Anda di halaman 1dari 87
RESUME KOMPILASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2015 SKENARIO 2 MENGENALI MASALAH KESEHATAN DI KOMUNITAS Dokter

RESUME KOMPILASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2015

SKENARIO 2

MENGENALI MASALAH KESEHATAN DI KOMUNITAS

Dokter Fani baru lulus setahun yang lalu dan ditempatkan di

Pulau Madura. Di ruang kerjanya, beliau sedang memikirkan kejadian seminggu terakhir

yakni terjadinya

beliau mulai berpikir bahwa

layak. Di musim kemarau, mata air mengalami kekeringan sehingga warga banyak mengandalkan air sungai yang biasanya untuk mandi, cuci, kakus (MCK) sebagai sumber air minum. Beliau memiliki ide untuk membuat sumur bor. Di dinding ruang kerja dokter

tersebut terpampang berbagai data mengenai karakteristik

Puskesmas terpencil
Puskesmas
terpencil

di

outbreak diare
outbreak
diare

. Dengan berbekal ilmu

epidemiologi

yang didapatnya,

mata rantai penularan

diare disebabkan sumber air yang tidak

demografi

wilayah tersebut serta

angka morbiditas dan angka mortalitas . Di sana juga terdapat informasi mengenai insidensi dan prevalensi
angka
morbiditas
dan angka
mortalitas
. Di sana juga terdapat informasi mengenai
insidensi
dan
prevalensi
berbagai penyakit seperti diare,
Infeksi Saluran Pernafasan Akut
,
tekanan darah
tinggi
,
dan
indikator kesehatan
lainnya. Data-data tersebut merupakan sumber informasi

yang digunakan untuk menentukan masalah kesehatan di wilayahnya, menentukan

mengukur

dan lain-lain. Masalah di Puskesmasnya yang terletak di daerah terpencil itu adalah

cakupan pelayanan yang rendah, tingkat pelayanan.

prioritas ,
prioritas
,

faktor risiko

, menentukan hubungan berbagai faktor dalam proses terjadinya penyakit,

edukasi
edukasi

yang rendah dan kurangnya akses

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Puskesmas Unit Pelaksana Teknis Daerah kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (Kemenkes No. 128 tahun 2004)

2. Terpencil Daerah yang sulit dicapai, terasingkan, jauh dari yang lain, tersendiri.

3. Outbreak Peningkatan insidensi kasus yang melebihi ekspektasi normal secara mendadak

pada suatu komunitas, disuatu tempat terbatas, misalnya desa, kecamatan, kota, atau

institusiyang tertutup (misalnya sekolah, tempat kerja atau pesantren) pada suatu periode

waktu tertentu. (Bima Murti, 2013)

*Pandemi: wabah yg berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah

geografi yg luas.

*Endemi: Endemi adalah penyakit yang umum terjadi pada laju konstan namun

cukup tinggi pada suatu populasi. Berasal dari bahasa Yunani “en” yang artinya di

dalam dan “demos” yang artinya rakyat. Terjadi pada suatu populasi dan hanya

berlangsung di dalam populasi tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.

4. Diare

Suatu penyakit yang ditandai buang air besar encer disertai lendir bahkan berbusa,

disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit. Gejala awal dehidrasi karna cairan

banyak yang keluar/ hilang dari tubuh.

5. Epidemiologi

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang distribusi dan determinasi

penyakit serta upaya pengendaliannya. Epidemiologi dibagi menjadi dua yaitu

epidemiologi deskriptif dan epidemiologi analitik.

6. Mata Rantai Penularan

Mata rantai penulatan penyakit adalah rangkaian sejumlah faktor yang

memungkinkan proses penularan suatu penyakit dapat berlangsung.

7. Demografi Ilmu statistik yang mempelajari populasi, termasuk masalah kesehatan, penyakit, kelahiran, dan kematian (kamus saku Dorlan edisi 25)

8. Morbiditas Rasio jumlah orang yang sakit dibandingkan dengan populasi (bisa kelompok yang sehat atau kelompok berisiko) pada periode tertentu.

9. Mortalitas Angka kematian per populasi dalam kurun waktu dan wilayah tertentu yang digunakan sebagai indikator kesehatan

10. Insidensi Gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu disuatu kelompok masyarakat. Angka insidensi adalah jumlah kasus baru penyakit tertentu yang dilaporkan pada priode waktu dan tmpat tertentu dibagi dengan jumlah penduduk yang beresiko terkena penyakit tersebut di pertengahan tahun.

11. Prevalensi Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan dalam jangka waktu tertentu disuatu kelompok masyarakat tertentu. Angka prevalensi adalah jumlah keseluruhan orang yang sakit yang menggambarkan kondisi tertentu yang menimpa sekelompok penduduk tertentu pada titik waktu tertentu

12. Infeksi Saluran Pernafasan Akut Infeksi yang mengenai bagian manapun saluran pernapasan, mulai dari hidung, elinga tengah, ffaring, laring, bronchi, bronchioli, dan paru.

13. Tekanan Darah Tinggi Kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat.jantung bekerja lebih keras. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan distolik , tergantung apakah otot jantung berkontraksi (systole) atau berelaksasi diantara denyut(diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik 100-140 mmHg dan diastolic 60-90 mmHg . Tekanan darah tinggi terjadi bila terus menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih.

14.

Indikator Kesehatan

Ukuran yang menggambarkan atau menunjukan status kesehatan sekelompok

orang dalam populasi tertentu.

15. Prioritas

Yang didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain (KBBI).

16. Faktor Risiko

Karakteristik, tanda, atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita individu

yang mana secara statistik berhubungan dengan peningkatan kasus berikutnya.

17. Edukasi

Proses dalam berlatih dan belajar yang bertujuan untuk meningkatkan

pengetahuan.

PEMBAHASAN

1. Epidemiologi

Kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunai yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang

berarti Pada atau Tentang, DEMOS yang berati Penduduk dan kata terakhir adalalah LOGOS

yang berarti Ilmu Pengetahuan.

Beberapa pengertian epidemiologi:

Epidemiologi adalah “Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi

(Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat

serta Determinannya (Faktor factor yang Mempengaruhinya).

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta faktor

yang terkait di tingkat populasi.

Ilmu epidemiologi sendiri memiliki tujuan yang spesifik (foundations of public health,2010),

yang dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Menjelaskan etiologi/asal penyebab suatu penyakit. Kita dapat mengetahui penyebab terjadi penyakit dalam suatu masyarakat, faktor faktor apa saja yang menimbulkan penyakit tersebut. Selanjutnya, data yang didapat dari tujuan ini dapat digunakan untuk menenetukan dasar suatu program kesehatan di masa yang akan datang.

b. Mengetahui seberapa sering penyakit muncul dalam suatu komunitas. Kita dapat mengetahui penyakit apa yang sering terjadi dalam masyarakat. Selanjutnya, dapat direncanakan pelayanan kesehatan apa saja yang harus diberikan kepada masyarakat tersebut, tentunya setelah memiliki dasar dari program kesehatan yang akan diberikan.

c. Mempelajari awal mula kemunculan penyakit. Kita dapat mengetahui awal mula terbentuknya penyakit yang sedang terjadi di masyarakat. Mulai dari ditemukannya penyakit pada beberapa hewan, penyebaran virus dari hewan ke manusia, sampai terbentuknya penyakit pada manusia. Selanjutnya, dapat diketahui tindakan tindakan preventif yang dapat mnegurangi resiko terjadinya suatu penyakit, dan memberi penilaian apakah tindakan pencegahan yang dilakukan adalah tindakan efektif atau tidak.

d. Evaluasi tindakan medis yang dilakukan sebelumnya. Yaitu, melakukan evaluasi terhadap berbagai tindakan yang telah dilakukan untuk menekan penyakit yang ada dalam masyarakat. Selanjutnya, dapat digunakan sebagai penilaian dari suatu metode dalam program kesehatan

e. Menentukan kebijakan yang diambil untuk ke depannya. Tujuan akhir dari dari semua tujuan tujuan di atas adalah ditetapkannya suatu kebijakan

yang merupakan tindak lanjut dari penyakit yang ada dalam masyarakat tersebut.

Ruang lingkup epidemiologi, Bustan (2006:13), dalam masalah kesehatan meliputi “6E”

yaitu:

1. Etiologi

Berkaitan dengan identifikasi penyebab penyakit dan masalah kesehatan lain.

Misalnya, etiologi dari kolera adalah vibrio cholerae.

2. Efikasi (Efficacy)

Berkaitan dengan efek/daya optimal yang dapat diperoleh dari pemberian

intervensi kesehatan. Efikasi dimaksudkan untuk melihat hasil atau efek suatu intervensi,

misalnya efikasi dari pemberantasan sarang nyamuk adalah menurunkan angka kejadian

penyakit demam berdarah.

3. Efektivitas (Effectiveness)

Efektivitas adalah besarnya hasil yang diperoleh dari suatu tindakan (intervensi)

dan besarnya perbedaan dari suatu tindakan yang satu dengan yang lain.

4. Efisiensi (Efficiency) Efisiensi adalah sebuah konsep ekonomi yang melihat pengaruh yang dapat diperoleh berdasarkan besarnya biaya yang diberikan atau ditujukan untuk mengetahui kegunaan dan hasil yang diperoleh berdasarkan besarnya pengeluaran ekonomi/biaya yang dilakukan.

5. Evaluasi Penilaian secara keseluruhan keberhasilan suatu pengobatan atau program kesehatan masyarakat atau melihat dan memberi nilai keberhasilan program seutuhnya.

6. Edukasi Intervensi berupa peningkatan pengetahuan tentang kesehatan masyarakat sebagai bagian dari upaya preventif penyakit.

Bidang Kajian Epidemiologi

1. Epidemiologi peyakit menular Epidemiologi yang berusaha untuk mempelajari distribusi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit menular dalam masyarakat.

2. Epidemiologi penyakit tidak menular Epidemiologi yang berusaha untuk mempelajari distribusi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit tidak menular dalam masyarakat.

3. Epidemiologi klinis Epidemiologi yang sedang dikembangkan oleh para klinisi yang bertujuan untuk dapat membekali para klinisi dan dokter tentang cara pendekatan masalah melalui disiplin ilmu melalui epidemiologi.

4. Epidemiologi kependudukan Ilmu epidemiologi yang menggunakan sistem pendekatan epidemiologi dalam menganalisis berbagai permasalahan yang berkaitan dengan bidang demografi/kependudukan sera faktor-faktor yang mempengaruhi berbagai perubahan demografis yang terjadi dalam masyarakat.

5.

Epidemiologi pengelolaan pelayanan kesehatan Sistem pendekatan manajemen dalam menganalisis masalah mencari faktor penyebab timbulnya suatu masalah secara menyeluruh dan terpadu.

6.

Epidemiologi lingkungan dan kesehatan kerja Mempelajari serta menganalisis keadaan kesehatan tenaga kerja akibat pengaruh keterpaparan pada lingkungan kerja.

7.

Epidemiologi kesehatan jiwa Dasar pendekatan dan analisis masalah gangguan jiwa dalam masyarakat, baik mengenai keadaan kelainan jiwa kelompok penduduk tertentu maupun analisis berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya gangguan jiwa dalam masyarakat.

8.

Epidemiologi gizi Bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang berhubungan erat dengan timbulnya masalah gizi masyarakat, baik yang bersifat biologis, dan terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat.

9.

Epidemiologi perilaku Menganalisis tindakan masyarakat yang berbeda di tiap orang berkaitan dengan masalah kesehatan.

10.

Epidemiologi genetika Mempelajari variasi genetik dan interaksinya dengan faktor lingkungan sehingga memanifestasikan suatu penyakit. Metode metode epidemiologi :

1. Epidemiolodi deskriptif Di dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut perubahan variabel-variabel epidemiologi yang terdiri dari orang, tempat, dan waktu. Tujuan epidemiologi deskriptif:

Memberikan informasi tentang distribusi penyakit, besarnya beban penyakit (disease burden), dan kecenderungan (trend) penyakit pada populasi, yang berguna dalam perencanaan dan alokasi sumber daya untuk intervensi kesehatan

Memberikan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit

Merumuskan hipotesis tentang paparan sebagai faktor risiko/ kausa penyakit.

2. Epidemiologi Analitik

Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data serta informasi- informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif.

Tujuan epidemiologi analitik:

Menentukan faktor risiko/ faktor pencegah/ kausa/ determinan penyakit

Menentukan faktor yang mempengaruhi prognosis kasus

Menentukan efektivitas intervensi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit pada populasi. Epidemiologi analitik dapat dibagi menjadi dua yakni :

1) Non eksperimental :

a)Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif studi. Kohort diartikan sebagai sekelompok orang. Tujuan studi mencari akibat (penyakitnya). b)Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif. Tujuannya mencari faktor penyebab penyakit. c)Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai bahan untuk penyelidikan secara empiris fakto resiko atau karakteristik yang berada dalam keadaan konstan di masyarakat. Misalnya, polusi udara akibat sisa pembakaran BBM yang terjadi di kota- kota besar. 2) Eksperimental. Dimana penelitian dapat melakukan manipulasi/mengontrol faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan dinyatakan sebagai tes yang paling baik untuk menentukan cause and effect relationship serta tes yang berhubungan dengan etiologi, kontrol, terhadap penyakit maupun untuk menjawab pertanyaan masalah ilmiah lainnya. Studi eksperimen dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :

a) Clinical Trial. Contoh :

Pemberian obat hipertensi pada orang dengan tekanan darah tinggi untuk mencegah terjadinya stroke.

Pemberian Tetanus Toxoid pada ibu hamil untuk menurunkan frekuensi Tetanus Neonatorum. b) Community Trial. Contoh : Studi Pemberian zat flourida pada air minum.

3. Epidemiologi Eksperimen Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen kepada kelompok subyek, kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol. Manfaat epidemiologi yaitu :

1. Mempelajari riwayat penyakit. Dengan ini kit dapat memprediksi tren penyakit sehingga dapat digunakan dalam perencanaan pelayanan kesehatan dan kesehatan masyarakat.

2. Diagnosis masyarakat. Epidemiologi memberikan gambaran penyakit, kondisi, cedera, gangguan, ketidakmampuan, defek/caca tapa saja yang menyebabkan keasakitan, masalah kesehatan atau kematian dalam suatu komunitas atau wilyah.

3. Mengkaji risiko yang ada pada setiap individu karena merasa dapatmempengaruhi kelompok maupun populasi. Setiap kelompok dikaji dengan menggunakan pengkajian

terhadap factor risiko dan menggunakan teknik pemeriksaan, misalnya: risiko kesehatan, pemeriksaan, skrining kesehatan, tes kesehatn, pengkajian penyakit, dsb.

4. Sebagai pengkajian, evaluasi, dan penelitian.

5. Melengkapi gambaran klinis ilmu epidemiologi berguna dalam proses identifikasi dan diagnosis untuk menetapkan bahwa suatu kondisi memang ada atau bahwa seseorang memang menderita penyakit tertentu.

6. Identifikasi sindrom. Epidemiologi membantu dalam menyusun dan menerapkan kriteria identifikasi sindrom. Misal : sindrom down, fetal alcohol, dll.

7. Memungkinkan dilakukannya pengenendalian, pencegahan, dan pemusnahan penyebab penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, dan kematian (Timreck 2004) .

Batasan Epidemiologi Pada saat ini epidemiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok menusia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari batasan yang seperti ini, segera terlihat bahwa dalam pengertian epidemiologi terdapat tiga hal yang bersifat pokok yakni:

a) Frekuensi masalah kesehatan Frekuensi masalah kesehatan dini dimaksudkan untuk menunjuk kepada besarnya

masalah kesehatan yang terdapat pada sekelompok manusia. Untuk dapat mengetahui frekuensi suatu masalah kesehatan dengan tepat ada dua hal pokok yang harus dilakukan yakni menemukan masalah kesehatan yang dimaksud untuk kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengukuran atas masalah kesehatan yang ditemukan tersebut.

b) Penyebaran masalah kesehatan

Yang dimaksud dengan penyebaran masalah kesehatan disini ialah menunujuk kepada pengelompokkan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan banyak macamnya, yang dalam epidemiologi dibedakan atas tiga macam yakni

menurut ciri-ciri manusia (man), menurut tempat (place), dan menurut waktu (time).

c) Faktor-faktor yang memengaruhi

Yang dimaksud dengan faktor-faktor yang mempengaruhi disini ialah menunujuk kepada faktor penyebab dari suatu masalah kesehatan, baik yang menerangkan frekuensi, penyebaran dan ataupun yang menerangkan penyebab munculnya masalah kesehatan itu sendiri. Untuk itu ada tiga langkah pokok yang lazim dilakukan yakni merumuskan hipotesa tentang penyebab yang dimaksud, melakukan pengujian terhadap rumusan hipotesa yang telah disusun dan setelah itu menarik kesimpulan terhadapnya. Dengan diketahuinya penybab suatu masalah kesehatan, dapatlah disusun langkah-langkah penanggulangan selanjutnya dari masalah kesehatan tersebut.

