Anda di halaman 1dari 17

Lokakarya Nasional Kambing Potong

MANAJEMEN KESEHATAN DALAM USAHA TERNAK KAMBING


SJAMSUL BAHRI, R. M. A. ADJID, BERIAJAYA, dan APRIL H WARDHANA
Balai Penelitian Veteriner, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan; PO Box 151 Bogor 16114

ABSTRACT
Animal Health Management on Goat Production. Disease is one of the major constraint which should be
aware on goat production. In order to minimize the negative effect of animal diseases, the sustainable animal health
management must be applied. There are 4 steps of animal health management on goat production (1) choosing
appropriate location, (2) choosing appropriate breed, (3) adaptation, and (4) rearing. The most important diseases on
goat production usually caused by infectious diseases such as parasites (scabies and nematodiasis), bacteria (anthrax,
pink eye and pneumonia), and virus (orf); and by non-infectious diseases such as diarrhea on the lambs, tymphani and
toxic plan (i.e. cyanide). Sustainable parasite control is also important to keep the infestation of the parasites below the
threshold and to avoid the distubances on the goat productivity. Vaccination for orf and anthrax must be done,
espesially in endemic areas. Moreover, the biosecurity and biosafety of the pen and the quality of the feed should also
be concerned to improve the healthiness of the goat against the diseases.
Keywords: Goat, animal health and diseases
ABSTRAK
Penyakit merupakan salah satu hambatan yang perlu diatasi dalam usaha ternak kambing. Melalui penerapan
manajemen kesehatan ternak yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan dampak negatif dari penyakit ternak
dapat diminimalkan. Empat tahapan manajemen kesehatan ternak yang perlu diperhatikan dalam membangun usaha
ternak kambing, yaitu (1) tahap pemilihan lokasi, (2) tahap persiapan dan pengadaan ternak, (3) tahap adaptasi, dan (4)
tahap pemeliharaan. Penyakit-penyakit yang dijadikan prioritas untuk diatasi adalah penyakit parasiter, terutama
skabies dan parasit saluran pencernaan (nematodiasis). Sementara itu, untuk penyakit bakterial terutama anthrax, pink
eye, dan pneumonia. Penyakit viral yang penting adalah orf, dan penyakit lainnya (penyakit non infeksius) yang perlu
diperhatikan adalah penyakit diare pada anak kambing, timpani (kembung rumen) dan keracunan sianida dari tanaman.
Pengendalian penyakit parasit secara berkesinambungan (sustainable parasite controle) perlu diterapkan agar infestasi
parasit selalu di bawah ambang yang dapat mengganggu produktivitas ternak. Vaksinasi terhadap penyakit Anthrax
(terutama untuk daerah endemis anthrax), dan orf merupakan tindakan preventif yang dianjurkan. Sementara itu,
manajemen pemeliharaan berupa perkandangan yang sehat dan pemberian pakan bergizi akan membuat ternak
kambing lebih tahan terhadap serangan penyakit.
Kata kunci: Kambing, kesehatan ternak dan penyakit

PENDAHULUAN
Kambing dan domba merupakan ternak
ruminansia kecil yang banyak dipelihara petaniternak di pedesaan dengan berbagai tujuan, antara
lain sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat
dijual untuk keperluan hidupnya. Populasi ternak
kambing di Indonesia pada tahun 2003 sekitar 14
juta ekor yang tersebar di berbagai wilayah
Indonesia, terutama di pulau Jawa (sekitar 50% dari
total populasi). Ternak ini mempunyai nilai
ekonomi bagi peternak karena mudah dipelihara,
tidak membutuhkan lahan yang luas, berbagai
sumber pakan tersedia di pedesaan, daya
reproduksinya cukup tinggi, dan lama pemeliharaan
hingga dewasa relatif cepat. Kontribusinya dalam
penyediaan daging secara nasional walaupun masih
relatif rendah (hanya 5%), tetapi memiliki potensi

dimasa mendatang untuk mendukung ketahanan


pangan asal ternak. Selain itu permintaan ekspor ke
beberapa negara masih belum dapat dipenuhi.
Berbagai kendala yang dihadapi dalam
usahatani-ternak kambing antara lain masalah
ketersediaan bibit yang baik sangat sulit diperoleh.
Kendala lainnya adalah timbulnya penyakit yang
menyerang ternak kambing terutama penyakitpenyakit parasiter yang menghambat pertambahan
bobot badan ternak (mengganggu produktivitas),
walaupun angka kematiannya relatif rendah.
Penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus dan
bakteri seringkali menimbulkan kematian yang
cukup tinggi.
Meskipun dari komponen produksi, masalah
kesehatan hewan hanya sekitar 5% dari total biaya
produksi, tetapi kesehatan hewan mutlak harus
mendapat perhatian karena dapat berakibat fatal.
Oleh karena itu manajemen kesehatan hewan
79

Lokakarya Nasional Kambing Potong

merupakan bagian (subsistem dari usahataniternak) yang tidak terpisahkan dalam sistem
usahatani-ternak modern. Dalam manajemen
kesehatan ternak, upaya pencegahan tetap
merupakan
tindakan
terbaik,
sedangkan
penanggulangan
terhadap
penyakit-penyakit
tertentu juga diperlukan apabila situasi dan
kondisinya menuntut dilakukan tindakan tersebut.
Pada makalah ini akan diulas berbagai penyakit
yang dapat menyerang ternak kambing (terutama
penyakit yang bernilai ekonomis dan strategis)
serta upaya penanganannya.
MANAJEMEN KESEHATAN DALAM
PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING
Kesehatan ternak menjadi sangat penting karena
akan menyebabkan kerugian akibat: (a) gangguan
pertumbuhan (pertambahan berat badan harian
rendah), (b) dewasa kelamin atau umur beranak
pertama terlambat, (c) daya reproduksi terganggu,
(d) efisiensi pakan rendah, dan (e) kematian ternak.
Oleh karena itu, dalam pemeliharaan ternak
kambing perlu mengetahui sedini mungkin gejalagejala atau tanda-tanda penyakit secara umum,
antara lain berupa: (a) kurang nafsu makan/tidak
mau makan, (b) tidak lincah/lebih banyak diam, (c)
lemah/lesu, (d) menyendiri, (e) menggaruk-garuk
badan, (f) kotoran tidak normal (warna, bau,
konsistensi), (g) dan lain sebagainya. Bila dijumpai
ternak dengan tanda-tanda seperti demikian, patut
dicurigai bahwa ternak tersebut kurang sehat/sakit,
oleh karena itu untuk menghindari terjadinya
penularan/penyebaran penyakit lebih lanjut, ternak
tersebut sebaiknya diisolasi pada tempat/kandang
khusus yang terpisah dari ternak sehat lainnya.
Selama isolasi diberi makanan dan minuman yang
baik, serta diamati terhadap kemungkinan terserang
penyakit menular dengan melakukan pemeriksaan
klinis dan laboratoris secara intensif. Segera ambil
tindakan
(pengobatan
atau
pengeluaran/
pemusnahan) apabila telah diperoleh kepastian
hasil diagnostik.
Dalam membangun usaha ternak kambing perlu
diperhatikan 4 hal yang berkaitan dengan
tatalaksana kesehatannya, yaitu: (1) tahap
pemilihan lokasi, (2) tahap persiapan/pengadaan
ternak, (3) tahap adaptasi sebelum di tempatkan
dalam kandang atau lahan pemeliharaan, dan (4)
tahap pemeliharaan. Keempat tahapan ini sangat
penting untuk diperhatikan agar kejadian wabah
penyakit pada saat pemeliharaan selanjutnya dapat
dihindari.

80

Tahap Pemilihan Lokasi


Sebelum memutuskan lokasi peternakan yang
akan dijadikan tempat pemeliharaan ternak
kambing perlu dicari dahulu beberapa informasi
penting tentang status penyakit hewan di daerah
sekitar lokasi, misalnya apabila daerah tersebut
pernah terjadi wabah penyakit anthrax, sebaiknya
tidak digunakan untuk lokasi peternakan atau
apabila digunakan maka ternak kambing yang akan
dipelihara harus divaksinasi anthrax secara teratur.
Selain itu perlu diketahui keadaan lingkungan
setempat, apakah daerah tersebut daerah industri,
pertambangan,
pembuangan
limbah,
dan
sebagainya. Informasi lain mengenai sumber air,
pakan atau tanaman beracun yang ada disekitar
lokasi juga perlu diketahui untuk dijadikan
pertimbangan memilih lokasi peternakan atau untuk
mengantisipasi tindakan pencegahan.
Tahap Persiapan/pengadaan ternak
Dalam memilih ternak kambing yang akan
dikembangbiakkan pada daerah baru perlu
diperhatikan status dan sejarah penyakitnya di
daerah sumber bibit dimana ternak akan dijadikan
sebagai sumber pasokan. Sebaiknya kambing
tersebut mendapat vaksinasi terhadap beberapa
penyakit penting (anthrax dan orf) terutama apabila
ternak akan dibawa ke daerah yang endemis atau
positif Anthrax. Selanjutnya kambing yang akan
dipilih harus bebas dari serangan penyakit, oleh
karena itu perhatikan gejala klinis terhadap
berbagai penyakit (kudis, orf, pink eye, dan
sebagainya). Untuk mengurangi stress, kecelakaan
(patah kaki, dsb) dan kematian dalam transportasi,
hendaknya dilakukan dengan persiapan yang
matang dan menggunakan alat angkut ternak
(transportasi) yang memadai serta tidak berdesakdesakan. Apabila terlalu jauh perlu diistirahatkan,
beri makan dan minum yang cukup dan bergizi
serta dapat diberi obat anti stress. Apabila ternak
ada yang sakit (penyakit mata, orf, kudis, dan
sebagainya) hendaknya diobati dahulu agar tidak
menular.
Tahap Adaptasi
Ternak yang baru tiba di lokasi jangan langsung
ditempatkan pada kandang/tempat pemeliharaan
permanent, tetapi tempatkan dahulu pada kandang
sementara untuk proses adaptasi yang memerlukan
waktu sekitar beberapa minggu. Dalam proses

Lokakarya Nasional Kambing Potong

adaptasi ternak diamati terhadap penyakit cacing


(dengan memeriksa fesesnya), penyakit orf, pink
eye, kudis, diare, dan sebagainya. Apabila positif
terhadap penyakit tertentu segera diobati dan
lakukan isolasi. Dalam adaptasi ini juga termasuk
adaptasi terhadap jenis pakan yang akan digunakan
dalam usaha ternak kambing. Pada adaptasi ini
biasanya harus disiapkan berbagai obat-obatan
untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan
timbulnya berbagai penyakit. Setelah 2-4 minggu
ternak dalam keadaan sehat, maka siap untuk
dipindahkan dalam kandang utama.
Tahap Pemeliharaan
Produktivitas ternak akan terganggu apabila
ternak tidak sehat atau terserang penyakit, oleh
karena itu untuk menjamin keberhasilan usaha
ternak kambing, ternak harus sehat. Hal ini hanya
dapat dicapai apabila kontrol terhadap penyakit
berjalan dengan baik, selain diberi pakan dengan
jumlah dan gizi yang cukup serta perkandangan dan
sanitasi yang memadai. Dalam hal ini kontrol
terhadap penyakit parasit perlu dilakukan secara
berkesinambungan, obat cacing diberikan secara
berkala, sesuaikan dengan kondisi musim (terutama
pada musim hujan). Pengendalian parasit saluran
pencernaan pada sistem pastura dapat dilakukan
dengan sistem rotasi. Pada umumnya pengendalian
penyakit disesuaikan dengan sistem pemeliharaan
(dikandangkan atau digembalakan atau keduanya).
Pemeliharaan tradisional yang bercampur
dengan peternakan rakyat terutama domba akan
menyulitkan dalam mengontrol serangan penyakit.
Untuk menjamin agar infestasi parasit (terutama
parasit internal/cacing) pada ternak kambing yang
dipelihara tercampur dengan ternak rakyat perlu
pemberian obat cacing secara teratur, terutama pada
musim hujan. Untuk meningkatkan ketahanan
tubuh ternak terhadap serangan penyakit parasit,
penyakit pneumonia dapat dilakukan dengan
pemberian pakan bergizi dengan jumlah yang
cukup serta sanitasi kandang.
Pada tahap pemeliharaan ini sebaiknya
pencegahan tehadap penyakit tertentu seperti
anthrax (untuk daerah endemis) perlu dilakukan
dengan melakukan vaksinasi secara teratur. Bila
dijumpai ternak dengan gejala tidak sehat seperti
yang diterangkan pada bagian terdahulu, sebaiknya
segera diisolasi dan ditempatkan pada kandang
terpisah yang agak jauh dari ternak lainnya.
Observasi terus dilakukan sambil diberi pengobatan
berdasarkan diagnosis penyakit sementara atau
pengobatan simtomatik.

