Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan Laboratorium

Tes enzim hepar: fosfatase alkalin, gamma-glutamil transferase (GGT), alamin


aminotransferase (ALT/SGPT), nucleotidase 5' (5'N), bilirubin total dan
bilirubin direk, protein serum, albumin serum, darah lengkap, masa
protrombin (PT), elektrolit serum, amonia plasma.
Pemeriksaan diagnostik: skan nuklir hepar, CT scan hepar, biopsi hepar,
angiografi hepar
Cara menangani penyakit sirosis hati:
1. dalam masa pengobatan, diet cocok diterapkan oleh penderita sirosis hati.
Diet dilakukan dalam dua tahapan terapi. Pada tahap ini, penderita sirosis
hati hanya bisa minum-minuman, seperti teh, sirup, dan sari buah. Penderita
sirosis hati juga boleh mengkonsumsi makanan yang halus atau mudah
ditelan, tetapi harus dibawah pengawasan dokter dan ahli gizi. Lamanya
melakukan diet dilakukan tergantung pada tahapan gejala sirosis hati.
2. Tahap ini dilakukan pada saat precoma telah teratasi. Precoma adalah
masa menjelang terjadinya koma radang hati. Makanan yang mengandung
protein dapat diberikan, tetapi dalam jumlah terbatas. Konsumsi makanan
yang mengandung protein dilakukan secara bertahap 20-60 gram protein/hari
. makanan yang diberikan berita cairan yang mengandung karbohidrat
sederhana seperti, macam-macam sari buah manis, sirup,dan the manis.
Makanan cair diberikan sekitar 2 liter/hari.
3. Pemilihan makanan bagi penderita sirosis hati
Dalam memilih menu makanan bagi penderita sirosis hati, sebaiknya diperhatikan
hal-hal berikut ini:
a. Hindari konsumsi makanan yang dapat menimbulkan penimbunan gas dalam
lambung sperti ubi, singkong, kacang merah, kol, sawi, lobak, nangka, dan
durian.
b. Hindari konsumsi makanan yang telah diawetkan, seperti humberger, sosis,
ikan asin dan kornet. Usahakan selalu mengkonsumsi makanan segar.
c. Pilih bahan makanan yang kandungan lemak tidak banyak seperti daging
yang tidak berlemak, ikan segar, atau ayam tanpa kulit.
d. Pilihan sayuran rendah serat seperti bayam, wortel, bit, labu siam, kacang
panjang, buncis muda, dan daun kangkung.
e. Hindari konsumsi bumbu-bumbu masakan jangan terlalu banyak dan
gunakan bumbu masakan dalam batas normal, seperti salam, lengkuas,
kunyit, bawang merah, bawang putih, dan ketumbar asal tidak terlalu
banyak.
Hindari makanan yang terlalu berlemak seperti daging, usus, sumsum, atau
santan kental.

Pemeriksaan diagnostic ( Suparman. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi ketiga, Jilid 2, 1996
hal 271-280)
http://www.budilukmanto.org/index.php/sirosis-hepatis/41-sirosis-hepatis/64seputar-hepatitis
1. Darah, anemia normokrom normositer, hipokrom normositer, hipokrom
mikrositer atau hipokrom makrositer.
2. Kenaikan kadar enzim transaminase (SGOT/SGPT)
3.
3. Albumin dan globulin serum, perubahan fraksi protein yang paling terjadi
pada penyakit hati adalah penurunan kadar albumin dan kenikan kadar
globulin akibat peningkatan globulin gamma.
4. Penurunan kadar CHE
5. Pemeriksaan kadar elektrolit, penting pada penggunaan diuretick dan
pembatasan garam dalam diet.
6. Pemanjangan masa protrombin
7. Peningkatan kadar gula darah
8. Pemeriksaan marker serologi petanda virus seperti Hbs-Ag, Hbe-Ag, HBV
DNA, penting untuk menentukan sirosis hepatis
USG PADA SIROSIS HEPATIS
Gambarannya meliputi gambaran spesifik pada organ-organ hati, lien dan
traktus biliaris.
a. Gambaran USG pada hati
Terdapat gambaran iregularitas penebalan permukaan hati, membesarnya
lobus kaudatus, rekanalisasi v.umbilikus dan ascites. Ekhoparenkim sangat
kasar menjadi hiperekhoik karena fibrosis dan pembentukan mikronodul
menjadikan permukaan hati sangat ireguler, hepatomegali; kedua lobus hati
mengecil atau mengerut atau normal. Terlihat pula tanda sekunder berupa
asites, splenomegali, adanya pelebaran dan kelokan-kelokan v.hepatika,
v.lienalis, v.porta (hipertensi porta). Duktus biliaris intrahepatik dilatasi,
ireguler dan berkelok-kelok (5,6).
b. Gambaran USG pada lien
Tampak peningkatan ekhostruktur limpa karena adanya jaringan fibrosis,
pelebaran diameter v.lienalis serta tampak lesi sonolusen multipel pada
daerah hilus lienalis akibat adanya kolateral (5).
c. Gambaran USG pada traktus biliaris
Sludge (lumpur empedu) terlihat sebagai material hiperekhoik yang
menempati bagian terendah kandung empedu dan sering bergerak perlahanlahan sesuai dengan posisi penderita, jadi selalu membentuk lapisan
permukaan dan tidak memberikan bayangan akustik di bawahnya.
Pada dasarnya lumpur empedu tersebut terdiri atas granula kalsium
bilirubinat dan kristal-kristal kolesterol sehingga mempunyai viskositas yang
lebih tinggi daripada cairan empedu sendiri. Dinding kandung empedu
terlihat menebal. Duktus biliaris ekstrahepatik biasanya normal (4).