Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEBIDANAN III

TEHNIK MENYUSUI DAN PERAWATAN PAYUDARA


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan III

KELOMPOK 6
Disusun Oleh :
Riza Dwi Seni

130103100004

Pratiwi Puji

130103100012

Ayu Insyafi

130103100028

Nona Nove F

130103100032

Fiqih Kartika

130103090048

Sartika Dwiyanti

130103090032

Angkatan 6A

PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2012

BAB I
TEKNIK MENYUSUI (1)
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai
masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat
sederhana, seperti misalnya cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui,
isapan bayi yang mengakibatkan puting terasa nyeri, dan masih banyak lagi
masalah lain. Terlebih pada minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih
peka dalam emosi. Untuk itu, seorang ibu butuh seseorang yang dapat
membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang
dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam
kehidupannya atau yang disegani, seperti suami, keluarga/kerabat terdekat, atau
kelompok ibu-ibu pendukung ASI dan dokter/tenaga kesehatan.
Seorang dokter atau tenaga kesehatan yang berkecimpung dalam bidang
laktasi, seharusnya mengetahui bahwa walaupun menyusui itu merupakan suatu
proses alamiah, namun untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan
pengetahuan mengenai teknik-teknik menyusui yang benar. Sehingga pada suatu
saat nanti dapat disampaikan pada ibu yang membutuhkan bimbingan laktasi.
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi
dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
1.1 Posisi Menyusui
Ada beberapa posisi yang di gunakan dalam pemberian makan bayi. Ibu
harus menemukan posisi yang paling sesuai baginya. Bayi harus berada dalam
posisi yang nyaman untuk mempermudahkan keadaan dan tidak harus memutar
kepala atau meregangkan lehernya untuk menjangkau putting sehingga posisi
menyusui perlu di perhatikan agar proses menyusui menjadi lebih mudah dan bayi
mendapat cukup ASI. Bayi yang posisi mulutnya benar pada saat menyusu
diistilahkan sebagai perlekatan. Perlekatan (Latch-on) adalah bagaimana mulut
bayi bertemu dengan puting ibu dalam penghisapan ASI.

Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar.


Kalau sekadar menempel ke payudara ibu, maka hanya ujung puting yang diisap
oleh bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar
sedikit mengingat "gudang" ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa
nyeri dan puting pun biasanya lecetakan mendapat air susu ibunya dengan lebih
mudah. (2)
1.1.1 Macam-Macam Posisi Menyusui
Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang
tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.

Gambar 1. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar (Perinasia, 1994)

Gambar 2. Posisi menyusui sambil duduk yang benar (Perinasia, 1994)

Gambar 3. Posisi menyusui sambil rebahan yang benar (Perinasia, 1994)

Gambar 4. Posisi menyusui balita pada kondisi normal (Perinasia, 1994)

Gambar 5. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan
(Perinasia, 2004)

Gambar 6. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah


(Perinasia, 2004)
1.1.2 Ada Posisi Khusus Yang Berkaitan Dengan Situasi Tertentu
Posisi ibu pasca operasi sesar.
Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas.
Bayi sumbing

Cara menyusui yang di anjurkan adalah:


1. Posisi bayi duduk
2. Putting susu dan areola di pegang selagi menyusui, hal ini sangat
membantu mandapatkan ASI yang cukup.
3. Ibu jari ibu dapat di pakai sebagai penyumbat celah pada bibir
bayi.
Bagaimana bayi menderita sumbing pada bibibr dan langit-langit
(labiopalatokisis), ASI di keluarkan dengan manual/pompa, kemudian
di berikan dengan sendok/pipet atau botol dengan dot yang panjang
sehingga ASI dapat masuk dengan sempurna. Dengan cara ini bayi
akan belajar mengisap dan menelan ASI, menyesuaikan dengan irama
pernapasannya.
Ibu harus tetap mencoba menyusui bayinya, karena bayi masih
mungkin bisa menyusu dengan kelainan seperti ini. Keuntungan
khusus untuk keadaan ini masih mungkin adalah, bahwa menyusu
melatih kekuatan otot rahang dan lidah, sehingga memperbaiki
perkembangan bicara. Kecuali itu menyusu mengurangi kemungkinan
terjadinya otitis media, padahal bayi dengan palatoskisis mudah
menderita otitis media