Segitiga Epidemiologi

Segitiga epidemiologi yang sering dikenal dengan istilah trias epidemiologi merupakan konsep dasar yang memberikan gambaran tentang hubungan antara tiga faktor utama yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya yaitu: host, agen, dan lingkungan (Muliani, dkk.,

2010).

Lingkungan

Waktu (masa inkubasi)
Waktu
(masa inkubasi)

Agen

pejamu

Segitiga Epidemiologi dalam bentuk lain :

1.

H
H
A
A
Segitiga Epidemiologi dalam bentuk lain : 1. H A L 2. Pejamu kalah dengan penyakit A
L
L

2.

Pejamu kalah dengan penyakit

A H
A
H
L
L

3. Pejamu bertahan atas penyakit

H A L
H
A
L

H : Populasi manusia yang beresiko sakit

A : Penyebab Penyakit

Karakteristik Agen :

1. Kemampuan hidup invitro

2. Daya tahan

3. Kemampuan berkembang biak

4. Sifat antigenik

5. Sifat mutagenik

4. Ketidak seimbangan perkembangan lingkungan Contoh : banjir

H A L
H
A
L

a. Faktor host/ penjamu (Tuan rumah)

Penjamu adalah manusia atau makhluk hidup lainnya yang menjadi

tempat terjadinya penjamu adalah:

proses alamiah perkembangan penyakit. Yang termasuk faktor

Genetika, faktor keturunan dapat mempengaruhi status kesehatan. Misalnya: buta warna, hemophilia, dan lain-lain.

Umur dan keadaan imunologis, mempengaruhi status kesehatan karena ada kecenderungan penyakit menyerang umur tertentu. Misalnya, pada balita karena imunnya belum stabil, dan pada manula karena imunnya sudah menurun.

Jenis kelamin, mempengaruhi status kesehatan karena ad penyakit yang terjadi lebih banyak atau hanya ditemukan pada pria atau wanita saja. Misalnya, kanker serviks pada wanita.

Etnis/ ras/ warna kulit. Mempengeruhi status kesehatan karena terdapat perbedaan antara etnis/ ras tertentu. Misalnya, ras kulit putih lebih berisiko terkena kanker kulit dibandingkan dengan ras kulit hitam.

Keadaan fisiologis tubuh, mempengeruhi status kesehatan. Misalnya, kelelahan, kehamilan, pubertas, keadaan gizi dll.

Perilaku dan kebiasaan/ gaya hidup, mempengaruhi status kesehatan. Misalnya, personal hygiene, hubungan antar pribadi dll.

Penyakit sebelumnya, mempengaruhi status kesehatan karena ada penyakit yang jika sudah pernah terkena maka ketika terjadinya serangan kedua menimbulkan kondisi yang lebih parah atau ada juga jika penyakit sebelumnya telah sembuh maka risiko kambuh lebih kecil atau tidak terjadi (Muliani, Dkk., 2010).

b. Faktor Agen

Agen atau faktor penyebab adalah suatu unsur, organisme hidup atau kuman infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit atau masalah kesehatan lainnya. Faktor lingkungan (Muliani, Dkk., 2010). Agent/ penyebab bibit penyakit terdiri dari biotis dan abiotis. i. Penyebab biotis, khususnya terjadi pada penyakit-penyakit menular yang terdiri dari lima golongan, yaitu: protozoa (plasmodium, amoeba), metazoa (arthopoda, helmintes), Bakteri (salmonela), virus (dengue, polio), jamur (candida, Tinia algae). ii. Penyebab abiotis, terdiri dari:

a. Nutrient agent: kekurangan/ kelebihan gizi

b. Chemical agent: pestisida, logam berat, obat, dan lain-lain.

c. Physical agent: suhu, kelembaban, panas, dan lain-lain.

c. Environment Lingkungan adalah semua faktor diluar individu yang dapat berupa lingkungan fisik, biologis, sosial, dan ekonomi. Yang termasuk faktor lingkungan adalah lingkungan fisik, lingkungan biologis, lingkungan sosial dan lingkungan ekonomi (Muliani, dkk., 2010).

Time Mempengaruhi masa inkubasi, harapan hidup penjamu atau pathogen dan durasi

d.

penyakit

a.

Faktor Environment adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi Host dan Agent

Fisik: iklim (kemarau dan hujan), geografis (pantai dan pegunungan), demografis (kota dan desa)

Biologis: flora dan fauna

Sosial: migrasi/urbanisasi, lingkungan kerja, perumahan, bencana alam, perang, banjir

b.

Karakteristik Host

Resistensi: kemampuan Host untuk bertahan hidup terhadap infeksi (agent)

Imunitas: kemampuan Host mengembangkan sistem kekebalan tubuh, baik didapat maupun alamiah

Infectiousness: potensi Host yg terinfeksi untuk menularkan penyakit yang diderita kepada orang lain

c.

Karakteristik Agent

Infektivitas: kesanggupan agent untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan Host untuk mampu tinggal, hidup dan berkembang biak dalam jaringan Host

Patogenesitas: kesanggupan agent untuk menimbulkan reaksi patologis (penyakit) pada Host setelah infeksi

Virulensi: kesanggupan agent untuk menghasilkan reaksi patologis berat yang menyebabkan kematian

Toksisitas: kesanggupan agent untuk memproduksi toksin yang merusak jaringan Host

Invasivitas: kesanggupan agent untuk penetrasi dan menyebar kedalam jaringan Host

Antigenisitas: kesanggupan agent merangsang reaksi imunologis Host (membentuk antibodi)

d. Karakteristik Environment

Topografi: situasi lokasi tertentu (letak/posisi/peta), baik alamiah maupun buatan manusia, yang mempengaruhi terjadinya dan penyebaran penyakit tertentu (danau, sungai, hutan, sawah)

Geografis: keadaan yang berhubungan dengan permukaan bumi (struktur geologi, iklim, penduduk, flora, fauna) yang mempengaruhi terjadinya dan penyebaran penyakit tertentu (tanah pasir atau tanah liat).

e. Portal of Entry dan Portal of Exit

Portal of entry: pintu masuknya Agent kedalam Host contoh: oral, kulit, nafas, kemih

Portal of exit: pintu keluarnya Agent dari Host contoh: nafas, anal, darah, cairan tubuh

1)

Etika Epidemiologi Etika epidemiologi pada dasarnya terdiri dari 3 unsur utama dan dapat digambarkan sebagai keseimbangan hubungan segitiga antara truth (kebenaran), risk (risiko), dan benefit (manfaat).

truth (kebenaran), risk (risiko), dan benefit (manfaat). a. Truth (kebenaran). Etika adalah pencari kebenaran,

a. Truth (kebenaran). Etika adalah pencari kebenaran, merumuskan kebenaran, menjadikan pedomannya, dan berusaha menegakkan kebenaran itu secara adil.

b. Risk (risiko) Etika selalu mempertimbangkan setiap kemungkinan risiko atau bahaya yang mungkin terjadi dari setiap intervensi atau pelayanan.

c. Benefit (manfaat) Etika selalu ingin melihat adanya nilai manfaat, kebaikan / keuntungan, tunjangan, ataupun laba dari setiap kegiatan terkait etika. (M.N. Bustan, 2006)

Kewajiban Umum

a. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan profesi epidemiologi kesehatan dengan sebaik-baiknya.

b. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.

c. Dalam melakukan pekerjaan atau praktek profesi epidemiologi, seorang Epidemiolog Kesehatan tidak boleh dipengaruhi sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

d. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus menghindarkan diri dari perbuatan yang memuji diri sendiri.

e. Seorang Epidemiolog Kesehatan senantiasa berhati-hati dalam menerapkan setiap penemuan atau cara baru yang belum teruji kehandalannya dan hal-hal yang menimbulkan keresahan masyarakat profesi atau ilmuwan.

f. Seorang Epidemiolog Kesehatan memberi saran atau rekomendasi yang telah melalui suatu proses analisis secara komprehensif.

g. Seorang Epidemiolog kesehatan dalam menjalankan profesinya harus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dengan menjunjung tinggi kesehatan dan keselamatan manusia.

h. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus bersifat jujur dalam berhubungan dengan klien atau masyarakat dan teman seprofesinya dan berupaya untuk mengingatkan teman seprofesinya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi atau yang melakukan penipuan atau kebohongan dalam menangani masalah klien atau masyarakat.

i. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus menghormati hak-hak klien atau masyarakat, hak-hak teman seprofesi dan hak-hak tenaga kesehatan lainnya dan harus menjaga kepercayaan klien atau masyarakat.

j. Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang Epidemiolog Kesehatan harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan seluruh aspek

kelimuan epidemiologi secara menyeluruh, baik fisik, biologi maupun sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.

k. Seorang Epidemiolog Kesehatan dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat,

Kewajiban Epidemiolog Kesehatan Terhadap Klien/Masyarakat

a. Seorang Epidemiolog kesehatan bersikap tulus, ikhlas dan mempergunakan segala ilmua dan kompetensinya untuk kepentingan penyelesaian masalah klien atau masyarakat. Dalam hal ia tidak mampu melakukan suatu penelitian atau penyelidikan dalam rangkapenyelesaian masalah, maka ia wajib berkonsultasi, bekerja sama dan merujuk pekerjaan tersebut kepada Epidemiolog Kesehatan lain yang mempunyai keahlian dalam penyelesaian masalah tersebut.

b. Seorang Epidemiolog Kesehatan wajib melaksanakan profesinya secara bertanggung jawab.

c. Seorang Epidemiolog Kesehatan wajib melakukan penyelesaian masalah secara tuntas dan keseluruhan dengan menggunakan ilmu dan metode epidemiologi serta ilmu lainnya yang relevan.

d. Seorang Epidemiolog Kesehatan wajib memberikan informasi kepada kliennya atas pelayanan yang diberikannya.

e. Seorang Epidemiolog Kesehatan berhak mendapatkan perlindungan atas praktek pemberian pelayanan.

Kewajiban Epidemiolog Kesehatan terhadap Teman Seprofesi

a. Seorang Epidemiolog Kesehatan memperlakukan teman seprofesinya sebagai bagian dari penyelesaian masalah.

b. Seorang Epidemiolog Kesehatan tidak boleh saling mengambil alih pekerjaan dan teman seprofesi, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang ada.

Kewajiban Epidemiolog Kesehatan terhadap Diri Sendiri

a. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus memperhatikan dan mempraktekkan hidup bersih dan sehat , beriman menurut kepercayaan dan agamanya supaya dapat bekerja dengan baik.

b. Seorang Epidemiolog Kesehatan harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan yang berkaitan dan atau penggunaan ilmu, metodologi dankompetensi epidemiologi.

Sumber Data Sebagai Batasan Epidemiologi

a. Karakteristik Demografi Sebelum mengetahui kaitan antara karakteristik demografi dengan epidemiologi, kita harus mengetahui terlebih dahulu makna demografi sendiri. Demografi adalah ilmu yang mempelajari jumlah, persebaran, territorial, komposisi penduduk, dan perunahan serta sebab-sebabnya yang biasa timbul karena natalitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas sosial.(Philip M.Hauser & Duddley Duncan,

1959).

Data-data seputar karakteristik demografi sendiri akan digunakan dalam epidemiologi utamanya pada bagian studi deskriptif. Sedangkan dtudi deskripti

sendiri nantinya akan memberikan pengetahuan berupa data dan informasi tentang perjalanan atau pola penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, dan kematian dalam suatu populasi. Informasi kependudukan (demografi) yang biasanya digunakan adalah :

- Usia

-

Ras

- Gender

-

Pekerjaan

- Musim

-

Waktu

- Status Kawin

-

Etnik

- Lokasi Geografis

-

Agama

- Pendidikan

- Pendapatan

- Kelas Ekonomi-Sosial

Informasi kependudukan dan data statistic vital yang memang berguna untuk bidang epidemiologi, kesehatan masyarakat, dan layanan kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai sumber data. Metode pengumpulan data sendiri, terbagi menjadi lima, yaitu :

1.

Wawancara

2. Kuesioner

3. Registrasi dan pencatatan

4. Hasil penelitian atau eksperimen

5. Review dan record/ publikasi

Fungsi dari pengumpulan data-data demografi ini sendiri adalah :

1)

Memperlihatkan hubungan dan asosiasi antara penyakit, kondisi, dan kematian, serta dampak yang disebabkan variabel-variabel di atas.

2)

Hubungan sebab-akibat antara morbiditas dan mortalitas dengan variabel / faktor dalam pengembangan progam pencegahan dan pengendalian penyakit.

Sedangkan tujuan utama dari pengumpulan data demografi ini adalah menurunkan angka kematian, dan tujuan akhirnya yaitu memahami hubungan penyebab penyakit dan kematian sehingga mampu meningkatkan status kesehatan masyarakat.

Selain karakterisitik demografi, juga dikenal istilah statistik kesehatan, yang tercantum dalam buku Ilmu Kesehatan Masyarakat oleh dr.Indan Entjang.Definisi statistik sendiri adalah suatu pernyataan jumlah atau keterangan yang sebaik-baiknya dinyatakan dengan angka dari data yang timbul dalam masyarakat. Fungsi statistik sendiri adalah untuk menilai hasil kerja yang sudah dilaksanakan, serta untuk dipergunakan sebagai bahan dalam menyusun rencana kerja untuk menghadapi masa yang akan datang. Beberapa data yang penting untuk perencanaan dalam bidang kesehatan.

1.

Data demografi. Yaitu data-data tentang jumlah penduduk beserta pembagiannya menurut umur dan sex.Perubahan di dalam jumlah dan pembagiannya, menyebabkan perubahan pula dalam pelayanan kesehatan.

2.

Data vital statistik. Yaitu tentang : angka kelahiran, angka kematian, perkawinan, dan sebagainya.

3.

Data tentang kesehatan. Yaitu tentang berbagai macam penyakit, morbidity, kasus-kasus penyebab kematian, dan sebagainya.

4.

Data tentang hygine dan sanitasi lingkungan. Yaitu tentang : - Sumber air untuk rumah tangga.

- Cara pembuangan sampah, kotoran, dan air limbah.

- Keadaan perumahan dan sebagainya.

5.

Data mengenai fasilitas kesehatan. Yaitu tentang :

- Jumlah rumah sakit umum/khusus, puskesmas, dsb Jumlah personil kesehatan dan sebagainya

6.

Data tentang lembaga-lembaga pendidikan kesehatan.

7.

Data mengenai sumber-sumber fisik seperti alat-alat kesehatan dan obat- obatan.

8.

Data mengenai anggaran kesehatan.

9.

Angka Morbiditas, Insidensi, Prevalensi

2. Insidensi dan Prevalensi Insidensi Gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu pada suatu kelompok masyarakat.Untuk dapat menghitung angka insidensi, sebelumnya harus tahu dulu data jumlah penderita baru dan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru (population at risk). Penduduk yang kebal terhadap suatu penyakit tidak diikutkanSecara umum angka insiden ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

a. Incidence Rate Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu (umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.

