Anda di halaman 1dari 8

BAB XII

GAYA ANTAR MOLEKUL : CAIR, PADAT, DAN PERUBAHAN FASA


Jenis-jenis Perubahan Fasa dan Entalpi-nya.
Ketika mempelajari tentang perubahan fasa, harus dipahami bahwa suhu sangatlah
berpengaruh :

Seiring peningkatan suhu, energi kinetik rata-rata juga semakin meningkat,


sehingga partikel bergerak semakin cepat.

Seiring penurunan suhu, energi kinetik rata-rata juga semakin menurun, sehingga
partikel bergerak lebih lambat.
Selain itu tekanan juga berpengaruh, terlebih lagi apabila hal tersebut melibatkan

fase gas yang sensitif terhadap perubahan tekanan. Setiap perubahan fase memiliki
sebutan dan terkait terhadap perubahan entalpi :
1) Gas ke Cair, atau sebaliknya. Seiring dengan penurunan suhu (dan/atau kenaikan
tekanan), molekul dari gas akan berkumpul dan membentuk cairan yang disebut
proses kondensasi. Sebaliknya perubahan fase dari gas ke cair disebut penguapan.
2) Cair ke Padat, atau sebaliknya. Seiring dengan penurunan suhu yang lebih jauh,
partikel semakin bergerak lambat dan akhirnya diam, sehingga disebut membeku.
Sebaliknya perubahan fase dari padat ke cair disebut peleburan.
3) Gas ke Padat, atau sebaliknya. Perubahan dari padat ke gas disebut sublimasi,
sebagai contoh pada CO2 padat atau biasa disebut dry ice. Sebaliknya dari gas ke
padat disebut deposisi, sebagai contoh kristal es yang terbentuk pada jendela akibat
uap air yang membeku.
Perubahan entalpi yang terjadi antara lain eksotermis dan endotermis :

Perubahan eksotermis. Seiring molekul dari gas saling tarik-menarik membentuk


cairan, dan akhirnya diam menjadi padatan, sistem dari partikel tersebut kehilangan
energi, yang dilepaskan sebagai panas. Perubahan eksotermis antara lain
kondensasi, membeku, dan deposisi.
H2O(g) H2O(l)

H = H ovap = 40,7 kJ/mol (at 100oC)

H2O(l) H2O(s)

H = H ofus = 6,02 kJ/mol (at 0oC)

Perubahan endotermis. Panas harus diserap oleh sistem untuk menggerakkan


molekul yang diam pada padatan lebih lanjut menggerakkan molekul cairan agar
menjadi gas. Perubahan endotermis antara lain peleburan, menguap, dan sublimasi.
H2O(l) H2O(g)

H = H ovap = 40,7 kJ/mol (at 100oC)

H2O(s) H2O(l)

H = H ofus = 6,02 kJ/mol (at 0oC)

Jenis-jenis Gaya Antar Molekul

Ion-Dipol
Ketika ion dan molekul polar (dipol) terdekat saling tarik-menarik, maka akan
terjadi gaya ion-dipol. Sebagai contoh ketika senyawa ionik larut dalam air, karena
gaya tarik antara ion dan kutub berlawan dari molekul air lebih kuat daripada gaya
tarik antar ion itu sendiri.

Dipol-Dipol
Gaya ini bergantung pada besarnya momen dipol dari molekul. Untuk
senyawa dengan berat molekul yang sama, semakin besar momen dipol molekul,
semakin besar juga gaya dipol-dipolnya, sehingga dibutuhkan energi yang besar
pula untuk memisahkan molekulnya, dengan demikian semakin tinggi titik

didihnya. Metil klorida sebagai contohnya, memiliki momen dipol lebih kecil dari
asetaldehid dan mendidih pada suhu yang lebih rendah.

