Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pendidikan dan peranannya merupakan kebutuhan mutlak untuk menunjang kehidupan
manusia. Fisika sebagai cabang ilmu pengetahuan alam mempunyai peranan yang sangat penting
dalam perkembangan teknologi di masa depan. Namun, fisika selalu dianggap sulit oleh siswa,
sehingga prestasi siswa pada mata pelajaran fisika banyak yang rendah.
Berdasarkan pengalaman penulis saat melakukan obsevasi di SMA N 1 Mojolaban,
ditemukan bahwa siswa kelas XI IPA 2 memiliki nilai fisika yang kurang memuaskan. Hal ini
terlihat dari nilai rapor hasil ujian akhir semester gasal yang menunjukkan bahwa lebih dari 50%
siswa mencapai nilai mendekati

KKM. Berdasarkan hasil observasi, ditemukan rendahnya

partisipasi siswa dalam pembelajaran di kelas. Siswa kurang berani bertanya kepada guru,
kurang berani dalam menyampaikan pendapat, dan kurangnya kemampuan dalam memecahkan
masalah. Hal-hal di atas sebenarnya menunjukkan gejala kesulitan belajar pada siswa.
Sementara itu, dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, guru dituntut untuk selalu
meningkatkan diri baik dalam pengetahuan maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Dalam
hal kesulitan yang dihadapi siswa, guru perlu menemukan dan memastikan sumber
permasalahan, serta menanganinya dengan harapan dapat memecahkan masalah tersebut. Guru
sebagai orang yang bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar juga harus berperan untuk
dapat memahami gejala-gejala kesulitan belajar. Bagi guru, memahami kesulitan belajar siswa
merupakan dasar dalam usaha memberi bantuan kepada siswa. Oleh karena itu sangat penting
bagi guru untuk melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa. Diagnosis kesulitan belajar
merupakan upaya mengumpulkan fakta-fakta untuk menentukan jenis dan penyebab kesulitan
belajar siswa.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud letak kesulitan belajar merupakan submateri pokok
bahasan gravitasi bumi dan getaran yang belum dikuasai siswa. Sedangkan penyebab kesulitan
belajar merupakan hal yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar siswa pada pokok bahasan
gravitasi bumi dan getaran.
Guru pada dasarnya harus bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Selain
bertanggungjawab membantu dan membimbing siswa untuk memperoleh hasil belajar maksimal,

salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas dan
peranannya adalah kegiatan diagnosis kesulitan belajar. Seorang guru yang profesional harus
dapat mendiagnosis kesulitan belajar. Agar kegiatan ini dapat dilakukan, maka seorang guru juga
dituntut untuk memiliki kompetensi melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa.
Kesulitan belajar yang dialami siswa hendaknya harus segera diatasi karena akan
berpengaruh terhadap pemahaman siswa pada pokok bahasan fisika selanjutnya. Konsep fisika
bersifat hirarki atau berjenjang, artinya untuk mempelajari suatu materi diperlukan penguasaan
terhadap materi-materi sebelumnya. Oleh karena itu, bila siswa mengalami kesulitan belajar pada
salah satu materi atau pokok bahasan, sangat besar kemungkinan siswa akan mengalami
kesulitan saat mempelajari materi berikutnya. Selain itu, jika kesulitan yang dialami tidak segera
ditangani, dikhawatirkan siswa akan terus mengalami kegagalan dalam belajar. Kegagalan
tersebut akan menimbulkan kekecewaan, malas belajar, rendah diri atau bahkan mungkin dapat
mempengaruhi jiwanya.
Salah satu pokok bahasan fisika yang berpotensi menimbulkan kesulitan belajar adalah
gravitasi bumi dan getaran. Dalam pokok bahasan gravitasi bumi dan getaran, terdapat unsurunsur fisika yang sangat kompleks, mulai dari konsep arah gaya, konsep arah gaya, konsep
resultan gaya, konsep gaya gesekan, konsep massa dan berat benda, serta konsep getaran dan
gelombang. Selain itu, siswa juga dituntut menguasai penggunaan simbol-simbol yang bervariasi
dan rumus-rumus yang beraneka macam dalam pokok bahasan tersebut.
Dalam penelitian ini, letak kesulitan belajar siswa pada pokok bahasan gravitasi bumi dan
getaran diidentifikasi dengan menggunakan pendekatan profil materi sesuai dengan ketetapan
Depdiknas (2008), yakni dengan meninjau penguasaan (kompetensi) siswa pada sub materi yang
satu dibandingkan dengan penguasaan siswa pada sub materi gravitasi bumi dan getaran yang
lain. Penguasaan (kompetensi) siswa pada pokok bahasan gravitasi bumi dan getaran diukur
melalui tes diagnostik. Sedangkan penyebab kesulitan belajar siswa pada pokok bahasan
gravitasi bumi dan getaran dianalisis meninjau kesalahan (1) pemahaman konsep atau prinsip,
(2) perhitungan matematis, dan (3) mengkonversi satuan, dan (4) kesalahan dalam pengetahuan
terstruktur. Dengan meninjau kemampuan verbal, kemampuan menggunakan skema,
kemampuan membuat strategi pemecahan masalah, dan kemampuan membuat algoritma.
Kemampuan bahasa diartikan sebagai kemampuan menerjemahkan soal dan member makna