Tujuan dari Insidence Rate adalah :

Mengukur angka kejadian penyakit

Untuk mencari atau mengukur faktor kausalitas

Perbandinagan antara berbagai populasi dengan pemaparan yang berbeda

Untuk mengukur besarnya risiko yang ditimbulkan oleh determinan tertentu Manfaat Incidence Rate adalah :

Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi

Mengetahui Resiko untuk terkena masalah kesehatan yang dihadapi

Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan.

b. Attack Rate Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama. Manfaat Attack Rate adalah :

Memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu penyakit. Makin tinggi nilai AR, maka makin tinggi pula kemampuan Penularan Penyakit tersebut.

makin tinggi pula kemampuan Penularan Penyakit tersebut.  c. Secondary Attack Rate Adalah : Jumlah penderita

c. Secondary Attack Rate Adalah : Jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi orang/penduduk yang pernah terkena penyakit pada serangan pertama. Digunakan menghitung suatu panyakit menular dan dalam suatu populasi yang kecil ( misalnya dalam Satu Keluarga ).

pertama. Digunakan menghitung suatu panyakit menular dan dalam suatu populasi yang kecil ( misalnya dalam Satu

Prevalensi

gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan

pada suatu jangka waktu tertentu di sekelompok masyarakat tertentu. Pada perhitungan

angka

orang/penduduk yang Kebal atau Pendeuduk dengan Resiko (Population at Risk). Beberapa kegunaan nilai prevalensi yaitu:

seluruh penduduk tanpa memperhitungkan

Adalah

Prevalensi,

digunakan

jumlah

Untuk menentukan situasi penyakit yang ada (banyaknya kasus yang dapat didiagnosis) pada satu waktu tertentu

Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya penyediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan ruangan

Memberikan arahan pada populasi mana sasaran utama/sasaran mencari kasus

Kelompok mana sasaran program kesehatan tertentu

Perhitungan saran dan biaya kesehatan

Memberikan kelompok prioritas pelayanan kesehatan

Memudahkan pencarian kasus

Evaluasi program

Secara umum nilai prevalen dibedakan menjadi 2, yaitu :

a) Period Prevalen Rate Yaitu : Jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan. Nilai Periode Prevalen Rate hanya digunakan untuk penyakit yang sulit diketahui saat munculnya, misalnya pada penyakit Kanker dan Kelainan Jiwa.

munculnya, misalnya pada penyakit Kanker dan Kelainan Jiwa. b) Point Prevalen Rate Adalah : Jumlah penderita

b) Point Prevalen Rate Adalah : Jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit pada suatu saat dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu. Dapat dimanfaatkan untuk mengetahui Mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.

Point prevalensi meningkat pada:

Imigrasi penderita

Emigrasi orang sehat

Imigrasi tersangka penderita atau mereka dengan risiko tinggi untuk menderita

Meningkatnya masa sakit

Meningkatnya jumlah penderita baru

Point prevalensi menurun pada:

Imigrasi orang sehat

Emigrasi penderita

Meningkatnya angka kesembuhan

Meningkatnya angka kematian

Menurunnya jumlah penderita baru

Masa sakit jadi pendek

HUBUNGAN INSIDENSI DAN PREVALENSI

a. Angka insidensi menurun, prevalensi tetap Hal ini dikarenakan:

Rasio peyembuhan meningkat

Rasio kematian meningkat sehingga masa sakit menurun

Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kurang berhasil

b. Angka insidensi menurun, angka prevalensi tetap naik Hal ini dikarenakan:

Angka kesembuhan dan kematian menurun

Lama sakit bertambah

Upaya pencegahan cukup berhasil walaupun penyembuhan penderita kurang berhasil

Upaya pencegahan lebih efektif,misalnya vaksin

c. Angka insiden dan prevalen menurun Hal ini dikarenakan:

Keberhasilan pencegahan

Menurunnya faktor risiko

Angka kematian dan kesembuhan tetap Prevalensi = Semua. Angka Prevalensi dipengaruhi oleh Tingginya Insidensi dan Lamanya Sakit/Durasi Penyakit. Lamanya Sakit/Durasi Penyakit adalah Periode mulai didiagnosanya penyakit sampai berakhirnya penyakit tersebut yaitu : sembuh, mati ataupun kronis. Hubungan ketiga hal tersebut dabat dinyatakan dengan rumus P = I x D • P = Prevalensi • I = Insidensi • D = Lamanya Sakit Rumus hubungan Insidensi dan Prevalensi tersebut hanya berlaku jika dipenuhi 2 syarat, yaitu :

a. Nilai Insidensi dalam waktu yang cukup lama bersifat konstan : Tidak menunjukkan perubahan yang mencolok.

b. Lama berlangsungnya suatu penyakit bersifat stabil : Tidak menunjukkan perubahan yang terlalu mencolok.

Sehingga:

Prevalens dapat naik oleh :

Prevalens dapat turun oleh :

1. Kelangsungan penyakit lama (waktu berlangsung lama) 2. Kelangsungan hidup penderita tanpa pegobatan lama. 3. Penderita baru meningkat (peningkatan insidensi) 4. Terdapat in-migration of cases. 5. Out-migration of healthy people meningkat. 6. Meningkatnya in-migration of susceptible people. 7. Fasilitas diagnostik yang makin meningkat.

1. Kelangsungan penyakit pendek (waktu berlangsung pendek)

2. Case Fatality Rate meningkat.

3. Kasus baru berkurang (insidensi penyakit menurun)

4. Terdapat peningkatan in-migration of healthy people.

5. Outmigration og cases yang berhasil meningkat

6. Angka pengobatan yang berhasil meningkat

7. Sistem pelaporan yang makin cepat dan baik hingga pengobatan makin cepat berhasil.

CARA MENGHITUNG INSIDENSI & PREVALENSI BESERTA CONTOH KASUS DAN CARA PENYELESAIANNYA

Incidence Risk/Cumulative Incidence

Probabilitas dari seseorang yang tidak sakit untuk menjadi sakit selama periode

waktu tertentu, dengan syarat orang tersebut tidak mati oleh karena penyebab lain.

CI= Jumlah kasus baru (individu sehat menjadi sakit)/ jumlah individu sehat

pada awal pengamatan

Kelompok individu yang berisiko terserang ini disebut population at risk atau populasi yang berisiko.

Ciri dari Incidence Risk :

a) Berbentuk proporsi.

b) Tidak memilik satuan.

c) Besarnya berkisar antara 0 dan 1

Contoh : Dokter puskesmas mempunyai kasus suatu warga keracunan makanan pada dusun setelah jamuan makan (syukuran). Populasi penduduk pada dusun tersebut 500 orang, jumlah penduduk yang hadir pada acara syukuran 100 orang. Sampai hari pertama orang yang mengalami gejala keracunan adalah 25 orang. Berapa risiko keracunan makanan pada penduduk tersebut selama 1 hari ?

Jawaban: CI = 25/100 = 0,25 dalam 1 hari

Insidence rate/ insidence density Insidence rate dari kejadian penyakit adalah potensi perubahan status penyakit per satuan waktu, relative terhadap besarnya populasi individu yang sehat pada waktu itu.

Menyatakan suatu jumlah kasus baru per orang-waktu

ID = Jumlah kasus baru penyakit/(jumlah orang X waktu)

Ciri Dari Insidens Density

a) Mempunyai satuan, yaitu per waktu. Tanpa satuan ini insidens density kehilangan maknanya.

b) Besarnya berkisar antara 0 sampai tak terhingga

Contoh:

:

Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1 Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap penyakit Diare ditemukan laporan penderita baru sebagai berikut : bulan januari 50 orang, Maret 100 orang, Juni 150 orang, September 10 orang dan Desember 90 orang. IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %

Prevalence ( Crude Prevalence Proportion)

Jumlah

individu

sakit

dalam

suatu

populasipada

suatu

waktu

membedakan kasus baru atau kasus lama).

Prevalensi (P) =

jumlah individu sakit pada waktu tertentu

populasi beresiko pada waktu tertentu

x 100%

tertentu

(tanpa

Contoh :

20 ekor sapi di suatu peternakan yang terdiri dari total 200 ekor sapi menderita kelumpuhan, maka prevalensi kelumpuhan di peternakan tersebut adalah …….

20

200

x 100 % = 10 %

Prevalence Risk (Period Prevalence)

Period Prevalence yaitu proporsi populasi yang sakit pada satu periode tertentu.

Contoh :

Pada suatu daerah penduduk pada 1 Juli 2005 100.000 orang, dilaporkan keadaan penyakit A sebagai berikut:

Januari 50 kasus lama dan 100 kasus baru. Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli 25 kasus lama dan 75 kasus baru; Sept 50 kasus lama dan 50 kasus baru dan Des. 200 kasus lama dan 200 kasus baru. Period Prevalens rate :

(50+100) +(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200) /100.000 X 100 % = 0,9 %

Prevalence Rate (Point Prevalence)

Point Prevalens, yaitu probabilitas dari individu dalam populasi berada dalam

keadaan sakit pada satu waktu tertentu.

Rumus

prevalence

x 1000%

rate

:

(Jumlah orang yg menderita suatu penyakit/Populasi at risk) X 1000%

Contoh

:

Satu sekolah dengan murid 100 orang, kemarin 5 orang menderita penyakit campak, dan

campak.

hari

Prevalence rate = 10/100 x 1000 ‰= 100

ini

5

orang

lainnya

menderita

penyakit

3.

Mortalitas Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang

spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Ada tiga hal umum yang menyebabkan kematian yaitu:

a. Degenerasi organ vital

b. Status penyakit

c. Kematian akibat lingkungan/masyarakat

Beberapa jenis statistik kematian adalah:

1. Crude Death Rate (Angka Kematian Kasar) Adalah jumlah semua kematian yang ditemukan pada satu jangka waktu (umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan. Istilah crude (kasar) digunakan karena setiap aspek kematian tidak memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan variable lain.

memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan variable lain. 2. Specific Cause of Death (Penyebab Spesifik Kematian)

2. Specific Cause of Death (Penyebab Spesifik Kematian) Yaitu jumlah seluruh kematian karena satu sebab penyakit dalam jangka waktu tertentu (1 tahun) dibagi dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada pertengahan tahun.

3. Age Specific Death Rate (Angka Kematian Usia Tertentu) Yaitu jumlah seluruh kematian pada golongan

3. Age Specific Death Rate (Angka Kematian Usia Tertentu) Yaitu jumlah seluruh kematian pada golongan usia tertentu per tahun dibagi dengan jumlah penduduk golongan usia bersangkutan pada pertengahan tahun. Manfaat ASDR:

- Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur.

- Untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di berbagai wilayah.

- Untuk menghitung rata-rata harapan hidup

berbagai wilayah. - Untuk menghitung rata-rata harapan hidup 4. Age Specific & Specific Cause of Death

4. Age Specific & Specific Cause of Death Penyakit Tertentu)

(Angka Kematian pada Usia dan

of Death Penyakit Tertentu) (Angka Kematian pada Usia dan 5. Infant Mortality Rate (Angka Kematian Bayi)

5. Infant Mortality Rate (Angka Kematian Bayi) Adalah jumlah seluruh kematian bayi berumur kurang dari 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Manfaatnya adalah sebagai indikator yang sensitif terhadap derajat kesehatan masyarakat.

yang sensitif terhadap derajat kesehatan masyarakat. 6. Neonatal Mortality Rate (Angka Kematian Neonatal) Adalah

6. Neonatal Mortality Rate (Angka Kematian Neonatal) Adalah jumlah kematian bayi berumur kurang dari 28 hati yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Manfaatnya adalah untuk mengetahui tinggi rendahnya usaha perawatan postnatal, program

imunisasi,pertolongan persalinan, penyakit infeksi, terutama saluran napas bagian atas.

penyakit infeksi, terutama saluran napas bagian atas. 7. Post Neonatal Mortality Rate (Angka Kematian

7. Post Neonatal Mortality Rate (Angka Kematian Pasca-Neonatal) Angka kematian ini diperlukan untuk menelusuri kematian di negara belum berkembang, terutama pad wilayah tempat bayi meninggal pada tahun pertamanya akibat malnutrisi, defisiensi nutrisi, dan penyakit infeksi. Post Neonatal Mortality Rate adalah kematian yang terjadi pada bayi usia 28 hari 1 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun.

hari – 1 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun. 8. Perinatal Mortality Rate (Angka

8. Perinatal Mortality Rate (Angka Kematian Perinatal) Adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia 28 minggu/lebih ditambah dengan jumlah kematian bayi berumur <7 hari yang dicatat selama 1 tahun per 1000kelahiran hidup pada tahun yang sama (WHO, 1981). Manfaat untuk menggambarkam keadaan kesehatan masyarakat terutama kesehatan ibu hamil danbayi.Factor yang memengaruhi tinggi rendahnya Perinatal Mortality Rate yaitu banyaknya bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), status gizi bayi, keadaan sosial ekonomi, penyakit infeksi utamanya ISPA, pertolongan persalinan.

penyakit infeksi utamanya ISPA, pertolongan persalinan. 9. Maternal Mortality Rate Adalah jumlah kematian ibu

9. Maternal Mortality Rate Adalah jumlah kematian ibu sebagai akibat dari komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas dalam 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Tinggi rendahnya MMR berkaitan dengan sosial ekonomi,

kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin, dan nifas, pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil, pertolongan persalinan, danperawatan masa nifas.

ibu hamil, pertolongan persalinan, danperawatan masa nifas. 10. Under Five Mortality Rate Adalah jumlah kematian balita

10. Under Five Mortality Rate Adalah jumlah kematian balita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama. Tujuannya adalah untuk mengukur status kesehatan balita.

Tujuannya adalah untuk mengukur status kesehatan balita. 11. Fetal Death Rate (Angka Kematian Janin) Istilah

11. Fetal Death Rate (Angka Kematian Janin) Istilah kematian janin=istilah lahir mati. Kematian Janin adalah kematian yang terjadi akibat keluar/dikeluarkannya janin dari Rahim, terlepas dari durasi kehamilannya.Jikabayi tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan saat lahir, bayi dinyatakan meninggal.Tanda-tanda kehidupan biasanya ditentukan dari pernapasan, detak jantung, detak tali pusat atau gerakan otot volunter.Angka kematian janin adalah proporsi jumlah kematian janin yang dikaitkan dengan jumlah kelahiran pada periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun.

kelahiran pada periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun. 12. Case Fatality Rate Adalah perbandingan antara jumlah

12. Case Fatality Rate Adalah perbandingan antara jumlah seluruh kematian karena satu penyebab penyakit tertentu dalam 1 tahun dengan jumlah penderita penyakit tersebut pada tahun yangsama. Digunakan untuk mengetahui penyakit-penyakit dengan tingkat kematian yang sama. Digunakan untuk mengetahui penyakit- penyakit dengan tingkat kematian yang sama. Digunakan untuk mengetahui penyakit-penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi.

Indikator lain yang dapat dikembangkan secara epidemiologi Selain berbagai indikator konvensional di ats yang sering digunakan, kita juga dapat mengembangkan berbagai indikator epidemiologi lain yang lebih menjurus. Beberapaindikator yang menjurus ini dapat dikembangkan antara lain :

13. Cause-Specific Mortality Rate (CSMR) untuk penyakit tertentu Merupakan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Dirumuskan :

yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Dirumuskan : 14. Age Specific Morbidity Rate (ASMR) untuk penyakit

14. Age Specific Morbidity Rate (ASMR) untuk penyakit tertentu Dirumuskan :

Morbidity Rate (ASMR) untuk penyakit tertentu Dirumuskan : Faktor yang mendukung usaha pengurangan angka mortalitas :

Faktor yang mendukung usaha pengurangan angka mortalitas :

a. Imunisasi

b. Pertumbuhan ekonomi

c. Upaya dan pendidikan kesehatan

d. Berkembangnya kesadaran masyarakat

e. Sarana dan prasarana kesehatan

Faktor yang menghambat usaha pengurangan angka mortalitas :

a. Peningkatan organisasi

b. Kemiskinan

c. Tersebarnya daerah dan pulau terpencil

Hubungan morbiditas dan mortalitas digambarkan sebagai berikut:

Menurut WHO bahwa morbiditas dapat menimpa manusia lebih dari satu kali dan selanjutnya rangkaian morbiditas ini (morbiditas kumulatif) pada akhirnya menghasilkan suatu kematian. Jadi hubungan keduanya adalah bahwa morbiditasyang berkelanjutan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena keduanya saling berkaitan maka cara pencegahan salah satukomponen sama saja dengan mencegah kedua aspek tersebut. Maksudnya mencegah morbiditas juga mencegah mortalitas ataupun sebaliknya. Cara pencegahan keduanya adalah imunisasi, jampersal, jamkesmas, ASI eksklusif, meningkatkan kualitas perawat, dan lain lain.

