Anda di halaman 1dari 16

A.

PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Seseorang

harus

mampu

mempertahankan

kesehatan.

Mempertahankan kesehatan salah satunya dilakukan dengan menjaga


keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa didalam tubuh.
Keseimbangan ini dipertahankan melalui asupan, distribusi dan
haluaran air dan elektrolit, serta pengaturan kompone-komponen
tersebut oleh sistem renal dan paru-paru. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan ketidakseimbangan, salah satunya karena penyakit.
Perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan mulai dari
pengkajian

sampai

intervensi

perbaikan

keseimbangan

cairan,

elektrolit dan asam basa dan melakukan evaluasi pada klien dengan
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (Perry & Poeter, 2005).
Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan. Bayi
prematur jumlahnya sebesar 80 % dari berat badan, bayi normal
sebesar 70-75 % dari berat badan, sebelum pubertas 65-70 % dari
berat badan dan orang dewasa sebanyak 50-60 % dari berat badan.
Kandungan air didalam sel lemak lebih rendah daripada kandungan air
didalam sel otot, sehingga cairan tubuh total pada orang yang gemuk
(obesitas) lebih rendah dari mereka yang tidak gemuk (Siregar, 2009).
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu: cairan
intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan
yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan
ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga
kelompok yaitu: cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan
cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam
sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara
sel, sedangkan cairan transeluler adalah cairan sekresi khusus seperti
cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna
(Siregar, 2009).
B. TINJAUAN TEORI

1. Pengertian Gangguan Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit.


Cairan didalam tubuh dibagi dalam dua kompartemen utama
yaitu cairan intrasel dan ekstrasel. Volume cairan intrasel sebesar 60%
dari cairan tubuh total atau sebesar 36 % dari berat badan (BB) pada
orang dewasa. Volume cairan
ekstrasel sebesar sebesar 40% dari cairan tubuh total atau
sebesar 24% dari BB orang dewasa. Cairan ekstrasel dibagi dalam dua
subkompartemen yaitu cairan interstisium 30% dari cairan tubuh total
atau 18% dari BB orang dewasa dan cairan intravaskuler (plasma)
sebesar 10% dari cairan tubuh total atau 6% dari BB orang dewasa.
Cairan ekstrasel dan intrasel dibatasi oleh membran sel (lipid soluble),
merupakan membran semipermeabel yang bebas dilewati oleh air
akan tetapi tidak bebas dilewati oleh solut yang ada dikedua
kompartemen

tersebut

kecuali

urea.

Cairan

interstisium

dan

intravaskuler dibatasi oleh membran permeabel yang bebas dilewati


oleh air dan solut kecuali albumin. Albumin hanya terdapat di
intavaskuler (Siregar, 2009).
Berdasarkan Perry & Poeter (2005) menyatakan bahwa cairan
tubuh bergerak melalui 3 proses yaitu:
a. Difusi : proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi
keseimbangan. Cairan dan elektrolit didifusikan sampai menembus
membran sel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh ukuran molekul,
konsenrasi larutan, dan temperatur.
b. Osmosis: bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui membran
semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke
konsentrasi yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.
c. Transpor aktif : partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke
konsentrasi tinggi karena adanya daya aktif dari tubuh seperti
pompa jantung.
Gangguan keseimbangan cairan adalah ketidakseimbangan
antara cairan yang masuk ke dalam dan iar yang keluar dari tubuh,

ketidakseimbangan

antara

cairan intrasel

dan ekstrasel serta

ketidakseimbangan antara cairan interstisium dan intravaskuler


(Siregar, 2009). Keseimbangan asam dan basa tercapai jika kecepatan
total tubuh yang memproduksi asam atau basa sama dengan kecepatan
tubuh mengekskresikan asam dan basa tersebut. Keseimbanga ini
menghasilkan stabilnya konsentrasi ion hidrogen didalam tubuh.
Konsentrasi ion hidrogen didalam cairan tubuh dinyatakan sebagai
nilai pH (Perry & Poeter, 2005).
Pengeluaran cairan di dalam tubuh sebagai mekanisme
homeostasis terjadi melalui organ-organ seperti :
a.

Ginjal, merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang


menerima 170 liter darah untuk disaring setiap hari. Produksi urine
untuk semua usia 1 ml/kg/jam. Pada orang dewasa produksi urine
sekitar 1,5 lt/hari. Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal
dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron.

b.

