Anda di halaman 1dari 23

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

BAB

12
Akhlak Dalam Keluarga
A. PENDAHULUAN
Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda dapat memahami akhlak dalam
keluarga serta mengamalkannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dengan
kata lain, usai menyimak bab ini anda dapat:
1. Mengetahui adab memilih pasangan hidup.
2. Memahami pernikahan sebagai sunnah Rasulullah.
3. Mengerti tentang hak dan kewajiban suami-istri.
4. Mengetahui tanggung jawab orangtua terhadap anak.
5. Mengamalkan birrul wlidain serta silaturahim dengan karib kerabat.
B. PEMBAHASAN
1. Memilih Pasangan Hidup
Belakangan ini, perceraian seolah sudah menjadi tren dalam masyarakat kita,
terutama di lingkungan artis dan selebritis. Dalam hitungan bulan, puluhan pasangan
mengalami perceraian dengan sebab dan alasan yang cenderung dibuat-buat.
Akibatnya, lembaga pernikahan yang dulunya dinilai sakral, kini cuma dianggap
seperti pasar; tempat memilih-milih barang yang disukainya. Perceraian bukan lagi
sebuah aib, melainkan lebih dianggap sebagai solusi atas jawaban pernikahan yang
dirasa tidak sehat.
Padahal membangun rumah tangga bukanlah untuk kepentingan beberapa
minggu, beberapa bulan atau beberapa musim saja, namun ia diharapkan dapat
berlangsung hingga ajal datang menjemput. Maka suatu hal yang sangat penting
adalah sikap berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

219

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Upaya-upaya sebelum menikah seperti misalnya, memilih calon pasangan hidup


yang tepat sehingga mendapatkan istri atau suami yang seakidah, seagama, dan
memiliki kepribadian yang terpuji, merupakan salah satu kunci keharmonisan
berumah tangga. Agama sendiri melarang sikap tergesa-gesa dalam memilih
seseorang sebagai pasangan hidup tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dengan
matang berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.
Al-Quran memberikan tuntunan sebagai berikut:




Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun
dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan
wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang
mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil
pelajaran. (QS. Al-Baqarah [2]: 221).
Ayat di atas selain berimplikasi hukum bahwa seorang laki-laki beriman dilarang
menikah dengan seorang wanita musyrik, yaitu wanita yang akidahnya kotor dan
sesat karena menyekutukan Allah SWT, juga diharamkan bagi wanita mukmin
menikah dengan laki-laki musyrik1.
Sangat sering terjadi, seseorang terlalu mudah terpengaruh oleh aspek-aspek yang
bersifat lahiriah dari orang yang ingin dijadikan sebagai istri atau suami, misalnya
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

220

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

wajah cantik dan tubuh indah dari seorang wanita, wajah tampan dan tubuh gagah
dari seorang laki-laki, kebangsawanan, status sosial, jabatan, rumah megah, atau
mobil mewah, sehingga mengesampingkan hal-hal yang lebih prinsip, seperti faktor
akidah, agama, dan akhlak.
a. Memilih Istri
Agama Islam telah memberi panduan yang jelas bagaimana seorang laki-laki
seharusnya memilih wanita yang hendak dinikahi. Dalam hal ini Rasulullah
memberikan teori yang tak pernah usang sepanjang masa. Wanita itu dinikahi
karena empat perkara, yakni karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan
agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau selamat. (HR. AlBukhari dan Muslim).
Dari hadits tersebut dapat kita simpulkan bahwa dalam mencari calon istri itu
harus memperhitungkan empat faktor. Faktor pertama adalah soal kekayaan, kedua
soal keturunan, ketiga soal kecantikan, dan terakhir soal agama. Sulit rasanya mencari
seorang wanita yang memenuhi keempat faktor tersebut. Namun kita harus
menekankan pada faktor agamanya.
Faktor kekayaan termasuk dalam pertimbangan hadits di atas. Sebab dengan
kekayaan manusia dapat lebih meningkatkan amal ibadah dalam menegakkan syiar
Islam. Kondisi ekonomi yang mapan juga bisa menopang kebahagiaan seseorang
dalam membentuk sebuah bangunan rumah tangga. Namun, dalam perkara ini agama
jangan dilupakan. Walaupun kekayaan melimpah ruah, tetapi agama gersang di dada,
maka kebahagiaan sejati tidak akan pernah dirasakan.
Kemudian kedua yang harus dipertimbangkan ialah faktor keturunan. Keturunan
yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan jiwa anak-anak. Bila seorang wanita
lahir di lingkungan keluarga yang kafir serta dididik dengan cara-cara orang kafir, dia
akan cenderung ikut kafir. Begitu pula, seorang wanita yang lahir dan dididik menjadi
Yahudi, dia juga akan menjadi Yahudi.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