Posisi menyusui bayi premature dan Bayi berat lahir rendah


Bayi berat rendah dan premature mempunyai masalah menyusui
karena reflex mengisapnya masih lemah, karena itu susuilah bayi
lebih sering, walau waktu menyusuinya tidak lama. Mula-mula
sentuhlah langit-langit bayi dengan jari ibu yang bersih untuk
merangsang mengisap. Jika bayi di rawat, sering-seringlah ibu
menjenguk, melihat, mengusap bayi dengan kasih sayang, kalau
mungkin susui secara langsung, kalau tidak ASI di keluarkan
dengan tangan atau pompa. Kemudian di berikan dengan
menggunakan sendok atau cangkir

Posisi menyusui bayi kembar


Ibu harus di yakinkan bahwa ia sanggup menyusui bayi
kembarnya. Mula-mula ibu dapat menyusui seorang demi seorang,
tetapi sebenarnya ibu dapat menyusui sekaligus berdua. Salah satu
posisi yang mudah untuk menyusui adalah dengan posisi
memegang bola. (Posisi yang dilakukan dengan cara seperti
memegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan
atau football position). Jika ibu menyusui bersama-sama, bayi
harusalah menyusu pada payudara secar bergantian, jangan hanya
menetap pada satu payudara. Alasannya adalah memberikan
variasi kepada bayi, juga kemampuan menyusu masing-masing
bayi mungkin berbeda, sehingga perangsangan putting dapat
terjadi secara optimal. Walaupun football position merupakan cara
yang baik, ibu sebaiknay mencoba posisi yang lain secara
bergantia-ganti. Susuilah bayi lebih sering, selama waktu yang di
inginkan masing-masing bayi, umumnya lebih kurang 20 menit.
Kalau salah satu bayi harus di rawat di rumah sakit, susuilah
bayiyang ad di rumah, dan peraslah ASI yang lain untuk bayi yang
sedang di rawat tersebut.

Gambar 7. Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan (Perinasia,


2004)
Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas
dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi
ini bayi tidak tersedak.

Gambar 8. Posisi menyusui bayi bila ASI penuh (Perinasia, 2004)


(3)

1.2 Teknik menyusui yang benar


1.2.1 Pengertian
Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada
bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia,
1994).(3)
Teknik menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang dilakukan
oleh seorang ibu kepada bayinya, demi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi
tersebut.
Jadi dapat di simpulkan bahwa teknik menyusui yang benar adalah
pemberian ASI yang dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya dengan
perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.
1.2.2 Langkah kerja dan rasionalisasi (3)
a) Jobsheet teknik menyusui yang benar

Langkah

Rasionalisasi

Gambar

O
Supaya
1

Cuci

tangan

yang

bersih dengan sabun


Key point : Lepaskan
perhiasan,

gulungkan

lengan, gunakan teknik


7 langkah

mencegah

kuman-kuman

dan

bakteri menempel pada


kulit ibu dan bayi

Ibu
2.

duduk

berbaring

atau Agar Ibu dapat bergerak


dengan dengan nyaman dan bayi

santai

dapat menghisap putting


ibu dengan baik

Key point :
Pilih

posisi

yang

nyaman untuk ibu dan


bayi

Perah sedikit ASI dan Untuk desinfektan dan


3.

oleskan

di

puting

dan

sekitar menjaga
areola putting susu

bermaanfat

sebagai

desinfektan

dan

menjaga

kelembaban

putting susu
Key point :
Lakukan
perlahan-lahan

secara

kelembaban

4.

Bayi

didekatkan Agar Ibu mendapatkan

menghadap ibu dengan posisi

yang

nyaman

posisi sanggah seluruh untuk menyusui


tubuh

bayi

jangan

hanya leher dan bahu


saja, kepala dan tubuh
bayi lurus, hadapkan
bayi ke dada ibu
Key point : Pastikan
telinga dan lengan bayi
berada dalam satu garis
lurus
Badan bayi menempel
5.