PENYAKIT-PENYAKIT PENTING PADA


KAMBING
Berdasarkan penyebabnya, penyakit kambing
dapat dikelompokkan menjadi (1) penyakitpenyakit infeksius, dan (2) penyakit-penyakit non
infeksius. Penyakit-penyakit infeksius disebabkan
oleh agen penyakit yang berasal dari (a) bakterial,
(b) viral, dan (c) parasiter, sedangkan yang non
infeksius umumnya disebabkan oleh (a) senyawa
toksik/racun, (b) gangguan metabolisme tubuh, (c)
defisiensi mineral, dan (d) lain-lain. Makalah ini
hanya membahas penyakit-penyakit yang penting
(sering terjadi) ditinjau dari aspek ekonomi, sosial
dan teknis.
Penyakit-penyakit infeksius
Penyakit infeksius utama yang sering
menyerang kambing di Indonesia adalah: (1)
kelompok penyakit bakterial, yaitu anthrax, pink
eye, pneumonia, dan foot root; (2) kelompok
penyakit viral, yaitu orf (contagious ecthyma); (3)
kelompok penyakit parasiter, skabies, cacingan
(nematodiasis), toksoplasmosis, dan myasis.
Penyakit anthrax
Penyakit anthrax atau radang limpa merupakan
penyakit bakterial penting yang menyerang hampir
semua hewan termasuk kambing. Penyakit ini
bersifat zoonosis, yaitu penyakit yang dapat
menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Kasus anthrax pertama kali dilaporkan oleh
JAVASCHE COURANT pada tahun 1884 di Teluk
Betung. Setahun kemudian, VERSLAG menyebutkan
adanya kasus lain di Buleleng (Bali), Rawas
(Palembang)
dan
Lampung.
Menurut
HARDJOUTOMO et al. (1990) bahwa Jakarta,
Purwakarta, Bogor, Pariangan, Banten dan Cirebon
merupakan daerah endemik penyakit ini. Adapun
Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas, Madiun,
Bojonegoro dan Semarang dilaporkan sebagai
daerah sporadis. Sampai saat ini, sebanyak 11
propinsi di Indonesia dilaporkan sebagai daerah
tertular penyakit anthrax (NOOR et al., 2001).
Agen penyebab penyakit ini adalah Bacillus
anthracis yang bersifat gram positif, berbentuk
batang, tidak bergerak dan membentuk spora.
Bentuk vegetatifnya dapat tumbuh subur di dalam
tubuh dan segera menjadi spora apabila berada di
luar tubuh ketika kontak dengan udara luar. Spora
ini dengan cepat akan terus menyebar melalui angin
dan air hujan. Ternak dapat terinfeksi apabila

81

Lokakarya Nasional Kambing Potong

memakan pakan atau meminum air yang


terkontaminasi spora tersebut atau jika spora
mengenai bagian tubuh yang luka. Ternak penderita
dapat menulari ternak yang lain melalui cairan
(eksudat) yang keluar dari tubuhnya. Cairan ini
kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat
menjadi sumber untuk munculnya kembali wabah
di masa berikutnya. Spora bakteri B. anthracis
dilaporkan mampu bertahan sampai puluhan tahun
di tanah dan hanya mati oleh pemanasan pada
temperatur 100oC selama 20 menit atau pemanasan
kering 140oC selama 30 menit (HARDJOUTOMO,
1986).
Penyakit anthrax pada kambing paling banyak
bersifat per akut atau akut. Pada kejadian per akut,
kambing yang semula sehat mendadak jatuh, sesak
nafas, gemetar, kejang lalu mati dalam waktu
beberapa menit/jam akibat pendarahan di otak.
Pada kejadian akut, ditandai dengan demam yang
tinggi (41,5oC), gelisah, depresi, sukar bernafas,
detak jantung cepat tetapi lemah, selaput lendir
mulut serta mata menjadi merah tua dan akhirnya
mati. Kadangkadang juga terjadi diare berdarah
dan air seninya berwarna merah atau berdarah.
Pada bangkai hewan yang terkena anthrax sering
terlihat adanya darah yang keluar dari lubanglubang kumlah seperti mulut, telinga hidung, dan
anus. Darah tidak membeku dan biasanya limpa
membesar berwarna merah kehitaman (RESSANG,
1984; HARDJOUTOMO, 1986).
Bangkai ternak yang dicurigai menderita
anthrax tidak diajurkan untuk dibuka (bedah
bangkai).
Pemeriksaan
laboratorium
dapat
dilakukan dengan mengambil darah dari telinga dan
dibuat preparat ulas. Balai Penelitian Veteriner
(BALITVET) telah mengembangkan tehnik
diagnosis secara serologis, yaitu Ascoli test atau
ELISA (Poernomo et al., 1982; Hardjoutomo et al.,
1993; HARDJOUTOMO dan POERWADIKARTA,
1996). Hewan/spesimen anthrax yang telah busuk
maupun yang telah dikeringkan bertahun-tahun
dilaporkan masih mampu memberikan hasil yang
positif pada uji Ascoli (HARDJOUOTOMO dan
POERNOMO, 1976).
Teknologi pengendalian penyakit anthrax dapat
dilakukan dengan memberikan vaksinasi pada
ternak yang belum terinfeksi. BALITVET telah
berhasil membuat vaksin tersebut dan pernah
memproduksinya tetapi saat ini, teknologi tersebut
telah dialihkan ke PUSVETMA Surabaya. PT.
Vaksindo juga telah memproduksi vaksin sejenis.
Ternak yang terjangkit anthrax dapat diobati
dengan preparat antibiotika tetrasiklin atau
penisillin dosis tinggi selama 5 hari berturut-turut,
tetapi biasanya pengobatan pada keadaan hewan
sekarat kurang efektif. Selain preparat tersebut,

82

POERWADIKARTA et al. (1993) melaporkan bahwa


antibiotika enrofloxacin, neomycin, navobicin,
klorampenikol dan kanamycin juga mampu
membunuh bakteri anthrax. Lebih lanjut, NOOR et
al. (2001) menjelaskan bahwa pengobatan anthrax
viseral dapat dilakukan dengan penisilin G 18-24
juta IU per hari secara intra vena ditambah dengan
1 gram tetrasikin per hari. Pengobatan anthrax
nafas hampir sama dengan yang viseral tetapi
ditambah streptomicin 1-2 gram/hari sedangkan
pengobatan anthrax kulit dapat dilakukan dengan
suntikan prokain berdosis 2 x 1,2 juta IU secara
intra muskular selama 5-7 hari atau dengan benzyl
penilisin berdosis 250.000 IU setiap 6 jam.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah
penanganan ternak pasca mati. Bagi ternak yang
sudah mati harus dibakar atau diberi desinfektan
kemudian dikubur. Bangkai yang sudah terlanjur
dikubur, tanahnya dibuka kembali. Tanah galian
diberi desinfektan dan kapur serta bangkainya
dibakar, lalu kuburan ditutup lagi. Ternak yang
mati dicegah agar tidak dimakan oleh hewan
pemakan bangkai guna mencegah penyebaran yang
lebih luas (HARDJOUTOMO, 1986).
Pink eye
Pink eye adalah penyakit mata akut yang
menular dan ditandai dengan kemerahan pada
selaput mata (konjungtiva) dan kekeruhan pada
kornea. Penyakit ini mempunyai sinonim, yaitu
infectious
keratokonjungtivitis,
contagious
optalmia, blight dan radang mata menular.
Meskipun pink eye jarang sekali menimbulkan
kematian tetapi dapat mengakibatkan kerugian
berupa penurunan bobot badan yang nyata. Hewan
muda dilaporkan relatif lebih peka dibandingkan
dengan hewan dewasa (DIREKTORAT BINA
KESEHATAN HEWAN, 1993). Penyakit ini dapat
ditemukan hampir di seluruh dunia.
Penyebab pink eye pada kambing dan domba
adalah
Rickettsia
(Colesiota)
conjuctivae,
Mycoplasma conjuctivae, Branhamella catarrhalis
dan
Chlamydia.
Rickettsia
merupakan
mikroorganisme berbentuk pendek, bersifat gram
negatif dan hanya tumbuh pada media hidup saja,
misalnya
telur
ayam.
SOERIPTO
dan
POERWADIKARTA (1990) berhasil mengisolasi
bakteri Mycoplasma mycoides subsp capri dan M.
capricolum dari kasus keratokonjungtivitis pada
kambing asal Cisarua-Bogor. Disamping itu juga,
diperoleh isolat Moraxella ovis dan Staphylococcus
aureus dari kasus tersebut walaupun keduanya
sangat jarang sebagai agen penyebab pink eye pada
kambing.

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Masa inkubasi penyakit ini adalah 2-3 hari,


tetapi dapat juga sampai 3 minggu. Gejala klinis
yang nyata adalah radang pada selaput mata,
pembendungan pembuluh darah di kornea,
kemerahan pada bagian mata yang putih dan diikuti
oleh bengkaknya kelopak mata. Ternak mengalami
photophobia, yaitu takut pada sinar matahari.
Kelenjar lacrimaris menjadi sangat aktif sehingga
mata selalu berair. Gejala ini jelas terlihat pada
sudut mata (canthus medial) dan muka hewan
dibawah mata yang selalu basah. Mata yang basah
tersebut lebih sering tertutup. Bulu mata sering
melekat, akibatnya kambing akan sulit mengambil
pakannya dengan baik. Kondisi ini menyebabkan
penurunan bobot badan dengan cepat. Kadangkadang selaput mata yang meradang bisa menjadi
borok karena infeksi sekunder sehingga dapat
menyebabkan kebutaan. Infeksi pada mata dapat
terjadi unilateral (satu mata) atau bilateral
(keduanya). Umumnya peradangan akut yang
mereda ditandai dengan berubahnya eksudat mata
menjadi purulen. Kekeruhan kornea mulai
berkurang dan apabila kondisi hewan cukup baik,
maka mata akan sembuh total dalam 3-5 minggu
tergantung pada penyebab dan keganasan
penyakitnya (ACHDIYATI et al., 1983; DIREKTORAT
KESEHATAN HEWAN, 1993). Kekebalan pasca
infeksi pada domba dan kambing berlangsung
antara 100 sampai 250 hari, setelah itu ternak akan
kembali peka.
Penularan pink eye dapat terjadi melalui kontak
dengan ternak terinfeksi, serangga (lalat), rumput
dan percikan air yang tercemar. Penyakit ini sering
terjadi pada musim panas karena banyaknya debu
dan meningkatnya populasi lalat Musca autumnalis
sebagai vektor (DIREKTORAT KESEHATAN HEWAN,
1993). Menurut ACHDIYATI et al. (1983) bahwa
pink eye dapat juga terjadi pada waktu ternak dalam
perjalanan (transportasi) sehingga menimbulkan
iritasi oleh debu atau sumber-sumber lain yang
menyebabkan goresan. Perubahan cuaca yang
mendadak, terlalu padatnya ternak dalam kandang
dilaporkan dapat memicu terjadinya penyakit ini.
Pengobatan hendaknya dilakukan sedini
mungkin dengan memberikan antibiotika seperti
tetrasiklin atau tylosin. Salep mata atau larutan
yang
mengandung
antibiotika
seperti
chloramphenicol, oxytetracycline dan campuran
penicilin-streptomycin
dilaporkan
dapat
memberikan hasil yang baik (DIREKTORAT
KESEHATAN HEWAN, 1993). Untuk membantu
proses
penyembuhan
sebaiknya
ternak
diistirahatkan ditempat yang teduh (tidak terkena

