Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Biosecurity
Biosecurity adalah manajemen kesehatan lingkungan yang baik
agar risiko munculnya penyakit tidak terjadi. Biosecurity merupakan
praktek manajemen dengan mengurangi potensi transmisi perkembangan
organisme seperti virus AI dalam menyerang hewan dan manusia.
Biosecurity terdiri dari dua elemen penting yaitu bioexclusion dan
biocontainment. Bioexclusion adalah pencegahan terhadap datangnya virus
infektif dan biocontainment adalah menjaga supaya virus yang ada tidak
keluar atau menyebar (WHO, 2008).
Dargatz

(2002)

pencegahan masuknya

menjelaskan

bahwa bioexclusion merupakan

agen patogen ke dalam populasi hewan

dan biocontainment merupakan pencegahan agen patogen menyebar di


antara hewan, antar area, dan keluar ke area lain.

Baker (2012)

menambahkan bahwa terdapat tiga komponen biosecurity antara


lain bioexclusion, biocontainment,dan biomanagement. Biomanagement
adalah praktik keseluruhan untuk mencegah dan mengontrol agen penyakit
yang sudah ada.
Menurut Winkel (1997), biosecurity merupakan suatu sistem untuk
mencegah penyakit baik klinis maupun subklinis, yang berarti sistem
untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan, dan
merupakan bagian untuk mensejahterakan hewan (animal welfare).
Biosecurity pada umumnya dibagi dalam tiga tingkatan menurut
Dwicipto (2010), yaitu:
a. Biosecurity konseptual, yang merupakan dasar atau basis dari seluruh
program pengendalian penyakit. Beberapa hal yang harus dikelola
antara

lain

pemilihan

lokasi

pengaturan jenis dan umur ternak.

peternakan

khususnya

kandang,

b. Biosecurity struktural, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan tata


letak peternakan, pemisahan batas-batas unit peternakan, pengaturan
saluran limbah peternakan, perangkat sanitasi dan dekontaminasi,
instalasi tempat penyimpanan pakan dan gudang, serta peralatan
kandang.
c. Biosecurity

operasional,

merupakan

implementasi

prosedur

manajemen untuk pengendalian penyakit di perusahaan terutama


bagaimana mengatasi suatu infeksi panyakit menular.
Aspek-aspek yang menjadi ruang lingkup program biosecurity
adalah

upaya

membebaskan

adanya

penyakit-penyakit

tertentu,

memberantas dan mengendalikan pengakit-penyakit tertentu, memberikan


kondisi lingkungan yang layak bagi kehidupan ayam, mengamankan
keadaan produk yang dihasilkan, mengamankan resiko bagi konsumen,
dan resiko bagi karyawan yang terlibat dalam tatalaksana usaha peternakan
ayam. Aspek-aspek ini bagi industri peternakan ayam sangat dituntut
mengingat cara pemeliharaannya yang dikandangkan, dan dipelihara
dalam jumlah yang banyak, sehingga ayam rentan terhadap ancaman
berbagai macam penyakit baik yang menular maupun tidak menular. Oleh
karena itu perhatian yang lebih sangat diperlukan dalam pelaksanaannya,
juga perlakuan terhadap ayam mati, kehadiran lalat, dan bau yang kerap
kali menimbulkan gangguan bagi penduduk sekitarnya (Hadi, 2012).
2.2

Program Biosecurity
Menurut Hadi (2012), pelaksanaan biosecurity dapat ditinjau dari
berbagai sisi diantaranya kontrol lalu lintas, manajemen kesehatan,
pencucian kandang, kontrol pakan, kontrol air, dan kontrol limbah.
2.2.1 Kontrol lalu lintas
Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke
peternakan dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini
diterapkan pada manusia, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian ini