pertanyaan yang diajukan dalam soal. Kemampuan menggunakan skema diartikan sebagai
kemampuan memahami konsep, prinsip, atau aturan yang dapat digunakan untuk menyelesaian
soal. Kemampuan membuat strategi diartikan sebagai kemampuan membuat langkah-langkah
atau cara yang harus digunakan untuk menyelesaikan soal. Kemampuan membuat strategi
diartikan sebagai kemampuan merencanakan pemecahan masalah. Kemampuan membuat
algoritma diartikan sebagai kemampuan yang menekankan pada penyelesaian atau pengerjaan
soal
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, penulis merasa perlu melakukan
diagnosis kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari pokok bahasan gravitasi bumi dan
getaran dengan tujuan mengidentifikasi letak kesulitan belajar siswa dan mengidentifikasi
penyebab kesulitan belajar siswa dalam mempelajari pokok bahasan gravitasi bumi dan getaran.

I.2. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai setelah pelaksanaan kegiatan diagnosis kesulitan belajar ini
bagi siswa adalah :
a.
b.
c.
d.
e.

Siswa dapat memahami dan mengetahui kekeliruannya.


Siswa dapat memperbaiki kesalahannya.
Siswa dapat memilih cara atau metode untuk memperbaiki kesalahannya.
Siswa dapat menguasai pelajaran dengan baik.
Siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

I.3. Manfaat
Manfaat yang diperoleh oleh siswa, guru, & sekolah dari kegiatan diagnosis kesulitan belajar
adalah:
a. Mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh peserta didik.
b. Membantu memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh peserta didik dengan
adanya kerjasama antara pihak sekolah, peserta didik dan keluarga.
c. Membantu pesert didik agar dapat menguasai pelajaran yang sulit baginya.
d. Mempermudah guru dalam menentukan layanan apa yang sesuai dengan kesulitan yang
dialami oleh peserta didik.

BAB II
DESKRIPSI KASUS
II.1. Profil Sekolah
SMA NEGERI 1 MOJOLABAN berlokasi di JL. Batara Surya NO. 10, Wirun,
Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. SMA NEGERI 1 MOJOLABAN berdiri pada tahun 1990.
SMA NEGERI 1 MOJOLABAN memiliki luas wilayah lebih kurang 3 hektar. Karena lahannya
yang luas inilah menjadikan SMA NEGERI 1 MOJOLABAN nyaman untuk proses belajar
mengajar. Apalagi daerah di sekitar kelas yang banyak ditanami pepohonan rindang. Selain itu
SMA NEGERI 1 MOJOLABAN terletak agak kedalam dari tepi jalan raya. Hal inilah yang
membuat proses belajar mengajar menjadi lebih tenang dan nyaman. Apalagi letak SMA

