Anda di halaman 1dari 27

LONG LIFE EDUCATION

DALAM PERSPEKTIF HADITS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah : Studi Hadis
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Nizar Ali, M.Ag

Disusun oleh:
JAMALUDDIN SHIDDIQ
1420411139
PBA-A

PRODI PENDIDIKAN ISLAM


KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Usia eksistensi dunia ini telah diperkirakan sudah sangat tua. Sejak turunnya
Adam di dunia ini menurut versi al-Quran, dan sejak homo sapiens hidup menurut
versi arkeolog-antropolog, diperkirakan dunia sudah berusia jutaan milyaran tahun.
Dari perjalanan waktu tersebut, banyak rahasia dunia yang sudah terkuak melalui
banyaknya penemuan, perkembangan keilmuan hingga kemajuan di berbagai bidang.
Namun penemuan-penemuan manusia dalam rangka memahami sebagian kecil
dari kekuasaan Allah yang terbentang di alam di dunia ini ternyata belum sepenuhnya.
Allah mengisyaratkan bahwa jikalau air lautan digunakan untuk menuliskan ilmu
Allah, niscaya lautan itu akan habis bahkan bila ditambahkan berkali-kali sebelum
seluruh ilmu-Nya Allah dituliskan.
Demikian perbandingan yang maha dahsyat kekuasaan Allah dan ilmu yang Ia
berikan kepada manusia. Namun dalam rangka mencapai kesejahteraan di dunia dan di
akhirat, manusia sudah sepatutnya mengoptimalkan petunjuk Allah berupa akal unuk
mencari dan memahami ilmu-ilmu Allah yang tersebar dimana-mana. Tugas tersebut
tentu tidak terbatas waktu sekarang saja, namun juga berlaku untuk kapanpun
sepanjang manusia hidup. Inilah kiranya konsep pendidikan yang diamanatkan Islam
yang tertuang dalam banyak ayat Al-Quran dan hadits Nabi Nya agar manusia mencari
ilmu sepanjang hayatnya. Khusus dalam tulisan ini, akan disajikan pesan nabi tentang

Long Life Education berikut penelitian sanad dan matan hadits.


Sependek penelusuran penulis, hadits yang menunjukkan tentang konsep
pendidikan sepanjang hayat bukanlah hadits yang terkenal di kalangan masyarakat,
yaitu: uthlubu al-ilma min al-mahdi ila al-lahdi. Melainkan hadits dengan redaksi
awal berupa lan yasybia al-mukmin.
Melalui penelusuran via Jawami al-kalim, ditemukan Hadits dengan redaksi

lan yasybia al-mukmin dapat dijumpai di kitab hadits sebagai berikut:


1. Jami al-Turmudzi (no. Hadits 2629)
2. Shohih Ibnu Hibban (no. Hadits 911)

3. Al-Mustadrak ala al-Shohihain (no. Hadits 7233)


4. Ittihafu al-Khoiroh bi Zawaidi al-Masanid al-Asyroh (no. Hadits 1853)
5. Musnad al-Syihab (no. Hadits 841)
6. Ittihaf al-Muhirroh (no. Hadits 5092)
7. Amali ibnu Busyron (no. Hadits 20)
8. Akhbar Ashbihan li Abi Naim (no. Hadits 770)
9. Jami Bayanu al-ilmi wa Fadhluhu li Ibnu Abdi al-Barr (no. Hadits 442)
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana skema sanad dan bentuk matan hadits tentang menuntut ilmu
sepanjang hayat?
2. Bagaimana kritik sanad dan matan pada hadits tentang menuntut ilmu sepanjang
hayat?
3. Bagaimana pendekatan dalam memahami hadits tentang menuntut ilmu sepanjang
hayat dan penilaian tentang derajat hadits tersebut?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui skema sanad dan bentuk matan hadits tentang menuntut ilmu
sepanjang hayat
2. Untuk mengetahui kritik sanad dan matan pada hadits tentang menuntut ilmu
sepanjang hayat
3. Untuk mengetahui pendekatan dalam memahami hadits tentang menuntut ilmu
sepanjang hayat dan penilaian tentang derajat hadits tersebut setelah di-takhrij.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. TEKS HADITS DAN TERJEMAHAN
a. Riwayat al-Turmudzi (w. 256 H)




" :


) " (

Artinya: Diriwayatkan oleh Umar bin Hafsh al-Syaibani al-Bashriy, diriwayatkan

oleh Abdullah ibn Wahb, dari Amr bin al-Harits, dari Darraj, dari Abi
Haitsam, dari Abi Said al-Khudriy, dari Rasulullah saw bersabda: tidak

akan memuaskan bagi seorang mukmin dalam kebaikan yang ia dengar


(menuntut ilmu) sehingga akhir hayatnya adalah surga. (HR. AlTurmudzi)
b. Riwayat al-Syihab al-Qodhoiy (w. 454 H)





" " :
:
Artinya: Diberitakan oleh Ali al-Hasan bin Kholaf al-Wasithi, diberitakan oleh
Umar bin Hafs bin Syahin, diriwayatkan oleh Ali bin Muhammad bin
Ahmad al-Askariy, diriwayatkan oleh Muhammad bin Ahmad bin
Iyadz bin Abi Thoibah, diriwayatkan oleh Muhammad bin Rouh alQothiry, ia sendiri berkata: diceritakan oleh Abdullah bin Wahb,
diceritakan oleh Amr bin al-Harits, dari Darraj Abi al-Samh, dari Abi
Haitsam, dari Said al-Khudriy, berkata: Rasulullah saw bersabda: tidak

akan memuaskan bagi seorang alim dalam menuntut ilmu sehingga akhir
hayatnya adalah surga. (HR. al-Syihab al-Qodhoiy)
4

B. SKEMA JALUR SANAD

C. KRITIK SANAD DAN MATAN


1. Kritik Sanad
Ulama Mustholahul Hadits, sepakat bahwa syarat hadits sahih ada lima,
yaitu:
a. Keadilan perawi
b. Ke-dhlobith-an perawi
c. Ke-muttashil-an sanad
d. Tidak terdapat syadz
e. Tidak terdapat illat1
1

Mahmud at-Tahhan, Metode Takhrij dan Penelitian Sanad Hadits, (Surabaya: Bina Ilmu, 1995), hal.