sinar matahari), kandang harus selalu bersih serta


pemberian pakan dan minum yang cukup. Ternak
yang sakit dikarantina sehingga jauh dari ternak
yang sehat lainnya.
Pneumonia
Pneumonia adalah radang parenkhim paru-paru
yang biasanya disertai dengan radang bronkeol dan
selaput paru-paru. Umumnya penyakit ini
menyerang kambing dan domba terjadi pada
pergantian musim dari kemarau ke hujan
(SOERIPTO et al., 2001). Agen penyebab pnuemonia
bermacam-macam seperti bakteri, virus, ricketsia
dan juga parasit (cacing paru-paru). SEORIPTO et al.
(2001) berhasil mengisolasi bakteri Mycoplasma
sp, Pasteurella sp, P. hemolitica, P. multocida dan
beberapa isolat Corynebacterium sp, Bacillus sp,
Streptococcus sp dan Staphylococcus epidermis
dari sampel parau-paru dirumah potong kambing di
RPH Cianjur, Pulo Gadung dan Tanah Abang
Jakarta. Infeksi virus Parainfluenza tipe 3 pada
pneumonia kambing dan domba dilaporkan oleh
SENDOW et al. (2002). Biasanya organisme
penyebab pneumonia terdapat disekitar lingkungan
hidup kambing, yang pada saat ternak stress
terutama dengan kondisi kandang yang jelek
lembab dan ventilasi kurang baik, maka penyakit
akan muncul dan dapat bersifat akut atau kronis.
Penyakit ini ditandai dengan gejala demam,
keluar ingus dari hidung, batuk-batuk, gangguan
pernafasan (nafas dangkal atau berat). Pada
keadaan parah hewan bernafas menggunakan mulut
yang terbuka, hewan sulit bergerak karena paruparu terasa sakit. Penelitian ISKANDAR (1989)
menunjukkan bahwa secara patologis, pnemunia
kambing mencapai 15% bahkan SUDANA dan
SYARWANI (1986) melaporkan bahwa segala jenis
pneumonia pada ruminansia kecil merupakan salah
satu penyebab tingginya angka kematian ternak
hingga 51%.
Pengendalian terhadap penyakit ini umumnya
dilakukan dengan pemeliharaan yang baik,
menempatkan kambing pada kandang yang tidak
lembab, hangat dengan ventilasi yang baik (tetapi
tidak terlalu terbuka).
Kemudian dilakukan
pemberian antibiotika berspektrum luas diikuti
dengan pemberian pakan yang baik dan ternak
diistirahatkan. SOERIPTO et al. (2001) menyebutkan
bahwa P. hemolytica sangat sensitif terhadap
ampicilin, tetrasiklin dan gentamicin sedangkan P.
multocida sensitif terhadap ketiganya termasuk
streptomicin.

83

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Penyakit orf (Contagious ecthyma)


Penyakit orf merupakan penyakit viral utama
yang menyerang ternak kambing dan dapat menular
ke manusia (bersifat zoonosis). Penyakit ini
mempunyai sinonim yaitu, Dakangan (Bali),
Muncung (Sumatera Barat) dan Bintumen (Jawa
Barat). Kejadian orf pertama kali dilaporkan oleh
Van Der Laan tahun 1914 yang menyerang pada
kambing di Medan. ADJID (1987) menjelaskan
bahwa penyakit orf telah menyebar ke Jawa,
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan,
Bali, dan Papua. Data lain menyebutkan bahwa
sebanyak 20 propinsi merupakan daerah tertular
sampai tahun 1988 (ADJID, 1992).
Agen penyebab penyakit orf adalah virus yang
termasuk dalam kelompok parapoks dari keluarga
virus poks. Virus ini sangat tahan terhadap kondisi
lingkungan, di padang penggembalaan dan mampu
bertahan hingga tahunan. ADJID (1993) melaporkan
bahwa virus penyebab orf tahan terhadap
pemanasan 50oC selama 30 menit dan juga tahan
terhadap pembekuan dan pencairan tetapi tidak
tahan terhadap kloroform.
Penyakit ini menular dengan cepat dari ternak
terinfeksi ke ternak yang sehat melalui kontak
langsung. Penularan dapat juga terjadi akibat
hewan yang peka mengkonsumsi pakan yang
tercemar oleh keropeng bungkul orf. Tingkat
penularannya dapat mencapai 100%, sedangkan
angka mortalitasnya relatif rendah, yaitu sekitar 25,4%. Menurut ADJID dan MANGUNWIRYO (1991)
bahwa angka mortalitas pada kambing dapat
mencapai 9,23% yang terjadi diakhir dan awal
tahun. Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa kejadian
orf cenderung meningkat pada musim hujan
dibandingkan dengan musim kemarau. Pada kasus
yang berat, mortalitas dapat mencapai 93%
terutama pada ternak yang muda. Kelembaban
udara yang tinggi dan kondisi stress juga
dilaporkan sebagai pemicu timbulnya penyakit orf
pada ternak (ADJID, 1993).
Gejala klinis yang menonjol adalah lesi yang
berbentuk keropeng pada bibir. Awal infeksi akan
terjadi bintik-bintik merah yang kemudian berubah
menjadi vesikel dan pustula (pernanahan).
Akhirnya lesi-lesi ini terlihat sebagai tonjolan
berkerak (keropeng). Selain menyerang kulit
sekitar mulut, lesi-lesi ini dapat juga menyebar ke
seluruh muka seperti hidung dan gusi serta bagian
tubuh lainnya yang tidak berambut atau berambut
sedikit seperti ambing, sekitar mata, hidung,
telinga, skrotum atau sekitar kaki. Pada kambing
dan domba, gejala klinis akan muncul 1-3 hari
pasca infeksi. Penyakit orf dapat berlangsung
antara 3-4 minggu tergantung pada kondisi ternak.

84

Kondisi ini akan menjadi lebih parah dan lebih


lama apabila diikuti oleh infeksi sekunder. ADJID
dan SUDIBYO (1992) berhasil mengidentifikasi
beberapa bakteri yang berperan sebagai infeksi
sekunder, yaitu Staphylococcus aureus, S.
epidermis dan Corynebacterium pyogenes.
Kekebalan pada induk yang terinfeksi relatif rendah
sehingga
anak
yang
dilahirkan
masih
memungkinkan untuk terjangkit penyakit ini
(ADJID, 1993). Ternak dengan gangguan kekebalan
dilaporkan dapat menderita orf hingga berbulanbulan. Ternak yang sembuh biasanya memiliki
kekebalan selama setahun.Diagnosis penyakit orf
dapat dilakukan secara klinis karena sangat
menciri. Diagnosis secara laboratoris dengan
Presipitasi Agar Gel (PAG) dan Tehnik Antibodi
Flouresen (TAF) (ADJID DAN RANOHARDJO, 1987).
Jika terdapat lesi dibagian tubuh selain bibir, maka
diagnosisnya perlu ditambah dengan pemeriksaan
laboratorium karena penyakit lain seperti cacar
kambing, radang mulut dan lidah biru juga
menunjukkan gejala yang relatif sama. Pada
pemeriksaan pasca mati, lesi mungkin dapat
ditemukan pada mukosa mulut sepanjang gusi,
lidah, langit-langit dan saluran pencernaan
(TOMASZEWSKA et al., 1993).
BALITVET telah berhasil mengisolasi virus orf
patogenik dari domba di daerah Cimanggu (isolat
B7) dan Cigudeg (isolat Sp 108) (ADJID, 1992).
Selanjutnya, ADJID (1993) berhasil menumbuhkan
virus-virus ini pada biakan sel lestari Bovine
turbinate (BT). Penelitian diteruskan untuk
mengevaluasi immunogenitas virus tersebut. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa isolat virus orf
B7 lebih immunogenik dibandingakan dengan
isolat Sp 108 sehingga dapat dijadikan sebagai
kandidat vaksin (ADJID, 1994). Otovaksin dapat
diproduksi di BALITVET untuk mengendalikan
penyakit ini.
Penanggulangan
orf
biasanya
dengan
pencegahan melalui vaksinasi terutama pada daerah
endemis dan dilaksanakan secara regular.
Pemberian salep pelunak dapat membantu agar
kambing tetap dapat makan dan minum. Pakan
yang bergizi tinggi sangat diperlukan untuk
mempercepat terjadinya kesembuhan. Apabila
keropeng terkelupas menjadi luka baru maka perlu
diolesi dengan obat lokal, seperti salep penisilin
yang dicampur dengan minyak kelapa. Pemberian
antibiotika secara suntik dibutuhkan jika suhu
tubuh ternak menjadi tinggi. Tindakan ini juga
ditujukan untuk menghilangkan infeksi sekunder
oleh bakteri. Ternak-ternak di daerah tertular
seharusnya divaksinasi tetapi vaksinasi ternak di
daerah bebas tidak dianjurkan. Ternak yang akan
didatangkan ke daerah belum tertular harus telah

Lokakarya Nasional Kambing Potong

divaksinasi orf. Pengobatan hanya ditujukan untuk


mencegah infeksi sekunder dengan memberikan
salep antibiotika seperti eritromisin dan
oksitetrasiklin (ADJID, 1992).
Kudis menular (skabies)
Penyakit kudis menular atau skabies adalah
penyakit ektoparasit utama yang menyerang bagian
kulit ternak ruminansia, terutama kambing dan
kelinci bahkan dapat menular ke manusia
(zoonosis). Penyakit ini mempunyai sinonim, yaitu
budug atau mange. Kejadian kudis pada ternak
telah tersebar luas diseluruh Indonesia, terutama
pada keadaan kekurangan pakan, dimusim kemarau
dan di lingkungan kandang yang kotor. MANURUNG
et al. (1986) mengutip data statistik yang
menyebutkan bahwa kasus kudis ternak di
Indonesia tahun 1983 tercatat 315194 ekor dan
yang terbanyak terjadi pada kambing sedangkan
SOBARI (1991) melaporkan adanya kematian
kambing paket bantuan pemerintah sebanyak 360
ekor dari 396 ekor atau sekitar 91% karena skabies.
Penyebab penyakit skabies pada kambing
adalah tungau Sarcoptes scabiei yang hidup di
lorong-lorong lapisan tanduk kulit dan Psoroptes
ovis yang hidup di permukaan kulit. MANURUNG et
al. (1987) berhasil mengisolasi S. scabiei dan
Chorioptes sp. pada kambing yang menderita kudis
secara alami. Meskipun angka pesakitannya relatif
rendah, tetapi apabila dalam satu kelompok
kambing terdapat seekor yang menderita skabies,
maka dalam waktu cepat ternak lainnya akan
tertular.
Penyakit ini menimbulkan kerugian
ekonomi yang besar karena dapat menyebabkan
kerusakan kulit, kekurusan dan kematian
(MANURUNG, 1991).
Penularan skabies umumnya melalui kontak
langsung dengan hewan sakit atau bahan tercemar
seperti kandang, tempat pakan, tempat minum dan
lain-lain. Kondisi ternak yang kurang baik akan
mempercepat terjadinya penularan. Umumnya
bagian tubuh yang diserang adalah daerah yang
sedikit ditumbuhi rambut seperti moncong, telinga,
dada bagian bawah, perut, pangkal ekor, sepanjang
punggung, leher dan kaki. Ternak yang terinfestasi
tungau akan merasa gatal dan selalu menggarukgaruk, menggosok-gosokkan atau menggigit-gigit
bagian tubuhnya yang teriritasi sehingga terjadi
luka-luka dan lecet-lecet tubuh. Dalam keadaan
parah maka seluruh tubuh dapat terserang, kulit
meradang dan mengeluarkan cairan membentuk
kerak pada permukaan kulit.
Kulit akan mengeras, menebal dan melipatlipat. Pada tempat-tempat tersebut biasanya

