PARASITOLOGI VETERINER
OLEH
Kelompok 2
Nurmauliah S.
(O11114001)
Suci Sulfiani
(O11114002)
Lola Adriana
(O11114003)
Nurfaatimah Azzahrah
(O11114506)
Sri Ravida
(O11114507)
Ummu Hani
(O11114508)
telah diberantas cacing pita , meskipun kasus infeksi Taenia solium pada orang
telah muncul baru-baru ini . Kemunculan ini telah dikaitkan dengan meningkatnya
jumlah imigran dari negara-negara dengan transmisi cacing pita , yang host ke T.
Solium (Chung, 2011).
Taenia solium adalah salah satu jenis cacing pita yang berparasit di dalam
usus halus manusia. Taenia solium (cacing pita babi) merupakan infeksi cacing
yang distribusinya kosmopolit. Cacing ini menginfeksi baik manusia dan babi.
Manusia biasanya sebagai hospes definitif atau hospes perantara, sedangkan babi
sebagai hospes perantara. Habitat cacing yang telah dewasa di dalam usus halus
(jejunum bagian atas) manusia, sedangkan larvanya terdapat di dalam jaringan
organ tubuh babi (Siahaan, 2012).
Dalam klasifikisai taksonomi cacing ini termasuk kelas Eucestoda, ordo
Taenidae, dan genus Taenia. Tergolong dalam satu jenis genus dengan Taenia
solium adalah Taenia saginata dan Taenia asiatica yang juga bersifat zoonosis.
Taenia Solium dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Wikipedia, 2015) :
Klafisikasi Ilmiah
Kerajaa
n:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Animalia
Platyhelminthes
Cestoda
Cyclophyllidea
Taeniidae
Taenia
T. solium
Nama binomial
Taenia solium
Linnaeus, 1758
Taenia solium adalah cacing pita endoparasit zoonotik usus ditemukan di
seluruh dunia, dan yang paling umum di negara-negara di mana babi dimakan
(Wikipedia, 2015).
Taenia Solium
C. Penyebaran
Penyebaran Taenia solium bersifat kosmopolit,terutama di negara negara
yang mempunyai banyak peternakan babi dan di tempat daging babi banyak
dikonsumsi seperti di eropa, Amerika Latin, Republik Rakyat Cina, India, dan
Amerika Utara. Penyakit ini tidak pernah ditemukan di negara Islam yang
melarang pemeliharaan dan mengkonsumsi babi. Kasus taeniasis atau sistiserkosis
juga ditemukan pada beberapa wilayah di Indonesia, antara lain Irian Jaya, Bali,
Taenia Solium
dan Sumatera Utara. Infeksi penyakit ini juga sering dialami oleh para
transmigran yang berasal dari daerah daerah tersebut.
Penyakit yang disebabkan cacing pita ini, sering dijumpai di daerah
dimana orang orang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging babi yang
dimasak tidak sempurna. Disamping itu kondisi kebersihan lingkungan yang jelek
dan melakukan defekasi di sembarang tempat memudahkan babi mengkonsumsi
tinja manusia. Penularan Taenia solium jarang terjadi di Amerika, Kanada, dan
jarang sekali terjadi di Inggris, dan di negara negara skandinavia. Penularan oral
vekal oleh karena kontak dengan imigran yang terinfeksi oleh Taenia solium
dilaporkan terjadi dengan frekuensi yang meningkat di Amerika. Para imigran dari
daerah endemis nampaknya tidak mudah untuk menyebarkan penyakit ini ke
negara-negara yang kondisi sanitasinya baik.
Taenia Solium
Taenia Solium
Gambar D.1 Morfologi cacing Taenia Solium dan Morfologi telur Taenia Solium (Ika,
2015).
Gambar D.3 Cacing Taenia Solium A. Scolex B. Kait-kait pada Scolex C. Proglotid
(Natadiasastra dan Ridad, 2009).
Taenia Solium
E. Siklus Hidup
Adapun siklus hidup Taenia Solium mulai dari telur sampai pada hospes
definitifnya (manusia) adalah sebagai berikut (Ika, 2015) :
Taenia solium yang berparasit di bagian proksimal jejunum dapat bertahan
hidup selama 25 sampai 30 tahun dalam usus halus manusia. Cacing ini
mendapatkan nutrisinya dengan menyerap isi usus. Cacing pita dewasa akan mulai
mengeluarkan telurnya dalam tinja penderita taeniasis antara 8 -12 minggu setelah
orang yang bersangkutan terinfeksi (Chin dan Kandun 2000) Sewaktu - waktu
proglotida gravid berisi telur akan dilepaskan dari ujung strobila cacing dewasa
dalam kelompok kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 segmen. Prolotida
gravid keluar bersama tinja penderita. Telur dapat pula keluar dari proglotida pada
waktu berada di dalam usus manusia. Di luar tubuh telur akan menyebar ke tanah
lingkungan sekitar dimana telur tersebut mampu bertahan hidup selama 5-9 bulan.