NEGERI 1 MOJOLABAN tidak jauh dari jalan raya. Setiap jam menjelang pulang sekolah,
banyak kendaraan umum yang siap menunggu siswa siswi.
SMA NEGERI 1 MOJOLABAN merupakan sekolah favorit di kabupaten Sukoharjo.
Setiap tahunnya SMA NEGERI 1 MOJOLABAN meluluskan alumnus-alumnus terbaiknya. Hal
ini terbukti karena tingkat kelulusan SMA NEGERI 1 MOJOLABAN mencapai 100% tiap
tahunnya dan banyak alumnus SMA NEGERI 1 MOJOLABAN yang menjadi ilmuwan maupun
wiraswastawan sukses. Dalam meningkatkan mutu pendidikan, SMA NEGERI 1 MOJOLABAN
selalu optimis dan senantiasa mengembangkan visi dan misinya ke arah yang lebih baik.
SMA NEGERI 1 MOJOLABAN memiliki kurang lebih 56 guru yang professional dalam
bidangnya. Terdiri dari 1 Kepala Sekolah, 4 Wakil Kepala Sekolah, 4 guru BK, dan selebihnya
adalah guru bidang studi. SMA NEGERI 1 MOJOLABAN memiliki 1 ruang Kepala Sekolah, 1
ruang Wakil Kepala Sekolah, 2 ruang guru yang terdiri dari 1 ruang guru bidang study dan 1
ruang guru BK, 24 ruang kelas, 1 ruang aula, 1 ruang UKS,dan terdapat mushoala sebagi tempat
ibadah bagi siswa yang beragama Islam. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat sarana dan
prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar, antara lain adalah laboratorium Bahasa,
laboratorium Biologi, laboratorium Kimia, Laboratorium Fisika, laboratorium Teknik Informasi
& Komputer, Free Hotspot Area, perpustakaan, dan kantin. Terdapat beberapa ekstrakulikuler
yang dapat siswa ikuti sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki antara lain adalah Batik Tulis
( ekstrakurikuler unggulan ), Pramuka, Seni Tari, Musik ( tarik suara ), Seni Rupa / ketrampilan
melukis benda, Komputer, Footsal, Basket, dan Voli.

VISI DAN MISI SMA NEGERI 1 MOJOLABAN SUKOHARJO


VISI :

Unggul dalam prestasi, santun dalam budi pekerti, Berdasarkan iman dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
MISI :
a.Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga para peserta
didik berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.
b Mendorong semua komunitas sekolah untuk lebih kritis, kreatif, inovatif, proaktif dan
. produktif terhadap tuntutan perkembangan iptek serta perkembangan zaman.
c.Membantu mengoptimalkan peran masing-masing komponen pendidikan khususnya
peserta didik dalam kegiatan proses belajar.
d Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budi pekerti
. yang luhur sehingga sumber keaktifan dalam bertindak.
e.Mendorong seluruh anggota komunitas sekolah dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan, baik mutu dibidang akademik maupun non akademik.
STRATEGI :
a.Melaksanakan tambahan jam pada struktur kurikulum dari 38 jam per minggu
menjadi 42 jam per minggu.
b Mengadakan jam sore untuk kelas X, XI dan XII.
.
c.Mengadakan sertifikasi kompetensi siswa (misalnya komputer, bahasa inggris,
ekonomi, dsb).
TUJUAN :
a.Terlaksananya proses kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien, sehingga
diperoleh hasil yang semakin meningkat.
b Tersedianya sarana dan prasarana KBM yang memadai, sehingga memiliki daya
. dukung yang optimal terhadap terlaksananya KBM yang efektif dan efisien.
c.Terwujudnya sumber daya manusia di SMAN 1 mojolaban baik guru, karyawan dan
siswa yang mampu memenangkan di era global.

KURIKULUM SMA NEGERI 1 MOJOLABAN


Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Mojolaban meliputi substansi pembelajaran yang
ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas
XII.
Sruktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar
kompetensi mata pelajaran. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA Negeri 1 Mojolaban dibagi
kedalam dua kelompok, yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh
peserta didik, dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan. SMA Negeri 1 Mojolaban
membuka 2 pilihan yang terdiri atas 2 program yaitu :
1. Program Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ).
2. Program Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ).
Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Muatan
lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan
ciri khas daerah sehingga diharapkan dapat meningkatkan pencapaian kompetensi, termasuk
keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang
ada. Salah satu muatan lokal di SMA Negeri 1 Mojolaban adalah Bahasa Daerah.
Struktur Kurikulum Kelas X
Komponen

