Anda di halaman 1dari 7

INTRODUKSI IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) DI

PERAIRAN TAWAR DI INDONESIA


ESSAY
Oleh Tiara Dwi Nurmalita
NIM 120342400172 (G-HE)
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Biokonservasi
Yang Dibina Oleh Prof Dr. Ir. Suhadi, M.Si.

Klasifikasi Ikan Guppy (Poecilia reticulata)


Ikan Guppy (Poecilia reticulata) merupakan ikan yang
berasal dari Ordo Cyprinodontiformes, Subordo Cyprinodontoidei,
Suprfamili Poeciloidea, Famili Poeciliidae, Subfamili Poeciliinae,
Supertribe Poeciliini, Tribe Poeciliini, Genus Poecilia, dan Spesies
Poecilia reticulata. Ikan Guppy di Indonesia biasa dikenal dengan
sebutan ikan seribu atau ikan gatul.
Asal dan Sejarah Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Ikan Guppy merupakan spesies ikan neotropis dan asli
berasal dari Kepulauan Karibian (Netherlands Antilles, Trinidad
dan Tobago, Barbados, Windward dan Kepulauan Leeward),
Venezuela dan kepulauan dekat pantai, Guyana, dan Brazil
Bagian utara. Ikan tersebut telah diintroduksikan ke 50 negara
yaitu negara-negara yang ada di Australia-Pasifik, Eropa, Amerika
Utara, Amerika Selatan, dan Asia, termasuk Indonesia (Webb
et.al., 2007).
Sejarah Ikan Guppy di Negara asalnya dapat dilihat melalui
beberapa penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan. Penelitian
mengenai populasi alami ikan Guppy Trinidarian dilaporkan oleh
Magurran mengenai variasi morfologi geografis, tingkah laku,
dan karakteristik sejarah kehidupannya, terutama menerangkan
tentang variasi dalam rezim predator (Jourdan et al., 2014).
Dalam

beberapa

generasi

setelah

melakukan

eksperimen

modifikasi rezim predator, Reznick melaporkan bahwa populasi

ikan Guppy merespon dengan adanya sebuah kematangan


seksual pasangan yang lebih awal dan peningkatan ukuran
keturunan yang lebih kecil pada saat kelahiran. Jordan et al
(2014)

menerangkan

perubahan secara

bahwa

kemampuan

untuk

merespon

cepat membuat ikan Guppy berpotensi

menjadi spesies ikan yang invasif. Ikan Guppy mempunyai


toleransi lingkungan yang luas dan dapat bertahan setidaknya
untuk waktu yang pendek pada kadar garam laut. Batas bawah
toleransi suhu yaitu 12C
yaitu

lebih

kemampuan

dari

400C.

bertahan

dan batas atas toleransi suhu suhu


Oleh

hidup

karena
yang

itu,

kuat

dengan
dan

adanya

kemampuan

merespon perubahan lingkungan secara cepat membuat spesies


ikan tersebut diintroduksikan ke 50 negara di seluruh dunia.
Morfologi

dan

Karakteristik

Ikan

Guppy

(Poecilia

reticulata)
Poecilia reticulata (Peters 1860) (Poeciliidae) memiliki
morfologi sebagai berikut. Mempunyai sirip dada yang posisinya
lebih tinggi daripada jenis ikan biasa. Ikan betina memiliki perut
yang membundar sementara ikan jantan memiliki tubuh yang
ramping (Rachmatika & Wahyudewantoro, 2006). Webb et al.
(2007) menambahkan bahwa ikan betina berwarna seperti buah
zaitun yang pudar dengan sirip yang transparan. Sedangkan
jantan polikromatik, yaitu memiliki wariasi kombinasi warna yang
tinggi (merah, orange, kuning, biru, dan hijau) dengan warna
putih dan hitam di bagian samping dan sirip (Namun kekurangan
variasi warna dan sirip kaudal/dorsal diperluas sebagai ornamen
atau hiasan) Firdaus et al. (Tanpa tahun) juga manambahkan
bahwa sirip ekor ikan Guppy membulat (rounded), sebuah
bulatan hitam persis di atas sirip duburnya, dan memiliki rumus
jari-jari sirip yaitu D.6; P.89, V.6; A.8.

