk sunnah.
Penjelasan Sunnah-sunnah Shalat
Ketahuilah bahwa sunnah-sunnah shalat itu ada dua macam:
1. Sunnah-sunnah perkataan
2. Sunnah-sunnah perbuatan
Sunnah-sunnah ini tidak wajib dilakukan oleh orang yang shalat, tetapi jika ia melakukan
semuanya atau sebagiannya maka ia akan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang
meninggalkan semuanya atau sebagiannya maka tidak ada dosa baginya, sebagaimana
pembicaraan tentang sunnah-sunnah yang lain (selain sunnah shalat). Namun seharusnya bagi
seorang mukmin untuk melakukannya sambil mengingat sabda Al-Mushthafa shallallahu alaihi
wa sallam, Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafaa` ArRaasyidiin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. (HR. AtTirmidziy dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu)

6. Sholat Sunnat
1. Shalat Wudhu,
Shalat sunnah 2rakaat yg bs dikrjkan tiap selesai wudhu, niatnya :Ushalli sunnatal
wudlu-i rak'ataini lillahi Ta'aalaaartinya :"aku niat shalat sunnah wudhu 2 rakaat karena Allah
2. Shalat Tahiyatul Masjid,
shalat sunnah 2rakaat yg dikrjkan ketika masuk masjid, sblm duduk utk menghormati
masjid. Rasulullah bersabda: "Apabila seseorg diantara kamu msk masjid, maka jgnlah
hendak duduk sblm shalat 2rakaat lbh dahulu" (H.R.Bukhari&Muslim). Niatnya : Ushalli
sunnatal Tahiyatul Masjidi rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah tahiyatul
masjid 2rakaat krn Allah"
3. Shalat Dhuha,
shalat sunnah yg dikrjkan ketika matahari br naik. Jumlah rakaatnya minimal 2 maksimal
12. Dr Anas berkata Rasulullah: "Barang siapa shalat Dhuha 12rakaat, Allah akan
membuatkan utknya istana disurga" (H.R.Tarmiji&Abu Majah). Niatnya : Ushalli sunnatal
Dhuha rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah dhuha 2rakaat krn Allah"
4. Shalat Rawatib,
shalat sunnah yg dikrjkan mengiringi shalat fardhu. Niatnya : A). Qabliyah: adalah shalat
sunnah rawatib yg dikrjkan sblm shalat wajib. Wktnya: 2rakaat sblm shalat subuh, 2rakaat
sblm shalat Dzuhur, 2 atau 4rakaat sblm shalat Ashar, & 2rakaat sblm shalat Isya. Niatnya :
Ushalli sunnatadh Dzuhri * rak'ataini Qibliyyatan lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat
sunnah sebelum dzuhur 2 rakaat krn Allah". B). Ba'diyyah: adalah shalat sunnah rawatib yg
dikrjkan stlh shalat fardhu. Wktnya: 2 atau 4rakaat sesdh shalat Dzuhur, 2rakaat sesdh shalat
Magrib & 2rakaat sesdh shalat Isya. Niatnya : Ushalli sunnatadh Dzuhri * rak'ataini
Ba'diyyatan lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah sesudah dzuhur 2rakaat krn
Allah"
5. Shalat Tahajud,
shalat sunnah pd wkt malam. Sebaiknya lwt tengah mlm&stlh tidur. Minimal 2rakaat
maksimal sebatas kemampuan kita. Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur'an :
"Dan pd sebagian mlm hr bershalat tahajudlah kamu sbg suatu ibadah tambahan bagimu.
Mdh-mdhan Tuhanmu mengangkatmu ketmpt yg terpuji" (Q.S.Al Isra:79). Niatnya : Ushalli
sunnatal tahajjudi rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah tahajjud 2rakaat
krn Allah"
6. Shalat Istikharah,
shalat sunnah 2rakaat utk meminta petunjuk yg baik, bila kita menghadapi 2 pilihan/ragu
dlm mengambil keputusan. Sebaiknya dikrjkan pd 2/3 mlm terakhir. Niatnya : Ushalli
sunnatal Istikharah rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah Istikharah
2rakaat krn Allah"
7. Shalat Hajat,
shalat sunnah 2rakaat untuk memohon agar hajat kita dikabulkan/diperkenankan oleh
Allah SWT. Minimal 2rakaat maksimal 12rakaat dgn salam setiap 2rakaat. Niatnya : Ushalli
sunnatal Haajati rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah hajat 2 rakaat
karena Allah"
8. Shalat Mutlaq,