144

Adapun kritik sanad hadits tersebut diatas adalah sebagai berikut:


a. Riwayat al-Turmudzi
1)

Abu Said al-Khudriy2


Nama lengkapnya adalah Sad bin Malik bin Sinan bin Ubaid bin
Tsalabah bin Ubaid bin Khudroh bin Auf bin al-Harits bin al-Khazraj
dan memiliki nama panggilan Abu Said al-Khudriy. Ia termasuk
golongan sahabat, lahir di Makkah, pada tahun 63 H.3
Di antara guru-gurunya adalah: Usamah bin Zaid al-Kilabiy (Abu
Muhammad al-Madaniy), Usaid bin Hadhir al-Asyhaliy (Abu Yahya alAnshoriy), al-Harits bin Rubaiy al-Salmiy (al-Harits bin Rubaiy bin
Rofi bin al-Harits bin Umair al-Anshoriy), isteri Abu Said al-Khudriy,
Bilal bin Rabah al-Habasyiy (abu Abdillah al-Mudzin), Jabir bin
Abdillah al-Anshoriy (Abu Abdillah al-Madaniy), Abu Dzarr al-Ghifariy
(Barir bin Janadah al-Hijaziy), Hudzaifah bin al-Yaman al-Abasiy (abu
Abdillah al-Abasiy), Hafshoh binti Umar al-Adawiyah, Khulah binti
Hakim al-Salmiyah (ummu syarik al-salmiyah), zaid bin Tsabit alAnshoriy (Abu Said al-Madaniy), Salman al-Farisi (Salman al-Khoir),
Shakhr bin al-Ailah al-Akhmasiy (Abu Ahzim Al-Ahmasiy), Aisyah
binti Abi Bakr al-Shiddiq, abu Hurairah al-Dawsi (Abu Hurairah alYamaniy), Abdullah bin Zubair al-Asadiy, Abdullah bin Salam alKhazrajiy, Abdullah bin Abbas al-Quraisy, abu bakr al-Shiddiq,
Abdullah bin Qois al-Asyariy, Abdullah bin Masud, Ali bin Abu
Tholib, Umar bin Khattab, Umar bin Hashin al-azdiy, Qatadah bin
Numan al-Anshoriy, Qois al-Akbar bin Ubaid al-Anshoriy, Muawiyah
bin abi Sufyan al-Umawiy, Ummu Salamah (isteri rasulullah), Alqamah
bin Ulatsah al-Amiriy.4
Di antara murid-muridnya adalah: Abu Arthah al-Kufiy, Abu
Ibrahim al-Asyhiliy, Abu al-Khattab al-Mishriy, abu al-Mubarok, abu al-

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

Mutsanna al-Jahniy, Abu Bakr al-Munkadir, Abu Bakr bin Amr alAnshoriy, abu Khalid al-Makhzumiy, Abu Said al-Mahriy, Wahab alAsadiy, Abu Sulaiman hamba sahaya Ummu Salamah, Abu Alqamah alMishriy, Abu Isa al-Aswariy, Abu Nadhrah bin Baqiyyah, Abu Hisyam,
Abu Yaqub al-Khayyahth, Ahzab bin Rasyid al-Simaiy, saudara Imran
al-Salmiy, Asad bin Sahl al-Anshoriy, Aflah hamba sahaya Abu Ayyub
al-Anshoriy, Anas bin Malik, Aus bin Abi Aus al-Hijaziy, Aus bin
Abdillah, Aiman bin Ummu Aiman, Ayyub bin Busyair al-Anshoriy,
Ayyub bin Busyair al-Adwiy, Ibrahim bin Abdillah al-Kinaniy, Ishaq
bin Abdillah, Ibrahim al-Nakhiy, Sulaiman bin Abi Sulaiman alQuraisy, Sulaiman bin Amr al-Laitsiy, Sulaiman bin Mahron al-Amasy,
Sulaiman bin Musa al-Quraisy, Sulaiman bin Yassar al-Hilaliy, dll.5
Komentar ulama mengenai Abu Said al-Khudriy, diantaranya:
Abu Hatim al-Razi mengatakan: ia termasuk kalangan sahabat; Abu
Hatim bin Hibban al-Basthiy menyebutnya sebagai salah satu kalangan
sahabat, dan Ibnu Hajar al-Asqalaniy berkomentar dalam kitab (Taqrib):
ia dikatakan termasuk kalangan sahabat kecil.
Berdasarkan kaidah umum dalam ilmu hadits, al-shahabah

kulluhum udul, maka dia dimasukkan kedalamnya yang berarti keadilan


dan ke-dhabith-annya dapat diterima.6
2)

Sulaiman bin Amr bin Ubad7


Nama aslinya adalah Sulaiman bin Amr bin Ubad, mempunyai
julukan Abu al-Haitsam. Namanya yang masyhur adalah Sulaiman bin
Amr al-Laitsiy. Lahir di Palestina tahun 100 H, wafat dan dikebumikan
di Mesir.

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

Argumen yang mendasari sifat adil para sahabat nabi adalah dalil-dalil al-Quran, hadits Nabi, dan
ijma para ulama. M. Syuhudi Ismail,. Kaidah Kesahihan Sanad Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hal.
16-168
7

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

Penilaian kritikus hadits dapat dilihat dari pendapat Abu Hatim


bin Hibban al-Basti yang menyebutnya tsiqat, dan di kali lain
menyebutnya salam kitab shahih-nya, termasuk penduduk Palestina
yang paling tsiqat. Abu Hafsh Umar bin Syahiin mencantumkannya
dalam daftar para perawi yang tsiqat, abu Abdillah al-Hakim menyebut
dalam al-mustadrak-nya sebagai orang Mesir yang paling tsiqat.
berturut-turut Ahmad bin Abdillah al-Ajali, Ibnu Hajar al-Asqalaniy,
al-Daruquthni, al-Dzahabiy, Yahya bin Muayyan, dan Yaqub bin
Sufyan al-Faswiy, menganggapnya tsiqat.8
Diantara guru-gurunya adalah: Abu Dzarr al-Ghifary, Jamil bin
Bashrah al-Ghifariy, Sad bin Abi Waqash, Abu Said al-Khudriy,
Abdurrahman bin Hajirah, abu Hurairah, Abdullah bin Amr, Isa bin
Hilal, al-Dhahhak bin Numan.
Diantara murid-muridnya adalah: Ayyub bin Habib al-Zuhriy, alHarits bin Yazid al-Hadhromiy, al-Harits bin Yaqub al-Anshariy, alWalid bin Qois al-Sukuniy, al-Walid bin Qois al-Tajibiy, Abdullah bin
al-Samh al-Sahmiy, Salim bin Ghilam al-Tajiibiy, Ubaidullah bin alMughiroh al-Sibaiy, Utbah bin Abi Hakim al-Syabaniy, Amr bin alHarits al-Anshariy, Musa bin Wardan al-Quraisy, Darraj bin Najiyah alMishriy.
3)

