Anda di halaman 1dari 26

ABSTRAK

Kata Akhlak bersasal dari bahasa arab, yaitu merupakan jamak dari khuluq. Khuluq adalah
ibarat dari kelakuan manusia yang membedakan baik dan buruk, lalu disenangi dan dipilih
yang baik untuk dipraktekkan dalam perbuatan, sedang yang buruk di benci dan dihilangkan.
Dalam Ilmu akhlak, objek ilmu akhlak yang dipelajari adalah perilaku manusia, dan
penetapan nilai perilaku sebagai baik atau buruk. Dasar atau alat pengukur yang menyatakan
baik-buruknya sifat perilaku seseorang itu adalah Al-Quran dan As-Sunah Nabi SAW. Apa
yang baik menurut Al-Quran dan As-Sunah, itulah yang baik untuk dijadikan pegangan
dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, apa yang buruk menurut al-Quran dan as-Sunnah,
itulah
yang
tidak
baik
dan
harus
dijauhi.
Eksistensi akhlak yang baik sangat berpengaruh bagi kelangsungan umat muslim.
Mempelajari Ilmu akhlak bertujuan sebagai pedoman atau pun penerang bagi kaum manusia
dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk. Akhlak tidak bisa menjadikan
manusia baik atau buruk. Kedudukan akhlak adalah sebagai dokter untuk pasien. Pasien bisa
saja tidak mendengarkan informasi yang diberikan dokter tentang kesehatannya. Hal ini
mengibaratkan bahwa hidup tanpa petunjuk akhlak yang baik maka akan mengalami keugian
yang mendalam. Jika petunjuk atau petuah dari dokter diikuti dengan baik maka hal ini akan
mendorong kita supaya membentuk hidup yang menghasilkan kebaikan dan kesempurnaan.
Perbuatan baik membutuhkan pembiasaan setiap hari. Berusaha melakukan perbuatan yang
baik dan berusaha menjauhi perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik akan banyak
halangannya. Berbekal akhak yang mulia, seorang mukmin akan semakin teruji dan menjadi
insan yang terpuji.

A.

PENDAHULUAN
Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ingin dicapai dengan
menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik.
Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang
dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang
tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya
kebahagiaan tersebut. Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya
adalah pangkalan yang menentukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila
adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan.Hidup susila dan tiap-tiap
perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup
yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu.
Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat
atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah
membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia
bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal yang
baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri,
hanya manusialah sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu,
sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang
mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.
Akhlak merupakan tiang yang menopang hubungan yang baik antara hamba dengan Allah
SWT (habluminallah) dan antar sesama umat (habluminannas). Akhlak yang baik akan hadir
pada diri manusia dengan proses yang panjang, yaitu melaui pendidikan akhlak. Banyak
kalangan di dunia ini menawarkan pendidikan akhlak yang mereka yakini kebaikannya, tetapi
tidak semua dari pendidikan tersebut mempunyai kaidah-kaidah yang benar dalam Islam. Hal
tersebut dikarenakan pengetahuan yang terbatas dari pemikiran manusia itu sendiri.
Sementara pendidikan akhlak yang dibawa oleh Islam merupakan sesuata yang benar dan
tidak ada kekurangannya. Pendidikan akhlak yang ditawarkan Ilslam berasal langsung dari
Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melaui malaikat Jibril dengan
Al Quran dan Sunnah kepada umat Rasulullah.
Rasulullah SAW sebagai teladan yang paling baik memberikan pengetahuan akhlak
kepada para keluarga dan para sahabat Rasulullah SAW, sehingga orang-orang dekat
Rasulullah SAW mampu memiliki akhlak yang tinggi di hadapan umat lain dan akhlak mulia
di hadapan Allah. Sebagai umat Islam yang baik dan beriman kepada Allah, setiap langkah
kita sebaiknya merupakan implementasi dari keteladanan akhlak luhur yang dimiliki
Rasullullah.
Pandangan bahwa kehidupan dengan landasan akhlak adalah sesuatu yang kuno dan
ketinggalan zaman serta jauh dari kemodernan harus kita hapuskan dari pemikiran kita.
Kemunduran moral yang terjadi di seluruh penghujung dunia seharusnya menjadi keprihatian
sendiri bagi seluruh umat. Semestinya manusia sadar dan kembali kepada fitrahnya sebagai
manusia yang diciptakan Allah dengan akhlak yang mulia. Orang yang paling sempurna
keimannannya adalah orang yang baik akhlaknya. Akhlak Islam yang mulia ini akan
membawa umat untuk selamat hidupnya di dunia dan akhirat
Secara historis dan teologis, akhlak dapat memadu perjalan hidup manusia agar selamat di

dunia dan akhirat. Tidakkah berlebihan bila misi utama kerasulan Muhammad SAW. adalah
untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sejarah pun mencatat bahwa faktor pendukung
keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga
hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran.
Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar akhlak dan
keluhuran budi Nabi Muhamad SAW. itu dijadikan contoh dalam kehidupan di berbagai
bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini dijamin keselamatan hidupnya di dunia dan
akhirat.

B.

Pengertian Akhlak Islam


Secara etimologi akhlak berasal dari bahasa arab akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, jamanya
khuluqun yang berarti perangai (al-sajiyah), adat kebiasaan (aladat), budi pekerti, tingkah
laku atau tabiat (ath-thabiah), perbedaan yang baik (al-maruah), dan agama (ad-din).[1]
Akhlak adalah suatu istilah agama yang dipakai menilai perbuatan manusia apakah itu baik,
atau buruk. Sedangkan ilmu akhlak adalah suatu ilmu pengetahuan agama islam yang
berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada manusia, bagaimana cara berbuat
kebaikan dan menghindarkan keburukan. Dalam hal ini dapat dikemukakan contohnya:
1.
Perbuatan baik termasuk akhlak, karena membicarakan nilai atau kriteria suatu
perbuatan.
2.
Perbuatan itu sesuai dengan petunjuk Ilmu Akhlak; ini termasuk ilmunya, karena
membicarakan ilmu yang telah dipelajari oleh manusia untuk melakukan suatu perbuatan.[2]
Adapun ayat yang menjelaskan tentang akhlak yaitu terdapat dalam (Q.S. al-ahzab,33:21)

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.[3]

Sedangkan pengertian akhlak secara terminologi dapat dilihat dari beberapa pendapat para
ahli :

a.

Ibnu Maskawaih

Menyebutkan bahwa akhlak yaitu keadaan jiwa yang mendorong atau mengajak melakukan
sesuatu perbuatan tanpa melalui proses berpikir, dan pertimbangan terlebih dahulu.
b.

