Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Resep Obat
Surat Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 193/KabB.VII/71
memberikan definisi berikut untuk obat: Obat ialah suatu bahan atau paduan bahan-bahan
yang

dimaksudkan

untuk

digunakan

dalam

menetapkan

diagnosis,

mencegah,

mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau


kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau
memperindah badan atau bagian badan manusia. (Joenoes Z Nanizar, 1994).
Masalah keamanan obat, dewasa ini menjadi perhatian penting bagi banyak orang
yang terlibat dalam pelayanan dan perawatan penderita, mencakup pimpinan rumah sakit,
dokter, perawat dan apoteker. Keanekaragaman obat-obatan, meningkatnya jumlah dan jenis
obat yang ditulis dokter untuk tiap penderita, meningkatnya jumlah penderita rawat jalan dan
penderita rawat tinggal yang diobati serta berubahnya konsep pelayanan medik,
mengakibatkan keharusan agar suatu sistem praktik pengobatan yang aman dikembangkan
dan dipelihara untuk memastikan bahwa penderita menerima pelayanan dan keamanan yang
sebaik mungkin. (Lia, 2007)
Penyampaian obat untuk penderita rawat jalan umumnya menggunakan resep atau
order dokter. Evaluasi penulisan resep perlu dilakukan di rumah sakit, karena penggunaan
obat yang sangat meningkat, memungkinkan meningkatnya bahaya kesalahan yang
merupakan penyebab utama kesalahan obat dalam rumah sakit. (Lia, 2007)
Intervensi apoteker dalam evaluasi penulisan resep dapat mengurangi terjadinya
kesalahan obat. Apoteker juga harus berpartisipasi dalam komite rumah sakit yang sesuai,
serta bekerja sama dengan dokter, perawat, pimpinan rumah sakit, untuk memeriksa dan
menyempurnakan sistem guna memastikan bahwa proses pengobatan aman. (Lia, 2007)
Resep obat adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada
apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan
dokter hewan. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola
apotek.
4

Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang ditulis dalam resep, apoteker wajib
berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat alternatif. (Lestari. K. S, 1958)
Apoteker wajib memberi informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang
diserahkan kepada pasien. Informasi meliputi cara penggunaan obat, dosis dan frekuensi
pemakaian, lamanya obat digunakan indikasi, kontra indikasi, kemungkinan efek samping
dan hal-hal lain yang diperhatikan pasien. Apabila apoteker menganggap dalam resep
terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, harus diberitahukan kepada dokter
penulis resep. Bila karena pertimbangannya dokter tetap pada pendiriannya, dokter wajib
membubuhkan tanda tangan atas resep. Salinan resep harus ditanda tangani oleh apoteker.
(Hendrik, 2005)
Pelayanan resep didahului proses skrining resep yang meliputi pemeriksaan
kelengkapan resep, keabsahan dan tinjauan kerasionalan obat. Resep yang lengkap harus ada
nama, alamat dan nomor ijin praktek dokter, tempat dan tanggal resep, tanda R pada bagian
kiri untuk tiap penulisan resep, nama obat dan jumlahnya, kadang-kadang cara pembuatan
atau keterangan lain yang dibutuhkan, aturan pakai, nama pasien, serta tanda tangan atau
paraf dokter (Syamsuri, 2006)
Tinjauan kelengkapan obat meliputi pemeriksaan dosis, frekuensi pemberian, adanya
polifarmasi, interaksi obat, karakteristik penderita atau kondisi penyakit yang menyebabkan
pasien menjadi kontra indikasi dengan obat yang diberikan. Peracikan merupakan kegiatan
menyiapkan, mencampur, mengemas dan memberi etiket pada wadah.

Pada waktu

menyiapkan obat harus melakukan perhitungan dosis, jumlah obat dan penulisan etiket yang
benar. Sebelum obat diserahkan kepada penderita perlu dilakukan pemeriksaan akhir dari
resep meliputi tanggal, kebenaran jumlah obat dan cara pemakaian. Penyerahan obat disertai
pemberian informasi dan konseling untuk penderita beberapa penyakit tertentu. (Iskandar S.,
1989)

B. Depo Farmasi
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan gabungan alat
ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan
terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern, yang semuanya terikat

bersama-sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang
baik. (Lia, 2007)
Menurut

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor:

