Anda di halaman 1dari 22

BAB I

STATUS PASIEN

1. PENDAHULUAN
Diare menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia adalah BAB lebih dari
3x sehari dengan tinja mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut
Ibu-ibu biasanya sudah tahu kapan anaknya menderita diare, mereka
biasanya mengatakan bahwa berak anaknya encer atau cair. Secara klinis
penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar, tetapi yang
sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan
infeksi dan keracunan Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui
faecal oral antara lain melalui makanan/minuman yang tercemar tinja
dan atau kontak langsung dengan tinja penderita
Di Indonesia penyakit diare masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama, dimana insidens diare pada tahun 2000
yaitu sebesar 301per 1000 penduduk, secara proporsional 55 % dari kejadian
diare terjadi pada golongan balita dengan episode diare balita sebesar 1,0
1,5 kali per tahun. Secara operasional diare balita dapat dibagi 2 klasifikasi,
yaitu yang pertama diare akut adalah diare yang ditandai dengan buang air
besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering
dari biasanya (3 kali atau lebih sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari,
dan yang kedua yaitu diare bermasalah yang terdiri dari disentri berat,
Beberapa hasil survei mendapatkan bahwa 76 % kematian diare terjadi pada
balita, 15,5 % kematian bayi dan 26,4 % kematian pada balita disebabkan
karena penyakit diare murni. Hasil Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas)
tahun 2002 mendapatkan prevalensi diare balita di perkotaan sebesar 3,3 %
dan di pedesaan sebesar 3,2 %, dengan angka kematian diare balita sebesar
23/ 100.000 penduduk pada laki-laki dan 24/100.000 penduduk pada
perempuan, dari data tersebut kita dapat mengukur berapa kerugian yang
ditimbulkan apabila pencegahan diare tidak dilakukan dengan semaksimal
mungkin dengan
mengantisipasi faktor risiko apa yang mempengaruhi terjadinya diare pada
balita.

2. IDENTITAS PASIEN
Nama
: An Andre Juniar Pranata
Umur
: 8 bulan ( 14 januari 2011 )
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat
: Jln Kanjuruhan no 23 lowokwaru
Agama
: islam
Suku
: Jawa
Tanggal periksa
: 3 Oktober 2011
3. ANAMNESA
KELUHAN UTAMA
Diare
KELUHAN PENYERTA
Demam, muntah, lemas
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dibawa ke UGD RSI hari minggu pagi jam 07.30
oleh orang tuanya dengan keluhan diare sejak semalam sebelumnya.
Menurut orang tuanya pasien ini sudah buang air besar 10 kali dalam
waktu semalam. Berak pasien tersebut cair seperti air berwarna
kekuningan tanpa disertai ampas kasar dengan jumlah yang sedikit
(kadang terlihat seperti cairan yang membasahi popok), selain diare
orangtua mengatakan bahwa sejak semalaman pasien demam dan
sempat dikompres dengan air dingin. Selain diare dan demam pasien
juga muntah cair berwarna putih sebanyak 3x dalam semalam sehingga
ketika pagi dibawa ke RSI pasien Nampak lemas. Sejak satu minggu
terakhir ibu memberikan asupan susu formula (SGM) yang
dikombinasikan dengan susu nutrilon soya
Pasien ini diare sejak semalam dengan konsistensi cair tetapi tanpa
darah maupun lendir dengan warna kekuningan. Selama semalam
orang tua tidak mengeluhkan pasien rewel dan gelisah hanya saja
ketika BAB atau pipis pasien terbangun dan menangis kemudian
setelah popok diganti dan dikompres dengan air dingin pasien tidur
kembali. Sebelum diare pasien ini adalah anak yang aktif dan tidak
pernah mengeluh ataupun rewel. Selama ini pasien tidak pernah
dirawat dirumah sakit, tetapi pasien sering mengalami demam, batuk
dan pilek namun sembuh ketika berobat di dokter ataupun bidan di
dekat rumahnya

