Anda di halaman 1dari 19

PAPER PRAKTIKUM

MATA KULIAH MANAJEMEN AGROEKOSISTEM ASPEK HPT


PADA LAHAN KERING TANAMAN TIMUN ( Cucumis sativus L. )

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Nikmatul Khoiriyah

135040218113020

Tour Janah Oktafia

135040218113021

Febrianto Dwi Pritianda 135040218113022


Dita Yuni Normalasari

135040218113023

Galih Kurniawan Jati

135040218113026

Erli Nur Petrinasari

135040218114005

Didit Sugari

135050101113001

FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA KAMPUS
IV
KEDIRI
2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi serta pertambahan penduduk


menuntut perlunya penyediaan sumber daya untuk memenuhi konsumsi pangan
dan areal pemukiman. Untuk merealisasikannya perlu tindakan yang bijaksana
agar tidak menimbulkan dampak perubahan terhadap linkungan. Masalah
linkungan yang terjadi saat ini seperti, erosi tanah, longsor, banjir dan kekeringan
merupakan tanda-tanda terancamnya keseimbangan ekosistem. Agroekosistem
terbentuk sebagai hasil interaksi antara sistem sosial dengan sistem alam, dalam
bentuk aktivitas manusia yang berlangsung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari.
Peningkatan produktivitas tanaman timun merupakan hal yang penting
dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia (Fitter dan Hay, 1992). Rendahnya
hasil timun disebabkan oleh banyak sosial diantaranya sosial fisik (iklim, jenis
tanah dan lahan) dan sosial biologis (varietas, hama, penyakit dan gulma), serta
sosial sosial ekonomi. Menurut Baco dan Tandiabang (1988) tidak kurang dari 50
spesies serangga telah diketemukan dapat menyerang tanaman timun di Indonesia.
Hama merupakan salah satu kendala utama dalam produksi timun. Sekitar
70 jenis serangga (Ortega, 1987) yang dapat menyerang tanaman timun. Namun
hanya beberapa yang secara ekonomi sering menimbulkan kerusakan berat
(Subandi dan Manwan, 1990). Hama merupakan binatang ataupun sekelompok
binatang

yang

dapat

menyebabkan

kerusakan

pada

tanaman

sehingga

menyebabkan kerugian baik kualitatif maupun kuantitaif.


Untuk mengetahui beberapa jenis hama yang menyerang komoditas timun
sehingga menyebabkan penurunan produktivitas. Kami melakukan observasi
lapang di Desa Penanggungan Kec. Mojoroto Kota Kediri. Dari hasil observasi
lapang tersebut didapatkan beberapa organisme yang dimungkinkan merupakan
hama ataupun musuh alami dari tanaman jagung.

Tujuan

Mahasiswa diharapkan mampu untuk mencari kerusakan yang disebabkan


oleh hama ataupun penyakit pada lahan kering kususnya tanaman timun.

METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM


Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada dalam 2 sesi, yakni hari Selasa, 24 Maret
2015 dan hari Selasa, 31 Maret 2015. Praktikum dilaksanakan di dalam kelas C1,
Universitas Brawijaya kampus 4 Kediri. Dimulai pada pukul 07.00 sampai selesai.
Tempat
Praktikum ini dilakukan di lahan kering (tanaman timun), Desa
Penanggungan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri Provinsi Jawa Timur.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum di lahan diantaranya:
sweep

net,

panduan

praktikum,

kantong

plastik,

kertas

tissue/kapas,

chloroform/etil asetat, alat tulis, kaca pembesar dan kamera.


Cara Kerja Keanekaragaman Arthopoda
Menyiapkan alat dan bahan
Membuat jalur transek pada hamparan yang akan dianalisis
Menentukan 5 titik sampel pada transek
Menangkap serangga dengan sweep net
Memasukkan serangga yang tertangkap ke dalam kantong plastik
Memberikan etil aseton ke kertas tissue
Memasukkan kertas tissue kedalam kantong plastik
Diamati dengan kaca pembesar
Mencatat hasil
Dokumentasi

