Anda di halaman 1dari 28

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

BAB

13
Akhlak dalam Kehidupan
Bermasyarakat
A. PENDAHULUAN
Setelah mengikuti perkuliahan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat,
anda diharapkan mampu:
1. Menjelaskan adab bertamu dan menerima tamu
2. Menjelaskan seputar hubungan baik dengan tetangga
3. Menjelaskan mengenai batas pergaulan lawan jenis
4. Menjelaskan tentang ukhuwah Islamiyah
5. Menjelaskan akhlak bergaul dengan non muslim
B.

PEMBAHASAN










Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan

kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al Araf: 96).
Setidaknya ada 3 (tiga) hal yang dapat dijelaskan dari firman Allah Swt
ini, yaitu pertama, ajaran (baca; perintah) untuk senantiasa beramal shaleh dalam
kehidupan bermasyarakat. Amal shaleh atau kebajikan yang dilakukan adalah
kebajikan yang berbasis iman dan taqwa (agama). Jadi tidak semua kebajikan itu
adalah baik secara sesungguhnya. Kebajikan yang kemudian disebut akhlak
yang baik tetapi tidak baik adalah akhlak sekuler;1 di mana parameter yang

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

241

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

digunakan sangat subjektif dan tentatif. Baik untuk si A namun belum tentu baik
menurut si B, atau baik untuk saat yang lalu dan sekarang namun belum tentu
baik untuk masa mendatang. Sementara akhlak (berbasis) agama bersifat konstan,
absolut dan memiliki ruh sebagai motor penggerak pelakunya. Kedua, bahwa
Islam meletakkan faktor perilaku (baca; akhlak) sebagai penentu baik-buruknya
sebuah bangunan masyarakat (QS. 13: 11):





Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767].
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Bagaimana kondisi masyarakat dan bentuk pertolongan Allah Swt adalah
sangat bergantung pada bagaimana perilaku baik secara individu maupun kolektif.
Dan ketiga, bahwa Allah Swt sekali-kali tidak menurunkan hukuman atas suatu
masyarakat, sedangkan masih ada penduduknya yang senantiasa menegakkan
akhlak mulia (QS. 11: 17):2






Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai
bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi
(Muhammad)[715] dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

242

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

yang menjadi pedoman dan rahmat?. mereka itu beriman kepada Al Quran. dan
Barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang
kafir kepada Al Quran, Maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya,
karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al
Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak
beriman.
Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi dijelaskan bagaimana peran sentral
akhlak dalam menentukan sejarah perjalanan suatu masyarakat. Jika akhlak
(Islam) selalu dijadikan dasar pijakan interaksi sosial oleh suatu masyarakat,
maka dapat menutupi dan menghilangkan semua keburukkan masyarakat itu
laksana air panas yang mampu melelehkan bongkahan es. Namun sebaliknya, jika
akhlak (Islam) tidak pernah dihiraukan yang pada akhirnya berkembang akhlak
buruk (fasd) secara masif, maka dapat merusak semua hasil budi masyarakat
selama itu laksana nila setitik yang menodai susu sebelanga.
Demikianlah ketika dalam sebuah majelis Nabi Saw memulai dari yang
akhir; menjelaskan kedudukan orang yang memiliki akhlak mulia di akhirat,
yakni ada di tempat yang paling dekat dengan Beliau. Sebab, akhlak adalah
bagian akhir dalam risalah Islam yang Beliau emban setelah akidah dan syariat.
Bukankah begitu akrab telinga kita mendengar lantunan hadits hanya saja saya
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Seorang sosiologi berpandangan bahwa semua agama memiliki dimensi
intelektual, ritual (mistik) dan sosial.3 Dimensi intelekrual seperti pengetahuan
akan konsep Tuhan yang dianut, dimensi ritual (mistik) berupa ritus peribadatan
sebagai tatra cara menyembah Tuhan yang diyakini, dan dimensi sosial berkaitan
dengan kerangka etis pemeluknya dalam berinteraksi dalam masyarakat. Hanya
kemudian dimensi mana dari ketiganya yang menonjol, maka setiap agama
memiliki perbedaan. Dan Islam dilihat dari konsepsi ajarannya, dapat disimpulkan
sangat mengedapankan dimensi sosialnya. Aturan (baca; ajaran) Islam yang
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

243

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

begitu masuk mengintervensi segala permasalahan mulai dari hal remeh-temeh


sampai hal besar, termasuk di antaranya adalah aturan Islam seputar interaksi
sosial kemasyarakatan, adalah semata-mata untuk kemaslahatan manusia;
sehingga semua bidang kehidupan umat Islam tidak terlepas dari kerangka ibadah
sekaligus segala konsekuensi yang ditimbulkan darinya seperti ganjaran baik dan
buruk.
1. Akhlak Bertamu dan Menerima Tamu
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka
hendaklah ia memuliakan tamunya...... Hadits ini sangat populer yang
senantiasa ditulis para mubaligh ketika mempersiapkan bahan khutbah dan
menghiasi lisan mereka tatkala naik mimbar.
Dalam hadits tersebut nampak betapa amal perbuatan seperti
memuliakan tamu merupakan manifestasi dari iman seorang muslim. Bersama
hadits di atas, masih ada beberapa amal kebajikan lain yang juga merupakan
manifestasi iman, seperti tidak menyakiti tetangga, mencintai orang lain
lazimnya mencintai diri sendiri, berkata benar atau diam, dan kebajikan
lainnya. Iman dan amal shaleh adalah dua kata kembar yang saling terkait satu
sama lain. Yang pertama tersimpan di batin, yang kedua tersusun rapi dan
tampak dalam kepribadian. Yang pertama menggelora dalam jiwa, yang kedua
menggelombang dalam perilaku.4 Keduanya berayun dalam totalitas pribadi
muslim. Maka, ujung dari iman dan amal shaleh adalah akhlak. Jika nilai
Islam diyakini mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, maka perintah
amal shaleh juga mencakup di semua sektor kehidupan. Dan karena ujung
amal shaleh adalah akhlak, maka perintah untuk senantiasa berakhlak mulia
(Islam) mencakup semua sektor kehidupan.
Bertamu
Postulat qurani yang menjadi pokok pijakan akhlak bertamu adalah:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