rambutnya rontok sehingga terjadi kegundulan


(DIREKTORAT KESEHATAN HEWAN, 1993).
Diagnosis penyakit ini berdasarkan gejala klinis
dan melakukan pemeriksaan mikroskopik pada
kerokan kulit penderita. Pengobatan dapat
dilakukan dengan cara mencampur minyak kelapa
dan asuntol (10 : 1) lalu digosokkan 2-3 kali selang
waktu 3 hari (MANURUNG et al., 1987).
Coumaphos (asuntol) dalam bentuk salep 2% pada
vaselin dapat diberikan sekali seminggu selama 3
minggu berturut-turut atau dalam bentuk cairan
0,1% disemprot atau direndam atau dilapkan pada
permukaan kulit hingga basah. Benzoas bensilikus
10% dapat dioleskan pada luka (DIREKTORAT
KESEHATAN HEWAN, 1993). Ivermectin 0,2 mg/kg
bobot badan yang diberikan secara subkutan selama
3 kali berturut-turut selang satu minggu dilaporkan
efektif untuk pengobatan kudis (MANURUNG et al.,
1986; MANURUNG et al., 1990). Hasil penelitian
BALITVET menunjukkan bahwa penggunaan oli
bekas (Mesran Super 20-50 SAE yang telah dipakai
1000 km) dan belerang 2,5 % dalam vaselin dapat
menyembuhkan kudis pada kambing sedangkan oli
murni dan salep daun ketepeng kering 33,3%
dilaporkan tidak efektif (MANURUNG et al., 1992).
Pencegahan skabies umumnya dilakukan
dengan sanitasi dan pemberian pakan yang baik.
Kambing yang baru didatangkan harus diisolasi
(jangan langsung dicampur) selama beberapa
minggu sampai diketahui tidak terserang kudis.
Hewan tertular diasingkan sampai sembuh.
Kandang ternak tercemar dan benda-benda lainnya
dibersihkan menggunakan acarisida, sebaiknya
tidak digunakan selama beberapa bulan.
Nematodiasis (Cacingan)
Nematodiasis adalah penyakit parasit internal
atau penyakit cacingan saluran pencernaan pada
kambing dan domba yang disebabkan oleh cacing
gilig. Frekuensi kejadian pada domba/kambing
dapat mencapai 80%, terutama pada daerah dengan
curah hujan tinggi. Pada musim hujan frekuensi
dan intensitas penyakit ini meningkat. Angka
prevalensi di daerah Jawa Barat dilaporkan
bervariasi, yaitu 87,5-100% (SOEPENO et al., 1993).
BERIAJAYA (1986) berhasil mengisolasi beberapa
jenis cacing dari saluran pencernaan domba, yaitu
Haemonchus
sp,
Trichostrongylus
sp,
Strongyloides,
Cooperia,
Oesphagostomum,
Bunustomum, Trichuris, Capillaria dan telur
Moniezia meskpiun dalam jumlah yang rendah.
Cacing yang sering dan paling banyak ditemukan
adalah Haemonchus sp dan Trichostrongylus sp.
Pada kambing dan domba, haemonchosis
disebabkan oleh spesies Haemonchus contortus.

85

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Penyebaran penyakit ini biasanya secara langsung


melalui padang penggembalaan, yaitu melalui
rumput yang terkontaminasi larva infektif (larva
stadium III). Larva ini mempunyai selubung (sheat)
dan
tahan
terhadap
kekeringan
maupun
pembekuan. Jika larva ini tertelan oleh kambing
maka larva tersebut akan masuk dalam saluran
pencernaan kemudian melepaskan selubungnya dan
bermigrasi ke abomasum. Di dalam abomasum,
larva stadium III akan mengalami perkembangan
lebih lanjut menjadi stadium IV dalam waktu 2 hari
pasca infestasi lalu menembus abomasum serta
membuat lubang. Stadium ini akan tinggal di
lamina propia selaput lendir abomasum dan pada
hari ke-4 akan muncul dipermukaan abomasum
untuk memulai fase parasitiknya, yaitu menghisap
darah induk semang (SUBEKTI et al., 1996).
Parasit ini mampu mengeluarkan suatu zat anti
pembekuan darah ke dalam luka yang
ditimbulkannya. Oleh karena itu, mukosa menjadi
sangat teriritasi dan cacing tersebut akan
menghisap darah dalam jumlah yang cukup banyak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa domba
yang terinfestasi berat oleh Haemonchus contortus
akan kehilangan darah 0,6 liter tiap minggunya.
Pada kambing dan domba akan mengakibatkan
penurunan abosorbsi sari-sari makanan, protein,
kalsium dan fosfor (SUBEKTI et al., 1996).
Kambing dan domba muda sangat peka
terhadap cacing ini. Gejala klinis yang dapat
terlihat adalah penurunan bobot badan yang sangat
drastis, anemia (penurunan kadar haemaglobin),
hypoalbuminaemia dan pada kasus yang berat
dapat terjadi odem di daerah submandibula/di
bawah rahang (Bottle Jaw). Menurut penelitian,
Haemonchus sendiri tidak menyebabkan diare,
akan tetapi jika bersamaan dengan mengonsumsi
hijaun muda ataupun infestasi campuran dengan
Trichostrongylus maka diare dapat timbul. Pada
kambing yang terinfestasi cacing ini, biasanya
menunjukkan reaksi pertahanan tubuh, yaitu Self
Cure Reaction atau Self Cure Protection. Keadaan
ini dibuktikan dengan adanya penurunan populasi
cacing di abomasum pada hari ke-10 sampai ke-14
yang diduga karena adanya kekebalan induk
semang. Jumlah cacing yang dapat menimbulkan
kematian tergantung berbagai macam faktor,
seperti umur induk semang, ukuran dan bobot
badan, lama infestasi, status nutrisi dan status
hematologi (SUBEKTI et al., 1996). Kematian yang
ditimbulkan khususnya pada domba/kambing umur
1-6 bulan dapat mencapai 28% (BALITVET,
1991).
Pengobatan secara periodik terhadap ternak
dewasa dan muda, terutama yang baru disapih
dapat dilakukan pada permulaan musim hujan.

86

Pengobatan preventif pada ternak yang bunting dan


anak yang baru lahir dapat menggunakan garam
yang mengandung 10% phenotiazine dalam pakan.
BERIAJAYA (1986) melaporkan penggunaan
albendazole (Valbazen) 3,8 mg/kg bobot badan dan
1 cc vitamin B komplek yang diberikan secara per
oral setiap satu bulan sekali selama 6 bulan efektif
untuk mengatasi infestasi cacing nematoda di
Cirebon. Levamisole hidroloride (ripercol, citatrin,
concurat, decaris) merupakan atelmintika broad
spektrum yang sangat cepat diabsorbsi dan
didistribusikan ke seluruh tubuh. Obat ini
disekresikan melalui feses dan air seni. Nevugon 55
mg/kg bobot badan dilaporkan sangat efektif untuk
membasmi cacing Haemonchus dan Oestrus ovis.
Perbendazole (Helmatac) adalah senyawa yang
tidak larut dalam air tetapi larut dalam alkohol.
Obat ini sangat efektif untuk cacing gastrointestinal
(larva dan cacing dewasa) terutama pada kambing
dan domba. Dosis yang diberikan 20-30 mg.kg
bobot badan dan tidak boleh diberikan pada hewan
yang bunting (SUBEKTI et al., 1996).
Saat ini sudah dilaporkan adanya kasus
resistensi antelmentik dari golongan benzimidazole
terutama ternak pemerintah karena pemberian obat
yang intensif (HARYUNINGTYAS et al., 2001).
Kasus resistensi antelmintik dapat berpindah dari
satu hewan ke hewan lain karena hewan terinfeksi
dengan larva infektif yang sudah resisten dan hal
ini terjadi karena distribusi ternak yang
mengandung cacing yang resisten kepada ternak
mitra (BERIAJAYA et al., 2003). Jenis obat cacing
golongan levamisole dan ivermectin masih cukup
efektif digunakan pada peternakan sudah resisten
terhadap benzimidazole (BERIAJAYA dan HUSEIN,
2003).
Selain itu penggunaan kapang namtofagus
sebagai kontrol biologi terhadap larva cacing
mempunyai prospek yang baik untuk pencagahan
karena penggunaan kapang tersebut dapat
mengurangi kontaminasi padang penggembalaan
dan selain itu kapang tersebut bersifat broad
spectrum (AHMAD, 1997). Dua jenis kapang yang
dianggap potensial sebagai kapang nematofagus
adalah Arthrobotrys oligospora dan Duddingtonia
flagrans. Konidia kapang tersebut dapat dicampur
dalam konsentrat dan diberikan peroral selama 2
minggu sehingga telur yang menetas menjadi larva
akan mati karena terperangkap (terjerat), hal ini
akan mengurangi pencemaran padang penggembalaan dengan larva infektif.
BALITVET
(1992)
merekomendasikan
beberapa cara pencegahan penyakit cacing, yaitu
(1) jika ternak digembalakan maka dianjurkan
untuk diberi obat cacing pada awal musim hujan,
puncak musim hujan dan awal musim kemarau

Lokakarya Nasional Kambing Potong

terutama ternak muda dan ternak bunting. (2)


Apabila tidak digembalakan maka obat cacing
diberikan pada ternak yang kondisinya kurang baik,
bila perlu diberi antibiotika, vitamin B komplek
dan disediakaan air secara ad libitum.
Toksoplasmosis
Toxoplasma gondii adalah protozoa intraseluler
yang bersifat parasit obligat dan menyerang hewan
berdarah panas, burung bahkan manusia (zoonosis).
Penyakit
yang
ditimbulkannya
disebut
toksoplasmosis. Penelitian tentang toksoplasmosis
di Indonesia dimulai pada tahun 1972 oleh
HARTONO dan berhasil mengisolasi T. gondii dari
kambing dan domba di Rumah Potong Hewan
Surabaya dan Malang.
Dalam siklus hidupnya, parasit ini terdapat di
dalam darah (parasitemia) sehingga dapat
menyebar ke seluruh organ tubuh (ISKANDAR,
1998). Selama infeksi berlangsung, ternak tidak
menunjukkan gejala klinis (asimtomatis). Ada tiga
bentuk infektif dari T. gondii, yaitu (1)
takhizoit/tropozoit yang terdapat dalam cairan
tubuh; (2) bradizoit/sistozoit yang terdapat dalam
jaringan seperti limpa, limponodus, hati dan
sumsum tulang dan (3) sporozoit yang terdapat
dalam ookista (ISKANDAR, 1993). Ookista ini hanya
terdapat di dalam saluran intestin kucing
Bentuk kista jaringan sering ditemukan di otak,
otot skelet dan jantung penderita. Kista tersebut
dapat bertahan dalam tubuh induk semang yang
terinfeksi selama perjalanan penyakitnya/selama
hidupnya karena tidak dapat dicapai oleh kekebalan
humoral atau seluler. Kambing dapat terinfeksi T.
gondii melalui pakan yang tercemar oleh ookista
dari feses kucing dan tertelannya induk semang
pemindah seperti lipas atau lalat yang telah
memakan ookista. Janin dapat tertular melalui
plasenta. Sumber-sumber infeksi yang lain dapat
ditularkan melalui angin (inhalasi), air liur, ingus,
tinja dan air susu dari penderita yang dapat menular
lewat selaput mukosa (ISKANDAR, 1999). Manusia
dapat tertular apabila memakan daging kambing
yang dimasak kurang sempurna. Terdapat
hubungan antara orang yang memakan daging
kambing dengan prevalensi titer antibodi yang
positif. Kejadian ini diduga karena orang-orang
tersebut memakan daging kambing yang dimasak
setengah matang (sate) sehingga tidak menjamin
kematangan daging secara sempurna (ISKANDAR,
1993).
Menurut ISKANDAR (1999) bahwa kambing dan
domba yang terinfeksi akan menunjukkan gejala
sub akut sampai dengan kronis. Pada kambing
bunting sering terjadi abortus, kelahiran prematur

