Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air minum merupakan kebutuhan utama makhluk hidup. Manusia dan
makhluk hidup lainnya membutuhkan air minum untuk kelangsungan
hidupnya. Air minum yang dikonsumsi sehari-hari harus memenuhi standar
kualitas air bersih yang ditinjau dari segi fisik, kimia, mikrobiologi dan
radioaktif.
Menurut

Peraturan

Mentri

Kesehatan

RI

No.

492/MENKES/PER/IV/2010, air minum adalah air yang melalui proses


pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memeuhi syarat kesehatan dan
dapat lengsung diminum. Jenis air minum menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2001, diantaranya:
1. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga
2. Air yang didistribusikan melalui tangki air
3. Air kemasan
4. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang
disajikan kepada masyarakat.
Standar umum air minum berkualitas diantaranya tidak berbau, tidak
berasa dan tidak berwarna. Menurut Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990
kualitas air dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan, diantaranya:
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
3. Golongan C, yaitu ai yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan
dan peternakan
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian,
usaha diperkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air.

Menurut Slamet (2004) Air minum seharusnya tidak mengandung


patogen yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Tidak mengandung
zat kimia yang nantinya dapat mengubah fungsi tubuh, tidak diterima secara
estetis, serta merugikan secara ekonomis. Tujuan tersebut dibuat untuk
mencegah meluasnya penyakit bawaan air.
Pada dasarnya air yang digunakan untuk konsumsi manusia
haruslah air yang berasal dari sumber bersih serta aman. Batsan-batasan
sumber air yang bersih menurut Chandra (2007) diantaranya:
a. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit
b. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun
c. Tidak berasa serta tidak berbau
d. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kubutuhan domestik dan rumah
tangga
e. Memenuhi standar minima yang ditentukan oleh WHO atau Departemen
Kesehatan.
Sumber air minum dapat bersala dari air hujan, air permukaan dan
air tanah. Air yang beerasal dari berbagai sumber tersebut kemudian harus
diuji ataupun diolah guna mengetahui dan memenuhi standar kualitas air
minum yang dapat dikonsumsi.
Kualitas air yang digunakan sebagai air minum semestinya
memenuhi

persyaratan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

RI

No.

492/Menkes/Per/IV/2010, yaitu:
1. Parameter wajib
a. Persyaratan fisik
Persyaratan fisik air yaitu tidak berasa, berbau, dan tidak berwarna
(maksimal 15 TCU), suhu udara maksimum 3C, dan tidak keruh
(maksimum 5 NTU)
b. Persyaratan mikrobiologis
Syarat mutu air ditentukan oleh kontaminasi kuman Escherichia coli
dan Total Bakteri Caliform. Keberadaan bakteri Escherichia coli
erupakan indikasi air mengandung air tinja. Standar kandungan

Eschericia coli dan Total Bakteri Caliform dalam air minum 0 per 100
ml sampel
2. Parameter tambahan
a. Persyaratan kimia
Air minum yang dikonsumsi semestinya tidak mengandung bahanbahan kimia organik, anorganik, pestisida dan desinfektan melebihi
ambang batas yang sduah ditentukan.
b. Persyaratan Radioaktivitas
Kadar maksimum cemaran radioaktivitas dalam air minum tidak boleh
melebihi batas maksimum.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan pada masyarakat modern,
menjadikan masyarakat yang dulu mengkonsumsi air sumur dan PAM kini beralih
pada air minum dalam kemasan. Air mineral dalam kemasan awalnya dulu
dipelopoi oleh perusahaan yang mengusung merk Aqua. Seiring dengan kesadaran
pentingnya memperhatikan kualitas air minum, ditambah dengan terus
bertambahnya jumlah penduduk, menjadikan kebutuhan air minirel dalam
kemasan terus meningkat. Saat ini sudah ada banyak merek yang air mineral
dalam kemasan yang beredar, meskipun merek Aqua masih menjadi leader
market dalam bisnis ini.
Dicatat dari Tribunnews.com, konsumsi air minum dalam kemasan di
Indonesia sepanjang 2014 mencapai angka 23,1 miliar liter. Catatan tersebut
bertumbuh 11,3 % dari permintaan di 2013 sebesar 20,48 miliar liter. Permintaan
AMDK tahun 2014 juga didorong oleh adanya penyelenggaraan kampanye
pemilu dan piala dunia.
Persaingan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) cukup ketat sebab
tidak ada inovasi banyak yang bisa dilakukan, karena sifat dasar dari produk tidak
berasa. Oleh karenya banyak perusahaan AMDK berusaha meningkatkan
pemasaran dan memasang strategi harga dibawah harga produk milik leader

market. Meskipun persaingan bisnis ini cukup ketat, perkiraan permintaan air
minenral bersih diprediksi akan terus meningkat sehungan dengan pertumbuhan
jumlah penduduk dan sebab beberapa event besar seperti piala dunia dan
kampanye.
Perum Jasa Tirta I Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak
dalam bidang pengusahaan dan pengelolaan sumber daya air kini juga mulai
memproduksi air minum dalam kemasan. Yang mana produksi air minum dalam
kemasan ini adalah untuk mendukung kedaulatan pangan dan energi nasional.
Produk air minum dalam kemasan milik perusahaan negara ini mengusung nama
merek ASA. Bahan baku ASA pada dasarnya berasal dari salah satu sumber mata
air di daerah Sengguruh Malang. Produk air mineral ASA ini dikemas dalam
beberapa varian kemasan, diantaranya kemasan cup kecil, gelas, botol dan galon.
Minat masyarakat terhadap produk ASA cukup tinggi, meski terbilang
produk ini adalah produk baru di pasar. Dikutip dari www.jasatirta1.co.id
masyarakat yang sudah pernah mengkonsumsi ASA mengatakan bahwa produk
ini rasanya lebih segar. Cukup tingginya minat masyarakat terhadap ASA terbukti
saat pagelaran Pameran Indonesia Hebat di Parkiran Selatan Gelora Bung Karno,
tidak kurang dari 20 kardus ASA terjual. Tingginya antusias masyarakat pada
ASA membuat Perum Jasa Tirta I berencana akan menjadikan ASA sebagai
produk unggulan. Namun demikian disribusi pemasaran ASA masih dalam scope
lokal Jawa Timur. Kondisi ini sangat disayangkan apabila respon positif pasar
belum dapat dipenuhi perusahaan sebab kapasitas produksi yang belum terpenuhi.
Oleh karenanya peneliti berminat untuk melakukan penelitian yang berjudul
Peningkatan Kapasitas Produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) ASA
Perum Jasa Tirta I Malang.