Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

POLA PERCABANGAN BATANG


DOSEN PENGAMPU:
NUR EKA KUSUMA INDRASTI M,PD

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3
1.
2.
3.
4.
5.
6.

ANISA IRVIA
ANNISAH ALFIANI
BAYU PUTRA WIBOWO
EKA PUTRI APRILLA
NIRMALA
ROMY

(140384205021)
(140384205052)
(140384205049)
(140384205022)
(140384205071)
(140384205042)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TAHUN 2015/2016

KATA PENGANTAR

Assalamualikum wr.wb
Pertama kami mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala
kebesaran

dan

kelimpahan

nikmat

yang

diberikan-Nya,

sehingga

dapat

menyelesaikan makalah Morfologi Tumbuhan tentang Pola Percabangan Batang


Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu, penulis berharap pada rekan-rekan seperjuangan dapat memberikan
kritik dan saran kepada penulis dalam rangka mencapai kesempurnaan. Agar nantinya
dapat bermanfaat bagi rekan-rekan kita lainnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Tanjungpinang, 15 Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
1.1.

LATAR BELAKANG.................................................................................1

1.2.

RUMUSAN MASALAH............................................................................1

1.3.

TUJUAN.....................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................2
2.1.

POLA PERCABANGAN BATANG...........................................................2

2.2.

ARAH TUMBUH CABANG BATANG....................................................4

2.3.

MACAM-MACAM PERCABANGAN PADA BATANG.........................5

BAB III PENUTUP.....................................................................................................13


3.1.

KESIMPULAN.........................................................................................13

3.2

SARAN......................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................14

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, dan mengingat

tempat dan kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan
sumbu tubuh tumbuhan. Selain mempelajari tentang bagian serta fungsi batang, pola
percabangan juga termasuk hal yang penting untuk dipelajari. Mengingat ada banyak
bentuk pola percabangan yang berbeda pada setiap batang dan juga mempunyai
bentuk atau model yang beraneka ragam
1.2.

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pola percabangan pada batang?
2. Bagaimana arah pertumbuhan pada percabangan batang?
3. Apa saja macam-macam percabangan pada batang?

1.3.

TUJUAN
1. Mengetahui pola percabangan pada batang
2. Mengetahui arah pertumbuhan pada percabangan batang
3. Mengetahui macam-macam percabangan pada batang

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

POLA PERCABANGAN BATANG


Batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang tidak, yang tidak

bercabang

kebanyakan

(Monocotyledoneae),

dari

golongan

misalnya

jagung

tumbuhan
(Zea

yang

mays L.).

berbiji
Umumnya

tunggal
batang

memperlihatkan percabangan banyak atau sedikit.


Kerangka tumbuhan dibangun oleh sejumlah sumbu. Suatu sumbu (baik cabang
atau sumbu utama) bisa dibangun dengan cara sebagai berikut:
1. Percabangan monopodial, yaitu jika batang pokok selalu lebih jelas, karena
lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabangcabangnya, misalnya pohon cemara (Casuarina equisetifolia L.), Pinus (Pinus
merkusii Jungh.), Mundu (Garcinia dulcis Kurz.), Kayu hitam atau eboni
(Diospyros-celebica Bakh.)

2.

Percabangan simpodial, yaitu percabangan

tumbuhan antara batang pokok dengan percabangannya


sulit

dibedakan

perkembangan

atau

ditentukan

selanjutnya

karena

dalam

menghentikan

pertumbuhannya atau kalah besar atau kalah cepat


pertumbuhannya

disbanding

dengan

pertumbuhan

percabangannya. Sumbu tubuh (batang) menghasilkan ruas dan buku namun di


suatu saat meristem apikal tidak berfungsi lagi karena membentuk bunga atau
berdiferensiasi membentuk parenkim atau karena sebab lain. Dari kuncup aksilar
(ketiak daun) dekat daerah meristem apikal yang tidak berfungsi itu akan tumbuh
cabang yang arahnya sejajar batang sebelumnya dan tumbuh seperti batang yang

digantikannya. seperti pada pohon Sawo manila (Achras sapota L.) dan Sidaguri
(Sida rhombifolia L.)

3. Percabangan mengarpu atau dikotom, yaitu cara percabangan batang setiap


kali bercabang menjadi dua cabang yang sama besarnya, hal ini adalah akibat
titik tumbuh menjadi dua bagian yang sama, seperti pada Selaginella, nipah
(Nypa fruticans) dan Asclepias. Kadang-kadang percabangan tampak seperti
dikotom namun jika diamati secara cermat terlihat ujung batang utama yang
terhenti. Percabangan seperti ini disebut dikotom semu, misalnya paku rane
(Glaichenia linearis). Dikotom semu juga bisa terjadi jika cabang dekat ujung
batang tumbuh dengan kuat sehingga mencapai penampakan yang setara
dengan sumbu utama yang sedikit terdesak dan keduanya bersama-sama
tampak seperti garpu.

