Anda di halaman 1dari 16

ARTIKEL ILMIAH

PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK TANI DALAM PROGRAM SL-PTT PADI


SAWAH DI DESA SEI MATA-MATA KECAMATAN SIMPANG HILIR
KABUPATEN KAYONG UTARA

OLEH :

Dahlia
Komariyati, SP, MP
Ir. Abdul Hamid A. Yusra, MS

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015
PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK TANI DALAM PROGRAM SL-PTT PADI
SAWAH DI DESA SEI MATA-MATA KECAMATAN SIMPANG HILIR
KABUPATEN KAYONG UTARA
Dahlia(1), Komariyati (2), Abdul Hamid A. Yusra (2)

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015
(1)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura


(2)
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura
email: dahliamokhtarr@gmail.com
ABSTRAK

Program SL-PTT padi sawah merupakan program yeng bertujuan meningkatkan


produktivitas lahan, memperbaiki pendapatan petani, serta melakukan pengelolaan
tanaman terpadu yang berwawasan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi sawah dan
mengetahui hubungan antara partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT
padi sawah dengan penerapan PTT di Desa Sei Mata-Mata Kecamatan Simpang Hilir
Kabupaten Kayong Utara.
Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode survey. Lokasi penelitian
dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa desa Sei Mata-Mata
memiliki lahan pertanian terbesar di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong
Utara dan menjadi lokasi pelaksanaan program SL-PTT, tetapi produktivitas padi sawah
belum mencapai target yang telah ditetapkan. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 42
responden yang diambil dengan metode Simple Random Sampling. Analisis yang
digunakan adalah Korelasi Kendalls Tau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipasi anggota kelompok
tani tergolong kategori simbolis (74%) dan 26% responden yang tergolong kategori
partisipasi semu, sedangkan pada penerapan PTT padi sawah menunjukan bahwa 72%
responden tergolong kategori rendah, 26% responden tergolong kategori sedang dan
2% responden tergolong kategori tinggi. Hasil analisis hubungan antara partisipasi
anggota kelompok tani dalam program SL-PTT dengan penerapan PTT sebesar 0,141
dengan nilai P value (signifikansi) sebesar 0,245, sehingga tidak terdapat hubungan
antara kedua variabel.
Kata kunci : Partisipasi, Kelompok Tani, SL-PTT dan Padi Sawah.

PENDAHULUAN

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

Permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia merupakan salah satu


aspek yang menjadi prioritas untuk diselesaikan, karena pangan dapat berpengaruh
terhadap kualitas sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia merupakan salah satu
modal penting untuk kemajuan Indonesia dimasa yang akan datang. Komoditas pangant
terpenting di Indonesia saat inia dalah beras, hampir seluruh masyarakat Indonesia saat
ini menjadikan beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Komoditas tanaman pangan
diupayakan selalu tersedia dalam keadaan cukup, hal ini untuk memenuhi kebutuhan
pangan, pakan, dan industri dalam negeri, karena setiap tahunnya cenderung
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya
industri. Komoditi ini berperan sebagai pemenuh kebutuhan pokok karbohidrat
masyarakat. Padi (Oryza sativa L) merupakan bahan makanan yang menghasilkan
beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk
Indonesia.
Upaya memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri, pemerintah
mencanangkan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang
diimplementasikan pada periode 2007-2009. Melalui program ini, produksi beras
ditargetkan meningkat lima persen atau setara 2 juta ton per tahun. Salah satu strategi
yang ditempuh adalah pada tahun 2008 diharapkan dapat terselenggara Sekolah Lapang
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) di 60.000 unit. Strategi ini diharapkan dapat
memperluas penyebaran pengelolaan tanaman terpadu (PTT) yang akan berdampak
terhadap percepatan implementasi program P2BN (Deptan, 2008). Oleh karena itu,
pemerintah Indonesia meluncurkan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman
Terpadu (SL-PTT) pada tahun 2008 dimana program ini memiliki prinsip pelatihan
yang menerapkan teknologi yang berwawasan lingkungan, bersifat partisipatif yaitu
petani berperan aktifd alam penentuan teknologi sesuai kondisi setempat serta
meningkatkan kemampuan melalui pembelajaran dilapangan dan memberdayakan
petani khususnya di Desa Sei Mata-Mata Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong
Utara.
Pelaksanaan program SL-PTT di Desa Sei Mata-Mata, seperti halnya dengan
program-program lain, juga menghadapi beberapa tantangan yang dihadapi selama
pelaksanaan. Tantangan tersebut diakibatkan oleh kompleksitas dari program SL-PTT
itu sendiri. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL)