Prof. Dr. Ahmad Amin

Akhlak menurut Prof. Dr. Ahmad Amin yaitu suatu ilmu yang menjelaskan baik dan buruk,
menerangkan yang harus dilakukan, menyatakan tujuan yang harus dituju dan menunjukkan
apa yang harus di perbuat.1
c.

Didalam buku akhlak dalam berbagai dimensi, akhlak yaitu sifat-sifat

yang berurat berakar dalam diri manusia, serta berdasarkan dorongan dan pertimbangan sifat
tersebut, dapat dikatakan bahwa perbuatan tersebut baik atau buruknya dalam pandangan
manusia.[4]

Dari definisi berbagai pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa akhlak adalah keadaan
jiwa yang mendorong melakukan suatu perbuatan secara spontan tanpa pertimbangan dan
proses berfikir terlebih dahulu dan tanpa ada unsur paksaan.
Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia pada dasarnya bersumber dari kekuatan
batin yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu :
1) Tabiat(pembawaan); yaitu suatu dorongan jiwa yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan
manusia, tetapi disebabkan oleh naluri(gharizah) dan factor warisan sifat-sifat dari orang
tuanya atau nenek moyangnya.
2) Akal pikiran; yaitu dorongan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan manusia setelah
melihat sesuatu, mendengarkanya, merasakan serta merabanya. Alat kejiwan ini hanya dapat
menilai sesuatu yang lahir (yang nyata)
3)
Hati nurani; yaitu dorongan jiwa yang hanya berpengaruh oleh alat kejiwaan yang dapat
menilai hal-hal yang sifatnya absrak (yang batin) karena dorongan ini mendapatkan
keterangan(ilham) dari allah swt.
Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta
alam tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan dan aku bagian dari orang
Islam, Ya Allah berilah aku amalan yang terbaik dan akhlak yang paling mulia, tiada yang

bisa memberi yang terbaik selain Engkau, dan lindungilah aku dari amalan dan akhlak yang
buruk, tidak ada yang bisa melindungiku dari hal yang buruk selain Engkau". [Sunan AnNasa'i: Sahih]

Hadist tersebut menjelaskan betapa pentingnya akhlak mulia itu, terutama untuk umat islam
saat ini. Akhlak mulia merupakan cermin seorang muslim, mencerminkan kesucian hati dan
fikirannya, sedangkan akhlak buruk mencerminkaan seseorang yang telah gelap hatinya
sehingga ia tidak bisa menentukan mana yang baik dan buruk baginya karena keburukan itu
telah mendarah daging dalam dirinya.
Beberapa ciri-ciri khusus dari akhlak yaitu:
a.
Akhlak mempunyai suatu sifat yang teranam kuat di dalam jiwa atau lubuk hati
seseorang yang menjadi kepribadiannya dan itu akan membuat berbeda dengan orang lain.
b. Akhlak mengandung perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, dalam keadaan
bagaimana pun juga. Dengan kata lain akhlak merupakan adat kebiasaan yang selalu
dilakukan oleh seseorang.
c.
Akhlak mengandung perbuatan yang dilakukan karena kesadaran sendiri, bukan karena
di paksa, atau mendapatkan tekanan dan intimidasi dari orang lain.
d.

Akhlak merupakan manifestasi dari perbuatan yang tulus ikhlas, tidak di buat-buat.[5]

Selain dari kata akhlak, ada beberapa kata yang sama dengan kata akhlak yaitu:
1.

Etika

Kata etika berasal dari yunani yaitu ethos yang berarti adat kebiasaan. Tetapi didalam kamus
bahasa indonesia, etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak(moral).
Etika berbicara tentang kebiasaan (perbuatan) tetapi bukan menurut arti tata adat. Oleh
karena itu, etika landasannya adalah sifat dasar manusia. Tetapi etika menurut filsafat yaitu
menyelidiki mana yang baik, dan mana yang buruk menurut perbuatan manusia.[6]

2.

Moral.

Berasal dari bahasa latin, mos yaitu prinsip-prinsip tingkah laku manusia yang sejalan dengan
adat kebiasaan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa moral adalah
penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Meskipun etika dan moral
mempunyai kesamaan pengertian dalam percakapan sehari-hari, namun dari sisi lain
mempunyai unsur perbedaan, misalnya :

a.
Istilah etika digunakan untuk mengkaji system nilai yang ada. Karena itu, etika
merupakan suatu ilmu.
b.
Istilah moral digunakan utnuk memberikan criteria perbuatan yang sedang dinilai.
Karena itu, moral bukan suatu ilmu tetapi merupakan suatu perbuatan manusia.

3.

Kesusilaan dan Kesopanan

Kesusilaan berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata su yang berarti lebih baik,
dan kata sila berarti prinsip atau aturan hidup. Jadi kesusilaan adalah dasar-dasar aturan
hidup yang lebih baik.
Sedangkan kesopanan berasal dari bahasa Indonesia yang berasal dari kata sopan yang
artinya tenang, beradab, baik dan halus (perkataan ataupun perbuatan)
Istilah Etika dan ilmu Aklak adalah sama pengertianya sebagai suatu ilmu yang dapat
dijadikan pedoman bagi manusia untuk melakukan perbuatan yang baik. Sedangkan istilah
moral, kesusilaan, kesopanan, dan akhlaq sama pengertianya sebagai suatu norma untuk
menyatakan perbuatan manusia. Jadi istilah ini bukan suatu ilmu tetapi merupakan suatu
perbuatan manusia.
Istilah etika dan ilmu akhlaq dinyatakan sama bila ditinjau dari fungsinya. Tetapi bila ditinjau
dari segi sumber pokoknya maka tentu keduanya berbeda. Dimana etika bersumber dari
filsafat yunani, tetapi ilmu akhlak sumber pokoknya adalah al-quran dan hadits dan sumber
pengembangannya adalah filsafat.
Istilah akhlaq dengan moral, kesusilaan dan kesopanan,dapat dilihat perbedaanya bila
dipandang dari objeknya di mana akhlaq menitikberatkan perbuatan terhadap tuhan dan
sesama manusia, sedangkan moral, kesusilan dan kesopanan hanya menitikberatkan
perbuatan terhadap sesama manusia saja. Maka istilah akhlaq sifatnya teosentris meskipun
akhlaq itu ada yang tertuju kepada manusia dan makluk-makluk lain,namun tujua utamanya
hanya karena Allah swt semata. Tetapi kesusilaan dan kesopanan semata-mata sasaran dan
tujuanya untuk manusia saja karena itu istilah tersebut bersifat antroposentris (kemanusian
saja).