244

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH


Hai orang-orang yang beriman, jangan lah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada
penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat
(QS. An-Nur: 27)
Mencermati redaksi kalimat ini maka ada dua hal yang menjadi
prasyarat dalam bertamu (berkunjung), yaitu meminta izin dan mengucapkan
salam kepada pemilik rumah. Pertanyan yang muncu adalah manakah yang
menjadi skala prioritas dari keduanya? Atau keduanya mesti dijalani secara
keseluruhan? Melihat susunan kalimat yang digunakan menunjukkan bahwa
meminta izin mesti didahulukan atas mengucap salam. Namun mayoritas
fuqaha berpendapat sebaliknya, yaitu mengucap salam terlebih dahulu. Hal ini
mereka sandarkan kepada beberapa hadits Nabi Saw seputar adab bertamu
yang kesemuanya menyatakan bahwa mengucapkan salam lebih didahulukan
dari meminta izin (al-salm qabla al-kalm).5
Lantas bagaimana yang benar? Sejatinya permasalahan ini dapat
dikompromikan dengan beberapa analisis, yaitu pertama, bahwa penggunaan
huruf wau pada redaksi ayat tersebut tidak lantas menunjukkan urutan atau
tertib, sehingga belum dapat disimpulkan mana yang mesti didahulukan.
Kedua, mengutamakan berhujjah pada dhilalah zhanni (hadits) dan
mengesampingkan hujjah dhilalah qathi (al Quran) bukan merupakan metode
yang tepat. Hal ini jika dikaitkan dengan postulat kedua tentang adab bertamu
yaitu pada surat an-Nur: 28,




BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

245

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu


masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali
(saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
yang sama sekali tidak menyinggung permasalahan salam.

























Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu
masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembali
(saja) lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. An-Nur: 28).
Dari dua analisis di atas, ada sesuatu yang masih terasa janggal, yaitu
pada hal apa yang menjadi konsideran pokok seputar akhlak bertamu ini; izin
atau salam. Dengan maksud lain, apa esensi dari akhlak bertamu? Dalam pada
ini kita menemukan kalimat kunci sebagai esensi yang dicari, yakni yang
demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat. Kalimat ini pada
pokoknya ingin menghantarkan pada pemahaman bahwa baik meminta izin
maupun mengucap salam, adalah memiliki tujuan yang sama yaitu kebaikan
(hal positif). Meminta izin itu baik dan mengucap salam juga baik. Karena
keduanya baik maka keduanya memiliki potensi untuk didahulukan. Dalam
pada ini, maka dapat menyesuaikan pada bagaimana kondisi yang ada, mana
yang menurut masyarakat setempat dianggap paling baik. Pada kalangan
tertentu bisa jadi meminta izin adalah prioritas karena kesibukan dan padatnya
agenda. Atau pada kalangan yang lain yang memiliki waktu lebih longgar dan
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

246

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

sewaktu-waktu dapat ditemui, maka seorang tamu dapat langsung


menemuinya tanpa pemberitahuan/meminta izin yang berarti hanya
memerlukan satu prasyarat (mengucap salam). Atau dalam batas tertentu,
salam juga sekaligus sebagai permintaan izin kepada pemilik rumah.
Kecuali itu, meminta izin dan mengucap salam pada esensinya adalah
agar prosesi bertamu yang dilakukan selalu mendatangkan kebaikan bersama,
baik bagi pemilik rumah maupun sang tamu. Kebaikan yang dimaksud adalah
kiranya bertamu dilakukan dengan tujuan yang bermanfaat, dilakukan pada
saat dan momen yang tepat dan sekali-kali tidak mengganggu dan
memberatkan orang lain (ahlu al-bait) atau hal ekses negatif lainnya.
Hal lain (akhlak) yang juga diatur secara gamblang dalam bertamu,
seperti upaya meminta izin bisa juga berupa salam memiliki

batas

maksimal 3 (tiga) kali saja (hadits Bukhari Muslim). Penerapan batas


maksimal ini bisa digunakan untuk mengetahui tingkat kesiapan dan
kesediaan pemilik rumah dalam menerima tamu. Seperti yang coba dijelaskan
bahwa andai ketukan pintu adalah permintaan izin, maka ketukan pertama
adalah pemberitahuan kepada pemilik rumah akan kedatangan tamu, ketukan
kedua adalah memberi kesempatan pemilik rumah untuk bersiap-siap dengan
segala hal yang diperlukan, dan pada ketukan ketiga diharapkan pemilik
rumah sudah siap menerima dan berjalan menuju pintu. Namun setelah
ketukan ketiga tidak juga muncul pemilik rumah, maka kemungkinan rumah
tersebut kosong atau pemilik rumah sedang enggan menerima tamu.6
Akhlak bertamu lainnya adalah diperbolehkan menginap untuk tamu
dari jauh dengan batas maksimal 3 (tiga) hari saja. Ini dimaksudkan kiranya
bertamu tidak sampai mengganggu ketenangan dan atau memberatkan pemilik
rumah (hadits Tirmidzi).
Suatu hari seseorang bertamu di rumah seorang hakim. Setelah
beberapa hari sang tamu kemudian mengemukakan maksud hatinya bertamu;
yaitu ingin mengajukan petisi. Setelah sang hakim mengetahui maksud tamu
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