Ikatan Hidrogen
Jenis khusus dari gaya dipol-dipol terjadi antara molekul yang memiliki atom
H yang terikat dengan atom yang memiliki elektronegatifitas tinggi dengan
pasangan elektron tunggal, khususnya N, O, dan F. Ikatan HN, HO, dan HF
sangatlah polar. Ketika sebagian elektron positif H tertarik ke sebagian elektron
negatif pasangan tunggal dari N, O, atau F atau molekul lainnya, maka ikatan
hidrogen terbentuk.

Sifat Fase Cair


Dari ketiga jenis fase, hanya cairan yang memiliki kemampuan mengalir dengan
gaya antarmolekul yang kuat. Cairan memiliki sifat secara makroskopis sebagai berikut,
antara lain tegangan muka, kapilaritas, dan viskositas.

Tegangan Muka

Gaya antar-molekul memiliki pengaruh yang berbeda pada molekul di


permukaan dengan molekul di bagian dalamnya.
Molekul bagian dalam saling tarik-menarik di segala sisi.
Molekul pada permukaan hanya tarik-menarik pada bagian bawah dan sisi
sampingnya, sehingga mengalami gaya tarik ke bawah.
Satu-satunya cara untuk meningkatkan tegangan muka yaitu dengan
mengangkat molekulnya dengan cara memecahkan gaya tarik-menarik di molekul
bagian dalamnya, dengan membutuhkan energi. Tegangan Muka adalah energi
yang dibutuhkan untuk meningkatkan luas permukaan, dengan satuan J/m 2. Secara
umum, semakin besar gaya yang terjadi antar partikel, semakin besar pula energi
yang dibutuhkan untuk memperbesar luas permukaan, sehingga semakin besar
tegangan mukanya.
Air memiliki tegangan muka yang besar karena molekulnya terbentuk dari
banyak ikatan hidrogen. Surfaktan (surface active agent), seperti sabun, dsb,
memiliki kemampuan untuk menurunkan tegangan muka dari air dengan cara
merusak ikatan hidrogen.

Kapilaritas
Kenaikan suatu cairan yang melawan gaya gravitasi dalam suatu ruang
sempit, seperti pipa kapiler, disebut kapilaritas. Kapilaritas terjadi karena gaya
intermolekul dalam cairan (kohesi) dan gaya antara cairan dengan dinding pipa
(adhesi) saling kompetitif. Sebagai contoh perbedaan kapilaritas antara air dan
raksa dalam gelas.

1) Air dalam kaca. Ketika kita menempatkan air dalam pipa kapiler, mengapa air
membentuk cekungan ? Pipa kapiler (kaca) terbentuk dari SiO 2, sehingga
ikatan-H dalam air beradhesi dengan molekul O dari kaca. Pada waktu yang
bersamaan pula, ikatan-H dalam air berkohesi sehingga meningkatkan
tegangan muka. Adhesi dan kohesi ini bersama menaikkan ketinggian air dan
membentuk cekungan. Cairan akan naik hingga gravitasi menarik ke bawah
diimbangi dengan adhesi mengangkat molekulnya.
2) Raksa dalam kaca. Ketika kita menempatkan raksa dalam pipa kapiler,
mengapa raksa menjadi cembung ? Gaya kohesi antar atom raksa yaitu ikatan
logam, sehingga lebih kuat daripada kebanyakan dispersi adhesi antara raksa
dan kaca. Akibatnya cairan menjauh dari dinding. Pada saat yang bersamaan,
permukaan atom tertarik ke bagian dalam tegangan muka raksa yang tinggi,
sehingga ketinggian menurun.

Gambar 1. Kapilaritas dalam pipa kapiler. A, air dalam kaca. B, raksa dalam kaca.