Pola percabangan batang

2.2.

ARAH TUMBUH CABANG BATANG

Cabang-cabang pada suatu tumbuhan biasanya membentuk sudut tertentu dengan


batang pokoknya. Dilihat dari besar kecilnya sudut ini maka jarak tumbuh cabang

pada suatu tanaman berlainan. Umumnya orang membedakan arah tumbuh cabang
adalah sebagai berikut :
a. Tegak (fastigiatus) yaitu jika sudut antara batang dengan cabang amat
kecil sehingga arah tumbuh cabang hanya pada pangkalnya saja,
contohnya. Coffea sp.
b.

Condong keatas (patens) jika cabang dengan batang pokok membentuk


sudut

kurang

lebih

45,

contohnya.

pohon

cemara

(Casuarina

equasetifolia).
c.

Mendatar (horizontalis) cabang dgn batang membentuk sudut 90,


contohnya. Ceiba petandra.

d. Terkulai (declinatus), jika cabang pada pangkalnya mendatar tetapi lalu


ujungnya melengkung kebawah, contohnya. Coffea robusta

C
C
Gambar

2.1

Coffea

robusta

e. Bergantung (pendulus)yaitu cabang-cabang yang


tumbuhnya kebawah contohnya. cabang cabang
tertentu pada Salix sp.

2.3.

MACAM-MACAM PERCABANGAN PADA BATANG

Berdasarkan pola percabangannya, tumbuhan dapat dikelompokkan kedalam model


struktur percabangan berikut sesuai dengan taraf kompleksitas percabangan
tersebut.
1. Tumbuhan tak bercabang
Tumbuhan tak bercabang atau disebut pula pohon Monokaulis adalah pohon
dimana bagian vegetatif diatas tanah (batang) hanya terdiri dari satu sumbu
yang dibentuk oleh satu meristem saja, yaitu meristem apeks. Jadi tubuh
tumbuhan hanya dibentuk oleh satu caulomer (satu unit batang) saja. Pada
tumbuhan seperti ini tunas aksilar biasanya tidak berfungsi atau inaktif.
Perbungaan dapat terminal (diujung batang) atau lateral (dari ketiak daun)
Tumbuh-tumbuhan tak bercabang dapat dikelompokkan kedalam model struktur
percabangan sebagai berikut :

a. Model Holtum
Batang tumbuh terbatas, tidak bercabang dan
perbungaan letaknya terminal, misalnya pada
Agrave, Corypha umbraculifera, Metroxylon
sago.

b. Model Corner
Batang tumbuh tak terbatas (kontinu), tidak bercabang dan perbungaan letaknya
lateral,

misalnya

pada

Cocos

nucifera,

Elaeis

guineensis,

Ravenala

madagascarriensis, dan Carica papaya.


2. Tumbuhan bercabang
Pada tumbuhan yang bercabang, struktur sumbu vegetatif menunjukkan
Artikulasi (bersambungan). Setiap unit artikulasi terbentuk oleh satu unit
batang (Caulomer). Oleh karena itu tubuh tumbuhan bercabang terdiri dari
caulomer-caulomer yang jumlahnya tak terbatas. Tumbuhan bercabang dapat
dikelompokkan ke dalam tiga kelompok model struktur percabangan sebagai
berikut :
a. Tumbuhan dengan Sumbu Vegetatif Semua Ekivalen dan Ortotrop
(Tumbuh Ke Atas)
Tumbuhan yang termasuk kelompok ini memiliki caulomer-caulomer
yang

ekivalen secara morfologi dan semua berasal dari caulomer

sebelumnya dengan mekanisme simpodial. Caulomer-caulomer dapat


membentuk suatu struktur vegetatif di atas tanah dan mempunyai asal, cara
tumbuh dan fungsi biologi yang sama serta semua tumbuh ke arah vertikal
(atas), atau caulomer-caulomer seluruhnya dapat berada di atas tanah dan
menempati ruang yang tersedia, sehingga membentuk struktur artikulasi tiga

dimensi.

Yang

termasuk

ke

dalam

kelompok model struktur percabangan ini


adalah :

Model Tomlinson
Tumbuhan dengan struktur percabangan simpodial. Setiap caulomer
muncul dari bagian proksimal caulomer sebelumnya dan tumbuh
ortotrop. Pertumbuhan caulomer dapat terbatas atau tidak terbatas,
misalnya : Musa, Strelitzia, dan Canna.