dan vaginitis. Janin yang dilahirkan mengalami


ensefalitis, odem sub kutan dan kadang-kadang
terjadi mumifikasi (janin tidak keluar dan
membusuk di dalam rahim). Gejala akut biasanya
berupa demam, abortus, hidung mengeluarkan
eksudat dan hal ini dapat berakhir dengan kematian
(ISKANDAR et al., 1996).
Diagnosis toksplasmosis dapat dilakukan
dengan cara uji hemaglutinasi tidak langsung (IHA)
(CROSS et al., 1976). Jika titer antibodi toxoplasma
lebih dari 1 : 16 diartikan bahwa ternak menderita
toksoplasmosis kronis dan jika titer antibodinya
lebih dari 1 : 1000 maka diartikan menderita
toxoplasmosis akut. SASMITA et al. (1988) berhasil
mendeteksi 33 ekor kambing yang menunjukkan
seropositif sedangkan ISKANDAR (1998) mampu
mendeteksi
12
ekor
kambing
terjangkit
toksoplamsosis
dan
38
sampel
lainnya
menunjukkan seropositif dengan uji IHA.
Ternak penderita toxoplasmosis dapat diobati
dengan clindamycin 25-50 mg/kg bobot badan per
hari. Dosis tersebut dibagi dua, yaitu pagi dan sore
serta diberikan secara oral. Pengobatan ini
dilakukan sampai 2 minggu setelah gejala klinis
hilang. Preparat sulfidaene dengan dosis 30 mg/kg
bobot badan dapat diberikan per oral setiap 12 jam.
Preparat ini diberikan bersama-sama dengan
pyrimethamine 0,5 mg/kg bobot badan. Untuk
mengurangi efek samping yang timbul maka perlu
ditambahkan folinic acid 5 mg/hari pada waktu
memberi pakan (GANDAHUSADA, 1992).
Myasis (Belatungan)
Myasis atau belatungan adalah infestasi larva
lalat ke dalam jaringan tubuh hewan hidup.
Penyakit ini dapat menyerang semua hewan
termasuk unggas dan manusia. Kasus myasis sering
ditemukan pada bagian sekitar mata, mulut, vagina,
tanduk yang dipotong, luka kastrasi dan pusar
hewan yang baru lahir. WARDHANA et al. (2003)
melaporkan bahwa Makasar dan Sumba Timur
sebagai daerah endemik penyakit ini. Kejadian
myasis juga dilaporkan di Kediri dan Yogyakarta.
Lalat Chrysomya bezziana adalah agen primer
penyebab myasis dan bersifat parasit obligat. Lalat
ini berwarna hijau kebiruan dan tersebar luas di
Afrika, subkontinen India, Papua New Guinea,
Asia Tenggara termasuk hampir di seluruh
kepulauan Indonesia. Lalat C. bezziana dilaporkan
melimpah pada musim kemarau, terbukti dengan
adanya kasus myasis yang berhasil dijumpai selama
survei di lapang (WARDHANA dan SUKARSIH,
2004).
Kejadian myasis selalu didahului oleh adanya
luka-luka traumatik atau luka pasca melahirkan.

87

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Gigitan caplak juga dilaporkan sebagai faktor


predisposisi utama penyakit ini (BINA KESEHATAN
HEWAN, 1993). Awal infestasi larva terjadi ketika
lalat betina meletakkan telurnya pada daerah kulit
yang terluka. Telur akan menetas menjadi larva,
selanjutnya larva tersebut bergerak lebih dalam
menuju ke jaringan otot sehingga menyebabkan
peradangan dan daerah luka semakin lebar. Kondisi
ini mengakibatkan tubuh ternak menjadi lemah,
nafsu makan menurun, demam serta diikuti
penurunan produksi susu dan bobot badan bahkan
dapat terjadi anemia (SUKARSIH et al., 1999). Bau
yang busuk dari luka tersebut mengundang lalat
sekunder (C. rufifacies, C. megachepala,
Sarcophaga sp) dan lalat tersier (Musca domestica,
Fannia anstralis) ikut meletakkan telurnya diluka
tersebut. Adanya infeksi sekunder dapat
menyebabkan myasis semakin parah dan berakhir
dengan kematian.
Pengobatan myasis dapat dilakukan dengan cara
perendaman (dipping) rutin dua kali seminggu
dengan mecampur 6 liter Ecoflee dengan 3 m3 air.
Larutan ini dapat digunakan selama 1,5 tahun dan
dilaporkan cukup efektif untuk pengendalian
penyakit myiasis. Berbagai preparat telah dicoba
untuk mengobati ternak yang menderita myasis
yaitu asuntol, lezinon, rifcord 505 dan campuran
kapur, bensin serta vaselin. Ramuan yang
dilaporkan cukup efektif untuk pengobatan myiasis
di Makasar, yaitu campuran dari 50 gr Iodium, 200
ml alkohol 75% dan 5 ml Ecoflee yang
selanjutnya ditambah air hingga 1 liter. Ramuan ini
langsung dioleskan pada luka yang mengandung
larva sehingga larva keluar dan luka menjadi
mengecil. Pengobatan ini dilakukan dua kali dalam
seminggu dan digunakan hingga sekarang
(WARDHANA et al., 2003).
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah
mengobati secara cepat luka baru dengan metilen
biru atau yodium. Perangkap lem dengan umpan
hati segar dapat dipasang untuk mengurangi
populasi lalat ini. Perangkap dipasang di daerah
semak-semak, padang penggembalaan, kebun
pisang atau daerah yang banyak ditanami
pepohonan karena lalat ini tidak dapat dijumpai di
kandang (WARDHANA et al., 2004). Teknologi
pengendalian myasis telah dikembangkan di
BALITVET dan telah dihasilkan pemikat yang
efektif untuk menangkap lalat C. bezziana di
lapang (URECH et al., 2002). Saat ini sedang
berlangsung beberapa penelitian untuk mencari
obat-obat alternatif myasis yang berbasis pada
insektisida botanis (Mindi, Mimba dan Srikaya)
dan kontrol biologis (Bacillus thuringiensis).

88

Foot Root (Kaki membusuk)


Penyakit foot root atau kaki membusuk atau
borok ceracak tergolong penyakit bakterial dan
disebabkan oleh Bacteroides (Fusobacterium)
nodosus. Kondisi kandang yang basah dan kotor
juga sering dikaitkan dengan kejadian penyakit ini.
Kaki ternak yang luka karena jatuh pada lantai
kandang yang licin dan basah menjadi pintu masuk
bakteri tersebut. Kaki akan mengalami peradangan
dan akhirnya membusuk (TOMASZEWSKA et al.,
1993).
Penanganan penyakit ini harus dilakukan
dengan teliti, yaitu kaki yang terinfekasi
dibersihkan dengan air. Kulit yang telah mati
dikelupas dan dibersihkan dengan rifanol atau
metilen biru. Secara tradisional dapat dilakukan
dengan cara menggunakan kapur barus dan minyak
tanah atau air tembakau. Untuk menghindari lalat,
dapat diberikan salep asuntol atau gusanex.
Pemberian suntikan antibiotika dapat dilakukan
selama 3-5 hari. Ternak penderita sebaiknya
dipindahkan ke tempat yang kering (ANONIMUS,
2004).
Penyakit foot root dapat dicegah dengan selalu
memperhatikan
kondisi
kandang.
Ternak
diusahakan selalu berada di lantai yang kering dan
dilakukan pemotongan kuku. Lumpur dan kotoran
sebagai pemicu penyakit ini, selalu dibersihkan
agar tidak terselip diantara kuku (ANONIMUS,
2004).
PENYAKIT-PENYAKIT NON INFEKSIUS
Penyakit-penyakit non infeksius yang penting
terutama fotosensitisasi, perut kembung (bloat atau
timpani), keracunan sianida, goiter, diare pada anak
kambing, penyakit kekurangan/defisiensi mineral.
Fotosensitisasi
Fotosensitisasi atau eksim kulit adalah penyakit
kulit akibat memakan rumput Brachiara sp. yang
ditumbuhi jamur Pithomyces chartarum. Jamur ini
dapat tumbuh subur pada rumput Brachiara sp.
Rumput
tersebut
dilaporkan
mempunyai
keistimewaan, yaitu mampu tumbuh dengan baik di
daerah teduh dan sepanjang aliran sungai sehingga
sering digunakan untuk persediaan pakan ternak
dan pencegah erosi. Kasus fotosensitisasi pada
ternak setelah makan Lantana sp. atau Brachiara
sp. telah dilaporkan dibeberapa tempat di Indonesia
(RONOHARDJO, 1981). Fotosensitisasi sering juga
dikaitkan dengan adanya kerusakan hati dan
terdapatnya spora yang serupa dengan Pithomyces

Lokakarya Nasional Kambing Potong

chartarum pada Brachiara sp. yang dicerna oleh


ternak (MURDIATI et al., 1984).
Proses terjadinya fotosensitisasi diawali ketika
bahan yang bersifat fotodinamik beredar di
permukaan dan terkena sinar matahari (sinar
ultraviolet/UV), terutama sekitar mata, telinga,
vulva dan bagian dalam paha serta daerah-daerah
yang tidak terlindungi oleh rambut. Bahan
fotodinamik tersebut menyerap sinar energi dari
sinar UV kemudian melewati komponen-komponen
dari sel sekitarnya. Akibatnya sel menjadi pecah
dan akhirnya menjadi dermatitis. Pada kasus yang
serius dapat terbentuk keropeng-keropeng yang
kadang-kadang mengelupas (TOMASZEWZSKA et
al., 1993).
Bahan fotodinamik yang paling umum adalah
phylloerythrin, yaitu suatu metabolisme normal di
dalam tubuh ternak sebagai hasil fermentasi
klorofil secara anaerob di dalam rumen. Pada
ternak yang sehat, phylloerythrin segera
diekresikan dari tubuh melalui saluran empedu,
tetapi racun sporidesmin yang dihasilkan oleh
Pitomyces chartarum menyebabkan kerusakan hati
dan penyempitan saluran empedu sehingga
phylloerythrin tidak dapat dieksresikan. Bahan
tersebut akan masuk ke dalam peredaran darah dan
mempengaruhi metabolisme sel (TOMASZEWZSKA
et al., 1993).
Bahan-bahan lain yang diduga dapat
menimbulkan fotosensitisasi dengan kerusakan hati
antara lain tanaman yang mengandung alkaloid
pyrrolizidine seperti Canecio sp., Heliotropium sp.,
Crotalaria sp., dan Eupatorium sp. Bahan
fotodinamik lainnya adalah hypericin dan fotopyrin
yang dilaporkan dapat menyebabkan fotosensitisasi
secara langsung tanpa didahului oleh kerusakan
hati. Pada kejadian ini, bahan tersebut bereaksi
langsung dengan sinar UV pada kulit dan
menyebabkan kerusakan sel-sel kulit dan jaringan
(TOMASZEWZSKA et al., 1993).
Penyakit perut kembung (timpani atau bloat)
Perut kembung atau timpani adalah suatu
keadaan mengembangnya rumen akibat terisi oleh
gas yang berlebihan. Hal ini terjadi ketika esofagus
mengalami sumbatan sehingga menghambat
pengeluaran gas. Ada kalanya juga terjadi perut
kembung berbuih sebagai akibat fermentasi yang
berjalan tidak normal. Produksi gas yang cepat
(CO2 dan CH4) sebagai hasil akhir fermentasi akan
memicu terjadinya kembung. Kondisi ini dikaitkan
dengan tingginya konsentrasi protein terlarut yang
terdapat di dalam rumen. Gas yang terbentuk akan
menetap di rumen dalam bentuk gelembunggelembung kecil yang tidak merangsang terjadinya