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

adalah menyampaikan program SL-PTT padi sawah itu sendiri, karena petani di Desa
Sei Mata-Mata merupakan petani yang menanam padi ladang. Padi sawah merupakan
inovasi baru bagi petani di Desa Sei Mata-Mata.
Program SL-PTT di Desa Sei Mata-Mata dilaksanakan pada tahun 2012.
Permasalahan utama dari sektor tanaman pangan khususnya padi sawah di Desa Sei
Mata-Mata adalah produktivitas padi masih relatif rendah. Target produktivitas padi
sawah di Desa Sei Mata-Mata sebesar 3,8 ton per hektar, akan tetapi setelah
dilaksanakan program SL-PTT target tersebut belum tercapai. Produktivitas padi hanya
2,2 ton per hektar padahal Desa Sei Mata-Mata merupakan desa yang memiliki lahan
padi terbesar di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara dan mayoritas
masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani.
Tujuan dari program SL-PTT adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan,
memperbaiki pendapatan petani, serta melakukan pengelolaan tanaman sacara
terpadu yang berwawasan lingkungan dengan memperhatikan penggunaan sumberdaya
alam yang bijak dengan melalui keterpaduan (integrasi) berbagai komponen teknologi
yang saling menunjang (sinergis) dengan sumberdaya setempat (spesifik lokasi), dan
partisipasi petani sejak awal pelaksanaan kegiatan (partisipatif).

Melalui PTT

diharapkan kebutuhan beras nasional dapat dipenuhi, pendapatan petani padi dapat
ditingkatkan, dan usaha pertanian padi sawah dapat menjadi usahatani berkelanjutan.
TINJAUAN PUSTAKA
Partisipasi merupakan pengambilan bagian atau pengikutsertaan (Poerwadarminta
dalam Huraerah 2011:109). Menurut (Keith Davis dalam Huraerah 2011:109) partisipasi
sebagai keterlibatan mental dan emosi orang-orang dalam situasi kelompok yang
mendorong mereka untuk menyumbangkan pada tujuan-tujuan kelompok dan samasama bertanggungjawab terhadapnya.
Kelompok tani merupakan diartikan sebagai kumpulan orang-orang tani atau
petani, yang terdiri atas petani dewasa (pria/wanita) maupun petani taruna, yang terikat
secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan
bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani
(Mardikanto, 1996). Kelompok tani terbentuk atas dasar kesadaran, jadi tidak secara
terpaksa. Kelompok tani ini menghendaki terwujudnya pertanian yang baik, usahatani

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

yang optimal dan keluarga tani yang sejahtera dalam perkembangan kehidupannya. Para
anggota terbina agar berpandangan sama, berminat yang sama dan atas dasar
kekeluargaan (Kartosapoetra, 1994).
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) merupakan bentuk
sekolah yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilakukan di lapangan, yang
dilaksanakan di lahan petani peserta PTT dalam upaya peningkatan produksi padi
nasional (Deptan, 2008). Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) adalah suatu inovasi
dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi melalui perbaikan sistem
dan pendekatan dalam perakitan paket teknologi, dinamisasi komponen teknologi padi
yang memiliki efek sinergis yang dilakukan secara partisipatif, dan bersifat dinamis.
Paket teknologi PTT bersifat spesifik lokasi, sangat tergantung pada faktor biofisik dan
keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat (Toha, 2005).
Tumbuhan padi (Oryza sativa L) termasuk golongan tumbuhan Gramineae, yang
mana ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Tumbuhan padi bersifat
merumpun, artinya tanaman tanamannya anak beranak. Bibit yang hanya sebatang
saja ditanamkan dalam waktu yang sangat

dekat, terdapat 20-30 atau lebih

anakan/tunas baru (Siregar, 1981).


