Anda di halaman 1dari 5

Nama : Viky Yudi Alvian

NIM

: 1520025052

Prodi : Kesehatan Masyarakat (Reguler)


MANFAAT KONSEP ELASTISITAS DALAM BIDANG KESEHATAN
1. Definisi Ilmu Ekonomi dan Ekonomi Kesehatan
Ilmu ekonomi adalah suatu telaah mengenai individu-individu dan
masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan sumber daya
yang terbatas sebagai konsekuensi dari adanya kelangkaan (Sugiarto dkk., 2007).
Kelangkaan berarti tidak semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi sehingga
memaksa manusia untuk membuat pilihan. Dengan melakukan pilihan,
pemenuhan atas suatu kebutuhan tertentu membutuhkan suatu pengorbanan. Ilmu
ekonomi berperan untuk membantu manusia dalam menentukan pilihan yang
terbaik.
Ilmu ekonomi dapat diterapkan di segala bidang dalam kehidupan
manusia, salah satunya di bidang kesehatan. Menurut PPEKI dalam Lubis (2009),
ekonomi kesehatan adalah penerapan ilmu ekonomi dalam upaya kesehatan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimal. Perubahan mendasar terjadi pada sektor kesehatan, ketika sektor
kesehatan menghadapi kenyataan bahwa sumberdaya yang tersedia (khusunya
dana) semakin hari semakin jauh dari mencukupi. Keterbatasan tersebut
mendorong masuknya disiplin ilmu ekonomi dalam perencanaan, manajemen dan
evaluasi sektor kesehatan.
2. Konsep Permintaan dan Elastisitas Permintaan
Dalam ilmu ekonomi, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas.
Setelah satu kebutuhannya terpenuhi, tentunya akan muncul kebutuhan lainnya.
Kebutuhan manusia sangat banyak dan tiap individu memiliki kebutuhannya
masing-masing dan berbeda satu sama lainnya. Dalam ilmu ekonomi, terdapat dua
macam alat pemuas kebutuhan yaitu barang dan jasa. Meskipun keduanya adalah
alat pemuas kebutuhan manusia, barang dan jasa memiliki perbedaan yang
mendasar. Barang dapat dilihat wujud nyatanya (tangible) sedangkan jasa tidak
dapat dilihat wujud nyatanya (intangible).

Setiap kali individu memerlukan suatu barang atau jasa untuk memenuhi
kebutuhannya, tentu saja ia akan melakukan permintaan. Menurut Pracoyo (2006),
permintaan adalah berbagai jumlah barang yang diminta oleh konsumen pada
berbagai tingkat harga pada periode tertentu. Periode waktu di sini dapat berupa
satuan jam, satuan hari, satuan minggu, satuan bulan, satuan tahun, atau periode
lainnnya (Gaspersz, 1996). Teori permintaan menjelaskan hubungan antara jumlah
barang yang diminta dengan harga dan patuh pada hukum permintaan. Hukum
permintaan menjelaskan apabila harga suatu barang naik maka jumlah permintaan
terhadao barang tersebut akan turun, begitu pula sebaliknya. Sehingga, hubungan
antara jumlah barang yang diminta dengan harganya adalah berbanding terbalik
(Pracoyo, 2006).
Seperti yang

sudah

dijelaskan

sebelumnya,

hukum

permintaan

menyatakan bahwa hubungan antara harga barang dengan jumlah barang yang
diminta adalah berbanding terbalik. Artinya, bila harga suatu barang turun maka
jumlah permintaannya akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Namun, reaksi
konsumen tidak mesti sama untuk berbagai macam barang. Untuk beberapa
macam barang para konsumen sangat peka terhadap perubahan harga, artinya
perubahan harga dalam jumlah kecil saja sudah dapat menyebabkan perubahan
permintaan jumlah barang dalam jumlah yang signifikan. Tetapi, ada juga
beberapa jenis barang tertentu ketika harganya berubah jumlah permintaan barang
tersebut tidak berubah secara signifikan. Untuk mengukur kepekaan konsumen
terhadap perubahan harga, dipergunakanlah istilah elastisitas (Gilarso, 2003).
Elastisitas permintaan menunjukkan bagaimana reaksi pembeli (dalam
hal jumlah barang yang akan dibeli) bila ada perubahan harga, atau peka tidaknya
jumlah yang akan dibeli terhadap perubahan harga. Agar dapat dibandingkan,
perubahan jumlah barang dan perubahan harganya dinyatakan dalam persentase.
Jika konsumen peka terhadap perubahan harga, maka permintaan akan barang
tersebut elastis. Artinya, apabila terjadi sedikit perubahan harga akan
menyebabkan terjadinya perubahan jumlah permintaan barang secara signifikan.
Misalnya, harga barang A naik 10%, maka jumlah barang yang diminta akan turun
sebanyak 30%. Sebaliknya, jika konsumen kurang peka terhadap perubahan
harga, maka permintaan akan barang tersebut inelastis. Artinya, apabila terjadi
sedikit perubahan harga akan menyebabkan terjadinya perubahan jumlah