Untuk

di perut ibu

memudahkan

bayi menghisap putting


Ibu

Menyentuhkan
6.

bibir

bayi ke puting susu ibu


dan menunggu mulut
bayi terbuka lebar.

Mempermudah

merangsang mulut bayi


untuk menghisap putting
ibu

Key

point:

Apabila

bayi tidak membuka

untuk

mulutnya
cukup

dengan
lebar

untuk

menangkap putting, ibu


dapat mengelus bibir
bawah

bayi

memasukkan

dan
jarinya

ke dalam mulut bayi


dan

menyentuh

lidahnya.
Jika mulut bayi sudah
7.

terbuka,
puting

masukkan
ibu

hingga

areola ke dalam mulut


bayi
Key point :
melekatkan mulut bayi
dengan

benar

yaitu

dagu menempel pada


payudara ibu, mulut
bayi terbuka lebar dan
bibir

bawah

membuka lebar.

bayi

Agar

bayi

dapat

menghisap susu dengan


adekuat

8.

Pastikan telinga dan Agar bayi nyaman saat


lengan

bayi

berada disusui

dalam satu garis lurus

9.

Setelah

selesai Mempermudah

menyusui,

masukkan mengeluarkan

untuk
putting

jari kelingking disudut ibu dari mulut bayi dan


mulut

bayi

dan menghindari lecet pada

keluarkan puting susu putting apabila selesai


ibu.

menyusui

Keluarkan sedikit ASI Untuk desinfektan dan


10.

dan
daerah

oleskan
puting

pada menjaga
dan putting

areola

kelembaban
susu

dan

menghindari

lecet

setelah menyusui

Biarkan puting kering


11

dahulu lalu rapikan ibu

Agar

tidak

ada

rasa

lembab

di

sekitar

payudara

ibu

setelah

selesai menyusui
Sendawakan
12

bayi

tekniknya yaitu tubuh


bayi vertikal atau tegak
lurus. Kemudian dagu
bayi menyandar pada
bahu ibu, badan lurus

Agar

bayi

dapat

mengeluarkan

apabila

ada udara yang masuk


ke dalam lambung dan
mencegah muntah

ke bawah, dan leher


bayi

disangga

oleh

tangan ibu.

b) Daftar tilik teknik menyusui yang benar

Nilaialah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala


sbb :
1. Perlu perbaikan
: Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan
benar atau dihilangkan
2. Mampu
: Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat
atau pelatih perlu membantu/mengingatkan hal-hal kecil yang tidak
terlalu berarti.
3. Mahir
: Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa
ragu-ragu atau tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.
T/S
: Tindakan
atau langkah-langkah
yang dilakukan tidak sesuai dengan
Langkah-langkah
menyusui
yang benar
situasi yang sedang dihadapi.

NO LANGKAH KERJA

KASUS
1

1
Cuci tangan yang bersih dengan sabun

Ibu duduk atau berbaring dengan santai

Perah sedikit ASI dan oleskan di sekitar puting dan areola


bermaanfat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban putting
susu

Bayi didekatkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh


tubuh bayi jangan hanya leher dan bahu saja, kepala dan tubuh
bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu

Badan bayi menempel di perut ibu

Menyentuhkan bibir bayi ke puting susu ibu dan menunggu mulut


bayi terbuka lebar. Apabila bayi tidak membuka mulutnya dengan
cukup lebar untu menangkap putting, ibu dapat mengelus bibir
bawah bayi dan memasukkan jarinya ke dalam mulut bayi dan
menyentuh lidahnya.

Jika mulut bayi sudah terbuka, masukkan puting ibu hingga


areola ke dalam mulut bayi

8
Pastikan telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus
9

Setelah selesai menyusui, masukkan jari kelingking disudut mulut


bayi dan keluarkan puting susu ibu

10

Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada daerah puting dan areola

11

Biarkan puting kering dahulu lalu rapikan ibu

12

Sendawakan bayi tekniknya yaitu tubuh bayi vertikal atau tegak


lurus. Kemudian dagu bayi menyandar pada bahu ibu, badan
lurus ke bawah, dan leher bayi disangga oleh tangan ibu

1.2.3 Manfaat Teknik menyusui yang benar

Manfaat dari teknik menyusui yang benar yaitu:


1.
2.
3.
4.