data berupa penyediaan fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu
masuk untuk kendaraan , penyemprotan desinfektan terhadap peralatan
dan kandang, sopir, penjual, dan petugas lainnya dengan mengganti
pakaian ganti dengan yang pakaian khusus. Pemerikasaan kesehatan
hewan yang datang serta adanya Surat Keterangan Kesehatan Hewan
(SKKH) (Jeffrey, 1997),
Penerapan biosecurity dalam pengawasan lalu lintas manusia
(Euribrid Farm, 2003) meliputi: 1) karyawan atau orang yang terlibat di
bisnis peternakan pembibitan ayam tidak diperbolehkan memelihara
burung atau ayam di rumahnya. Begitu pula untuk peternakan komersial,
2) Orang yang akan masuk kedalam peternakan, sebelumnya tidak
mengunjungi peternakan pada tingkat di bawahnya (peternakan komersial,
processing dan lain-lain) yang status higienenya tidak diketahui, minimum
dua hari setelah kunjungan tersebut, 3) tamu sebaiknya tidak mengunjungi
peternakan bibit tetua (grand parent), kecuali profesional (ahli) yang
berhubungan dengan peternakan bibit tetua (grand parent) tersebut.Aspek
sanitasi ini berkaitan erat dengan penerapan higiene. Yang harus
diperhatikan adalah menjaga agar jangan ada kontaminan yang masih
menempel pada tubuh sehingga dapat menulari ayam di kandang. Hal ini
dapat diterapkan dengan mencuci tangan, mengganti baju yang kotor,
melakukan dipping sepatu bot dan spraying seluruh anggota badan
(Stanton, 2004).
Peternakan

grand parent stock harus menerapkan prosedur

biosecurity dengan sangat ketat misalnya tamu yang akan masuk


sebelumnya tidak boleh mengunjungi farm pada level di bawahnya
(parent stock, komersial, prosesing dll) paling sedikit tiga hari setelah
kunjungan tersebut. Kebersihan halaman dan teras dinding serta
pemotongan rumput harus teratur. Konstruksi kandang

dan ruang

penyimpan pakan dibuat yang tidak memungkinkan binatang-binatang


seperti tikus, burung, kumbang dan lainnya secara leluasa dapat
memasukinya (rodent proof) (Hadi, 2012).

Hewan yang potensial sebagai hewan penganggu adalah


unggas/burung liar, tikus, dan insekta (Hanson, 2002). Hal yang harus
diperhatikan oleh pemilik ataupun pekerja peternakan (Euribrid Farm,
2003), yaitu: tidak diperbolehkan mempunyai/merawat unggas lain, babi,
dan segala hewan yang bisa menimbulkan risiko penyakit atau bahaya
terhadap ayam (tikus dan unggas liar merupakan vektor yang potensial),
dan melakukan pencegahan khusus setelah kontak dengan hewan lain
sebelum masuk atau kontak dengan unggas. Pada penerapan sistem hazard
analysis critical control point (HACCP) di peternakan ayam, salah satu
titik kendali kritis (critical control point/CCP) adalah adanya pemantauan
harian terhadap burung liar dan rodensia di sekitar area kandang ayam.
Dalam program dan prosedur biosecurity dilakukan pemisahan unggas
terhadap jenis unggas lain, spesies bukan unggas, termasuk burung liar,
rodensia, dan hewan-hewan lainnya (Grimes, 2001). Menurut Kuney
(1999), pakan bisa menjadi sumber datangnya bangsa rodensia dan unggas
liar. Oleh karena itu, tikus dan unggas liar dicegah agar tidak menjangkau
pakan.
Dasarnya tidak semua yang disebutkan tadi berbahaya karena juga
tergantung spesies hewan tersebut, penyakit yang dibawanya, dan
resistensi ayam ternak terhadap penyakit yang dibawa hewan-hewan liar
tersebut. Setiap hewan yang masuk tidak mungkin diperiksa satu per satu,
lebih baik dilakukan pencegahan sedini mungkin agar hewan-hewan
tersebut tidak memasuki wilayah

peternakan. Jadi, sebisa mungkin

meminimalisasi paparan mikroorganisme berbahaya terhadap ayam


(Kuney, 1999).
Lalu lintas kendaraan yang memasuki areal peternakan juga harus
dimonitor secara ketat. Kendaraan yang memasuki farm harus melewati
kolam desinfeksi yang terdapat di belakang gerbang. Kendaraan yang bisa
masuk ke areal peternakan adalah kendaraan pengangkut makanan, DOC,
ataupun peralatan kandang lainnya. Pada peternakan pembibitan yang
memerlukan biosecurity lebih ketat, begitu masuk kolam desinfeksi

kendaraan harus berhenti, lalu seluruh bagian mobil bagian bawah, sekitar
ban disemprot desinfektan dengan sprayer tekanan tinggi. Sementara itu
penumpangnya harus mandi semprot untuk didesinfeksi. Peternakan yang
menerapkan biosecurity sangat ketat, pada umumnya terdapat pemisahan
dan batas yang jelas mengenai daerah sanitasi kotor dengan atau daerah
sanitasi semi bersih atau bersih, dengan demikian akan selalu ada kontrol
lalu lintas baik barang, bahan ataupun manusia (Hadi, 2012)
2.2.2

