Anda di halaman 1dari 19

WRAP UP SKENARIO 1

BLOK CAIRAN
EDEMA"

Kelompok

: B-2

Ketua

: Nabila Hanifa Fauzia

(1102014180)

Sekretaris

: Wardhani Putri Pratiwi

(1102014279)

Anggota

: Muhammad Luthfi Dunand


Nabil Dhiya Ulhak
Nadia Dwi Putri
Puthu Atika Putri Sudarsono
Raditya Prasidya
Wardhani Putri Pratiwi
Wirayanto Natanegara Aswadi
Visi Islamiati

(1102014158)
(1102014177)
(1102014185)
(1102014211)
(1102014180)
(1102014279)
(1102014281)
(1102014275)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


Jalan. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. (+62)214244574 Fax. (+62)214244574

DAFTAR ISI

SKENARIO....................................................................................................................

KATA SULIT..................................................................................................................

PERTANYAAN DAN JAWABAN.................................................................................

HIPOTESIS.....................................................................................................................

SASARAN BELAJAR...................................................................................................

PEMBAHASAN.............................................................................................................

SKENARIO
2

EDEMA
Seorang laki-laki, umur 60 tahun berobat ke dokter dengan keluhan perut membesar dan tungkai
bawah bengkak sejak 1 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya asites pada
abdomen dan edema pada kedua tungkai bawah. Dokter menyatakan pasien mengalami
kelebihan cairan tubuh. Pemeriksaan laboratorium: kadar protein albumin di dalam plasma darah
2,0 g/l (normal > 3,5 g/l). keadaan ini menyebabkan gangguan tekanan koloid osmotik dan
hidrostatik di dalam tubuh.

KATA SULIT

Edema

: - Pengumpulan cairan secara abnormal di ruang interselular

Asites

Interselular tubuh
- Pembengkakan jaringan karena kandungan cairannya
bertambah
: Kombinasi efek penurunan konsentrasi protein plasma dan
tekanan kapiler aorta yag tinggi akan menyebabkan
transudasi sejumlah cairan dan protein ke dalam abdomen

Tekanan Hidrostatik

Tekanan Koloid Osmotik

Abdomen

Albumin

Tungkai

: Tekanan pada zat cair yang diam sesuai dengan namanya


(hidro: air, statik: diam) / sebagai tekanan yang diberikan
oleh cairan pada keseimbangan karena pengaruh gaya
grafitasi
: Tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh protein plasma
untuk menimbulkan pergerakan cairan secara osmotik dari
ruang interstisial ke dalam darah
: Bagian tubuh yang berupa rongga perut yang berisi alat
pencernaan
: Protein yang larut dalam air yang dapat di koagulasi oleh
panas, terdapat di otot dan darah
: Bagian kaki yang memanjang dari bagian atas paha ke
Telapak kaki

Plasma Darah

Protein

: Cairan darah berbentuk butiran-butiran darah. Di dalamnya


terkandung benang benang fibrin/fibrinogen yang berguna
untuk menutup lupa
: Kelompok senyawa organik bernitrogen yang rumit dengan
bobot molekul tinggi yang sangat penting bagi kehidupan