Kulit, hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang
merangsang aktivitas kelenjar keringat. Rangsangan kelenjar
keringat dapat dihasilkan dari aktivitas otot, temperatur lingkungan
yang meningkat, dan demam. Disebut juga Insesible Water Loss
(IWL) sekitar 15-20 ml/24 jam.

c.

Paru-paru, menghasilkan IWL sekitar 400 ml/hari. Meningkatnya


cairan yang hilang sebagai respons terhadap perubahan kecepatan
dan kedalaman napas akibat pergerakan atau demam.

d.

Gastrointestinal, dalam kondisi normal cairan yang hilang dari


gastrointestinal setiap hari sekitar 100-200 ml. Perhitungan IWL
secara keseluruhan adalah 10-15 cc/kgBB/24 jam, dengan kenaikan
10 % dari IWL pada setiap kenaikan suhu 1 derajat celcius.
Pengaturan

keseimbangan

dikompensasi dengan pengaturan:


a.

Rasa dahaga

cairan

di

dalam

tubuh,

Mekanisme rasa dahaga: Penurunan fungsi ginjal merangsang


pelepasan renin, yang pada akhirnya menimbulkan produksi
angiotensin

II

yang

dapat

merangsang

hipotalamus

untuk

melepaskan substrat neural yang bertangguang jawab terhadap


sensasi haus. Osmoreseptor di hipotalamus, mendeteksi peningkatan
tekanan osmotik dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat
mengakibatkan sensai rasa dahaga.
b. Anti Diuretik Hormon (ADH)
ADH di bentuk di hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis
dari hipofisis posterior. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah
peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstrasel. Hormon ini
meningkatkan reabsorpsi air pada duktus koligentes, dengan
demikian dapat menghemat air.
c. Aldosteron
Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada
tubulus ginjal untuk meningkatkan absopsi natrium. Pelepasan
aldosteron dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalium, natrium
serum dan sistem angiotensin renin serta sangat efektif dalam
mengendalikan hiperkalemia.
Tabel rata-rata cairan tubuh yang diperlukan per hari sesuai
umur dan berat badannya meliputi :
Umur
3 hari
1 tahun
2 tahun
6 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
(dewasa)

Estimasi berat mL/24


badan
3,0
9,5
11,8
20
28,7
45
54

Tabel rata-rata cairan yang keluar per hari :


Rute
Urin

Jumlah (mL)
1400 1500

mL/24 jam
250 300
1150 3300
1350 1500
1800 2000
2000 2500
2200 2700
2200 2700

Cairan yang tidak terasa


Paru-paru
Kulit
Keringat
Feces
Total

350 400
350 400
100
100 200
2300 - 2600

2. Faktor yang mempengaruhi


- Usia
- Temperature
- Lingkungan
- Diet
- Stres
- Prnyakit tertentu
3. Etiologi
Berdasarkan (Herdman, 2010) menyatakan beberapa etiologi
dari gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya sebagai
berikut:
a. Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit disebabkan oleh
diare, disfungsi endokrin, ketidakseimbangan cairan misalnya
dehidrasi, intoksikasi air, adaya gangguan mekanisme regulasi
misalnya diabetes insisipidus, disfungsi ginjal, efek samping terkait
pengobatan, muntah, luka bakar, obstruksi intestinal, sepsis, cedera
traumatik misal fraktur.
b. Kelebihan cairan disebabkan oleh kelebihan asupan cairan dan
kelebihan asupan natrium.

4. Faktor Predisposisi.
Berdasarkan (Perry & Poeter, 2005) menyatakan bahwa faktor
predisposisi dari gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit
dapat disebabkan oleh :
a. Penurunan asupan cairan peroral
b. Penggunaan obat-obatan diuretik

c.

Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan


cairan danelektrolit. Aktivitas menyebabkan peningkatan proses
metabolisme dalam tubuh.Hal ini mengakibatkan penigkatan
haluaran cairan melalui keringat. Dengandemikian, jumlah cairan
yang dibutuhkan juga meningkat. Selain itu,kehilangancairan
yang tidak disadari (insensible water loss) juga mengalami

d.

peningkatanlaju pernapasan dan aktivasi kelenjar keringat.


Kondisi stress ber pengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit
tubuh. Saat stress, tubuh mengalami peningkatan metabolism
seluler, peningkatan konsentrasi glukosa darah, dan glikolisis otot.
Mekanisme ini mengakibatkan retensi air dan natrium. Stress juga
menyebabkan peningkatan produksi hormon anti diuretik yang

e.

dapat mengurangi produksi urin.


