Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

AIK STUDI AL-QURAN


MODEL PENAFSIRAN AL-QURAN

Disusun Oleh :
AGUS RAHMAT
130631003

FKIP MATEMATIKA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat,
sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam
dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang
ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen mata kuliah AIK Studi AlQuran serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil,
sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.

Kami menyadari sekali, di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta
banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian
kepada Dosen AIK Studi Al-Quran serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menuruti
egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih
menyempurnakan makalah-makah kami di lain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa yang kami
susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau
menyempurnakan lagi makalah yang bertemakan Pendidikan Karakter sebagai tambahan dalam
menambah referensi yang telah ada.

Cirebon,

Penyusun

Oktober 2014

DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi
1.

ii

Pendahuluan

a) Rumusan Masalah

2.

b) Tujuan

Pembahasan

a) Pengertian Model-Model Tafsir dalam Al-Quran


b) Model-Model Tafsir dalam Al-Quran

Model Penafsiran Dr. Quraish Shihab 2

Model bercorak Matsur (Riwayat)

Model Penalaran
o
o
o
o

Metode
Metode
Metode
Metode

Ijmali
2
Tahlili
3
Muqarin (Perbandingan)
MaudluI (Tematik) 6

Tafsir Sufistik

Tafsir Fiqih 7
Tafsir Falsafi

Tafsir Al-Faraby

Tafsir Ikhwan As Shafa 8


Tafsir Ibnu sina

Tafsir Ilmi 9
Tafsir Adabi-IjtimaiI
9
Model Ahmad Al-Syarbashi 10
Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali 10
Model Lain 10
3.

Penutup 10
a) Kesimpulan 10
b) Saran

4.

10

Daftar Pustaka 10

PENDAHULUAN
Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk dan pembimbing manusia disetiap
ruang dan waktu. Al-Quran juga akan mengantarkan dan mengarahkan kejalan yang lurus.
Agar kita dapat mengamalkan Al-Quran dan mengikuti petunjuknya dengan baik, untuk
memahami dengan jelas apa yang dimaksudkan dalam kitab suci-Nya itu, sangat tergantung pada
pemahaman kita terhadap Al-Quran. Kebenaran dalam menafsirkan ayat-ayat dan hukumhukumnya, sehingga tidak mengada-adakan suatu perkataan yang tidak dikatakan dalam Al-Quran,
menambahkan sesuatu yang tidak ada padanya, atau mengurangi sesuatu yang ada padanya,
pemahaman yang benar memerlukan kaidah dan aturan yang mampu mencegah permainan orangorang yang tidak benar.
Salah satu cara untuk memahami Al-Quran ialah menafsirkannya dengan cara yang baik,
sehingga dapat menjelaskan tujuan-tujuannya, menerangkan makna-maknanya, menyikap tabir
untuk mendapatkan rahasia dan kandungannya membuka tutupnya untuk akal dan hati. Dengan
demikian maka harus menemukan makna-makna firman Allah SWT saat menafsirkan Al-Quran,
sehingga untuk memahami Al-Quran harus memahami kaedah-kaedah penafsiran Al-Quran

a.

Rumusan Masalah
Apa pengertian model-model tafsir dalam Al-Quran?.
Bagaimana model-model tafsir dalam Al-Quran?.

b.

Tujuan
Agar pembaca mengetahui pengertian model-model penafsiran Al-Quran
Agar pembaca mengenal model-model penfsiran Al-Quran

PEMBAHASAN
Pengertian Model-Model Tafsir dalam Al-Quran
Istilah model dalam bahasa Indonesia bermakna pola, contoh dan ragam/corak dari suatu
yang akan dibuat atau dihasilkan. Definisi lain dari model adalah abstraksi dari system sebenarnya,
dalam gambaran yang lebih sederhana serta mempunyai tingkat presentase yang bersifat
menyeluruh, atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanya memusatkan perhatian pada
beberapa sifat dari kehidupan sebenarnya.
Adapun pengertian tafsir adalah penjelasan mengenai pengertian suatu kata, dan
penjelasan itu dapat bersifat hakiki (menurut makna kata itu sendiri), tetapi dapat pula bersifat
majazi (tidak menurut makna katanya), namun masih dalam kerangka maksudnya. Sedangkan tafsir
menurut al-Kilabi, tafsir adalah menjelaskan Al-Quran, menerangkan maknanya, dan menjelaskan
apa yang dikehendaki nash, isyarat, atau tujuan-nnya. Jadi model-model tafsir adalah ragam / corak
dan abstraksi dalam menjelaskan Al-Quran, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang
dikehendaki nash, isyarat, atau tujuannya.
o

Model-Model Tafsir dalam Al-Quran.


Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab (1944) model penafsiran Quran yang dikenal yaitu:
Model Bercorak Al-Matsur (Riwayat)
Penafsiran yang berbentuk riwayat atau apa yang sering disebut dengan tafsir bi
al-matsur adalah bentuk penafsiran yang paling tua dalam sejarah kehadiran tafsir dalam
khazanah intelektual Islam. Tafsir ini sampai sekarang masih terpakai dan dapat di jumpai
dalam kitab-kitab tafsir seumpama tafsir al-Thabari, Tafsir ibn Katsir, dan lain-lain.
Dalam tradisi studi Al-Quran klasik, riwayat merupakan sumber penting di dalam
pemahaman teks Al-Quran. Sebab, Nabi Muhammad SAW. diyakini sebagai penafsir

pertama terhadap Al-Quran. Dalam konteks ini, muncul istilah metode tafsir riwayat.
Pengertian metode riwayat, dalam sejarah hermeneutik Al-Quran klasik, merupakan suatu
proses penafsiran Al-Quran yang menggunakan data riwayat dari Nabi SAW. dan atau
sahabat, sebagai variabel penting dalam proses penafsiran Al-Quran. Model metode tafsir
ini adalah menjelaskan suatu ayat sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dan atau para
sahabat.
Para ulama sendiri tidak ada kesepahaman tentang batasan metode tafsir riwayat.
Al-Zarqani, misalnya, membatasi dengan mendefinisikan sebagai tafsir yang diberikan
oleh ayat Al-Quran. Sunnah Nabi, dan para sahabat.[11] Ulama lain, seperti Al-Dzahabi,
memasukkan tafsir tabiin dalam kerangka tafsir riwayat, meskipun mereka tidak menerima
tafsir secara langsung ari Nabi Muhammad SAW. Tapi, nyatanya kitab-kitab tafsir yang
selama ini diklaim sebagai tafsir yang menggunakan metode riwayat, memuat penafsiran
mereka, seperti Tafsir Al-Thabari.[12] Sedang Al-Shabuni memberikan pengertian lain
tentang tafsir riwayat. Menurutnya tafsir riwayat adalah model tafsir yang bersumber dari
Al-Quran, Sunnah dan atau perkataan sahabat.[13] Definisi ini nampaknya lebih terfokus
pada material tafsir dan bukan pada metodenya. Ulamat Syiah berpandangan bahwa tafsir
riwayat adalah tafsir yang dinukil dari Nabi dan para Imam Ahl-bayt. Hal-hal yang dikutib
dari para sahabat dan tabiin, menurut mereka tidak dianggap sebagai hujjah.[14]
Dari segi material, menafsirkan Al-Quran memang bisa dilakukan dengan
menafsirkan antarayat, ayat dengan hadits Nabi, dan atau perkataan sahabat. Namun
secara metodologis bila kita menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat lain dan atau dengan
hadits, tetapi proses metodologisnya itu bukan bersumber dari penafsiran yang dilakukan
Nabi, tentu semua itu sepenuhnya merupakan hasil intelektualisasi penafsir. Oleh karena
itu, meskipun data materialnya dari ayat dan atau hadits Nabi dalam menafsirkan AlQuran, tentu ini secara metodologis tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai metode tafsir
riwayat.
Jadi, terlepas dari keragaman definisi yang selama ini diberikan para ulama ilmu
tafsir tentang tafsir riwayat di atas, metode riwayat di sini bisa didefinisikan sebagai
metode penafsiran yang data materialnya mengacu pada hasil penafsiran Nabi
Muhammad SAW. yang ditarik dari riwayat pernyataan Nabi dan atau dalam bentuk asbab
al-nuzul sebagai satu-satunya sember data otoritatif. Sebagai salah satu metode, model
metode riwayat dalam pengertian yang terakhir ini tentu statis, karena hanya tergantung
pada data riwayat penafsiran Nabi. Dan juga harus diketahui bahwa tidak setiap ayat
mempunyai asbab al-nuzul.[15] .
Kelebihan dari metode ini antara lain:
Mementingkan aspek bahasa dalam memahami Al-Quran, memaparkan ketelitian redaksi
ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.
Mengikat mufassir dalam bingkai teks ayat-ayat sehingga mencegahnya terjerumus ke
dalam subyektivitas.
Sedang kekurangannya:
Terjerumusnya mufassir ke dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang berteletele.
Seringkali konteks turunnya ayat (uraian asbabun nuzul) atau sisi kronologis turunnya
ayat-ayat hokum hamper dapat terabaikan sama sekali.

Model Penalaran
al-Tafsir al-Ijmali (global)
Yang dimaksud dengan metode al-Tafsir al-Ijmali (global) ialah suatu metoda tafsir
yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan cara mengemukakan makna global.[20]
Pengertian tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Quran secara ringkas tapi mencakup
dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti dan enak dibaca. Sistematika
penulisannya menurut susunan ayat-ayat di dalam mushhaf. Di samping itu penyajiannya
tidak terlalu jauh dari gaya bahasa AL-Quran sehingga pendengar dan pembacanya
seakan-akan masih tetap mendengar Al-Quran padahal yang didengarnya itu tafsirnya.
[21]