PERTANYAAN
1. Faktor apa saja yang menyebabkan edema dan asites?
4

2. Bagaimana mekanisme terjadinya edema?


3. Apa gejala edema?
4. Sebutkan tipe-tipe edema!
5. Apa saja faktor resiko edema?
6. Apa hubungan edema dengan tekanan koloid osmotik dan tekanan hidrostatik?
7. Bagaimana penatalaksanaan edema dan asites?
8. Bagaimana pencegahan terjadinya edema?
9. Apa perbedaan edema dan asites?
10. Bagaimana peran albumin dalam mempengaruhi tekanan osmotik?
JAWABAN
1. Edema: terjadinya sumbatan pembuluh limfa, meningkatnya tekanan vena, gangguan
permeabilitas pada kapiler darah, penurunan kadar protein dalam plasma darah
Asites: sirosis hati, gagal jantung, hipoalbunemia
2. Penurunan konsentrasi protein plasma menyebabkan penurunan tekanan osmotik.
Penurunan tekanan ini menyebabkan filtrasi jaringan yang keluar dari kapiler tinggi
sehingga yang di reabsorpsi sedikit. (no.6)
3. - pembengkakan jaringan langsung di bawah kulit
- kulit meregang
- kulit yang mempertahankan lesung setelah ditekan selama beberapa detik
- ukuran perut meningkat selama beberapa detik
4. -edema lokalisata (edema lokal)
- edema generalisata (edema umum)
- edema intraseluler
- edema ekstraseluler
edema berdasarkan penekanan pada kulit:
-edema pitting
-edema non pitting
5. - Alkoholik (yang dapat menyebabkan sirosis hati dan penyakit lainnya)
- Tekanan darah tinggi
- Penyakit ginjal
- Telah melakukan operasi mastectomy atau operasi lainnya yang melibatkan
pengangkatan kelenjar getah bening
- Kehamilan
- Gaya hidup yang jarang melakukan aktivitas fisik
- Merokok
7. Diberi obat diuretik, tirah baring
8. Diet natrium tinggi dikurangi dan kaki ketika tidur diletakan lebih tinggi daripada jantung
9. Asites akumulasi cairannya khusus di rongga perut
10. Peran albumin dalam tekanan osmotik adalah cenderung untuk menimbulkan pergerakan
cairan secara osmosis dari ruang interstisial ke dalam darah.
5

HIPOTESIS
Keseimbangan kapiler darah dipengaruhi oleh protein albumin, tekanan hidrostatik, tekanan
osmotik koloid. Apabila terjadi abnormalitas maka menyebabkan kelebihan cairan yang
menumpuk seperti edema dan asites. Edema dan asites disebabkan oleh kelebihan cairan dalam
pembuluh darah, jantung gagal memompa dari vena ke arteri sehingga menyebabkan tekanan
vena dan kapiler meningkat, peningkatan tekanan hidrostatik, abstruksi kompresi vena, dilatasi
6

anterior, penurunan tekanan osmotik plasma. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan pemeriksaan
fisik seperti perkusi, pitting edema (ditekan), kemudian palpasi, dan pemeriksaan penunjang
(darah, urin, USG, EKG).

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Kapiler Darah.
1.1. Definisi Kapiler Darah.
1.2. Memahami dan Menjelaskan Struktur dan Fungsi Kapiler Darah.
1.3. Memahami dan Menjelaskan Hubungan Kapiler Darah dengan Tekanan Osmotik dan
Tekanan hidrostatik.
7

2. Memahami dan Menjelaskan Edema.


2.1. Definisi Edema.
2.2. Memahami dan Menjelaskan Jenis-Jenis Edema.
2.3. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Edema.
2.4. Memahami dan Menjelaskan Penyebab dan Faktor Resiko Edema.
2.5. Memahami dan Menjelaskan Penanganan dan Pencegahan Edema.
3. Memahami dan Menjelaskan Aspek Biokimia dan Fisiologis Kelebihan Cairan.
3.1. Memahami dan Menjelaskan Faktor-Faktor Metabolisme air.
3.2. Memahami dan Menjelaskan Penyebab Kelebihan air.
3.3. Memahami dan Menjelaskan Keseimbangan Cairan Intravaskular dan Ekstravaskular.

PEMBAHASAN
1. Memahami dan Menjelaskan Kapiler Darah
1.1 Definisi Kapiler Darah.
Kapiler adalah tempat pertukaran bahan antara darah dan sel jaringan, bercabang secara
ekstensif untuk membawa darah agar dapat dijangkau setiap sel. (Fisiologi Manusia,
Sherwood)

