Anda di halaman 1dari 8

SMART ENVIRONMENTAL PARK (SEP): MODEL TAMAN

SANITASI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI


WAHANA EDUKASI LINGKUNGAN DI PERMUKIMAN
PERKOTAAN
Penjelasan Singkat Ide
Ide ini merupakan suatu project taman yang memanfaatkan air
limbah dari permukiman warga yang diolah melalui IPAL dan hasil olahan
tersebut dapat kembali digunakan masyarakat untuk menyiram tanaman
atau mencuci kendaraan sehingga dapat menghemat penggunaan air dan
mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan air limbah.
Peletakkan IPAL ini diletakkan dibawah RTH taman dikarenakan
meminimalkan penggunaan lahan. Realisasi Smart Environmental Park ini
bisa melalui kerjasama beberapa pihak yaitu pemerintah, swasta, dan
masyarakat. Pihak-pihak tersebut saling diuntungkan satu sama lain.
Pemerintah dapat mencapai target 30% RTH perkotaan, swasta dapat
menyelenggarakan tanggung jawab sosialnya, dan masyarakat dapat
berperan aktif dan memiliki sarana taman. Dengan adanya SEP ini
lingkungan dan masyarakat bisa diuntungkan. Dampak pada lingkungan
yaitu sebagai solusi masalah perkotaan terutama untuk kebutuhan air,
pencemaran lingkungan. Selain itu juga bermanfaat untuk masyarakat
sebagai tempat berkumpul, bermain, istirahat dan sebagai wahana
edukasi mengenai pengolahan air limbah dan pengolahan sampah.

Latar Belakang Masalah


Daerah perkotaan di Indonesia sebagian besar memiliki berbagai
masalah lingkungan dan permukiman, terutama masalah sanitasi dan
ruang terbuka hijau (RTH). Seringkali kota metropolitan di Indonesia tidak
memiliki lahan yang cukup untuk memenuhi persyaratan RTH sebesar
30% (Peraturan Menteri PU no.5/PRT/M/2008). Padatnya permukiman
membuat masalah sanitasi terabaikan karena sebagian besar warga kota
lebih mementingkan aspek ekonomi dibandingkan kepedulian terhadap
aspek lingkungan. Tingkat pertambahan penduduk yang tinggi di sebagian
perkotaan di Indonesia akibat arus urbanisasi ini menimbulkan tekanan
pada lingkungan hidup yang semakin lama semakin berat, dan salah
satunya adalah meningkatnya kebutuhan air untuk keperluan domestik
rumah tangga, permukiman, perkantoran, hotel, dan juga Industri.
Disisi lain, air yang sudah digunakan oleh masyarakat pada wilayah
permukiman perkotaan biasanya langsung dibuang begitu saja atau
hanya dialirkan dulu ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), baik IPAL
individu maupun IPAL komunal yang pada akhirnya juga akan dibuang ke
sungai. Padahal, hasil akhir filtrasi air limbah dapat dimanfaatkan kembali
(water recycle) untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat perkotaan.
Oleh karena itu diperlukan sebuah solusi untuk mengatasi masalah
perkotaan seperti sanitasi, kurangnya RTH dan rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap lingkungan dengan sebuah konsep taman sanitasi

terpadu berbasis masyarakat yang menjadikan Taman sebagai tempat


semua solusi lingkungan perkotaan. Salah satunya dengan membuat IPAL
komunal sebagai edukasi sanitasi untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat pentingnya menjaga lingkungan.

Ide Solusi Atas Masalah


Teknologi baru yang akan digunakan dalam sistem sanitasi di
permukiman kota dengan memanfaatkan limbah black water yaitu akan
dibuat sebuah inovasi IPAL yang menerapkan kosep penggunaan kembali
air hasil filtrasi dari IPAL. Hasil dari air ini akan digunakan untuk
menyirami tanaman di Ruang Terbuka Hijau yang berada di permukiman
kota. Air hasil proses penolahan IPAL dapat dimanfaatkan untuk mencuci
kendaraan tetapi tidak diperuntukkan untuk air konsumsi.
Rencana pembangunan inovasi IPAL ini bertujuan untuk mengolah
hasil limbah greywater dan blackwater sehingga pembuangan limbah cair
tidak langsung disalurkan ke sungai serta tidak mencemari air sungai.
Pada pembangunan sebuah IPAL sebelumnya harus direncanakan dengan
pembuatan bak pengumpul air limbah. Bak pengumpul air limbah ini
diasumsikan untuk setiap 4 rumah direncanakan satu bak pengumpul. Hal
ini dapat meningkatkan efesisensi penggunaan lahan, Berikut merupakan
alur pembangunan IPAL domestic di permukiman kota.

