Anda di halaman 1dari 11

The Mechanics of Sedimentary Basin Formation

Cekungan sedimen adalah suatu daerah rendahan, yang terbentuk oleh proses tektonik,
dimana sedimen terendapkan. Dengan demikian cekungan sedimen merupakan depresi sehingga
sedimen terjebak di dalamnya. Depresi ini terbentuk oleh suatu proses nendatan (subsidence)
dari permukaan bagian atas suatu kerak. Berbagai penyebab yang menghasilkan nendatan, di
antaranya adalah: penipisan kerak, penebalan mantel litosper, pembebanan batuan sedimen dan
gunungapi, pembebanan tektonik, pembebanan subkerak, aliran atenosper dan penambahan berat
kerak.

Basins due to Lithospheric Stretching

Pembentukan cekungan sedimen erat hubungannya dengan gerakan kerak dan proses
tektonik yang dialami lempeng. Ingersol dan Busby (1995) menunjukkan bahwa cekungan
sedimen dapat terbentuk dalam 4 (empat) tataan tektonik: divergen, intraplate, konvergen dan
transform). Menurut Dickinson, 1974 dan Miall, 1999; klasifikasi cekungan sedimen dapat
berdasarkan pada:
1. tipe dari kerak dimana cekungan berada,
2. posisi cekungan terhadap tepi lempeng,
3. untuk cekungan yang berada dekat dengan tepi lempeng, tipe interaksi lempeng yang
terjadi selama sedimentasi,
4. Waktu pembentukan dan basin fill terhadap tektonik yang berlangsung,
5. Bentuk cekungan.

Cekungan intrakraton umumnya cukup besar terletak di tengah suatu benua yang jauh
dari tepian lempeng. Subsiden pada cekungan jenis ini umumnya disebabkan oleh penebalan
mantel-litosfir dan bembebanan oleh batuan sedimen atau gunungapi (Boggs, 2001). Beberapa
cekungan intrakraton ini diisi oleh endapan klastika laut, karbonat, atau sedimen evaporit yang
diendapkan mulai dari laut epikontinental sampai darat. Cekungan tua jenis ini di antaranya
adalah Cekungan Amadeus dan Carpentaria di Australia, Cekungan Parana di Amerika Latin, dan
Cekungan Paris di Perancis. Sedangkan contoh cekungan modern jenis ini adalah Cekungan
Chad di Afrika.

Basins due to Flexure

Proses tektonik lempeng menyebabkan perubahan mendasar pada masa benua dan
cekungan samudra seiring dengan berjalannya waktu. Benua terpisah dan saling menjauh
membentuk cekungan samudra yang dapat memiliki lebar hingga 500 km, yang kemudian dapat
tertutup kembali saat lempeng samudra mengalami subduksi di trench. Proses bukaan dan
penutupan dari suatu cekungan samudra disebut sebagai siklus Wilson (dari Wilson, 1966).
Siklus Wilson dimulai dengan pembentukan cekungan rift atau rifting basin (dialasi oleh
kerak benua), yang kemudian akan berevolusi menjadi proto-oceanic through (sebagian dialasi
oleh kerak samudra), dan selanjutnya akan menjadi cekungan samudra sepenuhnya, dialasi oleh
lempeng samudra dan dibatasi oleh passive continental margin. Setelah puluhan juta tahun atau
lebih, zona subduksi akan berkembang di sekitar margin samudra dan cekungan samudra akan
mulai tertutup. Klosur akan timbul bersamaan dengan proses tumbukan benua (continental
collision) dan pembentukan sabuk orogen.
Keseluruhan proses pembentukan cekungan dan penghancurannya membutuhkan waktu
antara 50 sampai 150 juta tahun. Catatan geologi mengisyaratkan bahawa telah terjadi banyak
siklus Wilson dalam sejarah masing-masing benua. Oleh karena itu, hanya sedikit cekungan
sedimen tetap tidak berubah hingga sekarang, atau ada dalam posisi yang tetap, kecuali beberapa
cekungan yang terletak di daerah kratonik dalam suatu benua.

Basins associated with Strike-Slip Deformation

Cekungan yang terbentuk berhubungan dengan Strike-slip dapat dijumpai di sepanjang


punggungan pemekaran samudra, di sepanjang batas transform di antara lempeng kerak utama,
atau margin kontinental, dan di dalam benua atau lempeng benua. Pergerakan di sepanjang sesar
strike-slip dapat menghasilkan beberapa jenis cekungan pull-apart yang dapat berupa sesar
transform yang terjadi pada batas lempeng dan mempenetrasi kerak atau sesar transcurent
yang terfokus hanya pada seting intraplate dan hanya mempenetrasi bagian atas dari kerak.
Kebanyakan cekungan yang dibentuk oleh sesar strike-slip memiliki ukuran relatif kecil,
beberapa puluh kilometer panjangnya, meskipun beberapa dapat mencapai ukuran hingga 50 km.