Padi merupakan bahan makanan pokok sehari hari pada kebanyakan penduduk di
negara Indonesia. Padi dikenal sebagai sumber karbohidrat terutama pada bagian
endosperma, bagian lain daripada padi umumnya dikenal dengan bahan baku industri,
antara lain : minyak dari bagian kulit luar beras (katul), sekam sebagai bahan bakar atau
bahan pembuat kertas dan pupuk. Padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa
makan nasi dan tidak dapat digantikan oleh bahan makanan yang lain, oleh sebab itu
padi disebut juga makanan energi (AAK, 1990).

METODELOGI PENELITIAN

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sei Mata-Mata Kecamatan Simpang Hilir


Kabupaten Kayong Utara. Penelitian ini menggunakan metode survey, populasi
penelitian ini semua anggota kelompok tani yang ada di Desa Sei Mata-Mata
Kecamatan Simpang Hilir yang ditentukan secara Simple Random Sampling. Menurut
Suparmoko (1991:41), bahwa untuk subjek yang berjumlah lebih dari 200 orang, maka
pengambilan sampel menurut persentase berikut, yaitu 5%, 10%, atau 15% dari jumlah
populasi. Jumlah popolasi yaitu keseluruhan anggota kelompok tani yaitu 419 anggota
kelompok tani dengan mengambil sampel 10% yaitu

42 sampel. Jenis data yang

digunakan data primer dan data sekunder yang diperoleh dari wawancara dan survei.
ANALISIS DATA
Mengetahui partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi
sawah yaitu menggunakan deskriptif secara skoring. Data yang diperoleh dan terkumpul
dianalisis dengan tabel skoring, dalam pengolahan data terdapat 3 (tiga) kategori
jawaban yaitu, sesungguhnya, simbolis dan semu dengan kriteria sebagai berikut:
1. Sesungguhnya: Jika anggota kelompok tani hadir dalam kegiatan, mendengarkan,
memberikan saran, saran diterima, melaksanakan kegiatan dengan kesukarelaan dan
memberikan pengorbanan / sumbangan.
2. Simbolis: Jika anggota kelompok tani hadir dalam kegiatan, mendengarkan,
memberikan saran, melaksanakan kegiatan dengan kesukarelaan
3. Semu: Jika anggota kelompok tani hanya hadir dalam kegiatan dan hanya
mendengarkan, melaksanakan karena terpaksa (hanya sekedar mengikuti)
Pada tahap penerapan PTT padi sawah dibagi atas 3 (tiga) kategori yaitu tinggi,
sedang dan rendah dengan kriteria sebagai berikut:
1. Tinggi : Jika sesuai anjuran
2. Sedang : Jika kurang sesuai anjuran
3. Rendah : Jika tidak sesuai anjuran.
Jawaban dari responden dijumlahkan dan dikelompokkan berdasarkan interval
kelas dengan rumus sebagai berikut:
C=

XnXi
K

Keterangan:

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

C = Interval kelas
Xn = Skor maksimum
Xi = Skor minimum
K = Jumlah kelas
Mengetahui hubungan antara partisipasi anggota kelompok tani dalam program
SL-PTT padi sawah dengan penerapan PTT padi sawah dianalisis menggunakan analisis
korelasi kendall tau dengan SPSS 18.
Hubungan antara kedua variabel terjadi jika partisipasi anggota kelompok tani
dalam program SL-PTT tinggi dan penerapan PTT tinggi atau sebaliknya. Untuk
pengujian dalam SPSS digunakan kriteria sebagai berikut:
1. Jika angka probabilitas (sig) < 005, maka hubungan kedua variabel signifikan.
2. Jika angka probabilitas (sig) > 005, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien
korelasi adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Ukuran koofisien Korelasi
Interval
Tingkat
Koofisien
Hubungan
0,00 - 0,199
Sangat rendah
0,20 - 0,399
Rendah
0,40 - 0,599
Sedang
0,60 - 0,799
Kuat
0,80 - 1,000
Sangat kuat
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program SL-PTT Padi Sawah
Partisipasi anggota kelompok tani adalah keterlibatan anggota kelompok tani
dalam tahap awal hingga tahap akhir kegiatan. Keterlibatan anggota kelompok tani
dalam penelitian ini adalah keterlibatan anggota kelompok dalam program SL-PTT
padi sawah meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi.
Partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi sawah di Desa
Sei Mata-Mata secara keseluruhan termasuk kedalam kategori simbolis. Hal ini
menggambarkan bahwa anggota kelompok tani tidak sepenuhnya berperan aktif
dalam kegiatan. Tahap yang termasuk dalam kategori semu yaitu pada tahap