Manajemen Kesehatan
Aspek lain dari biosecurity adalah mencegah penyakit melalui

vaksinasi. Vaksinasi sebelum infeksi terjadi di dalam flok ayam menjadi


pilihan utama untuk melindungi ayam, karena tidak ada obat yang dapat
melawan infeksi virus. Vaksinasi merupakan metode paling mudah dalam
pencegahan penyakit.
Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang
mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. Vaksin
dapat dibuat dari bakteri, riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi
organisme hidup atau inaktif atau fraksi-fraksinya atau toksoid. Pemberian
vaksin harus disesuaikan dengan umur. Pemberian vaksin yang tepat akan
menentukan kekuatan dan jangka waktu imunitas yang terbentuk.
Kegagalan dalam vaksin akan menyebabkan meningkatnya resiko
penularan karena kurangnya imunitas yang terbentuk (Halls, 2005). Vaksin
yang baik akan mengurangi prevalensi penyakit pada suatu populasi
(Marangon dan Busani, 2006).
Ayam yang sakit atau mati dapat menjadi sumber penyakit
berbahaya bagi ayam sehat yang berdekatan. Oleh karena itu, ayam yang
sakit atau mati harus segera dikeluarkan dan dipisahkan sejauh mungkin
dari kandang ayam sehat sehingga tidak menulari ayam yang sehat. Ayam
yang sakit atau mati segera diisolasikan dan didiagnosa di laboratorium
oleh dokter hewan peternakan untuk segera diketahui penyakitnya. Setelah
itu, ayam yang mati harus segera dibakar di krematorium (Hanson 2002).

Isolasi mengandung pengertian penempatan atau pemeliharaan


hewan di dalam lingkungan yang terkendali. Pengandangan atau
pemagaran kandang akan menjaga dan melindungi unggas serta menjaga
masuknya hewan lain ke dalam kandang. Isolasi ini diterapkan juga
dengan memisahkan ayam berdasarkan kelompok umur. Selanjutnya,
penerapan manajemen all-in/all-out pada peternakan besar mempraktekan
depopulasi

secara

berkesinambungan,

serta

memberi

kesempatan

pelaksanaan pembersihan dan disinfeksi seluruh kandang dan peralatan


untuk memutus siklus penyakit (Jeffrey 1997).
Manajemen kesehatan memiliki hubungan

erat dengan metode

isolasi, karena dalam penerapannya pencegahan dan pemberantasan


penyakit yang baik dengan cara isolasi. Isolasi diperlukan untuk
menghindari infeksi dari hewan baru. Hewan baru beresiko untuk
menularkan walaupun tidak terlihat sakit (carrier). Diperlukan isolasi
selama jangka waktu tertentu untuk mengamati ada tidaknya perubahan
pada hewan baru (Sharma, 2010). Isolasi biasanya dilakukan sampai dapat
dipastikan tidak adanya tanda hewan baru tersebut terkena infeksi.
2.2.3

Sanitasi Kandang
Sanitasi kandang merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh

peternak untuk kebersihan kandang dan lingkungannya. Sanitasi kandang


memiliki tujuan untuk menjaga keadaan kandang serta lingkungan
kandang bersih sehingga kemungkinan agen infeksi penyakit masuk
berkurang. Sanitasi kandang meliputi pencucian kandang dan desinfeksi
kandang. Membersihkan kandang secara rutin juga diperlukan untuk
menciptakan lingkungan yang sehat. Kandang dibersihkan secara
menyeluruh menggunakan desinfektan.
Menurut Hadi (2012) pencucian kandang ayam broiler bisa
dilakukan secara total atau menyeluruh. Secara total artinya dilakukan
terhadap seluruh kandang secara lengkap dari bagian atas sampai ke
bawah. Hal ini dilakukan paling tidak setahun sekali. Pencucian bisa juga