Infeksi akan terjadi apabila telur berembrio tertelan oleh babi. Di dalam
lumen usus halus telur akan menetas dan mengeluarkan embrio (onkosfer).
Selanjutnya onkosfer tersebut menembus dinding usus, masuk ke pembuluh limfe
atau aliran darah, dibawa ke seluruh bagian tubuh dan akhirnya mencapai organ
organ yang seperti otot jantung, otot lidah, otot daerah pipi, otot antar tulang
rusuk, otot paha, paru-paru, ginjal, hati. Kista mudah terlihat pada tempat
predileksi tadi antara 6 hingga 12 hari setelah infeksi. Sistiserkus kemudian
terbentuk pada organ-organ tersebut dan dikenal dengan Cysticercus Cellulosae.
Bila daging babi yang mengandung parasit ini dimakan oleh manusia, kista akan
tercerna oleh enzim pencernaan sehingga calon skoleks (protoskoleks) akan
menonjol keluar. Selanjutnya protoskoleks tersebut akan menempel pada mukosa
jejunum dan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam waktu bebrapa bulan.
Cysticercus cellulosae juga dapat dijumpai pada manusia, yaitu di jaringan
sub kutan, mata, jantung dan otak. Kejadian ini disebabkan tertelannya makanan
atau minuman yang terkontaminasi oleh telur parasit tersebut. Sumber
kontaminasi
parasit
ini
berupa
tinja
manusia
yang
mengandung
parasit, dan tangan manusia yang kotor yang terkontaminasi telur Taenia solium.
Taenia Solium
Apabila manusia memekan daging babi yang mengandung Cysticercus ini maka
Cysticercus akan tumbuh menjadi cacing pita dewasa dalam usus manusia.
Kemudian daur hidup cacing ini akan terulang kembali.
Secara singkat daur hidup dari Taenia Solium adalah: Telur termakan
oleh hospes embrio keluar dr telur menembus dinding usus saluran getah
bening/darah tersangkut diotot hospes larva sistiserkus daging hospes
dimakan manusia (dinding kista dicerna) skoleks mengalami eviginasi
melekat pd dinding usus halus dewasa (3 bulan) melepas proglotid dengan
telur (Alvyanto, 2010).
Taenia Solium
Jika manusia menelan proglotid atau telur Taenia Solium larva Cysticercus
cellulosae dapat tumbuh di dalam tubuh hospes tersebut menimbulkan penyakit
yang disebut Cysticercosis cellulosae (Natadiasastra dan Ridad, 2009).
Gejala klinis yang lebih berarti dan sering diderita, disebabkan oleh larva dan
disebut sistiserkosis. Infeksi ringan biasanya tidak menunjukkan gejala, kecuali
bila alat yang dihinggapi adalah alat tubuh yang penting. Pada manusia,
sistisserkus atau larva taenia solium sering menghinggapi jaringan subkutis, mata,
jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru dan rongga perut. Walaupun sering
dijumpai, kalsifikasi (perkapuran) pada sistiserkus tidak menimbulkan gejala,
akan tetapi sewaktu-waktu terdapat pseudohipertrofi otot, disertai gejala miositis,
demam tinggi dan eosinofilia (Triyaniuc, 2013).
Pada jaringan otak atau medula spinalis, sistiserkus jarang mengalami
klasifikasi. Keadaan ini sering menimbulkan reaksi jaringan dan dapat
mengakibatkan serangan ayan (epilepsi), meningo-ensefalitis, gejala yang
disebabkan oleh tekanan intrakranial yang tinggi seperti nyeri kepala dan kadangkadang kelainan jiwa. Hidrosefalus internus dapat terjadi, bila timbul sumbatan
aliran cairan serebrospinal. Sebuah laporan menyatakan bahwa sebuah sstiserkua
tunggal yang ditemukan dalam ventrikel IV dari otak, dapat menyebabkan
kematian (Muslim, 2009 ; Triyanuic,2013).
Telur taenia solium (cacing pita babi) bisa menetas di usus halus, lalu
memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit
Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit dan
otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata ; tetapi kalau infeksi cacing pita
Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan menimbulkan
efek lanjutan yang parah.
Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi atau sapi yang
mentah atau setengah matang dan me-ngandung larva cysticercus. Di dalam usus
halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal
seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, napsu makan menurun atau
meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa
menjadi buruk se-hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi
Taenia Solium
didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar
kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
G. Diagnosis dan Pemeriksaan Laboratorium
G.1 Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan ditemukannya cacing di dalam
tinja. Sepotong selotip ditempelkan di sekeliling lubang dubur, lalu dilepas dan
ditempelkan pada sebuah kaca obyek dan diperiksa dibawah mikroskop untuk
melihat adanya telur parasit. Melalui mikroskop memeriksa sample tinja
apakah ada telur cacing parasit, ookista protozoa dan takizoit.
