Anda di halaman 1dari 16

Artemia merupakan plankton yang biasa hidup di air artemia ini merupakan

zooplankton. Artemia dijadikan sebagai pakan hewan air terutama bagi


pembudidaya udang. Artemia ini sangat baik dijadikan sebagai pakan hewan air (
udang, bandeng, Gurame, Tawes) karena artemia ini mempunyai kandungan
protein yang tinggi yang berguna untuk pertumbuhan terutama untuk
pertumbuhan benih / anak ikan maupun udang.Artemia merupakan jenis
crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda yang memiliki kandungan
nutrisi cukup tinggi seperti karbohidrat, lemak, protein dan asam-asam
amino. Benih ikan dan udang pada stadium awal mempunyai saluran pencernaan
yang masih sangat sederhana sehingga memerlukan nutrisi pakan jasad renik
yang mengandung nilai gizi tinggi. Nauplius artemia mempunyai kandungan
protein hingga 63 % dari berat keringnya. Selain itu artemia sangat baik untuk
pakan ikan hias karena banyak mengandung pigmen warna yang diperlukan
untuk variasi dan kecerahan warna pada ikan hias agar lebih menarik.
Artemia dapat hidup di perairan yang bersalinitas tinggi antara 60 - 300
ppt dan mempunyai toleransi tinggi terhadap oksigen dalam air. Oleh karena itu
artemia ini sangat potensial untuk dibudidayakan di tambak- tambak tambak
yang bersalinitas tinggi di Indonesia. Budidaya artemia mempunyai prospek
yang sangat cerah untuk dikembangkan. Baik kista maupun biomasanya dapat
diolah menjadi produk kering yang memiliki ekonomis tinggi guna mendukung
usaha budidaya udang dan ikan. Budidaya artemia relatif sederhana serta
murah, sehingga tidak menuntut ketrampilan khusus dan modal besar bagi
pembudidayanya.Potensi lahan untuk usaha budidaya udang renik air asin (brine
shrimp) ini di Indonesia mencapai kurang lebih 32.000 ha. Saat ini beberapa
daerah telah mengembangkan budidaya artemia seperti di daerah pantai
Madura, Jawa Timur, terutama di Kabupaten Sumenep, Sampang dan
Pemekasan. Daerah lain yang tak mau ketinggalan adalah Jepara, Jawa Tengah
dan Gondol, Bali.Sejatinya pembudidayaan artemia di areal tambak tidaklah
terlalu sulit. Seperti yang dituturkan oleh Ir. Fa'ahakhododo Harefa (pengarang
buku Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan), bahwa cukup
dengan memodifikasi tambak garam yang sudah ada sedemikian rupa menjadi
usaha tumpang sari garam dan budidaya artemia.

II. PEMBAHASAN
2.1. Klasifikasi dan Strain Artemia
Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum
Arthropoda dan kelas Crustacea. Secara lengkap sistemarika artemia dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Filum

: Arthropoda

Kelas

: Crustacea

Subkelas

: Branchiophoda

Ordo

: Anostraca

Famili

: Artemiidae

Genus

: Artemia

Spesies

: Artemia salina linn.

Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang
menemukannya di suatu danau asin pada tahun 1755. Kemudian
oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama remik ini menjadi Artemia salirw.
karena daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi.Selain spesies
Artemia, salimi, ada beberapa spesies yang diberikan nama bagi
strain zigogenerik, yaitu bila di dalam populasi bercampur antara spesies berina
dan jantan. Nama-nama tersebut di antaranya Artemia tunisiana. Anemia
franciscana, Anemia fersimilis, Artemia urmiana, dan Anemia monica. Namun
demikian, nama Anemia salina atau disingkat artemia saja tetap umum
digunakan. Nama ini pula yang digunakan dalam buku ini.
Ada pula populasi artemia yang hanya terdiri atas individu-individu betina
saja. Strain artemia demikian dikenal dengan istilah partenogenetik karena
berkembangbiak tanpa melalui perkawinan, tetapi artemia betina langsung saja
bunting. Untuk strain ini juga hanya digunakan nama genus Artemia saja. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah. Dengan
demikian, pemakaian istilah artemia tidak memperhatikan jenis kelamin suatu
populasi.Sampai saat ini sudah dikenal lebih dari 50 strain artemia. Beberapa di
antaranya yang terkenal adalah san francisco bay, sack bay australia, chapin
canada, macao, great salt lake, algues masters perancis, china, dan philippina.
Pada prinsipnya perbedaan antara satu strain dengan strain lainnya terletak
pada daya tetasnya, ukuran nauplius, ketahanan terhadap lingkungan, serta
kebutuhan temperatur dan salinitas optimal.Pada kemampuan daya penetasan,
misalnya, pada beberapa strain perlu perlakuan-perlakuan khusus pada kista
agar diperoleh embrio yang mampu berkembang dengan hasil yang memuaskan.
Perlakukan tersebut misalnya berupa hibernasi (pendinginan) dan pelarutan ke
dalam cairan peroksida.
2.2. Morfologi
Kista Artemia sp. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas
dalam waktu 24-36 jam. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan
nauplius. Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan
bentuk, masing-masing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut
instar (Pitoyo, 2004) .Pertama kali menetas larva artemia disebut Instar
I.Nauplius stadia I (Instar I) ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15
mikrongram, berwarna orange kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan
berubah menjadi Instar II, Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran