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

perencanaan dan evaluasi, sedangkan pada tahap pelaksanaan partisipasi anggota


kelompok tani termasuk dalam kategori sesungguhnya.
26%
Sesungguhnya

Simbolis
74%

Semu

Sumber: Analisis Data Primer, 2014


Gambar 1: Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program SL-PTT Padi Sawah
Berdasarkan gambar diatas menunjukan bahwa, tidak ada responden yang
tergolong kategori sesungguhnya sedangkan jumlah responden termasuk kategori
simbolis adalah 31 orang (74%) dan jumlah responden yang termasuk kategori semu
adalah 11 orang (26%). Jumlah responden yang paling banyak termasuk dalam
kategori simbolis.
Hasi penelitian menunjukan bahwa, anggota kelompok tani hanya berpartisipasi
secara sungguh-sungguh hanya pada tahap pelaksanaan, sedangkan pada tahap
perencanaan dan evaluasi termasuk dalam partisipasi semu. Hal ini disebabkan
karena anggota kelompok tani tidak sepenuhnya berperan aktif, hal ini juga
dipengaruhi oleh karakteristik responden yang berdomisili di desa sehingga
masih kurang disentuh oleh pengetahuan dan pemahaman organisasi modern.
Selain

itu pendidikan

formal

responden

yang

rata-rata masih

rendah

(berpendidikan Sekolah Dasar) menyebabkan pola pemikiran yang masih bersifat


konvensional.

1. Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program SL-PTT Padi Sawah


Tahap Perencanaan

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

Partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi sawah tahap
perencanaan meliputi: Rencana awal atau rencana usaha kelompok (RUK)
meliputi: penentuan jadwal kegiatan, penentuan sasaran areal tanam, penentuan
pola tanam, penentuan teknologi usahatani, penentuan saprodi.
Partisipasi anggota kelompok tani tahap perencanaan dapat diketahui dari
keterlibatan anggota kelompok tani dalam dalam membuat rencana suatu
kegiatan. Keterlibatan anggota kelompok tani dapat dilihat dari kehadirannya,
saran dan ide yang diberikan serta kesukarelaan dalam menghadiri kegiatan.
14%
Sesungguhnya
86%

Simbolis

Semu

Sumber: Analisis Data Primer 2014


Gambar 2: Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program
SL-PTT Padi Sawah Tahap Perencanaan
Partisipasi anggota kelompok tani tahap perencanaan (Gambar 2)
menunjukan bahwa tidak ada responden yang termasuk dalam kategori
sesungguhnya, sedangkan jumlah responden termasuk kategori simbolis adalah 6
orang (14%) dan jumlah responden yang termasuk kategori semu adalah 36 orang
(86%).
Jumlah responden yang paling banyak termasuk dalam kategori semu. Hal
ini disebabkan karena, pada tahap perencanaan komunikasi antara penyuluh
dengan anggota kelompok tani masih bersifat satu arah. Sebagian besar anggota
kelompok tani hanya sekedar datang dan mendengarkan materi yang disampaikan
penyuluh tanpa memberikan saran atau masukan, padahal program SL-PTT harus
diterapkan dengan prinsip utama yaitu partisipatif.