shalat sunnah tnp sebab&tidak ditentukan wktnya, jg tdk dibatasi jumlah rakaatnya.
Shalat itu suatu perkara yg baik, banyak/sedikit (AlHadis). Niatnya : Ushalli sunnatal
rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya : "aku niat shalat sunnah 2rakaat karena Allah"
9. Shalat Taubat,
shalat sunnah yg dilakukan stlh merasa berbuat dosa kpd Allah SWT, agar mndpt
ampunanNya. Niatnya : Ushalli sunnatal Taubati rak'ataini lillahi Ta'aalaa Artinya :"aku niat
shalat sunnah taubat 2rakaat karena Allah"
10. Shalat Tasbih,
shalat sunnah yg dianjurkan dikrjkan tiap mlm, jk tdk bs 1minggu sekali/paling tdk
seumur hidup sekali. Shalat ini sebyk 4rakaat, dg ketentuan jk dikrjkan pd siang hari ckp dg 1
salam, Jk dikrjkan pd mlm hr dgn 2 salam. Cara mengerjakannya

Niat : Ushalli sunnatan tasbihi raka'ataini lilllahi ta'aalaa.


Usai baca surat Al Fatehah, bc tasbih 15x.
Ruku', usai baca do'a ruku, baca tasbih 10x.
Itidal, usai membaca do'a 'itidal, baca tasbih 10x.
Sujud, usai baca doa sujud, baca tasbih 10x.
Usai baca do'a duduk diantara2sujud, baca tasbi 10x.
Usai baca doa sujud kedua, baca tasbih 10x.
11. Shalat Tarawih,
shalat sunnah sesudah shalat Isya, pd bln Ramadhan. Menegenai bilangan rakaatnya
disebutkan dlm hadis : "Yg dikrjkan oleh Rasulullah saw, baik pd bln ramadhan/lainnya tdk
lbh dr 11rakaat" (H.R.Bukhari). Dari Jabir :" Sesungguhnya Nabi saw telah shalat brsm
mereka 8rakaat, lalu beliau shalat witir." (H.R.Ibnu Hiban) Niat shalat tarawih : Ushalli
sunnatan Taraawiihi rak'ataini (Imamam/makmuman) lillahi ta'aallaa artinya : "Aku niat
shalat sunat tarawih 2rakaat (imamam/makmum) krn Allah"
12. Shalat Witir,
shalat sunnat Mu Akad (dianjurkan) yg biasanya dirangkaikan dg shalat tarawih, Blngan
shalat witir 1,3,5,7 smpai 11rakaat. [i]Dari Abu Aiyub, berkata Rasulullah: "Witir itu hak,
maka siapa yg suka mengerjakan 5, krjkanlah. Siapa yg suka mengerjakan 3, krjkanlah. Dan
siapa yg suka 1, maka krjkanlah" (H.R.AbuDaud&Nasai). Niat :Ushalli sunnatal witri rak'
atan lillahi ta'aalaaartinya :"Aku niat shalat sunnat witir rakaat krn Allah"
13. Shalat Hari Raya,
shalat Idul Fitri pada 1 Syawal & Idul Adha pd 10 Dzulhijah. Hukumnya sunnah Mu
akad (dianjurkan). "Sesungguhnya kami telah memberi engkau (yaa Muhammad) akan
kebajikan yg byk, sebab itu shalatlah engkau&berqurbanlah krn Tuhanmu pd Idul Adha
(Q.S.AlKautsar.1-2) Dari Ibnu Umar: "Rasulullah, Abu Bakar, Umar pernah melakukan
shalat pd 2hari raya sblm berkhutbah."(H.R. Jama'ah). Niat Shalat Idul Fitri :Ushalli sunnatal
li, iidil fitri rak'ataini (imamam/makmumam) lillahi Taa'laa artinya : "Aku niat shalat idul fitri
dua rakaat (imam/makmum) karena Allah"Niat Shalat Idul Adha : Ushalli sunnatal li'iidil
Adha rak'ataini (imamam.makmumam) lillahita'aalaa artinya : "Aku niat shalat idul adha dua
rakaat (imam/makmum) karena Allah"
Wkt shalat hari raya adalah stlh terbit matahari sampai condongnya matahari. Syarat,
rukun&sunnatnya sama sprt shalat yg lainnya. Hanya ditambah bbrp sunnat sbg berikut :

Berjamaah
Takbir 7kali pd rakaat pertama & 5kali pd rakat ke2
Mengangkat tangan setinggi bahu pd tiap takbir.

Stlh takbir yg ke2 sampai takbir yg terakhir baca tasbih.


Membaca surat Qaf di rakaat pertama&surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
Imam menyaringkan bacaannya
Khutbah 2kali stlh shalat sebgmn khutbah jum'at
Pd khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah & pd Idul Adha tentang hukum-hukum
Qurban.
Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
Makan terlebih dahulu pd shalat Idul Fitri, pd Shalat Idul Adha sebaliknya.