pencernakan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata
nauplius terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping badannya mulai
tumbuh tunas-tunas kaki, setelah instar XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11
pasang. Nauplius menjadi artemia dewasa (Proses instar I-XV) antara 1-3 minggu
(Mukti, 2004). Telur artemia yang kering atau kista berbentuk bulat cekung,
berwarna coklat, berdiameter 200 300 mikron dan di dalamnya terdapat
embrio yang tidak aktif. Nauplius artemia mempunyai tiga pasang anggota
badan yakni antenna I yang berfungsi sebagai alat sensor, antena II berfungsi
sebagai alat gerak atau penyaring pakan dan rahang bawah belum sempurna. Di
bagian kepala antara ke dua antenna terdapat bintik merah (ocellus) yang
berfungsi sebagai mata nauplius. Artemia dewasa berukuran 1 2 cm dengan
sepasang mata majemuk dan 11 pasang thoracopoda. Setiap thoracopoda
mempunyai eksopodit, endopodit dan epipodit yang masing-masing berfungsi
sebagai alat pengumpul pakan, alat berenang dan alat pernapasan. Pada yang
jantan, antenna II berkembang menjadi alat penjepit dan pada bagian belakang
perut terdapat sepasang penis. Pada yang betina, antenna menjadi alat sensor
dan pada kedua sisi saluran pencernaan terdapat sepasang ovari. Telur-telur
yang telah masak dipindahkan dari ovari ke dalam sebuah kantong telur atau
uterus (Sumeru, 1984).
Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting.
Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai
mata pada kedua sisi bagian kepala, antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis
jantan antena berubah menjadi alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis
terdapat pada bagian belakang tubuh. Pada jenis betina antena mengalami
penyusutan.Di bawah ini adalah gambar morfologi artemia:

2.3. Ekologi
Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30
derajat celcius. Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100
derajat celcius. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi,
disebut dengan brain shrimp. Kultur biomasa artemia yang baik pada kadar
garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan
kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995).

2.4. Reproduksi
Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan
artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang
termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang
dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi.
Sedangkan pada artemia jenis biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan
betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur
yang dibuahi.
2.5. Penetasan cystae Artemia
Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan cystae artemia dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu penetasan langsung dan penetasan dengan cara
dekapsulasi. Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista
menggunakan larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup
embrio.
Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti
benih, namun untuk meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit
yang dibawa oleh cytae artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan
(Pramudjo dan Sofiati, 2004).
Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah
penetasan dengan cara dekapsulasi, sebagai berikut: 1. Cystae artemia dihidrasi
dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam; 2. Cystae disaring
menggunakan plankton net 120 mikronm dan dicuci bersih; 3. Cystae dicampur
dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram cystae, kemudian
diaduk hingga warna menjadi merah bata; 4. Cystae segera disaring
menggunakan plankton net 120 mikronm dan dibilas menggunakan air tawar
sampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan; 5. Cystae akan menetas
setelah 18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk
memisahkan cytae yang tidah menetas dengan naupli artemia.
Pramudjo dan Sofiati (2004) cystae hasil dekapsulasi dapat segera
digunakan (ditetaskan) atau disimpan dalam suhu 0 derajat celcius (- 4 derajat
celcius) dan digunakan sesuai kebutuhan.Dalam kaitannya dengan proses
penetasan Chumaidi et al(1990) mengatakan kista setelah dimasukan ke dalam
air laut (5-70 ppt) akan mengalami hidrasi berbentuk bulat dan di dalamnya
terjadi metabolisme embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudian cangkang kista
pecah dan muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Pada saat ini
panen segera akan dilakukan.
2.6. Pengayaan Artemia
Pengayaan (enrichment) artemia dengan menggunakan beberapa jenis
pengkaya misalnya scout emultion, selco atau vitamin C dan B kompleks powder
dilakukan selama 2 jam (Suriawan,2004). Selanjutnya diperjelas oleh Subyakto
dan Cahyaningsih (2003) bahwa pengayaan pakan alami menggunakan minyak
ikan, minyak cumi-cumi, vitamin ataupun produk komersial lainnya