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

2. Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program SL-PTT Padi Sawah


Tahap Pelaksanaan
Partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi sawah tahap
pelaksanaan dapat diketahui dari keterlibatan kelompok tani dalam pengerjaan
suatu kegiatan. Keterlibatan kelompok tani dapat dilihat dari bentuk tenaga
maupun materil saat kegiatan dilaksanakan. Partisipasi anggota kelompok tani
tahap pelaksanaan meliputi: persiapan benih, pengolahan lahan, penyiangan,
panen dan perontokan.
2%
5%
Sesungguhnya

Simbolis
93%

Semu

Sumber: Analisis Data Primer, 2014


Gambar 3: Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program
SL-PTT Padi Sawah Tahap Pelaksanaan
Partisipasi anggota kelompok tani tahap pelaksanaan (Gambar 3)
menunjukan

bahwa

jumlah

responden

yang

termasuk

dalam

kategori

sesungguhnya adalah 39 orang (93%), jumlah responden termasuk kategori


simbolis adalah 2 orang (5%) dan jumlah responden yang termasuk kategori semu
adalah 1 orang (2%). Jumlah responden yang paling banyak termasuk dalam
kategori sesungguhnya. Hal ini menunjukan bahwa dalam kegiatan pelaksanaan
kegiatan SL-PTT padi sawah sebagian besar anggota kelompok tani telah
berperan aktif, memiliki rasa tanggungjawab terhadap kegiatan serta rela
berkorban demi keberhasilan kegiatan.
3. Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program SL-PTT Padi Sawah
Tahap Evaluasi
Partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi sawah tahap
evaluasi dapat diketahui dari keterlibatan anggota kelompok tani dalam menilai
atau mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan. Partisipasi anggota

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

kelompok tani tahap evaluasi meliputi: evaluasi jadwal kegiatan, evaluasi sasaran
areal tanam, evaluasi pola tanam, evaluasi teknologi usahatani, evaluasi saprodi.
Hasil analisis partisipasi anggota kelompok tani tahap perencanaan dapat dilihat
dari gambar 4 berikut ini:
Sesungguhnya

Simbolis

Semu
17%
83%

Sumber: Analisis Data Primer, 2014


Gambar 4: Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program
SL-PTT Padi Sawah Tahap Evaluasi
Partisipasi anggota kelompok tani tahap evaluasi (Gambar 4) menunjukan
bahwa tidak ada responden yang termasuk dalam kategori sesungguhnya
sedangkan responden termasuk kategori simbolis adalah 7 orang (17%) dan
jumlah responden yang termasuk kategori semu adalah 35 orang (83%). Jumlah
responden yang paling banyak termasuk dalam kategori semu. Hal ini disebabkan
karena, pada tahap evalusi sebagian besar anggota kelompok tani tidak berperan
secara aktif. Banyak anggota kelompok tani hanya datang dan mendengarkan saja
tanpa menyampaikan permasalahan yang terjadi dilapangan.
B. Penerapan PTT Padi Sawah
Penerapan PTT padi sawah merupakan kegiatan pengelolaan padi sawah secara
terpadu yang terdiri dari komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan.
Komponen teknologi dasar meliputi: penguasaan lahan, varietas unggul baru, benih
bermutu dan berlabel, pemberian jerami, populasi tanaman, pemupukan dan
pengendalian OPT. Sedangkan komponen teknologi pilihan meliputi: pengolahan
tanah sesuai musim dan pola tanam, penggunaan bibit muda,

tanam bibit,

pengaturan tanam, pengairan, penyiangan dan panen. Penerapan PTT padi sawah
dibagi atas tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

2%
Tinggi72%

26%

Sedang

Rendah

Sumber: Analisis Data Primer, 2014


Gambar 5: Penerapan PTT Padi Sawah
Penerapan PTT padi sawah (Gambar 5) menunjukan bahwa jumlah responden
yang termasuk dalam kategori tinggi adalah 1 orang (2%), jumlah responden
termasuk kategori sedang adalah