Abdullah bin al-Samh al-Sahmiy9


Nama lengkapnya adalah Abdullah bin al-Samh bin Usamah bin
Zakir al-Sahmiy. Memiliki julukan Darraj. Lahir pada tahun 126 H. Ia
adalah majikan dari bani Amir bin Ada bin Tajib, dan Abdillah bin Amr
bin Ash.
Penilain ulama terhadapnya dapat dilihat dari penuturan Abu
Ahmad bin Ada al-Jurjani menyebut dalam beberapa kitab haditsnya

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

sebagai la batsa bihi, Abu al-Qasim bin Baskawal menyebutnya


tsiqah, Abu Basyar al-Daulabiy menyebutnya munkarul hadits, abu
Jafar al-Aqily menyebutnya al-dhuafa wa al-Matrukiin, abu Hatim
al-Raziy, menyebutnya dhaif, Abu Hatim bin Hibban al-Busti,
menyebutkan: ia meriwayatkan dari Abdullah bin Harits bin Juz,
dikatakan: bahwa namanya adalah Abdullah dan sering ia digolongkan
sebagai orang yang bernama Abdurrahman, dan ia menyebutnya tsiqat.
Abu Hafsh Umar bin Syahin menyebutnya watsiqat, Abu Dawud alSijistani, menyebutkan, bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan Abdullah
bin al-Samh al-Sahmiy semuanya lurus (mustaqimah), kecuali hadits
yang riwayatnya bersumber dari Abu Said Al-Khudriy. Ahmad bin
Hanbal menyebutnya hadits-haditsnya termasuk hadits munkar (ahadits

manakir), Ahmad bin Syuaib menyebutnya laisa bil qowiy, dan di kali
lain

menyebutnya

munkar

al-hadits, Ibnu Hajar al-Asqalaniy

berkomentar, bahwa ia termasuk rowi yang shoduq, namun haditnya


dhoif, al-Daruquthni menyebutnya dhoif, dan di kali lain
menyebutnya matruk.
Diantara guru-gurunya adalah: abu al-Mutsanna, al-Saib majikan
Ummu Salamah, Hayyi Bin Hani al-Muafiriy, Kholid bin Maimun alKhurasaniy, Abu Said al-Khudriy, Sulaiman bin Amr al-Laitsiy, Ubad
bin

Katsir

al-Tsaqofiy,

Abdurrahman

bin

Jubair

al-Mudzin,

Abdurrohman bin Hajiroh al-Khulaniy, abu Hurairah al-Dusi, Abdullah


bin Harits al-Zubaidiy, Abdullah bin Hubairoh al-Sabaiy, Aqil bin
kholid al-ailiy, ali Zainal Abidin, Umar bin al-Hakam al-Anshariy, Isa
bin Hilal al-Shodafiy, Muhammad bin Abi Dzib al-Amiriy, Nashr bin
Dahr al-Aslamiy, Abdullah bin Juz al-Salamiy, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Amr bin al-Harits al-Tsaqofiy, alHasan bin Musa al-Asyib, Zahir bin Harb al-Harosyiy, Zaid bin al-Habab
al-Tamimiy, Salim bin Ghailan al-Tajibiy, Said bin Zaid al-Azdiy, Said
bin Maqlash al-Khozaiy, Said bin Yazid al-Hamiriy, Abdullah bin
Sulaiman al-Hamiriy, Abdullah bin Abdul Hakam al-Malikiy, Abdullah

bin Luhaiah al-Hadhromiy, Abdullah bin Wahb al-Quraisy, Utsman bin


Katsir al-Quraisy, Amr bin Harits al-Anshoriy, al-Laits bin Sad alfahmiy, Muawiyah bin Sholih al-Asyariy, Manshur bin Abi Aswad alLaitsi, Haql bin Ziyad al-Saksakiy, Yahya bin Bakir al-Quraisy, Amr bin
Sholih al-Hadhromiy, dan sebagainya.
4)

Amr bin Harits Al-Anshoriy10


Nama lengkapnya adalah Amr bin Harits bin Yaqub bin
Abdullah bin al-Asyj. Mempunyai nama kunyah Abu Umayyah, dan Abu
Ayub. Lahir 149 H, dan wafat di Mesir. Ia merupakan majikan Qois bin
Sad bin Ubadah, dan majikan dari al-Anshar.
Kualitas periwayatannya dapat dilihat daari penuturan Abu Qasim
bin Bisyakwal yang menilainya tsiqat, qari faqih, alim mufti, abu
Hatim al-Razi menilainya sebagai orang yang paling kuat hafalannya

tidak ada yang menandingi hafalannya di masanya, Abu Hatim bin


Hibban al-Busti menilainya sebagai penghafal hadits yang paling

bertakwa, dan ahli wirai, abu Zurah al-Razi menilainya tsiqat, Abu
Yala al-Kholiliy menilainya sebagai tsiqat muttafaq alaih, Ahmad bin
Hanbal menilainya tsabitah, dan di kali lain menilainya manakir, dan
berkata: ia meriwayatkan dari qatadah hadit-hadits yang hukumnya

mudhtharabah dan salah dalam meriwayatkannya. Berturut-turut Ahmad


bin Syuaib al-Nasaii, Ahmad bin Abdullah al-Ajali, ibnu Abd al-Barr
al-Andalusiy, dan al-Daruquthniy menilainya tsiqat.
Diantara gurunya adalah Abu Bakr bn al-Munkadir, Umayah bin
Hind al-Muzniy, Ayub al-Sakhtiyaniy, Ishaq bin Abdullah al-Quraisy,
Ishaq bin Yusuf al-Azraq, Abdullah bin al-Samh al-Sahmiy, Ibn Harsyaf
al-Azdiy, al-Harits bin Yaqub al-Anshariy, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Ahmad bin Sholih al-Mishriy, Ahmad
bin Abdurrahman al-Quraisy, Ahmad bin Amr al-Quraisy, Ahmad bin
Abi Musa al-Mishriy, Abdullah bin Amr al-Kinaniy, Abdullah bin Wahb
10

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

10

al-Abnawiy, Abdullah bin Wahb al-Quraisy, al-Laits bin Sad al-Fahmiy,


Malik bin Anas al-Ashbihiy, Muhammad bin Syuaib al-Quraisy,
Muhammad bin Auf al-Thai, dan sebagainya.
5)

Abdullah bin Wahb11


Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Wahb bin Muslim.
Memiliki nama Kuniyah Abu Muhammad. Lahir pada tahun 197 H di
Mesir dan wafat di Mesir pula.
Kualitas periwayatannya dapat dilihat dari penuturan Abu Ahmad
bin Ada al-Jurjaniy, yang menilainya tsiqat, Abu Yala al-Kholiliy
menilainya sebagai tsiqat muttafaq alaih, ahmad bin hanbal menilainya
shohih al-hadits, ibnu hajar al-asqalaniy menilainya tsiqat hafidh abid

faqih,

al-Bukhori memasukkannya dalam al-tarikh al-kabir, al-

daruquthniy menilainya dalam kitab Sunannya tsiqat.