221

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Selain itu, faktor kecantikan pun tak kalah pentingnya. Dengan kecantikan
seorang istri akan menambah semangat seorang suami dalam mengarungi hidup
berumah tangga. Sebaliknya, tidak jarang seorang suami beristri wanita yang kurang
menarik, lalu mencari wanita simpanan tanpa sepengetahuan istrinya.
Lebih dari segala-galanya, soal agama adalah hal yang paling utama. Agama
merupakan faktor yang sangat penting dan wajib diperhitungkan. Jika keempat syarat
tadi tidak dapat terpenuhi, maka pertimbangan yang tidak boleh diabaikan ialah
faktor agama. Kendatipun seseorang mendapatkan calon istri yang tidak cantik, tidak
kaya, dan dari keturunan yang biasa-biasa, tetapi sekurang-kurangnya memiliki
keyakinan agama yang kuat dan akhlak yang baik.
Karena itu, seorang laki-laki mukmin hendaklah tidak memilih calon istri yang
sesat akidahnya atau buruk akhlaknya, sekalipun wanita itu berparas sangat cantik,
berharta banyak, atau berasal dari keturunan bangsawan.
2. Memilih Suami
Bila seorang laki-laki memilih calon istri dengan berbagai pertimbangan, sesuai
hadits di atas, demikian pula dengan seorang wanita berhak menentukan pilihannya
sebagai calon pasangan hidupnya. Sebab rumah tangga yang dibangun atas dasar suka
sama suka, dan saling ikhlas menyintai, dapat menjadikan kehidupan ramah tangga
bagaikan surga. Tetapi apabila salah satu pihak tidak ikhlas menyintai, tidak menutup
kemungkinan rumah tangga yang akan dihadapi laksana neraka.
Mengapa

wanita

dianjurkan

untuk

menentukan

calon

suaminya

dan

dipertimbangkan dengan wali (orangtuanya)? Sebab kesalahan dalam memilih suami


bisa membuat kehidupan rumah tangga berantakan. Seorang suami adalah pimpinan
dalam sebuah rumah tangga. Alangkah sayangnya, apabila seorang gadis muslimah
dipimpin oleh suami Yahudi atau kafir. Sering terjadi, seorang gadis yang lahir dan
dididik secara islami lalu menikah dengan lelaki kafir, maka ia pun ikut kafir.
Sebagai wanita hendaknya teliti dalam menentukan calon suaminya, jangan
hanya melihat kekayaan yang dipunyai atau memandang ketampanan yang
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

222

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dimilikinya. Semua itu tidak menjamin bagi pembentukan sebuah rumah tangga yang
sakinah. Yang terpenting, seorang wanita harus lebih memilih lelaki yang beriman
dan memiliki kesetiaan terhadap seorang istri.
Tentu memiliki suami yang tampan adalah sah-sah saja. Tetapi hendaklah si
tampan itu juga lelaki yang taat beragama sehingga ketampanannya tersebut ia
syukuri sebagai anugerah Allah SWT dan dipersembahkan hanya untuk istrinya,
bukan malah untuk merendahkan istrinya yang barangkali kurang cantik dan menarik.
Alhasil, betapa pentingnya sikap hati-hati di dalam memilih pasangan hidup,
sehingga jika kelak dipertemukan oleh Allah SWT dengan laki-laki yang saleh
sebagai calon suami atau wanita yang salehah sebagai calon istri, maka kebahagiaan
rumah tangga akan terwujud.
2. Melangsungkan Pernikahan
Sebelum melangsungkan acara pernikahan, dalam Islam dikenal adanya proses
meminang, yaitu permintaan laki-laki kepada anak perempuan orang lain atau
seorang perempuan di bawah kekuasaan seseorang untuk dinikahi sebagai
pendahuluan pernikahan. Meminang dilakukan sebelum terjadi akad nikah yang
diawali dengan proses pertimbangan yang matang.
Ada dua syarat (ketentuan) dalam meminang, pertama ialah seorang anak gadis
boleh dipinang selama tidak didahului oleh pinangan laki-laki lain secara hukum.
Sabda Rasulullah SAW: Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya maka
tidak halal baginya untuk membeli (menawar) pembelian saudaranya dan tidak
boleh

meminang

pinangan

saudaranya,

sampai

saudaranya

membatalkan

pinangannnya itu.
Kedua, perempuan tidak boleh dipinang apabila terhalang oleh ketentuan hukum
yang menjadikan anak gadis itu tidak boleh dinikahi. Adapun wanita yang boleh
dipinang adalah:
1. Wanita yang tidak punya suami.
2. Wanita yang tidak haram hukumnya untuk dinikahi.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