Model Chamberlain

Batang dengan struktur simpodial, membentuk struktur artikulasi linier dan setia
caulomer baru dibentuk pada ujung distal caulomersebelumnya. Tidak ada
caulomer yang tumbuh horizontal dan setiap caulomer hanya menghasilkan satu
caulomer baru, misalnya Jatropha Multifida dan Clerodendron Paniculatum

Model Leeuwenberg
Tumbuhan dengan struktur percabangan simpodial. Setiap caulomer
menghasilkan lebih dari satu caulomer baru pada bagian proksimalnya.
Caulomer-caulomer baru ini tumbuh menempati ruang yang tersedia,
sehingga membentuk struktur artikulasi tiga dimensi. Perbungaan
letaknya selalu terminal, misalnya Plumeria acutifolia, Manihot
esculenta, Ricinus comunis, Quassia dan Solanum.

Model Schoute

Tumbuhan dengan pola percabangan dikotomi dan perbungaan letaknya lateral.


Tumbuhan dengan struktur percabangan model Schoute ini jarang ditemukan. Satusatunya contoh adalah Hyphaene thebaica.

b. Tumbuhan dengan Sumbu Vegetatif Terdiferensiasi


Tumbuhan yang termasuk kelompok model ini sumbu vegetatifnya
menunjukkan berbagai spesialisasi fungsi, sehingga dengan mudah dapat
dibedakan antara batang utama dengan cabang-cabangnya. Batang utama
memiliki peran mengembangkan dasar yang kokoh dan mampu tumbuh
mencapai tinggi sedemikian rupa, sehingga memungkinkan daun dipucuknya
memperoleh sinar matahari yang cukup. Akibatnya, batang utama
menentukan tinggi pohon yang akhirnya dapat dicapai. Pertumbuhan batang
utama dapat terus-menerus (kontinu) atau ritmik. Bila batang utama
pertumbuhannya ritmik, ketika periode reda tumbuh tercapai, daun-daun dan
tunas aksilar yang terbentuk tersusun dalam karangan. Pada saat ini pula,
tunas aksilar beberapa daun dekat di bawah meristem apeks tumbuh
menghasilkan cabang-cabang yang Plagiotrop (tumbuh horizontal). Cabangcabang tersebut dapat berstruktur monopodial atau berstruktur simpodial.
Kelompok model struktur dari percabangan ini meliputi:

Model Kwan Koriba

Batang dengan struktur simpodial. Setiap caulomer pembentuk


batang menghasilkan lebih dari satu cabang (caulomer baru) ke arah
lateral pada bagian distalnya. Salah satu cabang terdiferensiasi secara
sekunder

sehingga

posisi

tumbuhnya

menjadi

kearah

vertikal,

meneruskan pertumbuhan batang ke arah atas. Misalnya Alstonia


macrophylla dan Cerbera manghas

Model Pevost
8

Batang berstruktur simpodial. Setiap caulomer pembentuk batang


menghasilkan lebih dari satu cabang (caulomer baru) pada bagian
distalnya. Salah satu dari cabang-cabang yang lain pada awalnya tumbuh
ortotrop, kemudia menjadi plagiotrop (mendatar) karena oposisi atau
substitusi. Misalnya Euphorbia pulcherima dan beberapa species Piper.

Model Fagerlind
Batang berstruktur monopodial dan pertumbuhannya ritmik. Cabang
tersusun seperti dalam karangan sebagai akibat pertumbuhan ritmik dari
batang. Cabang tersebut berstruktur sympodial dan tumbuh plagiotrop.
Misalnya Rhotmania longiflora dan Miconia sp

Model petit
Batang berstruktur monopodial dengan pertumbuhan kontinu. Cabang
tumbuh plagiotrop dan berstruktur simpodial. Misalnya Gossypium
arboreum, Gossypium hirsutum, dan Morinda lucida

Model Aubreville
Batang berstruktur monopodial dengan
tumbuhan ritmik. Cabang tersusun seperti
dalam karangan dan tumbuh plagiotrop.
Setiap cabang berstruktur simpodial yang
dibentuk
tumbuhnya

oleh
tak

calomer-calomer
terbatas.

yang

Misalnya

Terminalia catapa, Elaeocarpus pedunculatus, dan Manilkara hidentata

Model Scarrone
Batang berstruktur monopodial dengan pertumbuhan ritmik. Cabang
tersusun seperti dalam karangan, berstruktur simpodial, dan tumbuh

ortrotop. Perbungaan letaknya terminal pada cabang . Misalnya


mangifera indica , casia siamea, dan pandanus candelabrum

Model Rauh
Batang
dengan

berstuktur

monopodial

pertumbuhan

ritmik.

Cabang tersusun seperti dalam


karangan, berstruktur monopodial,
pertumbuhannya

ritmik

dan

ortotrop. Cabang dengan batang


secara morfologi identik. Misalnya
Hevea

braziliensis,

Araucaria

araucana, Pinus mercusii, Pinus


silvestris, Podocarpus salicifolius, Dillenia indica, dan Canarium
schweinfurthii.

