Anda di halaman 1dari 9

STANDAR PROFESI AHLI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah etika profesi

Oleh :
Kelompok 6
Aditya Utami Putri
Fuzi Fauziah Alfiany
Indah Andrini
Risa Y. Rinjani
Rivan Apriansa N
Kelas : IIIA

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
CIMAHI
2015

Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik


Teknologi Laboratorium Medis (TLM) atau Analis Kesehatan adalah profesi yang
bekerja pada sarana kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan,
pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia
atau bahan bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab
penyakit, kondisi kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada
kesehatan perorangan dan masyarakat.
Sedangkan menurut KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200, Analis
Kesehatan atau disebut juga Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah
tenaga kesehatan dan ilmuan berketerampilan tinggi yang melaksanakan dan
mengevaluasi prosedur laboratorium dengan memanfaatkan berbagai sumber
daya.
Sarana kesehatan ini berbentuk Laboratorium Kesehatan seperti Laboratorium
Patologi Klinik yang memeriksa sampel berupa cairan-cairan tubuh manusia
seperti darah, sputum, faeces, urine, liquor cerebro spinalis (cairan otak), dan lainlain untuk mendapatkan data atau hasil sebagai penegakan diagnosa terhadap
suatu penyakit. Cakupannya juga luas meliputi pemeriksaan mikrobiologi
(bakteri), parasitologi (fungi, protozoa, cacing), hematologi (sel-sel darah serta
plasma), imunologi (antigen, antibodi), kimia klinik (hormon, enzim, glukosa,
lipid, protein, elektrolit, dll).
Di Indonesia memang lebih sering dikenal dengan istilah Analis Kesehatan,
sedangkan dunia internasional menggunakan istilah Ahli Teknologi Laboratorium
Kesehatan.
Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pasal 50
penjelasan menyatakan bahwa : Yang dimaksud dengan standar profesi adalah
batasan kemampuan ( knowledge, skill and professional attitude ) minimal yang
harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan
profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi
profesi.
Standar Profesi
Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia adalah suatu
standar bagi profesi ahli teknologi laboratorium kesehatan di Indonesia dalam
menjalankan tugas profesinya untuk berperan secara aktif terarah dan terpadu bagi
pembangunan nasional Indonesia.

Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia mencakup


standar kompetensi kerja yang harus dimiliki dan kode etik yang harus
dilaksanakan oleh ahli teknologi laboratorium kesehatan Indonesia dalam
menjalankan tugas-tugasnya sebagai tenaga kesehatan.
Kualifikasi pendidikan untuk Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan
Indonesia adalah lulusan Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) atau
Akademi Analis Kesehatan (AAK) atau Akademi Analis Medis (AAM), atau
Pendidikan Ahli Madya Analis Kesehatan (PAM-AK) atau lulusan Pendidikan
Tinggi yang berkaitan langsung dengan laboratorium kesehatan.
Secara umum, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi
antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang
tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan
dievaluasi.
Yang dimaksud dengan kompetensi adalah : seperangkat tindakan cerdas, penuh
tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu
oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Kompetensi profesional didapatkan melalui pendidikan, pelatihan dan
pemagangan dalam periode yang lama dan cukup sulit, pembelajarannya
dirancang cermat dan dilaksanakan secara ketat, dan diakhiri dengan ujian
sertifikasi (Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti
Pendidikan Tinggi).
Standar Kompetensi
Standar Kompetensi adalah pernyataan yang menguraikan keterampilan dan
pengetahuan yang harus dilakukan saat bekerja serta penerapannya, sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan oleh tempat kerja (industri).
Dimensi Kompetensi
1. Mampu melakukan tugas per tugas (task skills). Contoh : Mampu
melakukan pengambilan sampel dan memindahkan biakan secara aseptik.
2. Mampu mengelola sejumlah tugas yang berbeda dalam melaksanakan
pekerjaan (task management skills). Contoh : Mampu melakukan
pengambilan sampel dan memindahkan biakan secara aseptik.
3. Mampu menanggapi kelainan dan kerusakan dalam pekerjaan sehari-hari
(contingency management skills). Contoh : Sedang memindahkan biakan,
gas habis. Menggunakan lampu spiritus untuk sterilisasi ose.