Cekungan ini dapat menunjukkan bukti adanya relif syn-depositional lokal yang
signifikan, seperti dijumpainya kehadiran baji konglomerat yang dibatasi di kedua bagian sayap
oleh sesar. Karena cekungan strike-slip dapat hadir dalam beberapa seting, mereka dapat diisi
baik oleh sedimen marin maupun nonmarin, tergantung pada seting yang ada. Sedimen yang
dijumpai pada cekungan ini cenderung cukup tebal, karena tingkat sedimentasinya yang tinggi
yang dihasilkan oleh proses pengerosian rapid dari tinggian di sekitar cekungan ini, dan ditandai
dengan adanya beberapa perbedaan fasies lokal.

Gambar rekonstruksi paleoenviromental cekungan Ridge California saat terjadinya (A) proses
pembukaan, fase laut dalam dan lakustrin dan (B) proses penutupan, fase laut dangkal-lakustrin.

Sedimentary Basin-fills

Controls on Basin Stratigraphy

Sedimen mengisi suatu cekungan pada suatu lingkungan pengendapan. Dimana pada
lingkungan pengendapan terjadi pengendapan yang lebih dominan dibandingkan dengan erosi.
Sedimen tersebut dipelajari bagaimana proses terbentuknya, sifat batuan dan aspek ekonominya.
Proses pembentukan sedimen meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan pengendapan, sifat-sifat
fisik, kimia dan biologi batuan; lingkungan pengendapan, dan posisi stratigrafi. Beberapa faktor
yang mempengaruhi proses pengendapan dan sifat sedimen adalah:

-Litologi batuan induk, akan sangat mempengaruhi komposisi sedimen yang berasal dari
batuan tersebut.
-Topografi dan iklim dimana batuan induk berada, mempengaruhi kecepatan denudasi
yang menghasilkan sedimen yang kemudian diendapkan dalam cekungan.
-Kecepatan penurunan cekungan bersamaan dengan kecepatan kenaikan/penurunan muka
laut.
-Ukuran dan bentuk dari cekungan.
Analisa cekungan merupakan hasil interpretasi yang berdasarkan pada proses
sedimentasi, stratigrafi, fasies dan sistem pengendapan, peleoseanografi, paleogeografi, iklim
purba, analisa muka laut, dan petrografi/mineralogi (Klein, 1995; Boggs, 2001). Penelitian
sedimentologi dan analisis cekungan sekarang ini ditikberatkan pada analisa fasies sedimen,
siklus subsiden, perubahan muka laut, pola sirkulasi air laut, iklim purba, dan sejarah kehidupan.
Model pengendapan semakin meningkat digunakan untuk mengetahui lebih baik tentang
pengisian cekungan dan pengaruh berbagai parameter pengisian cekungan seperti pasokan
sedimen, besar butir, kecepatan penurunan cekungan, dan perubahan muka laut. Dalam
menganalisis cekungan, dibutuhkan berbagai data, mulai data dari singkapan sampai data bawah
permukaan. Data tersebut termasuk data hasil pemboran dalam, studi polarisasi magnetik dan
eksplorasi geofisika.
Aulakogen adalah jenis khusus dari renggangan yang menyudut besar terhadap tepian
benua, dimana umumnya dianggap sebagai renggangan tetapi gagal dan kemudian diaktifkan
kembali selama tektonik konvergen. Palung yang sempit tapi panjang dapat menggapai sampai
kraton benua dengan sudut besar dari lajur sesar. Sedimen yang mengisi cekungan jenis ini dapat
berupa sedimen darat (misalnya kipas aluvium), endapan paparan, dan endapan yang lebih dalam
seperti endapan turbit. Contoh aulakogen di antaranya Renggangan Reelfoot yang berumur
Paleozoik dimana Sungai Misisipi mengalir dan Palung Benue yang berumur Kapur dimana
Sungai Niger membelahnya.