Diantara gurunya adalah Usamah bin Zaid al-Adawiy, Anas bin
Iyadh al-Laitsi, Ibrahim bin Abi Yahya al-Aslamiy, Ibrahim bin Nasyith
al-Walaniy, Ishaq bin Thalhah al-Quraisy, Ishaq bin Abdullah alQuraisy, Ishaq bin Yahya al-Quraisy, Ismail bin Rafi al-Anshoriy,
Abdullah bin Wahb al-Quraisy, Abdullah bin al-Samh al-Sahmiy,
Sulaiman bin Bilal al-Quraisy, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah Ahmad bin Abi al-Thib al-Baghdadiy,
Ahmad bin Abi Bakr al-Quraisy, Ahmad bin Kholid al-Wahbiy, Ahmad
Bin Said al-Qurthubiy, Ahmad bin Sholih al-Mishriy, Ahmad bin
Abdurrohman al-Quraisy, Ahmad bin Abdullah al-Hasyimiy, Ahmad bin
Amr al-Quraisy, Ahmad bin Hanbal al-Syibaniy, Umar bin Hafsh alSyibaniy, Amr bin Sawad al-Quraisy, Ibn al-Baghdadi al-Asqalaniy, Isa
bin Ibrahim al-Matsrudiy, Isa bin Hamad al-Tajibiy, isa bin Dinar alKhuzaiy, Malik bin Ismail al-Nahdiy, Muhammad ibn al-Mutawakkil alQuraisy, Muhammad bin Ismail al-Bukhoriy, dan sebagainya.

11

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

11

6)

Umar bin Hafsh12


Nama lengkapnya adalah Umar bin Hafs bin Umar bin Shobih.
Mempunyai nama kuniyah Abu al-Hasan. Dilahirkan pada tahun 250 H
di Yaman.
Penilaian para ulama terhadapnya diutarakan oleh abu Hatim ibn
Hibban al-Busti yang menilainya tsiqat, dan Ibn Hajar al-Asqalaniy
meneybutkan dalam kitab al-Taqrib, sebagai shoduq.
Diantara sebagian gurunya adalah al-Dhohhak bin Mukhlid alNabil, al-Nadhr bin Katsir al-Azdiy, Hafsh bin Amr al-Dhorir, Hafsh bin
Ghiyats al-Nakhiy, Sufyan bin Uyainah al-Hilaliy, Abu Dawud alThoyalisi, Sulaiman bin Dawud al-Quraisy, Abdullah bin Wahb alQuraisy, Abd al-Majid bin Abd al-Aziz al-Atkiy, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: al-Abbas bin Muhammad al-Duri,
Ahmad bin Ishaq al-Anmathiy, Ahmad bin Hamamd al-Quraisy, Ahmad
ibn Amr al-Atkiy, Ibrahim bin Mahdiy, al-Ibiliy, Jafar ibn Ahmad alJujuraiy, Muhammad bin Isa al-Turmudziy, Ahmad bin Abdullah alSijistaniy, Muhammad ibn Nuh al-Askariy.

7)

Muhammad bin Isa13


Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa
bin al-Dhahhak. Namanya yang masyhur adalah Muhammad bin Isa alTurmudzi. Lahir pada tahun 279 di Turmudz.
Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari penuturan Abu
Ahmad al-Hakim: semenjak wafatnya Imam Bukhari, tidak ada yang

menyamai keilmuan dan sifat wirainya Abu Isa, Abu Hatim bin Hibban
al-Busti menilainya sebagai tsiqat, Abu Yala al-Kholiliy menilainya
sebagai tsiqat muttafaq alaih, Ibnu Hajar al-Asqalaniy menilainya
sebagai ahad al-aimmah tsiqah hafidl, al-Dzahabiy menilainya tsiqah
12

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

13

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

12

majma alaih.
Diantara gurunya adalah Abu Bakr bin Abi al-Nadhr, Abdullah
bin Yahya al-Razi, Ahmad Bin abi Bakr al-Quraisy, Ahmad bin Abi
Ubaidullah al-Sulaimiy, Ahmad ibn Ibrahim al-Dauruqiy, Ahmad Ibn
hasan al-Turmudzi, Ahmad ibn Hasan al-Baghdadiy, Ahmad ibn alMiqdam al-Ajaliy, Ahmad ibn Kholid al-Khilal, Ahmad ibn Said alRabathiy, Umar bin Hafs bin Umar bin Shobih dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Abdullah ibn Ishaq al-Jauhariy,
Abdullah ibn Abi Ziyad al-Quthwaniy, Abdullah bin Shobah alHasyimiy, Abdullah ibn Said al-Kindiy, Abdullah bin Abdurrahman alDarimiy, Ali ibn Said al-Kindiy, dan sebagainya.
b. Riwayat al-Syihab al-Qodhoiy
Di Dalam periwayatan hadits jalur al-Syihab al-Qodhoiy, terdapat kesamaan
beberapa perawi dengan periwayatan al-Turmudzi yaitu Abu Said al-Khudriy,
Sulaiman bin Amr bin Ubad, Abdullah bin al-Samh al-Sahmiy, Amr bin
Harits Al-Anshoriy dan Abdullah bin Wahb.adapun biografi dan hal-ihwla
mengenai perawi-perawi tersebut telah dipaparkan di muka. Berikut ini
pemaparan biorafi dan hal-ihwal para perawi selanjutnya, yaitu:
1)

Abdullah bin Wahb14


Namanya adalah Abdullah bin Wahb bin Muslim. Lahir di Mesir
tahun 125 H, dan wafat di Mesir tahun 197 H.
Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari penuturan Abu
Yala al-Kholili menyebutnya sebagai tsiqoh muttafaq alaih. Ahmad
bin Hanbal menyebutnya shohih al-hadits. Ibn Hajar al-Asqalaniy,
menyebutnya tsiqoh hafidl abid, dan faqih.
Diantara gurunya adalah Abu Yazid al-Khoulaniy, Usamah bin
Zaid al-Laitsiy, Usamah bin Zaid al-Aduwiy, Ibrohim bin Sad al-Zuhriy,
Amr bin Harits, dan al-Yasa bin Yaqub.