B. Ruang Lingkup Akhlak


Ruang lingkup ilmu akhlak adalah pembahasan tentang perbuatan-perbuatan manusia,
kemudian menetapkannya apakah perbuatan itu tergolong baik atau tergolong buruk. Ilmu
Akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal
tingkah laku manusia, obyek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian
terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Jika kita katakana baik atau buruk,
maka ukuran yang harus digunakan adalah ukuran normative.
Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan
manusia yang baik maupun yang buruk sebagai individu maupun sosial. Tapi sebagian orang
juga menyebutkan ilmu akhlak adalah tingkah laku manusia, namun perlu ditegaskan bahwa
yang dijadikan obyek kajian ilmu akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan
kemauan, sebenarnya mendarah daging dan telah dilakukan secara continue atau terus
menerus sehingga mentradisi dalam kehidupannya.
Banyak contoh perbuatan yang termasuk perbuatan akhlak dan begitu juga sebaliknya.
Seseorang yang membangun mesjid, gedung sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan pos
keamanan termasuk perbuatan akhlak yang baik karena itu berdasarkan kemauan manusia itu
sendiri yang telah dipersiapakan sebelumnya. Tetapi jika seseorang yang memicingkan mata
dengan tiba-tiba pada waktu benda berpindah dari gelap ke terang, atau menarik tangan pada
waktu tersengat api atau binatang buas, bernapas, hati yang berubah rubah, orang yang
menjadi ibu-bapak kita, tempat tinggal kita, kebangsaan kita,warna kulit kita, dan tumpah
darah kita itu tidak termasuk perbuatan akhlak karena semua itu diluar perencanaan,
kehendak atau pilihan kita.
Jadi sekarang kita bisa memahami yang dimaksud ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji
suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri,
tidak terpaksa, dan sungguh-sungguh atau sebenarnya bukan perbuatan yang pura-pura.
Perbuatan-perbuatan demikian selanjutnya diberi nilai baik atau buruk.[7]

C. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak


Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat
menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya
sebagai yang buruk. Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk
perbuatan buruk, membayar utang kepada pemilik nya termasuk perbuatan baik, sedangkan
mengingkari utang termasuk perbuatan buruk.[8]
Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah untuk membersihkan
kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehinggahati menjadi suci bersih bagaikan
cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan.[9] Keterangan tersebut memberikan

panduan kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk
selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan baik atau buruk
Selanjutnya ilmu akhlak juga menentukan kriteria perbuatan yang baik dan yang buruk, serta
perbuatan apa saja yang termasuk perbuatan baik, dan perbuatan yang buruk itu, dan
selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan baik dan perbuatan yang buruk. Selain itu
ilmu akhlak berguna secara efektif dalam upaya membersihkan diri manusia dalam perbuatan
dosa dan maksiat.
Jika tujuan ilmu akhlak tersebut tercapai, maka manusia akan memiliki kebersihan batin
yang yang pada gilirannya melahirkan perbuatan terpuji. Dengan perbuatan terpuji ini, akan
lahirlah keadaan masyarakat yang damai, sejahtera, harmoni lahir dan batin, yang
memungkinkan ia dapat beraktifitas guna mencapai kebahagiaan hidup didunia dan juga di
akhirat. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlak. Menurut
bahasa, akhlak adalah peragai, tabiat, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi
persesuaian dengan perkataan khalq yang berarti kejadian, serta erat hubungannya denga
kata khaliq yang berarti Pencipta dan makhluq yang berati yang diciptakan (Rosihon
Anwar 2010:11).
Khuluq adalah ibarat dari kelakuan manusia yang membedakan baik dan buruk, lalu
disenangi dan dipilih yang baik untuk dipraktekkan dalam perbuatan, sedang yang buruk di
benci dan dihilangkan. (Marzuki 2012:173 (Ainan, 1985:186).
Terkadang defini akhlak (moral) sebagaimana disebutkan atas dalam batas-batas tertentu
berbaur dengan definisi kepribadian, hanya saja perbedaan yang pokok antara keduanya
sebagai berikut:
- Moral lebih terarah pada kehendak dan diwaranai dengan nilai-nilai.
- Kepribadian mencakup pengaruh fenomena sosial bagi tingkah laku.
Demikian para pakar ilmu-ilmu sosial mendefinisikan akhlak (moral). Ada sebuah definisi
ringkas yang bagus tentang akhlak (moral) dalam kamus la Lande, yaitu moral mempunyai
empat makna berikut:
1) Moral adalah sekumpulan kaidah bagi perilaku yang diterima dalam satu zaman atau
oleh sekelompok, buruk, atau rendah.
2) Moral adalah sekumpulan kaidah bagi perilaku yang dianggap baik berdasarkan
kelayakan bukannya berdasarkan syarat.
3) Moral adalah teori akal tentang kebaikan dan keburukan, ini menurut filsafat.
4) Tujuan-tujuan kehidupan yang mempunyai warna humanisme yang kental yang tercipta
dengan adanya hubungan-hubungan sosial. (Ali Abdul Halim mahmud, 2004: 27).
Baik dan buruk akhlak manusia sangat tergantung pada tata nilai yang dijadikan
pijakannya. Abul Ala al-Maududi membagi sistem moralitas menjadi dua. Pertama, sistem
moral yang berdasar kepada kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan setelah mati. Kedua,
sistem moral yang tidak mempercayai Tuhan dan timbul dari sumber-sumber sekuler
(Marzuki, 2013:175 (al-Maududi, 1971:9)
Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang,
sehingga telah menjadi kepribadiannya. Jika kita mengatakan bahwa si A misalnya sebagai

orang yang berakhlak dermawan, maka sikap dermawn tersebut telah mendarah daging,
kapan dan di manapun sikapnya itu dibawanya, sehingga menjadi identitas yang
membedakan dirinya dengan orang lain. Jika si A tersebut kadang-kadang dermawan dan
kadang-kadang bakhil, maka si A tersebut belum dapat dikatakan sebagai seorang yang
dermawan. Demikian juga jika kepada si B kita mengatakan bahwa ia termasuk orang yang
taat beribadah, maka sikap taat beribadah tersebut telah dilakukannya di manapun ia berada.
(Nata, Abuddin 2011:4-5)
Dikutip dari (Rosihon Anwar 2010: 13-15) bahwa pengertian akhlak menurut ulama akhlak
antara lain:
a. Ibnu Maskawaih(941-1030 M)
: .
, ....
,
.
Artinya :
keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa
melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari
tabiat aslinya adapula yang diperoleh dari kebiasaan berulang-ulang. Boleh jadi,pada
mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan,kemudian dilakukan terus
menerus,maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
b. Imam Al-Ghazali (1055-1111 M)


.
Artinya :
akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatanperbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.

c.