Puting susu tidak lecet


Perlekatan menyusu pada bayi kuat
Bayi menjadi tenang
Tidak terjadi gumoh

1.3 Cara Pengamatan Teknik Menyusui Yang Benar


Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting
susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi
ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan
benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :
1. Bayi tampak tenang.
2. Badan bayi menempel pada perut ibu.
3. Mulut bayi terbuka lebar.
4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu.
5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak
yang masuk.
6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
7. Puting susu tidak terasa nyeri.
8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
9. Kepala bayi agak mengenadah. (3)

1.4 Lama Dan Frekuensi Menyusui (6)

Sebaiknya bayi disusui secara sesuai keinginan bayi (on demand), karena
bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila
bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, dsb) atau ibu sudah merasa perlu
menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 57 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam.
Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan
mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi
sangat berpengaruh pada rangssangan produksi ASI berikutnya. Dengan menyusui
tanpa dijadwal sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah banyak masalah yang
mungkin timbul. Menyusui malam hari sangat berguna bagi ibu yang bekerja,
karena dengan sering disusukan pada malam hari akan memacu produksi ASI, dan
juga dapat mendukung keberhasilan menunda kehamilan.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara, maka sebaiknya
setiap kali menyusui harus digunakan kedua payudara dan diusahakan sampai
payudara terasa kosong, agar produksi ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai
dengan payudara yang terakhir disusukan.
Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan BH (kutang) yang
dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.

1.5 Pengeluaran ASI(3)


Apabila ASI berlebihan sampai keluar memancar, maka sebelum menyusui
sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu untuk menghindari bayi tersedak atau
enggan menyusu. Pengeluaran ASI juga berguna pada ibu bekerja yang akan
meninggalkan ASI bagi bayinya dirumah, ASI yang merembes karena payudara
penuh, pada bayi yang mempunyai masalah mengisap (missal BBLR),
menghilangkan bendungan atau memacu produksi ASI saat ibu sakit dan tidak
dapat menyusui bayiny.
Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan dua cara :

1. Pengeluaran dengan tangan


Cara ini yang lazim digunakan karena tidak bnyak membutuhkan sarana dan
lebih mudah.
1. Cucilah tangan sampai bersih
2. Siapkan cangkir / gelas bertutup yang telah dicuci dengan air mendidih
3. Massase payudara dengan kedua telapak tangan dari pangkal kearah
areola, ulangi pemijitan ini pada sekeliling payudara secara merata.
4. Tekan daerah areola ke arah dada dengan ibu jari sekitar aeola bagian
dan dan jari telunjuk posisi areola yang lain
5. Peras areola dengan ibu jari dan jari telunjuk, jangan memijat /
menekan putting karena dapat menyebabkan rasa nyeri / lecet
6. Ulangi tekan-peras-lepas-tekan-peras-lepas, pada mulanya ASI tak
keluar, setelah beberapa kali maka ASI akan keluar
7. Ulangi gerakan ini pada sekeliling areola dari semua sisi agar yakin
bahwa ASI telah diperas dari semua segmen payudara.

Gb. Pengeluaran ASI dengan tangan


2.

Pengeluaran dengan pompa


Bila payudara bengkak / terbendung (engorgement) dan putting susu terasa
nyeri, maka akan lebih baik bila ASI dikeluarkan dengan pompa payudara. Pompa
baik digunakan bila ASI benar-benar penuh, tetapi pada payudara yang lunak akan
lebih sukar. Ada dua macam pompa yang dapat digunakan yaitu tengan dan listrik,
yang biasa digunakan adalah pompa payudara tangan.
Cara pengeluaran ASI dengan pompa payudara tangan :
1. Tekan bola karet untuk mengeluarkan udara
2. Letakkan ujung lebar tabung pada payudara dengan putting tepat di
tengah, dan tabung benar-benar melekat pada kulit
3. Lepas bola karet, sehingga putting dan areola tertarik ke dalam.
4. Tekan dan lepas beberapa kali, sehingga ASI akan keluar dan terkumpul
pada lekukan penampung pada sisi tabung
5. Cucilah alat dengan bersih menggunakan air mendidih setelah selesai
dipakai atau akan dipakai. Bola karet sukar dibersihkan, oleh karenanya
bila memungkinkan lebih baik pengeluaran ASI dengan tangan.