4. Faktor Risiko

Risiko merupakan probabilitas dari beberapa keadaan yang tidak menyenangkan, atau kemungkinan individu yang tanpa penyakit, tetapi terpapar oleh beberapa faktor risiko, akan

menderita suatu penyakit. Besarnya risiko untuk terkena peyakit dapat dihitung dan dibandingkan dengan cara menghitung besarnya insiden suatu penyakit antara orang-orang yang terpajan oleh faktor penyebab penyakit tersebut dengan orang-orang yang tidak terpajan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kenaikan risiko untuk terjadinya suatu penyakit antara lain:

a. Lingkungan fisik antara lain : toksin, agen infeksi, obat-obatan

b. Lingkungan sosial antara lain : keluarga pevah/tidak harmonis, kehidupan rutin sehari- hari, budaya (gangguan emosi, gangguan fisik)

c. Perilaku misalnya : kebiasaan merokok, kurang olahraga, naik motor tanpa helm, hubungan seks berganti-ganti pasangan, dll. Paparan faktor risiko dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sehat, kontak dengan atau telah mempunyai faktor risiko tersebut pada dirinya, yang kedua paparan dapat terjadi pada satu titik waktu tertentu. Kegunaan mengetahui faktor risiko antara lain:

a. Memprediksi atau meramalkan kejadian penyakit

b. Faktor risiko memungkinkan terjadinya penyakit relatif lebih nyata pada individu yang terpapar dibanding yang tidak terpapar

c.

Faktor risiko tidaklah merupakan suatu kausa, tetapi dapat menentukan hasil (outcome) suatu penyakit secara tidak langsung.

d. Pengetahuan tentantang risiko dapat digunakan dalam proses diagnosis untuk menaikkan prevalensi penyakit diantara penderita yang diuji/di-test, serta nilai duga positif dari sebuah tes diagnostik.

e. Bila faktor risiko sebagai penyebab penyakit, maka menghilangkan faktor risiko dapat digunakan sebagai upaya pencegahan penyakit. MACAM FAKTOR RESIKO

1. Menurut dapat tidaknya resiko itu diubah

a. Unchangeable risk factor : Faktor resiko yang tidak dapat diubah, seperti umur, genetik, jenis kelamin. b. Changeable risk factor : Faktor resiko yang dapat diubah seperti kebiasaan merokok dan olahraga.

2. Menurut kestabilan peranan faktor resiko a. Suspected risk factor : Faktor resiko yang dicurigai belum mendapat dukungan sepenuhnya. Contohnya, merokok dapat mengakibatkan kanker rahim b. Established risk factor : Faktor resiko yang telah mendapat dukungan. Contohnya, rokok dapat menyebabkan kanker paru

3. Menurut Ryadi dan Wijayanti (2011:11) a. Predisposising factor : Faktor yang menyebabkan kondisi semankin peka (susceptibility) terhadap kesempatan timbulnya penyakit. Misalnya umur, seks, dan ras.

b. Anabling factor : Faktor yang makin memacu terhadap timbulnya penyakit. Misalnya tingkat pendapatan keluarga yang rendah, gizi jelek, perumahan maupun sanitasi yang jelek, pelayanan medis yang tidak terjangkau maupun pelayanan yang tidak adekuat.

c. Precipitating factor : Faktor yang merupakan paparan terhadap suatu penyakit yang memang terkait dalam timbulnya penyakit tersebut. Misalnya merokok terhadap kanker pari-paru, debu asbestos terhadap kanker.

5.

PENCEGAHAN FAKTOR RESIKO

a. Pencegahan primordial: Merupakan upaya mengkondisikan masyarakat supaya

merasa penyakit tersebut tidak dapat berkembang karena tidak adanya peluang dan dukungan dari kebiasaan

b. Pencegahan tingkat I

i. Promosi Kesehatan Masyarakat :

Kampanye kesadaran masyarakat,

Promosi kesehatan

Pendidikan Kesehatan Masyarakat

ii. Pencegahan Khusus :

Pencegahan keterpaparan

Pemberian kemopreventif

Pemberian komopreventif

c. Pencegahan tingkat II

Diagnosis dini, misalnya dengan screening

Pengobata, misalnya dengan kemoterapi atau pembedahan

d. Pencegahan tingkat III : Dengan cara rehabilitasi

A. Risiko Relatif Risiko relatif adalah ukuran yang menunjukkan berapa kali (bisa lebih besar atau

lebih

dibandingkan populasi tak terpapar.

kecil)

risiko

untuk

mengalami

peyakit

pada

populasi

Rumus menghitung risiko relatif:

RR =

Dimana:

Insidensi kumulatif terpapar:

terpapar

relatif

/

Insidensi kumulatif tidak terpapar:

/

Besarnya nilai RR menunjukkan bahwa:

Jika orang terpapar dan tak terpapar mempunyai risiko kematian yang sama, maka RR = 1 artinya paparan tidak berhubungan dengan outcome.

Jika risiko diantara orang terpapar lebih besar dibandingkan orang tidak terppar, RR > 1 artinya paparan yang merusak (hazardous exposure).

Jika risiko diantara orang terpapar lebih kecil daripada orang yang tak terpapar, RR < 1 paparan merupakan hal yang menguntungan (beneficial exposure). Jika digambarkan dalam sebuah tabulasi sebagai berikut:

Dimana:

Tidak

Terpapar

Terpapar

Jumlah

Kasus

A

B

AB

Kontrol

C

D

CD

Jumlah

AC

BD

Insidensi kumulatif terpapar

:

Insidensi kumulatif tak terpapar

:

Risiko Relatif (RR)

:

A/(A+C)

B/(B+D)

A

(A+C)

B

(B+D)

Contoh:

Hubungan antara apgar score 10 menit dan risiko kematian lima tahun pertama kehidupan bayi berat lahir rendah (BBLR)

Apgar

Score

Apgar

Score

Total

 

0-3

4-6

 

Death

42

43

85

No Death

80

302

282

 

122

345

467

Insidensi Kumulatif terpapar : 122 = 0,344 = 34%

Artinya sekitar satu diatara tiga bayi yang beratnya > 2500 gram dan punya score apgar sangat rendah pada 10 menit akan meninggal selama satu tahun kehidupannya.

42

Insidensi Kumulatif tidak terpapar : 345 = 0,125 = 12,5%

Artinya satu diantara delapan bayi yang beratnya > 2500 gram dan punya score apgar menengah pada 10 menit akan meninggal dalam satu tahun kehidupannya.

Risiko relatif : 0,344 = 2,8

43

0,125

Artinya bayi pada berat lahir seperti ini dengan score apgar 10 menit sangat rendah 3x lebih besar kemungkinanunnya untuk meniggal pada tahun pertama kehidupannya daripada yang lahir dengan berat serupa dengan score apgar menengah.

B. Odds rasio Odds rasio merupakan salah satu cara enghitung kekuatan asosiasi paparan dan ukuran penyakit dalam ukuran rasio. Odds rasio biasa digunakan dalam studi kasus kontrol. Odds adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan rasio antara dua nilai variabel yang dikotomi. Dengan demikian, ada yang disebut odds kasus dan odds kontrol. Odds kasus adalah rasio antara banyaknya kasus terpapar dan kasus tak terpapar. Odds kontrol adalah rasio antara banyaknya kontrol terpapar dan kontrol tak terpapar. Kekuatan asosiasi paparan dan penyakit dapat diukur dengan membandingkan odds kasus dan odds kontrol. Agar OR dapat digunakan untuk mendekati RR, maka syarat yang perlu dipenuhi adalah:

Penyakit yang diteliti merupakan penyakit langka

Kasus penyakit adalah kasus yang baru saja di diagnosa, yaitu insiden. Jika digambarkan dalam sebuah tabulasi sebagai berikut:

Tidak

terpapar

Terpapar

Jumlah

Kasus

A

B

J1

Kontrol

C

D

J2

Jumlah

J3

J4

Odds pemaparan

Odds rasio

: A

C

C/D atau A/C

: A/B

B/D =

AD

BC

C

D

Contoh:

Pada 100 orang penderita karsinoma paru-paru terdapat 5 orang perokok, sedangkan pada 100 orang bukan penderita karsinoma terdapat 2 orang perokok.

Tidak

terpapar

Terpapar

Jumlah

Kasus

5

95

100

Kontrol

2

98

100

Jumlah

7

193

200

Artinya besarnya risiko penderita karsinoma paru-paru yang mempunyai pengalaman terpajan oleh rokok 2,6 kali lebih besar dibadingkan dengan tidak terpajan oleh rokok.

5. MASALAH KESEHATAN

1. Penyebab Masalah Kesehatan

1. Perilaku masyarakat Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting.Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan sehat harus dapat dimunculkandari dalam diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki kompetensi dalam menggerakan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan masyarakat. Masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan

sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.

Pembuatan peraturan tentang berperilaku sehat juga harus dibarengi dengan pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat.Sebab, apabila upaya dengan menjatuhkan sanksi hanya bersifat jangka pendek.Pembinaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.Tokoh-tokoh masyarakat sebagai role model harus diajak turut serta dalam menyukseskan program-program kesehatan.

2. Lingkungan Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik.Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumberberkembangnya penyakit.Hal ini jelas membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak. Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat. Namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kita seperti diare, demam berdarah, malaria, TBC, cacar dan sebagainya. Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.

3. Pelayanan kesehatan Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat.Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan.Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan.Terutama untuk pelayanan

4.

kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat.Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan jugamesti ditingkatkan. Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat besar perananya.sebab di puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun program-program kesehatan.Utamanya program-program pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga masyarakat tidak banyak yang jatuh sakit. Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus dan lainnya. Penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya. Genetik Seperti apa keturunan generasi muda yang diinginkan? Pertanyaan itu menjadi kunci dalam mengetahui harapan yang akan datang. Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.Oleh sebab itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya. Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masainilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang.Namun masih banyak saja anakIndonesiayang status gizinya kurang bahkan buruk.Padahal potensi alamIndonesiacukup mendukung. Oleh sebab itulah program penanggulangan kekurangan gizi dan peningkatan status gizi masyarakat masih tetap diperlukan. Utamanya program Posyandu yang biasanya dilaksanakan di tingkat RT/RW.

Dengan berjalannya program ini maka akan terdeteksi secara dini status gizi masyarakat dan cepat dapat tertangani. Program pemberian makanan tambahan di posyandu masih perlu terusdijalankan, terutamanya daeraha yang miskin dan tingkat pendidikan masyarakatnya rendah.Pengukuran berat badan balita sesuai dengan kms harus rutin dilakukan.Halini untuk mendeteksi secara dini status gizi balita.Bukan saja pada gizi kurang kondisi obesitas juga perlu dihindari.Bagaimana kualitas generasi mendatang sangat menentukan kualitas bangas Indonesia mendatang.

2. Masalah Kesehatan di Indonesia

- Kurangnya tenaga medis

- Akses yang belum memadai

- Edukasi yang kurang

- Kesadaran masyarakat buruk

- Biaya untuk berobat mahal

- Tidak seriusnya pemerintah menangani asalah kesehatan

3. Masalah Kesehatan yang penting di Indonesia The DBM (double burden of mal-nutrition) Suatu konsep yang pertama kali disajikan sekitar satu dekade yang lalu yang artinya ko-eksistensi kekurangan gizi dan kelebihan gizi makronutrien maupun mikronutrien di sepanjang kehidupan pada populasi, masyarakat,

keluarga dan bahkan individu yang sama. Yang mengkhawatirkan adalah dimensi DBM di sepanjang kehidupan, atauketerkaitan antara gizi buruk pada ibu hamil dan janin dengan meningkatnya kerentanan terhadap kelebihan gizi dan pola makan yang terkait penyakit tidak menular di kemudian hari. The age of triple health burden:

1. Masih tingginya angka kesakitan penyakit menular “klasik”

2. Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit Tidak Menular (Non-Communicable Disease)

4. Perbedaan Kesehatan di Negara Berkembang dan Negara Maju Dalam diskusi yang berhubungan dengan kesehatan , akan sangat membantu untuk mempertimbangkan indikator sosial dan berhubungan dengan kesehatan yang sering dikutip dalam diskusi tentang kondisi kesehatan negara-negara berkembang. Ini termasuk distribusi populasi perkotaan/ pedesaan, tingkat melek huruf, akses terhadap air bersih,kematian bayi dan dan balita, kematian ibu, tingkat kesuburan, dan harapan hidup. Tabel 11 kontras terhadap norma khas untuk indeks ini untuk negara maju dan negara berkembang, mengingat bahwa banyak negara berada di antara kedua tipe ideal. Meskipun negara-negara maju sangat urbanisasi dan industri, negara berkembang memiliki ekonomi terutama pertanian didukung oleh penduduk tinggal di pedesaan dengan pendidikan sedikit. Akses terhadap air bersih dan layanan medis modern relatif rendah, dengan kematian bayi, anak gizi buruk, dan mortlitas ibu yang sangat tinggi di daerah yang kurang berkembang. Harapan hidup jauh lebih rendah, dan kesuburan jauh lebih tinggi. Penelitian tentang perilaku kesehatan di negara berkembang berbeda nyata dari mitranya di negara maju, karena beberapa alasan. Pertama, kesehatan anak dan kelangsungan hidup adalah masalah kesehatan masyarakat yang paling penting di dunia ketiga karena dominasi kaum muda dalam populasi (sebuah dampak dari kesuburan yang tinggi ) dan karena kematian pada kelompok usia ini melebihi kematian orang dewasa. Kedua, infeksi dan parasit penyakit lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang daripada kronis, penyakit noncomunicable, dan faktor risiko lingkungan untuk masalah kesehatan ini lebih penting daripada perilaku kesehatan individu. Ketiga, ketika penelitian perilaku kesehatan di negara maju cenderung diorganisir sekitar perilaku tertentu (misalnya merokok, olahraga, diet, penggunaan sabuk pengaman), penelitian perilaku di negara berkembang sebagian besar berpusat di sekitar penyakit biomedis dan upaya terorganisir untuk mengontrol mereka ( misalnya malaria, AIDS, TBC, diare).

Keempat, pemerintah dan keluarga di negara-negara berkembang memiliki sumber daya yang lebih sedikit untuk berinvestasi dalam perubahan gaya hidup, dan individu memiliki lebih sedikit pilihan dan kontrol perilaku yang berhubungan dengan kesehatan mereka dibandingkan yang khas dari negara- negara maju. Dengan demikian, penelitian perilaku kesehatan di negara- negara berkembang dibentuk oleh tujuan kesehatan yang dominan mengurangi angka kematian anak dari penyakit menular yang dapat dicegah, sedangkan di negara maju penekanan pada mengurangi angka kesakitan dewasa dari penyakit kronis, terutama melalui modifikasi gaya hidup. Tabel 1. Indikator Kesehatan di Negara Maju dan Berkembang

Tabel 1. Indikator Kesehatan di Negara Maju dan Berkembang 3. Mengetahui hambatan dalam kesehatan a. Perilaku

3. Mengetahui hambatan dalam kesehatan a. Perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat merupakan salah satu faktor hambatan dalam kesehatan. Perilaku masyarakat yang tidak sehat dapat dilihat dari kebiasaan merokok, rendahnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi lebih pada anak balita, serta kecenderungan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS, penderita penyalahgunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif (NAPZA) dan kematian akibat kecelakaan.

b. Kinerja pelayanan kesehatan yang rendah. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor hambatan dalam kesehatan penduduk. Masih rendahnya kinerja pelayanan kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, proporsi bayi yang mendapatkan imunisasi campak, dan proporsi penemuan kasus (Case Detection Rate) tuberkulosis paru.

c. Rendahnya kondisi kesehatan lingkungan. Salah satu hambatan lainnya yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan yang tercermin antara lain dari akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar. Rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air yang layak untuk dikonsumsi masih sedikit, dan akses rumah tangga terhadap sanitasi dasar juga belum 100 %.

d. Rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Walaupun rumah sakit terdapat di hampir semua kabupaten/kota, namun kualitas pelayanan sebagian besar RS pada umumnya masih di bawah standar. Pelayanan kesehatan rujukan belum optimal dan belum memenuhi harapan masyarakat. Masyarakat merasa kurang puas dengan mutu pelayanan rumah sakit dan puskesmas, karena lambatnya pelayanan, kesulitan administrasi dan lamanya waktu tunggu. Perlindungan masyarakat di bidang obat dan makanan masih rendah. Dalam era perdagangan bebas, kondisi kesehatan masyarakat semakin rentan akibat meningkatnya kemungkinan konsumsi obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

e. Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata. Indonesia mengalami kekurangan pada hampir semua jenis tenaga kesehatan yang diperlukan. Contohnya pada dokter yang baru saja tempatkan lulus namun tidak mau ditempatkan di daerah pelosok dengan alasan seperti sinyal yang jelek, ketidaktersediaan transportasi, jauh dari

keluarga, sehingga menyebabkan tenaga medis berkumpul di daerah perkotaan, dan hal itu menyebabkan warga yang tinggal di daerah pelosok akan sulit mendapatkan pelayanan kesehatan.