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan
laboratorium. Anamnesis: penderita pernah mengeluarkan benda pipih
berwarna putih seperti ampas nangka bersama tinja atau keluar sendiri dan
bergerak-gerak. Benda itu tiada lain adalah potongan cacing pita (proglotid).
Cara keluarnya proglotid Taenia solium berbeda dengan Taenia saginata.
Proglotid Taenia solium biasanya keluar bersama tinja dalam bentuk rangkaian
56 segmen. Sedangkan Taenia saginata, proglotidnya keluar satu-satu bersama
tinja dan bahkan dapat bergerak sendiri secara aktif hingga keluar secara
spontan.
G.2 Pemeriksaan Laboratorium
Secara
makroskopis
(melihat
tanpa
menggunakan
alat),
yang
diperhatikan dalam hal ini adalah bentuk proglotidnya yang keluar bersama
tinja. Bentuknya cukup khas, yaitu segiempat panjang pipih dan berwarna putih
keabu-abuan.
Pemeriksaan secara mikroskopis untuk mendeteksi telurnya dapat
dikerjakan dengan preparat tinja langsung (directsmear) memakai larutan
eosin. Cara ini paling mudah dan murah, tetapi derajat positivitasnya rendah.
Untuk mendapatkan hasil positivitas yang lebih tinggi, pemeriksaan dikerjakan
dengan metoda konsentras (centrifugal flotation) atau dengan cara perianal
swab memakai cellophane tape.
Jika hanya menemukan telur dalam tinja, tidak bisa dibedakan taeniasis
Taenia solium dan taeniasis Taenia saginata. Agar dapat membedakannya, perlu
Taenia Solium
10
H. Pengobatan
Cara pengobatan cacing (Muslim, 2009):
1. Pengamanan: sehari sebelum terapidilakukan pengosongan lambung dan
memakan makanan cair . kemudian pada hari terapi dilakukan puasa dan
pengurasan isis lambung lagi.
2. Pemberian obat: jika perlu diberikan antiemetic (mencegah muntah) 1-2
jam penderita dicahar lagi untuk mengeluarkan cacing yang sudah lemah.
Agar efektif dilakukan pengulangan terapi setelah 2 minggu dan 3 bulan.
Terapi berhasil jika ditemukan skoleks dalam feses.
3. Jenis obat yang dapat digunakan adalah niklosamid (cacingkeluar tidak
utuh), mepakrin (pada orang dewasa) cacing keluar utuh. Pengobatan
tradisional dapat diberikan biji labu dan pinang.
Taenia Solium
11
guna
menurunkan
prevalensi
Taenia Solium
12
penyakit
Taeniasis
maupun
DAFTAR PUSTAKA
Alvyanto. 2010. Taenia Solium.
Taenia Solium
13
(https://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/10/16/taenia-solium/,
diakses pada tanggal 19 September 2015)
Anonim. 2001. Taenia Solium (Pork Tapwor).
(https://web.stanford.edu/class/humbio103/ParaSites2001/taeniasis/solium
2.html , diakses pada tanggal 19 September 2015)
Chung, Ashley. 2011. Taenia Solium.
(http://animaldiversity.org/accounts/Taenia_solium/ ,
diakses pada tanggal 19 September 2015)
Kamus Kesehatan. 2015. Taenia Solium.
(http://kamuskesehatan.com/arti/taenia-solium/ diakses pada tanggal 19
September 2015)
Natadiasastra, Djaenudin dan Ridad, Agoes. 2009. Parasitologi Kedokteran:
Ditinjau
dari
Organ
Tubuh
yang
Diserang.
Jakarta:
EGC
(https://books.google.co.id/books?id=CTSg_1JsvwC&pg=PA118&dq=taenia+solium+pada+babi&hl=en&sa=X&v
ed=0CEIQ6AEwBmoVChMIxbPb8saCyAIVTwuOCh2_bA0O#v=onepag
e&q=taenia%20solium%20pada%20babi&f=false , diakses pada tanggal
19 September 2015)
Muslim, H. M. 2009. Parasitologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
(https://books.google.co.id/books?
id=eYU179dPpzsC&pg=PA108&dq=taenia+solium+babi&hl=en&sa=X&
redir_esc=y#v=onepage&q=taenia%20solium%20babi&f=false , diakses
pada tanggal 19 September 2015)
Siahaan, L. 2012. Taenia Solium.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32576/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 19 September 2015)
Sukma, Ika. 2015. Taenia solium & Echinococcus granulosus.( http://goldendustika.blogspot. co.id/2015/01/taenia-solium-echinococcus-granulosus.html,
diakses pada tanggal 18 September 2015)
Taenia Solium
14
(https://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_pita_babi,
diakses
2014/07/makalah-taenia-
diakses
pada
tanggal
18
September 2015)
Triyaunic. 2013. Identifikasi Telur, Skoleks dan Proglotid Cacing
Kelas
Cestoda
(Genus
Taenia).
Taenia Solium
15