Gb. Pengeluaran ASI dengan pompa tangan

1.6 Cara Pemberian ASI Melalui Sendok, Cup Feeder, Softcup Feeder, dan
Pipet (Spuit Feeder).

Yang perlu di perhatikan pada pemberian ASI yang telah di keluarkan


adalah dengan cara pemberian pada bayi. Jangan berikan botol/dot, karena
hal ini akan menyebabkan bayi bingung putting. Berikan pada bayi
dengan menggunakan cangkir atau sendok, atau pipet.

Bingung puting adalah keadaan dimana bayi memilih untuk menggunakan


botol dan dot karena cara kerja meminum ASI dari botol dan dot dan
payudara berbeda. Melalui botol dan dot bayi tidak harus suckling
melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara bayi harus
menggunakan lidahnya untuk merangsang keluarnya ASI. Sedangkan pada
botol dan dot bayi hanya menyedot dan aliran ASI sudah keluar dengan
derasnya.

Bayi mendapatkan kepuasan oral hanya dari puting payudara ibunya tidak
dari puting botol dan dot.

Ketika ibu pulang dari bepergian atau bekerja, bayi akan bersemangat
untuk menyusu langsung ke payudara ibunya. Hal ini tentunya bermanfaat
karena bonding dengan ibu tetap terjalin kuat meskipun ibu tidak bisa
selalu berada bersama bayi.

Penggunaan botol dan dot meningkatkan resiko infeksi telinga pada bayi.

Menyapih anak dari botol dan dot lebih sulit dibanding menyapih dari
payudara. Sedangkan bayi yang tidak menggunakan dot kita tidak usah
memikirkan bagaimana menyapih dari gelas

Cara ini di gunakan untuk bayi yang menderita bibir sumbing, bayi
premature, dan bayi berat lahir rendah.
a. Langkah-langkah pemberian ASI melalui sendok
Pemberian ASI melalui sendok sudah ada sejak dahulu kala, mungkin
sejak botol dan dot belum ditemukan karena sendok adalah peralatan yang
sangat mudah ditemukan. Ketika tiba-tiba seorang ibu harus keluar rumah
dan meninggalkan bayinya dengan orang lain maka sendok adalah
peralatan yang pasti ada di rumah.
Pemberian ASI melalui sendok yaitu:

posisikan bayi agak tegak dan ibu atau yang memberikan minum
bayi duduk memangku bayi

kemudian tempelkan sendok yang telah diisi ASI ke bibir bayi

biarkan mulut bayi terbuka dan sendokkan ASI ke dalam mulut


bayi

Resiko ASI berceceran lebih banyak karena pemberi ASI harus


membawa sendok yang berisi ASI dari gelas ke bibir bayi.

Gb. Pemberian ASI melalui sendok


b. Langkah-langkah pemberian ASI melalui cup feeder
Ibu atau yang memberi minum bayi duduk dengan memangku bayi
Punggung bayi di pegang dengan lengan

Cup feeder di letakkan pada bibir bawah bayi


Lidah bayi berada di atas pinggir cup feeder dan biarkan bayi

menghisap ASI dari dalam cup feeder saat cup feeder di miringkan
Berikan sedikit waktu istirahat setiap kali menelan(3)

Gambar A: cara pemberian cup feeder

Gambar B: Gambar alat cup feeder


c. Langkah-langkah pemberian ASI melalui pipet (spuit feeder).
Pipet yang digunakan adalah pipet yang terbuat dari plastik, hindari

pipet yang terbuat dari kaca karena khawatir akan melukai bayi
Cara penggunaan pipet adalah masukkan ujung pipet ke mulut bayi
kemudian teteskan beberapa tetes ASI, tunggu hingga bayi

menelan ASI nya kemudian ulangi lagi.


