Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

BLOK XVIII
Pemeriksaan Fungsi Indera Pendengar

DISUSUN OLEH:
NAMA

:Nicko Yudhistira Kurniawan

NIM

:41090008

HARI/TGL. PRAK

:Rabu, 14 September 2011

KEL. PRAK

:C

ASISTEN

: dr Yanti Ivana Suryanto, M.Sc

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2011

PENDAHULUAN
BAB I
A. Latar Belakang
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa telinga merupakan alat indera
dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Pada
percobaan ini kami lebih menyoroti kepada fungsi telinga sebagai indera
pendengaran. Fungsinya sangatlah penting, yakni dalam hal berkomunikasi
dengan orang lain. Suara yang biasa kita dengarkan melalui indera pendengaran
kita itu sebenarnya merupakan suatu getaran yang masuk ke dalam telinga kita
dan diproses secara lebih lanjut serta rinci dan akhirnya dapat kita tafsirkan
sebagai suatu suara.
Oleh karena fungsi dari indera pendengaran yang sangat penting itulah,
maka kami melakukan percobaan ini. Percobaan tentang pemeriksaan fungsi
indera pendengar yang terdiri dari 2 pemeriksaan, yakni pemeriksaan kepekaan
indera pendengar dan pemeriksaan jenis ketulian. Diharapkan melalui percobaan
ini, kami dapat memahami berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk
melakukan uji terhadap indera pendengaran. Serta dapat mengetahui apakah
indera pendengaran kami masih berjalan dengan normal atau tidak.
B. Tujuan
Mahasiswa dapat memahami dan melakukan pengujian kepekaan indera
pendengar dan jenis ketulian

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Telinga
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada
partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk
perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi
dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar
(Miyoso, dkk, 2010).
II. Fisiologi Indra Pendengaran
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga
Dan mengenai membrana timpani sehingga membrana timpani bergetar. Getaran
ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
Selanjutnya, stapes menggerakkan foramen ovale yang juga menggerakkan
perilimfe dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner
yang mendorong endolimfe dan membrana basalis ke arah bawah. Perilimfe
dalam skala timpani akan bergerak sehingga foramen rotundum terdorong ke arah
luar (Tortora dan Derrickson, 2009).
Pada waktu istirahat, ujung sel rambut Corti berkelok dan dengan
terdorongnya membrana basal, ujung sel rambut itu menjadi lurus. Rangsangan
fisik ini berubah menjadi rangsangan listrik akibat adanya perbedaan ion Natrium
dan Kalium yang diteruskan ke cabang-cabang nervus vestibulokoklearis.
Kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran di otak
melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis telinga (Tortora dan Derrickson,
2009).
III.
Tuli konduktif

Jenis-jenis ketulian

:Gangguan terjadi pada telinga luar dan tengah (Rampal,


2010).

Tuli saraf

:Gangguan terjadi pada telinga dalam (cochlea dan


akustikus) (Rampal, 2010).

Ciri dari tuli saraf yaitu ketidak sesuaian suara percakapan, tinitus,
umumnya gangguan pendengaran terhadap suara frekuensi tinggi, dan suara yang
ada disekeliling menimbulkan kesulitan saat mendengar.

Kebisingan dapat

menyebabkan terjadinya tuli saraf, karena terpapar bahaya

kebisingan

mengakibatkan ketulian melalui destruksi sel-sel rambut pada cochlea (Rampal,


2010).
Tuli campuran : Gangguan terjadi pada telinga luar, tengah dan dalam
(Rampal, 2010).
Menurut ISO derajat ketulian adalah sebagai berikut :
Jika peningkatan ambang dengar antara 0-<25dB, masih normal
Jika peningkatan ambang dengar antara 26-40 dB, disebut tuli ringan
Jika peningkatan ambang dengar antara 41-60dB, disebut tuli sedang
Jika peningkatan ambang dengar antara 61-90dB, disebut tuli berat
Jika peningkatan ambang dengar >90dB , disebut tuli sangat berat (Buchari,
2007).
Test Rinne
Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran
tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.
Ada 2 macam tes Rinne, yaitu :
a. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya
tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus).
Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan
didepan meatus akustikus eksternus pasien.
b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya
secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala
didepan meatus akustikus eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah
bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada
dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid) (Saifudin, 2006).
Test Weber
Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran
tulang antara kedua telinga pasien. memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji

adanya lateralisasi suara. Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan
pukulkan pada lutut atau pergelangan tangan pemeriksa. Kemudian diletakkan
pada dahi atau gigi pasien. Pasien ditanya apakah suara terdengar di tengah
kepala, di telinga kanan atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran normal
akan mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau menjelaskan bahwa
suara terpusat di tengah kepala. Bila ada kehilangan pendengaran konduktif
(otosklerosis, otitis media), suara akan lebih jelas terdengar pada sisi yang sakit.
Ini disebabkan karena obstruksi akan menghambat ruang suara, sehingga akan
terjadi peningkatan konduksi tulang. Bila terjadi kehilangan sensorineural, suara
akan meng-alami lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik. Uji
Weber berguna untuk kasus kehilangan pendengaran unilateral (Saifudin, 2006).
Test Swabach
Tujuan kita melakukan test Swabach adalah untuk membandingkan daya
transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus.
Dasar pemeriksaan yakni dimana, gelombang-gelombang dalam endolymphe
dapat ditimbulkan oleh getaran yang datang melalui udara. Getaran yang datang
melalui tengkorak, khususnya osteo temporale (Saifudin, 2006).

BAB III
METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
Alat
Garpu tala 288 Hz
Arloji/ jam tangan (yang bersuara)
Mistar panjang 1m
Kapas
Bahan
3 orang probandus
B. Cara Kerja
Pemeriksaan Kepekaan Indera Pendengar

Telinga kanan naracoba I ditutup dengan kapan dan kedua matanya ditutup
Arloji atau jam tangan digerakkan oleh penguji mendekati tangan kiri naracoba
sampai suara arloji/ jam tangan didengar pertama kalinya
Jarak antara arloji/ jam tangan dengan telinga kiri naracoba diukur
Percobaan diulangi sampai 3x
Dilakukan percobaan yang sama tetapi untuk telinga kanan (telinga kiri disumbat
dengan kapas)
Hasil dicatat pada lembar kerja dan dibandingkan hasil percobaan untuk telinga
kiri dan kanan
Percobaan yang sama dilakukan kepada naracoba yang lain dan dibandingkan
hasilnya

Pemeriksaan Jenis Ketulian


a. Percobaan Rinne
Pangkal garpu tala yang sudah digetarkan diletakkan oleh penguji pada prosesus
mastoideus naracoba
Mula-mula suara garpu tala akan didengar keras oleh naracoba, namun kelamaan
suaranya akan melemah dan akhirnya tidak terdengar lagi
Saat suara garpu tala tidak didengar oleh naracoba, garpu tala segera dipindah
oleh penguji ke dekat atau di depan telinga
Dengan pemindahan letak garpu tala itu, ada 2 kemungkinan yang dapat
diperoleh:
1. Naracoba akan mendengar suara garpu tala lagi, disebut Rinne positif
2. Naracoba tidak akan mendengar suara garpu tala lagi, disebut Rinne negative
Percobaan diulangi 3x dan hasilnya dicatat
Percobaan diulangi untuk telinga yang satu lagi dan percobaan direplikasi 3x
Hasilnya dicatat dan dibandingkan antara hasil telinga kanan dengan yang kiri
b. Percobaan Weber
Pangkal garpu tala yang sudah digetarkan diletakkan pada puncak kepala (os
frontalis) oleh penguji
Intensitas suara dikedua telinga didengarkan oleh naracoba dan ada 3
kemungkinan yang terjadi:
1. Suara terdengar sama keras pada kedua telinga
2. Suara terdengar lebih keras pada telinga kiri (lateralis ke telinga kiri)

3. Suara terdengar lebih keras pada telinga kanan (lateralis ke telinga kanan)
Perhatikan kemungkinan yang terjadi dan hasilnya dicatat pada lembar kerja
c. Percobaan Scwabach
Pangkal garpu tala yang sudah digetarkan diletakkan oleh penguji pada prosesu
mastoideus kanan/kiri
Suara garpu tala akan didengar oleh naracoba, makin lama melemah dan akhirnya
tidak terdengar lagi
Garpu tala dipindahkan dengan segera ke prosesus mastoideus kanan/kiri orang
yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding) oleh penguji
ketika naracoba mengatakan tidak mendengar suara garpu tala
Bagi pembandinga ada 2 kemungkinan:
1. Akan mendengar suara
2. Tidak mendengar suara
Percobaan diulangi sampai 3x dan hasil yang diperoleh dicatat
d. Percobaan Bing
Pangkal garpu tala yang sudah digetarkan diletakkan oleh penguji di puncak
kepala naracoba
Kerasnya suara pada telinga kanan diperhatikan
Sebelum suara menghilang, liang telinga kanan disumbat dengan kapas atau ujung
jari
Kemungkinan, naracoba akan mendapatkan bahwa:
1. Suara garpu tala kedengaran bertambah keras (percobaan Bing positif)
2. Keras suara garpu tala tidak mengalami perubahan ( perubahan Bing