Kapiler adalah setiap pembuluh halus yang menghubungkan arteriol dan venula.
dindingnya berlaku sebagai membran semipermiable untuk pertukaran berbagai substansi
antar darah dan cairan di jaringan (Kamus Dorland)
Kapiler darah adalah pembuluh darah yang halus dan berukuran kecil yang berhubungan
langsung dengan sel-sel jaringan tubuh. Kapiler merupakan saluran mikroskopik untuk
pertukaran nutrien dan zat sisa diantara darah dan jaringan. Dindingnya bersifat
semipermeable untuk pertukaran berbagai substansi. (Fisiologi Ganong)
1.2 Memahami dan Menjelaskan Struktur dan Fungsi Kapiler Darah.
Kapiler berdinding sangat tipis (ketebalan 1m; garis tengah manusia 100 m). Kapiler
terdiri dari satu lapisan sel endotel gepeng yang tidak memiliki otot ataupun jaringan ikat.
Jarak antara kapiler dan sebuah sel sangat cepat, hal ini memungkinkan kapiler
menempuh jarak pendek antara darah dan sel sekitar kapiler yang tipis.
Kapiler hanya mengandung 5% dari darah normal yaitu 250 ml dari total 5000 ml).
Sel-sel endotel membentuk dinding yang sangat rapat. Sebagian besar kapiler terdapat
celah sempit atau pori kapiler. Pori kapiler berisi air yang memungkinkan lewatnya
molekul-molekul kecil larut air. Sedangkan molekul yang larut lemak, hanya bisa
menumbus kapiler pada hati.
Difusi bergantung pada permeabilitas dinding kapiler.
Histamin bisa memicu perangkat kontraktil aktin-miosin di dinding sel endotel yang
dapat memperbesar pori-pori kapiler, akibatnya protein-protein plasma yang tadinya
tertahan dapat lewat ke jaringan sekitar, dan menimbulkan tekanan osmotik.

Kapiler darah dibagi menjadi 3 jenis utama :


1. Kapiler sempurna
Bayak dijumpai pada jaringan termasuk otot paru,susundan saraf pusat dan kulit.
Sitoplasma sel endotel menebal d tempat yang berinti dan menipis di bagian lainnya.
2. Kapiler bertingkat
Kapiler bertingkat dijumpai pada mukosa usus,glomerulus,ginjal dan pancreas.
Sitoplasma tipis dan tempat pori-pori.
3. Kapiler sinusidal
Kapiler sinusidal mempunyai garis tengah,lumen lebih besar dari normal.

10

Fungsi kapiler darah


Pertukaran zat
Oksigen dan zat-zat makanan dimasukkan ke dalam sel melalui pembuluh kapiler.
Zat-zat ini digunakan sel untuk memperoleh energi dengan cara pembakaran.
Menghubungkan ujung pembuluh nadi yang terkecil dan berhubungan langsung
dengan sel-sel tubuh
Mengangkut zat-zat sisa pembakaran (oleh pembuluh kapiler yang berhubungan
dengan pembuluh balik)
Absorbsi nutrisi pada usus
Filtrasi pada ginjal
Absorbsi sekret kelenjar
1.3 Memahami dan Menjelaskan Hubungan Kapiler Darah dengan Tekanan Osmotik
dan Tekanan hidrostatik.
Tekanan osmotik koloid plasma / tekanan onkotik adalah gaya yang disebabkan oleh dispersi
koloid protein protein plasma, tekanan ini ini mendorong pergerakan cairan kedalam kapiler.
Tekanan koloid plasma rata rata adalah 25 mmHg.
Tekanan hidrostatik cairan interstisium adalah tekanan cairan yang bekerja dibagian luar
dinding kapiler oleh cairan interstisium, tekanan ini mendorong cairan masuk ke dalam
kapiler.
Pada ujung arteri dari kapiler, tekanan hidrostatik lebih tinggi dari tekanan osmotic koloid
darah,air,larutan,dan sedikit protein melintasi dinding kapiler. Pada ujung vena,tekanan
hidrostatik lebih rendah dan tekanan osmotic koloid cenderung menarik air,eletrolit,dan
produk katabolisme jaringan kembali ke dalam darah. Namun sebagian cairan dan banyak
dari protein plasma yang telah keluar dari darah tidak kembali secara langsung, namun ikut
limfe dan kembali ke darah melalui system vaskuler limfe. Jadi terpelihara
keseimbangan,yang menjaga agar volume cairan ekstrasel cukup konstan dan menahan
sejumlah kecil protein plasma yang secara tetap lolos melalui dinding kapiler darah.
Hukum starling : kecepatan dan arah perpindahan air dan zat terlarut antara kapiler dan
jaringan dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik dan osmotik masing masing kompartemen.
Tekanan Hidrostatik Kapiler ( Pc )
Tekanan cairan/hidrostatik darah yang bekerja pada bagian dalam dinding kapiler.
Tekanan ini mendorong cairan dari membran kapiler untuk masuk ke dalam cairan
interstisium. Secara rata rata, tekanan hidrostatik di ujung arteriol kapiler jaringan
adalah 37 mmHg dan semakin menurun menjadi 17 mmHg di ujung venula.