The Basin-fill : Depositional Styles and Systems

Cekungan tepian benua dicirikan oleh kehadiran baji yang sangat besar dari sedimen
yang ke arah laut dibatasi oleh lereng landai dari benua dan sembulan. Ketidakterusan struktur
dijumpai di bawah sistem ini, antara kerak benua normal dan kerak peralihan. Sedimen
terendapkan pada sistem ini: pada paparan berupa pasir neritik dangkal, lumpur, kabonat dan
endapan evaporasi; pada lerengan terdiri atas lumpur hemipelagik; dan pada sembulan benua
berupa endapan turbit. Cekungan renggangan (rift basin) dapat berhubungan dengan cekungan
tepian benua. Contoh yang baik dari cekungan jenis ini adalah pantai Amerika dan bagian

selatan-timur Kanada (Cekungan Blake Plateau, Palung Lembah Baltimor, Cekungan George
Bank dan Cekungan Nova Scotian) yang terbentuk pada akhir Trias- awal Jura oleh renggangan
dan terpisahnya Pangea. Beberapa cekungan itu terpisahkan dari laut membentuk lapisan tebal
dari endapan klastik arkosik dan endapan lakustrin; berselingan dengan batuan gunungapi basa.
Cekungan yang lain berhubungan dengan laut, membentuk sedimen yang berkisar dari endapan
evaporit sampai delta, turbit, dan serpih hitam.
Pembahasan sebelumnya lebih banyak difokuskan kepada karakteristik struktural dari
suatu cekungan sedimen dan proses tektonik yang membentuk cekungan tersebut. Kendati
demikian analisis cekungan lebih menitik beratkan pada endapan sedimen yang mengisi
cekungan tersebut. Fokus dari cabang ilmu geologi ini mencakup proses yang menghasilkan
isian dari suatu cekungan, karakteristik dari produk sedimen dan batuan sedimennya, dan aspek
genetik serta signifikansi ekonomis dari batuan tersebut. Faktor-faktor yang mengontrol dan
mempengaruhi proses pengendapan suatu sedimen antara lain adalah:
1. Aspek litologi dari batuan asal(contohnya granit, batuan metamorf, dll) yang hadir di area
sumber sedimen, yang mengontrol komposisi sedimen yang berasal dari batuan ini.
2. Relief, kemiringan lereng, dan iklim di area sumber sedimen, yang mengontrol intensitas
pengendapan, dan juga intensitas transportasi sedimen dari area sumber sedimen menuju
ke cekungan pengendapan.
3. Intensitas penurunan cekungan bersama dengan intensitas naik atau turunnya muka air
laut.
4. Ukuran dan bentuk dari cekungan sedimen.

Evolution of the Basin-fill

Subsidence History

Subduksi ditunjukkan dengan aktifnya tepian benus yang mana umumnya dicirikan oleh
adanya palung laut dalam, busur gunungapi aktif, rumpang parit-busur (arc-trench gap) yang
memisahkan ke duanya. Tatanan subduksi terjadi lebih banyak pada tepian benua dibandingkan
pada besur samudra.
Sedimen terendapkan pada sistem subduksi ini lebih dikuasai oleh endapan silisiklastik
yang umumnya berupa batuan gunungapi berasal dari busur gunungapi. Endapan ini dapat
berupa pasir dan lumpur yang terendapkan pada paparan, lumpur dan endapan turbit terendapkan
dalam air yang lebih dapam pada lereng, cekungan, dan parit. Sedimen pada parit dapat berupa
endapan terigen yang terangkut oleh arus turbit dari daratan, bersamaan dengan sedimen dari
lempeng samodra yang tersubduksikan. Ini umumnya membentuk kompleks akrasi. Batuan
campuraduk (melange) dapat terbentuk pada daerah akrasi ini, yang dicirikan oleh percampuran
dari batuan berbagai jenis yang tertanam pada masa dasar yang mengkilap (sheared matrix).