membutuhkan waktu 2-4 jam untuk mendapatkan hasil yang baik. Artemia yang
akan dilakukan pengayaan adalah yang baru menetas (nauplius) (Mukti,
2004). BBAP Situbondo (2004) mencatat bahwa pemberian tambahan vitamin C
dengan cara pengayaan dengan dosis 0,1 0,5 ppm pada media pengayaan
artemia dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva
kerapu. Syaprizal (2006) juga memperoleh hasil dengan pengayaan vitamin C
sebanyak 2 mg/l ke artemia dapat meningkatkan kelulusan hidup benur udang
windu dan diperoleh kemungkinan adanya kelulusan hidup lebih tinggi dengan
penambahan dosis vitamin C.
2.7. Dekapsulasi Artemia
Dekapsulasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari
kista artemia yang keras (korion). Proses ini dilakukan untuk mempermudah bayi
artemia untuk keluar dari sarangnya. Dan kalaupun tidak berhasil menetas, kista
yang telah didekapsulisasi masih bisa diberikan kepada ikan/burayak dengan
aman, karena korionnya sudah hilang, sehingga akan dapat dicerna dengan
mudah. Disamping itu proses ini juga sekaligus merupakan proses disinfeksi
terhadap kontaminan seperti bakteri, jamur dll. Berikut merupakan keuntugan
dekapsulasi artemia :
1.Tidak perlu adanya pemisahan nauplius dari cangkang, karena chorion cyst
sudah dihilangkan.
2.Kandungan energi lebih tinggi karena tidak dipakai untuk proses penetasan.
3.Cyst telah disucihamakan melalui larutan hipokhlorit. Dapat langsung
digunakan untuk makanan larva.
4.Mengurangi jumlah tenaga kerja.
2.8. Peranan Artemia dalam dunia perikanan

Artemia merupakan salah satu pakan alami yang diberikan pada budi
daya udang windu (Penaeus monodon) pada tahap post larva karena memiliki
keunggulan antara lain: mudah dibudidayakan, mempunyai kandungan nutrisi
yang cukup, mudah beradaptasi dalam berbagai lngkungan. Dalam kondisi
lingkungan yang ekstrim, Artemiaakan membentuk lapisan chorion bagi
embrionya dan lapisan chorion dapat semakin tebal apabila kondisi lingkungan
semakin ekstrim. Dengan pemberian nutrisi yang cukup bagi induk Artemia yang
mencukupi kebutuhan tubuh induk dapat menyebabkan pembentukan lapisan
chorion menjadi lebih tipis. Dengan lapisan chorion yang semakin tipis maka
derajat penetaasan kista Artemia dapat lebih tinggi.

Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini
paling banyak digunakan dalam usaha budidaya udang, khususnya dalam
pengelolaan pembenihan. Sebagai makanan hidup, Artemia tidak hanya dapat

digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan
jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai
keunggulan, yakni kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47 % pada
nauplius menjadi 60 % pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu
kualitas protein Artemia dewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asamasam amino essensial. Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan udang
lainnya, keunggulan Artemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi
juga karena mempunyai kerangka luar (eksoskeleton) yang sangat tipis,
sehingga dapat dicerna seluruhnya oleh hewan pemangsa.Melihat keunggulan
nutrisi Artemia dewasa dibandingkan dengan naupliusnya dan juga jenis
makanan lainnya, maka Artemia dewasa merupakan makanan udang yang
sangat baik jika digunakan sebagai makanan hidup maupun sumber protein
utama makanan buatan. Untuk itulah kultur massal Artemia memegang peranan
sangat penting dan dapat dijadikan usaha industri tersendiri dalam kaitannya
dengan suplai makanan hidup maupun bahan dasar utama makanan
buatan.Sedangkan kelemahan dari artemia adalah cepat mati dalam waktu
beberapa jam saja.

Penggunaan Artemia sebagai pakan yang penting banyak dilaksanakan di


unit-unit pembenihan ikan dan udang. Umumnya Artemia yang diberikan untuk
larvae udang dan ikan dalam bentuk cyste atau nauplius instar I (berumur 2
jam). Berikut ini beberapa contoh penggunaan Artemia diberbagai kegiatan
usaha:
1.Pembenihan Udang Galah
pada pembenihan udang galah, anak Artemia sangat dibutuhkan sebagai
makanan larvanya. Larva udang galah PL I V membutuhkan anak Artemia
sebanyak 4 ekor/ml/hari atau 2 ekor/ml/hari, jika padat penebaran 75 ekor/liter.
Untuk larva yang lebih besar (tiap hari diberi pakan tambahan) membutuhkan
anak Artemia sebanyak 5 ekor/ml. Untuk larva PL VII dan seterusnya, pemberian
anak Arrtemia cukup 3 4 kali sehari (Mudjiman, 1983).
2. Pembenihan udang Penaeus
menurut Lumenta dan Christensen (1992) pemberian pakan Artemia pada udang
windu dimulai pada tingkat mysis sampai PL-15. Pemberiannya setiap 3 4 jam
sekali dengan kepadatan 1 5 nauplius/ml (mulai tingkat mysis) dan dinaikkan
terus sampai 10 nauplius/ml (pada pemeliharaan di Taiwan). Untuk pemeliharaan
di Philippina pemberiannya hanya sampai tingkat PL-10 dengan jumlah Artemia
yang diberikan 0,5 individu/ml dan dinaikkan sampai 5 ind/ml.
Telah diperlihatkan bahwa ketika Artemia yang lebih besar menjadi pakan,
dimulai dengan Artemia yang baru ditetaskan (0.6 mm) pada PL-1 and berakhir
dengan brine shrimp pra-dewasa (6.0 mm) pada PL-20, kekenyangan, kejenuhan
dapat dihasilkan oleh volume Artemia di dalam perut udang, lebih baik
dibandingkan beberapa organisme lain sebagai pakan.Misalnya, ketika ukuran
mangsa yang tersedia adalah 4 mm malahan sampai kurang lebih 2 mm, jumlah
artemia yang dikonsumsi lebih dari setengah (separuhnya). Dalam pengertian
secara luas bahwa kandungan nutrisi Artemia setelah beberapa jam dari proses
penetasan, harus diperkaya jika hendak dijadikan pakan larva untuk mencegah