Spuit yang digunakan adalah spuit ukuran besar tanpa jarum

suntiknya.
Isi spuit dengan ASI kemudian dekatkan ujung spuit ke mulut bayi

hingga mulut bayi terbuka


kemudian tuangkan sedikit-sedikit ke mulut bayi dan bayi akan
menelan ASInya.

d. Langkah-langkah pemberian ASI melalui softcup feeder

Bentuknya hanpir seperti spuit besar hanya saja ujungnya lebar seperti
ujung gelas sloki. Posisi Ibu atau yang memberi minum bayi duduk
dengan memangku bayi atau bayi bisa sambil tiduran
Cara pemakaiannya, isi tabungnya dengan ASI kemudian tekan ujung
tabung yang dekat mulut softcup hingga ASI mengalir ke mulut
softcupnya, kemudian sama seperti cup feeder, tempelkan ke bibir bawah
bayi dan biarkan dia menyeruput, jika ASI yang di mulut softcup sudah
habis tekan kembali tabungnya hingga ASI mengalir kembali. (5)

Gambar A alat softcup feeder Gambar B Posisi pemberian ASI melalui


softcup feeder

Yang perlu diingat ketika memberikan ASI Perah melalui media-media ini
adalah:
1. Berikan ketika bayi dalam keadaan tidak terlalu haus atau lapar. Karena
kalau bayi sudah sangat lapar maka bayi menjadi tidak sabaran dan
akhirnya menangis.
2. Serahkan tugas memberi ASIP kepada orang lain selain ibu. Karena bayi
memiliki kecenderungan untuk mengenali sekali ibunya dan ia akan
memilih untuk menyusu langsung dibanding meminum ASIP.
3. Latih bayi sedini mungkin karena semakin sering latihan maka bayi akan
semakin mahir meminum ASIP dan yang memberikan ASIP juga
mengetahui apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi dirinya.
4. Masih banyak orang yang menganggap memberikan ASIP tanpa dot
adalah sesuatu yang ribet dan menyusahkan dan karena kita merasa tidak
enak meninggalkan bayi pada bayi sehingga orang tua akan mudah
menyerah dan membiarkan bayi diberi ASIP melalui dot, padahal hal
tersebut dapat membuat anak malas dan membuat orang tua repot karena
harus mensterilkan, mencuci botol dan dot.

BAB II
PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU MENYUSUI
2.1 Definisi
Perawatan payudara adalah suatu tindakan pengurutan/rangsangan pada
otot- otot payudara. (7)
Perawatan payudara adalah Perawatan yang perlu dilakukan berupa
pemijatan payudara untuk memperbaiki sirkulasi darah, merawat puting payudara
agar bersih dan tidak mudah lecet, serta memperlancar produksi ASI(8)
Perawatan payudara adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar
dan teratur untuk memeliharan kesehatan payudara sehingga memperlancar
produksi ASI. (9)
Jadi dapat di simpulkan bahwa pengertian perawatan payudara adalah
suatu tindakan pengurutan/rangsangan secara teratur pada otot- otot payudara
untuk memperbaiki sirkulasi darah, merawat puting payudara agar bersih dan
tidak mudah lecet, serta memperlancar produksi ASI.
2.2 Tujuan
Dengan perawatan payudara yang benar, hasilnya produksi asi untuk
persiapan menyusui kelak akan cukup baik , serta bentuk payudara akan tetap baik
selama menyusui. (8)
Perawatan Payudara pasca persalinan merupakan kelanjutan perawatan
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

payudara semasa hamil, yang mempunyai tujuan sebagai berikut :


Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi
Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet
Untuk menonjolkan puting susu
Menjaga bentuk buah dada tetap bagus
Untuk mencegah terjadinya penyumbatan
Untuk memperbanyak produksi ASI
Untuk mengetahui adanya kelainan
Akibat jika tidak dilakukan perawatan payudara

Berbagai dampak negatif dapat tibul jika tidak dilakukan perawatan


payudara sedini mungkin. Dampak tersebut meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Puting susu tidak menonjol


Anak susah menyusui
ASI lama keluar
Produksi ASI terbatas
Pembengkakan pada payudara
Payudara meradang
Payudara kotor
Ibu belum siap menyusui
Kulit payudara terutama puting akan mudah lecet

2.3 Pelaksanaan
Pelaksanaan perawatan payudara pasca persalinan dimulai sedini mungkin
yaitu 1 2 hari sesudah bayi dilahirkan. Hal itu dilakukan 2 kali sehari. dapat
dilakukan pada waktu akan mandi atau waktu- waktu lain, dan pada daerah areola
jangan di basuh dengan sabun. (7)
2.4 Persiapan alat
Persiapan Alat yaitu:
1. Baby oil secukupnya.