Cara Kerja Pengamatan Penyakit


Menyiapkan alat dan bahan
Membuat jalur transek pada hamparan yang akan dianalisis
Menentukan 5 titik sampel pada transek
Mengambil bagian tanaman yang terkena penyakit (daun)
Memasukkan ke kantong plastik
Diamati dan catat hasil
Dokumentasi
Analisis Perlakuan
Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Buatlah jalur transek pada
hamparan yang akan dianalisis. Tentukan titik-titik pengambilan sampel pada pada
jalur (transek) yang mewakili masing-masing agroekosistem dalam hamparan.
Tangkap serangga menggunakan sweep net atau langsung dengan tangan pada
agroekosistem yang telah ditentukan. Kumpulkan semua serangga yang
tertangkap dan masukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi secarik
kertas tissue. Serangga yang telah terkumpul dibunuh dengan menggunakan etil
asetat. Semua serangga yang sudah mati diamati dengan kaca pembesar. Catat hasi
pengamatan dan dokumentasikan.
Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Buatlah jalur transek pada
hamparan yang akan dianalisis. Tentukan titik-titik pengambilan sampel pada pada
jalur (transek) yang mewakili masing-masing agroekosistem dalam hamparan.
Mengambil bagian tanaman yang terkena penyakit, contohnya daun dan buah.
Masukkan ke dalam kantong plastik dan amati, lalu dokumentasikan.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Lahan Basah
Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah dimana tanahnya jenuh
dengan air, baik bersifat permanen atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian
atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal.
Digolongkan ke dalam lahan basah diantaranya, adalah lahan rawa-rawa, payau,
dan gambut. Akan tetapi dalam pertanian dibatasi agroekologinya sehingga lahan
basah dapat di definisikan sebagai lahan sawah. (Endang, 2007).
Pengertian Lahan Kering
Lahan kering didefinisikan sebagai lahan dimana pemenuhan kebutuhan air
tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak pernah tergenang
sepanjang tahun. Pada umumnya istilah yang digunakan untuk petanian lahan
kering adalah pertanian tanah darat, tegalan, tadah hujan dan huma
(Kadekoh,2010).
Pengertian Hama
Hama merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman yang
umumnya

berupa

binatang

ataupun

sekelompok

binatang

yang

dapat

menyebabkan kerusakan pada tanaman budidaya dan menimbulkan terjadinya


kerugian secara ekonomis. Akibat serangan hama produktivitas tanaman menjadi
menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya, bahkan tidak jarang terjadi
kegagalan panen. Oleh karena itu kehadirannya perlu dikendalikan, apabila
populasinya di lahan telah melebihi batas ambang ekonomi. Dalam kegiatan
pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis-jenis hama (nama umum, siklus
hidup, dan karakteristik), inang yang diserang, gejala serangan, mekanisme
penyerangan termasuk tipe alat makan serta gejala kerusakan tanaman menjadi
sangat

penting

agar

tidak

melakukan

kesalahan

dalam

mengambil

langkah/tindakan pengendalian (Raharjo,2012).


Pengertian Musuh Alami
Musuh alami adalah organisme yang dalam perkembangannya di alam
dapat menyebabkan kematian organisme pengganggu tanaman (Tim Dosen, 2011)

Alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum di lahan diantaranya:


sweep net berfungsi untuk menangkap serangga, panduan praktikum berfungsi
untuk melihat langkah-langkah pekerjaan yang akan dilakukan, kantong plastik
berfungsi untuk wadah serangga atau spesimen penyakit, kertas tissue/kapas
berfungsi untuk menyimpan asetil asetat, chloroform/etil asetat berfungsi untuk
membunuh serangga, alat tulis berfungsi untuk mencatat hasil, kaca pembesar
berfungsi

untuk

pengamatan

serangga

dan

kamera

berfungsi

untuk

mendokumentasikan. Dalam pengamatan yang dilakukan selama 6 kali


pengamatan didapatkan rata rata jumlah hama, musuh alami dan serangga yang
ditemukan adalah sebagai berikut :
Titik
pengambilan
sampel /
agroekosistem

Jumlah Individu
Hama

MA

Persentase (%)

SL

Total

Hama

MA

SL

21

14

44

47,72

20,45

31,83

18

13

19

50

36

26

38

21

10

16

41

51,22

24,39

24,39

25

13

45

55,55

15,56

28,89

20

10

16

46

43,47

21,73

34,8

Rata-rata

21

9,8

15,6

Rata-rata 47

22

31

Keterangan: MA (musuh alami), SL (serangga lain)

Segitiga Fiktorial

Intepretasi : Bahwa jumlah hama lebih mendominasi dalam lingkungan


lahan mentimun tersebut karena segitiga fiktorial berada pada daerah hama.
Sehingga menunjukkan hasil kondisi ekologis yang tidak sehat atau bahaya pada
agroekosistem tersebut. Maka dari itu, perlu adanya penanganan khusus dalam
upaya pengembangan tindakan pre-emtive dengan pelepasan musuh alami pada
lahan

mentimun

tersebut.

Tujuan

dari

tindakan

pre-emtive

untuk

memprakondisikan populasi hama tidak berkembang ke tingkat yang dapat


merugikan secara ekonomis.