14. Shalat Khusuf,


shalat sunat sewaktu terjadi gerhana bulan/matahari. Minimal 2rakaat.Caranya mengerjakannya :
a). Shalat 2rakaat dgn 4x ruku' yaitu pd rakaat pertama, stlh ruku'&I'tidal baca fatihah lg
kemudian ruku'&I'tidal kembali stlh itu sujud sbgmn biasa. Begitu pula pd rakaat ke2. b).
Disunatkan baca surat yg panjang, sedang membacanya pada waktu gerhana bulan hrs nyaring,
sedangkan pd gerhana matahari sebaliknya.Niat shalat gerhana bulan :Ushalli sunnatal khusuufi
rak'ataini lillahita'aalaaartinya :"Aku niat shalat gerhana bulan 2rakaat krn Allah"
15. Shalat Istiqa',
shalat sunat yg dikerjakan untuk memohon hujan kepada Allah SWT.Niatnya :Ushalli sunnatal
Istisqaa-i rak'ataini (imamam/makmumam) lillahita'aalaaartinya :"Aku niat shalat istisqaa 2rakaat
(imam/makmum)karena Allah"

7. Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat


Di antara hal-hal yang membatalkan shalat sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para fuqaha
adalah sebagai berikut :
1. Berbicara Dengan Sengaja
Berbicara dengan sengaja yang dimaksud disini bukanlah berupa bacaan bacaan dalam AlQuran,
dzikir atau pun doa. Akan tetapi merupakan pembicaraan yang sering dilakukan manusia dalam
kehidupan sehari-harinya. Perkataan yang keluar disaat shalat, baik itu satu kata ataupun hanya
satu huruf akan membatalkan shalat jika dilakukan dengan sengaja. Berbeda bila seseorang
melakukannya tanpa sadar alias tidak disengaja, ataupun melakukannya tanpa tahu hukumnya
maka syari memberikan keringanan bagi orang yang melakukannya (berbicara dalam shalat),
selama perkataan atau atau pun kata yang disebutkan masih dalam kategori sedikit. Dalam satu
riwayat dikatakan tidak lebih dari 6 kata.
2. Makan dan Minum
Apabila seseorang makan atau pun minum ketika melaksanakan shalat dengan sengaja, maka
shalatnya batal. Hal ini disebabkan karena akan menghilangkan kemulian dalam shalat. perbuatan
makan dan minum dalam shalat ini, baik sedikit ataupun banyak selama dilakukan dengan sengaja
tetap akan membatalkan shalatnya. Adapun jika perbuatan makan dan minum dalam shalat ini
dilakukan tanpa disengaja, maka disyaratkan dalam hal tersebut tidak lebih dari kadar humsah
( tidak bisa dibakar ataupun di masak kembali), yaitu kadar/batasan yang menjadi
kebiasaan dalam kehidupan. Maka shalatnya tidak batal. Dan apabila di dalam mulut seseorang
ada sisa gula atau sesuatu yang bisa mencair atau pun meleleh ketika melaksanakan shalat, maka
jika ia menelannya akan membatalkan shalatnya.
3. Banyak Gerakan dan Terus Menerus
Yang dimaksud adalah gerakan yang banyak dan berulang-ulang terus dan bukan merupakan
gerakan yang terdapat dalam shalat. Mazhab Imam Syafii memberikan batasan sampai tiga kali