Muhyiddin Ibnu Arabi (1165-1240 M)

,
,.
Artinya :
keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui
pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada seseorang boleh jadi
merupakan tabiat atau bawaan dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan
perjuangan.
d. Syekh Makarim Asy-Syirazi

.
Artinya :
akhlak adalah sekumpulan keutamaan maknawi dan tabiat batini manusia.
e. Al-Faidh Al-Kasyani(w. 1091 H)


.
Artinya :
akhlak adalah ungkapan untuk menunjukkan kondisi yag mandiri dalam jiwa yang darinya
muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa digahului perenungan dan pemikiran.
Dari semua pengertian diatas memberikan gambaran bahwa tingkah laku merupakan
bentuk kepribadian seseorang tanpa dibuat-buat atau tanpa dorongan dari luar. Jika baik
menurut agama dan pandangan akal tindakan spontan ini disebut akhlak baik (akhlakul
karimah/akhlakul mahmudah) sebaliknya jika akhlak tersebut buruk tindakan spontan ini
disebut akhlak tercela (akhlakul madzmudah).

D.

Ruang Lingkup Akhlak

Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu yang berdiri
sendiri, yaitu ilmu yang memiliki lingkup pokok bahasan, tujuan, rujuakn, aliran dan para
tokoh yang mengembangkannya. Kedemua aspek yang terkandung dalam akhlak ini
kemudian membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.
(Nata Abuddin 2011:7).
Objek ilmu akhlak adalah perilaku manusia, dan penetapan nilai perilaku sebagai baik atau
buruk. Melihat secara lahiriyah perilaku manusia dapat digolongkan menjadi
1. Perilaku yang lahir dengan kehendak dan disengaja.
2. Perilaku yang lahir tanpa kehendak dan tanpa disengaja
Jenis perilaku yang pertama yakni yang lahir dengan kehendak dan disengaja, inilah
perilaku yang menjadi objek dari ilmu akhlak. Jenis yang kedua tidak menjadi objek ilmu
akhlak sebab perilaku-perilaku yang lahir tanpa kehendak manusia (seperti gerakan reflek
mengedipkan mata karena ada benda akan masuk) tidak menjadi kajian ilmu akhlak. Perilaku
ini tidak dapat dinilai baik atau buruk karena perilaku tersebut terjadi dengan sendirinya
tanpa dikehendaki dan tanpa disengaja. (Ajad Sudrajat, dkk 2013:92)
Menurut Rohison Anwar dalam Buku Akhlak tasawuf, mengenai ruang lingkup akhlak,
Abdullah Darraz dalam buku Dustur al-Akhlaq fi Al-Quran, membagi ruang lingkup akhlak
atas lima bagian:
1) Akhlak Pribadi
a) yang diperintahkan (al-awamir)
b) yang dilarang ( al-nawahi)

c) yang diperbolehkan ( al-mubahat), dan


d) akhlak dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar).
2) Akhlak berkeluarga
a) kewajiban orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu)
b) kewajiban suami & isteri ( wajibat baina al-azwaj)
c) kewajiban terhadap karib dekat (wajibat nahwa al-aqarib).
3) Akhlak bermasyarakat,
a) yang dilarang (al-makhdzurat)
b) yang diperintahkan (al-awamir), dan
c) kaidah-kaidah adab (qawaid al-adab).
4) Akhlak bernegara
a) hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-alaqah baina al-rais wa al-syab)
b) hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
5) Akhlak beragama;
a) kewajiban terhadap Allah swt
b) kewajiban terhadap Rasul
Menurut sistematika yang lain, ruang lingkup akhlak, antara lain:
1. Akhlak terhadap Allah SWT
2. Akhlak kepada Rasul SAW
3. Akhlak untuk diri pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak dalam masyarakat
6. Ahlak bernegara.
Akhlak dibagi berdasarkan sifatnya dan berdasarkan objeknya.
Berdasarkan sifatnya, akhlak terbagi menjadi dua bagian: (Anwar, Rosihon 2010:30-31)
1. Akhlak mahmudah (akhlak terpuji) atau akhlak karimah (akhlak yang ,mulia), di
antaranya:
a. Rida kepada Allah SWT
b. Cinta dan beriman kepada Allah SWT
c. Beriman kepada Malaikat, Kitab, Rasul, hari Kiamat, dan takdir
d. Taat beribadah
e. Selalu menepati janji
f. Melaksanakan amanah
g. Berlaku sopan dalam ucapan dan perbuatan
h. Qanaah (rela terhadap pemberian Allah SWT)
i. Tawakal
j. Sabar
k. Syukur
l. Tawadhu (merendahkan diri) dan segala perbuatan yang baik menurut pandangan AlQuran dan Al-Hadis.
2. Akhlak mazhmumah (akhlak tercela) atau akhlak sayyiyah (akhlak yang jelek), di
antaranya:

a. Kufur
b. Syirik
c. Murtad
d. Fasik
e. Riya
f. Takabur
g. Mengadu domba
h. Dengki/iri
i. Hasut
j. Kikir
k. Dendam
l. Khianat
m. Memutuskan silaturahmi
n. Putus asa
o. Segala perbuatan tercela menurut pandangan Islam
Berdasarkan objeknya, akhlak dibedakan menjadi dua:
1. Akhlak kepada khalik
2. Akhlak makhluk
a. Akhlak terhadap Rasulullah SAW
b. Akhlak terhadap keluargaakhlak terhadap diri sendiri
c. Akhlak terhadap sesama atau orang lain
d. Akhlak terhadap lingkungan alam

E.

Sumber Akhlak Islam


Dalam Islam, dasar atau alat pengukur yang menyatakan baik-buruknya sifat seseorang
iu adalah Al-Quran dan As-Sunah Nabi SAW. Apa yang baik menurut Al-Quran dan AsSunah, itulah yang baik untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya,
apa yang buruk menurut al-Quran dan as-Sunnah, itulah yang tidak baik dan harus dijauhi.
(M. Ali Hasan, 1978:11)
Dasar akhlak yang dijelaskan dalam al-Quran yaitu:






















Artinya :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah. (Q.S.al-Ahzab : 21)
Sedangkan dalam Alquran hanya ditemukan bentuk tunggal dari akhlak yaitu khuluq (QS. Al
Qalam (68): 4) (Marzuki:2012)




Dan sungguh-sungguh engkau berbudi pekerti yang agung.
(QS. Al Qalam (68): 4)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:












Artinya: Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik

akhlaknya.
(HR. At-Tirmidzi)
Sungguh Rasulullah memiliki akhlak yang sangat mulia. Segala perbuatan dan perilaku
Beliau berpedoman pada Al Quran. Aisyah memberikan gambaran yang sangat jelas akan
akhlak beliau dengan mengatakan:






