Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Kimia Dasar II

VOLUMETRI

Tanggal Praktikum

: Selasa, 31 Maret 2015

Tanggal Laporan

: Selasa, 14 April 2015

Disusun Oleh :
Naurah Nazhifah

1147040047

Nurul Tafiani

1147040055

Nurul Wulansari

1147040056

Jurusan Kimia
Fakultas Sains Dan Teknologi
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
Tahun 2015

A. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari praktikum ini adalah :
a. Menentukan konsentrasi rata-rata NaOH melalui percobaan standarisasi basa.
b. Menentukan berat molekul asam sitrat melalui percobaan titrasi asam.
c. Membandingkan berat molekul asam sitrat melalui percobaan dengan literatur.
d. Menentukan kadar asam sitrat dalam produk citroen zuur.
B. DASAR TEORI
Volumetri
Volumetri adalah analisa yang didasarkan pada pengukuran
volume

dalam

pelaksanaan

analisanya. Analisa

volumetri

biasa

disebut juga sebagai analisis titirimetri atau titrasi yaitu yang diukur
adalahvolume larutan yang diketahui konsentrasinya dengan pasti
yang disebut sebagai titran, dan diperlukanuntuk bereaksi sempurna
dengan sejumlah tepat volume titrat (analit) atau sejumlah berat zat
yang akanditentukkan. Titran adalah larutan standar yang telah
diketahui dengan tepat konsentrasinya
Volumetri/titrasi merupakan salah satu cara analisis secara
kuantitatif, yaitu analisis yang bertujuan untuk menentukan jumlah
suatu zat atau komponen zat. Salah satu contoh dari analisis volumetri
adalah titrasi, dimana analat direaksikan dengan suatu pereaksi
sedemikian rupa sehingga jumlah zat-zat yang direaksikan itu
ekuivalen satu sama lain atau tepat saling menghasilkan sehingga
tidak ada sisa. Beberapa analisis yang dapat kita ketahui dalam
volumetri atau titrasi ini yaitu:
1. Analisis kesadahan total melalui titrasi kompleksometri
Kesadahan total adalah jumlah ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang
terdapat dalam suatu sampel air. Kesadahan total salah satunya
dapat ditentukan melalui volumetri. Titrasi menggunakan EDTA
(etilendiamintetraasetat) sebagai titran dan EBT (Eriochrome Black
T, Erio T) sebagai indikator.
2. Analisis keasaman melalui titrasi asam lemah dengan basa kuat
Titrasi asam basa adalah titrasi yang menyangkut asam dan
basa aik kuat maupun lemah. Titrasi asam basa dapat memberikan

titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan
dengan indicator bila pH ekuivalen antara 4 sampai 10.
3. Analisis kadar H2O2 melalui titrasi redoks.
Reaksi redoks merupakan suatu reaksi yang menyebabkan
terjadinya perubahan bilangan oksidasi pada atom-atom dalam
komponen yang terlibat dalam reaksi. Reaksi redoks dapat dijadikan
sebagai dasar dalam titrasi karena seringkali atom atau senyawa
yang sama dengan bilangan oksidasi berbeda memiliki perbedaan
warna yang cukup jelas.
4. Analisis kadar Cl dalam larutan NaCl melalui titrasi argentometri
metode volhard.
Argentometri merupakan metode titrasi yang menggunakan
larutan pekat nitrat (AgNO3) sebagai titran. Hasil reaksi titrasinya
adalah endapan atau garam yang sukar larut.
Standarisasi Larutan NaOH
Reaksi asam basa adalah reaksi yang terjadi antara larutan asam
dengan larutan basa, hasil reaksi ini dapat bersifat netral disebut
juga reaksi penetralan asam basa tergantung pada larutan yang
direaksikan. Larutan yang direaksikan ini salah satunya disebut
larutan baku. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya
diketahui dengan tepat dan dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi larutan lain. Larutan baku ada dua yaitu larutan baku
primer dan larutan baku sekunder.
Larutan baku primer adalah larutan baku yang konsentrasinya
dapat ditentukan dengan jalan menghitung dari berat zat terlarut
yang dilarutkan dengan tepat. Larutan baku primer harus dibuat
dengan:
1. Penimbangan dengan teliti menggunakan neraca analitik
2. Dilarutkan dalam labu ukur
Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan membuat
larutan standar primer harus memenuhi tiga persyaratan berikut:
1. Benar-benar