2)

Indikator Kesehatan di Indonesia

Ada

Kesehatan Masyarakat) dengan nilai korelasi UHH yang tertinggi. Indikator kesehatan tersebut adalah :

a. Prevalensi balita gizi buruk dan kurang

b. Prevalensi balita sangat pendek dan pendek

c. Prevalensi balita sangat kurus dan kurus,

d. Prevalensi balita gemuk, prevalensi diare,

e. Prevalensi pnemonia

f. Prevalensi hipertensi,

g. Prevalensi gangguan mental

h. Prevalensi asma

i. Prevalensi penyakit gigi dan mulut

j. Prevalensi disabilitas

k. Prevalensi cedera

yang digunakan dalam IPKM (Indeks Pebangunan

24

indikator kesehatan

l. Prevalensi penyakit sendi,

m. Prevalensi ISPA,

n. Proporsi perilaku cuci tangan,

o. Proporsi merokok tiap hari,

p. Akses air bersih, akses sanitasi,

q. Cakupan persalinan oleh nakes

r. Cakupan pemeriksaan neonatal-1,

s. Cakupan imunisasi lengkap,

t. Cakupan penimbangan balita,

u. Ratio Dokter/Puskesmas,

Indikator sehat menurut WHO:

a. Ada tidaknya kelainan pathofisiologis pada seseorang

b. Mengukur kemampuan fisik seseorang seperti kemampuan aerobik, ketahanan, kekuatan, kelenturan sesuai umur

c. Penilaian atas kesehatan sendiri

d. Indeks Massa Tubuh (berat badan (kg) / T 2 (m))

Indikator Kesehatan menurut Indonesia Sehat 2010 dari Depkes RI tahun 2003 terdiri dari 3 indikator, yaitu:

a. Indikator Derajat Kesehatan yang merupakan hasil akhir, terdiri atas indikator angka- angka mortalitas, angka-angka morbiditas, dan indikator status gizi

b. Indikator Hasil Antara, terdiri atas indikator keadaan lingkungan, indikator perilaku hidup masyarakat, dan indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan

c. Indikator Proses dan Masukan, terdiri atas indikator pelayanan kesehatan, indikator sumber daya kesehatan, dan indikator manajemen kesehatan serta indikator kontribusi sektor-sektor terkait.

3)

Peran Epidemiologi dalam Kesehatan

Sehat menurut WHO (1948) adalah kondisi fisik, mental, dan sosial yang sempurna dan

bukan sekedar tidak sakit atau tidak cacat. Sedangkan menurut UU Kesehatan RI 1961 yang diperbaharui dengan UU tahun 1992 berbunyi Kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dengan pengertian diatas, bisa diketahui bahwa Epidemiologi mempunyai andil yang besar pada bidang kesehatan. Maka Epidemiologi sebagai suatu displin ilmu mempunyai peran sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang utama yang sedang dihadapi oleh masyarakat

b. Mengetahui faktor faktor yang berperanan dalam terjadinya masalah kesehatan atau penyakit yang ada di masyarakat

c.

Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan pengambilan keputusan

d. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan

e. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk mengatasi atau menanggulanginya

f. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu dipecahkan.

Dalam melakukan peranannya, epidemiologi tidak dapat melepaskan diri dalam keterkaitannya dengan disiplin ilmu kesehatan masyarakat lainnya seperti Administrasi kesehatan masyarakat, biostatistika, kesehatan lingkungan dan pendidikan kesehatan/dan ilmu perilaku. Misalnya, peranan epidemiologi dalam proses perencanaan kesehatan. Tampak bahwa epidemiologi dapat dipergunakan dalam proses perencanaan yang meliputi identifikasi masalah, memilih prioritas, menyusun objektif, menerapkan kegiatan, koordinasi dan evaluasi. Dalam proses perencaan ni epidemiologi sangat memerlukan tambahan pengetahuan dengan berbagai disiplin ilmu kesehatan masyarakat.

Sebaliknya, dalam mempersiapkan suatu intervensi pendidikan kesehatan, epidemiologi dapat dipergunakan dalam membuat suatu “diagnosis Epidemiologi” dari masalah intervensi tersebut. Disni epidemiologi berperan dalam menentukan masalah kesehatan berdasarkan indikator vital seperti mortalitas, morbiditas, fertilitas dan disabilitas. Juga dapat dipakai dalam menghitung frekuensi penyakit dalam bentuk insidensi, prevalensi, distribusi, intensitas dan kelangsungan suatu penyakit.

4) Masalah Kesehatan di Daerah Terpencil Berdasarkan Keputusan Mentri Dalam Negeri No 9 Tahun 1992 tentang Pedoman dan Tata Cara Penetapan Wilayah Terpencil, menyatakan bahwa derah terpencil adalah suatu lingkungan pemukiman dan tempat bekerja dalam suatu wilayah administrasi pemerintah tertentuyang kondisi alamnya menyebabkan kesulitan yang tnggi bagi penduuduknya karena :

a. Keterbatasan sarana dan prasarana perhubungan

b. Keterlambatan atau ketidakadaan dalam pelayanan umum dibidang administrasi pemerintahan, pelayanan kesehatan, pertanian, penyuluhan, penerangan, dan kesempatan untuk melanjutkan SMP atau SLTA

c. Kelangkaan harga kebutuhan pokok.

Masalah yang banyak terjadi di daerah terpencil adalah :

a. Kurangnya sarana dan prasarana serta SDM (Sumber Daya Manusia) pada puskesmas di daerah terpencil. Sehingga untuk mendapat obat, tenaga medis harus menempuh jara yang jauh dan medan yang sulit

b. Terdapat penyebaran penyakit ISPA(infeksi saluran pernafasan akut), tuberculosis paru paru, diare, dan malaria klinis. Hal ini disebabkan oleh geografis yang mendukung tumbuhnya penyakit tersebut.

c. Kebiasaan masyarakat dalam berobat. Masyarakat belum sepenuhnya percaya pada dokter dan masih terikat pada tradisi. Contohnya 50,8% dari mayarakat sudad memanfaatkan puskesmas, 44,1% melakukan pengobatan tradisional, 5,1% masih melakukan pengobatan sendiri.

d. Perilaku dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seorang ibu yang harus duduk selama 40 hari pasca melahirkan, pembesaran limfa malaria harus diurut (dipijat), bayi yang berumur 40 hari tidak boleh dibawa kemana-mana sekalipun untuk ke posyandu

e. Keadaan kesehatan lingkungan. Contohnya daerah pasang surut, Jambi terdapat perasalahan kurangnya air bersih sehingga kebersihan kurang terjamin. Lain halnya dengan derah kepulauan, pinggir sungai dan pegunungan yang ketersediaan airnya melimpah. Tetapi masalah utama derah tersebut adalah perilaku asyarakay yang masih buang air besar (BAB) di sumber air, sehinggga sumber air tercemar.

5)

Tingkatan Pelayanan Kesehatan Tingkat pelayanan kesehatan adalah:

a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer) Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar dan dilakukan bersama masyarakat dan dimotori oleh Dokter Umum (Tenaga Medis) dan Perawat Mantri (Tenaga Paramedis). Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau kecelakaan. Primary health care pada pokoknya ditunjukan kepada masyarakat yang sebagian besarnya bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang berpenghasilan rendah di perkotaan. Pelayanan kesehatan ini sifatnya berobat jalan (Ambulatory Services).Diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.

Contohnya : Puskesmas, Puskesmas keliling, klinik.

b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (sekunder)

Pelayanan kesehatan sekunder adalah pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan bahkan kadang kala pelayanan subspesialis, tetapi masih terbatas. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut (rujukan). Di Indonesia terdapat berbagai tingkat rumah sakit, mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A. Pelayanan kesehatan dilakukan oleh Dokter Spesialis dan Dokter Subspesialis terbatas. Pelayanan kesehatan ini sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient services).Diperlukan untuk kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D.

c.

Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tersier)

Pelayanan kesehatan tersier adalah pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan subspesialis serta subspesialis luas. Pelayanan kesehatan dilakukan oleh Dokter Subspesialis dan Dokter Subspesialis Luas. Pelayanan kesehatan ini sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan rawat inap (rehabilitasi).Diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.

Menurut pendapat Hodgetts dan Casio, jenis pelayanan kesehatan secara umum dapat dibedakan atas dua, yaitu:

a. Pelayanan kedokteran

Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan kedokteran (medical services) ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri (solo practice) atau secara bersama-sama dalam satu organisasi. Tujuan utamanya untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan, serta sasarannya terutama untuk perseorangan dan keluarga.

2. Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok kesehatan masyarakat (public health service) ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam suatu organisasi. Tujuan utamanya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, serta sasarannya untuk kelompok dan masyarakat.

6) Tingkatan Masalah Penyakit Epidemi Wabah atau epidemi adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar tersebut. Epidemi dipelajari dalam epidemiologi. Dalam epidemiologi, epidemi berasal dari bahasa Yunani yaitu “epi” berarti pada dan

a.

“demos” berarti rakyat. Dengan kata lain, epidemi adalah wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga. Jumlah kasus baru penyakit di dalam suatu populasi dalam periode waktu tertentu disebut incide rate (laju timbulnya penyakit). Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia , pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi, yaitu “kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

b. Endemi Endemi adalah penyakit yang umum terjadi pada laju konstan namun cukup tinggi pada suatu populasi. Berasal dari bahasa Yunani “en” yang artinya di dalam dan “demos” yang artinya rakyat. Terjadi pada suatu populasi dan hanya berlangsung di dalam populasi tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.

c. Pandemi Pandemi atau epidemi global atau wabah global adalah kondisi dimana terjangkitnya penyakit menular pada banyak orang dalam daerah geografi yang luas. Berasal dari bahasa Yunani “pan” yang artinya semua dan “demos” yang artinya rakyat.

d. Sporadik Sporadik yakni penyakit yang frekuensinya berubah ubah menurut waktu

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suatu pandemi dikatakan terjadi bila ketiga syarat berikut telah terpenuhi :

a. Timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi bersangkutan,

b. Agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius,

c. Agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia.

d. Suatu penyakit atau keadaan tidak dapat dikatakan sebagai pandemic hanya karena menewaskan banyak orang. Sebagai contoh, kelas penyakit yang dikenal sebagai kanker menimbulkan angka kematian yang tinggi namun tidak digolongkan sebagai pandemi karena tidak ditularkan.

4.

PENENTUAN PRIORITAS MASALAH Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan

oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk menentukanurutan masalah dari yang paling penting sampai dengan kurang penting. Penetapanprioritas memerlukan perumusan masalah yang baik, yakni spesifik, jelas ada kesenjangan yang dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif, serta dirumuskan secara sistematis. Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas adalah menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat berbeda dan dalam kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda pula. Terlalu sering kesalahan timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak pada satu dimensi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan prioritas, yaitu:

a. Waktu Semua masalah tidak mungkin diselesaikan dalam waktu yang sama sehingga harus dipilih masalah yang harus didahulukan

b. Sumber daya Keterbatasan sumber daya menyebabkan tidak mungkinnya suatu masalah diselesaikan secara bersama-sama. Sumberdaya ini meliputi SDM, Teknologi, dana, dsb.

c. Peneliti Peneliti harus fokus pada masalah yang dihadapi sehingga hasilnya maksimal.

Selain itu, beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yakni:

2. Besarnya masalah yang terjadi

3. Pertimbangan politik

4. Persepsi masyarakat

5. Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan.

Untuk dapat menetapkan prioritas masalah ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yakni:

a. Melakukan pengumpulan data

Untuk dapat menetapkan prioritas masalah kesehatan, perlu tersedia data yang cukup. Untuk itu perlulah dilakukan pengumpulan data. Data yang perludikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan lingkungan, perilaku, keturunan, dan pelayanan kesehatan, termasuk keadaan geografis, keadaanpemerintahan, kependudukan, pendidikan, pekerjaan, mata pencaharian, sosial budaya, dan keadaan kesehatan.

b. Pengolahan Data Apabila data yang telah berhasil dikumpulkan, maka data tersebut harus diolah, maksudnya adalah menyusun data yang tersediasedemikian rupa sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing data tersebut. Cara pengolahan data yang dikenal ada tiga macam, secara manual, elektrikal dan mekanik.

c. Penyajian Data Data yang telah diolah perlu disajikan, ada tiga macam penyajian

data yang lazim dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal.

d. Pemilihan Prioritas Masalah Hasil penyajian data akan memunculkan pelbagai masalah. Tidak semua masalah dapat diselesaikan. Karena itu diperlukan pemilihan prioritasmasalah, dalam arti masalah yang paling penting untuk diselesaikan.

Cara pemilihan prioritas masalah banyak macamnya. Secara sederhana dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

a. Scoring Technique Pada cara ini pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan score (nilai) untuk berbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan. Parameteryang dimaksud adalah :

1. Besarnya masalah

2. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan

3. Kenaikan prevalensi masalah

5.

Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut terselesaikan

6. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah

7. Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah.

1. Teknik Kriteria Matriks (Criteria Matrix Technique)

a. Pentingnya masalah Makin penting (importancy) masalah tersebut, makin diprioritaskan penyelesaiannya. Beberapa ukuran pentingnya masalah sebagai berikut:

i. Besarnya masalah (prevalence)

ii. Akibat yang ditimbulkan oleh masalah (severity)

iii. Kenaikan besarnya masalah (rate of increase)

iv. Derajat keinginan masyarakat yang tidak dipenuhi (degree of unmeet need)

v. Suasana politik (political climate)

vi. Keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit)

vii. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern)

b. Kelayakan teknologi Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk mengatasi masalah (technical feasibility), makin diprioritaskan masalah tersebut.

c. Sumber daya yang tersedia

Makin tersedia sumberdaya yang dapat dipakai seperti tenaga, dana dan sarana untuk mengatasi masalah (resource ability) makin diprioritaskan masalah tersebut.

2. Metode Delbeq Pada metode ini diprioritaskan masalah dilakukan dengan memberikan bobot (yang merupakan nilai maksimum dan berkisar antara 0 sampai 100 dengan kriteria:

a. Besar masalah yaitu % atau jumlah atau kelompok penduduk yang ada kemungkinan terkena masalah serta keterlibatan masyarakat dan instansi terkait.

b. Kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas dan mortalitas, kecenderungannya dari waktu ke waktu.

c. Biaya/dana yaitu besar atau jumlah dana yang diperlukan untuk mengatasi masalah baik dari segi instansi yang bertanggung jawab terhadap penyelesaian masalah atau dari masyarakat yang terkena masalah.

d. Kemudahan yaitu tersediannya tenaga, sarana/peralatan, waktu serta cara atau metode dan teknologi penyelesaian masalah seperti tersediannya kebijakan/peraturan, petunjuk pelaksanaan (juklak), petunjuk teknis (juknis) dan sebagainnya.

3. Metode Hanlon Dalam metode Hanlon dibagi dalam 4 kelompok kriteria, masing-masing:

1. Kelompok kriteria A

2. Kelompok kriteria B

3. Kelompok kriteria C

4. Kelompok kriteria D

= besarnya masalah

= tingkat kegawatan masalah

= kemudahan penanggulangan masalah

= Pearl factor, dimana :

P

= Kesesuaian

E

= Secara ekonomi murah

A

= Dapat diterima

R

= Tersedianya sumber

L

= Legalitas terjamin

4. Metode CARL Metode CARL merupakan metode yang cukup baru di kesehatan. Metode CARL juga didasarkan pada serangkaian kriteria yang harus diberi skor 0-10. Kriteria CARL tersebut mempunyai arti:

C = Capability yaitu ketersediaan sumber daya (dana, sarana dan peralatan) A = Accessibility yaitu kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi atau tidak. Kemudahaan dapat didasarkan pada ketersediaan metode/cara/teknoloi serta penunjang pelaksanaan seperti peraturan

R = Readiness yaitu kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran,

seperti keahlian atau kemampuan dan motivasi.