Artinya: Akhlak beliau adalah Al Quran.
(HR Abu Dawud dan Muslim)
Maksud perkataan Aisyah adalah bahwa segala tingkah laku dan tindakan Rasul, baik yang
lahir maupun batin senantiasa mengikuti petunjuk dari al-Quran. Al-Quran selalu
mengajarkan umat Islam untuk berbuat baik dan menjauhi segala perbuatan yang buruk.
Ukuran baik dan buruk ini ditentukan oleh Al-Quran. (A. Zainuddin dan Muhammad
Jamhari 1999: 74)
Setiap orang yang dekat dengan Rasulullah SAW dalam akhlaknya maka ia dekat dengan
Allah, sesuai kedekatannya dengan beliau. Setiap orang yang memiliki kesempurnaan akhlak
tersebut, maka ia pantas menjadi seorang raja yang ditaati yang dijadikan rujukan oleh
seluruh manusia dan seluruh perbuatannya dijadikan panutan. Sementara orang yang tak
punya seluruh akhlak tersebut, maka ia bersifat dengan lawannya, sehingga ia pantas terusir
dari seluruh negeri dan oleh manusia. Karena ia sudah dekat dengan setan yang terlaknat dan
terusir, sehingga ia harus diusir. (Mahmud, Ali Abdul Halim 2004:31)
Dasar akhlak dari hadits yang secara eksplisit menyinggung akhlak tersebut yaitu sabda Nabi:







Artinya : Bahwasanya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak.
(HR. Ahmad)
Jika telah jelas bahwa al-Quran dan hadits rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas
bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlaqul karimah.

Dengan mempelajari ilmu akhlak, diharapkan setiap muslim mampu mengaplikasikan


ajaran-ajaran terpuji yang bersumber dari Alquran dan Al Hadits. Berkenaan dengan hal ini
dalam kutipan buku Akhlak Tasawuf krangan Abudin Nata, Ahmad Amin mengatakan
sebagai berikut:
Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan
sebagian perbuatan lainnya sebagaian yang baik dan sebagian yang buruk. Bersikap adil
termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk perbuatan buruk, membayar hutang kepada
pemiliknya termasuk perbuatan baik , sedangkan mengingkari hutang termasuk perbuatan
buruk.
Selanjutnya Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk
membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci
bersih bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya tuhan. (Abudin Nata 1996: 13)
Keterangan tersebut memberi petunjuk bahwa ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan
kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk selanjutnya
menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang baik dan buruk. (Abudin
Nata 1996: 14)

Perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan norma-norma ajaran Islam lahir dari cinta yang
tulus dan sempurna kepada Allah yang mendalam dalam hati seorang mukmin. Hamka
mengemukakan pendapat Imam Ghazali yang menyatakan bahwa yang mendorong hati
seseorang berbuat baik adalah: (Ajad Sudrajat, dkk 2013:103 (Asmaraman 2004:148)
1. Karena bujukan atau ancaman dari orang yang diingini
rahmatnya atau ditakuti siksanya.
2. Mengharap pujian dari yang akan memuji, atau
menakuti celaan dari yang akan mencela.
3. Mengerjakan kebaikan karena memang dia baik, dan
Bercita-cita hendak menegakkan budi yang utama
Tujuan lain dari mempelajari akhlak adalah mendorong kita menjadi orang-orang yang
mengimplementasikan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Ahmad Amin menjelaskan
etika (akhlak) tidak dapat menjadikan semua manusia baik. Kedudukannya hanya sebagai
dokter. Ia menjelaskan kepada pasien tentang bahaya minuman keras dan dampak negatifnya
terhadap akal. Si pasien boleh memilih informasi yang disampaikan dokter tersebut:
meninggalkannya agar tubuhnya sehat atau tetap meminumnya dan dokter tidak dapat
mencegahnya. Etika tidak dapat menjadikan manusia baik atau buruk. Etika tidak akan
bermanfaat apa-apa jika petunjuk-petunjuknya tidak diikuti. Tujuan etika bukan hanya
sebagai teori, tetapi juga mempengaruhi dan mendorong kita supaya membentuk hidup suci
serta menghasilkan kebaikan dan kesempurnaan. (Anwar, Rosihon 2010:29)
Akhlak yang mulia juga berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas
kehidupan manusia di degala bidang. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan
teknologi yang maju yang disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan dan
teknologi modern yang ia milikinya itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan
hidup manusia. Sebaliknya orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern,
memiliki pangkat, harta, kekuasaan dan sebagainya namun tidak disertai dengan akhlak yang
mulia, maka semuanya itu akan disalahgunakan yang akibanya akan menimbulkan bencana di
muka bumi. (Nata, Abuddin 2011:15)
Dengan demikian Ilmu akhlak bertujuan sebagai pedoman atau pun penerang bagi kaum
manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk. Perbuatan baik
membutuhkan pembiasaan setiap hari. Berusaha melakukan perbuatan yang baik dan
berusaha menjauhi perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik akan banyak halangannya.
Berbekal akhak yang mulia, seorang mukmin akan semakin teruji dan menjadi insan yang
terpuji.
Akhlakul karimah(sifat-sifat terpuji) ini banyak macamnya,diantaranya adalah
husnuzzan,gigih,berinisiatif,rela berkorban,tata karma terhadap makhluk
Allah,adil,ridho,amal shaleh,sabar,tawakal,qonaah,bijaksana,percaya diri,dan masih banyak
lagi.

Husnuzzan adalah berprasangka baik atau disebut juga positive thinking.Lawan dari kata ini
adalah suuzzan yang artinya berprasangka buruk ataup negative thinking.

Gigih atau kerja keras serta optimis termasuk diantara akhlak mulia yakni percaya akan hasil
positif dalam segala usaha.

Berinisiatif adalah perilaku yang terpuji karena sifat tersebut berarti mampu berprakarsa
melakukan kegiatan yang positif serta menhindarkan sikap terburu-buru bertindak kedalam
situasi sulit,bertindak dengan kesadaran sendiri tanpa menunggu perintah,dan selalu
menggunakan nalar ketika bertindak di dalam berbagai situasi guna kepentingan masyarakat.

Rela berkorban artinya rela mengorbankan apa yang kita miliki demi sesuatu atau demi
seseorang.Semua ini apabila dengan maksud atau dilandasi niat dan tujuan yang baik.

Tata karma terhadap sesama makhluk Allah SWT ini sangat dianjurkan kepada makhluk
Allah karena ini adalah salah satu anjuran Allah kepada kaumnya.

Adil dalam bahasa arab dikelompokkan menjadi dua yaitu kata al-adl dan al-idl.Al-adl
adalah keadilan yang ukurannya didasarkan kalbu atau rasio,sedangkan al-idl adalah
keadilan yang dapat diukur secara fisik dan dapat dirasakan oleh pancaindera seperti hitungan
atau timbangan.