Indifferent)

Percobaan diulangi sampai 3 x


Percobaan juga dilakukan untuk telinga kiri
Hasil yang diperoleh dicatat dan dibandingkan

BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN
A. Data Hasil Percobaan
Data Naracoba I
Nama
Hendi Wicaksono
Umur
20 tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Tinggi Badan
160 cm
Berat Badan
47 kg

Data Naracoba II
Nama
Nicko Yudhistira
Umur
21 tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Tinggi Badan
181 cm
Berat Badan
108 cm

Data Naracoba III


Nama
Andreas G
Umur
20 tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Tinggi Badan
169 cm
Berat Badan
58 kg
Pemeriksaan Ketajaman Indera Pendengaran
Naracoba ke-

Telinga Kiri
11,00 cm
9,00 cm

Telinga Kanan
12,00 cm
9,00 cm

8,00 cm

12,00 cm

Rata-Rata

9,33 cm

11,00 cm

Naracoba ke-

Telinga Kiri
3,00 cm
4,00 cm

Telinga Kanan
6,00 cm
8,00 cm

5,00 cm

6,00 cm

Rata-Rata

4,00 cm

6,67 cm

Naracoba ke-

Telinga Kiri
10,00 cm
10,00 cm

Telinga Kanan
12,00 cm
12,00 cm

11,00 cm

14,00 cm

10,33 cm

12,67 cm

II

III

Rata-Rata
Percobaan Weber

Medengar suara sama

Naracoba I : Nicko
Kanan

Kiri

keras
(+)
(+)
(+)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

Medengar suara sama

Naracoba II : Hendi
Kanan

Kiri

keras
(+)
(+)
(+)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

Medengar suara sama

Naracoba III : Andre


Kanan

Kiri

keras
(+)
(+)
(+)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

Percobaan Scwabach
Andre (Pembanding)
(+)
(+)
(+)

Nicko (Probandus)
(+)
(+)
(+)

Nicko (Pembanding)
(+)
(+)
(+)

Hendi (Probandus)
(+)
(+)
(+)

Hendi (Pembanding)
(+)
(+)
(+)

Andre (Probandus)
(+)
(+)
(+)

Percobaan Bing
Naracoba I: Nicko
Kanan
(+)
(+)
(+)

Kiri
(+)
(+)
(+)
Naracoba II: Hendi

Kanan
(+)
(+)
(+)

Kiri
(+)
(+)
(+)

Naracoba III: Andre


Kanan
(+)
(+)
(+)

Kiri
(+)
(+)
(+)

Percobaan Rinne
Naracoba I: Nicko
(+)
(+)
(+)

(+)
(+)
(+)
Naracoba II: Hendi

Kanan
(+)
(+)
(+)

Kiri
(+)
(+)
(+)
Naracoba III: Andre

Kanan
(+)
(+)
(+)

Kiri
(+)
(+)
(+)

B. Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami dan
melakukan berbagai macam cara pengujian yang terkait dengan kepekaan indera
pendengar. Pemeriksaan terdiri dari 2 jenis, yakni pemeriksan kepekaan indera
pendengar dan pemeriksaan jenis ketulian.
Prinsip dari pemeriksaan kepekaan indera pendengar adalah mengetahui
seberapa jarak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat mendengar adanya
suatu bunyi/ suara dengan jelas pertama kali. Berkaitan dengan seberapa besar
kepekaan dari telinga untuk menangkap adanya gelombang suara yang datang.
Pada hasil percobaan ini ketiga probandus memiliki kepekaan telinga yang
normal, karena pada telinga normal suara/bunyi masih dapat terdengar sampai
jarak 30 cm dari telinga dan pada percobaan ini nilai rata-rata dari masing-masing
probandus masih masuk ke dalam rentang 30 cm itu. Hanya saja kepekaan dari
telinga kanan-kiri probandus tidaklah sama. Hal ini dapat terjadi dikarenakan
adanya faktor human eror. Terkait dengan probandus yang kurang berkonsentrasi
dalam mendengarkan suara arloji jadi bias saja pada suatu jarak tertentu
sebenarnya probandus sudah dapat mendengar suara arloji dengan baik, namun
karena kurang berkonsentrasi, suara arlojinya diabaikan. Selain itu terkait dengan
situasi disekeliling tempat pengujian yang kurang kondusif. Hal ini mengganggu
probandus dalam berkonsentrasi dan menyulitkan probandus untuk mendengarkan
apakah arloji tersebut sudah berbunyi atau belum.
Selanjutnya adalah pemeriksaan jenis ketulian. Ketulian baisanya
disebabkan oleh karena kebisingan. Gangguan pendengaran yang terjadi akibat
bising biasanya berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga .
Pada percobaan ini dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan garpu tala. Ada
4 jenis percobaan yang kami lakukan, antara lain adalah Rinne, Weber,