reflek bersendawa sehingga rumen mengembung


(TOMASZEWSKA et al., 1993).
Daun legum yang mengandung kadar air dan
protein yang tinggi diduga sebagai penyebab
terjadinya kembung. Daun tanaman tersebut
menghasilkan asam-asam yang tidak mudah
menguap seperti sitrat, malat dan suksinat. Asamasam ini akan segera menurunkan pH rumen dalam
waktu 30-60 menit pasca pemberian daun legum.
Data lain menyebutkan beberapa penyebab
kembung pada ternak antara lain, makan rumput
muda atau tanaman leguminosa (kacang-kacangan),
merumput pada lahan yang baru dipupuk, makan
buah terlalu banyak, memakan racun dan ubi atau
tanaman sejenis yang dapat menahan keluarnya gas
dari perut. Kasus perut kembung juga pernah
dilaporkan akibat memakan kantung plastik bekas
pembungkus garam. Kondisi kandang yang lembab
dan basah dapat memicu terjadinya kembung
(TOMASZEWSKA et al., 1993).
Gejala klinis yang terlihat adalah rumen (perut
sebelah kiri) mengembung sangat besar. Ternak
cenderung menendang dengan kaki belakang. Jika
kondisi parah maka ternak akan berbaring dan
bernafas dengan cepat. Membesarnya rumen akan
meningkatkan tekanan di dalam rongga perut dan
rongga dada sehingga menyebabkan kesulitan
bernafas yang ditandai dengan pernafasan dada
yang cepat dan dangkal. Sebaliknya, paru-paru dan
sistem peredaran darah jantung tidak bekerja.
Apabila kondisi ini berlanjut maka akan terjadi
gangguan peredaran darah dan kematian dalam
beberapa menit (TOMASZEWSKA et al., 1993).
Pengobatan dapat dilakukan dengan cara
memberi minyak kelapa kira-kira 1 liter ke dalam
rumen dengan selang setiap hari selama 2-3 hari
sampai kembung hilang. Bloatinol yang
mengandung silika di dalam 1% dimethycone dan
5% minyak kacang dilaporkan cukup efektif untuk
mengatasi kembung pada ternak. Pemberian
minuman ringan yang mengandung soda (sprite)
dapat membantu mengeluarkan gas dalam rumen.
Pemakaian trocar yang dimasukkan ke salah satu
bagian rumen memiliki resonansi tertinggi untuk
menurunkan tekanan dalam rumen merupakan
pilihan terakhir karena risiko infeksi yang tinggi.
Penanganan alternatif adalah meletak sepotong
kayu yang diikatkan pada mulutnya. Hewan akan
berusaha untuk menguyah tali/kayu tersebut
sehingga akan mendorong keluarnya gas dari dalam
rumen (ANONIMUS, 2004).
Pencegahan terjadinya kembung pada ternak
dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain,
menjemur rumput di bawah sinar matahari
langsung selama 2-3 jam sebelum diberikan pada
ternak, selama musim hujan sebaiknya ternak diberi

89

Lokakarya Nasional Kambing Potong

pakan kasar sebelum dilepas di padang


penggembalaan yang basah. Jangan membuang
plastik pembungkus garam, ikan asin dan sejenis
pada tempat sampah. Ternak jangan digembalakan
terlalu pagi ketika rumput masih basah dan hindari
memberi ternak dengan rumput atau daun-daun
muda dan tanaman leguminosa (kacang-kacangan)
(ANONIMUS, 2004).

Keracunan sianida
Sianida adalah senyawa racun yang dapat
mematikan ternak dan manusia. Beberapa sumber
sianida telah dilaporkan antara lain racun ikan
(KCN dan NaCN/potas), pestisida (HCN,
Ca(CN)2), pupuk dan tanaman yang mengandung
glukosida sianogenik. Ubi kayu dan sorgum yang
ditanam pada akhir musim kering terbukti
mempunyai kandungan kadar sianida yang tinggi
dengan kadar air yang rendah. Pupuk dengan
tingkat nitrogen yang tinggi dapat meningkatkan
kandungan sianida di dalam daun. Jenis-jenis
tanaman yang mengandung sianida dapat dilihat
pada Tabel 1. Keracunan ternak karena sianida
sering terjadi di lapang dan sangat merugikan
peternak seperti yang terjadi di Lampung dan
Bojonegoro (BAHRI et al., 1985; BAHRI, 1987;
TOMASZEWSKA et al., 1993).

Senyawa sianida dapat masuk ke tubuh melalui


tiga cara, yaitu lewat pernafasan, absorbsi kulit dan
saluran pencernaan. Apabila sianida terabsorbsi ke
dalam tubuh maka akan menghambat pengambilan
oksigen sel dengan cara menghalangi enzim
sitokrom oksidase, yaitu suatu enzim yang
berfungsi untuk transportasi oksigen seluler atau
jaringan. Akibat dari keadaan ini, akan
menyebabkan pernafasan sel terganggu dan
akhirnya terjadi kematian sel. Sianida di dalam
tubuh dapat dimetabolisir oleh hati, ginjal dan
jaringan tubuh lainnya menjadi senyawa tiosianat
yang kurang toksik (OKE, 1973). Metabolisme
sianida menjadi tiosianat ini karena adanya enzim
sulfurtransferase (rodanase) pada organ-organ
tersebut (WESTLEY et al., 1983). Kadar tiosianat
akan meningkat dalam waktu lebih dari 20 menit
pasca pemberian sianida (BAHRI,1984).
Umumnya kasus keracunan pada kambing
terjadi di dalam rumen. Dalam waktu 15 menit,
hampir semua sianida di dalam rumen telah
diabsorbsi dan dengan cepat juga sebagian
mengalami detoksikasi (BAHRI dan TARMUDJI,
1984). Kematian terjadi karena ketidakmampuan
sel untuk menggunakan oksigen. Dosis yang dapat
menyebabkan kematian pada kambing kira-kira 2,5
mg/kg bobot badan, tetapi dapat juga bervariasi
tergantung pada keadaan dan umur ternak
(TOMASZEWSKA et al., 1993).

Tabel 1. Beberapa jenis tanaman yang mengandung sianida (Ginting et al., 1980)
Nama latin

Nama umum

Mikania cordata
Cynodon dactylon
Panicum maximum
Oxalis corniculata
Ficus montana
Caesalpinia pulcherrima
Jussiaca peruviana
Ageratum conyzoides
Acalypha indica
Bothriocola glabra
Manihot utilissima, esculenta
Cleome rutidosperma
Colocasia esculenta
Heven brasiliensis
Eleusine indica
Cassia lechenaultiana
Lepistemon binectariferus

Areu coputeuheur
Jukut kakawatan
Jukut banggala
Calingcing
Amis mata
Kembang merak
Kemabang kayu bagus
Babadotan
Lelatang
Jukut paparean
Singkong
Namnan
Bolang
Tangkal karet
Jukut jampang katincak
Pepedangan letik
Akar bulu

90

Kuantitas sianida
rendah (+)
rendah (+)
rendah (+)
rendah (+)
sedang (++)
sedang (++)
sedang (++)
sedang (++)
sedang (++)
sedang (++)
tinggi (+++)
tinggi (+++)
tinggi (+++)
tinggi (+++)
tinggi (+++)
tinggi (+++)
tinggi (+++)

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Gejala klinis keracunan sianida akan muncul


dalam beberapa menit setelah ternak mengonsumsi
pakan yang mengandung sianida berkadar tinggi.
Frekuensi pernafasan menjadi lebih cepat dan
dalam (dyspnoe), otot-otot menjadi gemetar dan
terjadi kegagalan koordinasi otot (limbung/ataksia).
Selanjutnya, ternak meronta-ronta, jatuh dengan
nafas terengah-engah yang diikuti kekejangan.
Pupil mata melebar (dilatasi) dan membran mukosa
tampak merah terang oleh karena oksigen di dalam
darah tidak dapat dilepaskan. Disamping itu, juga
terjadi pengeluaran air liur (salivasi), mulut berbusa
dan ternak mengeluarkan feses dan air
kemih(BAHRI dan TARMUDJI, 1984; TOMASZEWSKA
et al., 1993).
Diagnosis keracunan sianida secara pasti hanya
dapat dilakukan dengan menganalisa kadar
sianidanya dari dalam rumen, darah, hati, ginjal dan
organ-organ lainnya, tetapi hal ini sangat sulit
dilakukan karena sianida ini sangat tidak stabil.
Sebaliknya, kadar tiosianat serum sebagai hasil
metabolisme sianida di dalam tubuh cukup stabil
(BAHRI, 1983). Kadar tiosianat pada kambing
normal dilaporkan sekitar 0,9-10,2 g/ml (BAHRI,
1984).
Penanganan yang cepat diperlukan pada kasus
keracunan akut untuk mencegah kematian.
Pengobatan yang umum dilakukan adalah
gabungan antara sodium nitrat (Na2NO2) dengan
thiosulfat (Na2S2O3). Dosis yang dianjurkan adalah
1 ml larutan 20% Na2NO2 dan 3 ml Na2S2O3 yang
diberikan secara intravena dengan bobot badan 45
kg. Alternatif lainnya adalah memberikan 1 gram
Na2NO2 dan 2,4 gram Na2S2O3 yang dilarutkan
dalam 10 ml air suling dan disuntikan secara
intravena. Pemberian hidroksokobalamin (vitamin
B12a) dapat juga dilakukan tetapi zat ini
mempunyai kelarutan yang rendah dan kurang
efektif pada keracunan sianida yang hebat (BAHRI
dan TARMUDJI, 1984; TOMASZEWSKA et al., 1993).
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan
adalah menjaga kambing agar tidak memakan daun
yang mengandung sianida. Daun ubi kayu atau
tanaman sejenis harus dicacah dan dikeringkan
dibawah sinar matahari secara langsung untuk
menghilangkan sebagian besar sianida yang ada
sebelum diberikan ke ternak
Goiter (gondok)
Goiter atau gondok adalah kelainan pada ternak
pada kelenjar tiroidnya akibat kekurangan yodium.
Ternak dewasa sangat jarang mengalami kelainan
ini tetapi fetus dan ternak yang masih muda mudah
sekali terkena. GINTING (1981) dan BAHRI (1983)

melaporkan
adanya
kasus
goiter
yang
menyebabkan kematian pada anak kambing dan
domba di daerah Bogor, Ciawi dan Cilebut. Kasus
menjadi tinggi pada daerah-daerah yang
kekurangan yodium.
Yodium (I) dibutuhkan untuk sintesa hormon
tiroid (Triidothyronine/T3) dan tiroksin (T4) yang
berperan dalam mengatur metabolisme tubuh dan
sangat penting bagi hewan yang bunting, hewan
muda dan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Secara normal hormon ini diproduksi oleh kelenjar
tiroid dalam jumlah yang cukup sehingga dapat
mempertahankan produktivitas dan reproduktivitas
ternak. Produksinya akan menurun jika proses
biosintesanya terhambat karena kekurangan/
defisiensi yodium (TOMASZEWSKA et al., 1993).
Faktor lain penyebab kondisi ini adalah adanya zat
gastrogenik (tiosianat) pada pakan yang
dikonsumsinya. Kombinasi keduanya akan memicu
terjadinya goiter pada ternak (DELANGE et al.,
1982). BAHRI et al. (1984) mendeteksi kadar
tiosianat yang tinggi di dalam tubuh kambing yang
sering mengonsumsi daun ubi kayu. Zat ini mampu
menghambat up take yodium oleh kelenjar tiroid.
Beberapa tanaman yang mengandung zat anti tiroid
dilaporkan oleh GINTING (1981), yaitu kubis,
sudan grass dan white clover.
Untuk mencegah terjadinya goiter khususnya
pada daerah-daerah yang kekurangan yodium,
dapat dilakukan dengan cara mencampurkan garam
beryodium pada pakan ternak. Selain sebagai
penambah nafsu makan, pemberian garam
beryodium dapat mengatasi gangguan hormon
tiroid yang sangat penting untuk metabolisme
tubuh.
Diare pada anak kambing
Diare adalah gejala abnormalitas sistem
pencernaan dan sering terjadi pada anak kambing.
Gejala ini tidak hanya menyebabkan kekurangan
penyerapan sari-sari makanan, tetapi ternak juga
akan mengalami kehilangan cairan dalan jumlah
banyak. Diare yang terjadi pada anak kambing
(minggu-minggu
pertama
kelahiran)
dapat
menyebabkan dehidrasi dan kematian (THOMPSON,
2004).
Secara garis besar, penyebab diare dapat
digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu non ifeksi
dan agen infeksi (bakteri, protozoa atau virus).
Umumnya kejadian non infeksi dikarenakan pakan
pengganti air susu yang berlebihan atau konsentrasi
pakan yang tidak tepat, daun-daun dengan kadar
protein yang tinggi dan kualitas pakan yang rendah.
Pada kejadian infeksi, biasanya disebabkan oleh