Kitab tafsir yang tergolong dalam metode ijmali (global) antara lain : Kitab Tafsir AlQuran al-Karim karangan Muhammad Farid Wajdi, al-Tafsir al-Wasith terbitan Majma alBuhuts al-Islamiyyat, dan Tafsir al-Jalalain, serta Taj al-Tafasir karangan Muhammad
Utsman al-Mirghani.
Ciri-ciri Metode Ijmali
Dalam metode ijmali seorang mufasir langsung menafsirkan Al-Quran dari awal
sampai akhir tanpa perbandingan dan penetapan judul. Pola serupa ini tak jauh berbeda
dengan metode alalitis, namun uraian di dalam Metode Analitis lebih rinci daripada di
dalam metode global sehingga mufasir lebih banyak dapat mengemukakan pendapat dan
ide-idenya. Sebaliknya di dalam metode global, tidak ada ruang bagi mufasir untuk
mengemukakan pendapat serupa itu. Itulah sebabnya kitab-kitab Tafsir Ijmali seperti
disebutkan di atas tidak memberikan penafsiran secara rinci, tapi ringkas dan umum
sehingga seakan-akan kita masih membaca Al-Quran padahal yang dibaca tersebut
adalah tafsirnya; namun pada ayat-ayat tertentu diberikan juga penafsiran yang agak luas,
tapi tidak sampai pada wilayah tafsir analitis.
Metode Tahliliy (Analisis)
Yang dimaksud dengan Metode Tahliliy (Analisis) ialah menafsirkan ayat-ayat AlQuran dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang
ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya, sesuai
dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.
Kalau kita lihat dari bentuk tinjauan dan kandungan informasi yang terdapat dalam
tafsir tahliliy yang jumlah sangat banyak, dapat dikemukakan bahwa paling tidak ada tujuh
bentuk tafsir, yaitu : [22] Al-Tafsir bi al-Matsur, Al-Tafsir bi al-Rayi, Al-Tafsir al-Fiqhi, AlTafsir al-Shufi, At-Tafsir al-Ilmi, dan Al-Tafsir al-Adabi al-Ijtimai.
Sebagai contoh penafsiran metode tahliliy yang menggunakan bentuk Al-Tafsir bi alMatsur (Penafsiran ayat dengan ayat lain), misalnya : kata-kata al-muttaqin (orang-orang
bertakwa) dalam ayat 1 surat al-Baqarah dijabarkan ayat-ayat sesudahnya (ayat-ayat 3-5)
yang menyatakan :







Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan salat, dan
menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman
kepada Kitab (al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah
diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akherat. Mereka
itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka orang-orang yang
beruntung.
Ciri-ciri Metode Tahlili
Pola penafsiran yang diterapkan para penafsir yang menggunakan metode tahlili
terlihat jelas bahwa mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayatayat Al-Quran secara komprehenshif dan menyeluruh, baik yang berbentuk al-matsur,
maupun al-ray, sebagaimana. Dalam penafsiran tersebut, Al-Quran ditafsirkan ayat demi
ayat dan surat demi surat secara berurutan, serta tak ketinggalan menerangkan asbab alnuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan.
Penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk matsur (riwayat)
atau ray (pemikiran). Diantara kitab tahlili yang mengambil bentuk matsur (riwayat)
adalah :
Jami al-Bayan an Tawil al-Quran al-Karim, karangan Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H)
dan terkenal dengan Tafsir al-Thabari.
Maalim al-Tanzil, karangan al-Baghawi (w. 516 H)
Tafsir al-Quran al-Azhim, karangan Ibn Katsir; dan
Al- Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Matsur, karangan al-Suyuthi (w. 911 H)
Adapun tafsir tahlili yang mengambil bentuk ray banyak sekali, antara lain :
Tafsir al-Khazin, karangan al-Khazin (w. 741 H)
Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Tawil, karangan al-Baydhawi (w. 691 H)

Al-Kasysyaf, karangan al-Zamakhsyari (w. 538 H)


Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Quran, karangan al-Syirazi (w. 606 H)
Al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib, karangan al-Fakhr al-Razi (w. 606 H)
Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran, karangan Thanthawi Jauhari;
Tafsir al-Manar, karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935 M); dan lain-lain

Metode Muqarin (Komparatif)


Pengertian metode muqarin (komparatif) dapat dirangkum sebagai berikut :
a. Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al-Quran yang memiliki persamaan atau
kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda
bagi satu kasus yang sama;
b. Membandingkan ayat Al-Quran dengan Hadits Nabi SAW, yang pada lahirnya terlihat
bertentangan;
c. Membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan Al-Quran.
Jadi dilihat dari pengertian tersebut dapat dikelompokkan 3 objek kajian tafsir,
yaitu[23] :
Membandingkan ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran yang lain;
Mufasir membandingkan ayat Al-Quran dengan ayat lain, yaitu ayat-ayat yang
memiliki persamaan redaksi dalam dua atau lebih masalah atau kasus yang berbeda; atau
ayat-ayat yang memiliki redaksi berbeda dalam masalah atau kasus yang (diduga) sama.
Al-Zarkasyi mengemukakan delapan macam variasi redaksi ayat-ayat Al-Quran,[24]
sebagai berikut :
(a)
Perbedaan tata letak kata dalam kalimat, seperti :

Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk (QS
: al-Baqarah : 120)

Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah (QS
: al-Anam : 71)
(b)

Perbedaan dan penambahan huruf, seperti :





Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah
kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman (QS :
al-Baqarah : 6)



Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah
tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidakakan beriman (QS : Yasin:
10)

(c)
Pengawalan dan pengakhiran, seperti :

...yang membaca kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada


mereka al-Kitab (al-Quran) dan al-Hikmah serta mensucikan mereka (QS. AlBaqarah :129)

...yang membaca ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan


mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Quran) dan al-Hikmah (QS. Al-Jumuah :
2)
(d)

Perbedaan nakirah (indefinite noun) dan marifah (definte noun), seperti :





...mohonkanlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha


Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat : 36)


...mohonkanlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar


lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Araf : 200)
(e) Perbedaan bentuk jamak dan tunggal, seperti :


...Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa
hari saja. (QS. Al-Baqarah : 80)


...Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa
hari yang dapat dihitung. (QS. Ali-Imran : 24)
(f)

Perbedaan penggunaan huruf kata depan, seperti :









Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini, dan makanlah
... (QS. Al-Baqarah : 58)







Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini, dan makanlah
... (QS. Al-Araf : 161)

(g)

Perbedaan penggunaan kosa kata, seperti :








Mereka berkata : Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
(alfayna) dari (perbuatan) nenek moyang kami. (QS. Al-Baqarah : 170)






Mereka berkata : Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
(wajadna) dari (perbuatan) nenek moyang kami. (QS. Luqman : 21)
Dalam mengadakan perbandingan antara ayat-ayat yang berbeda redaksi tersebut
di atas, ditempuh beberapa langkah : (1) menginventa-risasi ayat-ayat al-Quran
yang memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama atau yang sama dalam
kasus berbeda, (2) Mengelompokkan ayat-ayat itu berdasarkan persamaan dan
perbedaan redaksinya, (3) Meneliti setiap kelompok ayat tersebut dan

menghubungkannya dengan kasus-kasus yang dibicarakan ayat bersangkutan, dan


(4) Melakukan perbandingan.
Membandingkan ayat dengan Hadits;
Mufasir membandingkan ayat-ayat al-Quran dengan hadits Nabi saw yang
terkesan bertentangan. Dan mufasir berusaha untuk menemukan kompromi antara
keduanya. Contoh perbedaan antara ayat al-Quran surat al-Nahl/16 : 32 dengan
hadits riwayat Tirmidzi dibawah ini :
Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan
(QS. Al-Nahl : 32)
Tidak akan masuk seorang pun diantara kamu ke dalam surga disebabkan
perbuatannya (HR. Tirmidzi)
Antara ayat al-Quran dan hadits tersebut di atas terkesan ada pertentangan.
Untuk menghilangkan pertentangan itu, al-Zarkasyi mengajukan dua cara :
Pertama, dengan menganut pengertian harfiah hadits, yaitu bahwa orang-orang
tidak masuk surga karena amal perbuatannya, tetapi karena ampunan dan rahmat
Tuhan. Akan tetapi, ayat di atas tidak disalahkan, karena menurutnya, amal
perbuatan manusia menentukan peringkat surga yang akan dimasukinya. Dengan
kata lain, posisi seseorang di dalam surga ditentukan amal perbuatannya.
Pengertian ini sejalan dengan hadits lain, yaitu :
Sesungguhnya ahli surga itu, apabila memasukinya, mereka mendapat posisi di
dalamnya berdasarkan keutamaan perbuatannya. (HR. Tirmidzi)
Kedua, dengan menyatakan bahwa huruf ba pada ayat di atas berbeda konotasinya
dengan yang ada pada hadits tersebut. Pada ayat berarti imbalan, sedangkan pada
hadits berarti sebab.
Membandingkan pendapat para mufasir.
Mufasir membandingkan penafsiran ulama tafsir, baik ulama salaf maupun
ulama khalaf, dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, baik yang bersifat manqul
(al-tafsir al-matsur) maupun yang bersifat rayu (al-tafsir bi al-rayi).
Manfaat yang dapat diambil dari metode tafsir ini adalah : 1) membuktikan
ketelitian al-Quran; 2) membuktikan bahwa tidak ada ayat-ayat al-Quran yang
kontradiktif; 3) memperjelas makna ayat; dan 4) tidak menggugurkan suatu hadits
yang berkualitas sahih.
Sedang dalam hal perbedaan penafsiran mufasir yang satu dengan yang yang
lain, mufasir berusaha mencari, menggali, menemukan, dan mencari titik temu di
antara perbedaan-perbedaan itu apabila mungkin, dan mentarjih salah satu
pendapat setelah membahas kualitas argumentasi masing-masing.
Ciri-ciri Metode Muqarin
Perbandingan adalah ciri utama bagi Metode Komparatif. Disini letak salah satu
perbedaan yang prinsipil antara metode ini dengan metode-metode lain. Hal ini
disebabkan karena yang dijadikan bahan dalam memperbandingkan ayat dengan
ayat atau ayat dengan hadits, adalah pendapat para ulama tersebut dan bahkan
dalam aspek yang ketiga. Oleh sebab itu jika suatu penafsiran dilakukan tanpa
membandingkan berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tafsir, maka
pola semacam itu tidak dapat disebut metode muqarrin.
Metode Mawdhuiy (Tematik)
Yang dimaksud dengan metode mawdhuiy ialah membahas ayat-ayat Al-Quran
sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan,
dihimpun. Kemudian dikahi secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang
terkait dengannya seperti asbab al-nuzul, kosa kata dan sebagainya. Semuanya
dijelaskan secara rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah; baik argumen itu berasal dari AlQuran dan Hadits, maupun pemikiran rasional.