difesiensi nutrisi. Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa pemberian pakan


Artemia tanpa melalui proses pengkayaan nutrisi menghasilkan ukuran udang
lebih rendah dibanding udang yang diberi pakan Artemia yang baru ditetaskan.
Hal ini memperlihatkan penggunaan artemia sebagai pakan pada budidaya larva
udang stadia mysis 3 dan udang PL yang lebih lanjut, dimana diberikan pakan
Artemia hasil pengkayaan selama 12 sampai 24 jam. Tabel 6 memperlihatkan
kemungkinan penggunaan pakan Artemia secara rutin.
2.9. Budidaya Artemia

2.9.1. Skala Kecil


A. Penetasan Cyste Artemia
1. Siapkan alat dan bahan
2. Siapkan wadah penetasan Artemia
3. Isilah air sebanyak 5 l iter dan tambahkan garam hingga salinitas menjadi 28
ppt
4. Timbanglah Artemia sebanyak 2 gram
5. Masukkanlah Artemia ke wadah penetasan yang sudah terisi air laut dan
diaerasi.
6. Diamkanlah selama 16-18 jam
7. Perhatikanlah warna media penetasan, jika sudah terjadi perubahan warna
dari coklat muda ke oranye maka Artemia sudah menetas.
B. Pengayaan Artemia
1. Menyiapkan akuarium dan media (bersihkan akuarium dan isi air tawar bersih
dan dipasang aerasi)
Masukkan larva Bawal kedalam kedalam akuarium2.
3. Menyiapakan emulsi ( ragi 0,025 gr , minyak ikan 0,01 ml , kuning telur 0,01
ml, dilarutkan dalam air 100 ml
4. Hasil emulsi dimasukkan kedalam wadah kultur artemia
5. Setelah 6 8 jam diberikan pada larva ikan Bawal.
6. Pemberian pakan artemia dilakukan dua kali sehari pagi diberi pakan artemia
tanpa pengkayaan dan sore dengan pengkayaan dengan minyak ikan (scot
emulsion)
7. Mengamati pertumbuhan artemia

8. Berat Larva
9. Panjang Larva
C. Dekapsulasi Artemia
1. Menyiapkan wadah penetasan cyste artemia sebanyak 3 buah gallon.
2. Masing masing gallon diisi air sebanyak 5 liter dan tiap tiap gallon
ditambah garam tidak beryodium hingga salanitas masing masing gallon 33
ppt, 33 ppt, 35 ppt
3. Merendam artemia 2 gram dalam 100 air tawar selama 1 jam
4. Membuatan larutan dekapsulasi 1 gram kaporit dan 0,3 gr NaCo3 / dicampur
dalam air salinitas 33 ppt sebanyak 100 ml dan didinginkan dengan es batu
dalam box sterefoam selama 60 menit.
5. Rendam artemia dalam larutan dekapsulasi dan beri aerasi sampai larutan
berubah warna mnjadi orange selama 15 menit.
6. Bilas kista 6 kali dengan air tawar untuk menghilangkan bau kaporit.
7. Kultur artemia dengan perlakuan
Artemia tanpa dekapsulasi pada salinitas 33 ppt
Artemia yang telah didekapsulasi pada salinitas 33 ppt
Artemia yang telah di dekapsulasi pada salinitas 35 ppt
8.
Amati lama waktu penetasan kista artemia dan menghitung daya tetas
kista artemia

Penetasan Cyste Artemia


Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media
penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan
terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.
a. Proses penyerapan air
b. Pemecahan dinding cyste oleh embrio
c. Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
d. Menetas dimana nauplius berenang bebas
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menetaskan
cyste Artemia adalah:
1. Suhu