Pasien diare dengan konsistensi cair tanpa disertai ampas kasar,


diare tanpa lendir dan darah. Buang air kecil pasien dalam batas

normal.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat dengue fever
: (-)
Riwayat demam tifoid
: (-)
Riwayat demam kejang
: (-)
Riwayat morbili
: (-)
Riwayat difteri
: (-)
Riwayat pertusis
: (-)
Riwayat parotitis
: (-)
Riwayat varicela
: (-)
Riwayat tetanus
: (-)
Riwayat malaria
; (-)
Riwayat asma
: (-)
Riwayat alergi obat & makanan
: (+) susu sapi
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat dengue fever
: (-)
Riwayat demam tifoid
: (-)
Riwayat hipertensi
: (-)
Riwayat penyakit jantung
: (-)
Riwayat DM
: (+) kakek
Riwayat tumor payudara
: (-)
Riwayat asma
: (-)
Riwayat alergi obat dan makanan
: (-)
RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN
Pasian An Adalah anak pertama dari kehamilan pertama pasangan
Tn. F dan Ny Y selama hamil ibu tidak pernah mengalami gangguan
kehamilannya seperti perdarahan atau nyeri pada perutnya. Ibu tidak
pernah mengalami sakit berat biasanya hanya batuk pilek biasa dan
diobati dengan obat toko yang dijual bebas. Keluhan yang paling
sering diderita Ny Y adalah mual terutama pada trimester pertama
tetapi sembuh sendiri
An.A lahir pada pada usia kehamilan 10 bulan (41 minggu) dengan
persalinan normal presentasi kepala yang dilakukan ditempat praktek
bidan disekitar rumahnya. Ketikadilahirkan berat pasien 2,3kg dengan
panjang 53cm setelah dilahirkan tidak ada keluhan dari ibu dan
pasien.

Sejak lahir pasien ini tidak mengkonsumsi ASI karena ibu tidak
mengeluarkan ASI. Sejak sebelum dan setelah melahirkan siklus
menstruasi Ny Y normal ( 28 hari ) dengan durasi rata-rata 5 hari
namun biasanya tidak telalu banyak. Setelah melahirkan Ny Y
memilih kontrasepsi KB suntik dan tidak ada keluhan dengan

kontrasepsinya.
RIWAYAT IMUNISASI
Ibu
: TT (-)
Anak : DPT (+)
BCG (+)
Polio (+)
Hepatitis B (+)
Campak (-)
RIWAYAT GIZI
An A tidak mengkonsumsi ASI sejak lahir dikarenakan ibu tidak
dapat menyusui. Pasien mengkonsumsi susu formula yang bebas
protein sapi (nutrilon soya) karena pasien ini alergi terhadap susu sapi.
Pasien ini biasanya minum susu 6x sehari. Sejak usia 4 bulan pasien
ini mulai mengkonsumsi makan yang dibuat sendiri terdiri dari nasi
sayur dan lauk ( ayam, daging, telur, ikan atau ati) yang dihaluskan
jadi satu. Pasien ini tidak mau makan bubur instan karena ketika
mengkonsumsi bubur instan pasien ini timbul bercak-bercak merah
dikulit. Pasien ini makan 2x sehari namun dalam jumlah sedikit 2

sendok makan.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien ini tidak pernah dirawat dirumah sakit. Selama ini yang
sering dikeluhkan pasien hanya panas, batuk dan pilek namun
langsung sembuh ketika dibawa ke bidan ataupun dr spesialis. Pasien

ini mempunyai alergi terhadap susu sapi.


RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Kedua orang tua pasien tidak pernah mengeluhkan penyakit yang
berat ibu pernah dirawat di RS ketika usia 18 th karena tipus. Kakek

dari keluarga ayah menderita diabetes


RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Sebagai anak pertama kedua orang tua sangat menyayangi An.A
sehingga kedua orang tuanya akan mengusahakan segala yang terbaik
untuk anaknya. selain itu kakek dan neneknya juga menyanyanginya

karena An A adalah cucu laki-laki satu-satunya. Dirumah An A tinggal


beserta kedua orang tuanya dan seorang nenek dari ibunya. Semua
anggota kelurga dirumah tersebut di tanggung oleh Tn. F yang bekerja
sebagai karyawan pabrik obat
4. ANAMNESA SISTEM
1.

