Anda di halaman 1dari 3

Home > Kolom > Resonansi

Suatu Hari di Kampung Tatar


Thursday, 13 November 2014, 06:00 WIB
Komentar : 0

Republika/Daan

Azyumardi Azra
A+ | Reset | AREPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra
Orang-orang Tatar agaknya merupakan salah satu bangsa yang paling terpencar di muka bumi
ini sejak waktu lama. Kini bermukim di berbagai negara, tidak ada angka pasti berapa jumlah
mereka, walau berbagai estimasi memperkirakan jumlah mereka sekitar 10 juta jiwa pada
2000.
Suku Tatar belakangan ini menjadi bagian dari berita krisis di Ukraina ketika bagian tenggara
negara ini sejak akhir Februari 2014 berusaha melepaskan diri dengan bantuan Rusia. Suku
Tatar yang bermukim di Semenanjung Krimea ibarat terjepit di antara dua kekuatan:
pemerintah pusat Ukraina di Kiev yang memerangi kaum separatis di Donetsk.
Secara tradisional, mereka menjadi sasaran kecurigaan Moskow. Bahkan, pada 1944 atas
perintah Joseph Stalin, secara massal mereka diusir dari Semenanjung Krimea walaupun
kemudian mereka direpatriasi.
Berasal dari nenek moyang bangsa Turki, orang-orang Tatar kini paling banyak bisa
ditemukan di Republik Tatarstan yang merupakan bagian Federasi Rusia. Pernah berkunjung
pada Juni 2009 ke Kazan, ibu kota Republik Tatarstan, penulis Resonansi ini menyaksikan
lanskap yang berbeda dengan wilayah Federasi Rusia lain: di mana-mana terlihat banyak
masjid dan madrasah, bahkan juga universitas Islam. Warga Tatar adalah kaum Muslim
wasathiyyah.
Penulis Resonansi ini juga menemukan kampung Tatar Muslim di Polandia. Bersama
delegasi Dialog Antaragama Indonesia-Polandia III awal November 2014, Ahad (2/11),

penulis mengunjungi dua masjid Tatar di kawasan Provinsi Bialystok, sebelah timur laut
Warsawa, ibu kota Polandia. Komunitas Muslim Tatar ini adalah komunitas Muslim yang
sudah berusia panjang melewati berbagai perang dan pergolakan politik, tapi tetap
bertahan. Kini mereka menjadi bagian terbesar dari sekitar 5.000 Muslim Polandia.
Orang-orang Tatar mulai datang dari kawasan Volga dan menetap di wilayah Polandia sejak
1379. Banyak di antara mereka semula adalah prajurit Tatar yang ikut berperang melawan
Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald 1410 di Malbork, wilayah utara Polandia
sekarang. Perlahan tapi pasti mereka membentuk komunitas distingtif setidaknya di dua desa
di Provinsi Podlaskie, sekitar 180 kilometer arah timur laut Warsawa.
Komunitas Muslim Tatar sering berjuang membela Kerajaan Polandia sehingga mereka
dianugerahi tanah oleh Raja Polandia untuk membangun desa. Dalam Perang Dunia II
banyak warga Tatar Polandia diusir Jerman ke Siberia, seusai perang mereka berimigrasi ke
Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.
Secara jumlah, Muslim Tatar Polandia tidak signifikan karena jika bicara tentang agama di
Polandia, yang dimaksud adalah Katolik yang berjumlah sekitar 90 persen dari 39 juta
penduduk. Apalagi Paus Johanes Paul II (1920-2005) berasal dari Polandia. Namun, kaum
Muslim Tatar cukup solid. Sejak 1936 mereka mendirikan Persatuan Muslim Polandia.
Salah satu distingsi kaum Muslim Tatar Polandia adalah masjid yang bukan hanya menjadi
tempat ibadah, tapi juga pusat komunitas. Ada tiga masjid Tatar di Polandia: Kruszyniany,
Bohoniki, dan Gdansk yang pernah menjadi pusat organisasi buruh Solidaritas pimpinan
Lech Walensa.
Masjid pertama didirikan pada 1768-1795 di Desa Kruszyniany, sekitar 50 kilometer dari
Bialystok, ibu kota Provinsi Podlaskie. Berkunjung ke masjid tua ini terlihat masih kokoh.
Dapat menampung sekitar 100 jamaah, bagian dalam masjid kecil ini juga memiliki
mezanine yang biasanya digunakan untuk Muslimah. Masjid yang ini meski memiliki dua
menara yang sedikit lebih tinggi, tidak tinggi dari bangunan utama, mirip gereja dan rumah
tradisional. Meski kecil, bangunan ini memang betul-betul masjid, lengkap dengan mihrab
dan mimbar.
Masjid Tatar kedua terletak di Desa Bohoniki, dekat Kota Sokolta, sebelah timur laut
Bialystok. Menurut penuturan komunitas Tatar yang tinggal di sekelilingnya, masjid ini
didirikan pada pertengahan akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18. Masjid Bohoniki yang
sedikit lebih kecil daripada Masjid Kruszyniany memiliki kubah mini dan ruangan untuk
jamaah laki-laki dan jamaah perempuan di bagian belakang. Masjid ini juga memiliki mimbar
dan mihrab kecil sehingga juga digunakan untuk ibadah shalat Jumat.
Lingkungan Tatar di Bohiniki juga dilengkapi makam khusus untuk Muslim yang terletak
sekitar 400 meter dari masjid. Makam ini diperkirakan sudah digunakan sejak abad ke-18.
Sebagian makam hanya ditandai batu-batu agak besar tanpa nama orang yang dimakamkan di
sana. Sedangkan kuburan untuk masa pasca-Perang Dunia II, kelihatan lebih wah yang
hampir sepenuhnya ditutup dengan batu pualam beserta nisan yang dilengkapi dua kalimah
syahadah dan nama almarhum atau almarhumah.
Kompleks pemakaman ini terlihat terawat dan bersih. Cukup banyak di atas kuburan terdapat
ikatan bunga yang masih segar. Kelihatannya kaum Muslim Tatar juga baru berziarah ke

makam mengikuti tradisi warga Polandia lain yang ziarah ke kuburan dalam rangka
merayakan Hari Santo Kudus (All Holy Saints Day) yang merupakan hari libur nasional
Polandia.
Komunitas Muslim Tatar terlihat merupakan masyarakat paguyuban, di mana satu warga
akrab dengan yang lain. Mereka hidup dari pertanian dan peternakan, mulai dari kuda sampai
ayam yang terlihat bergerak bebas. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah mereka kian
berkurang karena pindah ke perkotaan