ada

dalam

keadaan

murni

dengan

kadar

pengotor
2. Stabil secara kimiawi, mudah dikeringkan dan tidak
bersifat higroskopis.

3. Memiliki berat ekivalen besar, sehingga meminimalkan


kesalahan akibat penimbangan.
Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan
baku primer adalah H2C2O4. 2H2O (asam oksalat). Asam oksalat
adalah zat padat , halus, putih, larut baik dalam air. Asam oksalat
adalah asam divalent dan pada titrasinya selalu sampai terbentuk
garam normalnya. .berat ekivalen asam oksalat adalah 63.
Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang konsentrasinya
harus ditentukan dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer.
Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan
baku sekundere adalah NaOH. Larutan NaOH tergolong dalam
larutan baku sekunder yang bersifat basa. Natrium hidroksida
(NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basa
logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang
kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida murni
berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan,
butiran ataupun larutan jenuh 50%. NaOH bersifat lembab cair dan
secara spontan menyerap karbondioksida dari udara bebas. Ia
sangat

larut

dalam

air

dan

akan

melepaskan

panas

ketika

dilarutkan. NaOH juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun


kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada
kelarutan KOH. NaOH tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non
polar lainnya.
Indikator asam basa sebagai zat penunjuk derajat keasaman
kelarutan adalah senyawa organik dengan struktur rumit yang
berubah warnanya bila pH larutan berubah. Indikator dapat pula
digunakan untuk menetapkan pH dari suatu larutan. Indikator
merupakan asam lemah atau basa lemah yang memiliki warna
cukup tajam, hanya dengan beberapa tetes larutan encer-encernya,
indikator dapat digunakan untuk menetapkan titik ekivalen dalam
titrasi asam basa ataupun untuk menentukan tingkat keasaman
larutan. Pada percobaan kali ini indikator yang akan digunakan

adalah

indikator

phenolphtalein

atau

sering

disebut

dengan

indikator PP. Indikator PP memiliki warna asam tak berwarna,


rentang pH perubahan warna antara 8,3 10,0 dan warna basa
merah.
Titrasi Asam
Ada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama
dengan mol ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai
berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas
dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M)
dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa,
sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH (pada basa)

Penentuan massa molekul Asam Sitrat


Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan
buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan) atau pada bahan yang sering kita
gunakan yaitu citroen zuur. Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan
alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman
ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus
asam

sitratyang

terjadi

di

dalam mitokondria,

yang

penting

dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat
pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.
Sifat fisika dan kimia

Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat
melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion
sitrat.

Sitrat

sangat

baik

digunakan

dalam larutan

penyangga untuk

mengendalikan pH larutan. Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam
membentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat dapat mengikat ion-ion logam
dengan pengkelatan, sehingga digunakan sebagai pengawet dan penghilang kesadahan
air. Secara umum sifat asam sitrat dapat dilihat pada tabel di lampiran.
Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna putih.
Serbuk

kristal

tersebut

dapat

berupa

bentuk

anhydrous (bebas

air),

atau

bentuk monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekul asam
sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat mengkristal dalam air panas, sedangkan bentuk
monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat dalam air dingin. Bentuk
monohidrat tersebut dapat diubah menjadi bentuk anhydrous dengan pemanasan di
atas 74 C.
Secara kimia, asam sitrat bersifat seperti asam karboksilat lainnya. Jika
dipanaskan di atas 175 C, asam sitrat terurai dengan melepaskan karbon
dioksida dan air.
C. ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan pada praktikum asam dan basa :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Erlenmeyer 50 mL
Statif dan Klem
Buret 50 mL
Neraca Analitik
Gelas Beker
Batang Pengaduk