Tekanan Koloid Osmotik Kapiler ( c )


Disebut juga tekanan onkotik, yaitu suatu gaya akibat dispersi koloid protein protein
plasma. Tekanan ini mendorong gerakan cairan ke dalam kapiler. Plasma punya
konsentrasi protein yang lebih besar dan konsentrasi air yang lebih kecil daripada di
11

cairan interstisium. Perbedaan ini menimbulkan efek osmotik yang mendorong air
dari daerah dengan konsentrasi air tinggi di cairan interstisium ke daerah dengan air
yang berkonsentrasi rendah ) konsentrasi protein lebih tinggi ) dari plasma. Tekanan
koloid osmotik plasma rata rata adalah 25 mmHg.

Tekanan Hidrostatik Cairan Interstisium ( Pi)


Tekanan ini bekerja di bagian luar dinding kapiler oleh cairan interstisium. Tekanan
ini mendorong cairan masuk ke dalam kapiler. Tekanan hidrostatik cairan
interstisium dianggap 1 mmHg.

Tekanan Osmotik Koloid Cairan Interstisium (

i)

Sebagian kecil protein plasma yang bocor ke luar dinding kapiler dan masuk ke
ruang interstisium dalam keadaan normal akan dikembalikan ke dalam darah melalui
sistem limfe. Tetapi apabila protein plasma bocor secara patologis, protein yang
bocor menimbulkan efek osmotik yang akan mendorong perpindahan cairan keluar
dari kapiler dan masuk ke cairan interstisium.
Filtrasi sepanjang kapiler terjadi karena ada tenaga Starling : perbedaan tekanan
hidrostatik intravaskuler dan interstisiil, dan perbedaan tekanan koloid-osmotik
intravaskuler dan interstisiil. Maka aliran cairan :
K (Pc + i) (Pi + c)
K = koefisien filtrasi kaplier
Pc
= tekanan hidrostatik kapiler = 37 mm Hg
Pi = tekanan hidrostatik interstitial = 17 mm Hg
c
= tekanan koloid osmotik kapiler = 25 mm Hg
i
= tekanan koloid osmotik interstisiil = diabaikan

Jadi yang difiltrasi per hari sebanyak 24 liter/hari, 85% diserap kembali dan 15%
masuk saluran limfe.
Pada jaringan yang tidak aktif, kapiler kolaps dan aliran darah mengambil jalan
pintas dari arteriol langsung ke venula.

2. Memahami dan Menjelaskan Edema.


2.1. Definisi Edema.
Edema adalah pembengkakan yang dapat diamati dariakumulasi cairan dalam jaringanjaringan tubuh. Edema palingumum terjadi pada feet (tungkai-tungkai) dan legs (kakikaki),dimana ia dirujuk sebagai peripheral edema. Pembengkakanadalah akibat dari
akumulasi cairan yang berlebihan dibawah kulitdalam ruang-ruang didalam jaringanjaringan. Semua jaringan- jaringan dari tubuh terbentuk dari sel-sel dan connective
tissues(jaringan-jaringan penghubung) yang menjaga kesatuan dari sel-sel. Jaringan
penghubung sekitar sel-sel dan pembuluh-pembuluh darahdikenal sebagai interstitium.
Kebanyakan dari cairan-cairan tubuhyang ditemukan diluar sel-sel normalnya disimpan
dalam duaruang-ruang; pembuluh-pembuluh darah (sebagai bagian yang cairatau serum
12