14

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

13

Diantara muridnya adalah: Ahmad bin Abi al-Thoyib alBaghdadiy, Ahmad bin Abi Bakr al-Quraisy, Ahmad bin Abdullah alHamisyi, Ibrohim bin al-Hujjaj al-Samiy, Ibrahim bn al-Harits alBaghdadiy, Muhammad bin Rouh, Muhamamd bin Nashr al-Farra,
Muhammad bin Yahya al-Dzihliy, dan sebagainya.
2)

Muhammad bin Rouh15


Namanya adalah Muhammad bin Rouh, wafat tahun 245 H.
Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari penuturan Abu Hatim
dan Ibn Abi Hatim al-Raziy yang menyebutnya shoduq. Abu Said alSamaniy dan Abu Said bin Yunus al-Mishriy menyebutnya munkaru

al-hadits. Al-Daruquthni menyebutnya dhoif. Ibnu Hajar al-Asqalaniy


menyebunya kana rojulan sholihan.
Diantara gurunya adalah: Ibrahim bin Muhammad bin Syafii,
Abdullah bin Wahb al-Quraisy, Ali bin Hasan al-Samiy, Abdul Malik bin
Qorib al-Ashmaiy, Yunus bin Harun al-Arnadiy, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Said bin Afir al-Anshoriy,
muhammad bin Abi Hatim al-Azdiy, Ahmad bin Hammad al-Tajiibi,
Ahmad bin Yahya al-Roqiy, Abdurrohman bin Abi Hatim al-Roziy,
Abdullah bin Ahmad al-Dimasyqiy, Muhammad bin Abi Ghossan alMishriy, al-Husain bin Hamid al-Akiy, Yahya bin Ayyub al-Khoulaniy,
dan sebagainya.
3)

Muhammad bin Abi Ghossan16


Namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin Iyadh bin Abi
Thoibah. Lahir di Mesir tahun 291 H. Penilaian ulama terhadapnya dapat
dilacak dari penuturan Abu al-Qasim bin Asakir menyebutnya sebagai
ahli hadits dari Damaskus, dan al-Dzahabiy menyebutnya sebagai
shoduq.

15

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

16

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

14

Diantara gurunya adalah: Ahmad bin Said al-Qurthubi,


Muhamad bin Salamah al-Murodiy, Makiy bin Ibrohim al-Handholiy,
Ahmd bin Iyadh al-Fardhiy, Zakariya bin Yahya al-Sajiy, Amr bin
Yusuf, Muhammad bin Rouh al-Qotiry, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Ahmad bin Ismail al-Shodafiy,
Ahmad bin Makhul al-Bairutiy, Hamid bin Yunus al-Ziyat, Sulaiman bin
Ahmad al-Thabraniy, Ali bin Muhammad al-Baghdadiy, dan sebagainya.
4)

Ali bin Muhammad17


Namanya adalah Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Yazid. Lahir
di Baghdad tahun 340 H. Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari
penuturan Khotib al-Baghdadiy menilainya tsiqah.
Diantara gurunya adalah: Abu Bakr bin Abi an-Nadhr, Ahmad
bin Abdullah al-Haddad, Muhamad bin Ahmad al-Tamimiy, dan
Muhammad bin Abi Ghossan al-Mishriy.
Diantara muridnya adalah: Abdullah bin Ahmad al-Sudzarjaniy,
Amr bin Syahin al-Waidz, dan Ubaidullah bin Muhammad al-Fardhiy.

5)

Amr bin Syahin18


Namanya adalah Amr bin Ahmad bi Utsman bin Ahmad bin
Muhammad bin Ayub bin Yazdad bin Siroj bin Abdurrohman. Terkenal
dengan nama Amr bin Syahin al-Waidz. Lahir di Baghdad tahun 297 H,
dan wafat di Baghdad tahun 385 H.
Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari penuturan Abu alHasan al-Atiqiy dan Abu Jafar al-Aqily menilainya shohibu hadits

tsiqah mamun, Abu al-Fath bin Abi al-Fawaris menilainya tsiqoh


mamun, Abu al-Qosim al-Azhariy, Abu Nashr ibn Makula dan Abu alQlid al-Bajiy menilainya tsiqoh.

17

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

18

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

15

Diantara gurunya adalah: Ahmad bin Said al-Darimiy, Ahmad


bin Abid Syuaib, al-Hasan bin Muhammad al-Anshoriym Hammad bin
Zaid al-Azdiy, Ali bin Muhammad, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Ahmad bin Abdullah al-Ashbihaniy,
al-Khotib al-Bagdadiy, Ahmad bin Umar al-Ashbihaniy, Ahmad bin
Muhammad al-Barqoniy, Ahmad bin Muhammad al-Malayniy, al-hasan
bin Ali al-Tamimiy, Al-Hasan bin Kholaf, dan sebagainya.
6)

Al-Hasan bin Kholaf19


Namanya adalah Al-Hasan bin Kholaf bin Yaqub. Terkenal
dengan nama Al-Hasan bin Kholaf al-Wasithiy. Wafat tahun 442 H.
Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari penuturan Ibrahim bin
Said al-Hubal yang menyebutnya sebagai kana tsiqoh lakinnahu ibtala.
Diantara gurunya adalah: Abdullah bin Masi al-Baghdadiy, Ali
bin Muhammad al-Harabiy, Amr bin Syahin al-Waidz, Umar bin
Ibrahim al-Kattaniy, Muahmmad bin al-Mudzoffar al-Bazaz, dan
sebagainya.
Diantara muridnya adalah: Ahmad bin Muhamad al-Qoisiy, Sahl
bin Basyir al-Isfarainiy, Muhamad bin Salamah al-Qodhoiy.

