Anda di halaman 1dari 11

Banyak terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh

dan nyawa manusia. Untuk kepentingan menyelesaikan masalah hukum


tersebut, dibutuhkan bantuan berbagai ahli di bidang terkait untuk
membuat masalah menjadi lebih terang dan jelas. Dalam hal terdapat
korban manusia, baik hidup maupun mati, diperlukan saeorang ahli
dalam bidang kedokteran. Ilmu kedokteran memiliki salah satu cabang
spesialistik yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk
kepentingan peradilan, yaitu ilmu kedokteran forensik.
Bantuan yang wajib diberikan oleh dokter apabila diminta oleh
penyidik antara lain adalah melakukan pemeriksaan kedokteran forensik
terhadap seseorang, baik korban hidup, korban mati maupun terhadap
bagian tubuh atau benda yang diduga berasal dari tubuh manusia Dalam
suatu perkara pidana, dokter diharapkan mampu menemukan kelainan
yang terjadi pada tubuh korban, apa penyebabnya serta apa akibat yang
timbulkannya. Pada korban meninggal, dokter diharapkan dapat
menjelaskan penyebab kematian, mekanisme kematian, serta perkiraan
saat kematian dan cara kematian.
Salah satu jenis keterangan ahli yang diberikan oleh dokter untuk
membantu penegakkan hukum berupa pembuatan Visum Et Repertum,
yaitu keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik
hidup atau mati, ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia,
berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan
peradilan. Terdapat beberapa jenis visum et repertum, antara lain visum et
repertum perlukaan, kejahatan susila, jenasah, dan psikiatrik.

Pemeriksaan forensik terhadap jenasah meliputi pemeriksaan luar jenasah


dan/atau Kedah mayat. Pemeriksaan luar meliputi bungkus atau tutup
jenasah, pakaian, benda disekitar jgnasah, perhiasan, ciri-ciri umum
identitas, tanda-tanda tanatologi,dan luka atau cedera atau
kelainan yang ditemukan di seluruh bagian luar jenasah. Sedangkan
pemeriksaan bedah mayat meliputi pembukaan rongga tengkorak, leher,
dada. perut, dan panggul. Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan
apabila diperlukan, antara lain pemeriksaan histopatologi. toksikologi,
dan serologi. Pemeriksaan diharapkan dapat menyimpulkan identitas
korban, jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan penyebabnya, sebab
kematian korban dan saat kematian.
Seven bercerita tentang serangkaian pembunuhan sadis. Si Pembunuh
melakukan aksinya yang diinspirasi oleh sebuah buku karangan Thomas
Aquinas tentang 7 dosa mematikan, yaitu kemarahan (WRATH),
keserakahan (GREED), kemalasan (SLOTH), kesombongan (PRIDE),
nafsu (LUST), iri hati (ENVY), dan kerakusan (GLUTTONY). Dari hasil
autopsi, diketahui kalau pembunuhan dilakukan dengan cara yang sangat
sadis.
Kedua detektif ini menyelidiki serangkaian pembunuhan yang berkaitan
dengan tujuh dosa yang mematikan, seperti seorang pria gemuk yang
terpaksa makan sendiri sampai mati, yang mewakili "Kerakusan". Satu set

sidik jari yang ditemukan di lokasi pembunuhan seorang pengacara kaya


yang mewakili Keserakahan. Pencarian selanjutnya membawa mereka
ke sebuah apartemen di mana mereka menemukan seorang pria kurus
terikat di tempat tidur- seorang pengedar narkoba dan penganiaya anak
sebelum penahanannya- mewakili "Kemalasan". Sampai disini mereka
menemukan petunjuk pada setiap TKP terkait dengan kematian lain, dan
percaya

bahwa mereka mengejar pembunuh berantai.