91

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Escherichia coli, Cryptospridia, Eimerria sp. dan


cacing. Colibacillosis (E. coli) biasanya terjadi
pada minggu pertama, terutama pada anak kambing
yang
tidak
cukup
menerima
kolustrum.
Cryptosporidiasis dapat menyebabkan diare pada
anak kambing umur 2-3 minggu. Beberapa
penyebab kasus diare yang menyebutkan bahwa
cryptosporidia, E. coli dan virus mampu
menyerang
secara
bersama-sama
sehingga
menyebabkan diare yang hebat. Pada umur 1 bulan,
biasanya diare yang terjadi akibat infeksi Eimerria
sp. (koksidiosis) dan infestasi cacing nematoda.
Walaupun infeksi bekteri sangat jarang terjadi pada
umur 1 bulan, tetapi infeksi Yersinia dapat
menyebabkan diare yang berakhir kematian.
Yersiniosis sering sekali terjadi dan berhubungan
dengan koksidiosis dan infestasi parasit lainnya
(THOMPSON, 2004).
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara
memisahkan ternak yang diare unntuk menghindari
terjadinya kontaminasi lingkungan dengan agen
penyakit (bakter, parasit dan virus). Kandang selalu
diusahakan dalam keadaan kering dan hangat.
Antibiotika tidak dianjurkan untuk diberikan pada
anak kambing karena dapat mematikan bakteri
normal yang terdapat di dalam saluran pencernaan.
Jika anak kambing dikandangkan maka diusahakan
agar kandang selalu bersih, kering dan hangat
dengan fentilasi udara yang baik. Pakan disediakan
dalam kontainer yang tidak terkontaminasi oleh
feses. Anak-anak kambing harus dijaga agar tidak
masuk ke dalam lingkungan yang terkontaminan
oleh Cryptosporidia dan Eimerria sp. Stadium
infektif Cryptosporidia sangat resisten, tetapi dapat
dirusak dengan 10% formalin atau 5-10% ammonia
(THOMPSON, 2004).
Kekurangan/defisiensi mineral
Mineral sangat di butuhkan untuk pertumbuhan
tulang, gigi dan jaringan termasuk berguna sebagai
bahan sintesa enzim, hormon dan substansi lain
yang diperlukan untuk proses metabolisme.
Kebutuhan
mineral
ruminansia
dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu unsur makro
(Ca, P, Na, Cl, K, Mg dan S) dan unsur mikro (Fe,
I, Cu, Mo, Zn, Mu, Cr, F, Ni, Co dan Se)
(Tomaszewska ET AL., 1993).
Kalsium (Ca) sangat mutlak diperlukan ternak
dan merupakan bahan penyusun tulang dan gigi.
Ternak muda dan yang sedang menyusui
membutuhkan kalsium lebih banyak. Apabila
kekurangan, dapat mengakibatkan kekerdilan dan
penurunan produksi susu pada induk yang sedang
laktasi. Fosfor (P) dibutuhkan untuk jaringan otot
dan tulang. Kekurangan fosfor akan mengakibatkan

92

pertumbuhan dan perkembangan terhambat serta


menekan nafsu makan. Daun legum semak dan
pohon dilaporkan banyak mengandung fosfor lebih
banyak daripada rumput. Oleh karena itu,
pemberian pakan campuran rumput-rumputan dan
kacang-kacangan akan mengurangi kemungkinan
kekurangan fosfor (TOMASZEWSKA et al., 1993).
Sodium (Na) dan klorida (Cl) dapat disediakan
berupa garam dapur. Tingkah laku ternak yang
makan tanah dan bahan sisa lain dapat
diindikasikan bahwa ternak tersebut kekurangan
garam. Magnesium (Mg) diperlukan untuk
bekerjanya sistem saraf dan terlibat dalam reaksi
enzim. Defisiensi Mg dapat menyebabkan ternak
mudah terkejut dan pengapuran pada jaringan
lemak. Sulfur (S) sangat penting dan berperan
sebagai penyusun asam amino metionin dan sistein.
Asam amino ini sangat berguna bagi ternak. Sulfur
juga penting untuk sintesa protein mikroba
sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan oleh
mikroba rumen. Mineral besi (Fe) merupakan unsur
yang penting untuk penyusunan haemoglobin dan
enzim yang terlibat dalam proses oksidasifosforilasi dalam menghasilkan energi. Defisiensi
besi sangat jarang terjadi karena daur ulang unsur
ini di dalam tubuh sangat efesien (Tomaszewska et
al., 1993).
Cuprum (Cu) dan Molybdenum (Mo) biasanya
berinteraksi dengan penggunaan sulfur pada ternak.
Seng sangat penting untuk memproduksi lebih dari
200 enzim yang terlibat dalam proses metabolisme.
Kekurangan seng dapat menjurus ke arah
parakeratosis, terhambatnya pertumbuhan dan
mengurangi proses spermatogenesis. Unsur
Mangan juga diperlukan untuk reaksi enzim. Gejala
kekurangan mineral ini adalah keengganan untuk
berjalan, kelainan pada kaki depan dan menurunkan
efisiensi reproduksi (TOMASZEWSKA et al.,
1993).Chromium (Cr), flourida (F), nikel (Ni),
cobalt (Co) dan selenium (Se) merupakan unsur
yang penting untuk kambing dan domba.
Chromium terlibat dalam proses pemanfaatan
glukosa sedangkan Ni diperlukan oleh mikroba
rumen. Cobalt merupakan komponen penyusun
vitamin B12. Selenium penting sebagai elemen
pengganti sulfur dan dibutuhkan untuk proses
peroksidasi (TOMASZEWSKA et al., 1993).
Kedua unsur makro dan mikro dapat diperoleh
dari sumber bahan makanan. Kandungan mineral
pada jaringan tanaman terkait dengan kandungan
mineral dan pH tanah. Hasil penelitian yang
dilakukan pada peternakan di Jawa Barat
menunjukkan bahwa pemberian mineral tambahan
yang cukup memang dibutuhkan oleh kambing dan
domba di pedesaan (PRABOWO et al., 1984).

Lokakarya Nasional Kambing Potong

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, sistem
manajemen kesehatan ternak kambing merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem
usaha
agribisnis
ternak
kambing
secara
kesinambungan. Tahap pemilihan lokasi peternakan
merupakan tahap awal yang menentukan apakah
lokasi tersebut aman dari kemungkinan munculnya
wabah penyakit tertentu, sedangkan tahap
persiapan dan pengadaan ternak merupakan tahap
berikutnya yang menentukan bahwa ternak yang
akan dipelihara dalam keadaan sehat. Tahap
adaptasi merupakan karantina untuk menjamin
bahwa ternak kambing yang akan dipelihara lebih
lanjut telah benar-benar aman dari penyakit yang
kemungkinan terbawa dari daerah asal.
Tahap pemeliharaan sendiri sangat menentukan
produktivitas ternak berkaitan dengan gangguan
kesehatan. Oleh karena itu pencegahan dan
pengendalian terhadap penyakit-penyakit ternak
tertentu harus selalu mendapat perhatian terutama
penyakit skabies dan cacingan untuk golongan
penyakit parasiter dengan menerapkan kontrol
penyakit secara berkesinambungan.
Penyakit viral yang penting untuk dicegah dan
ditanggulangi adalah penyakit orf (Dakangan),
sedangkan penyakit bakterial yang penting untuk
diperhatikan, yaitu anthrax, pink eye, pneumonia
dan foot root. Penyakit lainnya yang juga perlu
mendapat perhatian adalah penyakit diare pada
anak kambing, penyakit kembung rumen, dan
keracunan
sianida
dari
tanaman.
Untuk
meningkatkan ketahanan tubuh ternak terhadap
gangguan/serangan penyakit hendaknya ternak
diberi pakan yang bergizi dengan jumlah yang
cukup
(tidak
kekurangan
pakan)
serta
perkandangan yang baik (kandang panggung akan
lebih baik) dan sanitasi yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
ANONIMUS. 2004. Pegangan Peserta Latihan Paravet.
Daftar Tindakan Terapi Yang Dapat Dilaksanakan
Untuk Menyembuhkan Gejala PenyakitTertentu.
ACHDIYATI, J., HARDJOUTOMO, S., SUPAR dan M.
POELOENGAN. 1983. Isolasi dan identifikasi bakteria
dari kasus pink eye pada ruminansia besar asal Jawa
Tengah. Penyakit Hewan. 15 (26):

ADJID, R. M. A. 1992. Studi penyakit orf (dakangan) di


Indonesia : Isolasi virus penyebab pada biakan sel
domba. Penyakit Hewan. 24 (44): 85-92.
ADJID, R. M. A dan A. SUDIBYO. 1992. Identifikasi bakteri
yang berperan sebagai infeksi sekunder pada
kejadian penyakit Orf (ektima kontagiosa). Penyakit
Hewan. 24 (44): 71-75.
ADJID, R. M.A. 1993. Upaya penumbuhan virus orf isolat
B7 dan SP 108 pada beberapa jenis biakan sel
lestari. Penyakit Hewan. 35 (46): 94-98.
ADJID, R. M. A. 1993. Penyakit orf pada ternak kambing
dan domba serta cara pengendaliannya di Indonesia.
Wartazoa. 1 (3): 33-36.
ADJID, R. M. A. 1994. Evaluation on immunogenicity of
contagious ecthyma (ORF) virus B7 and SP 108
isolates derived from cell cultures in experimental
sheep: antibody (Ig G). Responses and protection to
homologous viruses. Penyakit Hewan Edisi khusus.
26 (48): 15-20.
AHMAD, R.Z. 1997. Potensi kapang sebagai pengendali
biologi terhadap cacing.
Majalah Parasitologi
Indonesia. 10 (2):104-113.
BALITVET. 1991. Informasi teknis penyakit hewan. 19-24.
BAHRI, S. 1983. Kematian anak domba di daerah gondok
endemik dan hubungannya dengan kadar Thyroxin
(T4) pada induknya. Penyakit Hewan. 15 (26): 117120.
BAHRI, S. 1984. Kadar tiosianat pada kambing dan
kemungkinannya untuk menduga keracunan sianida.
Penyakit Hewan. 16 (28): 207-211.
BAHRI, S dan TARMUDJI. 1984. Keracunan sianida pada
ternak dan cara mengatasinya. Wartazoa. 1 (3): 3336.
BAHRI, S., D. R.STOLTZ dan REX MARSHALL. 1985.
Keracunan sianida pada ternak di Bojonegoro akibat
memakan tanaman sorgum (Sorghum spp.).
Penyakit Hewan. 27 (29): 292-296.
BAHRI, S., H. HAMID dan TARMUDJI. 1987. Goiter pada
kambing di Bogor-Jawa Barat. Penyakit Hewan. 19
(34): 91-93.
BERIAJAYA. 1986. Pengaruh albendazole terhadap infeksi
cacing nematoda saluran pencernaan pada domba
lokal di daerah Cirebon. Penyakit Hewan. 18 (31):
54-57.