Schwabach dan Bing. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan garpu tala
dengan frekuensi sebesar 288 Hz.
Prinsip dari percobaan Rinne adalah membandingkan kemampuan
pendengaran hantaran tulang dan hantaran udara penderita/ probandus. Pada hasil
percobaan, ketiga probandus menunjukkan hasil (+) untuk ketiga replikasi pada
telinga kanan dan kiri. Hasil (+) menjelaskan bahwa probandus mendengar suara
garpu tala kembali ketika saat suara garputala menghilang dengan cepat garpu tala
dipindahkan ke dekat atau dean telinga. Hasil percobaan Rinne (+) menunjukkan
bahwa besarnya hantaran udara > hantaran tulang. Hal ini menyatakan bahwa
indera pendengaran dari ketiga orang probandus tersebut masih normal.
Prinsip dari percobaan Weber adalah membandingkan hantaran tulang
antara kedua telinga pasien. Hasil pada percobaan ini menunjukkan hasil (-) untuk
ketiga replikasi pada telinga kanan maupun kiri. Hasil (-) ini menunjukkan bahwa
tidak terjadi lateralisasi. Ketiga probandus mendengar suara sama keras pada
kedua telinganya, yang menunjukkan bahwa fungsi telinga normal, tidak terjadi
kerusakan pendengaran.
Prinsip percobaan Schwabach adalah membandingkan daya transport
melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. Gelombanggelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh getaran yang datang
melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya osteo
temporale. Pada hasil percobaan untuk ketiga pembanding dengan 3 buah
replikasi menunjukkan hasil (+) yang bermakna bahwa pembanding dan
probandus mendengarkan suara yang sama kerasnya. Hal ini menyatakan bahwa
indera pendengaran pembanding masih normal. Pada hasil percobaan didapatkan
hasil bahwa antara pembanding dengan probandus mendengarkan suara yang
sama kerasnya, karena hasil percobaan menunjukkan (+) sehingga kita tidak bias
mengetahui pendengaran siapa yang lebih sensitive. Hal ini mungkin disebabkan
oleh faktor human eror pula, dimana mungkin ketika suara garpu tala belum
benar-benar hilang probandus menganggap suara garpu tala sudah hilang dan
dengan cepat langsung dipindahkan ke telinga pembanding.

Dan yang terakir adalah percobaan Bing. Dilakukan dengan cara


memperhatikan kerasnya garpu tala pada salah satu telinga dan sebelum suara
tersebut menghilang telinga disumbat dengan kapas atau ujung jari. Pada hasil
percobaan untuk ketiga probandus pada 3 replikasi menunjukkan hasil (+) dimana
hal ini berarti suara garpu tala terdengar bertambah keras oleh probandus. Dari
hasil percobaan Bing ini dapat dikatakan bahwa indera ketiga probandus tersebut
normal.

BAB V
A. KESIMPULAN
Pemeriksaan fungsi indera pendengar manusia dapat dilakukan dengan 2 cara,
yakni pemeriksaan kepekaan indera pendengar dan pemeriksaan jenis ketulian.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fungsi indera pendengar yang meliputi
kepekaan indera pendengar dan pemeriksaan jenis ketulian (Pemeriksaan
Rinne, Weber, Schwabach dan Bing), indera pendengran ketiga orang
probandus tersebut dapat dikatakan normal.
B. DAFTAR PUSTAKA
Buchari, 2007, Kebisingan industri dan Hearing Conservation Program,diakses
dari http://www.usu.go.id/article, pada 12 September 2011
Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,. Aritomoyo, D, 2010, Diagnosis Kekurangan
Pendengaran, diakses dari http://www.kalbe.co. id/ pada 12 September
2011
Rampal, K.G; Noorhassim, I., Gangguan Pendengaran, Buku Ajar Praktik
Kedokteran Kerja, 2010, EGC, Jakarta
Syaifudin,H,Drs, 2006, Anatomi Fisologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, EGC,
Jakarta
Tortora, G J & Derrickson. B, 2009, Principles of Anatomy and Physiology, 12th
Wiley, USA
Yogyakarta, 17 September 2011
Praktikan,

Nicko Yudhistira Kurniawan


(41090008)