Ridho adalah suka,rela,dan senang.Konsep ridho kepada Allah mengajarkan manusia untuk
menerima secara suka rela terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita.

Amal Shaleh adalah perbuatan lahir maupun batin yang berakibat pada hal positif atau
bermanfaat.

Sabar adalah tahan terdapat setiap penderitaan atau yang tidak disenangi dengan sikap ridho
dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Tawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu
hasil dari suatu pekerjaan.

Qonaah adalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat
ketidakpuasan atau kekurangan..

Bijaksana adalah suatu sikap dan perbuatan seseorang yang dilakukan dengan cara hati-hati
dan penuh kearifan terhadap suatu permasalahan yang terjadi,baik itu terjadi pada dirinya
sendiri ataupun pada orang lain.

Percaya diri adalah keadaan yang memastikan akan kemampuan seseorang dalam melakukan
suatu pekerjaan karena ia merasa memiliki kelebihan baik itu kelebihan postur
tubuh,keturunan,status social,pekerjaan ataupun pendidikan.

1). Akhlak kepada Pencipta

Salah satu perilaku atau tindakan yang mendasari akhlak kepada Pencipta adalah
Taubat.Taubat secara bahasa berarti kembali pada kebenaran.Secara istilah adalah
meninggalkan sifat dan kelakuan yang tidak baik,salah atau dosa dengan penuh penyesalan
dan berniat serta berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa.Dengan kata
lain,taubat mengandung arti kembali kepada sikap,perbuatan atau pendirian yang baik dan
benar serta menyesali perbuatan dosa yang sudah terlanjur dikerjakan.

# Menurut Ibnu Katsir

Taubat adalah Tobat adalah menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan menyesali atas dosa
yang pernah dilakukan pada masa lalu serta yakin tidak akan melakukan kesalahan yang
sama pada masa mendatang.

# Menurut A.Jurjani

Tobat adalah kembali pada Allah dengan melepaskan segala keterikatan hati dari perbuatan
dosa dan melaksanakan segala kewajiban kepada Tuhan.

# Menurut Hamka

Tobat adalah kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan yang sangat sesat dan
tidak tentu ujungnya.

2). Akhlak terhadap Sesama

Setelah mencermati kondisi realitas social tentunya tidak terlepas berbicara masalah
kehidupan.Masalah dan tujuan hidup adalah mempertahankan hidup untuk kehidupan
selanjutnya dan jalan mempertahankan hidup hanya dengan mengatasi masalah
hidup.Kehidupan sendiri tidak pernah membatasi hak ataupun kemerdekaan seseorang untuk
bebas berekspresi,berkarya.Kehidupan adalah saling berketergantungan antara sesama
makhluk dan dalam kehidupan pula kita tidak terlepas dari aturan-aturan hidup baik
bersumber dari norma kesepakatan ataupun norma-norma agama,karena dengan norma hidup
kita akan jauh lebih mewmahami apa itu akhlak dalam hal ini adalah akhlak antara sesama
manusia dan makhluk lainnya.

Dalam aklak terhadap sesama dibedakan mnjadi dua macam

@ Akhlak kepada sesama muslim.

Sebagai umat pengikut Rasullulah tentunya jejak langkah beliau merupakan guru besar umat
Islam yang harus diketahui dan patut ditiru,karena kata rasululah yang di nukilkan dalam
sebuah hadist yang artinya sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia.Yang dimaksud akhlak yang mulia adalah akhlak yang terbentuk dari hati manusia
yang mempunyai nilai ibadah setelah menerima rangsangan dari keadaan social.Karena
kondisi realitas social yang membentuk hadirnya karakter seseorang untuk menggapai sebuah
keadaan.Contohnya:ketika kita ingin di hargai oleh orang lain,maka kewajiban kita juga harus
menghargai orang lain,menghormati orang yang lebih tua,menyayangi yang lebih
muda,menyantuni yang fakir karena hal itu merupakan cirri-ciri akhlak yang baik dan
terpuji.Contoh lain yang merupakan akhlak terpuji antar sesame muslim adalah menjaga lisan
dalam perkataan agar tidak membuat orang lain disekitar kita tersinggung bahkan lebih
menyakitkan lagi ketika kita berbicara hanya dengan melalui bisikan halus ditalinga teman
dihadapan teman-teman yang lain,karena itu merupakan etika yang tidak sopan bahkan
diharamkan dalam islam.

@ Akhlak kepada sesama non muslim

Akhlak antara sesama non muslim,inipun diajarkan dalam agama karena siapapun
mereka,mereka adalah makhluk Tuhan yang punya prinsip hidup dengan nilai-nilai
kemanusiaan.Namun sayangnya terkadang kita salah menafsirkan bahkan memvonis siapa
serta keberadaan mereka ini adalah kesalahan yang harus dirubah mumpung ada waktu untuk
perubahan diri.Karena hal ini tidak terlepas dari etika social sebagai makhluk yang hidup
social.Berbicara masalah keyakinan adalah persoalan nurani yang mempunyai asasi
kemerdekaan yang tidak bias dicampur adukkan hak asasi kita dengan hak merdeka orang
lain,apalagi masalah keyakinan yang terpenting adalah kita lebih jauh memaknai kehidupan
social karena dalam kehidupan ada namanya etika social.Berbicara masalah etika social
adalah tidak terlepas dari karakter kita dalam pergaulan hidup,berkarya hidup dan lainlain.Contohnya bagaimana kita menghargai apa yang menjadi keyakinan mereka,ketika
upacara keagamaan sedang berlangsung ,mereka hidup dalam minoritas sekalipun.Memberi
bantuan bila mereka terkena musibah atau lagi membutuhkan karena hal ini akhlak yang baik
dalam kehidupan non muslim.

@ Kesimpulan Akhlak Kepada Sesama

Setelah menelaah dan memahami akhlak kepada sesama sebagai kesimpulannya adalah
sesungguhnya dalam kehidupan,kita tidak terlepas dari apa yang sudak ada dalam diri kita
sebagai manusia termasuk salah satunya adalah akhlak.Karena akhlak adalah salah satu
predikat tang disandang oleh manusia akhlak akan berjalan setelah manusia itu sendiri berada
dalam alam social.Baik dan buruknya akhlak kepada sesama tergantung dari orang menjalani
hidup,apakah membentuk karakternya dengan akal atau dengan hati karena keduanya adalah
sumber.Jadi kesimpulan akhlak antar sesama yaitu sangat dianjurkan selama apa yang
dilakukan punya nilai ibadah .