223

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

3. Wanita yang tidak mengalami masa iddah, baik iddah karena suaminya
meninggal dunia atau karena perceraian. Hal ini sesuai dengan firman Allah:











Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau
kamu menyembunyikan (keinginan untuk kawin) dalam hatimu. Allah mengetahui
bahwa kamu menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan
janji kawin dengan mereka secara rahasia kecuali sekedar mengucapkan kepada
mereka perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu bertetap hati untuk akad nikah
sebelum habis masa iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa
yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 235).
Apa saja yang harus kita lakukan dalam menghadapi pernikahan? Ada beberapa
hal yang perlu kita persiapkan atau pikirkan dalam menyongsong pernikahan, yaitu 2:
1. Belajar untuk tidak bersikap egois.
2. Menghadapi masalah yang akan timbul pada masa bulan pertama.
3. Mencari jalan keluar dalam setiap perselisihan.
4. Memikirkan jika anggota keluarga bertambah.
Selain menganjurkan umatnya untuk menikah, Islam juga memberi panduan
lengkap tentang pernikahan yang jika kita terapkan akan mendatangkan kebahagiaan.
Namun tampaknya sedikit sekali umat Islam yang benar-benar memahami tuntunan
tersebut. Sebagian kaum muslim malah cenderung berumah tangga ala barat atau
mengikuti cara-cara yang diterapkan orang-orang non-muslim. Akibatnya, krisis
kehidupan dalam rumah tangga mereka kerap terjadi.
Menurut Rusli Amin, ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum menuju akad
pernikahan3:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

224

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

1. Mulailah dengan niat karena Allah


Untuk apakah kita menikah? Jika menikah karena ingin mempunyai istri
cantik atau bersuamikan laki-laki tampan, maka suatu saat nanti kecantikan akan
luntur dan ketampaan akan memudar. Jika menikah hanya karena ingin
mendapatkan harta suami atau istri, maka sesungguhnya hubungan antara
manusia dengan harta memiliki dua kemungkinan, apakah manusia yang lebih
dahulu meninggalkan hartanya karena mati ataukah harta yang lebih dahulu
meninggalkan pemiliknya karena ludes.
Karenanya, seseorang harus memiliki tujuan pernikahan yang benar, yaitu
menikah dengan niat menggapai ridha Allah SWT. Mengingat pernikahan adalah
salah satu tanda kekuasaan Allah SWT, maka sudah seharusnya jika dimulai
dengan niat untuk Allah SWT. Kalau menikah hanya demi kecantikan dan
ketampanan, misalnya, itu hanyalah tujuan yang sempit dan sementara. Namun
bila berniat karena Allah SWT, maka Allah SWT itu Maha Luas karunia dan
anugerah-Nya.
2. Pernikahan harus sesuai dengan syariat Islam
Suatu amal, termasuk pernikahan, akan diridhai oleh Allah SWT apabila
dilakukan sesuai dengan aturan-Nya. Jika pernikahan itu tidak sesuai dengan aturan
Allah SWT maka dianggap tidak sah. Sebuah pernikahan dianggap sah apabila
memenuhi rukun-rukunnya, yaitu: (1) mempelai laki-laki (2) mempelai wanita (3)
wali (4) dua orang saksi, dan (5) ijab kabul
3. Hak dan Kewajiban Suami Istri
Seorang laki-laki yang telah bersedia menikah dengan seorang wanita, maka ia
pun siap untuk menghidupi istrinya. Sebab, memang ada hak istri atas rizeki dan
kewajiban seorang suami untuk memenuhi berbagai kebutuhan, yang dalam syariat
Islam disebut nafkah. Kewajiban memberi nafkah kepada istri tidak terbatas soal

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

225

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

makanan saja, malainkan menyediakan pakaian dan kalau mampu tempat tinggal
yang layak sebagai rumah sendiri.
Akan tetapi, jarang sekali seorang lelaki langsung membelikan rumah setelah
baru menikah. Namun setahap demi setahap, kebutuhan yang satu ini dipenuhinya.
Biasanya, begitu menikah pada bulan-bulan pertama atau beberapa tahun, mertua
masih membolehkan sepasang suami-istri untuk berkumpul bersama. Meskipun
demikian, seorang suami harus memikirkan bagaimana caranya agar dapat
menyediakan tempat tinggal yang layak untuk keluarganya.
Tentang kewajiban seorang suami memberikan nafkah kepada istri jelas
diperintahkan dalam Al-Quran.






