Anda di halaman 1dari 15

KONSEP TEORI DAN KONSEP ASKEP

BARTOLINITIS

Disusun Oleh :
BQ. DIAH RIZKI FITRIANI

P07120112 009

CANDRA KUSUMA JAYA

P07120112010

CICI DAMMI LESTARI

P07120112011

DESI AGUSTIANI

P07120112012

DESTI DWI SAGITIYA

P07120112013

DEVI OKTAVIANA

P07120112014

DEWA AYU KETUT WIDIAWATI

P07120112015

DEWI MUNAWAROH

P07120112016

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN MATARAM
MATARAM
2014

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN


DENGAN DIAGNOSA MEDIS BARTHOLINITIS
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi
a. Bartolinitis

adalah

sumbatan

duktus

utama

kalenjar

bartolin

menyebabkan retensi sekresi dan dilatasikistik.


b. Bartholinitis adalah infeksi pada glandula bartholin yang mana sering
kali timbul pada gonorea akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain,
misalnya: streptoccus atau basil coli.
c. Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga
dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita.
Biasanya, pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan
sampai tak bisa berjalan. Juga dapat disertai demam, seiring
pembengkakan pada kelamin yang memerah.
2. Etiologi
Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang
terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Mulai dari chlamydia,
gonorrhea, dan sebagainya. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut
kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina.
ETIOLOGI INFEKSI

a. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh :


1) Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks
2) Jamur : kandida albikan.
3) Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis.
4) Bakteri : neiseria gonore.
b. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas :
1) Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika.
2) Jamur : asinomises.
3) Bakteri : neiseria gonore, stafilokokus dan E.coli
3. Tanda dan Gejala
a. Nyeri perineum dapat begitu hebat, sehingga pasien tidak mampu
duduk atau berjalan nyaman pembengkakan akut yang nyeri terlihat
pada tepi lateral bawah orifisium vagina. Iritasi vulva sering menyertai

b. Pada pemeriksaan vulva terdapat massa berfluktuasi berbatas tegas,


steris, lunak sangat nyeri tekan yang terletak lateral dan dapat posterior
prenulum labiorum pudendi, yang dikelilingi oleh jaringan merah dan
nyeri tekanan jelas. Labia majora sering edematosa (kedaruratan
obstetri dan ginekologi : 97)
c. Pada sepertiga posterior labia, selalu ada kemerahan unilateral
pembengkakan nyeri terutama saat defekasi. Kadang-kadang pus
keluar dari duktus ekskretorius (permukaan dalam labium minus) atau
perforasi spontan (gawat darurat ginekologi dan obstetri : 1986)
d. Benjolan dispareunia, terasa berat dan mengganggu koitus
e. Ciri lainnya, nyeri saat berhubungan lantaran terjadi pergesekan yang
mengakibatkan luka semakin hebat. Penderita radang pada alat
reproduksi juga akan merasa tidak nyaman, pegal-pegal dan nyeri di
sekitar alat reproduksi, misalnya selangkangan, paha dan panggul. Jika
dilakukan pemeriksaan fisik, terlihat vagina berwarna kemerahan.
f. Radang bermula ringan (hanya keputihan), tetapi bisa berubah menjadi
berat karena beberapa kondisi. Misalnya, jumlah kuman yang tinggal,
keganasan kuman, serta daya tahan penderita. Jika kondisinya kurang
baik, dalam jangka dua hari pun radang ringan bisa berubah menjadi
berat. Radang berat ditandai rasa terbakar pada vagina, cairan berbau
dan terkadang bercampur darah, serta selalu menimbulkan noda di
celana dalam.
g. Pada saat tertentu, peradangan akan semakin kondusif. Misalnya, saat
haid. "pada masa ini, daya tahan tubuh biasanya menurun. Akibatnya,
rasa nyeri dan keputihan akan lebih hebat. Darah haid merupakan
sumber makanan bagi kuman di vagina. Itulah kenapa, dianjurkan
tidak melakukan hubungan seksual saat haid. Sebab jika terdapat
peradangan, hubungan seksual akan mengakibatkan pergesekan dan
membuat luka semakin luas. Ditambah lagi, kuman semakin banyak
karena mendapat banyak makanan. Jika terjadi peradangan saat
melakukan hubungan seksual, sperma pun bisa rusak karena kuman
menyerangnya.