gerakan berturut-turut sehingga seseorang batal dari shalatnya. Namun bukan berarti setiap ada
gerakan langsung membatalkan shalat. Sebab dahulu Rasulullah SAW pernah shalat sambil
menggendong anak (cucunya). Rasulullah SAW shalat sambil mengendong Umamah, anak
perempuan dari anak perempuannya. Bila beliau SAW sujud, anak itu diletakkannya dan bila
berdiri digendongnya lagi. (HR. Bukhari dan Muslim Bahkan beliau SAW memerintah orang
yang sedang shalat untuk membunuh ular dan kalajengking (al-aswadain). Dan beliau juga pernah
melepas sandalnya sambil shalat. Kesemuanya gerakan itu tidak termasuk yang membatalkan
shalat.
4. Membelakangi atau Tidak Menghadap Kiblat
Bila seseorang shalat dengan membelakangi kiblat dengan sengaja, atau di dalam shalatnya
melakukan gerakan hingga badannya bergeser arah hingga membelakangi kiblat , maka shalatnya
itu batal dengan sendirinya. Hal ini ditandai dengan bergesernya arah dada orang yang sedang
shalat itu, menurut kalangan Ulama Syafiiyah dan Ulama Hanafiyah. Sedangkan menurut Ulama
Mazhab Malikiyah, bergesernya seseorang dari menghadap kiblat ditandai oleh posisi kakinya.
Sedangkan menurut Mazhab Hanabilah, ditentukan dari seluruh tubuhnya. Kecuali pada shalat
sunnah, dimana menghadap kiblat tidak menjadi syarat shalat. Rasulullah SAW pernah
melakukannya di atas kendaraan dan menghadap kemana pun kendaraannya itu mengarah.
5. Terbuka Aurat Secara Sengaja
Bila seseorang yang sedang melakukan shalat tiba-tiba terbuka auratnya secara sengaja, maka
shalatnya otomatis menjadi batal. Baik dilakukan dalam waktu yang singkat ataupun terbuka
dalam waktu yang lama. Namun jika auratnya terbuka tanda disengaja dan bukan dalam waktu
yang lama, maksudnya hanya terbuka sekilas dan langsung ditutup lagi, para Ulama dari mazhab
Syafiiyah dan Ulama Hanabilah mengatakan tidak batal.
6. Mengalami Hadats Kecil atau Besar
Bila seseorang mengalami hadats besar atau kecil, maka batal pula shalatnya. Baik terjadi tanpa
sengaja atau secara sadar. Namun harus dibedakan dengan orang yang merasa ragu-ragu dalam
berhadats. Para ulama mengatakan bahwa rasa ragu tidak lah membatalkan shalat. Shalat itu baru
batal apabila memang ada kepastian telah mendapat hadats.
7. Tersentuh Najis baik pada Badan, Pakaian atau Tempat Shalat
Bila seseorang yang sedang shalat terkena benda najis, maka secara langsung shalatnya menjadi
batal. Namun yang dijadikan patokan adalah bila najis itu tersentuh tubuhnya atau pakaiannya dan
tidak segera ditepis/tampiknya najis tersebut maka batallah shalatnya tersebut. Adapun tempat
shalat itu sendiri bila mengandung najis, namun tidak sampai tersentuh langsung dengan tubuh
atau pakaian, shalatnya masih sah dan bisa diteruskan. Demikian juga bila ada najis yang keluar
dari tubuhnya hingga terkena tubuhnya, seperti mulut, hidung, telinga atau lainnya, maka
shalatnya batal. Namun bila kadar najisnya hanya sekedar najis yang dimaafkan, yaitu najis-najis
kecil ukuran, maka hal itu tidak membatalkan shalat.
8. Tertawa
Orang yang tertawa dalam shalatnya, batallah shalatnya itu. Maksudnya adalah tertawa yang
sampai mengeluarkan suara. Adapun bila sebatas tersenyum, belumlah sampai batal shalatnya.
9. Murtad, Mati, Gila atau Hilang Akal
Orang yang sedang melakukan shalat, lalu tiba-tiba murtad, maka batal shalatnya. Demikian juga
bila mengalami kematian. Dan orang yang tiba-tiba menjadi gila dan hilang akal saat sedang
shalat, maka shalatnya juga batal.
10. Berubah Niat

Seseorang yang sedang shalat, lalu tiba-tiba terbetik niat untuk tidak shalat di dalam hatinya,
maka saat itu juga shalatnya telah batal. Sebab niatnya telah rusak, meski dia belum melakukan
hal-hal yang membatalkan shalatnya.
11. Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat dengan sengaja
Apabila ada salah satu rukun shalat yang tidak dikerjakan dengan sengaja, maka shalat itu
menjadi batal dengan sendirinya. Misalnya, seseorang tidak membaca surat Al-Fatihah lalu
langsung ruku, maka shalatnya menjadi batal. Namun jika lupa, dan ingat selama masih dalam
shalat maka dia harus melakukan sujud syahwi sebelum salam, jika lupa pula untuk sujud syahwi,
maka bisa dilakukan setelah salam.
12. Mendahului Imam dalam Shalat Jamaah
Bila seorang makmum melakukan gerakan mendahului gerakan imam, seperti bangun dari sujud
lebih dulu dari imam, maka batal-lah shalatnya. Namun bila hal itu terjadi tanpa sengaja, maka
tidak termasuk yang membatalkan shalat..
13. Terdapatnya Air bagi Orang yang Shalatnya dengan Tayammum
Seseorang yang bertayammum sebelum shalat, lalu ketika shalat tiba-tiba terdapat air yang bisa
dijangkaunya dan cukup untuk digunakan berwudhu, maka shalatnya batal. Dia harus berwudhu
saat itu dan mengulangi lagi shalatnya.
14. Berubah Niat
Niat adalah salah satu rukun dalam shalat, jika rukun tersebut tidak terpenuhi maka tidak sah
shalatnya tersebut. Seseorang yang sedang melaksanakan shalat, kemudian dia berniat keluar dari
shalatnya tersebut, atau ada sesuatu kejadian yang membuat (mushalli) keluar dari shalatnya,
maka shalatnya tersebut akan menjadi batal dengan berubah niatnya tersebut, karena shalat harus
dimulai dengan niat yang pasti.
15. Mengucapkan Salam Secara Sengaja
Bila seseorang mengucapkan salam secara sengaja dan sadar, maka shalatnya batal. Dasarnya
adalah hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa salam adalah hal yang mengakhiri shalat.
Kecuali lafadz salam di dalam bacaan shalat, seperti dalam bacaa tahiyat.