Ciri-ciri Metode Mawdhuiy


Yang menjadi ciri utama metode ini ialah menonjolkan tema, judul atau topik
pembahasan; sehingga tidak salah bila di katakan bahwa metode ini juga disebut
metode topikal. Jadi mufasir mencari tema-tema atau topik-topik yang ada si
tengah masyarakat atau berasal dari Al-Quran itu sendiri, ataupun dari yang lain.
Kemudian tema-tema yang sudah dipilih itu dikaji secara tuntas dan menyeluruh
dari berbagai aspek, sesuai dengan kapasitas atau petunjuk yang termuat di dalam
ayat-ayat yang ditafsirkan tersebut. Artinya penafsiran yang diberikan tak boleh
jauh dari pemahaman ayat-ayat Al-Quran, agar tidak terkesan penafsiran tersebut
berangkat dari pemikiran atau terkaan belaka (al-Ray al-Mahdh).
Sementara itu Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawy seorang guru besar pada Fakultas
Ushuluddin Al-Azhar, dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhui
mengemukakan secara rinci langkah-langkah yang hendak ditempuh untuk
menerapkan metode mawdhui. Langkah-langkah tersebut adalah :
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
(f)
(g)

Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik);


Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut;
Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan
tentang asbab al-nuzulnya;
Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing;
Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (out-line);
Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok
bahasan;
Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan
menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau
mengkompromikan antara yang am (umum) dan yang khas (khusus), mutlak
dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga
kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perdebatan atau pemaksaan.
[25].

Tafsir sufistik
Tafsir sufi atau yang lebih dikenal dengan istilah tafsir Isyari, secara etomologis berasal
dari asal kata asyara-yusyiru-isyaratan yang berarti memberi isyarat atau petunjuk. Jadi kata
Isyari berfungsi sebagai keterangan sifat bagi lafal tafsir dengan demikian tafsir Isyari
berarti: sebuah penafsiran Al-Quran yang berangkat dari isyarat atau petunjuk. Artinya
penafsiran diberikan sesuai dengan isyarat atau petunjuk yang diterima oleh mufassirnya
melalui ilham. Para ahli tasawuf inilah yang banyak menafsirkan Al-Quran melalui isyarat yang
mereka terima. Oleh karena itulah tafsir Isyari disebut juga tafsir sufi.
Corak tafsir sufi yang lahir sebagai akibat dari timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi
dari kecenderungan berbagai pihak terhadap materi telah mempunyai ciri khusus atau karakter
yang membedakannya dari tafsir lainnya. Tafsir sufi ini telah didominasi paham sufi yang dianut
oleh mufassirnya karena memang tasawuf telah menjadi minat dasar bagi mufassir,
sebelumnya dia melakukan usaha penafsiran atau juga bahwa penafsirannya itu hanya untuk
legitimasi atas pendapatnya dalam hal ini adalah paham tasawuf Jadi Penafsiran sufistik
Melakukan penafsiran dengan bercorak kerohanian/tasawuf. Contoh penafsiran sufistik, yaitu
penafsiran al-Tastary ketika menafsirkan ayat 22 dari surat al-Baqarah :

.
Artinya:
.. Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah
Kata (Anda>dan), beliau al-Tastary menafsirkan andadan yaitu nafsu amarah yang jelek.
Jadi maksud anda>dan disini bukan hanya patung-patung, setan atau jiwa tetapi nafsu amarah
yang sering dijadikan Tuhan oleh manusia adalah perihal yang dimaksud dari ayat tersebut,
karena manusia selalu menyekutukan Tuhannya dengan selalu menjadi hamba bagi nafsu
amarahnya. Diantara kitab-kitab Tafsir sufistik adalah: tafsir Al-Quran al-Azhim, karya Imam attusturi (w. 283 H), Haqaqaiq at-Tafsir, karya al-Allamah As-Sulami (w. 412), Arais Aa-Bayan fi
Haqaiq Al-Quran, karya Imam asy-Syirazi (w. 283).
Tafsir Fiqih
Tafsir fiqih adalah corak tafsir yang menitikberatkan kepada pembahasan masalahmasalah fiqhiyyah dan cabang-cabangnya serta membahas perdebatan atau
perbedaan pendapat seputar pendapat-pendapat imam madzhab. Tafsir fiqih ini juga dikenal
dengan tafsir ahkam, yaitu tafsir yang lebih berorientasi kepada ayat-ayat hukum dalam Al-