h. Peradangan alat reproduksi memiliki gejala yang berbeda, tergantung


penyebabnya. Jika disebabkan oleh jamur, peradangan ditandai oleh
sekresi (pengeluaran) cairan encer, yang disertai rasa gatal. Jamur
tergolong sebagai mikroba yang berukuran relatif lebih besar, sehingga
dapat memicu kerusakan jaringan yang lebih luas. Jamur bisa
menyebabkan mulut rahim dan baru berubah menjadi kanker setelah
10 tahun.
4. Patofisiologi
Sumbatan duktus utama kalenjar bartolin menyebabkan retensi sekresi dan
dilatasi kistik. Kalenjar bartolin membesar. Merah, nyeri dan lebih panas
dari daerah sekitarnya. Isi dalam berupa nanah dapat keluar melalui duktus
atau bila tersumbat (biasanya akibat infeksi), mengumpul di dalam
menjadi abses.
Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut
sebagai kista (kantong berisi cairan). 'Kuman dalam vagina bisa
menginfeksi

salah satu

kelenjar bartolin hingga tersumbat dan

membengkak. Jika tak ada infeksi, tak akan menimbulkan keluhan.


5. Penatalaksanaan
a. Jika usia pasien sudah lanjut, adanya benjolan harus dicurigai sebagai
keganasan meskipun jarang, kemudian dilakukan pemeriksaan yang
seharusnya. Yang tepat adalah biopsy.
b. Diberikan antibiotic yang sesuai (umumnya terhadap klamidia,
gonococ, bakteroides dan Escherichia Coli). Bila belum terjadi abses.
Jika sudah bernanah, harus dikeluarkan dengan sayatan.
c. Jika terbentuk kista yang tidak besar dan tidak mengganggu, tidak
perlu dilakukan apa-apa. Pembedahan berupa ekstirpasi dapat
dilakukan bila diperlukan. Yang dianjurkan adalah marsupialisasi yaitu
sayatan dan pengeluaran isi kista diikuti penjahitan dinding kista
yang terbuka pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan. Tindakan ini
terbukti tak beresiko dan hasilnya memuaskan. Jika terdapa thubungan
keluar yang permanen, infeksi rekurens dapat dicegah.

d. Kista yang kecil pada wanita hamil dibiarkan saja dan baru diangkat
kira-kira 3 bulan setelah persalinan. Apabila kista sangat besar
sehingga dikhawatirkan akan pecah waktu persalinan, maka sebaiknya
kista itu diangkat dalam keadaan tenang. Sebelum lahirada kalanya
kista yang sangat besar baru diketahui sewaktu wanita sudah dalam
persalinan dalam hal demikian dilakukan punksi dan cairan
dikeluarkan walaupun ini bukan terapi tahap.
e. Ada dua hal yang ibu perlu lakukan, pertama obati keputihan ibu
dengan tuntas, sebaiknya jangan ibu mengulang obat tanpa diperiksa
kembali oleh dokter ibu, dan jangan takut untuk menggunakan cairan
antiseptik pembersih

vagina, sebab tidak akan mengakibatkan

"kekeringan kandungan". Kedua, meski ibu amat kangen pada suami,


maupun sebaliknya, tetaplah lakukan dengan lembut agar tidak sampai
terjadi iritasi.
f. Bergaya Hidup Sehat
Untuk menghadang radang, berbagai cara bisa dilakukan. Salah
satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat. Anda bisa memulai
dengan disiplin menjalankan aturan di bawah ini:
1) Makanlah makanan sehat, bergizi dan sesuai porsi Anda. Jika Anda
mengalami kegemukan yang menyebabkan paha Anda bertemu
satu sama lain, pergesekan pun akan sering terjadi. Akibatnya, bisa
timbul luka, sehingga keadaan di sekitar menjadi panas dan
lembab. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut.
2) Jangan memakai celana yang terlalu ketat, karena

bisa

menimbulkan gesekan.
3) Pilih pakaian dalam dari katun, karena menyerap keringat. Dengan
begitu, daerah vital selalu kering.
4) Periksakan diri sesegera mungkin jika mengalami keputihan cukup
lama. Tak perlu malu datang ke dokter kandungan sekalipun belum
menikah. Pasalnya, mikroba yang mengakibatkan keputihan bisa
terdapat di mana saja. Misalnya jamur senang bermain di air.
Mikroba juga banyak terdapat di toilet umum. Oleh karenanya,
berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. Siapa tahu,

sebelum

Anda,

ada

penderita

radang

yang

sempat

menggunakannya.
5) Biasakan membersihkan diri setelah buang air besar dengan
membasuh dari depan ke belakang. Ini akan menghindari
masuknya

kuman

dari

anus

ke

alat

kelamin.