Model attim
Batang berstruktur monopodial. Cabang dengan batang secara morfologi
identik. Misalnya Casuarina equisetifolia, Eucalyptus globulus, dan
Rhizophora recemosa.

Model Nozeran
Batang berstruktur simpodial dengan pertumbuhan ritmik. Setiap
caulomer penyusun batang

Model Massart
Batang

tumbuh

ortotrop

dengan

pertumbuhan ritmik dan berstruktur


10

monopodial. Cabang tersusun seperti dalam karangan, tumbuh


plagiotrop, dan berstruktur monopodial atau simpodial. Misalnya Abies
alba, taxus baecata, Ceiba pentandra, Diospyros sp, dan Myristica
fragrans

Model Raux
Batang berstruktur monopodial dengan pertumbuhan kontinu. Cabang
berstruktur monopodial dan tumbuh plagiotrop. Misalnya Cananga
odorata, Durio zibethinus, Phyllanthus discoideus, Coffea arabica, dan
Celtis integrifolia.

Model cook
Batang berstruktur monopidial dengan pertumbuhan kontinu. Cabang
dibentuk

secara

terus-menerus,

tetapi

keberadaannya

sementara

(sebentar). Misalnya Homalium sp., dan Conthium glabriflorum

c. Tumbuhan dengan sumbu vegetatif berstruktur campuran


Pada kelompok ini, batang utama tumbuhan berstruktur simpodial, yakni
terdiri dari beberapa unit caulomer. Setiap caulomer terdiri atas dua bagian
yaitu bagian basal yang tumbuh vertikal dan berfungsi sebagai batang utama,
dan bagian distal yang tumbuh horizontal dan berperan sebagai cabang. Kedua
bagian tersebut dipisahkan oleh lengkungan yang sudutnya bervariasi.
Lengkungan ini berperan sebagai puncak pohon. Dengan kata lain puncak
pohon yang sebenarnya adalah lengkungan dari caulomer yang paling atas
(terakhir).

Model Champagnat
11

Batang

tumbuhan

ortotrop

dan

berstruktur simpodial. Bagian distal


dari

setiap

caulomer

yang

membentuk batang tumbuh ke arah


samping

dan

akhirnya

terkulai

karena bebannya sendiri, misalnya


Thunbergia

erecta,

Sambucus

nigra,

Caesalpinia

pulcherima,

Lagerstroemia indica, Bouganvillea spectabilis, B. glabra, dan Rubus


saxatilis

Model Mangenot
Batang tumbuh ortotrop dan berstruktur simpodial. Bagian distal dari
setiap caulomer yang membentuk batang tumbuh ke arah samping,
membentuk cabang yang tumbuh plagiotrop. Misalnya Canthium
orthacantum dan Guatteria sp

Model Troll
Batang

maupun

cabang

tumbuh plagiotrop, kecuali


pada sebagian kecil daerah
proksimal. Bagian proksimal
dari

setiap

caulomer

pembentuk batang terorientasi


secara sekunder ke arah vertikal. Misalnya Annona muricata, Bridelia
micrantha, Nauhinia pupurea, Cassia javanica, Delonix regia, Celtis
australis, dan Pterocarpus officinalis

12

BAB III
PENUTUP
3.1.

KESIMPULAN
Pada umumnya batang terdiri dari buku-buku, ruas-ruas, tunas terminal dan

tunas aksilar. Batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang tidak
bercabang. Cara percabangan dibedakan menjadi tiga macam yaitu; monopodial,
simpodial dan dikotom. Arah pertumbuhan cabang batang terbagi menjadi
Adanya tunas terminal dan tunas aksilar menentukan percabangan, bahkan
keseluruhan arsitektur tumbuhan. Beberapa model yang dikenal antra lain: Pada
pohon tak bercabang;Model Holtum, Model Corner. Pada pohon bercabang;
Model Tomlinson, Model Camberlain, Model Leeuwenberg, Model Koriba, Model
Aubreville, Model Rauh, Model Massart, Model Raux, Model Champagnat dan
Model Troll.
3.2

SARAN
Untuk mengetahui bagaimana pola batang yang ada, bahkan yang ada

disekitar kita, kita harus melakukan penelitian secara langsung dipalangan.


Sehingga kita bisa secara langsung mengetahui perbedaan pola percabangan dari
masing-masing tumbuhan yang ada.

13

DAFTAR PUSTAKA

Hidajat, Estiti B. 1995. Morfologi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB


http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196402261989032R._KUSDIANTI/Handout_mortum_1.pdf (di akses 13 oktober 2015)
http://myscience84.blogspot.co.id/2011/03/sifat-arah-tumbuh-dan-percabanganpada.html (di akses 13 oktober 2015)

14