Kulit

: warna kulit putih kecoklatan, pucat (+), kulit gatal


(-), turgor kulit (+)

2.

Kepala

: sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala rontok (-),


luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-),
cekungan ubun-ubun (-)

3.

Mata

: pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan


kabur (-/-), ketajaman penglihatan dalam batas normal,
cowong (+)

4.

Hidung

: tersumbat (-/-), mimisan (-/-)

5.

Telinga

: pendengaran berkurang (-/-), berdengung (-/-), keluar


cairan (-/-)

6.

Mulut

: sariawan (-) sering, mulut kering (-)

7.

Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)

8.

Pernafasan

9.

Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg ( -)

: sesak nafas (-), batuk berdahak (+)

10. Gastrointestinal :

mual (+), muntah (+), diare (-), nafsu makan

(+), nyeri perut (-), BAB 10x sehari cair


11. Genitourinaria : BAK 5 kali/hari, kencing malam hari (-) kali/hari,
kuning jernih nampak normal
12. Neurologik

: kejang (-) sering, lumpuh (-), kesemutan dan rasa


tebal pada kedua kaki (-)

13. Psikiatri

: emosi stabil, mudah marah (-)

14. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot
(-)
15. Ekstremitas atas : bengkak (-), sakit (-), telapak tangan pucat (-),
kebiruan (-), luka (-), telapak tangan pucat (-)

16. Ekstemitas bawah : bengkak (-), sakit (-), telapak tangan pucat (-),
kebiruan (-), luka (-), telapak tangan pucat (-)
5. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : tampak lemas dan pucat, compos mentis GCS (E4
V5 M6), gizi kesan buruk
Tanda Vital
BB
:
7,3 kg
TB
:
72 cm
BMI
:
Tensi
:
Nadi
:
110x/menit
Pernafasan
:18x/menit
Suhu
:
38,10c
Kulit
sawo matang, turgor baik (+) menurun, ikterik (-), sianosis (-), pucat

(+), spidernevi (-), petechie (-), eritem (-)


Kepala
Bentuk mesocephal , Luka (-), rambut rontok (-), makula (-), papula
(-), nodula (- ).
Mata
Conjunctiva anemis ( - / - ), sklera ikterik (- / -), warna kelopak (putih),
katarak (- / - ), strabismus (-/-)
Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-/-), deformitas hidung
(-/-), hiperpigmentasi (-)
Mulut
Bibir pucat (+), bibir kering (+), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-),
tepi lidah hiperemis (-), tremor (-).
Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal.
Tenggorokan
Tonsil membesar (-/-), pharing hiperemis (-).
Leher
lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe
(-), deviasi trakea (-), tortikolis (-)
Toraks
bentuk normal, simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi sela iga
(-) spidernevi (-), sela iga melebar (-), massa (-),kelainan kulit (-),
nyeri (-)
Cor

Inspeksi: ictus cordis tidak tampak


Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi Batas kiri atas : ICS II Linea para sternalis sinistra
Batas kanan atas : ICS II Linea para sternalis dekstra
Batas kiri bawah : ICS V mid clavicula line parasternalis
sinistra
Batas kanan bawah: ICS IV linea para sternalis dekstra
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-)
Suara tambahan jantung : (-)
Pulmo :
Statis (depan dan belakang)
Inspeksi: bentuk normal, simetris
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi
: suara dasar vesikuler
wheezing
ronki

Dinamis (depan dan belakang)


Inspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan dada kiri,irama
regular, otot bantu nafas (-), pola nafas abnormal (-), usaha bernafas
normal.

Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan


Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi
: suara dasar vesikuler
wheezing
ronki

Abdomen :
Inspeksi : datar/sejajar dinding dada, venektasi (-), massa (-), bekas
Palpasi

jahitan (-)
: nyeri epigastrium (-), hepar dan lien tdk teraba, turgor

baik, massa (-), asites (-)


Perkusi : timpani seluruh lapangan perut
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Ekstremitas : palmar eritem (-)
Akral dingin
-

Oedem
-

Pemeriksaan Neurologik
Kesadaran
: kompos mentis GCS (E4 V5

M6)
Fungsi luhur
:Fungsi Vegetatif : Pemeriksaan Psikiatrik ( tidak dilakukan )
Penampilan
:
Kesadaran
:
Afek
:
Psikomotor
:
Proses pikir
:
bentuk
:
isi
:
arus
:
Insight
:
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan
DD

: Gastroenteritis akut
Gastroenteritis kronik
Disentri
Kolera
Demam Thypoid

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah lengkap
Hb

: 11,1 g/dL

Leukosit

: 11.200 L

LED

:-

Trombosit

: 298.000 L

Ht

: 39,4 %

Eritrosit

: 5,47 juta/mm3

6. RESUME

Pasien datang dibawa ke UGD RSI hari minggu pagi jam 07.30 oleh
orang tuanya dengan keluhan diare sejak semalam sebelumnya. Menurut
orang tuanya pasien ini sudah buang air besar 10 kali dalam waktu
semalam. Berak pasien tersebut cair seperti air berwarna kekuningan tanpa
disertai ampas kasar dengan jumlah yang sedikit (kadang terlihat seperti
cairan yang membasahi popok), selain diare orangtua mengutarakan bahwa
sejak semalaman pasien demam dan sempat dikompres dengan air dingin.
Selain diare dan demam pasien pasien juga muntah cair berwarna putih
sebanyak 3x dalam semalam sehingga ketika pagi dibawa keRSI pasien
Nampak lemas. Sejak satu minggu terahir ibu memberikan asupan susu
formula (SGM) yang dikombinasikan dengan susu nutrilon soya
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium didaapatkan peningkatan
jumlah leukosit (lekositosis)
7. DIAGNOSA HOLISTIK
Biologis
gastroenteritis akut et causa intoleransi lactosa
Psikologis
Anak A adalah anak pertama sehingga segala sesuatu yang
menyangkut kondisi dan kebutuhan pasien tersebut akan segera dipenuhi
oleh kedua orang tuanya
Social
Pasien hanya sebagai anggota masyarakat biasa di lingkungannya.
Kondisi lingkungan kurang sehat
8. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Terapi cairan infuse Dekstrosa (D-5)
Injeksi glosef 2x1 IV
Neokaolana sirup 3x1cth
Indikasi pencegahan asimtomatik nonspesifik
Kontra indikasi konstipasi dan obstruksi usus
Lacto-B 2x1 sachet
Indikasi pegobatan diare pada pasien intoleransi laktosa
Non Medikamentosa
Memberikan informasi Orang tua untuk mengkonsisikan pasien

banyak istirahat/tirah baring


Orang tua Pasien disarankaan banyak memberikan asupan minuman
Orang tua pasien disarankan tidak memberikan susu yang tidak
mengandung protein sapi

Orang tua disarankan memberikan makanan yang diproses secara

higienis
Orang tua lebih menjaga aktifitas anak dan memberikan pengawasan
terhadap makanan yang dikonsumsi pasien
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

9. FOLLOW UP
Tanggal 2 Oktober 2011
S
: diare, demam, muntah dan lemas
O
: KU baik, compos mentis, gizi kesan kurang
Tanda vital: T: RR: 18 x/menit
N: 110 x/menit
S: 38,1oC
A
: diare akut
P
: Infus D-5, inj glosef, neokolat sirup 3x1, lacto-B
Edukasi kelurga
Tanggal 3 Oktober 2011
S
: diare, demam, muntah dan lemas
O
: KU baik, compos mentis, gizi kesan kurang
Tanda vital: T: RR: 18 x/menit
N: 90 x/menit
S: 37,7oC
A
: diare akut
P
: Infus D-5, inj glosef, neokolat sirup 3x1, lacto-B Edukasi kelurga
Tanggal 4 Oktober 2011
S
: diare, demam, muntah dan lemas
O
: KU baik, compos mentis, gizi kesan kurang
Tanda vital: T: RR: 18 x/menit
N: 100x/menit
S: 37,8oC
A
: diare akut
P
: Infus D-5, neokolat sirup 3x1, lacto-B Edukasi kelurga
Tanggal 5 Oktober 2011
S
: diare, demam, muntah dan lemas
O
: KU baik, compos mentis, gizi kesan kurang
Tanda vital: T: RR: 18 x/menit
N: 110 x/menit
S: 37,7oC
A
: diare akut
P
: Infus D-5, neokolat sirup 3x1, lacto-B Edukasi kelurga
10. FLOW SHEET