Gambar 1. Alur Perencanaan IPAL Domestik


Langkah utama pembuatan IPAL adalah menentukan jumlah
penggunanya. Jumlah pengguna dapat mempresentasikan
jumlah
kebutuhan dan penentuan lokasi pembuatan bak pengumpul. Pembuatan
konstruksi IPAL didasarkan pada buku Teknis Prasarana dan Sarana
Pengelolaan Air Limbah oleh Dirjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan
Umum tahun 2006. Hasil dari filtrasi air pengolahan IPAL akan disalurkan
ke pipa-pipa yang menghubungkan antar rumah untuk dimanfaatkan
masyarakat sebagai media penyiraman tanaman di RTH, mencuci
kendaraan, dan tidak diperkenankan untuk air konsumsi. Dana pembuatan
IPAL ini dapat diperoleh dari Program Sanimas yang bekerja sama dengan
pemerintah yang memanfaatkan partisipasi masyarakat dalam program
tersebut. Program ini melibatkan masyarakat mulai dari pelatihan,
perawatan, dan pengelolaan IPAL. Rencana pelatihan dilakukan ketika IPAL
masih dalam pra operasional dan pasca operasional sehingga masyarakat
dapat mengetahui visual bagian dalam IPAL serta mampu mengelolanya
secara mandiri.
Proteksi IPAL yang dibangun pada kawasan pemukiman, khususnya
yang sering terkena bencana banjir, dilakukan pembangunan sumur
resapan disekitar IPAL. Sumur resapan berfungsi untuk pencegahan
terhadap aliran permukaan atau runof yang berada di sekitar IPAL,
sehingga tidak mengganggu dalam sistem kinerja IPAL. Sumur ini akan
menyalurkan aliran permukaan atau genangan untuk menyuplai airtanah,

sehingga selain berfungsi untuk proteksi terhadap IPAL juga bermanfaat


untuk penyuplai airtanah. Namun demikian, sumur resapan ini akan
berfungsi maksimal pada wilayah yang memiliki permukaan airtanah yang
dalam. Konsep dari sumur resapan ini, dapat memperbaharui airtanah
atau sebagai reservoir.
Model dari permukiman yang berkelanjutan dapat dilihat pada
desain dibawah ini. Desain permukiman berkelanjutan ini dirancang
dengan adanya desain IPAL yang terletak dibawah taman atau RTH. Air
olahan limbah digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan
disalurkan melalui pipa-pipa yang terhubung ke permukiman dan
dimanfaatkan sebagai air untuk mencuci kendaraan bermotor.

Gambar 2. Konsep Gagasan Smart Environmental Park

Gambar 3. IPAL
Beberapa tahap dalam perencanaan pembangunan SEP sebagai berikut:
Tahap Kerja
Tahap
Operasional

Pra

Pihak Terkait
Pemerintah
(KemenPUPR/ Dinas
PU/ Tata Ruang/ dan
instansi
terkait

Fungsi
Bekerjasama dengan inisiasi pemerintah
dan
membuat
regulasi
dalam
perencanaan,
konstruksi,
dan
operasional

lainnya)

Tokoh Masyarakat
Perusahaan swasta

Operasional

Pemerintah
Perusahaan Swasta
Masyarakat
Komunitas
dan
Kader Lingkungan

Sosialisasi pada masyarakat sekitar dan


kerjasama dengan pemerintah
Desain ide project
Konstruksi
Pendanaan
melalui
program
CSR
(Corporate Sosial Resposibility)
Evaluasi dan monitoring
Upgrading teknologi
Pengolahan sampah dan limbah rumah
tangga
Sebagai pelopor dan penggiat kegiatankegiatan edukatif peduli lingkungan

Sumur
Resapan

Vertical Garden

Bank
sampah
Wetland
IPAL

Gambar 4. Smart Environmental Park

Dampak positif
Pembangunan SEP ini akan banyak menimbulkan banyak dampak
positif. Adanya ide dan inovasi ini dapat:
a. Menambah prosentase RTH di perkotaan: Melalui pembangunan
taman edukasi ini maka akan menambah prosentase RTH (Ruang
Terbuka Hijau) di perkotaan. Oleh karena itu taman ini sangat
membantu perkotaan dalam mencapai prosentase minimal RTH 30%
sesuai dengan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang.
b. Mengurangi pencemaran air limbah: Pengelolaan air limbah
black water dan grey water akan mengurangi pencemaran limbah ke
lingkungan. Sehingga lingkungan akan menjadi lebih sehat dan
masyarakat juga akan lebih sehat.
c. Mengefesiensikan penggunaan air tanah: Penggunaan air tanah
dapat digunakan secara maksimal dan tidak terbuang sia-sia.
Sehingga cadangan air tanah dalam tanah dapat stabil dan
kesediaannya berlanjut.
d. Adanya edukasi: dengan adanya pembelajaran mengenai
pengolahan air limbah sehingga masyarakat dapat lebih sadar
menjaga lingkungannya.
e. Meningkatkan partisipasi masyarakat: Dalam realisasi ide ini
membutuhkan
semangat
partisipasi
masyarakat
sehingga
masyarakat akan menjadi lebih berpartisipasi dalam pembangunan.
Masyarakat juga akan lebih peduli terhadap lingkungan dan gaya
hidup sehat.
f. Meningkatkan peran sosial swasta: Realisasi ide ini perlu ada
pihak swasta atau perusahaan yang ikut andil melalui pendanaan
CSR (Corporate Social Resposibility). Dengan demikian perusahaan
swasta juga ikut andil dalam pembangunan yang berkelanjutan
(Sustainable Development) karena sudah mendukung program yang
pro terhadap keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain
itu perusahaan juga akan meningkatkan tanggung jawab moral dan
kepedulian sosial kepada masyarakat