Alih-alih

mendapatkan si pembunuh, mereka menemukan korban keempat ,


seorang pelacur dibunuh oleh seorang pria,mewakili Nafsu. Beberapa
waktu kemudian, mereka menyelidiki kematian korban kelima yakni
seorang model muda yang wajahnya telah dimutilasi, mewakili
Kebanggaan. Berbekal catatan perpustakaan, Somerset dan Mills
melacak seorang pria bernama John Doe (Kevin Spacey), yang telah
sering membaca buku yang terkait dengan dosa yang mematikan.
Traumatologi forensik merupakan ilmu yang mempelajari tentang luka
serta hubungannya dengan berbagai kekerasan. Luka yang dimaksud
merupakan suatu keadaan taidaksinambungan jaringan tubuh akibat
kekerasan. Kekerasan dapat dikelompokkan menjadi kekerasan mekanik,
fisika, dan kimia.
Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari kematian dan perubahan yang
terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Seorang dokter harus dapat menentukan apakah seseorang sudah mati atau tidak
sebelum melakukan pemeriksaan. Beberapa istilah mati antara lain mati somatis,
mati seluler, mati serebral, mati batang otak dan mati suri.
Setelah terjadi kematian, terdapat perubahan yang terjadi pada tubuh mayat.
Perubahan tersebut dapat timbul cepat seteah kematian atau beberapa menit

kemudian, antara lain berhentinya kerja jantung dan pernafasan, kulit pucat,
hilangnya tonus otot pengeringan kornea, dan lain-lain. Setelah beberapa waktu
setelah kematian. timbul perubahan yang jelas, dikenal sebagai tanda pasti
kematian, yaitu:
A. Lebam Mayat (livor mortis)
Terbentuknya lebam mayat disebabkan oleh penggumpalan eritrosit pada vena
dan venula akibat sistem sirkulasi darah yang sudah bergungsi lagi dan
menempati bagian terbawah tubuh akibat gaya gravitasi. Lebam mayat biasanya
timbul setelah 20-30 menit pascamati dan menetap setelah 8-12 jam. Menetapnya
lebam mayat disebabkan oleh timbunan sel-sel darah yang sudah cukup banyak
dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah sehingga sulit berpindah lagi.
Sebelum lebam mayat menetap, maka lebam akan hilang pada penekanan atau
berpindah jika posisi mayat diubah. Oleh karena itu. lebam mayat dapat
digunakan untuk menentukan perkiraan waktu kematian dan posisi mayat saat
kematian. Selain itu, lebam mayat juga dapat digunakan untuk memperkirakan
sebab kematian, contohnya pada keracunan CO atau CN (berwarna merah
terang). Untuk membedakan antara lebam mayat dan resapan darah, dapat
dilakukan irisan pada daerah tersebut dan kemudian disiram dengan air. Pada
lebam mayat warna merah akan hilang atau pudar sedangkan pada resapan darah
tidak menghilang.

A. Kaku Mayat (rigor mortis)


Beberapa saat setelah kematian, metabolisme tingkat seluluer masih berjalan berupa
pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi sehingga kelenturan otot
masih dapat dipertahankan. Selama masih terdapat ATP, serabut aktin dan miosin dapat
tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi
sehingga aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat timbul
kira-kira 2 jam setelah mati klinis dan teijadi bersamaan pada seluruh otot. Namun
karena cadangan glikogen pada otot berbeda-beda, maka kaku mayat cenderung tampak
terlebih dahulu pada otot yang kecil. Kaku mayat akan lengkap pada 12 jam pasca
kematian dan akan dipertahankan selama 12 jam. Setelah lebih dari 24 jam, kaku mayat
akan menghilang dengan urutan yang sama. Terdapat faktor yang dapat mempercepat
teijadinya kaku mayat, antara lain aktivas fisik sebelum kematian, suhu tubuh dan
lingkungan yang tinggi, serta ukuran otot yang kecil-kecil.Oleh karena itu, kaku mayat
juga dapat digunakan untuk memperkirakan waktu kematian.
B. Penurunan Suhu Tubuh (algor mortis)
Pada kondisi tubuh yang sudah mati, suhu tubuh akan mengikuti suhu
lingkungan dengan adanya proses pemindahan panas melalui cara radiasi, konduksi,
evaporasi, dan konveksi. Suhu tubuh relatif lebih tinggi dari suhu lingkungan
sehingga akan teijadi penurunan suhu. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh
suhu lingkungan, aliran dan kelembaban udara, bentuk tubuh, pakaian, dan posisi
tubuh. Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk menggunakan penurunan suhu
tubuh untuk memperkirakan saat kematian.
C. Pembusukan (decomposition)
Pembusukan merupakan proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis
dan kerja bakteri. Pembusukan baru muncul kira-kira 24 jam pasca kematian yang
pertama kali nampak pada perut kanan bawah berupa warna kehijauan. Hal ini