247

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

tersebut, dengan berat hati sang hakim menyatakan ketidaksediaannya lagi


untuk menerimanya sebagai tamu.7
Kisah ini menarik disimak terkait dengan akhlak bertamu, yakni tamu
hendaknya memiliki tujuan yang baik (positif) dan tujuan tersebut
diungkapkan di awal waktu, sehingga tidak ada kesan menipu atau menzhalimi pemilik rumah ketika tujuan yang terungkap di akhir waktu ternyata
tidak berkenan di hati pemilik rumah.
Menerima Tamu
Kegiatan saling kunjung-mengunjungi dalam konteks menyambung
tali silaturrahim adalah ajaran Islam utama. Ini perlu difahami dengan baik
dan menjadi titik tolak oleh setiap muslim dalam memandang kegiatan
perjamuan tamu ini. Sehingga diharapkan seseorang tidak dengan mudahnya
menolak kedatangan saudaranya atau sebaliknya tanpa pertimbangan apapun
menerima siapa saja yang datang berkunjung (baca; bertamu) ke rumahnya.
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan seseorang dalam menerima
dan melayani tamunya, yaitu pertama, tidak terkesan boros, bermewahmewah diri atau berbangga-bangga dalam melayani tamu. Akan tetapi
melayani tamu dalam koridor pemuliaan tamu.8 Agaknya Islam sangat
membedakan perilaku bermewah dan berbangga diri (sombong) dengan
perilaku (akhlak) penghormatan terhadap tamu. Memuliakan tamu berarti
membuat mereka bahagia dan menebar rasa kegembiraan serta kesenangan di
hati tamu. Kecuali itu, tidak etis jika sang pemilik rumah menyiapkan
(memberikan) semua yang dimiliki, tetapi cukuplah dengan memiliki semua
yang perlu disiapkan (diberikan).
Kedua, dalam menerima dan melayani tamu hendaknya tidak terkesan
diskriminatif lantaran perbedaan latarbelakang atau status sosial sang tamu
(hadits Bukhari dan Muslim).9 Siapapun tamu tersebut memiliki hak untuk
dimuliakan, layaknya Allah Swt telah memuliakan semua anak keturunan
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

248

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Adam, lazimnya Nabi Saw mengaitkan akhlak memuliakan tamu ini dengan
kadar keimanan seseorang.
Syahdan seorang ayah dengan anaknya menjadi tamu di kediaman
Imam Ali k.w. Keduanya didudukkan di tempat duduk yang paling bagus, dan
setelah acara perjamuan makan, Imam Ali k.w meminta budaknya Qanbar
untuk membawakan kendi berisi air dan sehelai kain. Kemudian Imam Ali k.w
dengan tangannya sendiri membersihkan kedua tangan sang tamu. Setelah itu
Imam Ali k.w memerintahkan putranya sendiri untuk membersihkan tangan
anak tamunya.10
Kisah di atas menunjukkan betapa memuliakan tamu harus dilakukan
dengan sepenuh hati. Namun akhlak melayani tamu ini tentunya bukan
sesuatu yang rigid dan mengikat. Maksudnya baik hadits maupun kisah hanya
sebatas memaparkan moral ideal sebuah ajaran Islam dalam memuliakan tamu
seperti melayani maksimal 3 (tiga) hari dan dengan sepenuh hati, sementara
legal spesifik atas bagaimana akhlak memuliakan tamu yang paling baik, tentu
dikembalikan kepada masing-masing individu dan kondisi sosial yang
bersangkutan. Sebagai contoh mencuci tangan tamu dianggap sebuah
pemuliaan tamu yang wajar bagi masyarakat Arab, sementara masyarakat lain
mungkin sudah berlebihan. Atau ada tradisi masyarakat timur yakni
menundukkan badan dan kepala di hadapan orang lain adalah parameter
kesopanan, sementara dalam masyarakat lain hal ini dipandang berlebihan.
Dan begitulah seterusnya.

2. Hubungan Baik dengan Tetangga


Alkisah ada seorang ibu meninggal dunia secara misterius, karena
sejak mengeluh sakit beberapa bulan sebelumnya, pihak medis belum juga
berhasil mendeteksi dan memastikan penyakit yang diderita si ibu. Selidik
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

249

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

punya selidik ternyata konon menurut orang pintar si ibu sakit dan
meninggal dunia karena tetangganya. Lho kok?
Menurutnya sakit ibu tersebut diawali ketika tetangganya membeli
televisi berwarna 21 inc. Saat itu si ibu hanya terserang kepala pusing saja,
namun bulan depan sakitnya bertambah parah menjadi sesak nafas
berbarengan dengan si tetangga membeli lemari es dua pintu. Dua minggu
kemudian si tetangga membeli mobil Suzuki APV millenium, sontak si ibu
mengalami serangan jantung dan terpaksa dilarikan di UGD RSUD terdekat.
Satu minggu kemudian sebenarnya kondisi kesehatan si ibu mulai membaik,
setelah menjalani rawat inap selama 3 (tiga) hari. Namun petaka itu datang
tatkala si tetangga datang menjenguk sekaligus memberi kabar gembira
yakni undangan untuk menghadiri tasyakuran di rumah barunya yang ia beli
dua hari lalu. Pusing disertai sesak nafas dan serangan jantung menjadi satu,
komplikasi yang begitu cepat dan dahsyat itu tidak mampu lagi ditanggung si
ibu. Untunglah beberapa menit kemudian sang malaikat maut datang untuk
mengakhiri penderitaan si ibu.
Kisah di atas tidak dibuat agar menjadi demikian dramatis dan
berakhir tragis. Hanya, ini bisa benar-benar menjadi fenomena riil dalam
masyarakat jika umat muslim meremehkan satu penyakit ruhani dan parasit
sosial yakni hasad.
Hasad ialah sikap mental seseorang yang membenci orang lain
lantaran mendapat nikmat dan berkeinginan untuk meraih nikmat tandingan
atau berupaya agar orang tersebut kehilangan nikmatnya. Baik nikmat dalam
arti sesungguhnya maupun nikmat dalam perspektif.11 Jika ditanya sedemikian
hebatkah bahaya hasad ini? maka kita akan mendapat jawaban yang pasti;
benar! Secara medis, hasad yang bersemayam di hati menjadi katalis penyakit
kanker. Secara psikologis, orang yang iri hati (baca; hasad) terhadap nikmat
orang lain akan tersiksa dan menderita. Penderitaannya akan bertambah