Viskositas
Viskositas adalah resistensi dari fluida yang mengalir, akibat adanya gaya
tarik-menarik antar molekul yang menghambat pergerakan molekul satu sama lain.
Baik cairan maupun gas kedua-duanya dapat mengalir, akan tetapi viskositas cairan

jauh lebih besar daripada viskositas gas, karena semakin pendek jarak antar partikel
dari cairan sehingga gaya antar-molekulnya semakin besar. Ada dua faktor yang
berpengaruh terhadap besar-kecilnya viskositas;
1) Pengaruh suhu. Viskositas berkurang apabila dipanaskan. Partikel yang
bergerak cepat mengakibatkan gaya antarmolekul lebih mudah terjadi,
sehingga resistensi aliran berkurang.
2) Bentuk Molekul. Molekul berbentuk bulat dan kecil menyebabkan kontak
semakin sedikit, sehingga molekul lebih cepat mengalir. Molekul yang besar
dan panjang menyebabkan kontak semakin besar, sehingga resistensi juga
semakin besar.
Keunikan Air

Sifat Air sebagai Pelarut


Air merupakan pelarut yang sangat baik, akibat dari kepolaritasan dan ikatan
hidrogennya :
1) Air melarutkan senyawa ionik melalui gaya ion-dipol yang memisahkan ion
dari padatan dan tetap membuat mereka dalam bentuk larutan.
2) Air melarutkan zat non-ionik polar seperti etanol (CH 3CH2OH) dan glukosa
(C6H12O6) dengan ikatan-H.
3) Air melarutkan gas atmosferis non-polar sampai batas tertentu melalui dipolinduced dipol dan gaya dispersi.

Sifat Air terhadap Suhu


Ketika zat dipanaskan, sebagian energi tambahan meningkatkan kecepatan
molekul rata-rata, peningkatan getaran molekul dan rotasi, dan beberapa digunakan
untuk mengatasi gaya antarmolekul.
1) Kapasitas Panas Spesifik. Karena air memiliki ikatan hidrogen yang kuat,
kapasitas panas spesifiknya pun lebih tinggi dari pada cairan lainnya. Sebagai
contoh, karena 70% permukaan bumi terdiri dari lautan-lah yang
mengakibatkan rentang temperatur di bumi begitu kecil, yaitu 40oC, sehingga
makhluk hidup dapat bertahan.

2) Panas Penguapan. Banyaknya ikatan hidrogen mengakibatkan air memiliki


panas penguapan yang sangat tinggi. Berikut adalah contoh yang menunjukkan
betapa pentingnya peranan air. Tubuh orang dewasa rata-rata terdiri dari 40 kg
air dan menghasilkan 10,000 kJ energi panas hasil dari metabolisme. Apabila
panas ini digunakan untuk meningkatkan Ek molekul air rata-rata dalam tubuh,
maka akan mengalami kenaikan suhu tubuh 10 kali lipat yang dapat
menyebabkan kematian. Sebaliknya, panas tersebut diubah menjadi E p dengan
memecah ikatan-H dan menguap menjadi keringat, sehingga suhu tubuh
menjadi stabil dan minimal kehilangan cairan tubuh.

Sifat Permukaan Air


Ikatan hidrogen berperan dalam tingginya tegangan muka dan kapilaritas air.
Air memiliki tegangan permukaan yang besar dari semua jenis cairan (kecuali
logam cair dan garam). Tegangan muka menjaga tanaman debris tetap mengapung
pada permukaan, menyediakan tempat tinggal dan nutrisi untuk ikan dan serangga.
Kapilaritas tinggi menyebabkan air dapat naik melalui ruang kecil antara partikel
tanah, sehingga akar tanaman dapat menyerap air tanah yang dalam selama musim
kemarau.

Struktur dan Sifat Padatan


Padatan dibagi menjadi dua kategori :

Padatan Kristal, memiliki bentuk yang tersusun dengan baik karena partikel-atom,
molekul, atau ion-mereka terjadi pada susunan yang teratur.

Gambar 2. Jenis-jenis dan Sifat Padatan Kristal

Padatan Amorphous, memiliki bentuk yang tidak lazim karena susunan partikelnya
yang tidak teratur.