8. Pembagian Shalat
Ditinjau dari berbagai aspeknya, Shalat terbagi menjadi 2 macam yaitu :
Shalat fardhu yaitu Shalat yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada hamba-hambanya sesuai
batasan batasan yang telah dijelaskannya, baik melalui perintah maupun larangannya. Shalat
fardu dibagi menjadi 2 macam yaitu fardu ain dan fardu kifayah. Yang termasuk shalat fardu ain
yaitu, shalat lima waktu dan shalat jumat, sedangkan yang termasuk shalat fardu kifayah, yaitu
shalat janazah.
Shalat Tathowu (shalat sunnah) secara bahasa artinya adalah nafilah yaitu segala kelebihan yang
baik. Secara istilah yaitu shalat yang batas dan ketentuannya telah ditentukan oleh syara.shalat
sunnah dibagi menjadi tiga yaitu shalat sunnah muakkad, shalat sunnah gairu muakkad dan shalat
sunnah yang mempunyai sebab.
Shalat sunnah muakkad yaitu sebagai berikut:

Shalat Dua Hari Raya yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha. Shalat Idul Fitri yaitu Shalat
sunnah yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri yang berjumlah dua rakaat,rakaat pertama
tujuh takbir dan rakaat kedua lima takbir.Shalat Idul Adha yaitu Shalat sunah yang dilakukan
pada hari raya Qurban yang berjumlah dua rakaat, rakaat pertama tujuh takbir dan rakaat
kedua lima takbir.

Shalat Witir

yaitu shalat tambahan yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan yang menjadi
penutup ibadah dengan jumlah rakaat yang ganjil.

Shalat Tarawih

yaitu shalat yang dikerjakan di malam bulan ramadhan yang dapat dikerjakan secara sendirisendiri atau berjamaah bersama-sama. Waktu pelaksanaan shalat tarawih adalah setelah
pelaksanaan shalat isya sampai dengan terbit fajar subuh.

Shalat Tahajjud

yaitu shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari sebelum terbitnya fajar shodiq. Dan
sebelum melakukan shalat tahajjud diharuskan tidur terlebih dahulu.

Shalat Sunnah Subuh

yaitu shalat sunnah muakkad yang merupakan pembuka shalat seorang muslim sebelum
melaksanakan shalat subuh.
Shalat sunnah ghairu muakkad yaitu sebagai berikut:

Shalat Sunnah Rawatib yaitu:

Shalat sunnah rawatib fajar yaitu shalat 2 rakaat sebelum shalat subuh.
Shalat sunnah rawatib dhuhur yaitu shalat 2 atau 4 rakaat sebelum atau sesudah dhuhur.
Shalat rawatib ashar yaitu shalat empat rakaat sebelum shalat asyar.
Shalat rawatib magrib yaitu shalat 2 rakaat sesudah shalat maghrib.
Shalat ratibah isya yaitu shalat 2 rakaat sesudah shalat isya.

Shalat Dhuha
yaitu shalat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik setinggi 7 hasta (pukul 7
sampai masuk waktu dhuhur) sekurang-kurangnya shalat Dhuha 2 rakaat dan paling banyak
12 rakaat, setiap dua rakaat satu salam.
Shalat Tahiyatul Masjid (shalat untuk menghormati masjid)
Rosullullah saw bersabda sebagaimana firmanya sebagai berikut: Apabila salah seorang
kalian masuk masjid, maka shalatlah 2 rokaat sebelum duduk. (hr bukhori dan muslim)
Shalat Taubah
yaitu shalat dua rakaat yang dikerjakan setelah melakukan perbuatan dosa atau maksiyat
kepada Allah, karena merasa berbuat dosa lalu minta ampun dari Allah, serta bertaubat tidak
akan mengulangi perbuatannya itu, artinya menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya.
Shalat Tasbih
yaitu shalat yang didalamnya banyak dibacakan tasbih sehingga dalam 4 rakaat berjumlah
300 tasbih.
Shalat sesudah Wudhu
yaitu shalat yang dilakukan setelah berwudhu.
Shalat Sunnah Hajat

yaitu seorang muslim ingin memenuhi kebutuhannya, kemudian dia shalat dua rakaat dam
meminta kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.
Shalat Sunnah yang mempunyai sebab yaitu:

Shalat Istikharah

yaitu shalat sunnat dua rakaat untuk memohon petunjuk kepada Allah dalam menentukan
pilihan yang lebih baik diantara dua hal yang belum diketahui baik dan buruknya.

Shalat Sunnah Istisqo

yaitu shalat meminta hujan kepada Allah taala disalah satu daerah ketika kekeringan.