Biasakan membersihkan alat kelamin setelah melakukan hubungan


seksual.
6) Jika tidak dibutuhkan, jangan menggunakan pantyliner (pembalut
tipis untuk sehari-hari). Para perempuan seringkali salah kaprah. Ia
merasa nyaman jika pakaian dalamnya selalu bersih. Ini artinya ia
lebih mementingkan kebersihan pakaian dalamnya daripada daerah
vitalnya. Jika ingin menggunakan pantyliner, gantilah sesering
mungkin. Kita hidup di daerah tropis yang relatif panas, sehingga
tubuh menjadi sering berkeringat dan keadaan di daerah vital pun
otomatis menjadi lebih lembab.
7) Tuhan sudah membuat komposisi yang sempurna pada alat
reproduksi kita, sehingga bisa membersihkan diri dan melawan
kuman-kuman

abnormal.

Produk

kosmetik

pembersih

dan

pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak


diperlukan.

Bahkan,

penggunaan

yang

sembrono

bisa

membahayakan kuman lactobasilus. Padahal, kuman ini berfungsi


menjaga keasaman vagina tetap pada PH 3. Dalam keadaan asam,
vagina bisa membersihkan diri secara alami dan melawan kumankuman abnormal. Misalnya, setelah melakukan hubungan seksual,
sperma yang bersifat basa akan mengakibatkan keasaman berubah.
lactobasilus akan segera menyeimbangkannya kembali.
8) Yang paling penting, hindari melakukan hubungan seksual dengan
pasangan berganti-ganti. Ingat, kuman juga bisa berasal dari
pasangan Anda. Jika pasangann berganti-ganti, tidak gampang
mendeteksi siapa yang menulari Anda. Peradangan sangat
berhubungan dengan penyakit menular seksual dan tingkah laku
seksual bebas.
6. Komplikasi

a. Ibu hamil dengan bartholinis juga rawan terhadap gonore sehingga


anak bayi dapat menderita blenorea neonatorum
b. Bahaya Peradangan Saat Hamil
Daya tahan tubuh pada wanita hamil biasanya akan menurun. Karena
itu, infeksi akan semakin berkembang lantaran vagina wanita hamil
biasanya lebih lembab. Apalagi, pengobatan pada orang hamil lebih
sulit diberikan. Pengobatan harus dilakukan dengan sangat teliti karena
berhubungan dengan kondisi janin. Kuman streptococcus bisa
menyerang selaput ketuban dan mengakibatkan pecahnya ketuban,
bahkan bisa menyerang si bayi. Jika bayi lahir lewat vagina yang
memiliki banyak kuman, maka kuman-kuman itu pun akan ikut dengan
si bayi. Akibat lain dari peradangan saat hamil, bayi bisa lahir
prematur, terjadi penyebaran kuman pada tubuh bayi. Dan jika infeksi
parah, bayi dalam rahim bisa meninggal.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
b. Vullva
c. In speculo

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Data Biografi
Identitas pasien seperti umur, jenis kelamin, alamat, agama, penaggung
jawab, status perkawinan.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama : Biasanya klien mengatakan merasakan seperti ada
benda berat disamping lubang kemaluannya terasa nyeri dan panas
2) Riwayat penyakit dahulu : Dapat terjadi pada ibu yang memiliki
penyakit-penyakit

kelamin

(gonorea,

sifilis,

ulkus

molle,

limfogranuloma venerim dan granuloma inguinale), tuberkulosis,


vulvitis, herpes genitalis, kondiloma akuminatim dan vulvitis
3) Riwayat penyakit sekarang
4) Riwayat kesehatan keluarga : Terjadi pada riwayat keluarga / suami
dengan PMS & PHS
5) Riwayat Menstruasi
Flour albus : ada
6) Riwayat Perkawinan
Status perkawinan : tidak berpengaruh
7) Istri ke : (ibu juga tidak berganti-ganti pasangan)
8) Lama perkawinan : tidak berpengaruh
9) Riwayat Obstetri
10) Tidak berpengaruh
11) Riwayat KB
Pemakaian kondom dapat mencegah penularan PMS
c. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
:
2) Kesadaran
:
3) BB
: berpengaruh,obesitas menyebabkan paha

saling bertemu satu sama lain sehingga sering terjadi pergesekan


akibatnya timbul luka sehingga keadaan disekitar menjadi panas
dan lembab, kuman dapat hidup subur di daerah tersebut.
4) Tanda-Tanda Vital
a) Suhu
:
b) Nadi
:
c) Tekanan Darah :
d) Respirasi
:
d. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1) Nutrisi
: nutrisi jelek