NO
1

Tanggal
2/10/2011

Vital Sign
07.30

T:
N:110
S: 38,1

BB/TB
7,3/72

BMI
(kg/m
2)

Status
Lokali
s

Keluhan
Diare,
demam,
muntah,

Rencana
Infus D-5, inj
glosef, neokolat

Rr: 18
12.00

lemas

dan Edukasi

T:
N:100
S: 38
Rr: 18

18.00

T:
N:100
S: 38,1
Rr: 18

06.00

T:
N: 90
S: 37,7
Rr:18

sirup 3x1, lacto-B


keluarga

7,3/72

Diare,
demam,
muntah,
lemas

Infus D-5, inj


glosef, neokolat
sirup 3x1, lacto-B
dan Edukasi

12.00

T:
N: 88
S: 37,9
Rr:18

18.00

T:
N: 96
S: 37,9
Rr:20

06.00

T:
N: 100
S: 37,7
Rr:18

12.00

T:
N: 110
S: 37,9
Rr:20

18.00

T:
N: 96
S: 37,7
Rr:18

06.00

T:
N: 96
S: 37,7
Rr:18

3/10/2011

4/10/2011

5/10/2011

12.00

18.00

T:
N:
S:
Rr:
T:
N:

keluarga

7,3/72

Diare,
demam,
muntah,
lemas

Infus D-5, neokolat


sirup 3x1, lacto-B
dan Edukasi
keluarga

7,3/72

Pasien
diijinkan
pulang

Pasien diijinkan
pulang dan Edukasi
keluarga

S:
Rr:
5

BAB II
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA
1.

FUNGSI HOLISTIK
Fungsi Biologis
Keluarga An. A terdiri dari suami dan istri (Tn. F dan Ny. y) An. A
adalah anak pertama dalam keluarga tersebut. An.A sebagai pasien diare
akut sebelumnya pernah menderita diare namun tidak pernah dirawat

rumah sakit dan hanya diperiksa di praktek bidan dan dokter


Fungsi Psikologis
Sebagai keluarga baru hubungan antara kedua orang tua dan An. A saling
menyayangi, saling mendukung dan saling memperhatikan

Fungsi sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, An.A dan keluarga hanya sebagai anggota
masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam
masyarakat. Dalam kehidupan sosial Au.A dan keluarga cukup berperan

aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.


Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Penghasilan sehari-hari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seharihari. Namun bila kebutuhan banyak biasanya mereka berhutang.
Kesimpulan
Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik keluarga kesimpulannya
adalah An. A umur 8bln dengan diagnose diare akut, fungsi psikologis dan
2.

fungsi sosial ekonomi cukup baik.


FUNGSI FISIOLOGIS DENGAN ALAT APGAR
SCORE
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score
adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut
pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota
keluarga yang lain. APGAR score meliputi :
1. Adaptasi
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota
keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota
keluarga yang lain.
2. Partnership
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara
anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga
tersebut.
3. Growth
Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan
anggota keluarga tersebut.
4. Affection
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota
keluarga.
5. Resolve

Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan


waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Terdapat tiga kategori penilaian yaitu: nilai rata-rata 5 kurang, 6-7 cukup
dan 8-10 adalah baik.
APGAR score Tn F=9
APGAR
asrama

sdr D

Terhadap Teman-teman Sering


/selalu

Kadangkadang

Jarang/
Tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke


keluarga saya bila saya menghadapi masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya


membahas dan membagi masalah dengan
saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya


menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga
saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan


saya membagi waktu bersama-sama

Untuk Sdr. D APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :


Adaptation

: Dalam menghadapi masalah hidup, Tn F selalu

mendapat dukungan dari keluarganya Score : 2


Partnership : Komunikasi antara Tn F dengan keluarganya terjalin
baik. Mereka sering saling memberi perhatian, masukan, dan bantuan jika ada
yang terkena masalah. Score : 2
Growth : Tn F kadang berdiskusi bersama kelurganya untuk
menentukan keputusan Score : 1

Affection : Kasih sayang yang terjalin antara anggota keluarga terjalin


baik Score : 2
Resolve : Tn F sering kumpul, makan, dan jalan bareng dengan
kelurganya Score : 2
APGAR score Ny Y=10
APGAR
asrama

sdr D

Terhadap Teman-teman Sering


/selalu

Kadangkadang

Jarang/
Tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke


keluarga saya bila saya menghadapi masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya


membahas dan membagi masalah dengan
saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya


menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga


saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan


saya membagi waktu bersama-sama

Untuk Sdr. D APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :


Adaptation

: Dalam menghadapi masalah hidup, Ny. Y selalu

mendapat dukungan dari keluarganya Score : 2


Partnership : Komunikasi antara Ny Y dengan keluarganya terjalin
baik. Mereka sering saling memberi perhatian, masukan, dan bantuan jika ada
yang terkena masalah. Score : 2
Growth : Ny Y sering berdiskusi bersama kelurganya untuk
menentukan keputusan Score : 2

Affection : Kasih sayang yang terjalin antara anggota keluarga terjalin


baik Score : 2
Resolve : Ny. Y sering kumpul, makan, dan jalan bareng dengan
kelurganya Score : 2
APGAR score Ny Y=7
APGAR
asrama

sdr D

Terhadap Teman-teman Sering


/selalu

Kadangkadang

Jarang/
Tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke


keluarga saya bila saya menghadapi masalah
P

Saya puas dengan cara keluarga saya


membahas dan membagi masalah dengan
saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya


menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga
saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan


saya membagi waktu bersama-sama

Untuk Sdr. D APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :


Adaptation

: Dalam menghadapi masalah hidup, Ny. Y kadang

mendapat dukungan dari keluarganya Score : 1


Partnership : Komunikasi antara Ny Y dengan keluarganya terjalin
baik. Mereka sering saling memberi perhatian, masukan, dan bantuan jika ada
yang terkena masalah. Score :2
Growth : Ny Y jarang berdiskusi bersama kelurganya untuk
menentukan keputusan Score : 1

Affection : Kasih sayang yang terjalin antara anggota keluarga terjalin


baik Score : 2
Resolve : kadang-kadang merasa kurang dioerhatikan oleh keluarganya
Score : 1
APGAR score Tn J= 7
APGAR
asrama

sdr D

Terhadap Teman-teman Sering


/selalu

Kadangkadang

Jarang/
Tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke


keluarga saya bila saya menghadapi masalah
P

Saya puas dengan cara keluarga saya


membahas dan membagi masalah dengan
saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya


menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga
saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan


saya membagi waktu bersama-sama

Untuk Sdr. D APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :


Adaptation

: Dalam menghadapi masalah hidup, Tn J kadang

mendapat dukungan dari keluarganya Score : 1


Partnership : Komunikasi antara Tn J dengan keluarganya terjalin baik.
Mereka sering saling memberi perhatian, masukan, dan bantuan jika ada yang
terkena masalah. Score :2
Growth : Tn j jarang berdiskusi bersama kelurganya untuk menentukan
keputusan Score : 1

Affection : Kasih sayang yang terjalin antara anggota keluarga terjalin


baik Score : 2
Resolve : kadang-kadang merasa kurang diperhatikan oleh keluarganya
Score : 1
APGAR score keluarga kos terhadap An A= (9+10+7) : 4 = 8
Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga kos An.A cukup baik.
3. FUNGSI PATOLOGIS DENGAN ALAT SCREEM
Fungsi patologis dari keluarga An. A dinilai dengan menggunakan alat
S.C.R.E.E.M sebagai berikut.
SCREEM keluarga penderita
Sumber

Patologis

Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya

Menggunakan adat istiadat Jawa dalm kehidupan sehari-ari

Economic

Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam


ketaatannya dalam beribadah.
Penghasilan keluarga relatif cukup

Educational

Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini kurang karena


lulus SMP

Social
Culture
Religious

Medical
Kesimpulan

Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga kos An. U pergi ke


Rumah Sakit atau Balai Pengobatan

Keluarga An. A tidak memiliki fungsi patologi


4. INFORMASI POLA INTERAKSI
An A

Tn F

Tn J

Ny. Y

Keterangan
= interaksi baik
= interaksi buruk

Ny Y

Kesimpulan
Hubungan antara An A dengan semua anggota keluarga baik.