1 buah
1 paket
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Bahan yang digunakan pada praktikum asam dan basa :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Natrium Hidroksida A (NaOH) 0,1 M


Asam Oksalat Dihidrat
Asam Sitrat Anhidrat
Citrun Zuur
Aquades
Indikator Fenolftalein

100 mL
0,063 gram
0,06 gram
0,06 gram
secukupnya
14 tetes

D. CARA KERJA
1. Pembuatan 400 mL NaOH 0,1 M
Ditimbang NaOh sebanyak 1,6 gram, lalu dilarutkan dengan aquades hingga
volumenya 400 mL dengan menggunakan gelas beker dan batang pengaduk.
2. Standarisasi Basa

Disusun buret, statif dan klem. Lalu kedalam buret dimasukkan NaOh
sebanyak 50 mL. Disisi lain, ditimbang 0,063 asam oksalat dihidrat, kemudian
dimasukkan kedalam erlenmeyer 50 mL lalu ditambahkan aquades hingga
volumenya 25 mL. Diagitasi hingga padatan asam oksalat dihidrat melarut
sepenuhnya. Setelah itu, ditambahkan 2 tetes fenolftalein kedalam larutan asam
oksalat dihidrat. Dilakukan titrasi dengan larutan asam oksalat dihidrat sebagai analit
dan larutan NaOH sebagai titran. Dicatat volume titran hingga analit berubat warna
menjadi merah muda. Percobaan diulang sebanyak 3 kali.
3. Titrasi Asam
Ditimbang 0,06 asam sitrat anhidrat, kemudian dimasukkan kedalam
erlenmeyer 50 mL lalu ditambahkan aquades hingga volumenya 25 mL. Diagitasi
hingga padatan asam sitrat anhidrat melarut sepenuhnya. Setelah itu, ditambahkan 2
tetes fenolftalein kedalam larutan asam sitrat anhidrat. Dilakukan titrasi dengan
larutan asam sitrat anhidrat sebagai analit dan larutan NaOH sebagai titran. Dicatat
volume titran hingga analit berubat warna menjadi merah muda. Percobaan diulang
sebanyak 3 kali.
4. Menentukan kadar asam sitrat dalam citroen zuur.
Ditimbang 0,06 citroen zuur, kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 50
mL lalu ditambahkan aquades hingga volumenya 25 mL. Diagitasi hingga padatan
citroen zuur melarut sepenuhnya. Setelah itu, ditambahkan 2 tetes fenolftalein
kedalam larutan asam sitrat anhidrat. Dilakukan titrasi dengan larutan ciroen zuur
sebagai analit dan larutan NaOH sebagai titran. Dicatat volume titran hingga analit
berubat warna menjadi merah muda. Percobaan diulang sebanyak 3 kali.
E. HASIL PENGAMATAN
1. Pembuatan NaOH
No
1

Perlakuan
1,6 gram NaOH
400 mL aquades
1,6 gram NaOH + 400mL

Hasil Pengamatan
Padatan putih
Cairan tak berwarna
Larutan NaOH tak berwarna

aquades
2. Standarisasi Basa
No

Perlakuan

Hasil Pengamatan

0,06 gram asam oksalat dihidrat


25 mL aquades
0,06 gram asam oksalat dihidrat

Padatan putih
Cairan tak berwarna
Larutan asam oksalat dihidrat tak

+ 25 mL aquades

berwarna

Larutan Asam Oksalat (analit)

Larutan tak berwarna

25 mL
Fenolftalein 2 tetes
NaOH (titran)
Analit + fenolftalein + titran

Cairan tak berwarna


Larutan tak berwarna
Larutan berwarna merah muda

Volume NaOH (mL)


No
3.

