Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

PARASITOLOGI VETERINER

Cacing Pita Taenia solium

OLEH
Kelompok 2

Nurmauliah S.

(O11114001)

Suci Sulfiani

(O11114002)

Lola Adriana

(O11114003)

Nurfaatimah Azzahrah

(O11114506)

Sri Ravida

(O11114507)

Ummu Hani

(O11114508)

Program Studi Kedokteran Hewan


Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin
2015
Taenia Solium

Cacing Pita Taenia solium


A. Pendahuluan
Taenia solium merupakan infeksi yang endemik pada Amerika Tengah dan
Selatan serta beberapa negara di Asia Tenggara seperti Korea, Thailand, India,
Filipina, Indonesia, Afrika, Eropa Timur, Nepal, Bhutan, dan China.
Prevalensi tertinggi ditemukan pada Amerika Latin dan Afrika. Bahkan,
prevalensi beberapa daerah di Mexico dapat mencapai 3,6% dari populasi
umum . Bolivia merupakan salah satu negara dengan prevalensi tertinggi
selain Brazil, Ekuador, Mexico, dan Peru di America Latin (sesuai dengan
kriteria Pan American Health Organization, negara-negara dengan tingkat
lebih dari 1% dianggap memiliki tingkat prevalensi tinggi).
Negara Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk
merupakan masyarakat beragama muslim dan tidak mengkonsumsi daging
babi. Namun, ada beberapa daerah, seperti Bali dan Papua, yang banyak
mengkonsumsi daging babi. Sampai saat ini, Papua masih menjadi daerah
endemik taeniasis dan sistiserkosis.
Provinsi Papua, tepatnya di Kabupaten Jayawijaya, memiliki prevalensi
taeniasis solium sebesar 15%. Sedangkan di Bali, dahulu merupakan daerah
endemis bagi taeniasis dan sistiserkosis, telah dilakukan penghentian transmisi
dari sistiserkosis (Siahaan, 2012).
Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mengetahui cacing pita
Taenia Solium, karena akan sangat berbahaya ketika kita terkena penyakit
yang disebabkan oleh Taenia Solium. Berikut akan dijelaskan mengenai
pengartian, morfologi, siklus hidup, juga pencegahan dan pengobatan dari
penyakit dari Taenia Solium.
B. Pengertian
Taenia solium , dikenal sebagai cacing pita babi , ditemukan di seluruh
dunia . Hal ini terutama terjadi di negara-negara berkembang di mana babi
dibesarkan dalam kondisi sanitasi yang buruk . Di belahan bumi Barat , itu adalah
sebagian besar ditemukan di Amerika Selatan dan Tengah . Kanada, Amerika
Serikat , Argentina dan Uruguay empat negara dari kawasan ini yang tampaknya
Taenia Solium

telah diberantas cacing pita , meskipun kasus infeksi Taenia solium pada orang
telah muncul baru-baru ini . Kemunculan ini telah dikaitkan dengan meningkatnya
jumlah imigran dari negara-negara dengan transmisi cacing pita , yang host ke T.
Solium (Chung, 2011).
Taenia solium adalah salah satu jenis cacing pita yang berparasit di dalam
usus halus manusia. Taenia solium (cacing pita babi) merupakan infeksi cacing
yang distribusinya kosmopolit. Cacing ini menginfeksi baik manusia dan babi.
Manusia biasanya sebagai hospes definitif atau hospes perantara, sedangkan babi
sebagai hospes perantara. Habitat cacing yang telah dewasa di dalam usus halus
(jejunum bagian atas) manusia, sedangkan larvanya terdapat di dalam jaringan
organ tubuh babi (Siahaan, 2012).
Dalam klasifikisai taksonomi cacing ini termasuk kelas Eucestoda, ordo
Taenidae, dan genus Taenia. Tergolong dalam satu jenis genus dengan Taenia
solium adalah Taenia saginata dan Taenia asiatica yang juga bersifat zoonosis.
Taenia Solium dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Wikipedia, 2015) :
Klafisikasi Ilmiah
Kerajaa
n:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:

Animalia
Platyhelminthes
Cestoda
Cyclophyllidea
Taeniidae
Taenia
T. solium

Nama binomial
Taenia solium
Linnaeus, 1758
Taenia solium adalah cacing pita endoparasit zoonotik usus ditemukan di
seluruh dunia, dan yang paling umum di negara-negara di mana babi dimakan
(Wikipedia, 2015).