Quran (ayat-ayat ahkam). Orang yang pertama berhak menyandang predikat mufassir adalah
Rasulullah SAW, kemudian para fuqaha dari kalangan sahabat mengendalikan ummat di bawah
kepemimpinan Kulafaurasyidin. Jika terdapat persoalan-persoalan baru yang belum pernah
terjadi sebelumya, maka Al-Quran merupakan tempat kembali mereka menginstinbathkan
hukum-hukum syaranya. Jadi menafsirkan Al-Quran dengan pendekatan Hukum-Hukum syara.
Contoh tafsir fiqih mengenai firman Allah surah al-Baqarah ayat 187 yaitu :


Artinya:
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa berhubungan dengan istri-istri kamu.
Dalam masalah kedua belas dari masalah yang terkandung dalam ayat ini, sesudah
mengemukakan perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum orang yang di siang hari
bulan Ramadhan karena lupa, dan mengutip pendapat malik yang mengatakan batal dan wajib
mengqadha. Ia mengatakan,menurut pendapat selain malik, tidaklah dipandang batal setiap
orang yang makan karena lupa akan puasanya, menurut pendapat Qurtubhi, ia adalah
pendapat yang benar dan jumhur pun berpendapat sama bahwa barangsiapa makan atau
minum karena lupa, ia tidak wajib mengqadhanya.
Di antara kitab tafsir fiqih adalah: Ahkam Al-Quran karya Al-Jashshash (w. 370 H),
Ahkam Al-Quran karya Ibn Al-Arabi (w. 543 H), Al-Jami li Ahkam Al-Quran karya Al-Qurthubi
(w. 671).
Tafsir Falsafi
Pendekatan ini dapat membantu memahami Al-Quran dalam upaya menjelaskan inti,
hakikat, atau hikmah mengenal sesuatu yang berada dibalik objek formalnya.
Para ulama tidak seluruhnya sepakat dengan penjelasan filsafat, bahkan di antara mereka
terjadi perbedaan dalam penerimaannya. Adapun yang diperdebatkan dalam pemakaian filsafat
adalah nilai kebenaran dan cara penelusuruannya. Penjelasan secara filosofi sangat
dibutuhkan manakala berhadapan dengan umat lain atau paham lain yang memerlukan
penjelasan rasional lebih terperinci. Misalnya, orang Persia ataupun orang Yunani yang
sebelumnya memiliki tradisi pemikiran dengan filsafatnya yang kuat, tentu saja pendekatan
filosofy dalam menyampaikan pesan Al-Quran sangatlah relevan. Oleh karenanya, bagi mereka
agama dan filsafat merupakan proses dialektika yang saling menjelaskan dan saling
mendukung untuk menemukan sebuah kebenaran dan makna bagi manusia. Contoh tafsir
falsafih yaitu:
Tafsir Al Farabi
Al-Farabi adalah roh pengerak tradisi filsafat. Ia wafat pada tahun 339 H
sebagaimana dalam kitabnya Fushush al Hikam dari sebagian ayat dan hakikat dalam
Al-Quran. Tafsirnya termasuk dalam kategori tafsir falsafy. Seperti ketika ia
menafsirkan al-awaliyah dan al-Akhirah dalam surah al-Hadid: 3
dengan penafsiran bahwa al-awal adalah wujud terdahulu yang tanpa ada yang
mendahuluinya. Awal di sini baik dari segi zaman yaitu tiada zaman yang melingkupi
maupun sesuatu besertanya. Sedangkan al-Akhirah adalah suatu ketika bersebab
karena-Nya dan bersandar kepada-Nya. DIa-lah yang menjadi tujuan akhir yang hakiki
dalam setiap pencarian, seperti tujuan kebahagiaan dalam perkataan: Kenapa engkau
minum air?, Maka jawabannya adalah untuk menghilangkan dahaga. Mengapa
menghilangkan dahaga?, agar sehat. Kenapa harus sehat?, agar bahagia dan baik,
kemudian tak ada pertanyaan yang layak mendapat jawaban daripadanya karena
kebahagiaan dan kebaikan dicari karena keadaannya tidak karena yang lain. Oleh
karena itu al-Akhir adalah akhir dari segala tujuan, awal dalam fikiran dan akhir dalam
tujuan. Dialah akhir dari arah segala zaman yang tiada yang mengakhiri lagi, dan tiada
wujud zaman akhir yang lebih akhir dari yang Haq.
Tafsir Ikhwan As Shafa
Penjelasan terhadap Al-Quran seperti di atas dapat kita temukan dalam
ikhwan al Shafa yang meskipun tidak diketahui secara tepat kapan penulisannya, akan
tetapi dapat dilacak dari hubungannya dengan sekte batiniyah Ismailiyah. Sebagian
dari penjelasannya yang terkenal adalah permasalahan surga dan neraka. Bahwa
sesunguhnya Surga adalah alam aflak, sedangkan neraka adalah alam di bawah falak
bulan, yaitu alam dunia.
Penjelasan tersebut merujuk pada surat Al- Araf ayat 50