Indikator Warna

1
2
3

Vol. Awal

Vol. Akhir

Vol. Terpakai

(mL)

(mL)

(mL)

9,5
19,5
28,3

9,5
10
8,8
9,43

0
Fenolftalein
9,5
19,5
Volume Rata-Rata yang Terpakai

Asam
No
1

Perlakuan

Hasil Pengamatan

0,06 gram asam sitrat anhidrat


25 mL aquades
0,06 gram asam sitrat anhidrat +

Padatan putih
Cairan tak berwarna
Larutan asam sitrat anhidrat tak

25 mL aquades

berwarna

Larutan asam sitrat anhidrat

Larutan tak berwarna

(analit) 25 mL
Fenolftalein 2 tetes
NaOH (titran)
Analit + fenolftalein + titran

Cairan tak berwarna


Larutan tak berwarna
Larutan berwarna merah muda
Volume NaOH (mL)

No
1
2
3

Indikator Warna

Vol. Awal

Vol. Akhir

Vol. Terpakai

(mL)

(mL)

(mL)

38
49,2
12,7

9,7
11,2
12,7
11,2

28,3
Fenolftalein
38
0
Volume Rata-Rata yang Terpakai

Tit
ra
si

4. Menentukan kadar asam sitrat dalam citroen zuur.


No
1

Perlakuan
0,06 gram citroen zuur
25 mL aquades
0,06 gram citroen zuur + 25 mL

Hasil Pengamatan
Padatan putih
Cairan tak berwarna
Larutan citroen zuur tak berwarna

aquades
2

F.

Larutan citroen zuur (analit)

Larutan tak berwarna

25 mL
Fenolftalein 2 tetes
NaOH (titran)
Analit + fenolftalein + titran

Cairan tak berwarna


Larutan tak berwarna
Larutan berwarna merah muda
Volume NaOH (mL)

No

Indikator Warna

1
2
3

Vol. Awal

Vol. Akhir

Vol. Terpakai

(mL)

(mL)

(mL)

25,9
35,3
26,6

13,2
9,6
10,6
11,13

12,7
25,9
11,0
Volume Rata-Rata yang Terpakai

Fenolftalein

P
E
R
HI
T

UNGAN
1. Pembuatan NaOH (Mr = 40 g/mol)
Rumus umum,
mol = M Volume

Massa = mol Mr

Jumlah padatan NaOH yang dibutuhkan :


V1 = 400 mL = 0,4 L mol = 0,1 M 0,4 L = 0,04 mol
Massa = 0,04 40 = 1,6 gram
Keterangan : Banyaknya NOH tersebut digunakan untuk semua kelompok
2. Standarisasi Basa
Ditanyakan : Konsentrasi NaOH ?
Diketahui :
a. Massa asam oksalat dihidrat (C2H2O4.2H2O) = 0,06 gram
b. Mr C2H2O4.2H2O = 126 g/mol
c. Ekivalen C2H2O4.2H2O = 2
d. Volume rata-rata NaOH yang dibutuhkan = 9,43 mL = 9,43 10-3 L
Jawab :
Rumus umum,
Mol = massa : Mr

(molekivalen)asam oksalat dihidrat = (konsentrasiVolume)

Mol = 0,06 gram : 126 g/mol = 4,76 10-4 mol


4,76.10-4 mol 2 = M 9,43.10-3 L
M = 0,10 M
3. Titrasi Asam
Ditanyakan : Mr asam sitrat anhidrat ?
Diketahui :
a. Massa asam sitrat anhidrat (C6H8O7) = 0,06 gram
b. Ekivalen C6H8O7 = 3
c. Volume rata-rata NaOH yang dibutuhkan = 11,2 mL = 11,2 10-3 L
Jawab :
Rumus umum,
Mr = (massa
ekivalen)asam sitrat
(Konsentrasi
Mr =