Taenia Solium

Taenia solium dewasa hidup parasit pada saluran pencernaan manusia


(usus). Inang perantaranya (hospes intermediet) adalah babi dan manusia
bertindak sebagai inang tetapnya (hospes definitifnya) (Wikipedia, 2015).
Taenia solium (cacing pita babi) adalah cacing pita pipih seperti taenia
saginata yang berwarna putih. Meskipun secara morfologis sangat mirip dengan
Taenia saginata, Taenia solium sedikit lebih pendek dan memiliki skoleks (organ
lampiran) yang berbeda. Skoleks Taenia solium memiliki 4 pengisap besar dengan
dua baris pengait. Cacing pita dewasa tumbuh menjadi sekitar 6 mm lebar dan 2-7
m panjangnya, dengan sekitar 800 segmen yang disebut proglotida. Saat cacing
pita tumbuh di usus, proglotida matang yang disebut proglotida gravid akan
dilepas keluar tubuh manusia. Setiap proglotida gravid berisi organ reproduksi
jantan dan betina dan 30-40 ribu rumah telur berisi embrio. Taenia solium
memiliki pola penularan yang sangat mirip dengan Taenia saginata. Manusia
adalah inang definitif dengan babi sebagai hospes perantara. Infeksi pada manusia
dimulai dengan mengkonsumsi daging babi mentah atau kurang matang yang
terinfeksi (Kamus Kesehatan, 2015).
Infeksi cacing pita telah tercatat dalam sejarah dari 1500 SM dan telah
diakui sebagai salah satu parasit manusia awal . Infeksi Taenia solium telah diakui
sejak zaman Alkitab dan siklus hidup parasit telah diidentifikasi sejak tahun 1850an . Meskipun T. solium dan T. saginata yang sangat mirip , infeksi T. solium
ekstraintestinal jauh lebih berbahaya dan serius (Anonim, 2001)

C. Penyebaran
Penyebaran Taenia solium bersifat kosmopolit,terutama di negara negara
yang mempunyai banyak peternakan babi dan di tempat daging babi banyak
dikonsumsi seperti di eropa, Amerika Latin, Republik Rakyat Cina, India, dan
Amerika Utara. Penyakit ini tidak pernah ditemukan di negara Islam yang
melarang pemeliharaan dan mengkonsumsi babi. Kasus taeniasis atau sistiserkosis
juga ditemukan pada beberapa wilayah di Indonesia, antara lain Irian Jaya, Bali,

Taenia Solium

dan Sumatera Utara. Infeksi penyakit ini juga sering dialami oleh para
transmigran yang berasal dari daerah daerah tersebut.
Penyakit yang disebabkan cacing pita ini, sering dijumpai di daerah
dimana orang orang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging babi yang
dimasak tidak sempurna. Disamping itu kondisi kebersihan lingkungan yang jelek
dan melakukan defekasi di sembarang tempat memudahkan babi mengkonsumsi
tinja manusia. Penularan Taenia solium jarang terjadi di Amerika, Kanada, dan
jarang sekali terjadi di Inggris, dan di negara negara skandinavia. Penularan oral
vekal oleh karena kontak dengan imigran yang terinfeksi oleh Taenia solium
dilaporkan terjadi dengan frekuensi yang meningkat di Amerika. Para imigran dari
daerah endemis nampaknya tidak mudah untuk menyebarkan penyakit ini ke
negara-negara yang kondisi sanitasinya baik.