Dengan demikian orang yang berakal dan beriman wajib untuk mengerahkan segala
kemampuannya untuk meluruskan akhlaknya dan berperilaku dengan perilaku yang dicintai
Allah SWT.Serta melaksanakan maksud dan tujuan dari terutusnya baginda Rasullulah SAW
yang bersabda:

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan Akhlak

Dari penjelasan ini menunjukkan bahwa: kesempurnaan akhlak yang hanya untuk itu
Rasullulah diutus,merupakan ukuran baik dan tidaknya seseorang baik di dunia ini atau di
akhirat nanti.Oleh karena itu wajib bagi setiap kaum muslimin agar budi pekertinya.Baik
kepada dirinya,keluarga,dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

3). ADIL

Pengertian adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.Adil juga berarti tidak berat
sebelah,tidak memihak.Dengan demikian berbuat adil adalah memerlukan hak dan kewajiban
secara seimbang tidak memihak dan tidak merugikan pihak manapun.Sebagai contoh
seseorang yang adil akan melaksanakan tugas sesuai fungsi dan kedudukannya,menghukum
orang yang bersalah melakukan tindak pidana,membarikan hak orang lain sesuai dengan
haknya tanpa mengurngi sedikitpun.

Firman Allah di dalam Al-Quran yang mamarintahkan berbuat adil antara lain:

Al-Quran surat Al-Maidah ayat 8

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena
adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Berlaku adil harus diterapkan kapada siapa saja tanpa membedakan suku,agama atau status
sosial.Bahkab perlaku adil diterapkan kepada keluarga dan kerabat sendiri.Sebagaimana
firman Allah berikut ini

Al-Quran surat An-nisa Ayat 135

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum
kerabatmu. Jika ia[361] kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika
kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah
adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada hambanya yang beriman supaya
menjadi orang yang benar-benar menegakkan keadilan ditengah masyarakat.Berani menjadi
saksi akrena Allah,walaupun yang menjadi tergugat dan terdakwa adalah diri sendiri,orang
tua dan kerabat.

Oleh karena itu hukum harus diterapkan secara adil kepada semua masyarakat,karena sekali
ada pihak yang merasa dizalimi dengan cara diperlakukan secara tidak adil,maka akan
menimbulkan gejolak.Firman Allah lain tentang dali terdapat dalam surat An Nahl ayat 90

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku ADIL dan berbuat kebajikan, memberi
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran.

4). RIDHO

Ridho menurut bahasa artinya rela,sedangkan menurut istilah ridha artinya menerima dengan
senang hati segala sesuatu yang diberikan Allah SWT.Yakni berupa ketentuan yang telah
ditetapkan baik berupa nikmat maupun saat terkena musibah.Orang yang mempunyai sifat
tidak mudah bimbang,tidak mudah menyesal ataupan menggerutu atas kehidupan yang
diberikan olaeh Allah,tidak iri hati atas kelebihan orang lain,sebab dia berkeyakinan bahwa

semua berasal dari Allah SWT,manusia hanya berusaha.Ridho bukan ebrarti menyerah tanpa
usaha namanya putus asa.Dan sikap putus asa tidak dibenarkan dalam agama islam.

Firman Allah dalam Al-quran surat A-baqarah ayat 153

Artinya:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu

Bagaimanakah caranya agar seseorang bisa memunculkan rasa ridho ketika menerima
kenyataan pahit yang tidak dikehendaki?Caranya yang paling jitu adalah dengan menyadari
bahwa Allah SWT maha adil dan bijaksana dalam setiap ketetapan dan
keputusannya.hendaklah seseorang yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam memutuskan
suatu hal.

Sebenarnya sikap ridho adalah perasan hati yang senantiasa merasa bahagia ketika menerima
takdir baik apapun.Melalui sikap ridho seseorang akan mudah bersabar menghadapi berbagai
macam cobaan.

Ridho mencerminkan puncak ketenangan jiwa seseorang.Orang yangtelah menempati


tingkatan ridho tidak akan mudah tergoncang apapun yang dihadapinya.Baginya apapun yang
terjadi dialam ini merupakan kodrat atau kekuasaan dan irodat kehendak Allah.Segalanya
harus diterima dengan rasa tenang danikhlas karena hal tersebut adalah pilihan Allah SWT
yang berarti pilihan terbaik.

5). AMAL SHALIH

Amal berasal dari bahasa arab yang terbantuk masdar yaitu yamal yang artinya segala
pekerjaan atau perbuatan.Sedangkan shalih artimya bagus.Amal shalih berarti segala
perbuatan/pekerjaan yang bagus yang berguna bagi pribadi,keluarga,masyarakat dan manusia
secara keseluruhan.Kebalikan dari amal shalih adalah amalan sayyian atau amal jelek yaitu
perbuatan yang mendatangkan madhorot,baik bagi pelaku maupun orang lain.

Secara garis besar amal shalih dapat dibagi dua macam:

1.
Amal shalih yang bersifat vertikal,dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk
ibadah ritual kepada Allah SWT

2.
Amal shalih ag bersifat horisontal yakni segala bentuk aktivitas sosial
kemasyarakatan,bentuk politik yang diniati untuk bekal kehidupan alam akhirat.

Islam merupakan agama yang sama sekali tidak membadakan nilai ibadah yang terkandung
dalam amal shalih yang barsifat vertikal maupum horisontal.Karena islam menghendaki
umatnya menjadi penganut agama yang memiliki kedua keshalihan tersebut yaitu keshalihan
individual setelah menunaikan amal shalih vertikal dan sekaligus manjadi anggota
masyarakat yang memiliki keshalihan sosial setelah melakukan amal shalih horisontal.

Perintah Allah agar kita mangerjakan amal shalih terdapat dalam Ai-Quran anara lain:

Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 82

Artinya:

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal
di dalamnya.