983/Menkes/SK/XI/1992, tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya kesehatan


secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan
pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan
pencegahan serta melaksanakan rujukan. (Lia, 2007)
Rumah sakit umum mempunyai empat fungsi dasar, antara lain pelayanan penderita,
pendidikan dan pelatihan, penelitian serta kesehatan masyarakat. (Lia, 2007)
Instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) adalah suatu bagian atau unit di rumah sakit,
tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk
keperluan rumah sakit itu sendiri dibawah pimpinan seorang apoteker profesional yang
kompeten dan memenuhi syarat menurut hukum. (Lia, 2007)
Tugas utama IFRS adalah pengelolaan mulai dari perencanaan, peracikan, pelayanan
langsung kepada penderita sampai dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang
beredar dan digunakan dalam rumah sakit baik untuk penderita rawat tinggal, rawat jalan
maupun untuk semua unit poliklinik rumah sakit. Fungsi instalasi farmasi rumah sakit adalah
:
1. Fungsi nonklinik adalah fungsi yang tidak memerlukan interaksi dengan profesional
kesehatan lain, sekalipun semua pelayanan farmasi harus disetujui oleh staf medik
melalui panitia farmasi dan terapi (PFT). Lingkup fungsi farmasi nonklinik adalah
perencanaan, penetapan spesifikasi produk dan pemasok, pengadaan, pembelian,
produksi, penyimpanan, pengemasan dan pengemasan kembali, distribusi, dan
pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah sakit
secara keseluruhan.
2. Fungsi klinik adalah fungsi yang secara langsung dilakukan sebagai bagian terpadu dari
perawatan penderita atau memerlukan interaksi dengan profesional kesehatan lain yang
secara langsung terlibat dalam pelayanan penderita.
Panitia farmasi dan terapi adalah sekelompok penasehat dari staf medik dan bertindak
sebagai garis komunikasi organisasi antara staf medik dan IFRS. Panitia ini mengevaluasi

secara klinik penggunaan obat dan pemberian obat serta mengelola sistem formularium.
Panitia ini difungsikan rumah sakit untuk mencapai terapi obat yang rasional. (Lia, 2007)
Panitia farmasi dan terapi mempunyai kegunaan, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Perumus kebijakan-prosedur
Panitia farmasi dan terapi memformulasi kebijakan berkenaan dengan evaluasi, seleksi,
dan penggunaan terapi obat, serta alat yang berkaitan di rumah sakit.
2. Edukasi
Panitia farmasi dan terapi ini memberi rekomendasi atau membantu memformulasi
program yang didesain untuk memenuhi kebutunan staf professional (dokter, perawat,
apoteker, dan praktisi pelayanan kesehatan lainnya) untuk melengkapi pengetahuan
mutakhir tentang obat dan penggunaan obat. Panitia farmasi dan terapi ini meningkatkan
penggunaan obat secara rasional melalui pengembangan kebijakan dan prosedur yang
relevan untuk seleksi obat, pengadaan, penggunaan, dan melalui edukasi tentang obat
bagi penderita dan staf profesional. (Lia, 2007)
Organisasi dasar tiap rumah sakit dan staf mediknya dapat berpengaruh pada fungsi
dan lingkup PFT. Berikut ini tertera beberapa fungsi suatu PFT yang disajikan sebagai
pedoman :
1. Berfungsi dalam suatu kapasitas evaluatif, edukasi, dan penasehat bagi staf medik dan
pimpinan rumah sakit, dalam semua hal yang berkaitan dengan penggunaan obat.
2. Mengembangkan dan menetapkan formularium obat yang diterima untuk digunakan
dalam rumah sakit dan mengadakan revisi tetap.
3. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan terapi obat yang aman
dan bermanfaat.
4. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan manfaat biaya terapi
obat.
5. Menetapkan dan merencanakan program edukasi yang sesuai bagi staf profesional rumah
sakit tentang berbagai hal yang berkaitan dengan penggunaan obat.
6. Berpartisipasi dalam kegiatan jaminan mutu yang berkaitan dengan distribusi, pemberian,
dan penggunaan obat.
7. Memantau dan mengevaluasi reaksi obat merugikan dalam rumah sakit dan membuat
rekomendasi yang tepat untuk mencegah berulangnya kembali.