2. Kadar garam
3. Kepadatan cyste
4. Cahaya
5. Aerasi
Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam
air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan
dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen,
pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak
mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu
optimal untuk penetasan Artemiaadalah 26-29 C. Pada suhu dibawah 25
C Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada
suhu diatas 33 C dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar 12 garam optimal
untuk penetasan adalah antara 5 35 ppt, namun untuk keperluan praktis
biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 2535 ppt). Nilai pH air harus
dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun
iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.
Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan
cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l)
kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang
lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus
diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia akan menetas setelah 18-24
jam. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni
dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum
menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas
warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye belum
menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan
bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan
warna juga dengan mengambil contohArtemia dengan menggunakan beaker
glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu
menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus
membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara
sempurna.
Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas
sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat
muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam
pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur
antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat
cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi
substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukandalam bak
penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah
menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi.
Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius
sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap

dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum
berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam
kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu
dengan mematikan aerasi serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang
tidak tembus cahaya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memisahkan antara
nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambangdan
berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah
cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka
nauplius Artemiaakan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu
pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu
dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah juga akan terkumpul kista
yang tidak menetas. Aerasi tetapdimatikan selama 10 menit. Setelah semua
cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang
berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara
membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar.
Sebelum kran dibuka atau disipon, ujung kran atau selang kecil dibungkus
saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah
agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan
hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas
dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya
air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.
Pengkayaan Artemia
Larva ikan sangat membutuhkan beberapa kandungan EPA dan DHA,
sedangkan kandungan EPA danDHA dalam nauplius artemia biasanya kurang
memadai untuk mendukung pertumbuhan larva. Mengingat sumber EPA dan
DHA adalah minyak-minyak ikan maka berbagai jenis minyak yang ada di
pasaran mengandung komposisi asam lemak sehingga dapat dan sering
digunakan untuk memperkaya jasad pakan.
Kultur ragi roti dapat digunakan sebagai pakan rotifera, tetapi kualitas
nutrisi yang dihasilkan sangat rendah bagi larva. Di Negara Jepang telah
dikembangkan ragi-o yang diproses dengan penambahan minyak ikan. Ragi-o
harus selalu disimpan dalam kondisi beku (suhu rendah) agar nilai nutrisinya
tetap terjaga. Pemberian pakan tambahan ragi-o terhadap rotifera dan nauplius
artemia sebelum diberikan kepada larva ikan telah meningkatkan kandungan
EPA dan DHA dan telah dibukrikan meningkatkan kelangsungan hidup benih.
Penambahan scot emulsion dan kuning telur dalam pengkayaan artemia.
Dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi. Minyak ikan tidak dapat diberikan
langsung sebagai pakan kepada jasad pakan sehingga harus dicampur dengan
bahan lain seperti bahan protein Telah ditemukan teknik untuk memperkaya gizi
jasad pakan melalui pemberian pakan buatan dalam bentuk pelet mikro yang
dikenal dengan microencapsulated diet (MCD). MCD adalah ransum pelet mikro
yang dibuat dari bahan-bahan ramuan yang kaya energi.
Ragi omega dan salah melalui proses emulsi. Kuning telur segar atau
lesitin atau kasein dapat dimanfaatkan untuk mengemulsi minyak ikan. Emuisi

tersebut dicampur dengan ragi kemudian diberi pakan kepada nauplius artemia
beberapa jam sebelum diberikan kepada larva.Satu produk pellet untuk
Pengkayaan gizii rotifera dan artemia dengan ukuran partikel sangat kecil
disesuaikan dengan kebutuhan rotifera dan nauplius artemia. Susunan partikelparrikel pelet mikromi dilapisi oleh suatu membran protein dan akan pecah oleh
enzim pencernaan. Penggunaan MCD ini telah dibuktikan dapat meningkatkan
kelangsungan hidup benih ikan.
Dekapsulasi
Penampang luar dari cyste Artemia sering dikontaminasi dengan bakteri,
jamur dan organisme pengganggu lainnya. Dekapsulasi sangat
direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan sebelum melakukan penetasan
telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna
dan sukar dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Jika tidak dilakukan,
maka hal ini dapat mengakibatkan kematian larva dan benih ikan dan crustacean
(Warland et.al., 2001).
Menurut Daulay (1993) cara melakukan decapsulasi sebagai berikut (gambar 4):
- Telur direndam di air tawar dengan perbandingan 12 ml air tawar untuk 1 gram
cyste Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbentuk corong yang
bagian dasar bisa dibuka. Maksud penggunaan tabung tersebut agar
pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah tanpa mengganggu cyste.
Sementara itu, pada bagian dasar corong diberi aerasi.
- Setelah 1 jam suhu air diturunkan hingga 15oC, dengan penambahan es.
Setelah suhu turun baru ditambahkan NaHOCl 5,25% sebanyak 10 ml untuk
1gram cyste. Setelah 15 menit, larutan NaHOCl dibuang, kemudian cyste dicuci
dengan air laut dan dibilas 6 10 kali hingga pengaruh NaHOCl benar-benar
hilang.
Selama decapsulasi telur yang semula berwarna coklat akan berubah menjadi
putih, lalu kemudian berubah lagi menjadi orange. Setelah decapsulasi, telur ini
dapat disimpan untuk ditetaskan, atau bisa langsung diberikan sebagai pakan
alami pada benih ikan dan atau larva udang.