....


.....



Seorang bapak berkewajiban memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara yang makruf. Seseorang tidak

dibebani

melainkan

menurut

kadar

kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah [2]: 233)



Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuan dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati
mereka. Jika mereka sedang hamil, maka berikanlah nafkah mereka sampai
bersalin. (QS. Ath-Thalaq [65]: 6).
Demikianlah beberapa dalil yang menerangkan bahwa seorang laki-laki (suami)
berkewajiban untuk memberikan nafkah atau mencarikan rizeki, dan hak wanita
untuk mendapatkan nafkah tersebut. Begitu pula seorang suami mempunyai hak

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

226

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

penuh terhadap kehormatan istrinya, menggauli dan segala hal yang tersimpan, yang
orang lain tak berhak untuk mengetahuinya.
Namun nafkah yang kita berikan kepada seorang istri hendaknya tidak terlalu
berlebih-lebihan sehingga tidak memberatkan kita. Sebab jika kita memaksakan
untuk menuruti kemauan perempuan yang tidak mengerti keadaan kita, selalu
meminta yang di luar jangkauan kita, atau selalu memanjakannya, maka akhirnya kita
sendiri yang berat. Kita akan banyak hutang dalam menutup kekurangan kebutuhan.
Bagi seorang istri dianjurkan untuk hidup sederhana. Keluarga yang sakinah tidak
harus dibangun di atas kekayaan yang banyak atau pemenuhan keinginan di luar
jangkauan. Keluarga yang sakinah adalah yang dibangun atas dasar pengertian dan
kesederhanaan. Hidup sederhana umumnya terletak pada istri. Sebab istrilah yang
mengelola keuangan keluarga dan yang mengatur pemasukan serta pengeluaran.
Sekali-kali Islam tidak menyuruh seorang istri menuntut haknya sedang hak itu
tidak sesuai dengan kemampuan suaminya. Islam adalah agama yang mengatur
tentang kehidupan yang seimbang. Apabila kita membina rumah tangga dengan cara
Islam maka semuanya akan berjalan lancar. Islam mewajibkan seorang istri patuh
terhadap suami, menghormati dan selalu menjaga harta suami dan kehormatan dirinya
sendiri. Sedangkan suami wajib mencarikan nafkah sesuai dengan kemampuannya.
Jika seorang suami mencari rizeki atau nafkah dengan sekuat tenaganya, tidak
dipaksakan dan tidak bersifat serakah, maka ia akan selamat dari rizeki yang haram.
Namun apabila tuntutan istri terlalu tinggi, sehingga seorang suami memaksakan agar
mendapat rizeki sebanyak mungkin (padahal tidak sesuai dengan kamampuannya),
maka apa jadinya. Suami bisa bermata gelap dan menghalalkan segala cara.
Rizki yang diperoleh dengan cara haram, kedudukannya pun haram. Jika nafkah
yang haram itu kita berikan kepada istri, maka akan mempengaruhi kelangsungan
keluarga, bahkan dimungkinkan ketenteraman rumah tangga akan berantakan. Harta
kekayaan yang haram itu kemudian kita makan bersama istri kita. Sari-sari makanan
yang kita cerna itu akan menjadi darah yang terus mengalir di tubuh kita. Kemudian

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

227

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

dari hasil hubungan intim dengan istri akhirnya membuahkan benih keturunan yang
terbentuk dari sari-sari makanan yang haram.
Maka alangkah bahagianya sebuah keluarga yang dibangun di atas saling
pengertian. Seorang suami bekerja dengan sekuat tenaganya dalam mencari rizeki
yang halal, sedangkan istri setia menunggu di rumah dengan segala doa. Tatkala
seorang suami pulang dengan membawa rizeki yang halal, seorang istri akan merasa
berterima kasih dan tidak pernah merasa kurang atas pemberian suaminya. Lalu sang
istri membelanjakan rizeki itu secukupnya, pandai menyisihkan uang barang sedikit
untuk ditabungkan. Mereka pun mau hidup sederhana, tidak tergoda oleh gaya hidup
yang berlebih-lebihan. Inilah keuarga yang benar-benar sakinah.
Bila suami mendapatkan kekayaan yang banyak, maka ia tidak boleh kikir
kepada istrinya. Seorang suami harus memberikan apa yang didapat sepenuhnya demi
kebutuhan dan kebahagiaan bersama dalam keluarga. Jika suami meninggalkan
istrinya dalam beberapa waktu dan sama sekali tidak memberikan nafkah, maka istri
berhak menuntut haknya tersebut.
Hadits Aisyah, bahwa Hindun binti Uthbah berkata: Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang pelit, ia tidak memberiku pemberian
yang mencukupi (kebutuhan)ku dan anakku kecuali jika aku mengambil darinya
tanpa sepengetahuannya. Rasulullah bersabda: Ambillah (sekedar) yang mencukupi
(keperluan)mu dan anak-anakmu dengan cara yang baik. (HR. Al-Bukhari).
Tentang kewajiban suami membentengi keluarganya dari ancaman api neraka dan
mengajak mereka untuk mentaati Allah SWT, telah ditunjukkan dalam firman-Nya:












Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah menusia dan batu. (QS. At-Tahrim [66]: 6).

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

228

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Berkenaan dengan makna ayat di atas, Qatadah mengatakan, Engkau


menyuruh mereka (keluargamu) untuk mentaati Allah SWT, melarang mereka
durhaka kepada-Nya, dan membantu mereka untuk melaksanakannya. Jika engkau
melihat kemaksiatan kepada Allah SWT, maka hendaklah engkau berusaha
menyelamatkan mereka dari itu.4
Tentang kewajiban seorang istri untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya
tugas-tugas di rumah, ditunjukkan dalam firman Allah SWT:






Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu
Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289]
ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290].
wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka
dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika
mereka

mentaatimu,

Maka

janganlah

kamu

mencari-cari

jalan

untuk

menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS.


An-Nisa[4]: 34).
Allah SWT menjelaskan bahwa para wanita salehah adalah yang taat,
melaksanakan hak-hak suami mereka dan memelihara apa yang harus mereka
pelihara di saat suami sedang tidak ada, yaitu kehormatan diri, harta dan anak-anak.
Sabda Nabi SAW:.....dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan
terhadap anak suaminya. (HR. Bukhari)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

229

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Mengenai kewajiban seorang istri untuk melayani suami dengan baik dan tidak
menghindari tempat tidurnya ditunjukkan dalam sabda Rasulullah: Tidaklah halal
bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunat) jika suaminya sedang ada (di rumah)
kecuali dengan izinnya, dan janganlah ia mengizinkan (orang lain) masuk ke dalam
rumahnya kecuali dengan seizinnya. Dan tidaklah ia menafkahkan suatu nafkah
tanpa perintahnya, maka ditunaikan kepadanya hal itu sepenuhnya. (HR. Bukhari).
Alasan larangan puasa sunat ini kecuali dengan izinnya adalah karena merupakan
hak suami bila hendak menggaulinya harus dilayani, maka kewajiban ini tidak boleh
dikalahkan oleh puasa sunat. Namun seseorang tidak perlu minta izin kepada orang
lain untuk melaksanakan puasa wajib.
Terlepas dari itu, bahwa kewajiban mentaati suami tentunya terikat dengan
batasan, yaitu bukan dalam kemaksiatan. Hal ini sebagaimana pernyataan sebuah
hadits dari Aisyah, bahwa seorang wanita Anshar menikahkan putrinya lalu
rambutnya rontok, kemudian ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan perkara
tersebut. Wanita itu mengatakan, Sesungguhnya suaminya menyuruhnya untuk
menyambung rambutnya. Maka beliau katakan, Jangan, karena terlaknatlah para
wanita yang menyambungkan rambut. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Selain riwayat ini masih ada hadits-hadits lain yang mengisyaratkan bahwa ketaatan
itu berlaku dalam hal kebaikan.
4. Tanggung Jawab Orangtua kepada Anak
Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan orangtua di hadapan
Allah SWT. Anak adalah tempat orangtua mencurahkan kasih sayangnya. Dan anak
juga merupakan investasi masa depan untuk kepentingan orangtua di akhirat kelak.
Karenanya, orangtua harus memelihara, membesarkan, merawat, menyantuni dan
mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Berangkat dari uraian di atas, ada tiga segi hubungan antara orangtua dengan
anak5:
1. Hubungan Tanggung Jawab
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

230

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Anak adalah amanah yang dititipkan Allah SWT kepada orangtua untuk dapat
dibesarkan, dipelihara, dirawat dan dididik dengan sebaik-baiknya. Dengan kata
lain, orangtua adalah pemimpin yang bertugas memimpin anak-anaknya dalam
kehidupan di dunia ini. Dan kepemimpinan itu nanti harus dipertanggungjawabkan
di hadapan Allah SWT. Rasulullah bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan
setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Kepala negara adalah
pemimpin dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang suami adalah
pemimpin di rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab
terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin pada harta benda
majikannya dan dia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. (HR.
Muttafaq Alaih).
2. Hubungan Kasih Sayang
Anak adalah tempat orangtua mencurahkan kasih sayang. Setiap manusia
yang normal secara fitri pasti mendambakan kehadiran anak-anak di rumahnya.
Kehidupan rumah tangga tidaklah lengkap jika belum mendapatkan anak. AlQuran menyatakan anak adalah perhiasan hidup di dunia.