D. Morfologi cacing dan telur Taenia Solium


Taenia solium merupakan Cacing pita babi pada manusia. Cacing dewasa
terdapat pada usus halus mannusia, dan dapat mencapai 2 sampai 7 m dan dapat
bertahan hidup selama 25 tahun atau lebih. Secara umum, cacing yang
diklasifikasikan kedalam kelas cescota ini memiiki ciri-ciri umum sebagai berikut
(Ika, 2015) :
1. Tubuh cacing ini pipih (Platy) seperti pita yang terdiri atas tiga bagian
yaitu skoleks, leher, dan strobili. struktur tubuh cacing ini terdiri atas
kepala (skoles) dan rangkaian segmen yang masing-masing disebut
proglotid. Pada bagian kepala terdapat 4 alat isap (Rostrum) dan alat kait
(Rostellum) yang dapat melukai dinding usus. Organ pelekat atau skoleks,
mempunyai empat batil isap yang besar serta rostelum yang bundar dengan
dua baris kait berjumlah 22-32 kait. Kait besar (dalam satu baris)
mempunyai panjang 140 180 mikron dan bagian yang kecil (dalam baris
yang lain) panjangnya 110-140 mikron. Disebelah belakang skoleks

Taenia Solium

terdapat leher/daerah perpanjangan (strobilus). Bagian lehernya pendek


dan kira kira setengah dari lebar skoleks.
2. Strobila Taenia solium tersusun atas 800 sampai 1000 segmen (proglotida).
proglotid imatur bentuknya lebih melebar daripada memanjang, yang
matur berbentuk mirip segi empat dengan lubang kelamin terletak di
bagian lateral secara berselang seling di bagian kiri dan kanan proglotid
berikutnya, sedang segmen gravid bentuknya lebih memanjang daripada
melebar. Proglotid gravid panjangnya 10-12 x 5-6 mm, dan uterus
mempunyai cabang pada masing masing sisi sebanyak 7 12 pasang.
Segmen yang gravid biasanya dilepas secara berkelompok 5-6 segmen
tetapi tidak aktif keluar dari anus. Proglotid gravid dapat mengeluarkan
telur 30.000 50.000 butir telur.
3. Cacing ini tergolong sebagai hemaprodit yaitu individu yang berkelamin
ganda (jantan dan betina) dimana kedua organ kelaminnya berada pada
setiap segmen. artinya menghasilkan ovum dan sperma dalam satu
proglotid.
4. Taenia solium tidak memiliki organ pencernaan sehingga untuk
memperoleh nutrisi yang dibutuhkannya cacing ini mengambil dari
inangnya dengan menggunakan bagian tubuhnya yang bernama tugumen.
5. Sistem ekskresinya menggunakan terdiri dari collecting canal dan flame
cell
6. Nama larva cacing Taeinia solium disebut Cysticercus cellulosae
7. Sistiserkosis dan taeniasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh
infeksi Taenia solium
8. Telurnya berbentuk bulat atau sedikit oval (31 -43 mikro meter),
mempunyai dinding yang tebal, bergaris garis, dan berisi embrio heksakan
berkait enam atau onkosfer. Telur telur ini dapat tetap bertahan hidup di
dalam tanah untuk berminggu minggu.

Taenia Solium

Gambar D.1 Morfologi cacing Taenia Solium dan Morfologi telur Taenia Solium (Ika,
2015).

Gambar D.2 Cacing Taenia Solium (Alvyanto, 2010).

Gambar D.3 Cacing Taenia Solium A. Scolex B. Kait-kait pada Scolex C. Proglotid
(Natadiasastra dan Ridad, 2009).