7)

Muhammad bin Salamah20


Namanya adalah Muhammad bin Salamah bin Jafar bin Ali bin
Hakmun bin Ibrahim bin Muhammad bin Muslim. Memiliki nama
populer Muhamad bin Salamah al-Qodhoiy. Wafat tahun 454 H.
Penilaian ulama terhadapnya dapat dilacak dari penuturan Abu
Thohir al-Salafiy dan Ibnu Khitob al-Roziy menyebutnya sebagai min

al-tsiqat al-atsbat.
Diantara gurunya adalah: al-Qosim bin Salam bin al-Harwiy,
19

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

20

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

16

Muslim bin al-Hujjaj al-Qusyairi, Ahmad bin Hasan al-Roziy, Al-Hasan


bin Kholaf, Ahmad bin Umar al-Jaiziy, dan sebagainya.
Diantara muridnya adalah: al-Khotib al-Bagdadiy,Abu Thohir alSalafiy, Jamahir bin Hamid al-Jarsyiy, Ali bin Ibrahim al-Husainiy, Ali
bin Hasan al-Mawaziniy, dan sebagainya.
Bertolak dari penelitian sanad di atas, maka dapat dianalisis sebagai berikut:
Sanad hadis pada jalur al-Turmudziy adalah muttasil (bersambung kepada
Nabi Muhammad saw). Semua perawi adalah adil. Sebagian besar perawi adalah

dhobith, kecuali Abdullah bin al-Samh al-Sahmiy yang mendapat penilaian la batsa
bihi dan munkar al-hadits. Komentar ini sebenarnya membuat kualitas hadits menjadi
dhoif. Namun karena komentar ulama yang lain menilainya dengan penilaian tingkat

tsiqoh, maka hadits ini menjadi hasan.


Sanad hadis pada jalur al-Syihab al-Qodhoiy, muttasil (bersambung kepada
Nabi Muhammad saw). Semua perawi adalah adil. Sebagian besar perawi adalah

dhobith, kecuali Muhammad bin Rouh yang mendapat penilaian dhoif dan munkar
al-ahadits. Komentar seperti ini otomatis membuat derajat kesahihan hadits menjadi
dhoif pada jalur riwayat al-Syihab al-Qodhoiy. Dan kesimpulan pada kritik sanad
hadits diatas adalah hasan pada riwayat jalur al-Turmudziy dan dhoif pada riwayat
jalur al-Syihab al-Qodhoiy.
D. KRITIK MATAN
Adapun langkah-langkah kritik matan menurut Hasyim Abbas dalam bukunya
Kritik Matan Hadits, adalah: 1) Analisis kebahasaan, termasuk kritik teks yang
mencermati keaslian dan kebenaran teks, format qouly atau format filiy. 2) Analisis
terhadap isi kandungan makna (konsep doktrin pada matan hadits),. 3) Penelurusan
ulang nisbah (asosiasi pemberitaabn dalam matan hadits kepada narasumber).21
Sedangkan kriteria studi matan hadits diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Ungkapannya tidak dangkal, sebab yang dangkal tidak akan pernah
21

Hasyim Abbas, Kritik Matan Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2004), hal. 16

17

diucapkan oleh orang yang mempunyai apresiasi sastra tinggi atau fasih.
2. Tidak menyalahi orang yang luas pandangannya atau fikirannya, sebab
sekiranya menyalahi tidak mungkin ditakwil.
3. Tidak menyalahi al-Quran dan al-Sunnah yang telah jelas hukumnya, tidak
menyalahi ijma para ulama atau ketetapan agama yang telah menjadi
keharusan yang tidak perlu ditafsirkan lagi
4. Tidak mentimpang dari kaidah umum dan akhlaq.
5. Tidak menyalahi cendekiawan dalam bidang kedokteran dan filsafat.22
Secara kaidah kebahasaan, kedua hadits ini jelas berbeda. Pada hadits riwayat
jalur al-Turmudziy, redaksi hadits menggunakan huruf al-nafiy lan (tidak akan) dan

fail-nya fiil berupa al-muminu (orang mukmin). Sedangkan Pada hadits riwayat
jalur al-Syihab al-Qodhoiy, redaksi hadits menggunakan huruf al-nafiy la (tidak)
dan fail-nya fiil berupa alimun (orang berilmu).
Secara semantis, hadits riwayat jalur al-Turmudziy, menerima pemahaman
multitafsir, karena redaksi teks bisa diartikan sebagai kewajiban berbuat baik sepanjng
hayat, bisa juga diartikan sebagai kewajiban menuntut ilmu sepanjang hayat, dan
sebagainya. Sedangkan hadits riwayat jalur al-Syihab al-Qodhoiy secara tegas
mengisyaratkan bahwa kewajiban seorang mukmin untuk menuntut ilmu sepanjang
hayat.
Kemudian bila dianalisis, dengan memperbandingkan redaksi hadits ini dengan
redaksi hadits sejenis di kitab-kitab hadits lainnya, didapatkan hasil bahwa tidak ada
perbedaan redaksi yang signifikan. Perbedaan hanya terdapat dalam pemakaian huruf

nafi di awal redaksi, perbedaan penggunaan redaksi alim dan al-mukmin. Ini
artinya matan hadits ini terhindar dari syadz dan illat. Perbedaan ini tentu saj tidak
menyebabkan kualitas hadits tersebut menurun. Karena sekalipun ada perbedaan
dalam redaksi, namun secara makna kedua redaksi hadits tersebut sesuai. Lihat varian
redaksi hadits sejenis di kitab lain:

18

1. Dalam kitab Shohih ibn Hibban (no. Hadits 911), disebutkan:



" : "
2. Dalam kitab Al-Mustadrak ala al-Shohihain (no. Hadits 7233):




" : ".

3. Dalam kitab Ittihafu al-Khoiroh bi Zawaidi al-Masanid al-Asyroh (no. Hadits


1853):


".