8. Memprakarsai atau memimpin program dan hasil studi evaluasi penggunaan obat,
pengkajian hasil dari kegiatan tersebut dan membuat rekomendasi yang tepat untuk
mengoptimalkan penggunaan obat.
9. Bersama IFRS merencanakan dan menetapkan suatu sistem distribusi obat dan prosedur
pengendalian yang efektif.
10. PFT mempunyai tanggung jawab pada pengadaan edukasi bagi staf profesional rumah
sakit.
11. Membantu IFRS dalam pengembangan dan pengkajian kebijkan, ketetapan dan peraturan
berkaitan dengan penggunaan obat dalam rumah sakit sesuai dengan perundangundangan lokal dan nasional.
12. Mengevaluasi, menyetujui, atau menolak obat yang diusulkan untuk dimasukkan
kedalam atau dikeluarkan dari formularium rumah sakit.
13. Menetapkan kategori obat yang digunakan dalam rumah sakit dan menempatkan tiap obat
pada suatu kategori tertentu.
14. Mengkaji penggunaan obat dalam rumah sakit dan meningkatkan standar optimal untuk
terapi obat rasional.
15. Membuat rekomendasi tentang obat yang disediakan dalam daerah perawatan penderita.
(Lia, 2007)
Sistem formularium adalah suatu metode yang digunakan staf medik dari suatu rumah
sakit yang bekerja melalui PFT, mengevaluasi, menilai, dan memilih dari berbagai zat aktif
obat dan produk obat yang tersedia, yang dianggap paling berguna dalam perawatan
penderita. Jadi, sistem formularium adalah sarana

penting dalam memastikan mutu

penggunaan obat dan pengendalian harganya. Sistem formularium menetapkan pengadaan,


penulisan, dispensing, dan pemberian suatu obat dengan nama dagang atau obat dengan nama
generik apabila obat itu tersedia dalam dua nama tersebut. Formularium adalah dokumen
berisi kumpulan produk obat yang dipilih PFT disertai informasi tambahan penting tentang
penggunaan obat tersebut, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk
rumah sakit tersebut, yang terus menerus direvisi agar selalu akomodatif bagi kepentingan
penderita dan staf profesional pelayan kesehatan, berdasarkan data konsumtif dan data
morbiditas serta pertimbangan klinik staf medik rumah sakit. (Lia, 2007)

Pemantauan terapi obat adalah suatu proses yang mencakup semua fungsi, diperlukan
untuk memastikan terapi obat secara tepat, aman, mujarab, dan ekonomis bagi penderita.
Fungsi-fungsi tersebut mencakup mengkaji pilihan obat oleh dokter untuk kondisi yang di
diagnosis; mengkaji pemberian obat; memastikan dosis yang benar; mengetahui adanya atau
memadainya respon terapi; mengkaji kemungkinan untuk dan terjadinya ROM; serta
merekomendasikan

perubahan

atau

alternatif

dalam

terapi

jika

situasi

tertentu

memerlukannya.
Untuk memantau terapi obat secara tepat, apoteker harus mampu melakukan fungsi
berikut yang benar-benar merupakan dasar dari pemantauan terapi obat. Proses pemantauan
terapi obat adalah :
1. Pengumpulan data penderita dan mengatur data kedalam suatu format masalah
2. Hubungkan terapi obat masalah tertentu atau status penyakit untuk menetapkan ketepatan
terapi tertentu.
3. Mengembangkan sasaran terapi tertentu.
4. Mendesain rencana pemantauan terapi obat.
5. Pengembangan parameter pematauan tertentu
6. Penetapan titik akhir Farmakoterapi
7. Penetapan frekuensi pemantauan
8. Identifikasi masalah dan/ atau kemungkinan ROM.
9. Pengembangan alternatif atau solusi masalah. Proses pengambilan
10. keputusan.
11. Pendekatan intervensi dan tindak lanjut.
12. Mengkomunikasikan temuan dan rekomedasi, jika perlu kepada dokter atau profesional
pelayan kesehatan lain, setiap temuan dan rekomendasi untuk solusi atau alternatif
terhadap masalah yang diidentifikasi.
(Lia, 2007)
Kesalahan obat adalah pemberian suatu obat yang menyimpang dari resep atau order
dokter yang tertulis dalam kartu pengobatan penderita atau menyimpang dari kebijakan,
prosedur, dan standar rumah sakit. Kecuali kesalahan karena kelalaian memberikan dosis
obat kepada penderita, yang dimaksud kesalahan obat adalah jika dosis obat telah benar-

benar sampai pada penderita. Misalnya, suatu kesalahan dosis yang terdeteksi dan diperbaiki
sebelum pemberian kepada penderita, bukan suatu kesalahan obat.
Secara umum kesalahan pengobatan penyebabnya adalah kekuatan obat pada etiket
atau dalam kemasan membingungkan; nomenklatur sediaan obat (nama obat kelihatan mirip
atau bunyi nama obat mirip); kegagalan atau gagal fungsi peralatan; tulisan tangan tidak
terbaca; penulisan kembali resep / order dokter yang tidak tepat; perhitungan dosis yang tidak
teliti; personel terlatih tidak mencukupi; menggunakan singkatan yang tidak tepat dalam
penulisan resep; kesalahan etiket; beban kerja berlebihan; konsentrasi hilang dalam unjuk
kerja individu; serta obat-obatan yang tidak tersedia.
Kesalahan

pengobatan

mencakup

kesalahan

administratif

yang

disebabkan

ketidakjelasan tulisan, ketidaklengkapan resep, keaslian resep, ketidakjelasan instruksi.