Shalat Gerhana

yaitu shalat kusufain sesuai dengan namanya dilakukan saat terjadi gerhana baik bulan
maupun matahari. Salat yang dilakukan saat gerhana bulan disebut dengan salat khusuf
sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan salat kusuf.

9. Sholat Jamaah
Shalat berjamaah merupakan syi'ar islam yang sangat agung, menyerupai shafnya malaikat ketika
mereka beribadah, dan ibarat pasukan dalam suatu peperangan, ia merupakan sebab terjalinnya
saling mencintai sesama muslim, saling mengenal, saling mengasihi, saling menyayangi,
menampakkan kekuatan, dan kesatuan.
Hukumnya Shalat berjamaah wajib atas setiap muslim yang mukallaf, laki-laki yang mampu,
untuk shalat lima waktu, baik dalam perjalanan maupun mukim, dalam keadaan aman, maupun
takut. Keutamaan shalat berjamaah di masjid Dari Ibnu Umar ra bahwasanya rasulullah bersabda:
shalat berjamah lebih utama daripada shalat sendirian dengan tujuh puluh derajat. Dalam riwayat
lain: dengan dua puluh lima derajat. Muttafaq alaih . Dari Abu Hurairah ra berkata: rasulullah saw
bersabda: ((barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian pergi ke salah satu rumah Allah,
untuk melaksanakan salah satu kewajiban terhadap Allah, maka kedua langkahnya yang satu
menghapuskan kesalahan, dan yang lain meninggikan derajat))
Yang lebih utama bagi seorang muslim, shalat di masjid yang dekat dengan tempat ia tinggal,
kecuali masjidil haram, masjid nabawi, dan masjidil aqsha, karena shalat pada masjid-masjid
tersebut lebih utama secara mutlak.Boleh shalat berjamaah di masjid yang telah didirikan shalat
berjamaah pada waktu itu. Orang-orang yang berjaga di pos pertahanan disunnahkan shalat di satu
masjid, apabila mereka takut serangan musuh jika berkumpul, maka masing-masing shalat di
tempatnya. Siapa yang masuk masjid ketika jamaah sedang ruku' maka ia boleh langsung ruku'
ketika masuk kemudian berjalan sambil ruku' hingga masuk ke shaf, dan boleh berjalan kemudian
ruku' apabila sudah sampai ke shaf.
Jamaah paling sedikit dua orang, dan semakin banyak jamaahnya, semakin baik shalatnya, dan
lebih dicintai oleh Allah azza wajalla.
Hukum Menjadi Imam
Menjadi Imam mempunyai keutamaan yang sangat agung, oleh karena pentingnya maka nabi
melakukannya sendiri, demikian pula para khulafaurrasyidin sesudah beliau. Imam mempunyai
tanggung jawab yang sangat besar, jika melaksanakan tugasnya dengan baik, ia mendapat pahala
yang sangat besar, dan ia mendapat pahala seperti orang yang shalat bersamanya.
Hukum mengikuti imam: Makmum wajib mengikuti imam dalam seluruh shalatnya, berdasarkan
sabda rasulullah saw: ((Imam dijadikan tidak lain untuk diikuti, apabila ia bertakbir, maka
bertakbirlah, dan apabila ruku' maka ruku'lah, dan jika mengatakan: sami'allahu liman hamidah,
maka katakan: allahumma rabbana lakal hamdu, apabila imam shalat berdiri maka shalatlah