2. Kapas secukupnya

3. Waslap, 2 buah

4. Handuk bersih, 2 buah

5. Bengkok

6. 2 baskom berisi air (hangat dan dingin)

7. BH yang bersih dan terbuat dari katun

Persiapan Ibu
1. Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dan keringkan
dengan handuk.
2. Baju ibu bagian depan dibuka
3. Pasang handuk

2.5 Langkah kerja dan Rasionalisasi Perawatan Payudara (Breast Care) (10)
a. Jobsheet breast care

Langkah

Rasionalisasi

O
Mempersiapkan
1.

alat

Supaya

dan bahan

memudahkan

Key point : Susunlah

kita

alat secara ergonomis.

melakukan

untuk

breast care

Gambar

Melakukan
2.

informed

Agar

pasien

concent

mengetahui

Key point :

tindakan yang

Informed consent pada

akan

kita

pasien (dengan ramah,

lakukan

dan

jelas, & bahasa yang

meminta

dimengerti pasien

persetujuan
dari pasien.

Mencuci tangan di air


3.

Untuk

yang mengalir.

membersihkan

Key point :

tangan

dari

Perhatikan prinsip cuci

segala kotoran,

tangan 7 langkah.

mencegah
terjadi infeksi
silang

4.

Mengatur posisi klien

Agar

klien

dengan posisi duduk

mendapatkan

atau berbaring yang

posisi

nyaman.

nyaman untuk

yang

melakukan
Key point :
Perhatikan
klien

breast care
privasi

5.

Membuka pakaian atas

Mempermuda

klien

untuk

melakukan
breast care

6.

Pasang

handuk

di

Menghindari

pundak dan di bagian

tumpahan

perut

minyak

pada

perut

saat

melakukan
breast care

7.

Tempelkan kapas yang

Membersihkan

sudah di beri baby oil

kotoran

di

ada di putting

sekitar

mamae selama 2 - 3

serta

menit,

memudahkan

putting

8.

areola

yang

bersihkan
susu

secara

terangkatnya

merata

kotoran

Licinkan kedua tangan

Mempermudah

dengan minyak

untuk
melakukan
pengurutan
dan agar tidak
sakit

saat

melakukan
pengurutan
9.

Lakukan

pengurutan.

Memperlancar

Pengurutan di mulai

produksi

kearah

serta membuat

atas

dengan

gerakan melingkar di

rileks

antara kedua payudara

payudara

(20-30x

dalam

ASI
otot

menit) per payudara


10.

Lakukan gerakan yang

Memperlancar

sama, ke arah bawah

produksi

melingkar

serta membuat

di

payudara

11.

antara
(20-30x

rileks

ASI
otot

dalam 5 menit)

payudara

Sokong payudara kiri

Memperlancar

menggunakan

produksi

kiri,

lalu

tangan

tiga

jari

serta membuat

tangan kanan membuat

rileks

gerakan

payudara

memutar

sambil menekan mulai


dari pangkal payudara
sampai putting susu.
Lakukan tahap tersebut
pada payudara kanan,
lakukan sampai 20-30
kali

gerakan

setiap payudara

pada

ASI
otot

12.

Telapak

tangan

menopang

kiri

payudara

produksi

ASI

kanan kemudian jari-

serta membuat

jari tangan kanan sisi

rileks

kelingking

payudara

payudara

mengurut
ke

arah

putting susu, gerakan


ini di ulang 20-30 X
pada payudara kanan
dan kiri

Sokong payudara kanan


13

Memperlancar

dengan tangan kanan,


Pergunakan 2 jari, yaitu
telunjuk

dan

jari

tengah. Tangan kanan


mengurut

payudara

kanan dan tangan kiri


mengurut payudara kiri.
Key point :

Bila

payudara

besar, gunakan
keempat jari.