secara parsial biasanya dilakukan tidak menyeluruh, tetapi hanya bagian


bawah (lantai) dan sekitarnya.
Pencucian kandang adalah tahap yang cukup sulit dalam
biosecurity. Keuntungan yang didapat dari pencucian kandang antara lain
mengurangi stress pada ayam, mengurangi mortalitas DOC, dan
membantu pertahanan kesehatan ayam terhadap penyakit (Halls, 2005).
Cara pencucian secara menyeluruh bisa dilakukan sebagai berikut:
a. Liter diangkat keluar dari kandang sejauh mungkin paling tidak 100
yard. Liter jangan berceceran agar tidak mencemari jalan atau pintu
masuk kandang.
b. Pencucian seluruh instalasi air, tempat makanan, dan peralatan lainya
dilakukan sampai bersih, kemudian didesinfeksi sebelum digunakan
untuk flok ayam berikutnya.
c. Seluruh bagian kandang disapu dengan bersih. kemudian disemprot
dengan air sabun, dibilas, dan disemprot desinfektan yang kuat dan
larut dalam air seperti senyawa fenol dengan konsentrasi yang sesuai
aturan.
d. Setelah pembersihan selesai maka liter baru dan peralatan kandang
untuk DOC yang baru dapat dipasang dan disebar merata. Liter
umumnya berupa sekam atau tatal dengan tebal 10 cm (minimal 8cm).
e. Insektisida yang sesuai digunakan pada bagian atas liter baru bila
terdapat masalah serangga.
f. Disediakan bak dekontaminasi sepatu di depan pintu masuk kandang
dan baskom dekontaminasi untuk mencuci kandang.
Menurut Nurhamzah (2012), desinfektan diberikan secara dua kali
yaitu, pertama desinfeksi dilakukan dengan menggunakan desinfektan
yang memiliki sifat kuat dan larut dalam air contohnya seperti senyawa
fenol. Desinfeksi kedua dilakukan setelah desinfeksi pertama dilakukan.
Formalin sebagai desinfektan cair dapat menjadi alternatif untuk
mendesinfeksi seluruh permukaan kandang.

10

Desinfeksi adalah proses menghilangkan organisme infeksius


dengan menggunakan agen kimia atau fisik (Kahrs, 1994). Desinfeksi
dilakukan pada pintu-pintu masuk peternakan untuk mencegah masuknya
penyakit. Desinfeksi dilakukan pada orang atau kendaraan yang akan
memasuki kompleks peternakan dengan menyemprot ban kendaraan
dengan desinfektan dan mewajibkan semua orang yang memasuki kandang
untuk mencelupkan kaki pada larutan desinfektan (Al Saffar et al., 2006).
2.2.4

Kontrol Pakan
Pakan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama

proses, pengemasan, penyimpanan dan penyiapan. Cara yang efektif untuk


mengurangi pencemaran mikroorganisme dari udara antara lain praktek
higiene, penyaringan udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan
metode pengemasan yang baik (Marriott, 1999).
Biosecurity terhadap pakan harus dilakukan terutama di tingkat
pabrik pengolahan. Hal ini harus secara ketat dilakukan mengingat
banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan.
Upaya yang harus dilakukan untuk mengamankan pakan ayam adalah:
a. Menghilangkan atau mengurangi dampak resiko terjadinya kesalahan
formulasi pakan seperi kelebihan garam dan lain-lain.
b. Melakukan pengawasan atas kualitas bahan baku secara teratur, seperti
kadar air, kadar aflatoksin, uji ketengikan, sampling terhadap
kandungan mikroorganisme, dan analisis proksimat untk mengetahui
kualitas kandungan pakan.
c. Memenuhi permintaan konsumen misalnya, breeding farm biasanya
memiliki persyaratan pakan tertentu untuk mencegah terjadinya
salmonellosis.
d. Melakukan upaya pencegahan berkembangnya toksin jamur dengan
menambahkan toxin binder.
e. Melakukan sanitasi truk pengangkut pakan, baik sebelum berangkat
maupun setibanya di farm konsumen.