PEMBAHASAN
Pengamatan untuk aspek hama dilakukan 6 kali dalam 2 minggu. Pengamatan
dilakukan pada waktu pagi hari. Dari hasil pengamatan di lahan, tanaman timun
mengalami kerusakan dalam tingkat yang sedang. Kami berhasil menangkap 16
jenis serangga yang dalam ekosistem bertindak sebagai hama, musuh alami, dan
serangga lain. Untuk jenis hama kami menemukan beberapa spesies, antara lain
ulat, kutu kuya, kumbang macan, kepik hijau, Helopheltis, walang sangit, dan
lalat buah. Jumlah kutu kuya yang kami temukan sangat banyak dibandingkan
dengan hama lainnya, hal tersebut dikarenakan kutu kuya merupakan hama utama
pada tanaman timun. Sedangkan untuk ulat dan lalat buah sangatlah sedikit begitu
juga dengan kepik hijau dan walang sangit. Secara keseluruhan dapat dikatakan
bahwa intensitas serangan hama pada lahan timun yang kami amati masih dalam
tingkat sedang. Rianawaty (2007) menyatakan hama adalah perusak tanaman pada
akar, batang, daun atau bagian tanaman lainya sehingga tanaman sehingga
tanaman tidak dapat tumbuh dengan sempurna atau mati. Contoh hama adalah
belalang pada tanaman jagung serta tikus pada tanaman padi.
Musuh alami yang berhasil kami dapatkan dalam 6 kali pengamatan pada
lahan timun tersebut ada 5 spesies dengan jumlah keseluruhan sebanyak 49 ekor,
yakni 1 ekor capung, 1 belalang sembah, 1 ekor laba-laba, 19 ekor kumbang
kalajengking (tomcat), dan 27 ekor kumbang kubah spot M. Disini kumbang
kubah spot M. berperan sebagai predator dari kutu kuya. Peran kumbang kubah
spot M. sebagai predator pada lahan timun tersebut masih dapat dikatakan optimal
karena memiliki populasi yang banyak. Selain kumbang kubah spot M. kami juga
menemukan kumbang kalajengking (tomcat) dalam jumlah yang relatif banyak.
Hal tersebut menandakan bahwa peranan musuh alami pada lahan timun tersebut

masih dapat menjaga populasi dari hama agar tidak melebihi batas ambang
ekonomi. Departemen Pertanian (2002) menjelaskan bahwa musuh alami terdiri
dari pemangsa/predator, parasitoid dan patogen. Pemangsa (predator) menangkap
dan memakan serangga hama (dan binatang lain). Contoh predator antara lain
laba-laba, tawon kertas dan cecopet (Departemen Pertanian, 2002)
Selain itu juga ditemukan serangga lain seperti kaki seribu, kupu-kupu,
belalang kayu, dan ngengat. Kaki seribu yang kami temukan berperan sebagai
pengurai bahan organik untuk keperluan pertumbuhan tanaman. Belalang yang
kami temukan di lahan timun digolongkan sebagai serangga lain karena dari
literatur yang kami dapatkan belalang berperan sebagai hama hanya pada tanaman
yang memiliki daun jorong, seperti padi, jagung atau rerumputan. Sedangkan
ngengat dan kupu-kupu yang kami temukan berperan sebagai polinator untuk
membantu penyerbukan tanaman timun. Kami juga menemukan beberapa lebah
pada lahan timun tersebut, namun lebah tersebut tidak dapat kami tangkap. Pada
dasarnya lebah juga berperan sebagai polinator yang membantu proses
penyerbukan. Metcalfe dan William (1975) menjelaskan bahwa serangga dari
kelompok lebah, belalang, jangkrik, ulat sutera, kumbang, semut membantu
manusia dalam proses penyerbukan tanaman dan menghasilkan produk makanan
kesehatan.
Adapun untuk perbandingan dari masing-masing peran serangga tersebut
dapat diketahui bahwa presentase hama paling besar dibandingkan yang lainnya,
yakni sebesar 47%. Serangga lain memiliki presentase sebesar 31 %, sedangkan
untuk musuh alami hanya sebesar 22 %. Akan tetapi jumlah serangga yang kami
dapatkan tidak dapat mewakili kondisi lahan sebenarnya, karena pada lahan
tersebut masih menggunakan pestisida sebagai pengendali hama. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa populasi hama masih dapat ditekan dengan penggunaan
pestisida tersebut. Sedangkan populasi serangga lain masih lebih besar
dibandingkan populasi musuh alami, hal tersebut dapat dikarenakan lahan timun
berdekatan dengan lahan komoditas lain yang dapat memungkinkan adanya
perpindahan serangga antar lahan.

Sedangkan peran serangga lain masih dapat dikatakan optimal karena jumlah
yang cukup banyak, namun untuk jumlah musuh alami masih tergolong sedikit.

PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan di lahan, tanaman timun mengalami kerusakan
dalam tingkat yang sedang. Kami berhasil menangkap 16 jenis serangga yang
dalam ekosistem bertindak sebagai hama, musuh alami, dan serangga lain. Untuk
jenis hama kami menemukan beberapa spesies, antara lain ulat, kutu kuya,
kumbang macan, kepik hijau, Helopheltis, walang sangit, dan lalat buah. Musuh
alami yang berhasil kami dapatkan dalam 6 kali pengamatan pada lahan timun
tersebut ada 5 spesies. Selain itu juga ditemukan serangga lain seperti kaki seribu,
kupu-kupu, belalang kayu, dan ngengat yang merupakan serangga lain.
Bahwa jumlah hama lebih mendominasi dalam lingkungan lahan timun
tersebut. Maka dari itu, perlu adanya penanganan khusus dalam upaya
pengembangan tindakan pre-emtive dengan pelepasan musuh alami pada lahan
mentimun tersebut. Tujuan dari tindakan pre-emtive untuk memprakondisikan
populasi hama tidak berkembang ke tingkat yang dapat merugikan secara
ekonomis.
Saran
Sebaiknya saat praktikum, pelaksanaannya lebih dikondisikan terlebih
dahulu. Supaya praktikum bisa berjalan dengan baik dan teratur.

DAFTAR PUSTAKA
Bambang Cahyono.2003.Cabai Rawit. Yogyakarta:Kanisius.113

Baco, D. dan J. Tandiabang. 1988. Hama Timun dan Pengendaliannya. Dalam


Subandi, M.Syam, dan A. Widjono (Eds.). Jagung. Hal. 185 204. Badan
Litbang Pertanian.
Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta:
Erlangga.

Departemen Pertanian. 2002. MUSUH ALAMI, HAMA DAN PENYAKIT


TANAMAN KOPI. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan
Rakyat Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jenderal Bina
Produksi Perkebunan. Departemen Pertanian. Jakarta
Fitter dan Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.Tim Dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. 2011.
Modul Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman. FP-UB. Malang
Kadekoh,I. 2010. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Kering Berkelanjutan Dengan
Sistem Polikultur.
Kalshoven LGE. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru- Van Hoeve,
Jakarta
Metcalfe, RL & William, HL 1975. INTRODUCTION TO INSECT PEST
MANAGEMENT. John Willey and Sons, New York. 106p
Nugraheni Endang, Pangaribuan Nurmala. 2007. Penelolaan Lahan Pertanian
Gambut Secara Berkelanjutan. Universitas Terbuka, Tangerang Selatan,
Universitas Pajajaran. Bandung.
Ortega, C.A. 1987. Insekpests of maize. A guide for field identification. CIMMYT.
Mexico. Pp.106.
Pracaya,1993. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya : Jakarta
Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta
Raharjo, B. T. 2012. Ilmu Hama Tanaman. Kuliah Ilmu Hama Tanaman. FP-UB.
Malang
Rianawaty, Ida. 2007. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN. Biology 2
for Junior High School Year VIII. Kanisius. Yogyakarta

Shepard, B. M., Barrion, A. T., dan Litsinger. (1995), Serangga, Laba-Laba dan
Patogen yang membantu, Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI). Pp
30-31.
Susanti, S and Puji, A. (1998), Mengenal Capung, Puslitbang Biologi LIPI.
Subandi dan I. Manwan, 1990. Penelitian dan Teknologi Peningkatan Produksi
Timun di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.
67p.
Tjahjadi, N. 1989. Hama dan Penyakit Tumbuhan. Kanisius : Yogyakarta

LAMPIRAN dan DOKUMENTASI


Pengamatan 1 Rabu, 25 Maret 2015
Titik sampel

Jumlah Individu
Hama

Musuh alami

Serangga lain

Total

Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

Plot 5

Pengamatan 2 Jumat, 27 Maret 2015


Titik sampel

Jumlah Individu
Hama

Musuh alami

Serangga lain

Total

Plot 1

Plot 2

10

Plot 3

Plot 4

11

Plot 5

Pengamatan 3 Minggu, 29 Maret 2015


Titik sampel

Jumlah Individu
Hama

Musuh alami

Serangga lain

Total

Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

Plot 5

Pengamatan 4 Rabu, 1 April 2015


Titik sampel

Jumlah Individu
Hama

Musuh alami

Serangga lain

Total

Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

Plot 5

Pengamatan 5 Jumat, 3 April 2015


Titik sampel

Jumlah Individu
Hama

Musuh alami

Serangga lain

Total

Plot 1

Plot 2

Plot 3

Plot 4

Plot 5

Pengamatan 6 Minggu, 5 April 2015


Titik sampel

Jumlah Individu
Hama

Musuh alami

Serangga lain

Total

Plot 1

10

Plot 2

13

Plot 3

12

Plot 4

11

Plot 5

10

Dokumentasi saat melakukan survei lahan

Dokumentasi saat melakukan pengamatan