Gambar 1 Ikan Guppy (Poecilia reticulata) (Sumber: Webb et al., 2007)

Ikan jantan memiliki panjang 3 cm, sedangkan betina


mampu mencapa 6 cm. ikan Guppy dapat hidup selama 4 1
tahun. Ikan Guppy termasuk ovovivipar dan memiliki kebiasaan
kawin poligami dengan fertilisasi secara internal. Jantan secara
aktif mendekati betina dan betina memilih pasangannya secara
selektif (Webb et al., 2007). Ikan betina dapat memproduksi 40
50 keturunan setelah periode kehamilan satu bulan. Usia matang
bagi betina Ikan Guppy yang siap untuk berbiak yaitu 90 hari.
Setiap ovari berisi 100160 telur. Betina mampu melahirkan 5
7 kali dalam sekali waktu pengeraman. Ada 50200 anakan
yang dilepas oleh ikan betina setiap 4 minggu (Fisheries
Department, tanpa tahun).
Makanan ikan Guppy yaitu zooplankton, serangga akuatik
kecil dan larvanya, detritus, dan terlur ikan (Webb et al., 2007).
Di Bangladesh, ikan Guppy mampu memakan rata-rata 41 larva
nyamuk Culex sp. setiap harinya, dengan ikan betina kira-kira
berukuran dua kali lebih besar daripada ikan jantan (Elias dalam
Seng et al., 2008). Dalam wadah penyimpanan air yang besar
ikan Guppy bertahan hidup di dalam kerapatan makanan
plankton dan alga yang rendah, dan seperti halnya dengan
kerapatan larva nyamuk, tanpa butuh makanan pelengkap (Seng
et al., 2008).
Ikan Guppy merupakan jenis ikan yang sangat kuat dan
mampu bertahan hidup pada semua tipe badan air. Ikan tersebut
memiliki derajat toleransi polusi bahan organik yang tinggi.

Rentangan suhu yang cocok untuk berbiak mulai dari 24 0C


hingga 340C. ikan Guppy dapat bertahan hidup pada air dengan
rentang pH 6,5 hingga 9,0. Meskipun begitu, ikan Guppy tidak
mampu hidup di dalam air yang dingin (di bawah 10 0C). Ikan
jantan memiliki panjang 3 cm, sedangkan betina mampu
mencapa 6 cm. ikan Guppy dapat hidup selama 4 1 tahun
(Fisheries Department, tanpa tahun).
Ikan Guppy mampu mentoleransi pencemaran air berat
yang tidak sesuai untuk habitat bagi ikan lain. Beberapa spesies
nyamuk seperti Culex pipiens quinquefasciatus dan Armigeres
subalbatus lebih suka berkembangbiak pada air yang tercemar
berat. Oleh karena itu, sejak tahun 1990-an, Poecilia reticulata
dilepaskan dan diuji kemampuannya dalam mengendalikan
nyamuk di kolam (Centre for health Protection, tanpa tahun).
Introduksi Ikan Guppy (Poecilia reticulata) di Indonesia
Pengelolaan

perairan

tawar

dapat

dilakukan

melalui

kegiatan rehabilitasi dan modifikasi habitat, konservasi populasi


ikan melalui pembentukan kawasan suaka perikanan, penebaran
ulang dan memasukan jenis ikan baru atau introduksi ikan asing
ke badan perairan. Kegiatan introduksi ikan di Indonesia sudah
sejak lama dilakukan di perairan tawar. Kegiatan introduksi
diartikan sebagai kegiatan memasukkan jenis ikan baru atau
asing dari luar kawasan perairan, yang pada awalnya ikan
tersebut tidak terdapat di perairan tersebut (Umar & Sulaiman,
2013).
Introduksi Ikan Guppy di Indonesia dilakukan pada tahun
1920 yaitu pada saat zaman penjajahan Belanda di Indonesia
yang bertujuan untuk mengendalikan larva nyamuk, seperti
nyamuk Aedes aygepty dan Culex sp., dan Armigeres subalbatus
(Umar & Sulaiman, 2013).

Namun, dengan adanya sifat Ikan Guppy yang memiliki


kemampuan bertahan hidup yang kuat, mampu merespon dan
bertahan dari perubahan lingkungan dengan cepat membuat
keberadaan ikan Guppy di perairan di Pulau Jawa menjadikannya
ikan yang invasif. Ikan yang invasif dan terbebas dari pemangsa
dan

pesaing

spesies

asing akan manjalani hidup dengan

mapan, tumbuh, dan berkembang sangat cepat di habitat baru


mereka. Mereka mengambil alih kedudukan spesies asli (yang
menjurus ke penurunan dan kepunahan) (Rahardjo, 2011).
Seperti halnya kasus yang terjadi di Sungai Citaradje
berikut. Ikan Guppy (Poecilia reticulata (Peters 1860)) yang ada
di Sungai Citaradje hidup bersama dengan ikan