0,06 gram 3

0,1M 11,2.10-3 L
Mr = 160,7 g/mol
4. Menentukan kadar asam sitrat dalam citroen zuur
Ditanyakan : Kadar asam sitrat?
Diketahui :
e. Massa citroen zuur = 0,06 gram
f. Mr C6H8O7= 160,7 g/mol
g. Ekivalen C6H8O7 = 3
h. Volume rata-rata NaOH yang dibutuhkan = 11,13 mL = 11,13 10-3 L
Jawab :
Rumus umum,
Beratasam sitrat = Mrasam sutrat (konsentrasiVolume)NaOH
Ekivalenasam sitrat

Kadarasam sitrat

Beratasam sitrat

100%
Berat Citrun Zuur
Beratasam sitrat = 160,7 g/mol 0,1 M 11,13.10-3 L
3
Beratasam sitrat = 0,0596 gram
Kadar = 0,0596 gram 100% = 99,3 %
0,06 gram

G. PEMBAHASAN
Naurah Nazhifah
Pada percobaan kali ini, kami menggunakan metode volumetri untuk analisis.
Dimana pada percobaan pertama mengenai standarisasi basa, asam oksalat dihidrat
(C2H2O4.2H2O) berperan sebagai analit dan NaOh sebagai titran. Tahapannya kami
menambahkan titran kedalam analit secara bertahap (inkremental) hingga tercapainya
ttik akhir titrasi, yang ditandai dengan perubahan warna pada larutan menjadi merah
muda. Warna tersebut muncul karena adanya tanggapan indikator terhadap kelebihan
titran. Dan indikator yang digunakan pada standarisasi basa ini adalah fenolftalein.
Tujuan dari percobaan ini adalah standarisasi basa, yang perlu kita ketahui bahwa
standarisasi basa itu sendiri merupakan proses yang mana konsentrasi suatu larutan
dipastikan dengan tepat. Oleh karena itu untuk mengetahui konsentrasi basa (larutan)
standar data yang dibutuhkan berupa volume titran rataa-rata yang dibutuhkan, massa
analit yang dibutuhkan, Mr analit, dan ekivalen analit. Bila data tersebut sudah lengkap,
seluruh nilainya dapat disubstitusikan kedalam rumus yang ada, yaitu (mol
ekivalen)analit = (konsentrasi Volume rata-rata)titran. Maka dari persamaan tersebut kami
dapat memperoleh nilai konsentrasi titran. Dan dalam percobaan ini, kami memperoleh
kosentrasi sebesar 0,1 M. Selain itu, perlu diketahui bahwa pada metode volumetri untuk
analisis didasarkan pada suatu reaksi kimia seperti aA + tT produk. Maka dalam hal
ini, A sebagai analit (C2H2O4.2H2O) dan T sebagai titran (NaOH), dan produk yang
dihasilkan berdasarkan persamaan reaksinya adalah Na2C2O4 dan molekul air.
Pada percobaan yang kedua, bertujuan untuk menentukan berat molekul dari
asam sitrat. Metode percobaannya masih sama yaitu dengan melakukan titrasi. Disini
NaOH yang telah terstandarisasi berperan sebagai titran dan asam sitrat sebagai analit.
Sama seperti percobaan pertama, analit ditetesi titran secara inkremental hingga terjadi
perubahan warna yang menandakan telah tercapainya titrasi. Elama 3 kali percobaan
maka akan diperoleh volume rata-rata titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir
titrasi, yang nilainya akan terlibat dalam menentukan nilai massa molekul dari asam
sitrat anhidrat. Selain itu, data lain yang diperlukan adalah ekivalen analit dan
konsentrasi titran yang telah terstandarisasi serta massa analit. Setelah itu, data yang ada
disubstitusikan kedalam rumus yang tersedia yaitu (massa ekivalen)analit yang dibagi
dengan (konsentrasivolume rata-rata)titran. Seperti pada data perhitungan. Dan pada
percobaan ini kami memperoleh data massa molekul berdasarkan percobaan sebesar
160,7

gram

/mol. Bila dibandingkan dengan data literatur besar massa molekul asam sitran

anhidrat yaitu 192,14 gram/mol, maka dapat kita lihat selisih keduanya sebesar 31,44

gram

/mol.