L = Leverage yaitu seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain

dalam pemecahan masalah yang dibahas.

5. Metode Reinke Metode Reinke juga merupakan metode dengan mempergunakan skor. Nilai skor berkisar 1-5 atas serangkaian kriteria:

M = Magnitude of the problem yaitu besarnya masalah yang dapat dilihat dari %

atau jumlah/kelompok yang terkena masalah, keterlibatan masyarakat serta kepentingan instansi terkait.

I = Importancy atau kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas dan mortalitas serta kecenderunagn dari waktu ke waktu.

V = Vulnerability yaitu sensitif atau tidaknya pemecahan masalah dalam

menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sensitifitas dapat diketahui dari perkiraan

hasil (output) yang diperoleh dibandingkan dengan pengorbanan (input) yang dipergunakan.

C = Cost

yaitu biaya atau dana yang dipergunakan untuk melaksanakan

pemecahan masalah. Semakin besar biaya semakin kecil skornya.

P = Prioritas atau pemecahan masalah.

6. Metode PAHO Metode PAHO adalah termasuk scoring technique dalam menentukan prioritas masalah :

1. Magnitude : Berapa banyak penduduk yang terkena masalah atau penyakit yang ditunjukkan dengan angka prevalens.

2. Severity : Besarnya kerugian yang timbul yang ditunjukkan dengan case fatality rate masing-masing penyakit. Makin tinggi tingkat keparahannya maka skor makin besar.

3. Vulnerablity : Sejauh mana ketersediaan teknologi atau obat yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Makin tersedianya

ahli, peralatan danteknologi maka skor makin besar, dan makin sulit ditangani skornya rendah.

4. Community / Political Concern : adalah tingkat perhatian , diukur dari perhatian para pengambil kebijakan dan masyarakat, biasanya kita lihat dari kehebohan masyarakat atau pimpinan daerah dalam menyikapi kasus yang sedang terjadi. Makin tinggi tingkat perhatiannya maka makin tinggi skornya.

5. Affordability : Menunjukkan ada tidaknya dana yang tersedia.

Penilaian dengan metode PAHO dilakukan oleh Tim (beberapa orang) dan dibutuhkan ahli untuk menyatukan persepsi dari semua tim penilai, karena kalau tidak maka akan banyak terjadi bias dalam penilaian. Setelah masing-masing anggota memberikan penilaian maka diambil rata-rata,bila ada anggota tim yang menilai ekstrim maka nilai ekstrim tersebut dibuang, tidak masuk dalam rata-rata, selanjutnya nilai rata-rata tersebut dibulatkan. Setelah semua variable diberi penilaian, maka masing-masing kasus kita hitung skor totalnya dengan cara :

M x S x V x C

kasus kita hitung skor totalnya dengan cara : M x S x V x C 7.

7. Metode USG Isu yang memiliki total skor tertinggi merupakan isu prioritas. Untuk

lebih jelasnya, pengertian urgency, seriousness, dan growth dapat diuraikan

sebagai berikut

:

b. Urgency

c. Seriusness : Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas

: Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas

d.

Growth

:Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut

menjadi berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu

akan makin memburuk kalau dibiarkan. Langkah langkah USG :

1. Tentukan range untuk setiap kriteria (1-8).

2. Setiap orang dlm tim memberi nilai pada setiap masalah

3. Buat rata rata nilai setiap masalah untuk setiap kriteria

4. Tulis nilai tersebut pada kolom tersedia.

Nilai akhir pada setiap masalah ditentukan dengan membuat perhatian nilai setiap criteria.

8.Metode MCUA Metode MCUA digunakan apabila pelaksana belum terlalu siap dalam penyediaan sumber daya, serta pelaksana program atau kegiatan menginginkan masalah yang diselesaikan adalah masalah yang ada di masyarakat. Definisi:

MCUA adalah suatu teknik atau metode yang digunakan untuk membantu tim dalam mengambil keputusan atas beberapa alternative

Alternatif dapat berupa masalah pada langkah penentuan prioritas masalah atau pemecahan masalah pada langkah penetapan prioritas pemecahan masalah

Kriteria adalah batasan yang digunakan untuk menyaring alternatif masalah sesuai kebutuhan Diputuskan untuk menggunakan metode MCUA karena metode ini menempatkan parameter pada kedudukan dengan berdasarkan bobot dan memberikan hasil final score yang objektif di mana score yang diberikan pada tiap-tiap parameter ditambahkan, lebih sederhana dan mudah dalam penggunaannya.

Dari masalah yang didapat diberikan penilaian pada masing-masing masalah denganmembandingkan masalah satu dengan lainnya, kemudian tiap masalah tersebut diberikan nilai.

9. Metode CARL Merupakan suatu cara untuk menentukan prioritas masalah jika data yang tersedia adalah data kualitatif. Dilakukan dengan menentukan skor atas kriteriatertentu, yaitu Capability, Accessability, Readiness dan Leverage (CARL), semakin besar skor maka semakin besar masalahnya, sehingga semakin tinggi letaknya pada urutan prioritas

b. Non Scoring Technique Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai parameter, dilakukan bila tersedia data yang lengkap. Bila tidak tersedia data, maka cara menetapkan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah :

1. Delphin Technique Yaitu penetapan prioritas masalah tersebut dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang sama keahliannya. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui pertemuan khusus. Setiap peserta yang sama keahliannya dimintakan untuk mengemukakan beberapa masalah pokok, masalah yang paling banyak dikemukakan adalah prioritas masalah yang dicari.

2. Delbech Technique

Penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang tidak

sama keahliannya. Sehingga diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman peserta tanpa mempengaruhi peserta. Lalu diminta untuk mengemukakan beberapa masalah. Masalah yang banyak dikemukakan adalah prioritas.

RASIO, PROPORSI DAN RATE

RASIO Rasio adalah nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantittif yang pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut Contoh:

Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamn pria. Maka rasio pria terhadap wanita adalah

R=10/20=1/2

PROPORSI Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut. Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari kelompok itu. Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap permapuan adalah P=

10/30=1/3

RATE

Rate adalah perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang mempunyai risiko kejadian tersebut. Rate digunakan untuk menyatakan dinamika dan kecepatan kejadian tertentu dalam masyarakat Rumus:

Rate:

k

o

X: angka kejadian

o

Y: populasi berisiko

o

K: konstanta (angka kelipatan dari 10)

7)

Program di Puskesmas

Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang wajib di laksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Ada 6 Program Pokok pelayanan kesehatan di Puskesmas yaitu :

2. Program pengobatan (kuratif dan rehabilitatif) yaitu bentuk pelayanan kesehatan untuk mendiagnosa, melakukan tindakan pengobatan pada seseorang pasien dilakukan oleh seorang dokter secara ilmiah berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan

3. Promosi Kesehatan yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas yang diarahkan untuk membantu masyarakat agar hidup sehat secara optimal melalui kegiatan penyuluhan (induvidu, kelompok maupun masyarakat).

4. Pelayanan KIA(Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana) yaitu program pelayanan kesehatan KIA dan KB di Puskesmas yang ditujuhkan untuk memberikan pelayanan kepada PUS (Pasangan Usia Subur) untuk ber KB, pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan bayi dan balita.

5. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu program pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll).

6. Kesehatan Lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan peningkatan peran serta masyarakat,

7. Perbaikan Gizi Masyarakat yaitu program kegiatan pelayanan kesehatan, perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas yang meliputi peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yaodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat.

Program pengembangan pelayanan kesehatan Puskesmas tersebut yaitu :

a. Usaha Kesehatan Sekolah, adalah pembinaan kesehatan masyarakat yang dilakukan petugas Puskesmas di sekolah-sekolah (SD,SMP dan SMP) diwilayah kerja Puskesmas

b. Kesehatan Olah Raga adalah semua bentuk kegiatan yang menerapkan ilmu pengetahuan fisik untuk meningkatkan kesegaran jasmani masyarakat, naik atlet maupun masyarakat umum. Misalnya pembinaan dan pemeriksaan kesegaran jasmani anak sekolah dan kelompok masyarakat yang dilakukan puskesmas di luar gedung

c. Perawatan Kesehatan Masyarakat, adalah program pelayanan penanganan kasus tertentu dari kunjungan puskesmas akan ditindak lanjuti atau dikunjungi ketempat tinggalnya untuk dilakukan asuhan keperawatan induvidu dan asuhan keperawatan keluarganya. Misalnya kasus gizi kurang penderita ISPA/Pneumonia

d. Kesehatan Kerja, adalah program pelayanan kesehatan kerja puskesmas yang ditujuhkan untuk masyarakat pekerja informal maupun formal diwilayah kerja puskesmas dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Misalnya pemeriksaan secara berkala di tempat kerja oleh petugas puskesmas

e. Kesehatan Gigi dan Mulut, adalah program pelayanan kesehatan gizi dan mulut yang dilakukan Puskesmas kepada masyarakat baik didalam maupun diluar gedung (mengatasi kelainan atau penyakit ronggo mulut dan gizi yang merupakan salah satu penyakit yang terbanyak di jumpai di Puskesmas

f. Kesehatan Jiwa, adalah program pelayanan kesehatan jiwa yang dilaksanakan oleh tenaga Puskesmas dengan didukung oleh peran serta masyarakat, dalam rangka mencapai derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal melalui kegiatan pengenalan/deteksi dini gangguan jiwa, pertolongan pertama gangguan jiwa dan konseling jiwa. Sehat jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana

adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Misalnya ada konseling jiwa di Puskesmas.

g. Kesehatan Mata adalah program pelayanan kesehatan mata terutama pemeliharaan kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dibidang mata dan pencegahan kebutaan oleh tenaga kesehatan Puskesmas dan didukung oleh peran serta aktif masyarakat. Misalnya upaya penanggulangan gangguan refraksi pada anak sekolah.

h. Kesehatan Usia Lanjut, adalah program pelayanan kesehatan usia lanjut atau upaya kesehatan khusus yang dilaksanakan oleh tenaga Puskesmas dengan dukungan peran serta aktif masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat usia lanjut. Misalnya pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dini penyakit degeneratif, kardiovaskuler seperti : diabetes Melitus, Hipertensi dan Osteoporosis pada kelompok masyarakat usia lanjut.

i. Pembinaan Pengobatan Tradisional, Adalah program pembinaan terhadap pelayanan pengobatan tradisional, pengobat tradisional dan cara pengobatan tradisional. Yang dimaksud pengobatan tradisional adalah pengobatan yang dilakukan secara turun temurun, baik yang menggunakan herbal (jamu), alat (tusuk jarum, juru sunat) maupun keterampilan (pijat, patah tulang).

j. Kesehatan haji adalah program pelayanan kesehatan untuk calon dan jemaah haji yang meliputi pemeriksaan kesehatan, pembinaan kebugaran dan pemantauan kesehatan jemaah yang kembali (pulang) dari menaikan ibadah haji.

k. Dan beberapa upaya kesehatan pengembangan lainnya yang spesifik lokal yang dikembangkan di Puskesmas dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

Setiap program yang dilaksanakan di puskesmas di lengkapi dengan pelaksana program yang terlatih dan sesuai dengan keahlianya, peralatan kesehatan (alat pelayanan dan bahan habis pakai kesehatan), dilengkapi juga dengan pedoman pelaksanan program dan sasaran program (populasi sasaran dan target sasaran) termasuk sistem pencatatan (register pencatatan pelayanan) dan pelaporannya serta

standar operasional prosedur pelayanan kesehatan programnya, dan beberapa kelengkapan lainnya misalnya kendaran roda dua dan empat.

8)

Program di Puskesmas

Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang wajib di laksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Ada 6 Program Pokok pelayanan kesehatan di Puskesmas yaitu :

8. Program pengobatan (kuratif dan rehabilitatif) yaitu bentuk pelayanan kesehatan untuk mendiagnosa, melakukan tindakan pengobatan pada seseorang pasien dilakukan oleh seorang dokter secara ilmiah berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan

9. Promosi Kesehatan yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas yang diarahkan untuk membantu masyarakat agar hidup sehat secara optimal melalui kegiatan penyuluhan (induvidu, kelompok maupun masyarakat).

10. Pelayanan KIA(Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana) yaitu program pelayanan kesehatan KIA dan KB di Puskesmas yang ditujuhkan untuk memberikan pelayanan kepada PUS (Pasangan Usia Subur) untuk ber KB, pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan bayi dan balita.

11. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu program pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll).

12. Kesehatan Lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan peningkatan peran serta masyarakat,

13. Perbaikan Gizi Masyarakat yaitu program kegiatan pelayanan kesehatan, perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas yang meliputi peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yaodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat.

Program pengembangan pelayanan kesehatan Puskesmas tersebut yaitu :

l. Usaha Kesehatan Sekolah, adalah pembinaan kesehatan masyarakat yang dilakukan petugas Puskesmas di sekolah-sekolah (SD,SMP dan SMP) diwilayah kerja Puskesmas

m. Kesehatan Olah Raga adalah semua bentuk kegiatan yang menerapkan ilmu pengetahuan fisik untuk meningkatkan kesegaran jasmani masyarakat, naik atlet maupun masyarakat umum. Misalnya pembinaan dan pemeriksaan kesegaran jasmani anak sekolah dan kelompok masyarakat yang dilakukan puskesmas di luar gedung

n. Perawatan Kesehatan Masyarakat, adalah program pelayanan penanganan kasus tertentu dari kunjungan puskesmas akan ditindak lanjuti atau dikunjungi ketempat tinggalnya untuk dilakukan asuhan keperawatan induvidu dan asuhan keperawatan keluarganya. Misalnya kasus gizi kurang penderita ISPA/Pneumonia

o. Kesehatan Kerja, adalah program pelayanan kesehatan kerja puskesmas yang ditujuhkan untuk masyarakat pekerja informal maupun formal diwilayah kerja puskesmas dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Misalnya pemeriksaan secara berkala di tempat kerja oleh petugas puskesmas

p. Kesehatan Gigi dan Mulut, adalah program pelayanan kesehatan gizi dan mulut yang dilakukan Puskesmas kepada masyarakat baik didalam maupun diluar gedung (mengatasi kelainan atau penyakit ronggo mulut dan gizi yang merupakan salah satu penyakit yang terbanyak di jumpai di Puskesmas

q. Kesehatan Jiwa, adalah program pelayanan kesehatan jiwa yang dilaksanakan oleh tenaga Puskesmas dengan didukung oleh peran serta masyarakat, dalam rangka mencapai derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal melalui kegiatan pengenalan/deteksi dini gangguan jiwa, pertolongan pertama gangguan jiwa dan konseling jiwa. Sehat jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Misalnya ada konseling jiwa di Puskesmas.

r. Kesehatan Mata adalah program pelayanan kesehatan mata terutama pemeliharaan kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dibidang mata dan pencegahan kebutaan oleh tenaga kesehatan Puskesmas dan didukung oleh peran serta aktif masyarakat. Misalnya upaya penanggulangan gangguan refraksi pada anak sekolah.

s. Kesehatan Usia Lanjut, adalah program pelayanan kesehatan usia lanjut atau upaya kesehatan khusus yang dilaksanakan oleh tenaga Puskesmas dengan dukungan peran serta aktif masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat usia lanjut. Misalnya pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dini penyakit degeneratif, kardiovaskuler seperti : diabetes Melitus, Hipertensi dan Osteoporosis pada kelompok masyarakat usia lanjut.

t. Pembinaan Pengobatan Tradisional, Adalah program pembinaan terhadap pelayanan pengobatan tradisional, pengobat tradisional dan cara pengobatan tradisional. Yang dimaksud pengobatan tradisional adalah pengobatan yang dilakukan secara turun temurun, baik yang menggunakan herbal (jamu), alat (tusuk jarum, juru sunat) maupun keterampilan (pijat, patah tulang).

u. Kesehatan haji adalah program pelayanan kesehatan untuk calon dan jemaah haji yang meliputi pemeriksaan kesehatan, pembinaan kebugaran dan pemantauan kesehatan jemaah yang kembali (pulang) dari menaikan ibadah haji.

v.