:
4. Dalam kitab Musnad al-Syihab (no. Hadits 841):



"
" :
:
5. Dalam kitab Ittihaf al-Muhirroh (no. Hadits 5092):


.
( ) :

6. Dalam kitab Akhbar Ashbihan li Abi Naim (no. Hadits 770):






" :


"
Nizar Ali, Memahami Hadits Nabi (Metode dan Pendekatan), (Yogyakarta: YPI al-Rohmah, 2001),

22

hal. 18

19

7. Dalam kitab Jami Bayanu al-ilmi wa Fadhluhu li Ibnu Abdi al-Barr (no. Hadits
442):

"
:


"

Bertolak dari penelusuran di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits tentang
menuntut ilmu sepanjang hayat seperti tersebut di muka dinilai shohih secara kritik
matan.
E. PEMAHAMAN HADITS
Kandungan hadits diatas, menyiratkan tentang pesan Nabi bahwa menuntut
ilmu bagi seorang mukmin itu berlaku sampai akhir hayat. Pemahaman ini didapat dari
redaksi yang secara eksplisit menyebutkan akhir kehidupannya adalah surga. Konsep
pendidikan Nabi ini sesuai dengan konsep pendidikan al-Quran. Sifat pendidikan alQuran adalah rabbaniy, berdasarakan ayat pertama dalam wahyu pertama, yaitu
iqro bismi rabbika.
Jangkauan yang harus dipelajari itu sedemikian luas dan menyeluruh, meliputi
alam makro kosmos, alam mikro kosmos, manusia, dan laijn sebagianya tidak akan
pernah dapat diraih secara sempurna oleh seseorang. Namun, ia harus berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapatkan apa yang mampu diraihnya. Karenanya, ia
dituntut untuk terus menerus belajar sepanjang hayatnya. Nabi Muhammad saw.,
sekalipun telah mencapai puncak segala puncak, masih tetap juga diperintah untuk
selalu memohon (berdoa) sambil berusaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.23
Allah berfirman:



Artinya : Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu

23

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 2013), edisi ke-2, Cet. Ke 1, hal. 278

20

tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya


kepadamu dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan." (QS. Thaha: 114).
Ada suatu qoul yang terkenal:



Ungkapan ini menunjukkan bahwa ide yang terdapat dalam khazanah
pemikiran Islam ini mendahului Long Life Education yang dipouplerkan oleh Paul
Lengtrand dalam bukunya An Introduction To Life Long Education.24
Bahkan al-Quran menegaskan bahwa pendidikan anak sudah dimulai sejak
pemilihan calon ibu dari anak-anak seorang mukmin. Allah berfirman:


Artinya: Hai saudara perempuan Harun (Maryam), ayahmu sekali-kali bukanlah

seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina" (QS.
Maryam: 28)
Muhamamad Ali al-Shobuni menuturkan bahwa Maryam dipanggil sebagai
saudara Harun karena dipersamakan sebagai sesama hamba Allah yang dikenal
kebajikan dan ketaatan kepada Allah Swt. Qatadah menambahkan, bahwa Harun yang
dimaksudkan disini bukan Harun, suadaranya Musa as bin Imron, namun Harun disini
adalah seorang warga bani Israil yang dikenal karena kesalehannya dan ketekunannya
dalam beribadah.25
Kandungan ayat ini menjelaskan kaitan erat dengan kesalehan orang tua
dengan kesalehan putra-putrinya. Maryam adalah wanita sholehah yang dipilih Allah
menjadi Ibu dari Nabi-Nya, Isa ibn Maryam. Kesalehan ini ditegaskan dalam ayat di
atas, bahwa orangtuanya pun juga seorang yang saleh yang dikasihi Allah bukan
sebaliknya. Oleh karenanya, suami yang sholih dan isteri yang sholihah
24

Ibid

25

Muhammad Ali al-Shobuni, Shofwah al-Tafasir, (Beirut: Dar el-Fikr, 2001), juz 2, hal. 197

21

berkemungkinan besar mewariskan potensi kesalehan pada anaknya kelak.


Kaitannya dengan pendidikan anak sejak dini Nabi berpesan tentang pemilihan
calon isteri:


: " :



)" (


Artinya: Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena nasabnya,

karena kecantikannya, dan karena agamanya. Raihlah yang memiliki agama,


karena kalau tidak, engkau akan sengsara (HR. Bukhori)26




" :

:

Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita karena kecantikannya, karena

boleh jadi kecantikan itu akan merusaknya, dan jangan pula kawini wnaita
itu karena harta bendanya, boleh jadi harta itu membuat mereka aniaya
(congkak). Akan tetapi kwainilah mereka atas dasar ketaatan beragamanya.
Dan sungguh budak sahaya yang buruk muka lagi hitam, tapi agamanya
kuat adalah jauh lebih baik (HR. Ibnu Majah)
Wanita yang sholihah memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi
kehidupan rumah tangga serta mampu mendidik anak dengan baik. Hafez Ibrahim
bersenandung:
Ibu ibarat madrasah, jika engkau persiapkan dia, berarti engkau telah
mempersipakna suatu generasi yang kuat dan kokoh.27

26

Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5

27

Muh. Atiah al-Abrasy, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, (Kairo: Dar el.-Qaumiyyah, 1964), hal. 116

22

tanaman yang tumbuh di taman, tidaklah sama seperti tanaman yang tumbuh
di padang tandus, apakah kesempurnaan dapat diharapkan bagi anak-anak jika
mereka menyusu pada wanita yang gersang.28
Penjelasan teks diatas menjadi pijakan dalam periodisasi pendidikan Islam
yang dirumuskan beberapa pakar yang salah satunya prinsip dasarnya adalah
pendidikan sepanjang hayat, yaitu diantaranya:
1.

Pendidikan Prenatal; atau Tarbiyah Qabl al-Wiladah terbagi atas dua masa periode
yaitu:
a.

Masa pra konsepsi; masa ini terjadi sebelum kedua orang tua belum
memiliki status kekeluargaan atau belum mengalami pernikahan. Awal mula
pendidikan anak tidak dapat dilepaskan dari tujuan pernikahan yaitu
lahirnya keturunan yang dapat dibanggakan dalam pendidikan Islam. Maka
dari itu pemilihan pasangan sebelum menikah sudah menjadi kepedulian
utama dalam merancang pendidikan anak. Persiapan mendidik anak dalam
ajaran Islam suadah dimulai pada waktu pemilihan pasangan yaitu
pemilihan calon istri atau suami.29

b.

Masa konsepsi; pada masa ini proses pendidikan sudah bisa dimulai, walau
masih bersifat tidak langsung. Masa ini disebut juga dengan masa kehamilan
yang berlangsung kurang lebih Sembilan bulan. Meskipun masa ini relatif
singkat namun memberikan makna sangat penting bagi proses pembentukan
kepribadian manusia berikutnya. Didalam al-Quran dan hadits tidak
menjelaskan secara terperinci mengenai proses pendidikan yang terdapat
pada masa kehamilan, namun Islam melihatnya dari beberapa aspek
pendidikan. Pada masa kehamilan harus diyakini bahwa kandungan berawal
dari adanya kehidupan, setelah itu Allah Swt. mengutus malaikat untuk
meniupkan roh kepadanya, dan aspek yang penting bagi janin dalam
kandungan adalah aspek agama.30

28

Abdullah Nasikh Ulwan, Tarbiyah Al-Aulad Fi Al-Islam, (Beirut : Dar el-Salam, 1975), juz 1, hal. 28

29

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), Cet. III, hal. 256.