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor pada saat praktikum, seperti kesalahan dalam
memasukkan nilai volume yang dibutuhkan karena adanya kesalahan paralaks dari
pengamat atau kesalahan pada saat titrasi, dalam arti volume titran yang digunakan lebih
besar dari pada volume yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. Hal ini sangat
berpengaruh terhadap besar kecilnya besar massa molekul, karena bila kita tinjau dari
rumus perhitungannya, maka dapat dikatakan hubungan antara volume titran yang
digunakan untuk mencapai titrasi dengan besarnya massa molekul itu berbanding
terbalik. Ini artinya, semakin besar volume titran yang digunakan maka nilai massa
molekul semakin kecil.
Pada percobaan ketiga, bertujuan untuk menentukan besarnya harga berat dan
kadar molekul asam sitrat yang terkandung dalam citroen zuur. Metode yang digunakan
masih sama yaitu dengan titrasi. Dan dalam percobaan ini yang berperan sebagai analit
adalah larutan citroen zuur, sedangkan titrannya masih sama yaitu NaOH yang telah
terstandarisasi. Dan indikator yang digunakan masih sama yaitu fenolftalein. Untuk
menentukan besarnya berat dan kadar dari molekul asam sitrat, data yang dibutuhkan
adalah volume rata-rata titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik titrasi dari tiga kali
percobaan yang dilakukan, massa molekul relatif asam sitrat dari hasil percobaan titrasi,
konsentrasi titran dan jumlah ekivalen dari asam sitrat. Bisa ditinjau dari tabel
perhitungan besar atau banyaknya asam sitrat yang terkandung dalam citroen zuur 0,06
gram adalah sebesar 0,596 gram. Bila berat asam sitrat sudah diperoleh maka kita dapat
menentukan kadar asam sitrat yang ada di dalam citroen zuur. Hasilnya kamiperoleh 99,3
% kadar asam sitrat dalam citroen zuur.
Dan pada percobaan kedua dan ketiga, dapat kita perhatikan bahwa terjadi reaksi
antara analit dan titran, dan persamaan reaksinya dapat dilihat pada tabel persamaan
reaksi, produk yang dihasikan adalah Na3(C6H5O7) dan molekul air.

H. KESIMPULAN
Kesimpulan praktikum ini adalah :
1. Volumetri merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip
pengukuran volume.
2. Standarisasi adalah proses yang mana konsentrasi suatu larutan dapat dipastikan
dengan tepat.
3. Konsentrasi NaOH berdasarkan percobaan standarisasi basa sebesar 0,10 M.
4. Berat molekul asam sitrat melalui percobaan titrasi asam sebesar 160,7 gram/mol.

5. Berat molekul asam sitrat melalui percobaan titrasi asam lebih kecil dari pada berat
molekul berdasarkan literatur.
6. Kadar asam sitrat dalam citroen zuur sebesar 99,3%.
I. DAFTAR PUSTAKA
Suhendar, Dede.2013.Buku Panduan Praktikum Kimia Dasar.Bandung:UIN Sunan
Gunung Djati.
Chang, Raymond.2004.Kimia Dasar Konsep-konsep Inti Jilid II.Jakarta:Erlangga.
JR,R.A. Day dan A.L. Underwood.1986.Analisis Kimia Kuantitatif Edisi
Kelima.Jakarta:Erlangga.
Suhanda,

Hokcu.

Metode

Titrimetri

dikenal

juga

sebagai

Volumetri ?.file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR_PEND._KIMIA/1966111519
91011-HOKCU-SUHANDA/VOLUMETRI/TITRIMETRI.pdf.

(diakses

pada

Minggu, 5 April 2015)


RS,

Boggy.Asam

Sitrat.notebooksaya.blogspot.com/2012/03/asam-

sitrat.html (diakses pada Minggu, 5 April 2015).