dari darah anda) dan ruang-ruang interstitial (tidakdalam sel-sel). Pada berbagai penyakitpenyakit, cairan yang berlebihan dapat berakumulasi dalam satu atau dua dari bagianbagian ruangan (kompartemen) ini.
Organ tubuh mempunyai ruang-ruang interstitial dimanacairan dapat berakumulasi.
Akumulasi cairan dalam ruang-ruangudara interstitial (alveoli) dalam paru-paru terjadi
pada penyakityang disebut pulmonary edema. Sebagai tambahan, kelebihancairan
adakalanya berkumpul dalam apa yang disebut ruang ketiga,yang termasuk rongga-ronga
dalam perut (rongga perut atauperitoneal - disebut "ascites") atau di dada (rongga paru
ataupleural - disebut " pleural effusion "). Anasarca merujuk padaakumulasi cairan yang
parah yang tersebar luas dalam semua jaringan-jaringan dan rongga-rongga tubuh pada
saat yangbersamaan.
Edema merupakan suatu keadaan dengan akumulasi cairan di jaringan interstisium secara
berlebih akibat penambahan volume yang melebihi kapasitas penyerapan pembuluh
limfe. Akumulasi cairan di jaringan interstisium dapat dideteksi secara klinis sebagai
suatu pembengkakan. Pembengkakan akibat akumulasi cairan ini disertai atau tanpa
terjadi penurunan volume intravaskular (sirkulasi).
Edema adalah pembengkakan jaringan akibat kelebihan cairan interstisium . Penimbunan
terjadi ketika salah satu gaya yang bekerja melintasi dinding kapiler menjadi abnormal
karena suatu hal. (Fisiologi Manusia, Sherwood)
2.2. Memahami dan Menjelaskan Jenis-Jenis Edema.
Edema dapat dibedakan menjadi :
a. Edema lokalisata (edema lokal)
Hanya tebatas pada organ/pembuluh darah tertentu. Terdiri dari :
* Ekstremitas (unilateral), pada vena atau pembuluh darah limfe
* Ekstremitas (bilateral), biasanya pada ekstremitas bawah
* Muka (facial edema)
* Asites (cairan di rongga peritoneal)
* Hidrotoraks (cairan di rongga pleura)
b. Edema Generalisata ( edema umum )
Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh atau sebagian besar tubuh pasien.
Biasanya pada :
* Gagal jantung
* Sirosis hepatis
* Gangguan ekskresi
Berdasarkan penekanan pada kulit :
a. Edema pitting adalah mengacu pada perpindahan (menyingkirnya) air interstisial oleh
tekanan dari pada kulit yang meninggalkan cekungan. Setelah tekanan dilepas
memerlukan beberapa menit bagi cekungan ini untuk kembali pada keadaan semula.
Edema pitting sering terlihat pada sisi dependen,seperti sokrum pada individu yang tirah
baring,begitu juga dengan tekanan hidrostatik grafitasi meningkatkan akumulasi cairan di
tungkai dan kaki pada individu yang berdiri.

13

b. Edema Non pitting adalah terlihat pada area lipatan kulit yang longgar, seperti
periorbital pada wajah. Edema non pitting apabila ditekan, bagian yg ditekan itu akan
segera kembali ke bentuk semula.
Selain itu, edema juga dapat dibedakan menjadi :
a. Edema Intaseluler
Edema yang biasa terjadi akibat depresi sistem metabolik jaringan dan tidak adanya
nutrisi sel yang adekuat.
b. Edema Ekstraseluler
Edema yang biasanya disebabkan oleh kebocoran abnormal cairan dari plasma ke ruang
interstitial dengan melintasi kapiler dan kegagalan limfatik untuk mengembalikan cairan
dari interestitium ke dalam darah
2.3. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Edema.
Pembengkakan jaringan akibat kelebihan cairan interstisium dikenal sebagai edema.
Penyebab edema berkaitan dengan mekanisme pembentukan edema itu sendiri yang
dapat dikelompokan menjadi empat kategori umum yaitu sebagai berikut:
1. Penurunan konsentrasi protein plasma menyebabkan penurunan tekanan osmotic
plasma. Penurunan ini menyebabkan filtrasi cairan yang keluar dari pembuluh lebih
tinggi, sementara jumlah cairan yang direabsorpsi kurang dari normal ; dengan demikian
terdapat cairan tambahan yang tertinggal diruang - ruang interstisium. Edema yang
disebabkan oleh penurunan konsentrasi protein plasma dapat terjadi melalui beberapa
cara : pengeluaran berlebihan protein plasma di urinakibat penyakit ginjal ; penurunan
sintesis protein plasma akibat penyakit hati (hati mensintesis hampir semua protein
plasma) ; makanan yang kurang mengandung protein ; atau pengeluaran protein akibat
luka bakar yang luas .
2. Peningkatan permeabilitas dinding kapiler menyebabkan protein plasma yang keluar
dari kapiler ke cairan interstisium disekitarnya lebih banyak. Sebagai contoh, melalui
pelebaran pori pori kapiler yang dicetuskan oleh histamin pada cedera jaringan atau
reaksi alergi. Terjadi penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang menurunkan ke arah
dalam sementara peningkatan tekanan osmotic koloid cairan interstisium yang
disebabkan oleh kelebihan protein di cairan interstisium meningkatkan tekanan ke arah
luar. ketidakseimbangan ini ikut berperan menimbulkan edema lokal yang berkaitan
dengan cedera (lepuh) dan respon alergi (biduran).
3. Peningkatan tekanan vena , misalnya darah terbendung di vena , akan disertai
peningkatan tekanan darah kapiler, kerena kapiler mengalirkan isinya kedalam vena.
peningkatan tekanan kearahdinding kapiler ini terutama berperan pada edema yang
terjadi pada gagal jantung kongestif. Edema regional juga dapat terjadi karena restriksi
lokal aliran balik vena. Salah satu contoh adalah adalahpembengkakan di tungkai dan
kaki yang sering terjadi pada masa kehamilan. Uterus yang membesar menekan vena vena besar yang mengalirkan darah dari ekstremitas bawah pada saat vena-vena tersebut
masuk ke rongga abdomen. Pembendungan darah di vena ini menyebabkan kaki yang
mendorong terjadinya edema regional di ekstremitas bawah.
4. Penyumbatan pembuluh limfe menimbulkan edema,karena kelebihan cairan
yangdifiltrasi keluar tertahan di cairan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke darah
melalui sistem limfe. Akumulasi protein di cairan interstisium memperberat masalah
14