permintaan barang yang sedikit. Misalnya, harga barang A naik 10%, maka
jumlah barang yang diminta hanya turun sebanyak 5% (Gilarso, 2003).
Elastisitas dapat diukur dan dinyatakan dalam angka yang disebut
koefisien elastisitas yang dapat dihitung dengan rumus.

P
e

rmintaan disebut elastis bila koefisien elastisitas > 1


Permintaan disebut inelastis bila koefisien elastisitas < 1
Permintaan disebut uniter bila koefisien elastisitas = 1

(Gilarso, 2003)
3. Peranan Elastisitas Permintaan dalam Dunia Kesehatan
Secara umum penaksiran elastisitas permintaan berguna bagi perusahaan
maupun bagi pemerintah. Bagi perusahaan (produsen) elastisitas dapat menjadi
landasan dalam menyusun kebijakan penjualannya. Bila diketahui kepekaan
permintaan konsumen atas barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan, pihak
perusahaan dapat menentukan perlu tidaknya untuk mengubah harga jual barang
atau jasa yang dihasilkan. Sedangkan bagi pemerintah dapat digunakan untuk
memperikirakan kesuksesan dari sebuah kebijakan ekonomi yang akan
dilaksanakan (Sugiarto dkk, 2007).
Dari peranan secara umum tersebut, dapat diketahui berbagai contoh
peranan elastisitas permintaan dalam dunia kesebatan. Misalnya, dalam penentuan
tarif kamar di rumah sakit. Menurut Prihastuti (2013), salah satu faktor yang
menentukan kesuksesan program penetapan tarif rawat inap di rumah sakit adalah
elastisitas permintaaan.
Pihak rumah sakit terlebih dahulu harus melihat bagaimana elastisitas
permintaan jumlah kamar yang diminta oleh pasien dengan perubahan harga yang
telah dilakukan. Apabila elastisitas permintaan tergolong elastis, maka pihak
rumah sakit dapat mengambil kebijakan untuk menurnkan tarif rawat inap karena
hal tersebut dapat menaikkan jumlah permintaan pasien terhadap kamar rawat
inap. Sebaliknya jika elastisitas permintaan tergolong inelastis, maka pihak rumah

sakit dapat mengambil kebijakan untuk menaikkan tarif rawat inap karena
kenaikan harga tersebut tidak akan menurunkan jumlah permintaan pasien
terhadap kamar rawat inap secara signifikan. Dengan demikian, total pendapatan
yang diperoleh rumah sakit diharapkan akan meningkat. Selain dalam penentuan
tarif rawat inap, menurut Ringel dkk. (2005) penggunaan konsep elastisitas
permintaan juga dapat diterapkan dalam asuransi kesehatan, proses penjualan
obat, dan layanan kesehatan mental di Amerika Serikat.

DAFTAR PUSTAKA
Gaspersz, Vincent. 1996. Ekonomi Manajerial Pembuatan Keputusan Bisnis.
Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta:Penerbit Kanisius
Lubis, Ade Fatma. 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan:USU Press
Pracoyo, Tri Kunawangsih dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi
Mikro. Jakarta:Grasindo
Prihastuti, Woro. 2013. Perbandingan Hasil Perhitungan Tarif Jasa Kamar Rawat
Inap Berdasarkan Metode Cost Plus Pricing Melalui Pendekatan Full
Costing Periode 2012 (Studi Kasus RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta
dan RSUD Kota Yogyakarta). Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Yogyakarta
Ringel, J.S., dkk. 2005. The Elasticity of Demand for Health Care : A Review of
The Literature. Diunduh dari
(http://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/monograph_reports/2005/MR1
355.pdf) pada 6 Oktober 2015
Sugiarto,

dkk.

2007.

Ekonomi

Mikro

Sebuah

Kajian

Komprehensif.

Jakarta:Gramedia Pustaka Utama