Alokasi Waktu

A. Mata Pelajaran

Semester 1

Semester 2

1. Pendidikan Agama

2. Pendidikan Kewarganegaraan

3. Bahasa Indonesia

4. Bahasa Inggris

5. Matematika

6. Fisika

7. Biologi

8. Kimia

9. Sejarah

10. Geografi

11. Ekonomi

12. Sosiologi

13. Seni Budaya

14. Penjas, Olahraga dan Kesehatan

15. Teknologi Informatika & Komunikasi 2

16. Ketrampilan

B. Muatan Lokal ( Bahasa Jawa )

Bimbingan Karier

C. Pengembangan Diri

2*)

2*)

Jumlah

42

42

Struktur Kurikulum Kelas XI dan XII Program IPA


Komponen

Alokasi Waktu

A. Mata Pelajaran

Semester 1 Semester 2

1. Pendidikan Agama

2. Pendidikan Kewarganegaraan

3. Bahasa Indonesia

4. Bahasa Inggris

5. Matematika

6. Fisika

7. Biologi

8. Kimia

9. Sejarah

10. Seni Budaya

11. Penjas, Olahraga dan Kesehatan

12. Teknologi Informatika & Komunikasi 2

13. Ketrampilan

B. Muatan Lokal ( Bahasa Jawa )

Bimbingan Karier

C. Pengembangan Diri

2*)

2*)

Jumlah

42

42

Struktur Kurikulum Kelas XI dan XII Program IPS

Komponen
A. Mata Pelajaran

Alokasi Waktu
Semester
1

Semester 2

1. Pendidikan Agama

2. Pendidikan Kewarganegaraan

3. Bahasa Indonesia

4. Bahasa Inggris

5. Matematika

6. Sejarah

7. Geografi

8. Ekonomi

9. Sosiologi

10. Seni Budaya

11. Penjas, Olahraga dan Kesehatan

12. Teknologi Informatika & Komunikasi 2

13. Ketrampilan

B. Muatan Lokal ( Bahasa Jawa )

Bimbingan Karier

C. Pengembangan Diri

2*)

2*)

Jumlah
42
KET : 2*) sama dengan 2 jam pelajaran.
PRESTASI SMA NEGERI 1 MOJOLABAN

42

1.
2.
3.
4.
5.

Juara II Lomba Cerdas Cermat RACANA UNIVET Bantara Sukoharjo 2003.


Juara I Pembukaan UUD 1945 HUT Pramuka ke 42 Kwarran Mojolaban 2003.
Juara I Lomba Lintas Desa Racana Univet Bantara Sukoharjo 2003.
Juara Tergiat I Survival Putri Kwarcab Sukoharjo 2005.
Juara III Tari Gambyong LONIMA ( Lomba Seni SMA / MA ) Kabupaten Sukoharjo 12-

13 April 2006.
6. Juara I Turnamen Sepak Bola SMANSA CUP VI Wonogiri 28 Agustus / 19 September
2006.
7. Juara III Lomba Seni Tari Putri Pekan Seni Siswa SMA / SMK Kabupaten Sukoharjo
2006.
8. Juara I SMANSA CUP Ke VII Se Eks Karesidenan Surakarta 2007 / 2008.
9. Juara I Pengucapan Pembukaan UUD 1945 Kelompok Mahasiswa / Pelajar Se Kabupaten
Sukoharjo 2007.
10. Juara III Lomba Cerdas Cermat 2007 Tingkat SMA Se Eks Karesidenan Surakarta BEM
UNS Fakultas Hukum.
11. Juara III Putra Pidato Bahasa Inggris Bodden Powel Day 2007 Kwarcab Sukoharjo.
12. Juara I Liga Futsal Antar SMA Kabupaten Sukoharjo 2008.
13. Juara III Putri POPDA SMA / MA / SMK Cabang Pencak Silat Kabupaten Sukoharjo
2008.
14. Juara I JPOK Futsal Turnamen UNS 2009.