4. Mampu mengahadapi tanggung jawab dan harapan dari lingkungan kerja


termasuk bekerjasama dengan orang lain (Job role Environment Skills).
Contoh : Biakan tumpah, menangani tumpahan (didisinfeksi) sehingga
tidak membahayakan dirinya dan orang lain / lingkungan.
5. Mampu mentransfer kompetensi yang dimiliki dalam setiap situasi yang
berbeda /situasi yang baru/ tempat kerja yang baru (transfer
skills/adaptation skills). Contoh : Memindahkan biakan bakteri dalam
safety cabinet.
Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi
1. Dasar pemberian rekomendasi kewenangan pelayanan bagi tenaga
kesehatan.
2. Dasar pelaksanaan uji kompetensi tenaga kesehatan.
3. Jembatan kesenjangan antara kurikulum pendidikan dengan implementasi
kewenangan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan.
4. Pedoman CPD (Continuing Profesional Development) bagi organisasi
profesi.
5. Sebagai salah satu alat untuk skrining tenaga kesehatan asing yang akan
beri pelayanan kesehatan
Standar Kompetensi Analis Kesehatan
1. Ilmu pengetahuan yang melatarbelakangi dan berkaitan dengan fungsinya
di laboratorium kesehatan
2. Kemampuan untuk merancang proses teknik operasional
o Dapat merancang alur kerja pengujian/pemeriksaan mulai tahap
pra analitik, analitik, sampai dengan paska analitik.
o Membuat SOP, Manual Mutu, indikator kinerja dan proses analisis
yang akan digunakan.
3. Kemampuan melaksanakan proses teknik operasional.
o Melakukan pengambilan spesimen :pengetahuan persiapan pasien
o Penilaian terhadap spesimen (memenuhi syarat atau tidak).

o Pelabelan, pengawetan,
pengiriman

fiksasi,

pemrosesan,

penyimpanan,

o Dapat melakukan pemilihan alat, alat bantu, metode, reagent untuk


pemeriksaan atau analisa tertentu.
o Dapat mengerjakan prosedur laboratorium
o Dapat memahami cara kerja dan menggunakan peralatan dalam
proses teknis operasional
o Mengetahui cara-cara kalibrasi dan cara menguji kelaikan alat
o Dapat memelihara alat dan menjaga kinerja alat tetap baik
4. Kemampuan untuk memberikan penilaian (judgement) hasil proses teknik
operasioanl.
o Mampu menilai layak dan tidak hasil pemeriksaan, pemantapan
mutu yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan proses
selanjutnya
o Mampu menilai proses pemeriksaan atau rangkaian pemeriksaan.
Diterima tidaknya suatu hasil atau rangkaian hasil pemeriksaan
5. Kemampuan komunikasi dengan pelanggan atau pemakai jasa, seperti
pasien, klinisi, mitra kerja, dll.
6. Mampu mendeteksi secara dini :
o munculnya penyimpangan dalam proses operasional
o terjadinya kerusakan media, reagent alat yang digunakan atau
lingkungan pemeriksaan
o mampu menilai validitas (kesahihan) suatu hasil pemeriksaan atau
rangkaian hasil pemeriksaan
7. Kemampuan untuk melakukan koreksi atau penyesaian terhadap masalah
teknis operasional yang muncul.
8. Kemampuan menjaga keselamatan kerja dan lingkungan kerja
9. Kemampuan administrasi

Tugas Pokok
Analis Kesehatan atau ahli teknologi laboratorium medik bertugas melaksanakan
pelayanan laboratorium kesehatan meliputi bidang hematologi, kimia klinik,
mikrobiologi, imunoserologi, patologi anatomi (histology, histopatologi,
imunopatologi, histokimia), toksikologi, kimia lingkungan, biologi dan fisika. Di
dalam pelayanan laboratorium, Analis Kesehatan melakukan pengujian/analisis
terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan bukan berasal dari manusia
yang tujuannya adalah menentukan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi
kesehatan dan faktor yang berpengaruh pada kesehatan perorangan atau
masyarakat
Etika profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik memiliki tiga dimensi utama,
yaitu :
a. Keahlian (pengetahuan, nalar atau kemampuan dalam asosiasi dan terlatih)
b. Keterampilan dalam komunikasi (baik verbal & non verbal)
c. Profesionalisme (tahu apa yang harus dilakukan dan yang sebaiknya
dilakukan)
Hak dan Kewajiban Ahli Teknologi Laboratorium Medik
1. Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses spesimen
2. Melaksanakan uji analitik terhadap reagen maupun terhadap spesimen,
yang berkisar dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.
3. Mengoperasikan dan memelihara perlatan lab dari yang sederhana s/d yang
canggih
4. Mengevaluasi data lab untuk memastikan akurasi dan keabsahan,
mengkonfirmasi hasil abnormal, melaksanakan prosedur pengendalian
mutu dan mengembangkan pemecahan masalah yang berkaitan dengan data
hasil uji
5. Mengevaluasi teknik, instrumen dan prosedur baru untuk menentukan
manfaat dan kepraktisannya
6. Membantu klinisi dalam pemanfaatn yang benar dari data leb untuk
memastikan seleksi yang efektif dan efisien terhadap uji lab dalam
menginterpretasi hasil uji
7. Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan
laboratorium
8. Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalm bidang teknis
kelaboratoriuman
9. Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium
kesehatan

Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang Ahli Teknologi Laboratorium


Medik
1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fungsinya di laboratorium
kesehatan
2. Keterampilan dan pengetahuan dalam pengambilan spesimen, termasuk
penyiapan pasien (bila diperlukan), labeling, penanganan, pengawetan,
atau fiksasi, pemrosesan, penyimpanan dan pengiriman spesimen
3. Keterampilan dalam mengerjakan prosedur laboratorium
4. Keterampilan dalam melaksanakan metode pengujian dan pemakaian alat
yang benar
5. Keterampilan dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan alat,
kalibrasi, dan penanganan masalah yang berkaitan dengan uji yang
dilakukan
6. Keterampilan dalam pembuatan dan uji kualitas media serta reagen untuk
pemeriksaan laboratorium
7. Pengetahuan untuk melaksanakan kebijakan pengendalian mutu dan
prosedur laboratorium
8. Kewaspadaan terhadap faktor yg mempengaruhi hasil uji
9. Keterampilan dalam mengakses dan menguji keabsahan hasil uji melalui
evaluasi mutu spesimen, sebelum melaporkan hasil uji
10. Keterampilan dalam menginterpretasi hasil uji
11. Kemampuan merencanakan kegiatan laboratorium sesuai dengan
jenjangnya

Etika Menghadapi Seorang Pasien


1. Bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan
pelayanan kepada pasien / pemakai jasa secara profesional.
2. Menjaga kerahasiaan informasi dan hasil pemeriksaan pasien / pemakai
jasa, serta hanya memberikan kepada pihak yang berhak..
3. Dapat berkonsultasi / merujuk kepada teman sejawat atau pihak yang lebih
ahli untuk mendapatkan hasil yang akurat.
4. menghadapi pasien dengan ekspresi muka (smile).
5. menghindari sebuah konflik dengan pasien
6. memiliki karakter yang lembut

7. menghargai lawan bicara


8. menjaga kepercayaan dan rahasia - rahasia pasien
9. memberikan informasi yang baik
10. menjaga rahasia dan menyimpan kondisi - kondisi pasien yang di
hadapi
11. mengontol jarak dengan pasien
12. intonasi suara yang jelas
13. rileks
Profesionalisme Ahli Teknologi Laboratorium Medik
1. Tangibles (bukti langsung dan nyata) meliputi kemampuan hasil
pengujian, dapat menunjukkan konsep derajat kesehatan pada diri sendiri
2. Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang
dijanjikan dengan segera dan memuaskan
3. Responsiveness (daya tanggap), yaitu tanggap dalam memberikan
pelayanan yang baik terhadap pemakai jasa (pasien, klinisi, dan profesi
lain)
4. Assurance (jaminan), mencakup kemampuan, kesopanan, sifat dapat
dipercaya yang dimiliki Analis Kesehatan dan bebas dari risiko bahaya
atau keragu-raguan
5. Emphaty (empati) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pemakai jasa (pasien,
klinisi, dan profesi lain)

DAFTAR PUSTAKA

Riswanto.

2010. Standar Kompetensi Analis Kesehatan. Tersedia:


[http://labkesehatan.blogspot.co.id/2010/02/standar-kompetensianalis-kesehatan_05.html], diakses pada: Sabtu, 26 September 2015

Isnaini,

Fika Kurnia. 2015. Teknologi Laboratorium Medis. Tersedia:


[https://fikakurniaisnaini.wordpress.com/2015/03/05/teknologilaboratorium-medis-tlm/], diakses pada: Senin, 28 September 2015

Cinta,

Surga. 2013. Etika Profesi Analis Kesehatan. Tersedia:


[http://kuliahanaliskesehatan.blogspot.co.id/2013/06/etika-profesianalis-kesehatan.html], diakses pada: Senin, 21 September 2015

Sanjaya, Surya. Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia.


Tersedia: [http://www.kompasiana.com/suryasanjaya/persatuan-ahliteknologi-laboratorium-kesehatan-indonesiapatelki_54f74f2aa33311492e8b4596], diakses pada: Senin, 28
September 2015