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

250

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

seiring kebahagiaan yang diperoleh orang lain. Seorang pakar kesehatan Dale
Carnegie mengatakan:12
demi kesehatan anda sendiri, lupakan saja mereka itu. Jangan
pikirkan kenikmatan orang lain, tapi pikirkanlah kenikmatan dirimu
sendiri. Jika tidak, anda akan terus-menerus tersiksa dan luka itu sukar
disembuhkan
Dalam konteks ajaran Islam sangat jelas kiranya warning keras Nabi
Saw untuk menjauhi atau menghindari sifat hasad, karena hasad dapat
memakan kebaikan layaknya api memakan kayu bakar atau rumput kering
(hadits Abu Daud, 4903).13 Kekufuran Iblis adalah bertolak dari hasad
terhadap Adam As, sementara dosa pertama di dunia juga lantaran hasad.
Kepada bala tentaranya Iblis berpesan agar menyebarkan hasad, dan
kezhaliman karena dosa keduanya menandingi kemusyrikan.
Kembali kepada tema pokok yaitu menjalin hubungan baik dengan
tetangga, maka muncul pertanyaan mengapa permasalahan tetangga ini begitu
penting? Ada apa dengan tetangga?
Tetangga adalah saudara yang paling dekat dengan kehidupan
seseorang setelah anggota keluarganya. Mereka lah yang sewaktu-waktu
diharapkan dapat memberi pertolongan dan bantuan manakala seseorang
tertimpa musibah, karena musibah dapat menimpa seseorang secara tak
terduga (sewaktu-waktu). Secara demikian, sangat tidak realistis jika masih
ada yang berpandangan karib kerabatlah yang menjadi penolong pertama
tatkala tertimpa musibah. Lantas siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai
tetangga? Ketahuilah, bahwa empat puluh rumah ke depan, ke belakang, ke
kanan dan ke kiri adalah tetangga (hadits Thabrani).14 Hanya, kemudian
bagaimana klasifikasi tetangga dekat dan tetangga jauh seperti dalam al Quran
surat An Nisa: 36,

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

251

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH




Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga
yang jauh[294], dan teman sejawat, Ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.
Maka dikembalikan kepada kondisi dan persepsi masyarakat terkait.
Begitu strategis peran dan fungsi tetangga ini, hingga Islam memiliki
konsepsi tersendiri tentang upaya membangun hubungan yang baik dalam
hidup bertetangga. Postulat Islam seputar pembinaan hidup bertetangga ini
dapat dijumpai secara gamblang dan lugas dalam al Quran dan Hadits. Nabi
Saw sendiri menyatakan bahwa kadar keimanan seseorang erat kaitannya
dengan bagimana ia memperlakukan tetangganya. Dalam hal ini Nabi Saw
sekali-kali tidak ragu menyatakan amal ibadah seseorang yang baik namun
sering menyakiti tetangganya sebagai amal yang sia-sia belaka (al Hakim,
9383). Ajaran Islam dalam akhlak bertetangga ini begitu lengkap, karena
koridor yang dibuat mencakup segala hal mulai dari yang umum (besar)
hingga hal-hal yang kecil, praktis dan terkesan remeh. Seperti ajaran untuk
tidak menyakiti tetangga, tidak mencari aib, menjaga kehormatan tetangga,
berkata yang baik atau diam, berbagi rizki (makanan), menjaga perasaan
tetangga, tidak meninggikan rumah melebihi rumah tetangga (tanpa
pemberitahuan) dan beberapa akhlak lainnya.15
Pada akhirnya, peran tentangga adalah sebagai cerminan kondisi dan
akhlak seseorang secara keseluruhan. Jika baik menurut pandangan tetangga,
maka memang baiklah keadaan seseorang tersebut, begitu sebaliknya jika

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

252

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

buruk menurut pandangan tetangga, maka berhati-hatilah, karena sejatinya


keadaan seseorang tersebut adalah buruk (hadits Ahmad, 3798). Tidak heran
jika kemudian Malaikat Jibril selalu berpesan kepada Nabi Saw agar berbuat
baik kepada tetangga, sampai Beliau berpikiran bahwa tetangga juga berhak
untuk ikut mendapat warisan.
Demikian akhlak hidup bertetangga yang baik dalam Islam. Cinta dan
kasih-sayang terhadap sesama menjadi kunci di setiap sisi kehidupan muslim.
Mereka sangat mencintai Allah Swt Rabbnya. Dan kecintaan ini dibuktikan
dengan kecintaan mendalam kepada manusia, sebagai kunci pembuka cinta
Allah Swt kepadanya. Segala aktivitas kebajikan dilakukan berlandaskan
ridha Ilahi, sehingga hanya Allah Swt yang menjadi tujuan dan tumpuan
harapan, bukan pujian dan penghargaan manusia. Tiada hasad, iri dengki dan
rasa takabbur (kesombongan) yang bersemayam di jiwa melainkan segera
terlempar keluar dengan kekuatan cinta. Semakin seorang muslim mampu
mencintai saudaranya (oran lain) layaknya ia mencintai dir sendiri, maka
makin tinggi maqam keimanannya kepada Sang Khalik.16 Tidak pernah
dilaluinya

malam

hari,

melainkan

dengan

muhasabah

mendalam;

mengurutkan wajah per wajah saudara dan tetangganya, barangkali masih ada
di antara mereka yang masih belum tersantuni, istri-istri mereka gemetar dan
sabar menanti rizki (baca; bantuan), dan anak-anak mereka yang terpejam
matanya meski dengan mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan
lapar.

