Anda di halaman 1dari 2

KESIMPULAN

Sejarah bayi tabung dimulai pada tahun 1978, tepatnya pada tanggal 25 maret oleh
seorang professor di Inggris yang bernama Robert Edwards. Pada saat itu beliau
berhasil melakukan eksperimen dengan dilahirkannya bayi dari bayi tabung
pertama yang diberi nama Louise Brown.
Sejak saat itu pembuahan dengan cara bayi tabung terus dikembangkan. Hal itu
juga didukung oleh kemajuan teknologi yang makin pesat. Selain itu, kebutuhan
masyarakat akan bayi tabung juga kian meningkat, khususnya bagi mereka yang
kesulitan menghasilkan keturunan.
Atas dasar tersebut mulailah muncul pro dan juga kontra terhadap pelaksaan bayi
tabung. Baru-baru ini muncul kasus yang mengejutkan dengan terkuaknya kisah
sang ibu asal Amerika yang melahirkan anak kembar delapan setelah melakukan
tindakan bayi tabung.
Kontroversi muncul karena tindakan tersebut dinilai tidak etis dan juga dapat
membahayakan bagi kondisi ibu ataupun anak yang dikandungnya. Hal tersebut
juga menandakan bahwa sang dokter yang melakukan tindakan juga telah
melanggar aturan pelaksanaan bayi tabung, karena batas maksimal penanaman
embrio pada rahim seseorang adalah 3-4 embrio (multiple embrio). Sedangkan
pada kasus ini, dokter menanam delapan embrio pada rahim pasien. Hal ini sangat
berbahaya karena dapat mengakibatan gangguan yang sangat serius terhadap Ibu
dan juga bayi yang dikandungnya.
Pertanyaan muncul, apakah embrio yang tidak dipakai akan dibunuh. Karena dalam
beberapa kepercayaan dan juga budaya melarang melakukan pembunuhan atau
aborsi. Selain itu, hal tersebut juga bertentangan dengan etika kedokteran. Hal ini
telah terjawab karena embrio yang tidak terpakai akan di simpan, dan batas
penyimpanannya adalah selama dua tahun. Dan untuk embrio yang tidak dipakai
lagi karena sang ibu telah meninggal ataupun tidak ingin hamil kebali, embrio akan
dibiarkan saja disimpan sampai batas waktunya habis (2 tahun) atau dengan kata
lain dibiarkan untukmati sendiri.
Teknik bayi tabung juga akhir-akhir ini berhasil dikembangkan untuk mencegah
terjadinya cacat bawaan atau cacat lahir, dengan cara kontroversial yaitu dengan

cara menanam embrio dari hasil gabungan dari DNA ibu, ayah, dan donor dari
perempuan lain. Teknik pembuahan dalam tabung yang dikembangkan diinggris ini
disebut 3-parent IVF atau bayi tabung 3-induk.
Dengan menggunakan cara tersebut, peneliti berpendapat bahwa dapat
menghilangkan kecacatan bawaan dengan cara mengganti mitokondria yang rusak
dengan menggunakan mitokondria yang diambil dari perempuan pendonor. Hal
tersebut menjadi kontroversi karena dengan kata lain, embrio yang akan ditanam
berasal dari lebih dari dua orang. Sedangkan jika dilihat dalam aspek agama, tidak
diperbolehkan mengganggu gugat suatu karya Tuhan, dan selain itu pula tindakan
menggabungkan embrio yang berasal dari 3 induk itu dilarang atau diharamkan.
Sedangkan dari sisi budaya, meskipun masyarakat menginginkan mempunyai
keturunan yang lahir sempurna tanpa ada kecacatan, menggunakan 3 embrio
masih sangat bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat, karena
dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah dikemudian hari.
Jika dilihat dari aspek etik, metode tersebut sah-sah saja, namun jika diperhatikan
kaidah dasar bioetik yang berlaku, misalnya beneficent, dimana tindakan yang
dilakukan harus sewajarnya dan tidak bertentangan dengan norma yang ada di
masyarakat maupun tidak bertentangan dengan norma agama.
SARAN :
Dari hasil pembahasan diatas, kita dapat ketahui bahwa untuk melakukan bayi
tabung harus memperhatikan beberapa aspek, diantaranya adalah kondisi dan juga
keselamatan ibu dan anak yang akan dikandung. Jadi sebaiknya melakuka multiple
embrio itu dibatasi jumlahnya, dan harus memperhatikan kondisi dan keselamatan
ibu dan janin. Dan untuk embrio yang tidak terpakai, lebih baik disimpan hingga
akhirnya mati sendiri.
Selain itu, untuk kasus pencegahan cacat bawaan dengan menggunakan bayi
tabung harus dikaji kembali, apakah bisa dilakukan dengan tidak menggunakan
DNA dari 3 induk. Karena itu melanggar norma-norma yang ada di masyarakat dan
juga norma-norma agama.