berdiri, dan jika shalat duduk, maka shalatlah kalian semua duduk)) muttafaq alaih ([6]). Yang
paling berhak menjadi imam: Yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling banyak hafal
al-Qur'an dan mengerti hukum-hukum shalat, kemudian yang paling mengerti hadits, kemudian
yang paling dulu hijrah, kemudian yang paling dahulu masuk islam, kemudian yang paling tua,
kemudian diundi, ini apabila tiba waktu shalat dan hendak memilih salah satu imam, namun jika
di masjid ada imam tetap, maka ia lebih berhak.
Cara shafnya orang laki-laki dan wanita di belakang imam
Orang-orang laki-laki tua dan muda berdiri dibelakang imam, sedangkan wanita semuanya berdiri
di belakang shaf laki-laki, dan disyari'atkan bagi shaf wanita apa yang disyari'atkan bagi shaf lakilaki, dipenuhi dulu shaf pertama, wajib mengisi kekosongan shaf, dan harus diluruskan Apabila
suatu jamaah wanita semua, maka shaf yang paling baik adalah shaf pertama, dan yang paling
buruk adalah shaf terakhir seperti laki-laki, wanita tidak boleh shaf di depan laki-laki, atau lakilaki di belakang wanita kecuali darurat seperti terlalu penuh, jika wanita bershaf di barisan lakilaki karena sangat penuh dan lainnya, maka shalatnya tidak batal, demikian pula shalat orang
dibelakangnya. Dari Abu Hurairah ra berkata: rasulullah saw bersabda: sebaik-baik shaf orang
laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang paling belakang, dan
sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling buruk adalah yang paling
depan. (HR. Muslim)
Cara meluruskan shaf
1.
Imam disunnahkan menghadap kepada makmum dengan wajahnya sambil berkata:
luruskan shaf kalian, dan rapatkan. (HR. Bukhari)([9]).
2.
Atau mengatakan: luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf merupakan
mendirikan shalat. (muttafaq alaih)([10]).
3.
Atau mengatakan: luruskan shaf, sejajarkan antara pundak, isilah shaf yang kosong,
jangan memberikan tempat bagi setan, barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah akan
menyambungnya, dan siapa yang memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskannya. (HR.
Abu Daud dan Nasa'i)([11]).
4.
Atau mengatakan: luruskan, luruskan, luruskan. (HR. Nasa'i)
Cara makmum mengqadha rakaat yang ketinggalan
1. Barangsiapa yang mendapat satu rakaat dhuhur, asar, atau isya' maka setelah imam salam
wajib menambah tiga rakaat, ia menambah satu rakaat dengan membaca fatihan dan surat
kemudian duduk untuk tahiyat awal, kemudian menambah dua rakaat dengan hanya membaca
fatihah, kecuali dhuhur, maka membaca fatihah dengan surat, terkadang hanya membaca
fatihah, kemudian duduk untuk tahiyat akhir, kemudian salam, semua yang ia dapatkan
bersama imam, maka itu menjadi awal shalatnya.
2. Barangsiapa yang mendapatkan shalat satu rakaat bersama imam pada shalat maghrib, setelah
imam salam ia berdiri membaca fatihah dan surat, kemudian duduk untuk tahiyat awal,
kemudian bangun untuk melakukan satu rakaat lagi dan membaca fatihah, kemudian duduk
untuk tahiyat akhir dan salam seperti disebutkan di atas.
3. Barangsiapa mendapat satu rakaat bersama imam pada shalat subuh atau shalat jum'at, maka
setelah imam salam ia berdiri menambah satu rakaat, membaca fatihah dan surat, kemudian
duduk untuk tahiyat, lalu salam.
4. Apabila salah seorang masuk masjid sedangkan imam sedang tahiyat akhir, maka sunnah ikut
shalat bersama imam, dan menyempurnakan shalatnya setelah imam salam.
Alasan-alasan boleh meninggalkan shalat jum'at dan berjamaah
Dibolehkan meninggalkan shalat jum'at dan shalat berjamaah: Orang sakit yang tidak mampu
shalat berjamaah, orang yang menahan buang air, orang yang hawatir tertinggal rombongan, orang
yang hawatir mendapa bahaya bagi dirinya, atau hartanya, atau temannya, atau terganggu dengan
hujan, atau Lumpur, atau angina kencang, atau orang yang mengahadapi hidangan makanan