Taenia Solium

E. Siklus Hidup
Adapun siklus hidup Taenia Solium mulai dari telur sampai pada hospes
definitifnya (manusia) adalah sebagai berikut (Ika, 2015) :
Taenia solium yang berparasit di bagian proksimal jejunum dapat bertahan
hidup selama 25 sampai 30 tahun dalam usus halus manusia. Cacing ini
mendapatkan nutrisinya dengan menyerap isi usus. Cacing pita dewasa akan mulai
mengeluarkan telurnya dalam tinja penderita taeniasis antara 8 -12 minggu setelah
orang yang bersangkutan terinfeksi (Chin dan Kandun 2000) Sewaktu - waktu
proglotida gravid berisi telur akan dilepaskan dari ujung strobila cacing dewasa
dalam kelompok kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 segmen. Prolotida
gravid keluar bersama tinja penderita. Telur dapat pula keluar dari proglotida pada
waktu berada di dalam usus manusia. Di luar tubuh telur akan menyebar ke tanah
lingkungan sekitar dimana telur tersebut mampu bertahan hidup selama 5-9 bulan.
Infeksi akan terjadi apabila telur berembrio tertelan oleh babi. Di dalam
lumen usus halus telur akan menetas dan mengeluarkan embrio (onkosfer).
Selanjutnya onkosfer tersebut menembus dinding usus, masuk ke pembuluh limfe
atau aliran darah, dibawa ke seluruh bagian tubuh dan akhirnya mencapai organ
organ yang seperti otot jantung, otot lidah, otot daerah pipi, otot antar tulang
rusuk, otot paha, paru-paru, ginjal, hati. Kista mudah terlihat pada tempat
predileksi tadi antara 6 hingga 12 hari setelah infeksi. Sistiserkus kemudian
terbentuk pada organ-organ tersebut dan dikenal dengan Cysticercus Cellulosae.
Bila daging babi yang mengandung parasit ini dimakan oleh manusia, kista akan
tercerna oleh enzim pencernaan sehingga calon skoleks (protoskoleks) akan
menonjol keluar. Selanjutnya protoskoleks tersebut akan menempel pada mukosa
jejunum dan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam waktu bebrapa bulan.
Cysticercus cellulosae juga dapat dijumpai pada manusia, yaitu di jaringan
sub kutan, mata, jantung dan otak. Kejadian ini disebabkan tertelannya makanan
atau minuman yang terkontaminasi oleh telur parasit tersebut. Sumber
kontaminasi

parasit

ini

berupa

tinja

manusia

yang

mengandung

parasit, dan tangan manusia yang kotor yang terkontaminasi telur Taenia solium.

Taenia Solium

Apabila manusia memekan daging babi yang mengandung Cysticercus ini maka
Cysticercus akan tumbuh menjadi cacing pita dewasa dalam usus manusia.
Kemudian daur hidup cacing ini akan terulang kembali.
Secara singkat daur hidup dari Taenia Solium adalah: Telur termakan
oleh hospes embrio keluar dr telur menembus dinding usus saluran getah
bening/darah tersangkut diotot hospes larva sistiserkus daging hospes
dimakan manusia (dinding kista dicerna) skoleks mengalami eviginasi
melekat pd dinding usus halus dewasa (3 bulan) melepas proglotid dengan
telur (Alvyanto, 2010).

Gambar E.1 Siklus hidup Taenia Solium (Yuni, 2014)

F. Patologi dan Gejala Klinis


Nama penyakit yang disebabkan oleh cacing dewasa adalah Taeniasis solium
dan yang disebabkan oleh stadium larva adalah sistiserkosis. Cacing dewasa yang
biasanya berjumlah seekor, tidak menyebabkan gejala klinis yang berarti. Bila
ada, dapat berupa nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala. Darah
tepi dapat menunjukkan eosinofilia (Triyaniuc, 2013).

Taenia Solium

Jika manusia menelan proglotid atau telur Taenia Solium larva Cysticercus
cellulosae dapat tumbuh di dalam tubuh hospes tersebut menimbulkan penyakit
yang disebut Cysticercosis cellulosae (Natadiasastra dan Ridad, 2009).
Gejala klinis yang lebih berarti dan sering diderita, disebabkan oleh larva dan
disebut sistiserkosis. Infeksi ringan biasanya tidak menunjukkan gejala, kecuali
bila alat yang dihinggapi adalah alat tubuh yang penting. Pada manusia,
sistisserkus atau larva taenia solium sering menghinggapi jaringan subkutis, mata,
jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru dan rongga perut. Walaupun sering
dijumpai, kalsifikasi (perkapuran) pada sistiserkus tidak menimbulkan gejala,
akan tetapi sewaktu-waktu terdapat pseudohipertrofi otot, disertai gejala miositis,
demam tinggi dan eosinofilia (Triyaniuc, 2013).
Pada jaringan otak atau medula spinalis, sistiserkus jarang mengalami
klasifikasi. Keadaan ini sering menimbulkan reaksi jaringan dan dapat
mengakibatkan serangan ayan (epilepsi), meningo-ensefalitis, gejala yang
disebabkan oleh tekanan intrakranial yang tinggi seperti nyeri kepala dan kadangkadang kelainan jiwa. Hidrosefalus internus dapat terjadi, bila timbul sumbatan
aliran cairan serebrospinal. Sebuah laporan menyatakan bahwa sebuah sstiserkua
tunggal yang ditemukan dalam ventrikel IV dari otak, dapat menyebabkan
kematian (Muslim, 2009 ; Triyanuic,2013).
Telur taenia solium (cacing pita babi) bisa menetas di usus halus, lalu
memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit
Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit dan
otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata ; tetapi kalau infeksi cacing pita
Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan menimbulkan
efek lanjutan yang parah.
Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi atau sapi yang
mentah atau setengah matang dan me-ngandung larva cysticercus. Di dalam usus
halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal
seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, napsu makan menurun atau
meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa
menjadi buruk se-hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi

Taenia Solium

didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar
kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
G. Diagnosis dan Pemeriksaan Laboratorium
G.1 Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan ditemukannya cacing di dalam
tinja. Sepotong selotip ditempelkan di sekeliling lubang dubur, lalu dilepas dan
ditempelkan pada sebuah kaca obyek dan diperiksa dibawah mikroskop untuk
melihat adanya telur parasit. Melalui mikroskop memeriksa sample tinja
apakah ada telur cacing parasit, ookista protozoa dan takizoit.
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan
laboratorium. Anamnesis: penderita pernah mengeluarkan benda pipih
berwarna putih seperti ampas nangka bersama tinja atau keluar sendiri dan
bergerak-gerak. Benda itu tiada lain adalah potongan cacing pita (proglotid).
Cara keluarnya proglotid Taenia solium berbeda dengan Taenia saginata.
Proglotid Taenia solium biasanya keluar bersama tinja dalam bentuk rangkaian
56 segmen. Sedangkan Taenia saginata, proglotidnya keluar satu-satu bersama
tinja dan bahkan dapat bergerak sendiri secara aktif hingga keluar secara
spontan.
G.2 Pemeriksaan Laboratorium
Secara

makroskopis

(melihat

tanpa

menggunakan

alat),

yang

diperhatikan dalam hal ini adalah bentuk proglotidnya yang keluar bersama
tinja. Bentuknya cukup khas, yaitu segiempat panjang pipih dan berwarna putih
keabu-abuan.
Pemeriksaan secara mikroskopis untuk mendeteksi telurnya dapat
dikerjakan dengan preparat tinja langsung (directsmear) memakai larutan
eosin. Cara ini paling mudah dan murah, tetapi derajat positivitasnya rendah.
Untuk mendapatkan hasil positivitas yang lebih tinggi, pemeriksaan dikerjakan
dengan metoda konsentras (centrifugal flotation) atau dengan cara perianal
swab memakai cellophane tape.
Jika hanya menemukan telur dalam tinja, tidak bisa dibedakan taeniasis
Taenia solium dan taeniasis Taenia saginata. Agar dapat membedakannya, perlu

Taenia Solium

10

mengadakan pemeriksaan scolex dan proglotid gravidnya. Scolex dan proglotid


gravid dibuat preparat permanen diwarnai dengan borax carmine atau
trichrome, kemudian dilihat di bawah mikroskop. Dengan memperhatikan
adanya kait-kait (hooklet) pada scolex dan jumlah percabangan lateral
uterusnya, maka dapat dibedakan spesies Taenia solium dan Taenia saginata.
Pada scolex Taenia solium terdapat rostellum dan hooklet, sedangkan pada
Taenia saginata tidak terdapat. Percabangan lateral uterus Taenia solium
jumlahnya 712 buah pada satu sisi, dan Taenia saginata 15-30 buah.
Ada cara yang lebih sederhana untuk memeriksa proglotid gravid, yaitu
dengan memasukkan proglotid itu ke dalam larutan carbolxylol 75%. Dalam
waktu satu jam, proglotid menjadi jernih dan percabangan uterusnya tampak
jelas. Cara lainnya yang paling sederhana dan gampang dikerjakan ialah
dengan menjepitkan proglotid yang masih segar di antara dua objek gelas
secara pelan dan hati-hati. Proglotid akan tampak jernih dan percabangan
uterusnya yang penuh berisi telur tampak keruh. Pemeriksaan bisa gagal
apabila percabang- an uterusnya robek dan semua telurnya keluar .