LAMPIRAN

Statif, Klem, dan Buret

Gelas Kimia dan

Erlenmeyer

Fenolftalein

Larutan NaOH 0,1 M

Citroen Zuur

Sifat-sifat
Umum
Nama

Asam sitrat

Rumus

C6H8O7, atau:

kimia
CH2(COOH)COH(COOH)CH2(CO
OH)
Bobot

192,13 u

rumus
Nama lain

asam 2-hidroksi-1,2,3propanatrikarboksilat
Sifat perubahan fase

Titik

426 K (153 C)

lebur
Temperat

448 K (175 C)

ur
pengurai
an termal
Sifat asam-basa
pKa1

3,15

pKa2

4,77

pKa3

6,40
Sifat padatan

fH

-1543,8 kJ/mol

252,1 J/(molK)

Cp

226,5 J/(molK)

Densitas

1,665 103 kg/m3


Keamanan

Efek akut

Menimbulkan iritasi kulit dan


mata.

Efek

Tidak ada.

kronik

Sifat umum asam sitrat

NaOH
Nama sistematis Natrium hidroksida
Nama lain Soda kaustik
Rumus Molekul NaOH
Densitas
Titik leleh
: Titik didih
Kelarutan dalam air
Massa molar
Penampilan
Titik nyala

2,1 g/ cm3, padat


318oC (591 K)
1390oC (1663 K)
111 g/ 100 mL (20oC)
39,9971 g/mol
zat padt putih
tidak mudah terbakar

Sifat umum NaOH


Pre-Test
1. Apa standar primer yang kita gunakan ?
Jawab : standar primer yang dgunakan adalah asam oksalat
dihidrat.
2. Mengapa harus melakukan penambahan larutan NaOH tetes
pertetes ?
Jawab : agar titik akhir titrasi dapat diketahui secara sempurna,
karena

penambahan

satu

tetes

titran

saja

dapat

mempengaruhi warna dari analitnya. Hal ini disebabkan


karena adanya tanggapan dari indikator atas volume titran
yang berlebih. Dan titik akhir titrasi ditentukan dengan warna
merah

muda,

apabila

warna

ini

telah

muncul

maka

penambahan satu tetes saja dapat merubah warna secara


signifikan, bila hal ini terjadi maka data volume yang ada
tidak dapat digunakan.
3. Apakah cara penentuan kadar sitrat seperti pada prosedur dapat
pula dilakukan pada penentuan kadar asam sitrat dari jeruk nipis ?
Jelaskan !

Jawab : dapat digunakan prosedur yang sama dalam menentukan


kadar asam sitrat dalam jeruk nipis, yang memberdakan
hanyalah pada saat pengambilan sampel saja, pada jeruk
nipis yang digunakakn untuk percobaan adalah bagian
dagingnya yang ditimbang kemudian dilakukan prosedur
yang sama. Prosedur ini disebut alkalimetri merupakan teknik
analisis kimia berupa titrasi yang menyangkut asam dan
basa.
Post-Test
1. Sumber-sumber apa saja dalam percobaan ini yang dapat
menyumbangkan kesalahan ?
Jawab : yang menyumbangkan kesalahan dapat berupa kesalahan
paralaks ketika mencatat volume titran yang terpakai pada
buret dan volume titran yang digunakan lebih besar dari
pada volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titrasi.
Hal

ini

disebabkan

karena

volumetri

didasarkan

pada

pengukuran volum.
2. Apakah reaksi-reaksi lain asam basa (misalnya reaksi redoks atau
matatesis) prinsipnya dapat dipakai untuk menentukan kadar zatzat yang mengalami reaksi-reaksi tersebut ? Jelaskan alasannya !
Jawab : Bila reaksi metatesis tidak dapat menentukan kadar zat
karena pada perinsipnya reaksi tersebut ditujukkan untuk
menentukan pengukuran energi potensial yang ada dalam
larutan.
3. Carilah kurva titrasi untuk reaksi asam sitrat dan NaOH, dan berilah
penjelasan secukupnya dikaitkan dengan keperluan memperjelas
dan membahas eksperimen ini!
Jawab :