melalui efek osmotiknya. Penyumbatan limfe lokal dapat terjadi, misalnya di lengan
wanita yang saluran-saluran drainaselimfenya dari lengan yang tersumbat akibat
pengangkatan kelenjar limfe selama pembedahan untukkanker payudara. Penyumbatan
limfe yang lebih meluas terjadi pada filariasis, suatu penyakit parasitic yang ditularkan
melalui nyamuk yang terutama dijumpai di daerah-daerah tropis. Pada penyakit ini,
cacing-cacing filaria kecil mirip benang menginfeksi pembuluh limfe.
2.4. Memahami dan Menjelaskan Penyebab dan Faktor Resiko Edema.
Penyebab Edema
1. Peningkatan Tekanan Kapiler
* Retensi garam dan air yang berlebihan di ginjal 1. Gagal ginjal akut atau kronis
2. Kelebihan mineral kortikoid
* Tekanan Venosa yang tinggi (gagal jantung, obstruksi venosa, kegagalan pompa vena paralisis otot - imobilisasi bagian-bagian tubuh - kegagalan katup vena)
3. Penurunan Protein Plasma
* Kehilangan protein dalam urin (sindrom nefrotik)
* Kehilangan protein dari kulit yang terkelupas (luka bakar)
* Kegagalan menghasilkan protein (penyakit hati dan malnutrisi protein ataukalori yang
berat)
4. Peningkatan Permeabilitas Kapiler
* Reaksi imun yang menyebabkan pelepasan histamin dan produk imun lainnya
* Toksin
* Infeksi bakteri
* Defisiensi vitamin, khususnya vit C
* Iskemia yang lama
* Lukabakar
4. Hambatan Aliran Limfe
* Kanker
* Infeksi-infeksi (nematoda jenis filaria)
* Pembedahan
* Kelainan atau tidak adanya pembuluh limfatik secara kongenital
Faktor edema
Faktor resiko edema biasanya terdapat pada:
* Alkoholik (yang dapat menyebabkan sirosis hati dan penyakit lainnya)
* Tekanan darah tinggi
* Penyakit ginjal
* Telah melakukan operasi mastectomy atau operasi lainnya yang melibatkan
pengangkatan kelenjar getah bening
* Kehamilan
* Gaya hidup yang jarang melakukan aktivitas fisik
* Merokok
Edema biasanya terjadi pada wanita hamil, dikarenakan cairan yang dibutuhkan oleh
janin dan plasenta. Tubuh wanita hamil lebih mempertahankan natrium dan air dibanding
tubuh normal, hal ini dapat menyebabkan edema.
15