BAB III
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR KELUARGA YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN
1. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU
Faktor perilaku keluarga
Keluarga memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan
dengan tingkat pendidikan terahir SMA. Mereka mengetahui bahwa
penyakit yang diderita oleh An.A bisa berasal dari makanan atau
lingkungan yang kotor. Orang tua juga mengerti kondisi anak yang
memiliki alergi terhadap susu sapi Mereka mengetahui bahwa perilaku
anak yang kurang sehat juga dapat menyebabkan sakit. Perilaku An.A
sendiri yang mungkin bermain di tempat-temapat yang berpotensi
menularkan penyakit.
Keluarga An.A perduli dengan anggota keluarga yang sedang
sakit, sehingga bila ada anggota keluarga yang sakit mereka segera

periksa ke tempat pelayanan kesehatan


Faktor non perilaku keluarga
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga
cukup. Rumah yang dihuni oleh keluarga ini di pinggir jalan tapi agak
menjorok ke dalam, berhimpitan dengan rumah tetangga. Luas bangunan
yang sempit, pencahayaan kurang, dapur dekat dengan tempat memasak
membuat rumah ini masih ada kekurangan dalam pemenuhan standar. Air
yang digunakan cukup bersih, namun barang-barang dalam runagan
kurang tertata rapi.

Pelayanan kesehatan seperti praktek dokter, bidan cukup dekat


dengan rumah keluarga ini.

Pengetahuan
Keluarga cukup
memahami penyakit
penderita

Sikap
Keperdulian terhadap
sakit penderita

Tindakan
Keluarga kos
mengantarkan ke RS

lingkungan kurang
memenuhi syarat kes

Sdr.D

Tidak Memiliki penyakit


keturunan

Bila sakit berobat ke


dokter praktek/RS

Ket:

: Faktor Perilaku
: Faktor Non-perilaku

2. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah
tetangganya. Tidak memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas.
Terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga sekaligus dengan ruang makan
3 kamar, satu dapur, dan 1 kamar mandi. Pintu masuk dan keluar ada
satu. Pintu samping berbatasan dengan rumah tetangga. 1kamar depan
memiliki 1 jendela dan 2 buah ventilasi 2 kamar lainya tidak memiliki
jendela dan hanya memiliki 3 ventilasi sehingga sirkulasi udara tidak
lancer, pengap dan lembab, jika siang hari sinar matahari masih bisa
masuk karena penggunaan genteng dari kaca. Lantai rumah, kamar
mandi cukup bersih. Menggunakan kerami. Rumah keluarga ini
memiliki dinding yang sudah permanen dari batu-bata disemen dan
dicat tetapi pada bagian tertentu karena kondiisi yang lembab ditutupi

dengan perlak. Tidak ada tempat pembuangan limbah khusus, saluran


air tampak kotor. Air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan

sehari-hari menggunakan PDAM.


Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan termasuk praktek dokter, apotek dan sebagainya
tergolong dekat dengan rumah An. a. Jika salah satu anggota kos ada
yang yang sakit biasanya pergi berobat ke dokter praktek. Dan bila
dirasa sakitnya parah mereka membawa ke RS untuk mendapatkan

perawatan yang lebih baik.


Denah rumah An. A

BAB IV
DAFTAR MASALAH
1.
2.
3.
4.

MASALAH MEDIS
MASALAH NON MEDIS
DIAGRAM PERMASALAHAN KELUARGA
MATRIKULASI MASALAH

BAB V
HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP KESEHATAN
ANAK