Contoh yang baik dari sistem subduksi ini adalah subduksi Sumatra, Jepang, Peru, Chili
dan Amerika Tengah. Contoh cekungan busur muka purba di antaranya adalah cekungan busur
muka Great Valley, Kalifornia; Midland Valley, Inggris dan Coastal range, Taiwan. Contoh
cekungan busur belakang di antaranya terjadi pada Jura Akhir Awal Kapur terbentuk di
belakang Busur Andean di Chili selatan.
Beberapa klasifikasi tektonik untuk pembagian tipe-tipe cekungan telah banyak diajukan.
Ingersoll dan Busby (1995) menekankan bahwa cekungan sedimen dapat terbentuk oleh empat
susunan tektonik yang telah dibahas sebelumnya (divergen, Intraplate, konvergen, dan transform)
dan juga dalam seting hybrid. Jenis cekungan sedimen yang berbeda dapat diidentifikasi dalam
variasi setingan yang didasarkan pada :
(1) jenis kerak dimana cekungan itu berada,
(2) posisi dari cekungan itu terhadap plate margin, dan
(3) untuk cekungan yang terletak dekat dengan plate margin, jenis interaksi lempeng yang terjadi
selama proses sedimentasi berlangsung
Seting Divergen
a) Terestrial rift valley: Rift di dalam kerak benua yang berasosiasi dengan vulkanisme
bimodal. Contoh modern: Rio Grand Rift (New Mexico)
b) Proto-ocean rift troughs: Bentuk evolusi awal dari cekungan samudra yang dialasi oleh
lempeng samudra baru dan di diapit di kedua sisinya oleh rifted continental margin yang
masih muda. Contoh modern: Laut Merah.
Seting Intraplate
a) Continental rises dan terraces: Rifted continental margin yang sudah matur dalam suatu
seting intraplate pada pertemuan kontinen-samudra. Contoh modern: Pesisir timur USA.
b) Continental embankment: Progadasi wedge sedimen yang terbentuk di tepian suaturifted
continental margin. Contoh modern: Pesisir Teluk Missisipi.
c) Cekungan Intrakratonik: Cekungan kratonik luas yang dialasi rift fossil pada zona
axialnya. Contoh modern: Cekungan Chad (Africa).
d) Platform Kontinental: Kraton stabil yang dilapisi oleh strata sedimen tipis dan secara
lateral melampar luas. Contoh modern: Laut Barents (Aisa).
e) Cekungan samudra aktif: Cekungan yang dialasi oleh lempeng samudra yang terbentuk
pada batas lempeng divergen, tidak berhubungan dengan sistem archtrench(spreading masih aktif). Contoh modern: Laut Pasifik.
f) Kepulauan Oseanik, aseismic ridge and plateu: Apron sedimen dan dataran yang dibentuk
pada seting intraoseanik selain tipe busur magmatic. Contoh modern: gunung bawah laut
Emperor-Hawaii.

g) Cekungan samudra dorman: cekungan yang dialasi oleh lempeng samudra, yang tidak
mengalami spreading atau subduksi (tidak terdapat plate boundaries aktif di dalam atau di
bagian cekungan lain yang berdampingan). Contoh modern: Teluk Meksiko.
Seting Konvergen
a) Trenches: Palung yang sangat dalam, dibentuk oleh proses subduksi dari litosfer samudra.
Contoh modern: Palung Chile.
b) Cekungan Trench-Slope: Struktur depresi local yang berkembang pada kompleks
subduksi. Contoh modern: Trench Amerika Tengah.
c) Cekungan For-arc: Cekungan yang berada pada gap antara arc dan trench. Contoh
modern: Sumatra.
d) Cekungan Intra-arc: Cekungan di sepanjang platform arc yang termasuk gunung
apisuperposed dan overlapping. Contoh modern: Lago de Nikaragua.
e) Cekungan Back-arc: Lempeng samudra di belakang busur magmatic intraoseanik
(termasuk cekungan intra-arc di antara busur aktif dan remnant), dan cekungan kontinen
di belakang busur magmatic continental-margin tanpa forelanf fold-thrust belts. Contoh
modern: Marianas.
f) Cekungan Samudra Remnan: cekungan samudra yang mengecil akibat terperangkap
antara continental margin dan atau sistem arc-trench yang saling bertabrakan, dan pada
akhirnya mengalami subduksi dan terdeformasi di dalam suatu suture belts. Contoh
modern: Pesisir Bengal.
g) Cekungan Peripheral Foreland: Cekungan foreland yang terletak di atas rifted continental
margin yang telah ditarik ke dalam zona subduksi selama proses tabrakan krustal (tipe
utama dari tumbukan yang berhubungan dengan foreland). Contoh modern: Teluk Persia.
h) Cekungan Piggyback: Cekungan yang terbentuk dan terbawa di atas suatu thrust
sheet yang bergerak. Contoh modern: Cekungan Peshawar (Pakistan).
i) Cekungan Foreland Intermontane: Cekungan yang terbentuk di antara
pengangkatanbasement-cored di suatu seting foreland. Contoh modern: Cekungan Sierra
Pampeanas (Argentina).
Seting Transform
a) Cekungan Transtensional: Cekungan yang terbentuk oleh proses ektensi di sepanjang
sistem patahan Strike-slip. Contoh modern: Laut Salton California.
b) Cekungan Transpressional: Cekungan yang dibentuk oleh kompresi di sepanjang sistem
patahan strike-slip. Contoh modern: Cekungan Santa Barbara California (foreland).
c) Cekungan Transrotasional: Cekungan yang terbentuk oleh proses rotasi dari suatu blok
krustal pada axis yang mendekati vertikal pada suatu sistem patahan strike-slip. Contoh
modern: fore-arc Western Aleutian.