11orang (26%) dan jumlah responden yang

termasuk kategori rendah adalah 30 orang (72%). Jumlah responden yang paling
banyak termasuk dalam kategori rendah, hal ini disebabkan karena anggota
kelompok tani tidak melaksanakan penerapan PTT padi sawah sesuai anjuran
penyuluh (PPL).
Hasil

penelitian

menunjukan

bahwa,

sebagian

besar

anggota

tidak

menggunakan varietas dan benih unggul, populasi tanam, pemupukan, pengendalian


OPT, pola tanam, umur bibit yang digunakan, jumlah bibit, pengaturan tanam,
pengairan, penyiangan dan panen yang kurang sesuai dengan anjuran penyuluh. Hal
ini disebabkan karena petani belum menerapkan PTT padi sawah secara sungguhsungguh dan belum terbiasa menanam padi sawah.
Petani di Desa Sei Mata-Mata merupakan petani yang menanam padi ladang.
Pada PTT padi sawah biaya yang dikeluarkan oleh petani akan lebih besar
dibandingkan padi ladang. Petani tidak terbiasa memberikan pengairan pada ladang
mereka, sedangkan pada padi sawah memerlukan pengairan yang cukup, melakukan
pembajakan sawah serta biaya perawatan lainnya.

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

C. Hubungan Antara Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program SL-PTT


Padi Sawah dengan Penerapan PTT
Berdasarkan hasil analisis hubungan antara partisipasi anggota kelompok tani
dalam program SL-PTT padi sawah dengan penerapan PTT, menghasilkan nilai
koofisien Kendall Tau sebesar 0,141 dengan nilai P value (signifikansi) sebesar
0,245. Nilai P value tersebut lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
tidak terdapat hubungan antara kedua variabel. Hal ini menunjukan bahwa tinggi
rendahnya partisipasi anggota kelompok tani terhadap program SL-PTT padi sawah
tidak mempengaruhi penerapan PTT padi sawah yang dilakukan oleh anggota
kelompok tani.

1. Hubungan Antara Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program


SL-PTT Padi Sawah Tahap Perencanaan dengan Penerapan PTT
Berdasarkan hasil analisis hubungan antara partisipasi anggota kelompok
tani dalam program SL-PTT padi sawah tahap perencanaan dengan penerapan
PTT, menghasilkan nilai koofisien Kendall Tau sebesar 0,395 dengan nilai P value
(signifikansi) sebesar 0,01. Nilai P value tersebut lebih kecil dari 0,05 maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kedua variabel.
Partisipasi anggota kelompok tani tahap perencanaan mempunyai peranan
penting terhadap keputusan yang akan diambil dimasa yang akan mendatang.
Anggota kelompok tani lebih mempercayai program pembangunan apabila
mereka dilibatkan dalam persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan
lebih mengetahui seluk beluk program dan mempunyai rasa memiliki terhadap
program tersebut.
Menurut Slamet (1993), bahwa partisipasi dalam tahap perencanaan
merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat
keterlibatannya. Oleh karena itu, pada tahap perencanaan anggota kelompok tani
harus benar-benar dilibatkan dan barsifat partisipatif dengan komunikasi dua arah.

2. Hubungan Antara Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

SL-PTT Padi Sawah Tahap Pelaksanaan dengan Penerapan PTT


Hasil analisis hubungan antara partisipasi anggota kelompok tani dalam
program SL-PTT padi sawah tahap pelaksanaan dengan penerapan PTT,
menghasilkan nilai koofisien Kendall Tau sebesar -220 dengan nilai P value
(signifikansi) sebesar 0,162. Nilai P value tersebut lebih besar dari 0,05 maka
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kedua variabel. Hal ini
disebabkan karena, pada tahap pelaksanaan anggota kelompok tani berpartisipasi
karena bersifat menjalankan perintah serta anjuran dari penyuluh. Ada
kemungkinan pelaksanaan dalam program SL-PTT padi sawah hanya atas
perintah dan jadwal yang telah tersusun.
3. Hubungan Antara Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Program
SL-PTT Padi Sawah Tahap Evaluasi dengan Penerapan PTT
Berdasarkan hasil analisis hubungan antara partisipasi anggota kelompok
tani dalam program SL-PTT padi sawah tahap evaluasi dengan penerapan PTT,
menghasilkan nilai koofisien Kendall Tau sebesar 0,370 dengan nilai P value
(signifikansi) sebesar 0,817. Nilai P value tersebut lebih besar dari 0,05 maka
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kedua variable.
Hasil analisis hubungan antara partisipasi anggota kelompok tani dalam
program SL-PTT padi sawah dengan penerapan menunjukan bahwa hanya pada
tahap perencanaan yang mempunyai hubungan dengan penerapan PTT padi
sawah, sedangkan pada tahap pelaksanaan dan evaluasi tidak terdapat hubungan
dengan penerapan.
Hubungan antara kedua variabel terjadi jika variabel X tinggi maka variabel
Y juga tinggi begitu juga sebaliknya, pada program SL-PTT padi sawah anggota
kelompok tani melaksanakan kegiatan hanya berdasarkan anjuran dari penyuluh,
bukan karena rasa memiliki kegiatan tersebut. Sedangkan pada penerapan PTT
padi sawah anggota kelompok tani tidak secara sepenuhnya menerapkan karena
biaya yang dikeluarkan pada penanaman padi sawah lebih besar dibandingkan
menanam padi ladang yang telah mereka lakukan secara turun temurun.
KESIMPULAN