II.2. Profil Individu


Muhammad Fathul Madjid, biasa dipanggil Fathul adalah seorang siswa kelas XI IPA 2
yang berusia 17 tahun. Menurut saya, umur 17 tahun merupakan masa remaja yang labil.
Sehingga Fathul sulit menerima materi yang diberikan oleh guru-gurunya. Dari beberapa mata
pelajaran IPA, dia tidak menyunyukai salah satunya yaitu fisika. Ketika saya bertanya kepada
Fathul berkenaan dengan hal tersebut, dia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa sebenarnya
bukan mara pelajarannya yang tidak disukai, tetapi gurunya. Alasannya gurunya mengajar tidak
jelas karena kurang memahami materi yang diajarkan. Biasanya guru fisikanya menjelaskan
materinya mengguanakan media power point, mumgkin itu juga salah satu faktor penyebab
siswa tidak suka dan mengantuk. Menurut saya power point kurang mendukung untuk
pembelajaran eksak, karena dalam eksak perlu penjabaran yang harus diajarkan secara detail
agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan. Saya juga melihat hasil rapornya yang
menunjukkan nilai fisikanya lebih rendah dibandingkan bidang studi lainnya.
Ketika saya bertanya apakah hanya Fathul yang tidak suka pelajaran fisika, dia juga
menjawab bahwa tidak hanya Fathul yang tidak suka fisika, tetapi teman-teman lainnya juga
tidak suka ketika pelajaran fisika berlangsung. Dia dan teman-temannya jarang memperhatikan

karena gurunya tidak tegas, tidak enak dalam menyampaikan materi kepada siswanya. Materi
yang diajarkan juga tidak dapat mudah diterima siswa karena cara penyampaian materi yang
kurang jelas.
Ketika saya bertanya mengapa dia memilih jurusan IPA disbanding dengan jrusan yang
lain, dia menjawab karena dia suka dengan mata pelajaran matematika dan kimia. Dia ingin
setelah lulus kuliah nanti melanjutkan ke perguruan tinggi dan mengambil jurusan matematika.
Menurutnya matematika lebih mudah dari pada fisika karena matematika merupakan ilmu pasti
dan dalam penyelesaian soal-soalnya tidak menggunakan banyak rumus seperti fisika.
Kurangnya pemahaman materi siswa menyebabkan sulitnya siswa ketika mengerjakan
tes, lama mengerjakan tes karena bingung apa yang disampaikan guru tidak sesuai dengan
indikator pembelajaran, sering menerangkan hal yang tidak seharusnya diterangkan.
Sempat saya bertanya apakah gurunya tidak memberikan PR, dia menjawab bahwa
gurunya memberikan PR tidak pernah di bahas ataupun dinilai. Mungkin karena gurunya terlalu
sibuk atau memang guru tersebut malas untuk mengoreksi hasil siswa.
Fathul menurut saya anak yang pandai dibandingkan teman-teman laki-lakinya. Namun, karena
dia tidak suka terhadap guru mata pelajaran fisika sehingga dia kurang tertarik dengan pelajaran
fisika, maka dia mendapatkan nilai yang kurang baik.

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
A. Mengidentifikasi Siswa yang Diduga Mengalami Kesulitan Belajar
Dalam observasi ini penulis memilih salah satu siswa kelas XI IPA 2 sebagai klien karena
penulis mengamati siswa tersebut dalam hasil nilai rapor mendapatkan nilai jelek dalam mata
pelajaran fisika. Berdasarkan hasil informasi dari guru BK dan guru mata pelajaran siswa
tersebut mengalami kesulitan belajar fisika. Melalui wawancara dengan klien juga memberikan

informasi yang sama dengan pengamatan penulis. Dan berbagai informasi tersebut penulis
mendapat kesimpulan bahwa siswa tersebut kesulitan dalam menerima pelajaran, motivasi
belajarnya rendah, dan kurang semangat dalam belajar.
Berikut hasil pengumpulan data yang berhubungan dengan pribadi klien:
1. Identitas siswa
Nama siswa
TTL
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Sekolah
Kelas
Asal SMP
Jumlah saudara
Anak ke
Tinggal bersama

: Muhammad Fathul Madjid


: Sukoharjo, 19 Februari 1997
: Laki-laki
: Islam
: Bulak RT 02/04 Dukuh Mojolaban, Sukoharjo
: SMA N 1 Mojolaban
: XI IPA 2
: SMP 26 Surakarta
: 3 Orang
: 1 (pertama)
: Orang tua