F. Penutup
Aspek aspek ajaran islam, baik aqidah, ibadah muamalah bagi setiap muslim
ketiganya merupakan aspek aspek yang bersifat taklifi (kewajiban) yang harus
dilaksanakan. Sejarah membuktikan bahwa semua aspek ajaran tersebut tidak dapat
terlaksana tanpa adanya akhlak yang baik.Dari sini dapat dipahami bahwa akhlak merupakan
pilar yang sangat penting dalam Islam.Akhlak yang mulia adalah pertanda kematangan iman
serta merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Nabi Muhammad sebagai
Rasul terakhir diutus oleh Allah untuk mengemban misi penyempurnaan akhlak manusia
yang telah runtuh sejak zaman para nabi yang terdahulu.Beliau bersabda :








Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
manusia. (HR. Ahmad dan Baihaqi) Apakah Rasulullah diutus hanya untuk memperbaiki
dan menyempurnakan akhlak?Tentu tidak hanya itu saja, tetapi pada dasarnya syariat yang
dibawa para Rasul bermuara pada pembentukkan akhlak mulia. Berbagai ritual diperintahkan
Allah melalui para Nabi dan Rasul, ternyata banyak bermuara pada pembentukkan akhlak,
seperti dalam perintah Shalat sebagai berikut : Bacalah apa yang telah diwahyukan
kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar dan Sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Ankabut:45) Ayat tersebut secara jelas
menyatakan, bahwa muara dari ibadah Shalat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari
sikap keji dan munkar, pada hakikatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia,
bahkan jika kita telusuri proses Shalat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu,
seperti bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan wudhu, Shalat dipersiapkan
untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, tata peraturan, dan melatih seseorang
untuk tepat waktu. Selanjutnya, akhlak juga dapat menentukan beriman atau tidaknya
seseorang,demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak
beriman. Para sahabat bertanya, siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab:
orang yang tidak menyimpan rahasia kejelekan tetangganya (H. R. Muslim). Hadits tersebut
secara nyata mengandung arti bahwa orang yang berakhlak buruk kepada tetangganya oleh
Rasulullah dianggap tidak beriman, selama ini mungkin kita menganggap perbuatan jahat kita
kepada orang lain atau tetangga sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang tidak akan
berpengaruh pada eksistensi keimanan, padahal kalau kita mengetahui, ternyata berakhlak
jelek sangat besar pengaruhnya terhadap keimanan. Bahkan manusia paling jelek di sisi Allah
pada hari kiamat adalah manusia berakhlak jelek. sesungguhnya manusia paling jelek disisi
Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang ditinggalkan orang lain, karena menghindari
kejelekannya. (H.R. Bukhari). Sebaliknya orang yang paling dicintai oleh Rasulullah adalah
yang paling baik akhlaknya, sesungguhnya orang yang paling aku cintai dia yang paling
dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. (H.R. AtTirmidzi). Ternyata orang mukmin yang sempurna imannya bukan karena banyak ibadahnya,
tetapi yang baik akhlaknya, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang
yang paling baik akhlaknya. (H.R. Abu Daud). Demikian juga orang bertakwa dan berakhlak
mulia dijamin masuk syurga, penyebab utama masuknya manusia ke syurga, karena
bertakwa kepada Allah dan kemuliaan akhlaknya. (H. R. Tirmidzi). [3]Manusia mempunyai

kecendrungan untuk berbuat baik dan buruk. Biasanya orang bertakwa akan berbuat dan
bersikap baik dan mengutamakan akhlak mulia, perbuatan baik merupakan wujud kemuliaan
akhlaknya, sedangkan perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk.
Pencerminan diri seseorang juga sering digambarkan melalui tingkah laku atau akhlak yang
ditunjukkan. Bahkan akhlak merupakan perhiasan diri bagi seseorang karena orang yang
berakhlak jika dibandingkan dengan orang yang tidak berakhlak tentu sangat jauh
perbedaannya
Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk , antara yang terpuji dan
yang tercela , tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Maksud dari akhlak
itu sendiri adalah adanya hubungan antara khaliq dan makhluk , dan antara makhluk dengan
makhluk. Kita harus membiasakan diri berakhlak terpuji dalam kehidupan sehari hari agar
semuanya berjalan sesuai dengan perintah dan larangan dari Allah Swt.

Saran
Sebagai seorang mahasiswa, alangkah lebih baik jika kita mempelajari materi tentang akhlak
dari berbagai sumber, baik dari buku maupun situs internet. Agar nantinya kita mudah dalam
memahami dan kita akan lebih mudah dalam penulisan makalah kedepannya. Dalam
penulisan makalah ini kami menyadari banyka kekurangan dan kesalahan dalam
penyampaian maupun penulisan kalimat. Oleh karena itu,kami sebagai penulis makalah ini
meminta kritik dan saran sehingga kedepannya kami dapat menulis makalah ini dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA Nurasmawi. 2011. Buku Ajar Aqidah Akhlak, Pekanbaru : Yayasan
Pusaka Riau Anwar, Khairul. 2014. Pengantar Studi Islam : Rajawali Pers
http//www,urgensiakhlakdalamkehidupan.com http//akhlakdalamislam.com Rajab,
Khairunnas. 2012. Agama Kebahagian.Yogyakarta : Pustaka Pesantren Ritonga, Rahman.
2005.Merakit Hubungan dengan Sesama Manusia : Amelia Surabaya
http//www.perbedaanakhlakdanmoral.com http//www.pengertianetika.com [1]Nurasmawi,
Buku Ajar Akidah Akhlak. hal. 48 [2]Anwar Khairul. Pengantar Studi Islam. hal. 216-219 [3]
Khairunnas Rajab. Agama Kebahagiaan.hlm 137Akhlak merupakan bekal diri yang
membawa kebaikan dan keberuntungan bagi mereka yang mengerjakannya. Akhlak yang
ditawarkan Islam berdasar pada nilai-nilai Al-Quran dan Al-Hadis. Dalam pelaksanaannya,
Akhlak Islam perlu dijabarkan oleh pemikiran-pemikiran manusia melalui usaha ijtihad.
Dengan akhlak Islam, manusia diharapkan dapat menempuh jalan yang baik. Jalan yang
sesuai ajaran-ajaran Islam, pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan. Memiliki akhlak
islam, manusia akan dapat kebersihan batin yang membawanya melakukan perilaku terpuji.
Dengan perilaku terpuji akan melahirkan keadaan antar umat menjadi harmonis, damai serta
sejahtera lahir dan batin. Sehingga setiap aktivitas akan dilakukan karena untuk mendapatkan
kerahmatan Allah yang akan membawa insan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat.

Dapat dikatakan bahwa Akhlak Islam bertujuan memberikan pedoman atau penerangan
bagi manusia untuk mengetetahui perbuatan yang baik dan buruk. Terhadap perbuatan yang
baik ia berusaha melakukannya dan terhadap perbuatan yang buruk ia berusaha
menghindarinya.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon.2010. Akhlak Tasawuf. Bandung.: CV Pustaka Setia.
A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari. 1999. Al-Islam 2: Muamalah dan Akhlak, CV.

Bandung: Pustaka Setia.


Mahmud, Ali Abdul Hamid. Akhlak Mulia. Jakarta: Gema Insani Press
M. Ali Hasan. 1978.Tuntunan Akhlak.Jakarta: Bulan Bintang.
Nata, Abuddin.2011.Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sudrajat, Ajad, dkk.2013. Din Al-Islam. Yogyakarta: UNY Press.
Khoirudin

Sertakan Sumber Artikel : http://gudangnews.info/#ixzz3ekecaVEc