3. Batas Pergaulan Lawan Jenis


Simaklah berita di media massa baik cetak maupun elektronik setiap
pagi, akan kita temukan berbagai fenomena remaja yang sungguh
memperihatinkan. Dua pemuda saling bunuh karena memperebutkan wanita,
gadis di bawah umur diperkosa, gelombang aborsi terus bertambah,
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

253

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

sekelompok anak muda tertangkap sedang pesta sex dan narkoba, dan lainnya.
Atau bahkan fenomena ini kita saksikan sendiri terjadi di lingkungan sekitar.
Gaya hidup remaja saat ini demikian bebas dan longgar. Hal ini diperparah dengan melemahnya fungsi filter budaya timur. Penetrasi budaya asing
sangat susah dihindari, sehingga orang timur mengekor kebarat-baratan tanpa
syarat. Kondisi masyarakat yang demikian permisif, hedonistis dan konsumtif,
telah menjadikan rasa malu dan ketaatan terhadap norma (sosial dan agama)
tercerabut sampai ke akar-akarnya.
Pada prinsipnya, Islam tidak pernah melarang secara buta pergaulan
antar lawan jenis. Pergaulan adalah aktivitas natural dan fitrahi setiap
manusia. Justru dengan pergaulan itulah kehidupan diharapkan akan mencapai
puncak kejayaan peradaban. Namun manusia memiliki penyakit bawaan, di
mana dengan kekuatan akalnya, akan merubah manusia menjadi makhluk
yang lebih liar dari binatang. Oleh karena itulah, Islam memberikan ramburambu agar mekanisme pergaulan terutama antar lawan jenis tetap dalam
koridor kemanfaatan dan kemaslahatan bersama yang dapat menjunjung
harkat manusia.
Islam mempersilahkan umatnya untuk bebas bergaul, tetapi tidak
mengijinkan untuk bergaul bebas. Lantas apa bedanya? Sekilas mungkin tidak
ada. Tetapi jika diperhatikan lagi, maka didapati bahwa bebas bergaul
memiliki titiktekan pada aspek objeknya. Dalam hal ini memang Islam
memandang harkat dan derajat manusia sama. Hanya taqwa dan iman saja lah
yang nanti menentukannya, dan itupun hak dan wewenang Allah Swt. Jadi,
bergaul dengan siapa saja tidak ada larangan dalam Islam, termasuk terhadap
lawan jenis. Sementara aksentuasi bergaul bebas terletak pada aspek metode
atau tata-cara dalam pergaulan. Dalam hal ini, Islam senantiasa menginginkan
kebaikan hidup manusia, termasuk dalam hal membangun konsepsi pergaulan
lawan jenis yang sehat dan benar.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

254

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Ada 2 (dua) kata kunci yang dapat ditelusuri di sini, yaitu sehat dan
benar. Sehat artinya tidak sakit, atau suatu kondisi di mana semua organ tubuh
mampu bekerja dan berfungsi secara optimal. Sementara benar artinya tidak
salah (menyalahi), atau berjalan sesuai dengan koridor kebenaran yakni
agama dan norma yang berlaku. Dengan demikian pergaulan yang sehat dan
benar adalah pola pergaulan yang prosedural,taat moral dan dengannya segala
potensi dapat berkembang optimal sehingga mencapai kesuksesan serta
kemuliaan hidup.
Untuk menciptakan pergaulan lawan jenis yang sehat dan benar ini,
Islam membangun konsep l taqrab az-zin.











dan janganlah kamu sekalian mendekati zina sebab zina itu merupakan
perbuatan yang amat buruk dan jalan yang jelek (QS. Al Isra: 32).
Larangan mendekati zina (melakukan wasilah zina) menunjukkan
konsepsi preventif Islam sekaligus isyarat betapa dahsyatnya keburukkan
yang ditimbulkan oleh zina dan segala wasilahnya. Agaknya Islam tidak
memandang bahaya wasilah zina lebih rendah dari zina sesungguhnya (zina
kemaluan). Lazimnya tidak ada dosa besar tanpa didahului dengan dosa kecil,
maka tidak ada zina melainkan didahului dengan maraknya wasilah (media)
zina. Dalam konteks ini segala anggota tubuh manusia memiliki potensi
menjadi wasilah zina, seperti mata yang melakukan zina dengan memandang
(hadits Tirmidzi).17
Seorang mahasiswa menyatakan bahwa perasaan suka dan cinta
kepada lawan jenis adalah fitrah, jadi kenapa melarang orang berpacaran?
sang dosen menjawab anda boleh pacaran jika mampu menjawab beberapa
pertanyaan, apakah anda bisa menahan kemaluan anda terhadap pacar?
Apakah bisa menahan tangan agar tidak menyentuhnya? Apakah mampu

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

255

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

menahan mata untuk tidak memandangnya dengan nafsu? Kesemuanya


dijawab bisa!, akhirnya sang dosen bertanya apakah anda bisa menahan
hati anda untuk tidak membayangkan si dia? Dan pertanyaan ini tidak bisa
dijawab oleh mahasiswa. Hingga sang dosen berkata kalau begitu anda tidak
boleh pacaran.
Lantas bagaimana sebenarnya pola pergaulan lawan jenis yang
diperbolehkan Islam? Jawabnya adalah sepanjang pergaulan tersebut
menyehatkan dan tidak menyalahi norma (agama) maka sepanjang itu pula
diperbolehkan. Landasan dasarnya adalah dengan pergaulan tersebut muncul
manfaat dan maslahat bersama. Dan yang masuk dalam kategori ini sangat
banyak sehingga tidak mungkin menulisnya dalam buku puluhan jilid
sekalipun. Sementara batas-batas pergaulan lawan jenis yang dilarang
sebenarnya sedikit dan sudah jelas. Tetapi selama ini banyak kalangan yang
terjebak pada opini menyesatkan; bahwa semua dilarang oleh agama (Islam)
sehingga umatnya tidak bebas. Adapun beberapa batasan yang dimaksud
adalah ikhtilah, jabat tangan dan khalwah.
Ikhtilah adalah bercampur atau membaurnya pria dan manita tanpa
batas atau sekat yang jelas. Sehingga dalam kondisi tertentu menjadi sulit
membedakan mana pria dan mana wanita. Pembauran semacam ini membuka
keran adu pandang secara terbuka antar lawan jenis. Padahal ini secara tegas
dilarang dalam Islam, karena pandangan memiliki hubungan yang sangat erat
dengan kemaluan (QS. An-Nur:30):



Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa
yang mereka perbuat".