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan
yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik
untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi [18]: 46).

3. Hubungan Masa Depan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

231

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Anak adalah investasi masa depan di akhirat bagi orangtua. Karena anak yang
saleh akan selalu mengalirkan pahala kepada kedua orangtuanya, seperti dinyatakan
Rasulullah SAW: Jika seseorang meninggal dunia putuslah (pahala) amalannya
kecuali salah satu dari tiga hal: sadaqah jariah, ilmu yang dapat diambil manfaa
darinya, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim).
Dengan tiga alasan di atas seorang muslim didorong untuk dapat berfungsi
sebagai orangtua dengan sebaik-baiknya. Maka betapa pentingnya pembinaan dan
pendidikan anak-anak untuk menjaga eksistensi dan kualitas umat manusia umumnya
dan umat Islam khususnya pada masa-masa mendatang.
5. Birrul Walidain
Birrul wlidain terdiri dari kata al-birru dan al-wlidain. Al-birru artinya
kebajikan, al-wlidain artinya dua orangtua atau ibu bapak. Jadi birrul wlidain
adalah berbuat kebajikan kepada kedua orangtua6.
Semakna dengan birrul wlidain, Al-Quran menggunakan istilah ihsn:







Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS.
Al-Isra: 23)
Birrul wlidain menempati posisi yang istimewa dalam ajaran Islam. Ada
beberapa alasan untuk membuktikan hal tersebut, di antaranya 7:
1. Perintah ihsan kepada ibu bapak dalam Al-Quran diletakkan langsung sesudah
perintah beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

232

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH












Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu: Janganlah kamu
menyembah selain Allah Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak... (QS. AlBaqarah: 83).







Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Dan berbuat baiklah kepada dua orangtua. (QS. An-Nisa: 36).





Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu,
yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah
terhadap kedua orangtua. (QS. Al-Anam: 151).
2. Allah SWT mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan kepada ibu
bapak. Allah SWT berfirman:

Dan Kami wasiatkan (wajibkan) kepada umat manusia supaya berbuat kebaikan
kepada kedua orangtua. (QS. Al-Ankabut: 8).

3. Allah SWT meletakkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak langsung
setelah perintah berterima kasih kepada-Nya, seperti disebutkan dalam firmanNya:







BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

233

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dan Kami perintahkan kepada manusia (supaya berbuat baik) kepada kedua
orangtuanya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
semakin lemah, dan menyusuinya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada kedua orangtuamu, hanya kepada-Kulah kamu kembali. (QS. Luqman: 14).
4. Rasulullah SAW meletakkan birrul wlidain sebagai amalan nomor dua terbaik
sesudah shalat tepat pada waktunya. Sabda Nabi: Diriwayatkan dari ibn Masud,
dia berkata: Aku bertanya kepada Nabi SAW: Amalan apa yang paling disukai
oleh Allah SWT? Beliau menjawab: Shalat tepat pada waktunya. Aku
bertanya lagi: Kemudian apa? Jawab beliau: Birrul walidain. Kemudian
aku bertanya lagi: Lalu apa? Jawabnya: Jihad di jalan Allah. (Muttafaq
Alaih).
5. Rasulullah SAW mengaitkan keridhaan dan kemurkaan Allah SWT dengan
keridhaan dan kemarahan orangtua. Sabda beliau: Keridhaan Rabb (Allah) ada
pada keridhaan orangtua, dan kemarahan Rabb (Allah) ada pada orangtua.
(HR.Tirmidzi).
Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya menempatkan orangtua pada posisi yang
sangat istimewa sehingga berbuat baik kepada keduanya merupakan perbuatan yang
sangat mulia. Sebaliknya, durhaka kepada kedua orangtua adalah perbuatan yang
sangat tercela.
Banyak cara bagi seorang anak untuk dapat mewujudkan birrul walidain, antara
lain sebagai berikut8:
1. Mengikuti keinginan dan saran orangtua dalam berbagai aspek kehidupan, baik
dalam masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh maupun perkara lainnya, dengan
syarat keinginan dan saran tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Jika kehendak
orangtua bertentangan dengan ajaran Islam, seorang anak tidak wajib untuk