H. Pengobatan
Cara pengobatan cacing (Muslim, 2009):
1. Pengamanan: sehari sebelum terapidilakukan pengosongan lambung dan
memakan makanan cair . kemudian pada hari terapi dilakukan puasa dan
pengurasan isis lambung lagi.
2. Pemberian obat: jika perlu diberikan antiemetic (mencegah muntah) 1-2
jam penderita dicahar lagi untuk mengeluarkan cacing yang sudah lemah.
Agar efektif dilakukan pengulangan terapi setelah 2 minggu dan 3 bulan.
Terapi berhasil jika ditemukan skoleks dalam feses.
3. Jenis obat yang dapat digunakan adalah niklosamid (cacingkeluar tidak
utuh), mepakrin (pada orang dewasa) cacing keluar utuh. Pengobatan
tradisional dapat diberikan biji labu dan pinang.

Taenia Solium

11

Cacing dewasa dianjurkan penggunaan praziquantel atau niklosamid. Karena


kemungkinan Cysticercus dapat terjadi melalui autoinfeksi, pasien harus segera
diobati setelah diagnosis ditegakkan.
Prognosis pada pasien sangat baik bila terdapat cacing dewasanya, baik bila
sistiserkus dapat diambil dengan tindakan bedah, dan buruk bila terdapat parasit
dalam bentuk rasemosa, terutama dalam otak. Beberapa regimen obat baru juga
terbukti sangat efektif untuk membunuh sistiserkus.
I. Epidemiologi danPencegahan
Walaupun cacing ini kosmopolit, frekuensi infeksi Tenia Solium pada manusia
berbeda-beda di dunia. Di amerika serikat parasit dewasa jarang sekali ditemukan
pada manusia karena babi tidak diizinkan masuk ke tempat pembuangan feses
manusia. Kebiasaan hidup penduduk yang dipengaruhi oleh tradisi kebudayaan
dan agama berperan penting. Konsumsi daging yang matang, setengah matang,
atau mentah dan pengertian tentantang kesehatan dan hygiene berperan penting
dalam penularan cacing Taenia Solium maupun Cysticercus Cellulose. Pengobatan
perorangan ataupun pengobatan masal harus dilaksanakan supaya penderita tidak
menjadi sumber infeksi bagi diri sendiri maupun babi dan hewan lain (Muslim,
2009).
Pendidikan mengenai kesehatan harus dirintis. Cara beternak babi harus
diperbaiki, agar tidak ada kontak dengan feses manusia. Sebaiknya untuk ternak
babi harus digunakan kandang yang bersih dan makanan ternak yang sesuai.
Frekuensi parasit pada babi, yang pada beberapa Negara mencapai 25 % adalah
paling tinggi karena sanitasi tidak ada dan pembuangan feses dilakukan menurut
cara-cara yang salah (Muslim, 2009).
Pencegahan dan upaya pengendalian merupakan hal yang penting untuk
diperhatikan

guna

menurunkan

prevalensi

sistiserkosis. Tindakan pengendalian meliputi :