2. Nama orang tua


Ayah
Agama
Pekerjaan
Pendidikan terakhir
Ibu
Pekerjaan

: Budi Antoro
: Islam
: Pegawai swasta (Mandor)
: D3
: Suparni
: PNS

3. Wali kelas
4. Guru BK
5. Kepala Sekolah

: Sri Suhatmi, S.Pd


: Dra. Sri Suharni
: Drs.Narman,M.M

B. Melokalisasi Letak dan Jenis Kesulitan Belajar


Melokalisasi letak kesulitan belajar, maksudnya adalah menentukan kesulitan dalam mata
pelajaran, pokok bahasan dan sub pokok bahasan mana yang tidak mengerti oleh siswa.
Dalam hal ini, siswa yang penulis observasi mengalami kesulitan dalam menyerap
pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kesulitan yang dialami siswa adalah dalam mata
pelajaran fisika. Kesulitan belajar yang dialami siswa ini dapat kita sebut dengan slow linear
(lambat dalam belajar).
Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat dari hasil nilai rapor semester 1 siswa pada mata
pelajaran fisika yaitu sebagai berikut:

No

Mata

KKM

pelajaran
1

Fisika

75

kognitif

Nilai
Psikomotori

Pencapaian
afektif

kompetensi

75

k
76

Gerak, usaha,
tumbukan mencapai
KKM, gravitasi bumi,
getaran ditingkatkan

C. Mengidentifikasi Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Belajar


Dalam melokalisasi faktor penyebab kesulitan belajar siswa dapat dilakukan dengan cara
menggunakan berbagai instrument seperti wawancara, membagikan angket, sosiometri, dan
observasi.
Pengungkapan yang dilakukan dengan mengunakan berbagai instrument tujuannya adalah
agar dapat melihat dan mengetahui apakah siswa mengalami kesulitan belajar itu berasal dari
faktor dari dalam diri sendiri atau dari luar diri sendiri.
Pada observasi yang dilakukan, penulis melokalisasi factor penyebab kesulitan belajar
dengan mewawancarai siswa.
Melalui wawancara dengan siswa dalam mengungkap faktor penyebab kesulitan belajar
siswa, maka faktor peneyebab kesulitan belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Faktor internal
a. Kelemahan intelegensi; minat, bakat, motivasi, malas, dan kebiasaan belajar.
b. Diri pribadi; sering tidak belajar, tidak menerti rumus-rumus fisika yang digunakan, sulit
memahami materi fisika, agak penakut, dan pemalu.
2. Faktor eksternal
a. Keadaan hubungan keluarga: kurangnya perhatian dari orang tua, karena orang tua sibuk
dengan pekerjaan masing-masing.
b. Hubungan sosial: kurangnya sosialisasi dengan teman, sehingga dia malu bertanya pada
teman yang lebih pandai, takut bertanya pada guru apabila dia belum pahan akan materi
yang diajarkan oleh guru.
c. Pendidikan dan pembelajaran; termasuk anak yang kurang pandai, takut akan pelajaran
fisika, memerlukan bantuan dalam belajar, tidak menyukai mata pelajaran fisika,
mengalami kesukaran dalam bidang matematika, terutama dalam perhitungan dengan
rumus-rumus fisika, di dalam kelas sering merasa mengantuk, takut berbicara di depan

umum, sering tidak mengerti yang diterangkan guru, malu bertanya, sering melalaikan
pelajaran, dan malas mengulang pelajaran yang telah diajarkan oleh guru
D. Memperkirakan Alternatif Pertolongan
Setelah didentifikasi faktor penyebab letak kesulitan belajar siswa, maka dapat ditentukan
perkiraan bantuan yang akan diberikan kepada siswa, yaitu dengan melakukan pengajaran
perbaikan satu kali atau dua kali dalam seminggu untuk materi pelajaran yang dianggap sulit
bagi siswa yaitu berupa:
a. Mengajarkan kembali materi yang belum dimengerti atau dikuasai oleh siswa.
b. Memberikan latihan kepada siswa mengenai latihan kepada siswa mengenai materi yang
telah diajarkan.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Siswa : setelah diberikan pengajaran perbaikan dan informasi tentang bagaimana belajar
yang baik, anak mulai memperhatikan pelajaran yang diajarkan dan mulai mengerjakan tugas
dengan benar.
b. Orang tua : orang tua tidak hanya mengurusi kepentingn masing-masing dan orang tua mulai
mengubah sikap pada anaknya lebih mengontrol dan memperhatikan anaknya terutama
dalam belajar.
c. Guru kelas : guru kelas lebih memperhatikan siswa dalam belajar dengan memberikan
penjelasan ketempat duduk siswa ketika siswa tidak mengerti dengan materi yang dijelaskan.
E. Menetapkan Kemungkinan Teknik Mengatasi Kesulitan Belajar
Kemungkinan teknik yang diberikan adalah :
1. Kepada siswa
a. Melakukan pengajaran perbaikan dengan mengajarkan kembali materi yang
kurang/tidak dipahami oleh siswa.
b. Memberikan latihan kepada siswa mengenai materi yang telah diajarkan kembali.
c. Memberikan informasi kepada siswa tentang bagaimana cara yang baik seperti
waktu belajar yang efektif.
d. Memberikan informasi mengenai pentingnya mengulang pelajaran dirumah agar
materi yang diterangkan oleh guru dapat diserap dan di ingat selalu.
e. Memberikan informasi kepada siswa akan pentingnya belajar dengan serius di dalam
kelas agar materi yang diberikan oleh guru dapat diserap dengan baik.