disebabkan daerah sekum isinya lebih cair dan penuh bakteri serta terletak dengan
dinding perut. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar keseluruh perut dan
dada. Setelah itu, kulit ari akan mengelupas atau membentuk gelembung berisi cairan
kemerahan berbau busuk serta pembentukan gas didalam perut sehingga menyebabkan
pembengkakan tubuh yang menyeluruh terutama pada daerah dengan jaringan
longgar seperti skrotum dan payudara. Setelah itu, seluruh organ dalam akan mulai
mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Larva lalat dapat
dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, kira-kira 36-48 jam pasca
kematian. Kemudian dapat ditemukan larva setelah telur menetas (24 jam kemudian)
dan ukuran larva dapat diukur untuk memperkirakan waktu kematian. Faktor yang
mempengaruhi kecepatan pembusukan antara lain suhu lingkungan, kelembaban
udara, jumlah bakteri pembusuk, tubuh gemuk, penyakit infeksi, dan media tempat
mayat
D. Lilin mayat (adiposera)
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak,
berminyak, berbau tengik yang teijadi di dalam jaringan lunak tubuh akibat hidrolisis
dan hidrogenisasi lemak menjadi asam lemak jenuh. Adiposera mudah terbentuk pada
kelembaban tinggi dan suhu yang hangat Adiposera terlihat secara makroskopis
sebagai bahwan berwarna putih kelabu yang menginfiltasi bagian lunak tubuh.
E.Mummiftkasi
Mummifikasi merupakan pengeringan jaringan yang teijadi akibat proses penguapan
cairan atau dehidrasi jaringan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna
gelap, berkeriputm dan tidak membusuk. Mumifikasi dapat teijadi kira-kira 12-14
minggu pada kondisi suhu hangat kelembaban rendah, dan aliran udara yang baik.

Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari kematian dan perubahan yang


terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Seorang dokter harus dapat menentukan apakah seseorang sudah mati atau tidak
sebelum melakukan pemeriksaan. Beberapa istilah mati antara lain mati somatis,
mati seluler, mati serebral, mati batang otak dan mati suri.
Setelah terjadi kematian, terdapat perubahan yang terjadi pada tubuh mayat.
Perubahan tersebut dapat timbul cepat seteah kematian atau beberapa menit
kemudian, antara lain berhentinya kerja jantung dan pernafasan, kulit pucat,
hilangnya tonus otot pengeringan kornea, dan lain-lain. Setelah beberapa waktu
setelah kematian. timbul perubahan yang jelas, dikenal sebagai tanda pasti
kematian, yaitu:
A. Lebam Mayat (livor mortis)
Terbentuknya lebam mayat disebabkan oleh penggumpalan eritrosit pada vena
dan venula akibat sistem sirkulasi darah yang sudah bergungsi lagi dan
menempati bagian terbawah tubuh akibat gaya gravitasi. Lebam mayat biasanya
timbul setelah 20-30 menit pascamati dan menetap setelah 8-12 jam. Menetapnya
lebam mayat disebabkan oleh timbunan sel-sel darah yang sudah cukup banyak
dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah sehingga sulit berpindah lagi.
Sebelum lebam mayat menetap, maka lebam akan hilang pada penekanan atau
berpindah jika posisi mayat diubah. Oleh karena itu. lebam mayat dapat
digunakan untuk menentukan perkiraan waktu kematian dan posisi mayat saat
kematian. Selain itu, lebam mayat juga dapat digunakan untuk memperkirakan
sebab kematian, contohnya pada keracunan CO atau CN (berwarna merah
terang). Untuk membedakan antara lebam mayat dan resapan darah, dapat
dilakukan irisan pada daerah tersebut dan kemudian disiram dengan air. Pada

lebam mayat warna merah akan hilang atau pudar sedangkan pada resapan darah
tidak menghilang.