2.9.2. Skala Menengah


Untuk dapat diperoleh biomassa Artemia dalam jumlah cukup banyak,
harus dilakukan kultur terlebih dahulu. Produksi biomassa Artemia dapat
dilakukan secara ekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus

memproduksi Cyst (kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak
dalam kultur massal ini. BBAP (Balai Budidaya Air Payau) Jepara telah berhasil
melakukan penerapan metode untuk mendapatkan produksi biomassa dan cyst
Artemia secara berkesinambungan di tambak bersalinitas tinggi.

Teknologi yang dihasilkan ini sesungguhnya dapat diserap oleh


masyarakat, khususnya para petani yang memiliki tambak garam. Sedangkan
dalam hal produksi biomassa pada bak-bak secara terkendali, telah pula dibuat
modifikasi teknik kultur yang sangat memungkinkan dapat diterapkan oleh para
pengusaha pembenihan, bahkan dapat dijadikan usaha industri skala rumah
tangga.
Dalam melakukan kultur massal Artemia secara terkendali berdasarkan metode
yang dikembangkan oleh BBAP Jepara, diperlukan beberapa persyaratan sebagai
berikut :

1. Bak Pemeliharaan dan Perlengkapan


Kultur Artemia dapat dilakukan pada bak-bak yang terbuat dari tembok, bak
kayu berlapis plastik maupun bak dari fiberglass. Kapasitas bak tersebut minimal
1 ton air, Pada usaha pembenihan udang,
Gambar 10. konstruksi bak sengan system air berputar
kultur Artemia ini dapat dilakukan pada bak-bak untuk pemeliharaan larva
udang. Bak kultur tersebut harus dilengkapi dengan peralatan aerasi dan jika
memungkinkan dilengkapi dengan air lift untuk membuat sistem air berputar.
2. Makanan
Karena cara makan Artemia adalah dengan menyaring (Filter feeder), maka

diperlukan makanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu lebih kecil dari 60
mikron. Makanan yang diberikan dapat berupa makanan buatan maupun
makanan hidup atau plankton. Makanan buatan yang memberikan hasil cukup
baik dan mudah didapat adalah dedak halus. Cara pemberiannya harus disaring
terlebih dahulu dengan saringan 60 mikron. Sedangkan plankton yang dapat
digunakan sebagai makanan Artemia adalah jenis plankton yang juga digunakan
sebagai makanan larva udang, seperti Tetraselmis sp, Chaetoceros sp,
Skeletonema sp. Oleh karena itu kultur Artemia dengan plankton sebagai
makanan alami lebih mudah dilakukan dalam suatu unit usaha pembenihan
udang.
3. Prosedur Pemeliharaan
Untuk mendapatkan biomassa Artemia, nauplius Artemia dikultur dalam
beberapa hari. Lama pemeliharaan tergantung pada ukuran Artemia yang
dikehendaki. Jika Artemia digunakan sebagai makanan juvenil udang, maka lama
pemeliharaan sekitar 7 hari, sedangkan jika digunakan sebagai makanan udang
dewasa maupun untuk diproses sebagai bahan baku makanan buatan, maka
lama pemeliharaan sekurang-kurangnya 15 hari. Langkah-langkah yang harus
ditempuh dalam mengkultur Artemia adalah sebagai berikut :
Tetaskan cyst Artemia untuk menghasilkan nauplius. Jumlah cyst yang ditetaskan
10 - 15 gram untuk 1 ton air dengan perhitungan efisiensi penetasannya adalah
200.000 nauplius/gram cyst.
Isi bak dengan air bersalinitas antara 20 - 35 permil yang disaring terlebih
dahulu.
Tebarkan nauplius Artemia yang baru menetas dan aerasi medium pemeliharaan.
Berikan makanan (dedak halus atau plankton) jumlahnya ditentukan
berdasarkan kecerahan air medium pemeliharaan. Pemberian makanan ini
dilakukan sampai kecerahan air antara 15 20 cm dan dipertahankan terns
selama masa pemeliharaan. Untuk mengukur kecerahan air medium
pemeliharaan dapat digunakan "tingkat kecerahan" yang berskala (dalam
centimeter). Selama pemeliharaan, amati perkembangan Artemia, yaitu
pertumbuhan dan perkiraan yang masih hidup.
Setelah lama pemeliharaan tertentu, 7 sampai 15 hari, dapat dilakukan
pemanenan biomassa Artemia. Caranya adalah matikan aerasi dan biarkan
sekitar 15 menit. Artemia akan muncul di permukaan dan selanjutnya dipanen
dengan menggunakan seser, lalu dicuci. Biomassa Artemia dapat langsung
diberikan kepada udang yang disesuaikan dengan ukurannya atau disimpan
dalam bentuk segar (dalam freezer) maupun dikeringkan untuk dibuat tepung
Artemia.