Taenia Solium

12

penyakit

Taeniasis

maupun

1. Mencucinya sebelum dimasak, rebus dahulu hingga 100 derajat celcius


lebih, lalu diolah dan dimasak hingga benar-benar matang. Tetapi menurut
hasil reset laboratorium Kota Batam, lebih dianjurkan jika kita mengurangi
memakan daging babi, karena terdapat Taenia solium di mana panjang
cacing ini kurang lebih hingga 200.000 cm yang akan berarang juga di
perut yang mengonsumsinya (Wikipedia, 2015).
2. Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati semua penderita
Taeniasis disuatu daerah
3. Meningkatkan pendidikan masyarakat dengan memberikan berbagai
penyuluhan kepada masyarakat
4. Meningkatkan kebersihan Higiene, sanitasi diri dan lingkungan meliputi :
Pembangunan sarana sanitasi misalnya kaskus dan septic tank serta
penyediaan sumber air bersih.
5. Melakukan pemusatan pemotongan ternak di rumah pemotongan hewan
(RPH) yang diawasi oleh dokter Hewan.
6. Memberikan pemahaman kepada Masyarakat tentang resiko yang akan
diperoleh apabila memakan daging mentah / setengah matang. Dan
pentingnya untuk mengetahui manfaat memasak daging hingga matang.
Pemeriksaan daging babi oleh pemerintah mengurangi infeksi pada manusia di
negeri-negeri dimana babi dimakan mentah atau setengah matang, tetapi sistem
pemeriksaan yang mana pun tidak dapat memastikan kebebasan dari infeksi.
Sistiserkus akan mati dengan pemanasan pada 45-50 C, tetapi daging babi harus
dimasak paling sedikit selama setengah jam untuk tiap pound atau sampai
berwarna kelabu. Sistiserkus akan mati pada suhu dibawah -2C tetapi pada 0 C
sampai -2 C ia hidup selama hampir 2 bulan, dan pada suhu kamar ia hidup
selama 26 hari. Mendinginkan pada suhu -10 C selama 4 hari atau lebih adalah
cara yang efektif. Mengasinkan dengan garam tidak selalu berhasil (Triyaunic,
2013).

DAFTAR PUSTAKA
Alvyanto. 2010. Taenia Solium.
Taenia Solium

13

(https://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/10/16/taenia-solium/,
diakses pada tanggal 19 September 2015)
Anonim. 2001. Taenia Solium (Pork Tapwor).
(https://web.stanford.edu/class/humbio103/ParaSites2001/taeniasis/solium
2.html , diakses pada tanggal 19 September 2015)
Chung, Ashley. 2011. Taenia Solium.
(http://animaldiversity.org/accounts/Taenia_solium/ ,
diakses pada tanggal 19 September 2015)
Kamus Kesehatan. 2015. Taenia Solium.
(http://kamuskesehatan.com/arti/taenia-solium/ diakses pada tanggal 19
September 2015)
Natadiasastra, Djaenudin dan Ridad, Agoes. 2009. Parasitologi Kedokteran:
Ditinjau

dari

Organ

Tubuh

yang

Diserang.

Jakarta:

EGC

(https://books.google.co.id/books?id=CTSg_1JsvwC&pg=PA118&dq=taenia+solium+pada+babi&hl=en&sa=X&v
ed=0CEIQ6AEwBmoVChMIxbPb8saCyAIVTwuOCh2_bA0O#v=onepag
e&q=taenia%20solium%20pada%20babi&f=false , diakses pada tanggal
19 September 2015)
Muslim, H. M. 2009. Parasitologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
(https://books.google.co.id/books?
id=eYU179dPpzsC&pg=PA108&dq=taenia+solium+babi&hl=en&sa=X&
redir_esc=y#v=onepage&q=taenia%20solium%20babi&f=false , diakses
pada tanggal 19 September 2015)
Siahaan, L. 2012. Taenia Solium.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32576/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 19 September 2015)
Sukma, Ika. 2015. Taenia solium & Echinococcus granulosus.( http://goldendustika.blogspot. co.id/2015/01/taenia-solium-echinococcus-granulosus.html,
diakses pada tanggal 18 September 2015)

Wikipedia. 2015.Cacing Pita Babi.

Taenia Solium

14

(https://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_pita_babi,

diakses

pada tanggal 18 September 2105)


Yuni, Ris. 2014. Makalah Taenia Saginata dan Taenia Solium.
(http://unhynb.blogspot.co.id/
saginata-dan-taenia.html,

2014/07/makalah-taenia-

diakses

pada

tanggal

18

September 2015)
Triyaunic. 2013. Identifikasi Telur, Skoleks dan Proglotid Cacing
Kelas

Cestoda

(Genus

Taenia).

(https://triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/identifikasitelur-skoleks-dan-proglotid-cacing-kelas-cestoda-genustaenia/, diakses pada tanggal 19 September 2015)

Taenia Solium

15