Hambatan dan Tantangan Atas Ide


Beberapa hambatan dalam realisasi ide ini adalah sebagai berikut.
a. Ketersediaan lahan: Mengenai penyediaan lahan ruang terbuka
hijau dari pemerintah untuk permukiman padat. Sistem sanitasi
yang dipermukiman perkotaan yang padat masih banyak terdapat
permasalahan dalam dalam sistem pengelolaannya. Berdasarkan
data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, fasilitas
MCK milik pribadi adalah 86,2%. Kondisi ini tidak memungkinkan
bahwa sebagian terjadi permasalahan dalam sistem pengelolaanya,
seperti adanya tidak memiliki septic tank pribadi sehingga limbah
black water (limbah tinja) langsung di salurkan ke sungai dan limbah
grey water (limbah seperti air buangan cucian) langsung disalurkan
idea.oppomobile.co.id
Innovation Idea Competition

ke drainase. Pengelolaan sanitasi yang belum merata di setiap


permukiman padat yaitu dikarenakan kurangnya lahan kosong pada
daerah tersebut
b. Ketersediaan SDM. untuk mengelola IPAL dan taman edukasi
memerlukan adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaanya.
Oleh karena itu tantangan dalam realisasi dan keberlanjutan ide ini
adalah lokasi pembuatan taman haruslah memiliki masyarakat yang
memiliki partisipasi dan berdaya.

Keberlanjutan dan Replikasi Ide


Keberlanjutan dari ide ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu:
a. Partisipasi Masyarakat
Perlu keberlanjutan partisipasi masyarakat dalam pengolahan
sampah pada ide ini. Tanpa adanya partisipasi masyarakat ide ini
sangat sulit untuk diaplikasikan. Pembangunan dan replikasi ide ini
bisa melalui penelitian tingkat partisipasi dan kemauan masyarakat
dalam pengolahan sampah.
b. Pengawasan Pemerintah
Pemerintah dalam hal ini Kementrian atau Dinas Perumahan Umum
atau Tata Ruang serta instansi terkait memberikan kesempatan
kepada perusahan atau pihak swasta dalam realisasi ide.
Pemerintah dalam hal ini memberikan regulasi yang jelas dalam
pengadaan serta pengawasan dalam tahap konstruksi hingga
operasional.
c. Pendanaan CSR dari perusahaan
Pemerintah membuka kerjasama dengan pihak swasta. Swasta
sebagai pelopor dalam realisasi ide ini melalui pendanaan CSR
(Corporate Social Responsibility). Melalui ide ini sebuah brand
ternama bisa menunjukkan aksi sosial atau investasi sosial kepada
masyarakat sehingga dapat meningkatkan nilai pada brand
tersebut.
d. Upgrading penggunaan teknologi
Keberlanjutan taman edukasi ini perlu adanya upgrading
(peningkatan) penggunaan teknologi dalam operasional teknis dan
pendukung. Operasional teknis sebagai bisa berupa pembaharuan
alat IPAL, alat pengolahan sampah. Sedangkan sarana pendukung
seperti teknologi dalam sarana internet berupa ruang baca, Wifi dan
layar elektronik.
e. Kerjasama dengan Komunitas Lingkungan dan Kader Lingkungan
Sebagai langkah keberlanjutan duplikasi ide ini maka perlu adanya
kerjasama dengan komunitas lingkungan dan kader lingkungan.
Melalui keikutsertaan kedua pihak ini akan menjadi pelopor kepada
masyarakat dalam menjaga taman edukasi.

idea.oppomobile.co.id
Innovation Idea Competition

Scan KTM atau Surat Keterangan Mahasiswa Aktif ketiga anggota


tim.
1. Rika Sukmaningrum

2. Armei Rapudin

3. Sari Uswatun CH

idea.oppomobile.co.id
Innovation Idea Competition