2.9.3. Skala Besar


Budidaya artemia secara tidak langsung dipengaruhi oleh kondisi tanah.
Tanah yang tidak sesuai untuk budidaya artemia ditandai dengan adanya bahan
organik didasar tambak. Bahan organik tersebut akan meningkatkan proses
aksidasi dan menghasilkan zat-zat beracun atau senyawa-senyawa yang

meningkatkan keasaman air. Guna mengatasinya cukup dengan cara menguras


tambak setiap 2 - 4 bulan sekali.Setelah dikuras, tambak diberakan (dibiarkan)
antara 2-4 minggu. Selama pemberaan dilakukan pengapuran pada tambak
sebagai upaya meningkatkan pH air hingga mencapai kisaran 7,5 - 8,5. Air
dengan pH yang cukup tinggi ini sangat cocok untuk pertumbuhan artemia.
Secara teknis budidaya artemia relatif mudah. Kemudahan ini lantaran
didukung oleh sifat artemia yang sangat toleran pada berbagai kondisi fisik dan
kimia media, kecuali zat-zat beracun. Namun untuk mendapatkan hasil yang
optimal dibutuhkan pengetahun dan keterampilan yang handal dalam budidaya
Artemia.
Benih berkualiatas adalah salah satu yang harus diperhatikan dalam budidaya
artemia. Benih artemia banyak dijumpai di pasaran bebas dalam bentuk kista.
Strain yang mudah ditemukan di pasar dalam negeri adalah San Fransisco Bay
dan Great Salt Lake berasal dari Amerika Serikat. Didalam negeri benih artemia
berasal dari Gondol, Bali yang dikemas dalam kaleng dengan berat 250 g.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah tanggul atau
pematang tambak harus bebas dari kebocoran. Hal ini dapat diatasi dengan cara
menutup tanggul dengan menggunakan plastik hitam atau menggunakan
dinding beton.
Sebelum benih artemia ditebar, pada tambak terlebih dahulu diadakan perlakuan
menumbuhkan makanan alami yang berupa fitoplanton. Dengan cara memupuk
tambak menggunakan pupuk organik seperti kotoran ayam dan pupuk buatan
berupa TSP dan Urea atau ammonium. Dosis pupuk kandang, TSP, dan urea yang
diperlukan berturut-turut 3.000 kg/ha/tanam, 150 kg/ha/tanam dan 150
kg/ha/tanam.
Setelah lahan siap untuk digunakan, pertama-tama air laut dialirkan ke petakan
reservoir dengan kedalaman 60 -100 cm yang menggunakan pompa air
berdiameter sekitar 10 inci pada saat air pasang. Salinitas airnya kira-kira 30 35 ppt atau sama dengan salinitas air laut. Selanjutnya dari petakan reservoir II
dialirkan ke petakan pemeliharaan dengan menggunakan pompa yang
berdiameter 2 inci dan kedalamannya sekitar 60 cm.
Untuk menangani predator yang kerap mengganggu, dapat diatasi dengan tetap
menjadi salinitas air media pada kisaran 150 ppt yang memungkinkan jenis
predator tidak mampu bertahan hidup. Atau dengan cara menggunakan saponin
pada dosis 10 -12 ppm. Ada beberapa macam predator yang sering menyerang
artemia diantaranya zooplankton yakni orgnisme pesaing pemakan fitoplankton,
dan benih ikan atau ikan dewasa yang masuk tambak secara tidak sengaja
sehingga memakan artemia.
Sebelum artemia ditebar ke tambak, ada satu lagi kegiatan penting yang harus
dilakukan yaitu penetasan kista. Kista merupakan telur yang terbungkus korion
akibat ketidaksesuaian lingkungan telur menetas menjadi larva. Kondisi demikian
memang sengaja direkayasa. Untuk menetaskan kista yang diperlukan adalah