Klien yang menjalani pembedahan beresiko tinggi mengalami
ketidak seimbangan cairan. Beberapa klien dapat kehilangan
banyak darah selama periode operasi, sedangkan beberapa klien
lainya justru mengalami kelebihan bebancairan akibat asupan
cairan berlebih melalui intravena selama pembedahan atau sekresi

f.

hormon ADH selama masa stress akibat obat- obat anastesi.


Usia mempengaruhi distribusi cairan tubuh dan elektrolit

g.

berkaitan dengan proses penuaan dan perkembangan.


Ukuran dan komposisi tubuh berpengaruh pada jumlah total air
dalam tubuh. Lemak tidak mengandung air, karena itu klien yang

h.

gemuk memiliki proporsio air yang lebih sedikit.


Tubuh berrespon terhadap temperatur lingkungan

yang

berlebihan, dalam bentuk perubahan cairan. Tubuh meningkatkan


vasodilatasi perifer yang memungkinkan lebih banyak darah
memasuki permukaan tubuh yang sudah menjadi dingin.
Berkeringat akan meningkatkan kehilangan cairan tubuh, yang
i.

menyebabkan kehilangan ion-ion natrium dan klorida.


Gaya hidup dapat memberi pengaruh tidak langsung pada
keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Kebiasaan yang

dapat mempengaruhi keseimbangan cairan meliputi diet, stres dan


olahraga.
5. Patofisiologi
Secara umum gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
terbagi menjadi dua yaitu ketika seseorang mengalami kekuranan
cairan dan elektrolit dan ketika seseorang dalam kondisi kelebihan
cairan dan elektrolit. Patofisiologi gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit sebagai berikut:
a. Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan
dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional
(isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia.
Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan
intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler
menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan
ekstraseluler.
melakukan

Untuk

mengkompensasi

pemindahan

cairan

kondisi

intraseluler.

ini,

tubuh

Mekanisme

kompensasi pada hipovolumik adalah peningkatan rangsangan


saraf

simpatis (peningkatan frekuensi jantung, dan tekanan

vaskuler), rasa haus, pelepasan hormon ADH dan aldosteron.


Hipovolumik yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal
ginjal akut. Defisit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan
cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi
tempat

cairan

berpindah

dan

tidak

mudah

untuk

mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan


ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi
intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium,
perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu,
seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat
b.

terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan (Tamsuri, 2009).


Kondisi kelebihan volume cairan ekstraseluler disebabkan oleh
adanya stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air,

fungsi ginjal abnormal dengan penurunan ekskresi natrium dan


air, kelebihan pemberian cairan, perpindahan cairan interstisial ke
plasma.

Adanya

perubahan

pada

membran

glumerolus

menyebabkan peningkatan permeabilitas, yang memungkinkan


protein (terutama albumin) keluar melalui urin (albuminuria).
Perpindahan protein keluar sistem vaskular menyebabkan cairan
plasma pindah ke ruang interstitisel, yang menghasilkan edema
dan hipovolemia. Penurunan volume vaskuler menstimulasi
sistem renin angiotensin, yang memungkinkan sekresi aldosteron
dan

hormon

antidiuretik

(ADH). Aldosteron

merangsang

peningkatan reabsorbsi tubulus distal terhadap natrium dan air,


yang menyebabkan bertambahnya edema. Hiperlipidemia dapat
terjadi karena lipoprotein memiliki molekul yang lebih berat
dibandingkan albumin sehingga tidak akan hilang dalam urin
(Perry & Poeter, 2005).

6. Pathway0
Usia, temperature lingkungan, diet, stress, penyakit tertentu

Volume cairan CES


Melalui kulit, ginjal,
gastrointestinal, perdarahan
Sekresi ADH dan elektrolit
Reabsorbsi Na dan air

Volume cairan CES


Reabsorbsi Na dan air
Ekresi natrium dan air

Rasa haus

Perpindahan cairan interstisial ke


plasma

Kekurangan volume cairan

Kelebihan volume cairan

Syok Hipovolemik
Kekurangan volume cairan

7. Tanda dan Gejala


Herdman (2010), menyatakan bahwa tanda dan gejala
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah sebagai berikut:
a. Hipovolemia, adanya penurunan tekanan darah, volume nadi, turgor
kulit, turgor lidah, haluaran urin, membran mukosa kering, kulit
kering, peningkatan hematokrit, suhu tubuh, frekuensi nadi,
konsentrasi urin, kelemahan.
b. Hipervolemia,

terlihat

udema

anasarka,

ansietas,

azotemia,

penurunan hematokrit, hemoglobin, dipsnea, edema, peningkatan


tekanan vena sentral,distensi vena jugularis, oliguri, ortopnea.
8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memperoleh data
objektif lebih lanjut tentang keseimbangan cairan, elektrolit dan asam
basa. Pemeriksaan meliputi kadar elektrolit serum, hitung darah
lengkap, kadar BUN, kadar kreatinin darah, berat jenis urin, dan kadar
gas darah arteri.