Dengan tekanan
ringan, lakukan
gerakan
melingkar

dari

dasar payudara
dengan gerakan

otot

spiral ke arah
puting susu.
14.

Mengompres payudara

Untuk

dengan air hangat dan

membersihkan

air dingin Selama 5

payudara dari

menit

minyak

(air

hangat

dan

dahulu kemudian air

mengangkat

dingin)

kotoran

yang

telah

di

bersihkan

15.

Keringkan

dengan

Untuk

handuk dan pakailah

kenyamanan

BH

ibu

yang

menyokong/sesuai
dengan besar payudara

16.

Merapikan

alat

dan

mencuci tangan

Untuk
membersihkan
tangan

Key point: Perhatikan


prinsip cuci tangan 7
langkah.

segala kotoran,
mencegah
terjadi infeksi
silang

b. Daftar tilik breast care

dari

PENUNTUN BELAJAR
PERAWATAN PAYUDARA (BREAST CARE)

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb:
1. Perlu perbaikan
dihilangkan.
2. Mampu

3. Mahir

: Langkah atau tugastidak dikerjakan dengan benar atau


: Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang
tepat atau pelatih perlu membantu/
mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu
berarti.
: Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa
ragu-ragu atau tanpa perlu bantuan dan sesuai
dengan urutan

NO

TUGAS/LANGKAH

Mempersiapkan peralatan
dan bahan.
a. Baby oil
b. Kapas
c. Waslap
d. Handuk
e. Waskom

f. Bra ukuran yang sesuai


Melakukan Informed concent.

Memakai apron dan mencuci tangan sebelum


melakukan cuci tangan

Mengatur posisi klien dengan posisi duduk

KASUS
1

Membuka pakaian atas klien

Pasang handuk di pundak dan di bagian perut

Tempelkan kapas yang sudah diberi baby oil si


sekitar areola mamae selama 2-3 menit

Licinkan kedua tangan dengan minyak

Lakukan pengurutan. Pengurutan di mulai kearah


atas dengan gerakan melingkar di antara kedua
payudara (20-30x dalam 5 menit)

10

Lakukan gerakan yang sama, ke arah bawah


melingkar di antara payudara (30x dalam 5 menit)

11

Sokong payudara kiri menggunakan tangan kiri,


lalu tiga jari tangan kanan membuat gerakan
memutar sambil menekan mulai dari pangkal
payudara sampai putting susu. Lakukan tahap
tersebut pada payudara kanan, lakukan sampai 2030 kali gerakan pada setiap payudara

12

Telapak tangan kiri menopang payudara kanan


kemudian jari-jari tangan kanan sisi kelingking
mengurut payudara ke arah putting susu, gerakan
ini di ulang 20-30 X pada payudara kanan dan kiri

13

Sokong payudara kanan dengan tangan kanan,


Pergunakan 2 jari, yaitu telunjuk dan jari tengah.
Tangan kanan mengurut payudara kanan dan
tangan kiri mengurut payudara kiri.

14

Mengompres payudara dengan air hangat dan air


dingin Selama 5 menit

(air hangat dahulu

kemudian air dingin)


15

Keringkan dengan handuk dan pakailah BH yang

menyokong/sesuai dengan besar payudara


16

Merapikan alat dan mencuci tangan

DAFTAR PUSTAKA

1. Moody, Jane. 2005. Breastfeeding your baby. Jakarta : Arcan


2. Bobak,Et al. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta:
EGC
3. __________. Bahan Bacaan Modul Manajemen Laktasi. Jakarta.
4. Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Acuan Nasional Pelayanan Maternal dan
Neonatal, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
5. http://orinkeren.multiply.com/journal/item/736/Bayi_Botol_dan_Dot
6. Soetjiningsih. 1997. ASI : Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC
7. http://www.scribd.com/doc/16308662/Perawatan-Payudara-Pd-MasaMenyusui
8. Perawatan Payudara Thursday, September 18, 2008 | Label: Artikel, Asuhan
Kebidanan, Kesehatan, Ruang Konseling
9. Varney,Helen.2006.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4.Jakarta:EGC
10. Saleha,sitti.2009.Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas.Jakarta:Salemba
Medika