A. Kaku Mayat (rigor mortis)


Beberapa saat setelah kematian, metabolisme tingkat seluluer masih berjalan
berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi sehingga
kelenturan otot masih dapat dipertahankan. Selama masih terdapat ATP, serabut
aktin dan miosin dapat tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis,
maka energi tidak terbentuk lagi sehingga aktin dan miosin menggumpal dan
otot menjadi kaku. Kaku mayat timbul kira-kira 2 jam setelah mati klinis dan
teijadi bersamaan pada seluruh otot. Namun karena cadangan glikogen pada
otot berbeda-beda, maka kaku mayat cenderung tampak terlebih dahulu pada
otot yang kecil. Kaku mayat akan lengkap pada 12 jam pasca kematian dan
akan dipertahankan selama 12 jam. Setelah lebih dari 24 jam, kaku mayat akan
menghilang dengan urutan yang sama. Terdapat faktor yang dapat mempercepat
teijadinya kaku mayat, antara lain aktivas fisik sebelum kematian, suhu tubuh
dan lingkungan yang tinggi, serta ukuran otot yang kecil-kecil.Oleh karena itu,
kaku mayat juga dapat digunakan untuk memperkirakan waktu kematian.
B. Penurunan Suhu Tubuh (algor mortis)
Pada kondisi tubuh yang sudah mati, suhu tubuh akan mengikuti suhu
lingkungan dengan adanya proses pemindahan panas melalui cara radiasi,
konduksi, evaporasi, dan konveksi. Suhu tubuh relatif lebih tinggi dari suhu
lingkungan sehingga akan teijadi penurunan suhu. Kecepatan penurunan suhu
dipengaruhi oleh suhu lingkungan, aliran dan kelembaban udara, bentuk
tubuh, pakaian, dan posisi tubuh. Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk
menggunakan penurunan suhu tubuh untuk memperkirakan saat kematian.

C. Pembusukan (decomposition)
Pembusukan merupakan proses degradasi jaringan yang terjadi akibat
autolisis dan kerja bakteri. Pembusukan baru muncul kira-kira 24 jam pasca
kematian yang pertama kali nampak pada perut kanan bawah berupa warna
kehijauan. Hal ini disebabkan daerah sekum isinya lebih cair dan penuh bakteri
serta terletak dengan dinding perut. Secara bertahap warna kehijauan ini akan
menyebar keseluruh perut dan dada. Setelah itu, kulit ari akan mengelupas atau
membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk serta
pembentukan gas didalam perut sehingga menyebabkan pembengkakan tubuh
yang menyeluruh terutama pada daerah dengan jaringan longgar seperti
skrotum dan payudara. Setelah itu, seluruh organ dalam akan mulai
mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Larva lalat
dapat dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, kira-kira 36-48
jam pasca kematian. Kemudian dapat ditemukan larva setelah telur menetas
(24 jam kemudian) dan ukuran larva dapat diukur untuk memperkirakan
waktu kematian. Faktor yang mempengaruhi kecepatan pembusukan antara
lain suhu lingkungan, kelembaban udara, jumlah bakteri pembusuk, tubuh
gemuk, penyakit infeksi, dan media tempat mayat
D. Lilin mayat (adiposera)
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak,
berminyak, berbau tengik yang teijadi di dalam jaringan lunak tubuh akibat
hidrolisis dan hidrogenisasi lemak menjadi asam lemak jenuh. Adiposera
mudah terbentuk pada kelembaban tinggi dan suhu yang hangat Adiposera

terlihat secara makroskopis sebagai bahwan berwarna putih kelabu yang


menginfiltasi bagian lunak tubuh.
E.Mummiftkasi
Mummifikasi merupakan pengeringan jaringan yang teijadi akibat proses
penguapan cairan atau dehidrasi jaringan. Jaringan berubah menjadi keras
dan kering, berwarna gelap, berkeriputm dan tidak membusuk. Mumifikasi
dapat teijadi kira-kira 12-14 minggu pada kondisi suhu hangat kelembaban
rendah, dan aliran udara yang baik.