dimana ia sangat perlu dan bisa memakannya, namun tidak boleh dijadikan kebiasaan, demikian
pula dokter, penjaga, aparat keamanan, pemadam kebakaran, dan lain sebagainya yang bertugas
menjaga kemaslahatan umat islam yang penting, apabila tiba waktu shalat dan mereka sedang
menjalankan tugas, maka ia shalat di tempatnya, dan jika perlu boleh shalat dhuhur sebagai ganti
shalat jum'at.MSemua yang melalaikan dari shalat, atau membuang-buang waktu, atau berbahaya
bagi badan, atau akal, maka haram hukumnya, seperti bermain kartu, merokok, cerutu, minuman
keras, narkotika, dan lain sebagainya, atau duduk di depan telivisi atau lainnya yang
menayangkan kekafiran, atau adengan porno atau adegan maksiat lainnya.
Apabila imam shalat dan tidak tahu kalau ia menanggung najis, dan shalatnya telah selesai, maka
shalat mereka semua sah. Apabila tahu ada najis sewaktu sedang shalat, jika mungkin
disingkirkan maka harus segera membuangnya dan melanjutkan shalatnya, dan jika tidak bisa
dibuang, maka berhenti shalat, dan mencari ganti salah satu makmum untuk melanjutkan
shalatnya.
10. Kehadiran Wanita Dalam Sholat Berjamaah
Sejak zaman nubuwwah, kehadiran wanita untuk shalat berjamaah di masjid bukanlah sesuatu
yang asing. Hal ini kita ketahui dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di
antaranya hadits Aisyah radhiyallahu anha. Kata beliau:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengakhirkan shalat Isya hingga Umar berseru
memanggil beliau seraya berkata: Telah tertidur para wanita dan anak-anak . Maka keluarlah
Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir di masjid:
Aisyah radhiyallahu anha juga berkata:
Mereka wanita-wanita mukminah menghadiri shalat Shubuh bersama Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam, mereka berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali
ke rumah-rumah mereka seselesainya dari shalat tanpa ada seorang pun yang mengenali mereka
karena masih gelap. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 578 dan Muslim no. 645)
Ummu Salamah radhiyallahu anha menceritakan: Di masa Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, para wanita yang ikut hadir dalam shalat berjamaah, selesai salam segera bangkit
meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah mereka. Sementara Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dan jamaah laki-laki tetap diam di tempat mereka sekedar waktu yang diinginkan Allah.
Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bangkit, bangkit pula kaum laki-laki tersebut.
(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 866, 870)
Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
Aku berdiri untuk menunaikan shalat dan tadinya aku berniat untuk memanjangkannya. Namun
kemudian aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun memendekkan shalatku karena aku tidak
suka memberatkan ibunya. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 868)
Beberapa hadits di atas cukuplah menunjukkan bagaimana keikutsertaan wanita dalam shalat
berjamaah di masjid. Lalu sekarang timbul pertanyaan, apa hukum shalat berjamaah bagi wanita?
Dalam hal ini wanita tidaklah sama dengan laki-laki. Dikarenakan ulama telah sepakat bahwa
shalat jamaah tidaklah wajib bagi wanita dan tidak ada perselisihan pendapat di kalangan mereka
dalam permasalahan ini. Ibnu Hazm rahimahullah berkata (Al-Muhalla, 3/125): Tidak
diwajibkan bagi kaum wanita untuk menghadiri shalat maktubah (shalat fardhu) secara
berjamaah. Hal ini merupakan perkara yang tidak diperselisihkan (di kalangan ulama). Beliau
juga berkata: Adapun kaum wanita, hadirnya mereka dalam shalat berjamaah tidak wajib, hal ini
tidaklah diperselisihkan. Dan didapatkan atsar yang shahih bahwa para istri Nabi shallallahu
alaihi wasallam shalat di kamar-kamar mereka dan tidak keluar ke masjid. (Al-Muhalla, 4/196)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah bersabda kepada para wanita:

Shalatnya salah seorang di makhda-nya (kamar khusus yang digunakan untuk menyimpan
barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalatnya di kamar lebih
utama daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada
shalatnya di masjid kaumnya. Dan shalatnya di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya
bersamaku. (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya.
Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbab Al-Marah Al-Muslimah, hal. 155)
Dalm Nailul Authar, Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di
atas: Yakni shalat mereka di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka daripada shalat
mereka di masjid-masjid, seandainya mereka mengetahui yang demikian itu. Akan tetapi mereka
tidak mengetahuinya sehingga meminta ijin untuk keluar berjamaah di masjid, dengan keyakinan
pahala yang akan mereka peroleh dengan shalat di masjid lebih besar. Shalat mereka di rumah
lebih utama karena aman dari fitnah, yang menekankan alasan ini adalah ucapan Aisyah
radhiyallahu anha ketika melihat para wanita keluar ke masjid dengan tabarruj dan
bersolek.(Nailul Authar, 3/168)
Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita akan keutamaan shalat wanita di rumahnya. Setelah ini
mungkin timbul pertanyaan di benak kita: Apakah shalat berjamaah yang dilakukan wanita di
rumahnya masuk dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
Dalam hal ini Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menegaskan bahwa keutamaan 25 atau 27
derajat yang disebutkan dalam hadits khusus bagi shalat berjamaah di masjid dikarenakan
beberapa perkara yang tidak mungkin didapatkan kecuali dengan datang berjamaah di masjid.
(Fathul Bari, 2/165-167)Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah meriwayatkan akan
hal ini dalam sabdanya Shalat seseorang dengan berjamaah dilipat gandakan sebanyak 25 kali
lipat bila dibandingkan shalatnya di rumahnya atau di pasar. Hal itu dia peroleh dengan berwudhu
dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia keluar menuju masjid dan tidak ada yang mengeluarkan
dia kecuali semata untuk shalat. Maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah melainkan
diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. Tatkala ia shalat, para malaikat
terus menerus mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya dengan doa: Ya Allah,
berilah shalawat atasnya. Ya Allah, rahmatilah dia. Terus menerus salah seorang dari kalian
teranggap dalam keadaan shalat selama ia menanti shalat. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 647 dan
Muslim no. 649)
Dengan demikian, shalat jamaah wanita di rumahnya tidak termasuk dalam keutamaan 25 atau 27
derajat, akan tetapi mereka yang melakukannya mendapatkan keutamaan tersendiri, yaitu shalat
mereka di rumahnya, secara sendiri ataupun berjamaah, lebih utama daripada shalatnya di masjid,
wallahu alam.