Dan beberapa upaya kesehatan pengembangan lainnya yang spesifik lokal yang dikembangkan di Puskesmas dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

Setiap program yang dilaksanakan di puskesmas di lengkapi dengan pelaksana program yang terlatih dan sesuai dengan keahlianya, peralatan kesehatan (alat pelayanan dan bahan habis pakai kesehatan), dilengkapi juga dengan pedoman pelaksanan program dan sasaran program (populasi sasaran dan target sasaran) termasuk sistem pencatatan (register pencatatan pelayanan) dan pelaporannya serta standar operasional prosedur pelayanan kesehatan programnya, dan beberapa kelengkapan lainnya misalnya kendaran roda dua dan empat.

9)

Indikator Kesehatan di Indonesia Ada 24 indikator kesehatan yang digunakan dalam IPKM (Indeks Pebangunan Kesehatan Masyarakat) dengan nilai korelasi UHH yang tertinggi. Indikator kesehatan tersebut adalah :

a. Prevalensi balita gizi buruk dan kurang

b. Prevalensi balita sangat pendek dan pendek

c. Prevalensi balita sangat kurus dan kurus,

d. Prevalensi balita gemuk, prevalensi diare,

e. Prevalensi pnemonia

f. Prevalensi hipertensi,

g. Prevalensi gangguan mental

h. Prevalensi asma

i. Prevalensi penyakit gigi dan mulut

j. Prevalensi disabilitas

k. Prevalensi cedera

l. Prevalensi penyakit sendi,

m. Prevalensi ISPA,

n. Proporsi perilaku cuci tangan,

o. Proporsi merokok tiap hari,

p. Akses air bersih, akses sanitasi,

q. Cakupan persalinan oleh nakes

r. Cakupan pemeriksaan neonatal-1,

s. Cakupan imunisasi lengkap,

t. Cakupan penimbangan balita,

u. Ratio Dokter/Puskesmas,

v. Ratio bidan/desa.

Indikator sehat menurut WHO:

e. Ada tidaknya kelainan pathofisiologis pada seseorang

f. Mengukur kemampuan fisik seseorang seperti kemampuan aerobik, ketahanan, kekuatan, kelenturan sesuai umur

g. Penilaian atas kesehatan sendiri

h. Indeks Massa Tubuh (berat badan (kg) / T 2 (m))

Indikator Kesehatan menurut Indonesia Sehat 2010 dari Depkes RI tahun 2003 terdiri dari 3 indikator, yaitu:

a. Indikator Derajat Kesehatan yang merupakan hasil akhir, terdiri atas indikator angka- angka mortalitas, angka-angka morbiditas, dan indikator status gizi

b. Indikator Hasil Antara, terdiri atas indikator keadaan lingkungan, indikator perilaku hidup masyarakat, dan indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan

c. Indikator Proses dan Masukan, terdiri atas indikator pelayanan kesehatan, indikator sumber daya kesehatan, dan indikator manajemen kesehatan serta indikator kontribusi sektor-sektor terkait. Peran Epidemiologi dalam Kesehatan Sehat menurut WHO(1948) adalah kondisi fisik, mental, dan sosial yang sempurna dan bukan sekedar tidak sakit atau tidak cacat. Sedangkan menurut UU Kesehatan RI 1961 yang diperbaharui dengan UU tahun 1992 berbunyi Kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dengan pengertian diatas, bisa diketahui bahwa Epidemiologi mempunyai andil yang besar pada bidang kesehatan. Maka Epidemiologi sebagai suatu displin ilmu mempunyai peran sebagai berikut:

10)

a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang utama yang sedang dihadapi oleh masyarakat

b. Mengetahui faktor faktor yang berperanan dalam terjadinya masalah kesehatan atau penyakit yang ada di masyarakat

c. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan pengambilan keputusan

d. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan

e. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk mengatasi atau menanggulanginya

f. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu dipecahkan.

11)

Masalah Kesehatan di Daerah Terpencil

Berdasarkan Keputusan Mentri Dalam Negeri No 9 Tahun 1992 tentang Pedoman dan

Tata Cara Penetapan Wilayah Terpencil, menyatakan bahwa derah terpencil adalah suatu lingkungan pemukiman dan tempat bekerja dalam suatu wilayah administrasi pemerintah tertentuyang kondisi alamnya menyebabkan kesulitan yang tnggi bagi penduuduknya karena :

a. Keterbatasan sarana dan prasarana perhubungan

b. Keterlambatan atau ketidakadaan dalam pelayanan umum dibidang administrasi pemerintahan, pelayanan kesehatan, pertanian, penyuluhan, penerangan, dan kesempatan untuk melanjutkan SMP atau SLTA

c. Kelangkaan harga kebutuhan pokok.

Masalah yang banyak terjadi di daerah terpencil adalah :

f. Kurangnya sarana dan prasarana serta SDM (Sumber Daya Manusia) pada puskesmas di daerah terpencil. Sehingga untuk mendapat obat, tenaga medis harus menempuh jara yang jauh dan medan yang sulit

g. Terdapat penyebaran penyakit ISPA(infeksi saluran pernafasan akut), tuberculosis paru paru, diare, dan malaria klinis. Hal ini disebabkan oleh geografis yang mendukung tumbuhnya penyakit tersebut.

12)

h. Kebiasaan masyarakat dalam berobat. Masyarakat belum sepenuhnya percaya pada dokter dan masih terikat pada tradisi. Contohnya 50,8% dari mayarakat sudad memanfaatkan puskesmas, 44,1% melakukan pengobatan tradisional, 5,1% masih melakukan pengobatan sendiri.

i. Perilaku dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seorang ibu yang harus duduk selama 40 hari pasca melahirkan, pembesaran limfa malaria harus diurut (dipijat), bayi yang berumur 40 hari tidak boleh dibawa kemana-mana sekalipun untuk ke posyandu

j. Keadaan kesehatan lingkungan. Contohnya daerah pasang surut, Jambi terdapat perasalahan kurangnya air bersih sehingga kebersihan kurang terjamin. Lain halnya dengan derah kepulauan, pinggir sungai dan pegunungan yang ketersediaan airnya melimpah. Tetapi masalah utama derah tersebut adalah perilaku asyarakay yang masih buang air besar (BAB) di sumber air, sehinggga sumber air tercemar.

Tingkatan Pelayanan Kesehatan Merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yg diberikan pada masyarakat. Menurut Leavel & Clark dlm memberikan pelayanan kesehatan harus memandang pada tingkat pelayanan kesehatan yg akan diberikan, yaitu :

a. Health promotion (promosi kesehatan) Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui peningkatan kesehatan. Bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat Contoh : Kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, dsb

b. Specifik protection (perlindungan khusus) Perlindungan khusus adalah masyarakat terlindung dari bahaya/penyakit-penyakit tertentu Contoh : Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja

c. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini & pengobatan segera) Sudah mulai timbulnya gejala penyakit dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit Contoh : survey penyaringan kasus.

e. Pemulihan Kesehatan

Tingkat pelayanan kesehatan adalah:

d. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer)

Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar dan dilakukan bersama masyarakat dan dimotori oleh Dokter Umum (Tenaga Medis) dan Perawat Mantri (Tenaga Paramedis). Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau kecelakaan. Primary health care pada pokoknya ditunjukan kepada masyarakat yang sebagian besarnya bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang berpenghasilan rendah di perkotaan. Pelayanan kesehatan ini sifatnya berobat jalan (Ambulatory Services).Diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Contohnya : Puskesmas, Puskesmas keliling, klinik.

e. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (sekunder)

Pelayanan kesehatan sekunder adalah pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan bahkan kadang kala pelayanan subspesialis, tetapi masih terbatas. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut (rujukan). Di Indonesia terdapat berbagai tingkat rumah sakit, mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A. Pelayanan kesehatan dilakukan oleh Dokter Spesialis dan Dokter Subspesialis terbatas. Pelayanan kesehatan ini sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient services).Diperlukan untuk kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D.

f. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tersier)

Pelayanan kesehatan tersier adalah pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan subspesialis serta subspesialis luas. Pelayanan kesehatan dilakukan oleh Dokter Subspesialis dan Dokter Subspesialis Luas. Pelayanan kesehatan ini sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan rawat inap (rehabilitasi).Diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.

13)Tingkatan Masalah Penyakit Epidemi Wabah atau epidemi adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar tersebut. Epidemi dipelajari dalam epidemiologi. Dalam epidemiologi, epidemi berasal dari bahasa Yunani yaitu “epi” berarti pada dan “demos” berarti rakyat. Dengan kata lain, epidemi adalah wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga. Jumlah kasus baru penyakit di dalam suatu populasi dalam periode waktu tertentu disebut incide rate (laju timbulnya penyakit). Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia , pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi, yaitu “kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Endemi Endemi adalah penyakit yang umum terjadi pada laju konstan namun cukup tinggi pada suatu populasi. Berasal dari bahasa Yunani “en” yang artinya di dalam dan “demos” yang artinya rakyat. Terjadi pada suatu populasi dan hanya berlangsung di dalam populasi tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.

e.

f.

g. Pandemi Pandemi atau epidemi global atau wabah global adalah kondisi dimana terjangkitnya penyakit menular pada banyak orang dalam daerah geografi yang luas. Berasal dari bahasa Yunani “pan” yang artinya semua dan “demos” yang artinya rakyat.

h. Sporadik Sporadik yakni penyakit yang frekuensinya berubah ubah menurut waktu

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suatu pandemi dikatakan terjadi bila ketiga syarat berikut telah terpenuhi :

e. Timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi bersangkutan,

f. Agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius,

g. Agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia.

h. Suatu penyakit atau keadaan tidak dapat dikatakan sebagai pandemic hanya karena menewaskan banyak orang. Sebagai contoh, kelas penyakit yang dikenal sebagai kanker menimbulkan angka kematian yang tinggi namun tidak digolongkan sebagai pandemi karena tidak ditularkan.

1. Hambatan dalam Kesehatan

o

Perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup sehat dan bersih. Perilaku ini sendiri didasari oleh kurangnya kesadaran diri dari masing-masing individu akan kesehatan. Contohnya saja seperti kebiasaan merokok, rendahnya pemberian ASI eksklusif , meningkatnya HIV /AIDS, penggunaan narkoba, serta meningkatnya angka kematian akibat kecelakaan. Hal ini dapat diatasi dengan pembentukan peraturan-peraturan yang mampu memberikan efek jera.

o

Kinerja pelayanan yang rendah . Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan akibat masih banyaknya masyarakat yang melakukan persalinan dibantu dengan dukun . Yang kedua adalah proporsi penemuan kasus TBC paru yang masih rendah juga , hal ini disebabkan karena penemuan kasus/diagnosis yang tidak standar serta banyaknya kasus TB pada anak yang tidak terdeteksi/ terlambat diketahui karena kurangnya

pemahaman masyarakat. Contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan hal-hal tersebut.

o

Rendahnya kondisi kesehatan lingkungan. Lingkungan merupakan salah satu faktor penunjang akan kesehatan. Masih banyak masyarakat yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan air bersih.

o

Rendahnya kualitas, pemerataan, dan keterjangkauan dalam pelayanan kesehatan. Contohnya dapat dilihat dari sudah banyaknya rumah sakit yang tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota namun kualitas pelayanannya masih kurang memenuhi harapan masyarakat seperti, lamanya waktu tunggu, sulitnya administrasi, serta lambatnya pelayanan. Di era globalisasi ini produksi obat pun semakin banyak dan bervariasi, semakin tinggi pula kemungkinan pengonsumsian obat yang tidak memenuhi standar mutu dan keamanan.

Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata. Indonesia meluluskan banyak sekali dokter namun banyak yang tidak bersedia ditempatkan di daerah terpencil dengan alasan, sinyal kurang, ketidaktersediannya transportasi, jauh dari keluarga, sehingga menyebabkan tenaga medis berkumpul hanya di kota-kota besar.

2.

Puskesmas Pengertian Puskesmas

Menurut DepKes RI (2004), Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kesehatan.

1) Unit Pelaksana Teknis Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan kabupaten / kota (UPTD), Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.

2) Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh Bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

3) Pertanggungjawaban Penyelenggaraan Penanggung jawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten / kota adalah dinas kesehatan kabupaten / kota, sedangkan puskesmas bertanggung jawab hanya untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten / kota sesuai dengan kemampuannya.

4) Wilayah Kerja Secara Nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu Kecamatan, tetapi apabila di satu Kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas, dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada Dinas K esehatan kabupaten/kota.

b. Visi dan Misi Puskesmas Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator utama,

yakni:

1)

Lingkungan sehat

2)

Perilaku sehat

3)

Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta

4)

Derajat kesehatan penduduk kecamatan

Misi tersebut adalah:

1)

Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.

Puskesmas akan selalu menggerakan pembangunan sektor lain yang diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan yaitu

pembangunan yang tidak menimbulkan damapk negative terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat.

2) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat.

3) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan sertameningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat.

4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan dan peningkatan yang dilakukan puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.

c.

Tujuan

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi- tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010.

d.

Fungsi Puskesmas

1)

Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap pembangunan di wilayah kerjanya.

Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

2) Pusat pemberdayaan masyarakat Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetap, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya social budaya masyarakat setempat.

3) Pusat strata pelayanan kesehatan strata pertama Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu danberkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi:

1. Pelayan kesehatan perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu di tambahkan dengan rawat inap.

2. Pelayanan kesehatan masyarakat

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.

e. Struktur Organisasi Puskesmas Menurut keputusan menteri kesehatan RI nomor 128/MenKes/RI/SK/II/2004, struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas masing-masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten / kota dilakukan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan peraturan daerah. Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai berikut :

1)

Kepala puskesmas

2)

Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala puskesmas dalam pengelolaan:

a. Data dan informasi

b. Perencanaan dan penilaian

c. Keuangan

d. Umum dan kepegawaian Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas:

a. Upaya kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan terhadap UKBM

b. Upaya kesehatan perorangan. Jaringan pelayanan puskesmas:

a. Unit puskesmas pembantu

b. Unit puskesmas keliling

c. Unit bidan di desa/komunitas

3)

4)

Perbedaan Kesehatan Negara Maju dan Berkembang Pelayanan kesehatan di negara maju umumnya jauh lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang.Selain didukung dari sarana dan prasarana yang memadai, kesadaran masyarakat akan kesehatan pun juga sangat tinggi sehingga mereka lebih memperhatikan bagaimana pola hidup yang sehat.Selain itu tingkat pendidikan yang tinggi membuat para tenaga medis lebih terampil dan lebih ahli dalam menangani pasiennya. Sedangkan tingkat kesehatan di negara berkembang cenderung rendah. Seperti yang kita ketahui di negara berkembang, bahwa belum keseluruhan masyarakatnya menikmati taraf hidup yang layak,hal tersebut tentunya akan mempengaruhi masalah kesehatan yang ada.Rendahnya tingkat kesehatan tersebut dikarenakan negaranya yang masih berkembang, jumlah pelayanan kesehatan seperti rumah sakit masih kurang dibandingkan dengan luas wilayah dan banyak

pendukduknya.

Selain itu karena tingkat pendidikan yang masih kurang,maka kesadaran untuk menjaga kesehatan pun juga kurang. Hal lain yaitu dikarenakan angka kematian bayi dan balita yang tinggi karena kurang tepatnya penanganan ibu hamil, kurang imunisasi,dan kurang gizi pada balita dan yang terakhir yaitu karena di negara berkembang banyak daerah perkotaan yang kumuh yang merupakan sumber berbagai penyakit.

3.

Menguraikan Faktor Risiko

Risk Factor atau Faktor Risiko adalah hal-hal atau variabel yang terkait dengan peningkatan suatu resiko dalam hal ini penyakit tertentu. Faktor resiko disebut juga faktor penentu, yaitu menentukan berapa besar kemungkinan seorang yang sehat menjadi sakit. Faktor penentu kadang-kadang juga terkait dengan peningkatan dan penurunan resiko terserang sutu penyakit. Faktor resiko adalah salah satu bagian dari ilmu Epidemiologi. Epidemiologi pada penyakit menular di sebut etiologi sedangkan pada penyakit tidak menular di sebut faktor risiko.

Faktor resiko merupakan karakteristik, kebiasaan, tanda atau gejala yang tampak pada seseorang atau populasi sebelum terserang suatu penyakit. Namun secara keilmuan, faktor resiko memiliki definisi tersendiri, yaitu karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita induvidu yang mana secara statistic berhubungan dengan peningkatan kejadian kasus baru berikutnya (beberapa induvidu lain pada suatu kelompok masyarakat. Setiap faktor resiko memiliki korelasi, tetapi korelasi tidak dapat membuktikan hukum sebab- akibat yang mungkin muncul. Metode statistik seringkali digunakan untuk menilai kekuatan sebuah asosiasi dan untuk memberikan bukti kausal. Analisis statistik bersama dengan pendekatan dalam bidang biologi dan medik dapat menetapkan faktor risiko penyebab.