11

f. Memperhatikan lama penyimpanan bahan baku ataupun penyimpanan


pakan jadi (Hadi, 2012).
2.2.5

Kontrol Air
Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus

memenuhi persyaratan air bersih (Depkes, 2001). Jika digunakan air tanah
atau dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa
sehingga memenuhi persyaratan air bersih.
Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan
menambahkan klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut
memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan
laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun sekali. Klorin berguna
untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air. Air
merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta merupakan
bahanbakupada proses pengolahan pangan (Depkes, 2001).
Air merupakan sumber penularan penyakit yang utama selain
melalui pakan dan udara. Berbagai penyakit yang ditularkan melalu iair
antara lain Salmonellosis, Kolibasilosis, Aspergillosis dan Egg Drop
Syndrome. Monitoring untuk program biosecurity air antara lain :
a. Melakukan pemeriksaan kualitas air minimal sekali dalam satu tahun
yang meliputi pemeriksaan kimiawi (kesadahan, metal, mineral) dan
bakteriologis.
b. Melakukan pemeriksaan air secara kultur paling tidak sebulan sekali
untuk menguji tingkat higienitas air minum ayam (kualitatif dan
kuantitatif). Pengujian dilakukan secara berurutan dari hulu ke hilir,
mulai dari sumber air sampai ketempat minum ayam (drinker).
c. Perlakuan sanitasi air minum ayam sesuai tingkat pencemarannya.
Sanitasi pada umumnya dilakukan dengan cara klorinasi, tetapi saat ini
sudah banyak produk komersial lain seperti pemberian asam organik.

12

d. Secara teratur melakukan flushing (penggelontoran) air di instalasi air


di dalam kandang minimal seminggu sekali. Perlakuan ini dilakukan
mengingat seringnya peternak memberikan vitamin, mineral ataupun
antibiotik melalui air minum. Munculnya jonjot (semacam lendir)
organik pada pipa-pipa air minum dapat mengakibatkan tersumbatnya
pipa-pipa saluran tersebut (Hadi, 2012).
2.2.6

Kontrol Limbah Produksi dan Ayam Mati


Sisa produksi atau limbah sering dijumpai dalam tatalaksana usaha

peternakan ayam. Limbah ini harus dijauhkan dan dimusnahkan sejauh


mungkin dari areal produksi. Apabila mungkin harus ada petugas khusus
yang mengambil sisa produksi ini secara teratur untuk dibuang atau
dimusnahkan di luar areal produksi. Apabila tidak mungkin dibuang atau
dimusnahkan di luar, maka harus dipilih lokasi di dalam wilayah
peternakan yang memungkinkan sisa produksi ini tidak mengganggu
kegiatan produksi lainnya serta mencegah pencemaran lingkungan (Hadi,
2012).
Liter basah atau liter yang sudah menggumpal pada dasarnya
diangkat dan dibuang pada tempat pembuangan limbah (disposal pit) yang
telah disediakan, dengan jarak minimal 8 meter dari kandang dan 60 meter
dari pemukiman warga. Ayam mati sesegera mungkin diambil dari
kandang dan setelah dilakukan pemeriksaan bedah pasca mati maka
secepatnya dibakar dan dibuang ke tempat lubang pembuangan (disposal
pit) di dalam peternakan. Disposal pit dapat dibuat dengan luasan 2x3
meter dan kedalaman sekitar 3 meter tergantung pada sisa produksi harian
serta tersedianya lahan (Hadi, 2012).
Ayam yang sakit/mati dapat menjadi sumber penyakit berbahaya
bagi ayam sehat yang berdekatan. Oleh karena itu, ayam yang sakit/mati
harus segera dikeluarkan dan dipisahkan sejauh mungkin dari kandang
ayam sehat sehingga tidak menulari ayam yang sehat. Ayam yang
sakit/mati segera diisolasikan dan didiagnosa di laboratorium oleh dokter

13

hewan peternakan untuk segera diketahui penyakitnya. Setelah itu, ayam


tersebut harus segera dibakar di insinerator (Hanson, 2002). Menurut
peraturan pemerintah RI No 41 tahun 2012 tentang alat dan mesin
peternakan dan kesehatan hewan untuk pengolahan limbah peternakan
menggunakan insinerator.
Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran
ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat
mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi
sumber pencemaran di peternakan. Standar pengambilan limbah (kotoran
ayam) minimal 2 kali dalam 1 periode yaitu pada masa pemeliharaan dan
pencucian kandang (Jeffrey, 1997).

14