Anda di halaman 1dari 3

NAMA : MUHAMMAD ASLAM

NIM

: E 311 07 068

ILMU KOMUNIKASI

Dependency Theory
Atau dalam bahasa Indonesia disebut Teori Ketergantungan. Teori ini dikembangkan
oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L. De Fleur. Teori ini memfokuskan perhatiannya pada
kondisi structural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek
media massa.
Teori ini membagi audience menjadi dua.
Yang pertama yaitu kelompok elite. Pada umumnya kelompok elite pada masyarakat
akan memiliki lebih banyak kendala terhadap media, lebih banyak akses ke dalamnya dan
tidak terlalu bergantung pada media jika dibandingkan dengan masyarakat kebanyakan.
Kelompok elite juga cenderung untuk memiliki akses kepada sumber informasi lain yang
lebih cakap dan kompeten.
Yang kedua yaitu kelompok non elite. Kelompok ini biasanyak menjadi peminat dari
media massa yang kurang memadai.
Teori ini membagi jenis-jenis efek media massa menjadi tiga yaitu

Kognitif. Bagaimana media massa mempengaruhi bahkan mengubah pola pikir (mind
set) seseorang. Yang awalnya hal tersebut dianggap kurang baik menjadi pantas atau
layak untuk dilakukan dan begitu pula sebaliknya.

Afektif. Bagaimana media massa dapat mengubah perilaku seseorang.

Behavioral. Bagaimana media massa dapat mengubah kebiasaan seseorang.


Contohnya seseorang yang ingin mengikuti kebiasaan selebritas idolanya. Ia akan
berusaha untuk dapat menirunya semirip mungkin tanpa memikirkan apakah hal
tersebut layak atau tidak untuk dicontoh.

Uses and Gratification Theory


Penggunaan (uses) isi media untuk mendapatkan pemenuhan (gratification) atas
kebutuhan seseorang atau uses and gratification, salah satu teori dan pendekatan yang sering
digunakan dalam komunikasi. Menuru teori ini seseorang dalam melihat atau mengkonsumsi

media massa ia selalu memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhannya. Misalnya seorang
ibu rumah tangga cenderung akan membeli majalah yang di dalamnya terdapat kumpulan
resep-resep masakan terkenal yang merupakan racikan koki ternama, sedangkan seorang
pemuda akan cenderung membeli tabloid olah raga atau sepak bola yang di dalamnya
terdapat bonus poster pemain sepak bola kesukaannya.
Teori dan pendekatan ini tidak mencakup atau mewakili keseluruhan proses
komunikasi, karena sebagian besar perilaku audience hanya dijelaskan melalui berbagai
kebutuhan (needs) dan kepentingan (interest) mereka sebagai suatu fenomena mengenai
proses penerimaan (pesan media). Seseorang akan cenderung melihat media yang sesuai
kebutuhan dan kepentingan dan mengacuhkan hal-hal yang dianggap kurang penting apalagi
jika orang tesebut tidak meemiliki banyak waktu dan disibukkan dengan banyak pekerjaan.
Lain halnya jika orang tersebut tidak terlalu sibuk dan banyak meluangkan waktu di depan
televisi misalnya. Maka ia akan mengkonsumsi segala jenis pesan yang disampaikan media
massa.
Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam
teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai
expectance-value

theory

(teori

pengharapan

nilai).

Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh
sikap Anda terhadap media --kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat
berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda
percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan
Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan
menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu
pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan
menghindari untuk melihatnya.
Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)
Teori pengaruh komunikasi massa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang
kelihatan berliku-liku dalam abad ini. Dari awalnya, para peneliti percaya pada teori
pengaruh komunikasi peluru ajaib (bullet theory) Individu-individu dipercaya sebagai

dipengaruhi langsung dan secara besar oleh pesan media, karena media dianggap berkuasa
dalam membentuk opini publik. Menurut model ini, jika Anda melihat iklan Close Up maka
setelah menonton iklan Close Up maka Anda seharusnya mencoba Close Up saat menggosok
gigi.
Kemudian pada tahun 50-an, ketika aliran hipotesis dua langkah (two step flow) menjadi
populer, media pengaruh dianggap sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang minimal.
Misalnya iklan Close Up dipercaya tidak akan secara langsung mempengaruhi banyak orangorang untuk mencobanya. Kemudian dalam 1960-an, berkembang wacana baru yang
mendukung minimalnya pengaruh media massa, yaitu bahwa pengaruh media massa juga
ditengahi oleh variabel lain. Suatu kekuatan dari iklan Close Up secara komersil atau tidak
untuk mampu mempengaruhi khalayak agar mengkonsumsinya, tergantung pada variabel
lain. Sehingga pada saat itu pengaruh media dianggap terbatas (limited-effects model).
Sekarang setelah riset di tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ilmuwan komunikasi sudah
kembali ke powerful-effects model, di mana media dianggap memiliki pengaruh yang kuat,
terutama media televisi.Ahli komunikasi massa yang sangat mendukung keberadaan teori
mengenai pengaruh kuat yang ditimbulkan oleh media massa adalah Noelle-Neumann
melalui pandangannya mengenai gelombang kebisuan.