Faktor-faktor lain yang meningkatkan resiko edema adalah saat mengkonsumsi obatan
tertentu seperti:
* Obat yang membuka pembuluh darah
* Calcium channel blockers
* Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID)
* Obat diabetes thiazolidinesiones
2.5. Memahami dan Menjelaskan Penanganan dan Pencegahan Edema.
Pemeriksaan Fisik pada penderita edema antara lain :
1. Bentuk paru paru seperti kodok ; abdomen cembung dan sedikit tegang
2. Variesis di dekat usus
3. Variesis di dekat tungkai bawah
4. Edema timbal karena hipoalbuminemia
5. Perubahan sirkulasi Distensi abdomen
6. Timpani pada puncak asites
7. Fluid wave
8. Shifting dullness
9. Pudle sing
10. Foto thorax
11. Ultrasonografi
12. CT Scan
Pemeriksaan Laboratorium
Penurunan serum osmolalitas : < 280 mOsm/kg
Penurunan serum protein, albumin, ureum, Hb dan Ht
Peningkatan tekanan vena sentral (Central Vein Pressure)
Penatalaksanaan edema
1.Cari dan atasi penyebabnya
2.Tirah baring
3.Diet rendah Natrium : < 500 mg/hari
4.Stoking suportif dan elevasi kaki
5.Restriksi cairan : < 1500 ml/hari
6.Diuretik
Pada gagal jantung :
* hindari overdiuresis karena dapat menurunkan curah jantung dan menyebabkan
azotemia pre renal
* hindari diuretik yang bersifat hipokalemia karena dapat menyebabkan intoksikasi
digitalis
Pada sirosis hati :
* spironolakton dapat menyebabkan asidosis dan hiperkalemia
* dapat pula ditambahkan diuretik golongan tiazid
* deplesi volume yang berlebihan dapat menyebabkan gagal ginjal,
* hiponatremia dan alkalosis
Pada sindroma nefrotik :
pemberian albumin dibatasi hanya pada kasus yang berat

16

3. Memahami dan Menjelaskan Aspek Biokimia dan Fisiologis Kelebihan Cairan.


3.1. Memahami dan Menjelaskan Faktor-Faktor Metabolisme air.
* Sel-sel lemak mengandung sedikit air,sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan
lemak tubuh.
* Usia : air tubuh menurun sesuai peningkatan usia.
* Jenis kelamin wanita: wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional,
karena lebih banyak mengandung lemak tubuh.
Edema di kapiler terjadi bila terjadi peningkatan permeabilitas dinding
kapiler yang memungkinkan lebih banyak protein plasma keluar dari kapiler ke cairan
intersitium disekitarnya terjadi penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang
menurunkan tekanancairan
intersitium yang
menurunkan tekanan ke arah
dalam sementara peningkatantekanan osmotik koloid cairan intersitium yang
disebabkan oleh kelebihan protein di cairan intersitium meningkatkan tekanan ke
arah luar edema lokal. E d e m a t e r j a d i d i l i m f e b i l a t e r j a d i p e n yu m b a t a n
pembuluh darah limfe karena kelebihan cairan yang difiltrasi keluar
tertahan di cairan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke
dalam melalui sistem limfe.
3.2. Memahami dan Menjelaskan Penyebab Kelebihan air.
1. Perubahan hemodinamik dalam kapiler yang memungkinkan keluarnya cairan
intravaskular ke dalam jaringan interstisium
Hemodinamik dipengaruhi oleh :
* Permeabilitas kapiler
* Selisih tekanan hidrolik dalam kapiler dengan tekanan hidrolik dalam I ntersisium
* Selisih tekanan onkotik dalam plasma dengan tekanan onktik dalam interstisium.
2. Retensi natrium di ginjal
Retensi natrium dipengaruhi oleh :
* Sistem renin angiotensin-aldosteron
* Aktifitas ANP
* Aktifitas saraf simpatis
* Osmoreseptor di hipotalamus
- Edema di kapiler terjadi bila terjadi peningkatan permeabilitas dinding kapiler yang
memungkinkan lebih banyak protein plasma keluar dari kapiler ke cairan intersitium di
sekitarnya terjadi penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang menurunkan tekanan
cairan intersitium yang menurunkan tekanan ke arah dalam sementara peningkatan
tekanan osmotik koloid cairan intersitium yang disebabkan oleh kelebihan protein di
cairan intersitium meningkatkan tekanan ke arah luar edema lokal.
- Edema terjadi di limfe bila terjadi penyumbatan pembuluh limfe karena kelebihan
cairan yang difiltrasi keluar tertahan di cairan intersisium dan tidak dapat dikembalikan
ke dalam melalui sistem limfe.
* Asupan natrium yang berlebih
* Pemberian infus berisi natrium yang terlalu cepat dan banyak,terutama pada klien
dengan gangguan mekanisme regulasi cairan