a. Kadar elektrolit serum diukur untuk menentukan status hidrasi,


konsentrasi elektrolit pada plasma darah dan keseimbangan
asam basa. Elektrolit yang sering diukur dalam darah venba
meliputi ion natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat.
b. Hitung darah lengkap adalah suatu penetapan jumlah dan tipe
sel darah putih dan sel darah merah per milimeter kubik darah.
Perubahan hitung darah lengkap, khusunya hematokrit terjadi
sebagai respon dehidrasi atau overhidrasi (hidrasi yang
berlebihan).
c. Kadar kreatinin darah bermanfaat untuk mengukur fungsi
ginjal. Kreatinin adalah produk normal metabolisme otot dan
diekskresikan dalam kadar yang cukup konstan, terlepas dari
faktor asupan cairan, diet dan olahraga.
d. Pemeriksaan berat jenis urin mengukur derajat konsentrai urin
yang dapat diukur menggunakan urinometer.
e. Pemeriksaan gas darah arteri memberikan informasi mengenai
keseimbangan asam dan basa dan tentang keefektifan fungsi
ventilasi

dalam

mengakomodasiertukaran

oksigen

karbondioksida secara normal. Pemeriksaan pH darah arteri


mengukur konsetrasi ion hidrogen. Penurunan pH dihubungkan
dengan asidosis sedangkan peningkatan pH dihubungkan
dengan alkalosis.
Tabel nilai normal kimia darah
Kimia darah
Kalsium
Kandungan

Nilai normal
4-5
karbondioksida 24-30

(bikarbonat dalam darah vena)


Klorida
Magnesium
Fosfat
Kalium
Natrium
Osmolalitas serum
Berat jenis urin
Kadar gas darah arteri
- pH = 7.35-7.45

100-106
1.5-2.5
2.5-4.5
3.5-5.3
135-145
280-295
1.003-1.030
-

Satuan
mEq/L
mEq/L
mEq/L
mEq/L
mEq/L
mEq/L
mEq/L
mOsm/kg
-

- paCO2 = 35-45 mmHg


- paO2 = 80-100 mmHg
- SaO2 = 95%-99%
- Kadar bikarbonat = 22-26mEq/L

9. Penatalaksanaan Gangguan Keseimbangan Cairan & Elektrolit


Berdasarkan Siregar (2009) bawah penatalaksanaan gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit seperti pada klien dengan
hipovolemia dan hipervolemia dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Penatalaksanaan hipovolemia
Tindakan yang dapat

dilakukan

dalam

mengatasi

hipovolemia adalah mengatasi penyakit yang mendasari dan


mengganti cairan yang hilang (rehidrasi). Rehidrasi dilakukan
dengan mengganti cairan yang keluar, bila pendarahan maka
sebaiknya juga diganti dengan darah, bila persediaan darah tidak
ada makan dapat diganti dengan cairan koloid atau cairan kistraloid
seperti NaCl isotonis atau cairan ringer laktat (RL).
b. Penatalaksanaan hipervolemia
Hipervolemia

adalah

keadanaan

dimana

volume

intravaskuler meningkat, pada kegagalan otot jantung dan


penurunan fungsi ginjal dapat menimbulkan udema paru.
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah pemberian diuretik yang
adekuat, furosemid, serta restriksi asupan air. Asupan air yang
dianjurkan sebanyak 40ml/jam. Klien dengan gagal ginjal akut
atau gagal ginjal kronik dengan hipervolemia maka memerlukan
dialisis.
10. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama: klien merasa mengalami kelemahan, pusing
atau bengkak ekstermitas