2) Eliminasi

: ibu takut untuk kencing karena terasa

sangat nyeri pada kemaluannya


3) Istirahat
: tidak berpengaruh
4) Aktifitas seksual
: jika coitus dengan ganti-ganti pasangan /
coitus dengan penderita PMS, ibu akan tertular, potensial
bartholinitis
5) Personal Hygiene

: terjadi pada wanita yang mempunya pola

personal Hygiene yang kurang, dan lingkungan yang tidak bersih.


e. Pemeriksaan Head To Toe
1) Kepala : kaji bentuk kepala, adanya benjolan, adanya lesi.
2) Mata : kaji adanya ikterik, anemis, bentuk pupil, besar pupil,
respon pupil terhadap cahaya.
3) Hidung : kaji adanya perdarahan, luka, polip.
4) Mulut : kaji adanya luka, mukosa mulut, keutuhan dan keadaan
gigi.
5) Leher : kaji adanya benjolan, pembesaran kelenjar tyroid.
6) Dada dan Payudara
a) Paru-paru :
I

: kaji pengembangan dada, adanya jejas

Pa

: kaji adanya benjolan, kaji adanya nyeri tekan

Au

: kaji bunyi pernapasan

Per

: kaji bunyi paru-paru

b) Jantung :
I

: kaji letus cordis tampak atau tidak

Pa

: letus cordis teraba atau tidak

Au

: bunyi jantung

Per

: kaji konfigurasi jantung

7) Abdomen
I

: kaji bentuk abdomen, adanya luka

Au

: kaji bising usus

Pal : kaji adanya benjolan, nyeri tekan


Per : kaji bunyi abdomen
8) Ekstremitas

Kaji adanya oedeme, kapiler refill, sianosis, akral dingin.


9) Genitalia : kaji kel. Bartholin membesar atau tidak, kaji warna,
adanya nyeri tekan, berbatsan tegas, lunak, apakah labia mayor
mangalami pembengkakan atau tidak.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan peradangan kalenjar bartolin ditandai
dengan pembesaran kalenjar bartolin, nyeri dan lebih panas didaerah
perineum / sekitarnya, iritasi vulva, kadang terasa seperti benda berat.
b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
sekunder terhadap penyakit kronis ditandai dengan pembesaran
kalenjar bartholin, nyeri dan lebih panas didaerah sekitarnya /
perineum, ada nanah, kadang dirasakan sebagai benda berat, ada abses
yang kadang-kadang dapat sebesar telur bebek.
c. PK :Infeksi
d. Perubahan pola seksual berhubungan dengan nyeri ditandai dengan
kalenjar bartholin membengkak, merah, nyeri pada daerah perineum,
dan nanah.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bahan iritan dari
lingkungan sekunder terhadap kelembaban ditandai dengan merah,
iritasi vulva, nanah.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan peradangan kalenjar bartolin ditandai
dengan pembesaran kalenjar bartolin, nyeri dan lebih panas didaerah
perineum / sekitarnya, iritasi vulva, kadang terasa seperti benda berat.
Tujuan : nyeri pasien berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
1) Pasien mengatakan nyerinya berkurang
2) Pasien tidak meringis lagi
3) Skala nyeri 0-1 dari 10 skala nyeri yang diberikan
4) Vital sign normal
Intervensikeperawatan :

Rencana tindakan
1. Kaji

Rasional

tingkat

nyeri,

lokasi.

1. Mengkaji

respon

pasien

terhadap pemberian intervensi

2. Ajarkan

teknik

distraksi, imajinasi dan


relaksasi.
3. Beri antiansietas.
4. Beri
analgetik

bila

perlu

yang tepat.
2. Mengurangi sensasi nyeri.
3. Meningkatkan
kenyamanan

klien.
2. Mengurangi

sensasi

nyeri

pasien

b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan


sekunder terhadap penyakit kronis ditandai dengan pembesaran
kalenjar bartholin, nyeri dan lebih panas didaerah sekitarnya /
perineum, ada nanah, kadang dirasakan sebagai benda berat, ada abses
yang kadang-kadang dapat sebesar telur bebek.
Tujuan : Menyatakan penerimaan diri sesuai indikasi
Kriteria hasil :
1) Menerima perubahan kedalam konsep diri tanpa harga diri yang
negative
2) Menunjukan penerimaan dengan melihat dan berpartisipasi dalam
perawatan diri
3) Mulai menerima situasi secara konstruktif
Rencana tindakan
1. Pastikan

apakah

konseling dilakukan bila


mungkin
2. Dorong pasien atau orang

Rasional
1. Memberikaninformasitentangtingka
tpengetahuanpasienatau

orang

terdekatterhadappengetahuantentan
gsituasipasiendan proses peneriman

terdekat

untuk

menyatakan perasaannya
3. Catat perilaku menarik
diri.