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang dilakukan maka disimpulkan sebagai


beruikut:
1. Partisipasi anggota kelompok tani dalam program SL-PTT padi sawah secara
keseluruhan tergolong dalam kategori simbolis. Hal ini dikarenakan anggota
kelompok tani hanya aktif mengikuti pada tahap pelaksanaan, sedangkan pada tahap
perencanaan dan evaluasi sebagian besar anggota kelompok tani hanya datang dan
mendengarkan saja tanpa memberikan saran.
2. Penerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah oleh anggota kelompok
tani tergolong dalam kategori rendah. Hal ini terjadi karena sebagian besar anggota
kelompok tani tidak menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) sesuai anjuran
penyuluh.
3. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data hubungan antara partisipasi anggota
kelompok tani tahap perencanaan, tahap pelaksanaan maupun tahapan evaluasi
dengan penerapan PTT padi sawah menunjukan bahwa hanya tahap perencanaan
yang mempunyai hubungan yang signifikan dengan penerapan PTT padi sawah.
SARAN
1. Untuk meningkatkan partisipasi anggota kelompok tani dalam suatu kegiatan
diperlukan tambahan tenaga penyuluh dari instansi pemerintah yang berperan aktif
membina masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan. Di Desa Sei Mata-Mata hanya
terdapat 1 orang penyuluh pertanian lapangan (PPL), sedangkan jumlah anggota
kelompok tani secara keseluruhan yaitu 420 anggota. Hal ini menyebabkan tidak
efektifnya materi yang disampaikan oleh penyuluh kepada anggota kelompok tani.
2. Anggota kelompok tani harus dilibatkan dalam setiap kegiatan, terutama pada tahap
perencanaan karena partisipasi anggota kelompok tani tahap perencanaan
mempunyai peranan penting terhadap keputusan yang akan diambil di masa yang
akan mendatang.
3. Upaya menumbuhkan kesadaran petani dalam berpartisipasi, harus disertai dengan
upaya meningkatkan pengetahuan petani tentang cara pengelolaan tanaman terpadu
padi sawah (PTT) secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
AAK, 1990. Budidaya Tanaman Padi. Kanisius. Yogyakarta

Sosial Ekonomi
Pertanian
Jurnal Agribisni, 2015

Dinas Pertanian. 2008. Petunjuk Teknis Sekolah Lapang Pengelolaan dan Sumberdaya
Tanaman Terpadu. Dinas Pertanian Sukoharjo.
Deptan, 2008, Sekolah Lapang PTT Padi, Bantu Petani Mempercepat Alih Teknologi.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Deptan, 2009, Pedoman Umum PTT Padi Sawah. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Departemen Pertanian.
Huraerah, 2011. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat : Model dan
Strategi Pembangunan Berbasis Kerakyatan. Bandung.
Kartasapoetra, A.G. 1994. Teknik Penyuluhan Pertanian. Bina Aksara. Jakarta.
Mardikanto, T. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Departemen Kehutanan.
Jakarta.
Siregar, H., 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya, Bogor.
Slamet, 1993, Pembangunan Masyarakat Berwawasan Partisipasi. Surakarta.
Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Alfabeta, Bandung.
Toha HM. 2005. Padi Gogo dan Pola Pengembangannya. Balai Penelitian Tanaman
Padi, Subang.