30

Ibid, hal. 259-260.

23

2.

Pendidikan Pasca Natal;


a.

Pendidikan bayi; setelah masa pra konsepsi dan masa pasca konsepsi
kemudian dilanjutkan pada periode bayi. Periode ini kehidupan bayi sangat
bergantung pada pihak lain, terutama seorang ibu. Peranan ibu mulai dari
memberi makan, membersihkan tempat dan pakaian, memandikan,
menidurkan, dan lain-lain yang hampir semuanya dilakukan oleh seorang
ibu.

Peranan ibu

tersebut

tentu mempunyai

arti

tersendiri

bagi

pendidikannya.
b.

Pendidikan kanak-kanak; Kemudian periode kanak-kanak yang bermula dari


selepas umur dua tahun sampai enam tahun. Anak-anak pada masa ini mulai
bersifat meniru keadaan sekitarnya. Banyak bermain dengan sandiwara atau
khayalan. Kegiatan yang bermacam-macam tersebut akan memberikan
keterampilandan pengalaman si anak dalam pendidikannya. Maka dari itu
kelakuan sekitar anak pada masa ini hendaknya tetap, tak ada kegoncangan,
karena akan menyebabkan kebingunan dan keraguan pada anak.

c.

Pendidikan anak-anak; Selanjutnya pada masa anak-anak. Pada masa ini


anak mulai mengenal tuhan melalui bahasa, dari kata-kata orang yang
berada pada lingkungannya yang mula-mula diterimanya secara acuh tak
acuh. Lama-kelamaan tanpa disadari oleh anak tersebut, masuklah
pemikiran tentang tuhan dalam pembentukan kepribadiannya dan menjadi
objek pengalaman agama.

d.

Pendidikan remaja; masa ini berlansung antara umur 12 sampai 21 tahun.


Pada masa ini, anak semakin mampu dan memahami nilai-nilai norma yang
berlaku didalam kehidupannya. Periode ini sangat baik untuk membantu
anak-anak guna menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan memahami
nilai-nilai terutama yang bersumber dari agama Islam.

e.

Pendidikan dewasa; Setelah itu anak akan mengalami masa periode dewasa.
Umur dewasa dimulai dari berakhirnya kegoncangan pada masa remaja.
Ketika seseorang telah mencapai usia dewasa, maka sudah mempunyai
banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman. Pada masa ini seseorang mulai

24

langsung berhadapan dengan masalah pekerjaan, masalah kemasyarakatan,


dan masa perkawinan. Untuk itu pendidikan agama Islam masih dibutuhkan
dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut. 31
Berakhirnya

masa

dewasa

bukan

berarti

berakhir

pula

pendidikan.

Mengucapkan syahadat bagi orang yang sakaratul maut dianggap menjadi akhir bagi
pendidikan Islam. Sampai pun di akhir kehidupan seorang muslim, nabi tetap
memerintahkan muslim untuk mengajari saudaranya membaca La Ilaha Illallah.
(HR. Muslim).
Demikianlah peran penting pendidikan sepanjang hayat dalam kehidupan
seorang muslim. Sehingga dengan prinsip ini, akan lahir banyak ulama-ulama yang
akan mewarisi nabi, mewarisi bukan dalam harta kekayaan, jabatan dan lain
sebagainya, namun mewarisi dalam tanggung jawab keilmuan, dakwah islamiyah, dan
penjaga moral masyarakat.

31

Ibid, hal. 263-274.

25

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah diadakan penelitian secara mendalama terhadap hadits kewajiban
menuntut ilmu sepanjang hayat yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan al-Syihab alQodhoiy, dapat disimpulkan:
1.

Sanad hadis pada jalur al-Turmudziy dinilai marfu muttashil (bersambung


sanadnya secara sempurna berdasarkan urutan thabaqatnya), dan kualitas
sanadnya adalah hasan karena ada satu perawi daalam jalur tersebut yang
mendapat penilaian la batsa bihi, yaitu Abdullah bin al-Samh al-Sahmiy.

2.

Sanad hadis pada jalur al-Syihab al-Qodhoiy dinilai marfu muttashil


(bersambung sanadnya secara sempurna berdasarkan urutan thabaqatnya), dan
kualitas sanadnya adalah dhoif, karena ada satu perawi daalam jalur tersebut
yang mendapat penilaian dhoif , yaitu Muhammad bin Rouh yang mendapat
penilaian dhoif dan munkar al-ahadits.

3.

Secara matan, hadits ini dinilai shahih dan maqbul karena kesesuaian
kandungannya dengan al-Quran, hadits ini juga tidak bertentangan dengan hadits
lain, serta terhindar dari syadz dan illat.

4.

Pendidikan sepanjang hayat sudah dimulai dejak pemilihan calon ibu hingga saat
sakaratul maut menjelang.
Demikian bagi pengkaji hadits, dituntut cermat dalam menelaah kualitas hadits

agar dapat diperoleh fakta yang secara ilmiah akademis dapat dipertanggung
jawabkan. Semoga makalah sederhana ni dapat bermanfaat baik secara akademis
maupun sebagai referensi ilmu pengetahuan. Wallahu alamu bi al-shawab.

26

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Hasyim, Kritik Matan Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2004)
al-Abrasy, Muh. Atiah, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, (Kairo: Dar el.-Qaumiyyah, 1964)
Ali, Nizar, Memahami Hadits Nabi (Metode dan Pendekatan), (Yogyakarta: YPI al-Rohmah,
2001)
al-Shobuni, Muhammad Ali, Shofwah al-Tafasir, (Beirut: Dar el-Fikr, 2001), juz 2
at-Tahhan, Mahmud. Metode Takhrij dan Penelitian Sanad Hadits, (Surabaya: Bina Ilmu,
1995)
Freeware, Jawami Al-Kalim versi 4,5
Ismail, M. Syuhudi. Kaidah Kesahihan Sanad Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995)
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 2013), edisi ke-2, Cet. Ke 1
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), Cet. III
Ulwan, Abdullah Nasikh, Tarbiyah Al-Aulad Fi Al-Islam, (Beirut : Dar el-Salam, 1975), juz 1

27