2. Riwayat penyakit sekarang: alasan klien mendatangi pelayanan


kesehatan karena adanya kelemahan atau edema ekstermitas dari
penyakitnya.
3. Riwayat penyakit dahulu: pernah dirawat di RS, menderita
penyakit yang menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit berapa lama, terdapat alergi obat, alergi makanan.
b. Pemeriksaan fisik
1) Perubahan BB,
- Turun 2%-5% = kekurangan volume cairan ringan
- Turun 5%-10% = kekurangan volume cairan sedang
- Turun 10-15% = kekurangan volume cairan berat
- Turun 15-20% = kematian
- Naik 2% = kelebihan volume cairan ringan
- Naik 5% = kelebihan vlume cairan sedang
- Naik 8% = kelebihan volume cairan berat.
2)
Mata: cekung, konjungtiva kering, air mata berkurang atau
3)

tidak ada, edema periorbital, papiledema, penglihatan kabur,


Tenggorokan dan mulut: membran mukosa kering, lengket,
bibir pecah-pecah dan kering, salivasi menurun, lidah

4)
5)

dibagian longitudinal mengkerut.


Vena leher datar atau vena leher distensi
TTV: peningkatan atau pengurangan frekuensi denyut nadi,

6)

denyut nadi lemah atau kuat, tekanan darah rendah.


Pengkajian sistem pernafasan: peningkatan frekuensi napas,

7)

dispnea, auskultasi krekels


Pengkajiam sistem gastrointestinal: riwayat anoreksia, kram
abdomen, abdomen cekung, abdomen distensi, muntah, diare,

8)
9)

hiperperistaltik disertai diare atau hipoperistaltik.


Pengkajian sistem ginjal: oliguri atau anuria, BJ urin.
Sistem neuromuskuler: inspeksi adanya baal, kesemutan,
kram otot, tetani, koma, tremor, perkusi reflek tendon
menurun atau tidak ada menandakan terjadi hiperkalsemia,
hipermagnesia sedangkan untuk reflek tendon meningkat atau

10)

hiperaktif makan terjadi hipokalsemia atau hipimagnesia.


Periksa area kulit: kering, kemerahan, palpasi turgor kulit

11)

tidak elastis, kulit dingin dan lembab.


Pengkajian pola gordon

a.

Pola manajemen kesehatan, klien jika sakit selalu pergi


ke pelayanan kesehatan, atau hanya membeli obat di

b.

warung.
Pola metabolik-nutrisi, BB menurun, intake cairan dan
pengeluarannya, asupan diet cairan, garam, kalium,
magnesium, kalsium, karbohidrat, lemak protein untuk

c.
d.

membantu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.


Pola eliminasi: oliguri, anuria.
Pola aktivitas: aktivitas yang dilakukan sekarang

e.

memperparah kondisi sakitnya tidak.


Pola istirahat, klien mengalami gangguan tidur atau

f.
g.

dengan kualitas tidur yang buruk.


Pola persepsi kognisi, memikirkan penyakitnya.
Konsepsi diri-persepsi diri, bagaimana klien memandang

h.

kehidupannya sekarang dengan penyakitnya.


Pola hubungan dan peran, bagaimana hubungan klien

i.

dengan keluarga, siapa yang menunggui.


Pola reproduksi: adanya gangguan eliminasi urin
menyebabkan gangguan aktivitas reproduksi. Keadaan

j.

genitalianya.
Pola toleranis stress-koping: munculnya cemas, takut,
gelisah. Tanyakan kepada klien bagaimana koping yang

k.

dilakukan klien jika klien merasa sakit.


Pola keyakinan-nilai, keyakinan klien akan kesembuhan
dan semangatnya dalam menghadapi penyakitnya.

11. Diagnosa
Heardman (2011), diagnosa yang mungkin muncul pada klien
dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sebagai berikut:
a. Kekurangan volume cairan
b. Kelebihan volume cairan
Dari kondisi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
diatas maka memunculkan berbagai diagnosa lainnya seperti:

a.
b.

Kerusakan integritas jaringan, klien dengan udema.


Penurunan curah jantung, klien dengan diagnosa ini biasanya
mengalami disritmia karena adanya ketidakseimbangan elektrolit.

DAFTAR PUSTAKA
Heardman. (2011). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.
Johnson, Meridian Maas, & Sue Moorhead. (2000). Nursing Outcame
Clasification. Mosby. Philadelphia.
McCloskey & Gloria M Bulechek. (1996). Nursing Intervention Clasification.
Mosby. USA.
Perry & Poeter. (2005). Fundamental Keperawatan. Jakarta. EGC.
Siregar. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Internal Publishing. Jakarta.
Tamsuri,

Anas. (2009). Seri Asuhan Keperawatan Klien


Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit. EGC. Jakarta.

Gangguan

Anda mungkin juga menyukai