Seting Hybrid

a) Cekungan Intrakontinental wrench: Bermacam cekungan yang terbentuk di dalam kerak


benua yang dipengaruhi oleh proses collision. Contoh modern: Cekungan Quaidam
(China).
b) Aulacogen: Bekas Rifting yang gagal terbentuk pada sudut tinggi terhadap margin
kontinen, yang telah mengalami reaktivasi selama proses tektonik konvergensi, sehingga
berada pada bagian sudut tinggi terhadap sabuk orogenik. Contoh modern: Teluk
Missisipi.
c) Impactogen: Rift yang terbentuk pada sudut tinggi terhadap sabuk orogeni, tanpa adanya
sejarah preorogeni sebelumnya (kontras dengan aulacogen). Contoh modern: Rift Baikal
bagian distal (Siberia).
d) Cekungan Succesor: Cekungan yang terbentuk pada seting intermontane diikuti oleh
proses jeda istirahat kegiatan orogeni local atau aktivitas taphrogenik. Contoh modern:
Barisan punggungan dan cekungan Arizona.

Gambar Representasi skematik dari beberapa cekungan yang terbentuk secara tektonik

Thermal History

Patahan yang dapat membentuk cekungan ini adalah patahan mendatar yang menoreh
dalam kerak sampai membatasai dua lempeng yang berbeda (transform fault) dan patahan yang
terbatas dalam suatu lempeng dan hanya menoreh bagian atas kerak (Sylvester, 1988). Cekungan
yang berhubungan dengan patahan mendatar regional terbentuk sepanjang punggung pemekaran,
sepanjang batas patahan antar lempeng, pada tepian benua dan daratan dalam lempeng benua.
Gerakan sepanjang patahan mendatar regional dapat membentuk berbagai cekungan nendatar
(pull-apart basin). Cekungan yang dibentuk karena patahan mendatar umumnya kecil, garis
tengahnya hanya beberapa puluh kilometer, walaupun ada beberapa yang sampai 50 km. Karena
patahan mendatar terbentuk pada berbagai tataan geologi, cekungan ini dapat diisi sedimen laut
maupun darat. Ketebalan sedimen cenderung sangat tebal, karena kecepatan sedimentasi yang
tinggi yang dihasilkan oleh erosi dari daerah sekitarnya yang berelevasi tinggi, dan boleh jadi
ditandai dengan banyaknya perubahan fasies secara lokal. Di Indonesia Cekungan jenis ini
banyak terdapat sepanjang Patahan Sumatra.

DAFTAR PUSTAKA

Rovicky. 2009. Berapa Jumlah Cekungan di Indonesia. Diperoleh dari :


https://rovicky.wordpress.com/2009/04/01/berapa-jumlah-cekungan-geologi-diindonesia/
Anonim.2014. Analisa Cekungan Sedimen Para Ahli. Diperoleh dari :
http://jojogeos.blogspot.com/2014/09/analisa-cekungan-sedimen-para-ahli.html
Anonim. 2014. Eksplorasi Basement dan Cekungan Indonesia. Diperoleh dari :
https://geotrekindonesia.wordpress.com/2014/05/08/eksplorasi-basement-dan-cekunganindonesia/
M.H., dan R. H. Osborne, 1978, Lacustrine facies in the Pliocene Ridge Basin Group,
Ridge Basin, California, in Matter, A., and M. E. Tucker(eds.). Modern and Ancient lake
sediment: Blackwell Scientific Publication, Oxford
Burke, K. 1977, Aulacogen and continental breakup: Annual Review of Earth and
Planetary Science, v. 5)
Wuellner, E. E., L. R. Lehtonen, dan W. C. James, 1986, Sedimentary tectonic
development of the Marathon and Val Verde basins, West Texas, U.S.A.: A Permo-Carboniferous
migrating foredeep
Johnson, D. D., dan C. Beaumont, 1995, Prelimenary result from a planform kinematic
model of orogen evolution, surface processes and development of clastic foreland basin
statigraphy
Boggs, S., Jr., 1984, Quaternay sedimentation in the Japan arc-trench system: Geol. Soc.
America Bull., v. 95