ADJID, R. M. A dan POERNOMO, R. 1987. Uji agar gel


presipitasi (AGP) untuk mendeteksi virus penyakit
orf. Penyakit Hewan. 19 (34): 84-87.

BERIAJAYA, D. HARYUNINGTYAS, A.HUSEIN, G.M.HOOD


dan G.D.GRAY. 2003. Transmission of anthelmintic
resistance in sheep in West Java, Indonesia. Poster
in the 19th International Conference of the World
Association for the Advandcement of Veterinary
Parasitology. August 10-14, New Orleans.

ADJID, R. M. A dan H. MANGUNWIRYO. 1991. Kejadian


penyakit kontagiosa (ORF) pada ternak kambing
dan domba di Jawa Barat. Penyakit Hewan. 23 (41):
23-28.

BERIAJAYA dan A. HUSEIN. 2003. Efikasi pemberian


antelmintik golongan levamisole dan ivermectin
pada peternakan domba yang terinfeksi cacing yang
resisten
terhadap
antelmintik
golongan

93

Lokakarya Nasional Kambing Potong

benzimidazole. Prosiding Seminar Nasional


Peternakan dan Veteriner, Puslitbang Peternakan,
Bogor.

hewan, Klender, Tanah Abang dan Bogor.


Prossiding Pertemuan Ilmiah Ruminansia Jilid 2:
135-139.

BINA KESEHATAN HEWAN. 1993. Manajemen Penyakit


Hewan, Seri: Pedoman Pengendalian Penyakit
Hewan Menular. Jilid 3-4-5. Direktorat Jendral
Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.

ISKANDAR, T. 1993. Isolasi Toxoplasma gondii dari


kambing peranakan ettawa (PE) yang dipotong di
RPH Surabaya dengan mengggunakan ekstrak
diagfragma yang disuntikkan ke mencit (Mus
Musculus albinus). Penyakit Hewan. 25 (46): 103106.

CROSS, J. H., VAN PEENEN, P. F. D., NORA, H. M and


KOESHARJONO.
1976.
Toxoplasma
gondii
hemaglutinating antibodi titer in Indonesia goat.
Trop. Geogr. Med. 28: 355-358.
DELANGE, F., P. BOURDOUX, E. COLINET, P. COURTOIS, P.
HENNART, R. LAGASSE, M. MAFUTA, P. SEGHERS, C.
THILLY, J. RANDERPAS, Y. YUNGA and A. M.
ERMANS. 1982. Nutritional factors involved in the
goitrogenic action of cassava. Dalam Cassava
Toxicity and Thyroid. Research and Public Health
Issues. IDRC. 17-26.
GANDAHUSADA.

1992.
DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN
TOXOPLASMOSIS.
PARASITOL. INDON. 5 (1): 7-13.

ISKANDAR, T., S. PARTOUTOMO, BERIAJAYA dan H. W.


PRATOMO. 1996. Studi toxoplasma pada domba dan
kambing di RPH di Jakarta. Prossiding Temu Ilmiah
Nasional Bidang Veteriner. BALITVET Bogor:
205-208.
ISKANDAR, T. 1998. Pengisolasian toxoplasma gondii dari
otot diafragma seekor domba yang mengandung
titer antibodi tinggi dan tanah-tinja dari seekor
kucing. JITV. 3 (2): 111-116.

dan
MAJ.

ISKANDAR, T. 1999. Tinjauan tentang toksoplasmosis


pada hewan dan manusia. Wartazoa. 8 (2): 58-63.

GINTING, N., INDRANINGSIH dan Z. ARIFIN. 1980. A


survey the nitrate and cyanogenic of certan Bogor
West Java plant. Bull. L. P. P. H. 12 (20): 21-49.

MANURUNG, J., BERIAJAYA., S, PARTOUTOMO dan P,


STEVENSON. 1986. Pengobatan kudis kambing yang
disebabkan oleh Sarcoptes scabiei dengan
ivermectin dan asuntol. Penyakit Hewan. 19 (31):
58-62.

GINTING, N. 1981. Beberapa kasus colloid goitre


(gondok) pada kambing. Bull. L.P.P.H. 13 (22): 4652.
HARDJOUTOMO, S dan POERNOMO, S. 1976. Reaksi
presipitas metode Ascoli disederhanakan untuk
mendiagnosa anthrax. Bull. L.P.P.H. 8 (11-12): 1523.
HARDJOUTOMO, S. 1986. Pengendalian penyakit anthraks.
Seri pengembangan No. 6. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Jakarta.
HARDJOUTOMO, S. P. RONOHARDJO dan KOKO BARKAH.
1990. Kasus anthrax di Jawa Tengah 1990. Penyakit
Hewan. 22 (39): 32-35.
HARDJOUTOMO, S., M. B. POERWADIKARTA , B. E. PATTEN
and K. BARAKAH. 1993. The applications of ELISA
to monitos the vaccinal response anthrax vaccinated
ruminants. Penyakit Hewan Edisi khusus. 25 (46A):
7-10.
HARDJOUTOMO, S dan M. B. POERWADIKARTA. 1996.
Kajian retrospektif anthraks di daerah endemik
menggunakan uji Enzyme-Linked Immunosorbent
Assay (ELISA). JITV. 2 (2): 127-131.
HARYUNINGTYAS, D., BERIAJAYA dan G.D. GRAY. 2001.
Resistensi antelmintik golongan benzimidazole pada
domba dan kambing di Indonesia. Prossiding
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner, Puslitbang Peternakan, Bogor, 17-18
September 2001.
ISKANDAR, T. 1989. Penelitian penyakit (tinjauan
patologi) pada kambing dan domba di rumah potong

94

MANURUNG, J., BERIAJAYA dan MALCOLM KNOX. 1987.


Pengamatan pendahuluan penyakit kudis pada
kambing di Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat.
Penyakit Hewan. 19 (34): 78-81.
MANURUNG, J., P. STEVENSON., BERIAJAYA and M. R.
KNOX. 1990. Use of ivermectin to control Sarcoptic
mange in goats in Indonesia. Trop. Anim. Heth.
Prod. 22: 206 212.
MANURUNG, J. 1991. Pengobatan kudis (Sarcoptes
scabiei) pada kambing dengan oli dan belerang serta
campurannya. Penyakit Hewan. 23 (41): 45 49.
MANURUNG, J., T. B. MURDIATI dan T. ISKANDAR. 1992.
Pengobatan kudis pada kambing dengan oli, vaselin,
belerang dan daun ketepeng (Cassia alata L).
Penyakit Hewan. 24 (43): 2731.
MURDIATI, T. B., HELMI, H., WILSON, A. J. and ZAHARI, P.
1984. Studi pendahuluan kasus keracunan
Brachiaria species. Proseding Pertemuan Ilmiah
Penelitian Ruminansia Kecil, PUSLITBANGNAK.
Bogor. Indonesia : 237-240.
NOOR, S. M., DARMINTO dan S. HARDJOUTOMO. 2001.
Kasus anthrax pada manusia dan hewan di Bogor
pada awal tahun 2001. Wartazoa. 11 (2): 8-14.
OKE, O. L. 1973. The mode of cyanide detoxication
Dalam Chronic cassava toxicity. Nestle, B and R.
Mc Intyre (eds). IDRC-OIOe. 97-104.
PRABOWO, A., MATHIUS, I. W., VAN EYS, J. E.,
RANGKUTI, M. dan JOHNSON, W. L. 1984.
Konsentrasi mineral rumput lapangan yang
diberikan kepada domba dan kambing di Ciburuy,

Lokakarya Nasional Kambing Potong

Bogor in Sheep and Goats in Indonesia. Proceedings


of the Scientitic Meeting on Small Ruminant
Research. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan, Bogor: 55-58.
POERNOMO, S., S. HARDJOUTOMO dan SUTARMA. 1982.
Reaksi presipitasi metode Ascoli disederhanakan
untuk mendiagnosa anthrax II. Pembuatan serum
kebal Ascoli pada kelinci. Penyakit Hewan. 14 (23):
1-4.
POERWADIKARTA, M. B., S. HARDJOUTOMO dan KOKO
BARKAH. 1993. Sensitivity of local isolates of
Bacillus anthracis againts several antibiotics.
Penyakit Hewan. 25 (46): 133-136.
RANOHARDJO, P. 1981. Kasus dermatitis simetrika pada
domba ekor gemuk di Kabupaten Lombok Tengah.
Bull. L.P.P.H. 21: 1-4.
RESSANG. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Edisi kedua.
Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian
Bogor.
SASMITA, R., ERNAWATI, R dan M. SAMSUDDIN. 1988.
Insiden toxoplasmosis pada babi dan kambing di
rumah potong Surabaya. J. Parasitol Indon. 2: 7175.
SENDOW I., SYAFRIATI, T., WIEDOSARI, E dan SELLECK, P.
2002. Infeksi virus Parainfluenza tipe 3 pada kasus
pneumonia kambing dan domba. JITV. 7 (1):62-68.
SOBARI. 1992. Skabies pencegal utama paket bantuan
kambing. Bull. Vet. Lab. Jakarta. 8: 1 7.
SOEPENO, ARIMIADI, S., B, SETIADI dan J. MANURUNG.
1993. Sistem usaha tani ternak di daerah padat
penduduk (Jawa Barat). Prosiding pengolahan dan
komunikasi hasil-hasil penelitian di Pedesaan Ciawi
27-29
Januari.
Balai
Penelitian
TernakPUSLITBANGNAK. 118-127.
SOERIPTO dan POERWADIKARTA, M. B. 1990. Isolation of
Mycoplasma sp from keratoconjungtivitis of goats.
Penyakit Hewan. 22 (4): 40-43.
SOERIPTO. POELOENGAN, M., NOOR, S. M., CHOTIAH, S
dan KUSMIYATI. 2001. Pneumonia pada kambing
dan domba. Prossiding Seminar Nasional

Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan,


Bogor, 17-18 September 2001: 520-523.
SUBEKTI, S., S. MUMPUNI., S. KOESDARTO dan H.
PUSPITAWATI. 1996. Ilmu Penyakit Nematoda.
Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga.
Surabaya.
SUDANA, I. G. dan SYARWANI, I. 1986. Pengamatan
perkembangan peternakan kambing di desa Salam,
Balaris, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dit.
Kes. Wan. Dit. Jend. Nak.
SUKARSIH, S. PARTOUTOMO, E. SATRIA, C. H. EISEMANN
dan P. WILADSEN. 1999. Pengembangan vaksin
myasis : deteksi in vitro respon kekebalan protektif
antigen protein peritrophic membrane, pelet dan
supernatan larva L1 lalat Chrysomya bezziana pada
domba. JITV. 4 (3) : 202 - 208
THOMSON, K. 2004. Goat Health And Management. Boer
Briefs: 1-2.
TOMASZEWSKA, M. W., I. M. MASTIKA., A.
DJAJANEGARA., S. GARDINER dan T. R. WIRADARYA.
1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia.
Sebelas Maret University Press. Surakarta.
URECH, R., GREEN, P. E., BROWN, G.W., SUKARSIH,
WARDHANA, A. H., TOZER, R.S. and SPRADBERY, J.P.
2001. Improvement to screwworm fly surveillance
traps. Report to AQIS. DPI Queensland.
WARDHANA, A. H., S. MUHARSINI dan SUHARDONO. 2003.
Koleksi dan kejadian myasis yang disebabkan
oleh Old World Screwworm Fly, Chrysomya
bezziana
di daerah endemis
di Indonesia.
Prossiding Seminar Nasional Teknologi dan
Veteriner.
WARDHANA, A. H dan SUKARSIH. 2004. Penggunaan
swormlure-2 (SL-2) dan hati sapi segar sebagai
pemikat lalat screwworm, Chrysomya bezziana.
Prossiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan
dan Veteriner. In press.
WESTLEY, J., H. ADLER., L. WESTLEY and C. NISHIDA.
1983. The Sulfurtransferases. Fund. Appl. Toxicol.
3: 377-382.

95