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

256

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kecuali itu, agaknya dampak negatif ini telah terbaca oleh dunia
pendidikan barat, sehingga dewasa ini dunia pendidikan barat banyak yang
mengembangkan sekolah yang memisahkan pria dan wanita, termasuk
sekolah asrama. Sementara fenomena terbalik justru terjadi di dunia
pendidikan kita di mana banyak pesantren kini mengembangkan sistem
pembelajaran kelas yang menyatukan pria dan wanita.
Khalwah ialah berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak
memiliki hubungan suami istri dan tidak pula disertai orang ketiga
(mahram).18 Pertemuan pribadi antar lawan jenis ini sudah menjadi trend
tersendiri di kalangan muda-mudi. Nabi Saw secara tegas melarang praktik
khalwah ini. Sabdanya: tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan
wanita melainkan yang ketiganya adalah syaitan (HR Tirmidzi).19
Banyak pihak meremehkan kenistaan ini, padahal khlawah dapat
membuka keran maksiyat selebar-lebarnya antaran mereka yang berdua-duaan
selalu disertai oleh syaitan setidaknya membangun prolog ke arah itu. 20 Tidak
mengherankan jika saat ini banyak generasi yang tidak jelas nasabnya.
Siapapun tahu bahwa syaitan mengemban misi untuk menjerumuskan
manusia ke lembah maksiyat. Ia akan masuk melalui aliran darah manusia, di
saat nafsu menggejolak, maka aliran darah semakin deras. Dalam kondisi ini,
mustahil anak manusia dapat menahan dirinya dari serangan nafsu dan godaan
syaitan. Tetapi jika masih ada yang menyertainya (mahram), maka setidaknya
ada yang mengingatkan. Jika dua sejoli tidak lagi merasa malu terhadap Allah,
maka minimal ia akan malu terhadap sesama. 21 Jadi, larangan ber-khalwah
adalah tindakan preventif Islam supaya tidak terjatuh ke dalam lembah dosa
yang lebih dalam lagi.
Tradisi berjabat tangan memang sangat dianjurkan Islam, sebagi upaya
mempererat silaturrahim dan menghangatkan persahabatan (hadits Abu Daud
dan Tirmidzi). Nabi Saw menuntunkan kiranya jabat tangan disertai dengan
prerasaan yang hangat, penuh perhatian, keramahan dan muka manis. Namun
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

257

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

tuntunan ini tidak berlaku untuk lawan jenis, kecuali suami isteri atau
seeorang dengan mahramnya.22
Nabi Saw sendiri tidak pernah menyentuh tangan wanita selain tangan
mahram dan tangan para isterinya, termasuk dalam baiat. Aisyah ra
meriwayatkan: demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh
tangan wanita (yang bukan mahram). Bila membaiah kaum wanita beliau
hanya membaiahnya dengan lisan saja (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Sama halnya dengan larangan khalwah, larangan jabat tangan antar
lawan jenis non-mahram adalah upaya preventif agar umat tidak masuk ke
dalam praktik zina yang sesungguhnya. Apalagi jika dikaji secara lebih
mendalam dan ilmiah, ternyata tubuh manusia terutama kaki dan tangan,
memiliki ribuan bahkan jutaan syaraf yang berhubungan satu dengan lain.
Sistem syaraf ini berbeda antara pria dan wanita. Layaknya aliran listrik yang
akan mengalami konslet ketika bersentuhan kutub positif dan negatif, maka
begitu pula ketika syaraf pria dan wanita yang berbeda ini bersentuhan
melalui jabat tangan.
Pada akhirnya, kita patut merenung lebih dalam, bahwa sekiranya
manusia tidak berusaha menggunakan akalnya dan mengambil wahyu Ilahi
sebagai acuan hidup, lantas di mana letak perbedaan manusia dengan
binatang; yakni makhluk yang sepanjang hidupnya hanya berjuang untuk
kepentingan perut dan di bawah perut?
4. Ukhuwah Islamiyah
Istilah ukhuwah islamiyah selama ini seringkali dimaknai sebagai
persaudaraan sesama muslim. Pemaknaan ini memang tidak keliru, namun
makna ini hanya sebagian kecil dari makna ukhuwah islamiyah yang
sebenarnya. Dengan demikian perlu didudukkan kembali makna ukhuwah
islamiyah, sehingga didapati makna yang komprehensif.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

258

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dilihat dari susunan (redaksi) kalimat yang digunakan, ukhuwah


islamiyah masuk dalam kategori shifah-manshf, atau naat-mant. Ini
berarti kalimat adjektif (sifat), sehingga maknanya menjadi persaudaraan yang
bersifat islami atau persaudaraan yang diajarkan Islam. Selain alasan
kebahasaan ini, al Quran sendiri memperkenalkan berbagai macam
persaudaraan yang cakupannya melampaui persaudaraan berbasis akidah atau
iman.23
Adapun macam persaudaraan (ukhuwah) dalam al Quran seperti
persaudaraan seketurunan (QS. 4: 23):









Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang
perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara
bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anakanak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak
perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang
menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua);
anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu
campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah
kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan
bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan
(dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah
terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

259

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Persaudaraan sebangsa dan setanah air (QS. 7: 65):



Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. ia
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?".
Persaudaraan semasyarakat (QS. 38: 23):



Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor
kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka Dia berkata:
"Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan Dia mengalahkan aku dalam
perdebatan".
dan persaudaraan seagama atau seiman (QS. 49: 10):



Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap
Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Atau klasifikasi lain adalah persaudaraan sekemanusiaan (ukhuwah insaniah)


seperti yang tampak dalam QS. 49: 13:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

260

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki


dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.
dan persaudaraan semakhluk dan seketundukkan kepada Allah Swt seperti
dalam QS. 6: 38:




Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu.
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], kemudian kepada
Tuhanlah mereka dihimpunkan.
Sebahagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul
mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan
(ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya
dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok
agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk
kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada
umumnya.
Sehingga dengan demikian, ukhuwah islamiyah sangat tepat dimaknai
sebagai persaudaraan yang islami atau yang diajarkan Islam. Dan yang
termasuk dalam ukhuwah islamiyah ini adalah ukhuwah insaniah/basyariah
(sesama manusia), ukhuwah wathaniah (sebangsa), ukhuwah ubudiyah
(semakhluk) dan ukhuwah fi ad-Dn (Islam).
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

261

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Khusus makna terakhir yakni persaudaraan sesama muslim, agaknya


menjadi makna yang dominan dan dijunjung tinggi supremasinya di kalangan
umat Islam. Atas dasar ini, umat Islam di manapun berada dan siapapun dia,
menyatakan diri sebagai saudara yang diikat secara kuat. Betapa kuat ikatan
akidah ini, melebihi kekuatan ikatan-ikatan primordial lainnya bahan ikatan
darah sekalipun. Postulat utama yang dibangun adalah dalam al Quran:





sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, oleh karena itu
damaikanlah antara dua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat (QS. Al Hujurat: 10)
Untuk menjaga kelangsungan ukhuwah islamiyah (sesama muslim)
ini, Islam mengajarkan umatnya untuk selalu memperbaiki hubungan (ishlah)
sesama muslim.24 Hal ini dapat berupa taaruf (saling mengenal baik fisik,
maupun non fisik seperti tradisi, budaya, gagasan dan cara pandang), tafahum
(saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing), taawun
(saling menolong dalam kebaikan satu sama lain) dan takaful (saling memberi
jaminan untuk memberi rasa nyaman dan aman).25
Selain itu ada juga ajaran Islam untuk menghindari prasangka buruk
terhadap sesama muslim, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak
saling mengolok (QS. 49: 12):





BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

262

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka


(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang.
Lantas bagaimana dengan ukhuwah lainnya? Dalam konteks
persaudaraan yang islami atau yang diajarkan Islam, maka ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, yaitu: pertama, untuk memantapkan persaudaraan
sesama manusia (basyariah), Islam memiliki konsep khalifah. Konsepsi ini
memposisikan semua manusia sebagai taklif (yang terbebani) untuk
memakmurkan

kehidupan

di

bumi;

membimbing,

memelihara

dan

mengarahkan kehidupan untuk mencapai tujuan penciptaan alam semesta.


Kecuali itu, konsep khalifah mempergunakan kacamata fungsi dan
menanggalkan kacamata posisi.26

Dengan demikian maka semua pihak

dipandang berjasa atas fungsi yang dijalankan.


Sejarah manusia telah mencatat bagaimana Nabi Saw berhasil
mempertautkan hati penduduk Yatsrib yang multi etnis dan budaya, multi
agama dan ras, menjadi satu kesatuan masyarakat yang saling membahu
membangun kota dan peradaban baru; Madinah ar-Rasul. Sejarawan L.
Stoddart mengakui bahwa kesatuan masyarakat Madinah di bawah
kepemimpinan Nabi Saw merupakan wujud ideal sebuah komunitas yang sulit
dicari tandingannya sepanjang sejarah umat manusia. Sebuah kesatuan yang
kokoh melebihi karang, layaknya bangunan yang tak pupus oleh amukan
taufan atau gempa.27 Begitulah shillah (tali) Islam, yang meletakkan semua
aset umat sebagai alat perekat persaudaraan dan penunjang kemuliaan hidup.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

263

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Demikianlah ukhuwah islamiyah telah menunjukkan hasil yang


konkret dalam kehidupan. Ukhuwah islamiyah tidak saja sekadar penjelasan
segi-segi persamaan pandangan, atau toleransi atas berbagai perbedaan
(agama), tetapi lebih dari itu, ukhuwah islamiyah menuntut langkah-langkah
strategis dan konkret, yang hasil atau manfaatnya dapat dirasakan bersama
oleh umat.
6. Bergaul dengan Non Muslim
Seperti yang tampak dalam konsepsi ukhuwah dalam Islam, umat
muslim tidak saja diajarkan berakhlak baik kepada sesama muslim, tetapi juga
kepada sesama manusia (non muslim). Al Quran sendiri dalam beberapa
tempat menyeru dengan sebutan umum untuk semua manusia (an nas) tanpa
membedakan agamanya. Secara demikian, jalinan persaudaraan dan hubungan
baik antara muslim dan non muslim tidak dilarang sama sekali, selama pihak
lain tersebut menghormati Islam dan hak-hak muslim serta tidak mengganggu
(baca; mengancam) eksistensi Islam.



















Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berbuat adil kepaa orangorang yang tidak memerangi kamu karena agamamu, dan tidak mengusir
kamu dari negerimu... (QS. 60: 8).
Islam adalah agama dakwah, sehingga menjalin hubungan baik dengan
non muslim sebenarnya menjadi bagian dari upaya memperluas bidang sentuh
dakwah Islam. Al Quran mengajarkan kita untuk giat untuk mencari atau
mencapai titik temu antar pemeluk agama (QS. 3: 64):





BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

264

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat


(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak
kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun
dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan
selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka:
"Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah)".
Tatkala mereka masih teguh dalam pendirian mereka, maka serukan
kepada mereka isyahadu bi anna muslimun (saksikanlah olehmu bahwa kami
adalah muslim).
Untuk meneguhkan jalinan persaudaraan dengan non muslim, Islam
memiliki konsep lakum dnukum waliya dn.28 Konsepsi ini adalah bentuk
penghormatan terhadap keberadaan agama mereka yang diwujudkan dengan
upaya membatasi untuk sekali-kali tidak mengintervensi rumah tangga agama
mereka. Jadi, bentuk menghormati agama lain yang benar adalah dengan
membatasi diri, dan bukan sebaliknya terbawa arus agama lain atau bahkan
ikut mensukseskan acara keagamaan mereka, karena hal ini selain tidak
pernah dicontohkan Nabi Saw, juga mengandung pengertian bahwa kita umat
muslim mengakui kebenaran agama mereka.
Menjalin hubungan baik dengan non muslim cukuplah dengan wujud
sikap hormat dan tidak memaksakan kehendak (keyakinan agama) kepada
mereka (QS. 2: 256):




Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

265

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka


Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang
tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
berdialog dengan cara yang terbaik bukan hanya dengan baik kepada
mereka (QS. 29: 46):





Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara
yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[1154],
dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan
kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu
adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri".
Yang dimaksud dengan orang-orang yang dzalim Ialah: orang-orang yang
setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan
dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang
dan tetap menyatakan permusuhan.
dan tidak menghina atau mengolok-olok agama mereka, terlebih tentang tuhan
mereka.29
C. RANGKUMAN
Akhlak adalah nilai dan pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang
mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang
bersifat tetap, natural dan refleks. Jika nilai Islam mencakup semua sektor
kehidupan manusia, maka perintah beramal shaleh (akhlak) pun mencakup semua
sektor kehidupan manusia itu.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

266

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Akhlak Islam adalah akhlak yang memiliki ruh, daya dorong kuat dan
memiliki standar moral absolut dan universal. Layaknya pohon yang indah,
akarnya menghujam kuat ke perut bumi, sementara cabangnya menjulang ke
angkasa, maka akhlak Islam memiliki kekuatan internal (relasi vertikal) yang
melahirkan kekuatan eksternal (relasi horizontal). Sementara akhlak sekuler tidak
memiliki akar yang kuat, sehingga mudah digoyahkan atau malah goyah dengan
sendirinya ketika dibenturkan dengan perubahan ruang dan waktu, sehingga baik
yang dilahirkan bukanlah baik dalam arti sesungguhnya.
D. LATIHAN
1. Jelaskan bagaimana peran strategis akhlak dalam menentukan perjalanan suatu
masyarakat!
2. Setiap agama memiliki dimensi ritual dan sosial, dimensi manakah yang
dominan dalam Islam dan mengapa demikian?
3. Jelaskan secara singkat akhlak dalam bertamu, menerima tamu, hidup
bertetangga, pergaulan yang sehat dan benar, ukhuwah islamiyah dan bergaul
dengan non muslim!
E. END NOTE

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

267

Humaidi Tatapangarsa, dkk. 2002. Pendidikan Agama Islam untuk Mahasiswa. Malang: UPMU Universitas Negeri
Malang.
2
Choiruddin Hadhiri Suprapto. 2003. 700 Mutiara Nasihat Menuju Islam Kaffah. Bandung: Mujahid Press.
3
Jalaluddin Rakhmat. 1991. Renungan-renungan Sufistik. Bandung: Mizan.
4
M. Anis Matta. 2003. Membentuk Karakter Cara Islam. Jakarta: Al Itishom Cahaya Umat.
5
Yunahar Ilyas. 2001. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LIPPI UMY.
6
Idem.
7
Murtadha Muthahhari. 2005. The Best Chicken Soup 2. terj. (Lanovar). Bandung: Pustaka Iman.
8
Abu Bakar Jabir Al Jazairi. 2000. Pedoman Hidup Seorang Muslim. Terj. (Mustofa Aini Lc, dkk) Madinah: Maktabatul
Ulum wa al-Hikmah.
9
Idem.
10
Murtadha Muthahhari. Op. Cit.
11
Jalaluddin Rakhmat. 1991. Renungan-renungan Sufistik. Bandung: Mizan.
12
Idem.
13
Abu Bakar Jabir Al Jazairi. 2000. Pedoman Hidup Seorang Muslim. Terj. (Mustofa Aini Lc, dkk) Madinah: Maktabatul
Ulum wa al-Hikmah.
14
Choiruddin Hadhiri Suprapto. 2003. 700 Mutiara Nasihat Menuju Islam Kaffah. Bandung: Mujahid Press.
15
Lihat hadits Bukhari Muslim no.2259, Bukhari no. 6018, Muslim no. 47, Muttafaqun alaih no. 6016, Ahmad no. 9383,
Bukhari no. 2625, 2463, Muslim no. 1609 dan Al Hakim no. 2/64.
16
Suyoto, Agus Purwadi. 1993. Andai Tuhan Komersil. Yogyakarta: Aditya Media.
17
Abdul Haris, dkk. 2005. Meraih Diri Membangun Keunggulan Insani. Malang: UMM
18
Yunahar Ilyas. 2001. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LIPPI UMY.
19
Lihat hadits lain seperti hadits Muslim no. 1711, Ahmad dan Thabrani.
20
M. Shalih Al Munajjih. 1995. Dosa-dosa yang Dianggap Biasa. Jakarta: Yayasan Al Shofwa.
21
Yunahar Ilyas. 2001. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LIPPI UMY.
22
Idem.
23
M. Quraish Shihab. 2003. Wawasan Al Quran. Bandung: Mizan.
24
Idem.
25
Yunahar Ilyas. 2001. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LIPPI UMY.
26
Suyoto, Agus Purwadi. 1993. Andai Tuhan Komersil. Yogyakarta: Aditya Media.
27
Idem.
28
M. Quraish Shihab. 2003. Wawasan Al Quran. Bandung: Mizan.
29
Yunahar Ilyas. 2001. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LIPPI UMY.