Artinya:
Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: limpahkanlah kepada kami sedikit air
atau makanan yang telah direzkikan Allah kepadamu. Mereka (penghuni syurga)
menjawab: sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang
kafir.
Dengan demikian para mufassir menyatakan bahwa para malaikat berada pada
bintang-bintang aflak dan berkata: Sesunguhnya bintang-bintang falak adalah malaikat
Allah dan raja langit.. Allah menciptakan untuk menjaga alam semesta, dan
mendampingi mahluknya, dan membantu kepemimpinannya, dan meraka adalah
pengelola Allah di aflak-Nya, seperti makhluk Bumi yang ditugaskan Allah di bumi. Atas
dasar pemikiran ini Ikhwanu Shafa berpendapat: Jiwa orang mukmin setelah terpisah
dari jasadnya akan menuju ke alam malakut langit dan memasuki alam malaikat, hidup
dengan roh suci, suci di alam aflak. Dalam tingkatan langit: farhah, masrurah,
munimah, mutaldzdadh, mukaramah, mughtabithoh. Dan mereka menyatakan bahwa
demikian itu adalah makna Allah azza wajalla dalam Surat Fathir ayat 10 :

........

Artinya:
Kepadanya-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh
dinaikkan-Nya.
Tafsir Ibnu sina
Ibnu Sina digambarkan seperti seseorang muslim yang di tangan kanannya
terdapat Al Quran dan di tangan kirinya terdapat ilmu filsafat, sehingga ia sanggup
memadukan dengan jernih antara agama dan filsafat. Ia mengsikronkan antara nashnash Al-Quran dengan pandangan-pandangan filsafat yang keduanya berada saling
berdialektika.
Pandangan Ibnu Sina terhadap Al-Quran dan Filsafat adalah memahami pandangan
filsafat dalam Al-Quran dan menjelaskan Al-Quran dengan filsafat. Adapun metodologi
yang digunakan Ibnu Sina yaitu menjelaskan makna hakikat agama dengan pemikiran
filsafat. Hal ini didasarkan bahwa sesungguhnya Al-Quran adalah tak terkecuali
dengan beberapa ketentuan yang ketentuan itu oleh Nabi Muhammad saw terpancang
pada makna hakikat yang terkandung.
Atas dasar pemikiran ini, menurut Ibnu Sina bahwa nash-nash Al-Quran tidak
diketahui hakikatnya kecuali dengan kekhususan yang terkandungnya, maka tugas
para mufassir untuk menjelaskan beberapa hukum yang terkandung di dalamya dengan
perspektif filsafat serta tidak menyimpang dari ruh Al-Quranul Karim.
Mislanya, Ibnu Sina dalam memberikan penjelasan pada surat al-Haqqah ayat 17:


Artinya:
..... dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas (kepala)
mereka.
Ia menafsirkan arasy dengan al-falak ke sembilan yang merupakan falaknya aflak. Dan
menafsirkan malaikat kedelapan yang mencakup arasy sebab aflak kedelapan terdapat
di bawah aflak kesembilan.
Melalui pendekatan filosofis, seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama
bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan memiliki makna apa-apa,
kosong tanpa arti. Namun sebaliknya yaitu mendapatkan hakikat batin eksoterik dalam
mengamalkan ibadah. Kitab tafsir falasafi yaitu kitab Mafatih Al-Ghaib karya Al-Fakhr
Ar-Razi (w. 606 H).
Tafsir Ilmi