2. Kepada orang tua siswa yaitu memberikan informasi kepada orang tua siswa agar lebih
mengontrol lagi anaknya dalam belajar dan selalu mengingatkan anak untuk belajar dengan
teratur dirumah, memberikan motivasi dan dorongan kepada anak agar anak selalu
bersemangat dalam belajar karena sebenarnya anak ini memiliki kemampuan dan motivasi
yang bagus apabila dia diberikan semangat, dukungan, dan sokongan terutama dari orang
tuannya, dan menciptakan suasana yang tenang dalam belajar.
3.

Kepada guru mata pelajaran fisika yaitu memberikan informasi tentang letak kesulitan
belajar siswa, pada pokok materi mana siswa mengalami kesulitan dalam belajar, dan
membantu siswa dalam menyelesaikan permaslahan yang dihadapi.
F. Pelaksanaan Pemberian Pertolongan
Pelaksanaan pemberian pertolongan kepada :

1. Siswa : tentang bagaimana cara belajar yang baik, bagaimana cara mudah mempelajari fisika,
tentang bagaimana pentingnya mengulang pelajaran dirumah, bagaimana pentingnya
membaca buku karena jawaban atas tugas dan PR yang diberikan oleh guru ada didalam
buku, tentang pentingnya keseriusan belajar didalam kelas, serta yang paling penting adalah
rajin beribadah kepada Allah SWT, karena kunci keberhasilan itu adalah berusaha, berdoa,
dan bertawakal. Selain itu memberikan memberikan motivasi kepada siswa agar siswa tidak
malu bertanya apabila siswa tidak paham atas apa yang dijelaskan oleh guru, memotivasi
siswa bahwa fisika itu menyenangkan sama seperti pelajaran yang lain dan tidak sulit seperti
apa yang dibayangkan, serta member penguatan tentang kemampuan yang dimilikinya sudah
bagus, hanya saja perlu latihan dan belajar dengan teratur, sehingga anak menjadi
bersemangat dalam belajar.
2. Orang tua : Menginformasikan mengenai pentingnya meningkatkan perhatian terhadap
belajar anak dan memberikan informasi bahwa orang tua sangat berperan penting bagi
perkembangan anak dalam belajar, karena pendidikan yang pertama dan yang paling utama
bagi anak adalah dalam lingkungan keluarga. Selain itu juga memberikan pemahaman
kepada orang tua mengenai cara menyikapi anak dalam upaya meningkatkan hasil belajar
yang dialami oleh siswa.

3. Guru mata pelajaran fisika : memberikan informasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa,
sehingga guru dapat memberikan bantuan-bantuan kepada siswa dalam belajar sehingga
dapat dicapai hasil belajar yang optimal.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan
dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua,
guru, dan juga masyarakat. Tentu saja yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi berhasil
secara optimal. Untuk itu diperlukan persyaratan yang memadai, yaitu persyaratan psikologis,
biologis, material, dan lingkungan sosial yang kondusif.
Kesulitan belajar adalah suatu keadaan siswa yang memiliki masalah sehingga tidak bisa
belajar sebagaimana mestinya yang berdampak pada keberhasilan belajar. Dan keberhasilan
belajar siswa itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal (yang bersumber dari
dalam diri sendiri) maupun eksternal (yang bersumber dari luar atau lingkungan).
B. Saran
Dalam penulisan laporan ini penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak
kekurangan oleh sebab itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan guna
perbaikan pada masa mendatang. Saya mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi saya
atau pihak lain yang membacanya.