Kesalahan farmasetik seperti dosis, bentuk sediaan, stabilitas, inkompatibilitas, dan lama
pemberian. Serta kesalahan klinis seperti alergi, reaksi obat yang tidak sesuai, interaksi yang
meliputi obat dengan penyakit, obat dengan obat lain dalam hal lama terapi, dosis, cara
pemberian dan jumlah obat. (Pane A Hamzah, 2000)

C. Penulisan Resep Obat yang Rasional


Penulisan resep di RS pemerintah selain mengacu pada FRS, juga mengacu pada
Peraturan Menteri Kesehatan nomor 085/Menkes/Per/I/1989 tentang kewajiban menuliskan
resep dan atau menggunakan obat. Biaya obat yang diresepkan berkaitan dengan kemampuan
pasien membayar biaya pengobatan. Kemampuan pasien membayar biaya pengobatan setiap
bulan atau ATP (ability to pay) dihitung berdasarkan perkiraan sebesar 5% dari biaya yang
dikeluarkan pasien setiap bulan untuk bukan makan (Whorten DB. 1994).
Resep adalah sebuah pesanan dalam bentuk tulisan yang diberikan oleh dokter kepada
apoteker. Disamping nama penderitanya, pesanan obat juga termasuk perintah kepada
apoteker dan petunjuk untuk penderita. Resep juga didefinisikan sebagai pesanan/permintaan
tertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk membuat atau menyerahkan obat kepada
pasien. Orang atau petugas yang berhak menulis resep ialah dokter; dokter gigi, terbatas pada
pengobatan gigi dan mulut; serta dokter hewan, terbatas pengobatan untuk hewan. Resep
harus terbaca jelas dan lengkap. Jika resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak
lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep (Anif M. 2000).

Supaya proses pengobatan berhasil maka resepnya harus baik dan benar (rasional).
Resep yang rasional harus memuat (Hendrik, 2005):
1. Nama, alamat, dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi, dan dokter hewan.
2. Tanggal penulisan resep (inscriptio)
3. Nama setiap obat atau komponen obat.
4. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep.
5. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)
6. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku (subscriptio).
7. Nama serta alamat pasien.
8. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi
dosis maksimal.
(Joenoes Z Nanizar 1994).

Evaluasi penulisan resep bertujuan untuk mencegah kesalahan penulisan resep dan
ketidaksesuaian pemilihan obat bagi individu tertentu. Kesalahan penulisan dan
ketidaksesuaian pemilihan obat untuk penderita tertentu dapat menimbulkan ketidaktepatan
dosis, interaksi obat yang merugikan, kombinasi antagonis dan duplikasi penggunaan.
Penyampaian obat untuk penderita biasanya dengan cara penulisan resep. Resep atau order
tersebut sebelum disiapkan harus dikaji terlebih dahulu oleh apoteker. Pengkajian resep obat
oleh apoteker sebelum disiapkan merupakan salah satu kunci keterlibatan apoteker dalam
proses penggunaan obat (Lia, 2007).
Pengkajian ketepatan atau evaluasi penulisan obat dalam resep, dilakukan dengan
mengacu pada kriteria atau standar penggunaan obat yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Kriteria tersebut pada umumnya dibuat oleh panitia farmasi dan terapi didasarkan pada
pustaka mutakhir dan refleksi pengalaman klinik dari staf medik di rumah sakit. Kriteria ini
digunakan oleh apoteker untuk mengevaluasi resep atau order dokter.
Resep yang tepat, aman, dan rasional adalah resep yang memenuhi 6 (enam) tepat,
ialah setelah diagnosanya tepat maka kemudian :
1. Memilih obatnya tepat sesuai dengan penyakitnya,
2. Dosis yang tepat,

3. Bentuk sediaan yang tepat,


4. Waktu yang tepat,
5. Cara yang tepat,
6. Penderita yang tepat.
(Lestari, K. S. 1958).