wadah dan perangkat suplai oksigen. Bentuk wadahnya kerucut dengan ukuran
sesuai kebutuhan. Supaya suplai oksigen tetap ada, maka dibuatlah sistem
aerasi dalam wadah. Sedangkan kepadatan kista sekitar 5 -10 g per liter air.
Penebaran benih artemia dapat segera dilakukan setelah kondisi pertumbuhan
makanan alami di tambak terlihat normal. Hal ini ditandai dengan air tambak
yang berwarna hijau keruh dan tingkat kecerahannya tidak lebih dari 20 cm.
Nauplii artemia yang ditebarkan pada petakan pemeliharaan berasal dari kista
yang telah ditetaskan melalui dekapsulasi. Dalam menebarkan artemia
sebaiknya digunakan nauplii instar I karena instar yang lebih tinggi relatif peka
terhadap perubahan salinitas. Untuk keperluan produksi biomassa, nauplii
ditebarkan pada petakan reservoir dengan tingkat kepadatan sesuai dengan
daya lahan yang tersedia. Tingkat kepadatannya 200 nauplii per liter air.
Sebelumnya nauplius dikeringkan yang dimasuk ke dalam alat pengering pada
temperature 60 C selama 24 jam, kemudian didinginkan selama 30 menit dan
kemudian ditimbang.
Selama pemeliharaan, artemia harus mendapat pengawasan yang intensif agar
hasilnya optimal. Adapun hal perlu diamati adalah salinitas, tingkat kecerahan
air, pemberian makan tambahan, ketinggian air, kebersihan air, dan keasaman
media.
Waktu pemeliharaan artemia sebaiknya dilakukan pada musim kemarau untuk
memperoleh media dengan salinitas tinggi. Daerah Madura musim kemarau
pada bulan Juli - November. Persiapannya dimulai pada bulan Mei. Sehingga
beberapa tahapan budidaya artemia diantaranya bulan Mei persiapan nonteknis, Juni adalah persiapan tambak, dan Juli penebaran benih. Adapun masa
panen dan pengolahannya jatuh pada bulan Agustus, September, Oktober dan
November.
Pada umur 10 - 14 hari artemia mulai melakukan perkawinan. Pada artemia
betina dewasa mempunyai kantung telur yang terletak di bawah tubuhnya yang
berisi 20 - 30 butir telur. Dalam satu hektar tambak mampu menghasilkan kista
sebanyak 260 kg. Apabila dalam setahun dapat dilakukan dua kali pemanenan
maka produksi kista yang dapat dihasilkan mencapai 520 kg. Harga per kilogram
kista artemia saat ini di tingkat petani Rp 35 ribu dan biomassanya Rp 40 ribu.
2.9.4. Penanganan Saat Panen
Pemanenan kista dan biomassa dilakukan dengan cara yang berbeda, baik
teknik, waktu maupun penanganannya.Untuk kista dipanen setiap hari selama
kurun waktu 2 bulan, sedangkan biomassa dipanen sekali selama satu periode
budidaya. Pemanenan dapat dimulai pada akhir minggu ketiga terhitung sejak
artemia ditebarkan ke dalam tambak. Tanda-tanda kista yang siap dipanen
adalah terdapat butiran-buturian halus berwarna coklat tua yang mengapung di
tambak. Waktu yang tepat memanen kista antara pukul 08.00-11.00, dimana
hari cukup terang dan anginnya sepoi-sepoi sehingga kista mudah ditangkap
dengan seser halus yang terbuat dari bahan nilon.

Biomassa artemia dewasa siap dipanen setelah 14 hari dalam pemeliharaan.


Saat itu artemia telah mencapai ukuran 10 mm. Pada sistem budidaya tambak,
biomassa artemia dipanen setelah masa pemanenan kista yang terakhir yang
ditandai dengan mortalitas induk sudah mulai meningkat, sementara produksi
kista mencapai jumlah terendah. Cara pemanennya dilakukan dengan membuat
lubang pembuangan air keluar dari tambak dengan memasang jaring berbentuk
V dengan ukuran 1 - 1,5 cm. Kemudian artemia yang sudah terkumpul disudut
tambak diangkat dengan menggunakan seser halus dan langsung dimasukan ke
dalam wasah berisi air laut yang bersih.
Prekopulasi pada artemia dimulai dengan jantan menjepit/mendekap betina
dibagian antara uterus dan pasangan thoracopoda terakhir. Pasangan tersebut
dapat berenang berkeliling selama 3 4 hari. Kopulasi terjadi sangat cepat
dengan cara melingkarkan perut jantan ke dapan kemudian penis dimasukkan ke
dalam lubang uterus dan telur dibuahi. Telur yang telah dibuahi pada umumnya
berkembang menjadi nauplius yang berenang bebas atau bila kandungan
oksigennya rendah dan salinitas tinggi, embrio hanya berkembang sampai
stadium gastrula dan tersimpan sebagai kista. Seekor betina dapat
menghasilkan 50 200 kista. Daur perkembangbiakan dengan selang waktu
terpendek 4 hari.
Populasi artemia di alam terdapat di danau garam (perairan pantai atau darat
yang banyak mengandung khlor, sulfat atau karbonat). Artemia mempunyai
sistem osmoregulasi yang efisien, sehingga mampu beradaptasi pada kisaran
salinitas yang luas, yakni 1 200%. Di samping itu artemia mampu mensintesis
hemoglobin secara efisien untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada
keadaan salinitas tinggi. Toleransinya terhadap suhu cukup luas, yaitu 6 35 C,
suhu optimum berada pada kisaran 25 40 C (Kontara dkk, 1987)
Artemia dapat tumbuh cepat di perairan laut. Pada budidaya artemia
dalam bak, hasil pertumbuhan terbaik dicapai pada salinitas 35. Artemia
mempunyai sifat dapat tumbuh dengan baik pada kepadatan populasi yang
tinggi dan dapat dibudidayakan dengan kepadatan 10.000 15.000 ekor
nauplius per liter air laut. Artemia dapat tumbuh dari nauplius menjadi dewasa
dalam waktu sekitar dua minggu dengan peningkatan panjang sekitar 5 kali
(Kontara dkk, 1987).
Artemia termasuk jasad hidup penyaring pakan tidak selektif yang dapat
memakan bahan dan jasad hidup dengan ukuran 1 5 mili mikron. Jenis pakan
tersebut dapat berupa dedak, ragi, alga renik, bakteri, dan jasad renik lainnya.