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

234

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

mematuhinya. Bahkan harus menolaknya dengan cara yang baik sembari


meluruskannya. Firman Allah SWT:






Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan dengan Aku sesuatu yang

tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik... (QS. Luqman: 15).
Hal ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Rasulullah SAW: Tidak ada
ketaatan dalam maksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah semata dalam hal yang
makruf. (HR. Muslim).
2. Menghormati dan memuliakan kedua orangtua dengan penuh rasa terima kasih
dan kasih sayang atas jasa-jasa keduanya yang tidak mungkin bisa ditebus dengan
apa pun. Ibu yang mengandung dengan sudah payah dan penuh penderitaan:
melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat dan membesarkan. Bapak yang
membanting tulang mencari nafkah untuk keluarga serta melindunginya demi
mendapatkan rasa aman. Untuk itu, Allah SWT berwasiat kepada kita agar selalu
berterima kasih kepada ibu bapak sesudah bersyukur kepada-Nya.
3. Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Misalnya sebelum berkeluarga dan
mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orangtua (terutama ibu) mengerjakan
pekerjaan rumah; dan setelah berkeluarga atau berdiri sendiri membantu orangtua
secara finansial, baik untuk membeli pakaian, makanan, minuman, atau terlebih
keperluan berobat. Meskipun demikian, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa
berapa pun banyaknya kita mengeluarkan uang untuk membantu kedua orangtua
tidak sebanding dengan jasa mereka. Nabi bersabda: Tidak dapat seorang anak
membalas budi kebaikan ayahnya, kecuali jika mendapatkan ayahnya tertawan
menjadi hamba sahaya, kemudian ditebus dan memerdekakannya. (HR. Abu
Daud).

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

235

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa orangtua (terutama ibu) harus


mendapatkan prioritas utama untuk dibantu dibandingkan dengan orang lain. Hal itu
diungkapkannya ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat: Siapakah yang
paling berhak aku bantu dengan sebaik-baiknya? Jawab Nabi: Ibumu.
Kemudian siapa? Jawab Nabi: Ibumu. Kemudian siapa? Jawab Nabi:
Ibumu. Lalu siapa lagi? Jawab Nabi: Bapakmu. (HR. Al-Bukhari dan
Muslim).
4. Mendoakan ibu bapak agar senantiasa mendapatkan ampunan Allah SWT dan
rahmat-Nya. Allah SWT menukilkan dalam Al-Quran doa Nabi Nuh memintakan
ampunan untuk orangtuanya, dan perintah kepada setiap anak untuk memohonkan
rahmat Allah SWT bagi orangtuanya.

Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku... (QS. Nuh: 28).


Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan
ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. Al-Isra: 24).
5. Setelah orangtua meninggal dunia, birrul walidain masih bisa diteruskan dengan
beberapa cara, seperti:
a. menyelenggarakan janazahnya dengan sebaik-baiknya
b. Melunasi hutang-hutangnya
c. Melaksanakan wasiatnya
d. Meneruskan silaturahim yang dibinanya semasa hidup
e. Memuliakan sahabat-sahabatnya
f. Mendoakannya
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

236

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

6. Silaturahim dengan Karib Kerabat


Allah SWT telah memerintahkan kita untuk membina silaturahim dan saling
membantu antarkerabat. Bahkan sikap memutuskan hubungan kekeluargaan dianggap
sebagai dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT
berfirman:

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu


saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa: 1).
Dalam ayat di atas, perintah bertakwa disertai dengan perintah memelihara
hubungan silaturahim sebagai bagian dari hak kekeluargaan. Jadi, di samping
kewajiban memenuhi hak Allah SWT juga kewajiban memenuhi hak-hak kerabat
yang memiliki hubungan rahim. Yang dimaksud kerabat di sini ialah yang
mempunyai hubungan keturunan, baik yang mewarisi atau tidak, baik mahram
maupun bukan. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. (QS. An-Nahl:
90).
Allah SWT mengkhususkan pemberian kepada kaum kerabat kendatipun sudah
tercakup dalam kandungan ayat-ayat Al-Quran. Penyebutan secara khusus itu demi
menegaskan hak mereka dan kewajiban memelihara hubungan antar kaum kerabat,
baik yang dekat maupun yang jauh.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

237

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburhamburkan (hartamu) secara boros. (QS. Al-Isra: 26).



Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka

bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang


dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka serta dibutakan-Nya penglihatan
mereka. (QS. Muhammad: 22-23).
Rasulullah sendiri menegaskan bahwa silaturahim merupakan bukti keimanan
seseorang kepada Allah dan Hari Akhir, sebagaimana sabda Nabi: Siapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah menghormati tamunya, dan
siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia menyambung
tali kekeluargaan. (Muttafaq Alaih).
Rasulullah juga menegaskan bahwa siapa yang menjaga hubungan kekeluargaan
maka Allah akan menyambungkannya, dan siapa yang memutuskannya maka Allah
akan memutuskannya. Sabda beliau: Sesungguhnya rahim adalah jejak dari Yang
Maha Pemurah, lalu Allah berfirman, Siapa yang menyambungmu maka Aku
menyambungnya dan siapa yang memutuskanmu maka Aku memutuskanmu.
Maksudnya, bahwa rahim adalah salah satu imbas kasih sayang yang sangat erat,
maka orang yang menyambungnya akan terpaut dengan rahmat (kasih sayang) Allah
SWT, dan yang memutuskannya akan terputus dari kasih sayang Allah SWT.
C. RANGKUMAN
Pernikahan adalah satu-satunya jalan yang syari untuk membangun keluarga
muslim yang harmonis. Rasulullah sendiri menganjurkan kepada umatnya agar

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

238

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

menikah mengingat berbagai hikmah yang terkandung di dalamnya. Selain


menganjurkan untuk menikah, Rasulullah juga memberi panduan lengkap tentang
pernikahan yang jika kita terapkan akan mendatangkan kebahagiaan.
Hal penting sebelum melangsungkan pernikahan bahwa seseorang harus
memiliki tujuan yang benar, yaitu menikah dengan harap mendapatkan ridha Allah
SWT. Mengingat pernikahan adalah salah satu tanda kekuasaan-Nya, sudah
sewajarnya jika dimulai dengan niat untuk Allah SWT.
Suatu pernikahan akan diridhai Allah SWT apabila dilakukan sesuai dengan
aturan-Nya. Jika pernikahan itu tidak sesuai dengan aturan Allah SWT maka
dianggap tidak sah. Karena itu, pelaksanaan pernikahan harus sesuai dengan apa yang
telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Setelah menikah, sepasang suami-istri mempunyai hak dan kewajiban masingmasing, serta memiliki tugas untuk memelihara, membesarkan, merawat, menyantuni
dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Demikianlah sebagian dari akhlak Islam, termasuk juga selalu berbuat ihsan kepada
kedua orangtua dan senantiasa membina hubungan baik antar kerabat.
D. PERTANYAAN
1. Sebutkan empat kriteria memilih pasangan hidup dan jelaskan!
2. Sebutkan syarat-syarat meminang dan apa yang perlu diperhatikan sebelum
melaksanakan akad pernikahan?
3. Apa yang anda ketahui tentang hak dan kewajiban suami-istri?
4. Jelaskan mengenai tanggung jawab orangtua terhadap anak!
5. Apa yang anda ketahui tentang birrul wlidain dan sebutkan bentuk-bentuknya!
6. Terangkan soal pentingnya silaturahim!
E. REFERENSI (END NOTE)
Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir, Minhaj al-Muslim, Terj. Jaskarta, tt., PT. Megatama
Sofwa Pressindo.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

239

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Al-Munawwir, Ahmad Warson, Al-Munawwir Kamus Bahasa Arab Indonesia,


Yogyakarta: 1984, Unit Pengembangan Buku Ilmiah Keagamaan PP Al-Munawwir.
Amin, Ahmad, Al-Akhlak, Terj. Jakarta, 1975, Bulan Bintang.
Fadjar, Malik, dkk., Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi, Surabaya, 1981,
Al-Ikhlas.
Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlak, Yogyakarta, 2001, LIPI., cetakan ke-IV
Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta,
1991, Modern English Press.
Syalthut, Mahmud, Al-Islam Aqidah wa Syariah, terj., Jakarta, 1984, Bumi
Aksara.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

240

. Kholilah Marhijanto, Menciptakan Keluarga Sakinah, (Gresik: Bintang Pelajar, t.t.), h. 11.
. Ibid. h. 41.
3
. Rusli Amin, Kunci Sukses Membangun Keluarga Idaman, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2003),
cet. 2, h. 32-41.
4
. Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Untuk Setiap Muslim: Memahami Aqidah, Syariat, dan Adab,
(Jakarta: Darul Haq, 2003), cet. 1, h. 328.
5
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: LPPI, 2001), cet. 4, h. 172-174.
6
Ibid., h. 147.
7
Ibid., h. 148-152.
8
Ibid., h. 152-156.
2