Al-Quran mendorong pula pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Quran mendorong ummat Islam
untuk memerdekakan akal dari belenggu keraguan, melepaskan belenggu-belenggu berfikir, dan
mendorongnya untuk mengamati fenomena alam. Allah telah mendorong kita untuk mengamati
ayat-ayat kauniah, di samping ayat-ayat Quraniah. Jadi pendekatan ini menafsirkan ayat-ayat
Al-Quran yang berkaitan dengan feneomena-fenomena alam. Contoh penafsiran Ilmi, ayat 58
surat ke-7 (al-A'raf). Ayat ini menunjukan bahwa walaupun Tuhan dengan kehendak-Nya
diperlukan bagi tumbuhnya tanam-tanaman, kecocokan tanah juga merupakan syarat tumbuhnya
tanaman tersebut, karena tidak semua tanaman dapat tumbuh pada setiap tanah. Maka dengan
kecocokan tanah, Tuhan menjadikan tanaman itu mungkin untuk tumbuh.
Di antara ulama tafsir yang mendalami tafsir Ilmi adalah: Imam Fakh Al-Razi didalam Tafsir AlKabir, Imam Al-Ghazali di dalam Ihya Ulumuddin dan Jawahir Al-Quran, Imam As-suyuthi di
dalam Tafsir Ilmi ini.
Tafsir Adabi-IjtimaiI
Madrasah Tafsir Adab IjtimaiI berupaya menyingkap keindahan Al-Quran dan mukjizatmukjizatnya : menjelaskan makna dan maksudnya, memperlihatkan aturan-aturan Al-Quran
tentang kemasyarakatan, dan mengatasi persoalan yang dihadapi ummat Islam secara khusus
dan permasalahan ummat lainnya secara umum. Semua itu dengan memperhatikan petunjukpetunjuk Al-Quran yang menuntun jalan bagi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jadi corak
penafsiran tafsir adab ijtimai berorientasi pada sastra budaya kemasyarakatan.
Salah satu contoh tafsir adabi-ijtimai tafsir Bintu Syathi mengenai ayat pertama surah
Ad-Dhuha. Dalam ayat ini mencari arti linguistik dari term duha. Pemaparan beliau kemudian
dikemas dengan penyebutan beberapa bentuk (sighat) dan penggunaan yang akar katanya
adalah duha, semisal al-dahiyah (unta yang minum pada waktu duha), dahha (mengorbankan
kambing pada waktu duha), yaum adhha (hari berkumpulnya kambing yang akan disembelih pada
hari raya qurbanwaktu duha) dahiyah (langit yang terkena sinar matahari), dan bebeapa term
lain serta penyebutan maknanya. Bintu Syathi juga mengemukakan bahwa bahwa Al-Quran
menjadikan lafadz duha sebagai antonim dari lafadz asyiyyah (senja hari) pada ayat 29 dan 46
surat Al-Naziat, ayat 98 surat Al-Araf, dan ayat 59 surat Thaha. Diantara kitab tafsir adabiijtimaI adalah: tafsir Al-Manar, karya Rasyid Ridha (w. 1354 H), tafsir Al-Maraghi karya AlMaraghi (w. 1945), tafsir Al-Quran Al-Azhim karya Syaikh Mahmud Syaltut.
Model Ahmad Al-Syarbashi
Model penafsiran ini menggunakan metode deskriptif, eksploratif, dan analisis. Ruang lingkup
hasil penelitiannya mencakup:
mengenai penafsiran Al-Quran yang dibagi ke dalam tafsir di zaman sahabat Nabi.
mengenai corak tafsir yaitu tafsir ilmiah, tafsir sufi, dan tafsir politik.

Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali


Dalam model penelitian tafsir ini, metode yang dipergunakan ialah metode eksploratif, deskriptif,
dan analisis dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama terdahulu.
Model Lain
Dengan model ini, diantara mufassir ada yang memfokuskan penelitiannya pada kemujizatan AlQuran; metode-metode, dan kaidah-kaidah dalam menafsirkan Al-Quran, serta ada pula yang
khusus meneliti corak dan penafsiran Al-Quran yang terjadi pada abad keempat Hijriyah.
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan rumusan masalah maka penulis mengambil kesimpulan sebagai
berikut:
Model tafsir dalam Al-Quran merupakan corak atau kecendrungan para mufassir dalam
menjelaskan Al-Quran, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash, isyarat,
atau tujuannya.
Model-model tafsir dalam Al-Quran yaitu: tafsir sufistik (penafsiran dengan sudut pandang
kebatinan/kerohanian), tafsir fiqih (penafsiran dengan sudut pandang hukum-hukum syara), tafsir Falsafi

(penafsiran dengan sudut pandang pemikiran yang terdalam/al-hikmah), Ilmi (penafsiran dengan sudut
pandang fenomena alam), tafsir Adabi IjtimaI (penafsiran dengan sudut pandang keindahan kebahasan).
KRITIK DAN SARAN
Dalam penulisan ini, penulis tidak lepas dari hakekat manusia sebagai mahluk yang tak lepas dari
kekurangan, dengan ini kami mohon saran dan kritik membangun untuk kesempurnaan tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Farmawi, Abd Al-Hayy, Metode Tafsir Mawdhuiy: Suatu Pengantar, Cet. II; Jakarta: PT Raja Grafindo,
1996
Al-Qaththan , Syaikh Manna, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, diterjemahkan oleh. Aunuf Rafiq ElMazani, Lc. MA, Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2006
Anwar, Rosihan, Ilmu Tafsir, Cet. III; Bandung: Pustaka Setia, 2005.
As-Shiddieqy, Hasbhy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran, Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1994)
Asy-Syirbasi, Ahmad, Sejarah Tafsir Al-Quran, Cet. IV; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996
Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahannya Surabaya: CV Jaya Sakti Surbaya, 1997.
Fahruddin, Achmad, Al-Quran Digital:Versi 2.0 2004
H. Aunuf Rafiq El-Mazani, Lc. MA, Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2006
http://uin-suka.info/ejurnal/index.php?option=com_content&task=view&id=38&Itemid=28, 13-april-2010.
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, Cet. I; Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2007
Shihab, Quraish, membumikan Al-Quran, Mizan, bandung, 1992
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 1990
Zainul, hasan Rifai, Al-Quran; kisah Israiliyat dalam penafsiran Al-Quran, tertulis dalam Al-Hikmah;
Jurnal Studi-Studi Islam, No. 13; Bandung: Yayasan Muthahhari, 199