17

* Penyakit yang mengubah mekanisme regulasi,seperti gangguan jantung (gagal jantung


kongestif),gagal ginjal,sirosis hati,sindrom cushing.
* Kelebihan steroid.
Organ yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan meliputi:
a. Ginjal
Fungsi-fungsi utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan cairan:
* Pengaturan volume dan osmolalitas CES melalui retensi dan eksresi selektif cairan
tubuh.
* Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi yang
dibutuhkan .
* Pengaturan pH CES melalui retensi ion-ion hidrogen.
* Ekskresi sampah metabolik dan substansi toksik.
Oleh karena itu gagal ginjal jelas mempengaruhi keseimbangan cairan, karena ginjal
tidak dapat berfungsi.
b. Jantung dan pembuluh darah
Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal di bawah tekanan yang sesuai
untuk menghasilkan urine. Kegagalan pompa jantung ini mengganggu perfusi ginjal dan
karena itu mengganggu pengaturan air dan elektrolit.
c. Paru-paru
Melalui ekhalasi paru-paru mengeluarkan air sebanyak +300L setiap hari pada orang
dewasa. Pada kondisi yang abnormal seperti hiperpnea atau batuk yang terus-menerus
akan memperbanyak kehilangan air; ventilasi mekanik dengan air yang berlebihan
menurunkan kehilangan air ini.
d. Kelenjar pituitary
Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yaitu ADH yang disebut juga hormon
penyimpan air, karena fungsinya mempertahankan tekanan osmotik sel dengan
mengendalikan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dan dengan mengatur volume darah.
e. Kelenjar adrenal
Aldosteron yang dihasilkan/disekresi oleh korteks adrenal (zona glomerolus).
Peningkatan aldosteron ini mengakibatkan retensi natrium sehingga air juga ditahan,
kehilangan kalor. Sedangkan apabila aldosteron kurang maka air akan banyak keluar
karena natrium hilang. Kortisol juga menyebabkan retensi natrium.
f. Kelenjar paratiroid
Mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat melalui hormon paratiroid (PTH). Sehingga
dengan PTH dapat mereabsorbsi tulang, absorbsi kalsium dari usus dan reabsorbsi
kalsium dari ginjal.
Kelebihan volume ECF dapat terjadi jika Na dan air tertahan dengan proporsi yang lebih
kurang sama seiring dengan terkumpulnya cairan isotonic berlebihan di ECF, maka cairan
akan berpindah ke kompartemen cairan interstisial. Kelebihan cairan volume selalu
terjadi sekunder akibat peningkatan kadar Na tubuh totalyang akan menyebabkan
terjadinya retensi air. Penyebab volume ECF berlebihan adalah antara lain mekanisme
pengaturan berubah, gagal jantung, sirosis hati, sindrom nefrotik, dan gagal ginjal.
3.3. Memahami dan
Ekstravaskular.

Menjelaskan

Keseimbangan
18

Cairan

Intravaskular

dan

Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. Dua pertiga bagian (67%)
dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dansepertiganya (33%) berada
di luar sel (cairan ekstrasel/ CES). CES dibagi cairanintravaskuler atau plasma darah
yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan, dan cairan intersisial yang
mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan.Selain kedua kompartmen tersebut,
ada kompartmen lain yang ditempati cairantubuh, yaitu cairan transel. Namun,
volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairansendi, cairan otak, cairan perikard, liur
pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutamaterdapat pada cairan ekstrasel, sedangkan ion
K+ di cairan intrasel. Anion proteintidak tampak dalam cairan intersisial karena
jumlahnya paling sedikit dibandingkandengan intrasel dan plasma.Perbedaan komposisi
cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karenaadanya barier yangn memisahkan
mereka. Membran sel memisahkan cairan intraseldengan cairan intersisial, sedangkan
dinding kapiler memisahkan cairan intersisialdengan plasma. Dalam keadaa normal,
terjadi keseimbangan susunan dan volumecairan dan elektrolit antar kompartmen. Bila
terjadi perubahan konsentrasi atautekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi
perpindahan cairan atau ionantar kompartmen sehingga terjadi keseimbangan kembali.

19