Rasbora

aprotaenia, yang merupakan ikan endemik di Pulau Jawa. Kedua


ikan tersebut memiliki kebiasaan sama, yaitu makan serangga.
Namun, di Sungai Citaradje, habitat ikan Rasbora aprotaenia
sudah terganggu karena adanya penggalian pasir. Apalagi,
fekunditas atau kesuburan ikan Rasbora aprotaenia lebih rendah
(antara 6473512) dibandingkan dengan ikan Poecilia reticulata
yang memiliki kesuburan tinggi karena memiliki daya kolonisasi
tinggi yaitu seekor induk betina mampu berkembangbiak dan
menempati kisaran toleransi salinitas dan suhu air yang luas. Hal
tersebut

dapat

mengancam

habitat

serta

kehidupan

ikan

Rasbora aprotaenia (Rachmatika & Wahyudewantoro, 2006).


Pengendalian

Ikan

Guppy

(Poecilia

reticulata)

yang

Invasif
Pengendalian ikan Guppy (Poecilia reticulata) yang invasif
dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengawasan

dan

pengendalian

dan

dampak

secara

yang

terpadu,

ditimbulkan

rendahnya. Pengawasan

sehingga
dapat

dilakukan

penyebaran

ditekan
dengan

se rendahmengadakan

pembinaan secara terus menerus kepada masyarakat tentang

bahaya pelepasan ikan hias ke alam, dan Pemeliharaan dan


perbanyakan ikan asing invasive dalam unit tertutup agar
tidak lepas ke alam. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan
lalu lintas ikan antar pulau agar ikan asing invasif tidak masuk
ke wilayah baru. Pengendalian

dilakukan

dengan

melakukan

larangan re-stocking ikan asing invasif ke perairan umum.


Selain itu juga dilakukan penangkapan, dan pemusnahan ikan
spesies asing invasif yang tidak dikelola secara benar (Prayitno,
2014).
Daftar Rujukan
Webb, A., Maughan, M., & Knott, M. 2007. Pest Fish Profiles:
Poecilia
Reticulata-Guppy.
(Online)
(https://research.jcu.edu.au/tropwater/resour
ces/Guppy.pdf), diakses pada 8 Oktober 2015.
Fisheries Department. Tanpa Tahun. Guidelines On the Use of
Larvivorous
Fish
For
Vector
Control.
(Online)
(http://nvbdcp.gov.in/Doc/Guidelines-larvivorous-fish.pdf),
diakses pada 8 Oktober 2015.
Firdaus, Pulungan, Chaidir P., dan Efawani. Tanpa Tahun. A Study
on Fish Composition in the Air Hitam River, Pekanbaru, Riau
Province. Artikel tidak diterbitkan. Universitas Riau.
Centre for Health Protection. Tanpa tahun. Scientific Committee
on Vector-borne Diseases Alternative Mosquito Control
Methods.
(Online)
(http://www.chp.gov.hk/files/pdf/alternative_mosquito_contr
ol_methods_r.pdf), diakses pada 8 Oktober 2015.
Seng, Chang Mo., Setha, To., Nealton, Joshua., Socheat, Doung.,
Chantha, Ngan., & Nathan, Michael B. 2008. Communitybased Use of the Larvivorous Fish Poecilia reticulata to
Control The Dengue Vector Aedes Aegypti in Domestic
Water Storage Containers In Rural Cambodia. Journal of
Vector Ecology, 33 (1): 139144.
Rachmatika, Ika & Wahyudewantoro, G. 2006. Jenis-jenis Ikan
Introduksi di Perairan Tawar Jawa Barat dan Banten:
Catatan tentang Taksonomi dan Distribusinya. Jurnal
Ikhtiologi Indonesia, 6 (2): 9397.

Jourdan, Jonas., Miensen, Friedrich Wilhelm., Zimmer, Claudia.,


Gasch, Kristina., Herder, Fabian., Schleucher, Elke., Plath,
Martin., & Bierbach, David. 2014. On the Natural History of
an Introduced Population of Guppies (Poecilia reticulata
Peters, 1859) in Germany. Bioinvasions Records, 3 (2): 175
184.
Umar, Chairulwan & Sulaiman, Priyo Suharsono. 2013. Status
Introduksi
Ikan
dan
Strategi
Pelaksanaan
secara
Berkelanjutan di Perairan Umum Daratan di Indonesia.
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 5 (2): 113120.
Prayitno, Slamet Budi. 2014. Pengawasan dan Pengendalian Jenis
Ikan Asing Invasif. Semarang: Universitas Diponegoro.
Rahardjo, M.F. 2011. Spesies Akuatik yang invasif. (Online)
(http://limnologi.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/
downloadDatabyId/920/KSI_31_-_M.F_._Rahardjo_.pdf),
diakses pada 8 Oktober 2015.