Secara umum, faktor risiko terbagi menjadi dua :

1. Faktor risiko yang tidak dapat di intervensi :

Faktor genetik

Jenis kelamin

Usia

2. Faktor risiko yang dapat di intervensi :

Kebiasaan buruk,

gaya hidup,

pola makan

obesitas

Kegunaan menentukan faktor risiko :

Untuk memprediksi kejadian penyakit, misalnya perokok berat mempunyai kemungkinan 10 kali untuk kanker paru daripada bukan perokok.

Untuk memperjelas penyebab artinya kejelasan atau beratnya faktor resiko dapat menjadikannya sebagai faktor penyebab.

Untuk mendiagnosa

Hubungan morbiditas dan mortalitas digambarkan sebagai berikut:

Menurut WHO bahwa morbiditas dapat menimpa manusia lebih dari satu kali dan selanjutnya rangkaian morbiditas ini (morbiditas kumulatif) pada akhirnya menghasilkan suatu kematian. Jadi hubungan keduanya adalah bahwa morbiditas yang berkelanjutan dapat menyebabkan kematian.

Oleh karena keduanya saling berkaitan maka cara pencegahan salah satu komponen sama saja dengan mencegah kedua aspek tersebut. Maksudnya mencegah morbiditas juga mencegah mortalitas ataupun sebaliknya. Cara pencegahan keduanya adalah imunisasi, jampersal, jamkesmas, ASI eksklusif, meningkatkan kualitas perawat, dan lain lain.

1.

Fungsi

a. Melakukan analisa situasi terkini

b. Membuat perbandingan antar waktu, antar wilayah, antar kelompok orang

c. Mengukur perubahan dari waktu-waktu

d. Menganalisa komitmen terhadap kebijakan-kebijakan sosial ekonomi & yankes dasar

e. Memantau kemajuan dari implementasi program kesehatan

f. Mengevaluasi dampak terhadap status kesehatan dari populasi

g. Alat untuk membandingkan perbedaan antar daerah dan mengukur kemajuannya sehingga dapat mengetahui status kesehatan

h. Dapat menunjukkan perbedaan status kesehatan antar kelompok dlm populasi: antara kaya dan miskin, atau urban dan rural.

Masalah Kesehatan 1. Ragam Masalah Kesehatan a. Masalah Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan bila mengacu pada penelitian Hendrik L. Blum di Amerika Serikat memiliki urutan kedua faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat setelah faktor lingkungan. Di Indonesia diduga faktor perilaku justru menjadi faktor utama masalah kesehatan sebagai akibat masih rendah pengetahuan kesehatan dan faktor kemiskinan. Kondisi tersebut mungkin terkait tingkat pendidikan yang mempengaruhi pengetahuan masyarakat untuk berperilaku sehat. Terbentuknya perilaku diawali respon terhadap stimulus pada domain kognitif berupa pengetahuan terhadap obyek tersebut, selanjutnya menimbulkan respon batin (afektif) yaitu sikap terhadap obyek tersebut. Respon tindakan (perilaku) dapat timbul setelah respon pengetahuan dan sikap yang searah (sinkron) atau langsung tanpa didasari kedua respon di atas. Jenis perilaku ini cenderung tidak bertahan lama karena terbentuk tanda pemahaman manfaat berperilaku tertentu. Proses terbentuknya sebuah perilaku yang diawali pengetahuan membutuhkan sumber pengetahuan dan diperoleh dari pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada sasaran sehingga pengetahuan sasaran terhadap sesuatu masalah meningkat dengan harapan sasaran dapat berperilaku sehat. Sikap setuju terhadap suatu perilaku sehat dapat terbentuk bila pengetahuan yang mendasari perilaku diperkuat dengan bukti manfaat karena perilaku seseorang dilandasi motif. Bila seseorang dapat menemukan manfaat dari berperilaku sehat yang diharapkan oleh petugas kesehatan maka terbentuklah sikap yang mendukung. Perilaku sendiri menurut Lawrence Green dilatarbelakangi 3 faktor pokok yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factors). Oleh sebab tersebut maka perubahan perilaku melalui pendidikan kesehatan perlu melakukan intervensi terhadap ketiga faktor tersebut di atas sehingga masyarakat memiliki perilaku yang sesuai nilai-nilai kesehatan (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

b. Masalah Kesehatan lingkungan Kesehatan lingkungan merupakan keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terbentuknya derajat kesehatan masyarakat yang optimum pula. Masalah kesehatan lingkungan meliputi penyehatan lingkungan pemukiman, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah dan sampah serta pengelolaan tempat-tempat umum dan pengolahan makanan. 1) Penyehatan lingkungan pemukiman Lingkungan pemukiman secara khusus berupa rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Kriteria rumah sehat antara lain luas bangunan rumah minimal 2,5 m 2 per penghuni, fasilitas air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan sampah dan limbah, fasilitas dapur dan ruang berkumpul keluarga serta gudang dan kandang ternak untuk rumah pedesaan. 2) Penyediaan air bersih Kebutuhan air bersih terutama meliputi air minum, mandi, memasak dan mencuci. Syarat air minum yang sehat antara lain syarat fisik, syarat bakteriologis dan syarat kimia. Air minum sehat memiliki karakteristik tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, suhu di bawah suhu udara sekitar (syarat fisik), bebas dari bakteri patogen (syarat bakteriologis) dan mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang dipersyaratkan (syarat kimia). 3) Pengelolaan limbah dan sampah Limbah merupakan hasil buangan baik manusia (kotoran), rumah tangga, industri atau tempat-tempat umum lainnya. Sampah merupakan bahan atau benda padat yang dibuang karena sudah tidak digunakan dalam kegiatan manusia. Pengelolaan limbah dan sampah yang tidak tepat akan menimbulkan polusi terhadap kesehatan lingkungan. Pengolahan kotoran manusia membutuhkan tempat yang memenuhi syarat agar tidak menimbulkan kontaminasi terhadap air dan tanah serta menimbulkan polusi bau dan mengganggu estetika. Tempat pembuangan dan pengolahan limbah kotoran manusia berupa jamban dan septic tank harus memenuhi syarat kesehatan karena beberapa penyakit disebarkan melalui perantaraan kotoran.

Pengelolaan sampah meliputi sampah organik, anorganik serta bahan berbahaya, memiliki 2 tahap pengelolaan yaitu pengumpulan dan pengangkutan sampah serta pemusnahan dan pengolahan sampah. Pengelolaan limbah ditujukan untuk menghindarkan pencemaran air dan tanah sehingga pengolahan limbah harus menghasilkan limbah yang tidah berbahaya. Syarat pengolahan limbah cair meliputi syarat fisik, bakteriologis dan kimia. Pengolahan air limbah dilakukan secara sederhana dan modern. Secara sederhana pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan pengenceran (dilusi), kolam oksidasi dan irigasi, sedangkan secara modern menggunakan Sarana atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (SPAL/IPAL). 4) Pengelolaan tempat-tempat umum dan pengolahan makanan Pengelolaan tempat-tempat umum meliputi tempat ibadah, sekolah, pasar dan lain-lain sedangkan pengolahan makanan meliputi tempat pengolahan makanan (pabrik atau industri makanan) dan tempat penjualan makanan (toko, warung makan, kantin, restoran, cafe, dll). Kegiatan berupa pemeriksaan syarat bangunan, ketersediaan air bersih serta pengolahan limbah dan sampah. c. Masalah Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan yang bermutu akan menghasilkan derajat kesehatan optimal. Tercapainya pelayanan kesehatan yang sesuai standar membutuhkan syarat ketersediaan sumber daya dan prosedur pelayanan. Ketersediaan sumber daya yang akan menunjang perilaku sehat masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan baik negeri atau swasta membutuhkan prasyarat sumber daya manusia (petugas kesehatan yang profesional), sumber daya sarana dan prasarana (bangunan dan sarana pendukung) serta sumber daya dana (pembiayaan kesehatan). 1) Petugas kesehatan yang profesional Pelaksana pelayanan kesehatan meliputi tenaga medis, paramedis keperawatan, paramedis non keperawatan dan non medis (administrasi). Profesionalitas tenaga kesehatan yang memberi pelayanan kesehatan ditunjukkan dengan kompetensi dan taat prosedur. 2) Sarana bangunan dan pendukung

Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pelayanan kesehatan saat ini diatasi dengan konsep Desa Siaga yaitu konsep memandirikan masyarakat untuk sehat. Pemerintah sendiri selain dana APBN dan APBD, melalui program Bantuan Operasional Kegiatan (BOK) Puskesmas dan program pengembangan sarana pelayanan kesehatan rujukan telah banyak meningkatkan mutu sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di Indonesia. 3) Pembiayaan kesehatan Faktor pendukung (enabling factors) masyarakat untuk berperilaku sehat telah dilakukan di Indonesia melalui asuransi kesehatan maupun dana pendamping, namun perilaku sakit masih dominan sehingga upaya kuratif yang membutuhkan biaya besar cenderung menyebabkan dana tidak tercukupi atau habis di tengah jalan. 4). Masalah Genetik Beberapa masalah kesehatan dan penyakit yang disebabkan oleh faktor genetik tidak hanya penyakit keturunan seperti hemophilia, Diabetes Mellitus, infertilitas dan lain-lain tetapi juga masalah sosial seperti keretakan rumah tangga sampai perceraian, kemiskinan dan kejahatan. Masalah kesehatan dan penyakit yang timbul akibat faktor genetik lebih banyak disebabkan kurang paham terhadap penyebab genetik, disamping sikap penolakan karena faktor kepercayaan. 1. Perbedaan outbreak dengan wabah Hakikatnya outbreak sama dengan epidemi (wabah). Hanya saja terma kata outbreak biasanya digunakan untuk suatu keadaan epidemik yang terjadi pada populasi dan area geografis yang relatif terbatas. Area terbatas yang merupakan tempat terjadinya outbreak disebut fokus epidemik. Alasan lain penggunaan terma outbreak sebagai pengganti epidemi karena kata epidemi atau wabah berkonotasi gawat sehingga dapat menimbulkan kepanikan pada masyarakat (Tomes, 2000). Kata epidemi tidak disukai oleh para pejabat sebab kejadian epidemi di suatu wilayah dapat menampar muka pejabat yang bertanggungjawab di wilayah tersebut. Karena itu biasanya terma epidemi atau wabah diganti dengan terma yang lebih halus, yaitu “outbreak” atau “kejadian luar biasa” (extra-ordinary events), disingkat KLB. Bahkan dalam bahasa Inggris juga dikenal kata yang lebih eufemistik (halus) daripada outbreak, yaitu “upsurge” yang berarti peningkatan suatu kejadian peristiwa secara tiba-tiba.

2.

Tujuan Investigasi Outbreak Intinya, investigasi outbreak dilakukan untuk dua tujuan:

(1) Mengetahui penyebab outbreak; (2) Menyetop outbreak sekarang dan mencegah outbreak di masa mendatang (Greenberg et al., 2005). Tujuan khusus investigasi outbreak adalah mengidentifikasi:

(1) Agen kausa outbreak; (2) Cara transmisi; (3) Sumber outbreak; (4) Carrier; (5) Populasi berisiko; (6) Paparan yang menyebabkan penyakit (faktor risiko).

3. Langkah Langkah Investigasi Outbreak

a. Identifikasi outbreak

b. Investigasi kasus

c. Investigasi kausa

d. Langkah pencegahan dan pengendalian

e. Studi analitik (jika perlu)

f. Komunikasikan temuan

g. Evaluasi dan teruskan surveilans

1. Perbedaan pelayanan kesehatan di kota, di desa, dan daerah terpencil.

a. Kota

Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan oleh Puskesmas kawasan perkotaan memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) memprioritaskan pelayanan UKM; 2) pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat; 3) pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat; 4) optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan; dan

5) pendekatan pelayanan yang diberikan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang sesuai dengan pola kehidupan masyarakat perkotaan.

b. Desa

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas kawasan pedesaan memiliki karakteristik sebagai berikut:

1)pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat; 2)pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat; 3)optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan; dan 4)pendekatan pelayanan yang diberikan menyesuaikan dengan pola kehidupan masyarakat perdesaan

c. Daerah Terpencil Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) memberikan pelayanan UKM dan UKP dengan penambahan kompetensi tenaga kesehatan; 2) dalam pelayanan UKP dapat dilakukan penambahan kompetensi dan kewenangan tertentu bagi dokter, perawat, dan bidan; 3) pelayanan UKM diselenggarakan dengan memperhatikan kearifan lokal; 4) pendekatan pelayanan yang diberikan menyesuaikan dengan pola kehidupan masyarakat di kawasan terpencil dan sangat terpencil; 5) optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan; dan 6) pelayanan UKM dan UKP dapat dilaksanakan dengan pola gugus pulau/cluster dan/atau pelayanan kesehatan bergerak untuk meningkatkan aksesibilitas.

Menjelaskan hubungan antar faktor dalam proses terjadinya penyakit, agent, host, dan environment. Ditinjau dari sudut ekologis ada tiga faktor yang dapat menimbulkan suatu kesakitan, kecacatan, ketidakmampuan dan kematian pada manusia yang disebut sebagai Trias Ekologi atau Trias Epidemiologi yaitu agen penyakit, manusia dan lingkungan.

Dalam keadaan normal terjadi suatu keseimbangan yang dinamis antara ketiga komponen ini atau disebut sehat. Pada suatu keadaan terjadinya gangguan pada keseimbangan dinamis ini, misalnya akibat menurunnya kualitas lingkungan hidup sampai tingkat tertentu maka akan memudahkan agen penyakit masuk kedalam tubuh manusia dan keadaan “sakit”.

masuk kedalam tubuh manusia dan keadaan “sakit”. Interaksi agen, host, dan environment 1. Interaksi antara

Interaksi agen, host, dan environment

1. Interaksi antara agen dan environment

Suatu keadaan terpengaruhnya agen penyakit secara langsung oleh lingkungan yang menguntungkan agen penyakit. Terjadi pada saat suatu penyakit, misal stabilitas vitamin yang terkandung dalam sayuran di dalam ruang pendingin dan penguapan bahan kimia beracun oleh proses pemanasan bumi.

penguapan bahan kimia beracun oleh proses pemanasan bumi. 2. Interaksi antara host dan agen Suatu keadaan

2. Interaksi antara host dan agen

Suatu keadaan agen yang menetap, berkembang biak dan dapat merangsang manusia untuk menimbulkan respons berupa tanda-tanda dan gejala penyakit, misal demam. Interaksi yang terjadi dapat berupa sembuh sempurna, kecacatan, dan kematian.

dan gejala penyakit, misal demam. Interaksi yang terjadi dapat berupa sembuh sempurna, kecacatan, dan kematian.

3. Interaksi antara host dan environment

Suatu keadaan terpengaruhnya manusia secara langsung oleh lingkungannya dan terjadi pada saat prapatogenesis suatu penyakit, misalnya udara dingin, hujan, dan kebiasaan membuat dan menyediakan makanan.

hujan, dan kebiasaan membuat dan menyediakan makanan. 4. Interaksi agen, manusia, dan environment Suatu keadaan

4. Interaksi agen, manusia, dan environment

Suatu keadaan saling mempengaruhi antara agen, host, dan environment secara bersama-sama dan keadaan tersebut memperberat satu sama lain sehingga memudahkan

agen baik secara langsung ataupun tidak langsung masuk ke dalam tubuh manusia, misalnya pencemaran air sumur oleh kotoran manusia dpt menyebabkan muntaber.

air sumur oleh kotoran manusia dpt menyebabkan muntaber. Menjelaskan masalah kesehatan di Indonesia meliputi cakupan

Menjelaskan masalah kesehatan di Indonesia meliputi cakupan pelayan yang rendah, edukasi yang rendah, dan kurangnya akses fasilitas kesehatan. Masalah kesehatan di Inonesia:

Kurangnya tenaga medis

Akses yang belum memadai

Edukasi yang kurang

Kesadaran masyarakat buruk

Biaya untuk berobat mahal

Tidak seriusnya pemerintah menangani asalah kesehatan