Peningkatan

ketergantungan,
manipulasi

atau

2. Membantupasienuntukmenyadaripe
rasaannyatidakbiasa,
perasaanbersalah
3. Denganmasalahpadapenilaian yang
dapatmemerlukanevaluasilanjutdant

tidak

terlibat pada perawatan


4. Pertahankan pendekatan

erapilebihketat
4. Dapatmembantupasienatau

orang

terdekatuntukmenerimaperubahantu

positif selamaa ktivitas

buh,

perawatan

merasakanbaiktentangdirisendiri

c. PK :Infeksi
Selama diberikan asuhan keperawatan komplikasi infeksi dapat
dicegah.
Rencana tindakan
Rasional
1. Kajitanda-tandainfeksi
1. Mengidentifikasi adanya infeksi secara
2. Kolaborasi dalam pemberian
dini untuk menentukan intervensi
therapy
selanjutnya.
2. Membantu dalam mengatasi terjadinya
infeksi.
d. Perubahan pola seksual berhubungan dengan nyeri ditandai dengan
kalenjar bartholin membengkak, merah, nyeri pada daerah perineum,
dan nanah.
Tujuan : tidak terjadi perubahan pola respons seksual
Kriteria hasil :
1) Menyatakan pemahaman perubahan anatomi atau fungsi seksual
2) Mendiskusikan masalah tentang gambaran diri, peran seksual
Rencana Tindakan
1. Mendengarkan

Rasional
1. Masalah seksual sering tersembunyi

pernyataan
terdekat
2. Kaji informasi
atau

orang

orang
pasien
terdekat

tentang fungsi seksual


3. Indentifikasi
factor
budaya / nilai dan adanya

sebagai pernyataan humor


2. Menunjukkan kesalahan informasi atau
konsep

yang

mempengaruhi

pengambilan keputusan
3. Dapat mempengaruhi

kembalinya

kepuasan hubungan seksual


4. Nyeri pada vulva dapat mengakibatkan
kehilangan sensori namun biasanya

konflik
4. Diskusikan

sementara untuk dapat kembali baik.

ketidaknyamanan fisik
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bahan iritan dari
lingkungan sekunder terhadap kelembaban ditandai dengan merah,
iritasi vulva, nanah.
Tujuan : diharapkan kerusakan integritas kulit dapat diatasi
Kriteria hasil :
1) Kulit dalam keadaan normal
2) Kulit tidak gatal
Rencana tindakan

Rasional

1. Indentifikasi factor penyebab 1. Agar dapat ditentukan intervensi


2. Kaji
integritas
kulit
selanjutnya
(gangguan warna, hangat 2. Kondisi kulit dipengaruhi oleh
lokal, eritema)
3. Pertahankan linen

sirkulasi,
kering,

bebas keriput
4. Gunakan krim kulit / zalf
sesuai indikasi

nutrisi,

jaringan

dapat

menjadi rapuh dan cenderung untuk


infeksi dan rusak
3. Untuk menurunkan iritasi dan resiko
kerusakan kulit lebih lanjut
4. Untuk
melicinkan
kulit
menurunkan rasa gatal

4. EVALUASI
a. nyeri pasien berkurang atau hilang
b. Menyatakan penerimaan diri sesuai indikasi
c. tidak terjadi perubahan pola respons seksual
d. diharapkan kerusakan integritas kulit dapat diatasi

dan

e. Selama diberikan asuhan keperawatan komplikasi infeksi dapat


dicegah

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes,E.marillyn,(1992).Rencana Asuhan Keperawatan,Ed 3,EGC: Jakarta.


Capernito.L.J( 2007) BukuSakuDiangnosaKeperawatan,Edisi 10,Jakarta,ECG
Prawiroharjo, Sarwono ( 2007) Ilmu Kandungan, Edisi kedua. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Mansjoer,A.(2001) Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Ed.3, Media Aesculapius
FKUI: Jakarta.