Anda di halaman 1dari 45

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas tentang perhitungan mesin Pelorodan


malam kain batik, yaitu analisa daya gaya yang nantinya dibutuhkan
dalam mesin agar dapat berjalan dan berfungsi dengan baik, yaitu
menghitung daya motor pada saat bekerja sampai memutar ulir
pengrak atau power screw dilanjutkan dengan perhitungan
perencanaan elemen mesin yang mendukung perencanaan mesin
pelorodan malam kain batik sehingga aman dalam pengoperasiannya.
Sehingga, Mesin Pelorod malam kain batik ini digunakan
motor listrik dengan daya HP.
4.1 Analisa Gaya pada Palang Penjepit Kain
Pada kompoen Palang Penjepit kain Batik, Diperoleh
beberapa data terkait beban, dilakukan dengan metode observasi di
lapangan tepatnya di salah satu produsen kain batik serta data pada
saat perencaan mesin, adalah sebgai berikut :
Berat kain Batik + Malam + air
= 3 kg
Berat Palang atau penumpu kain
= 0.75 kg
Berat Plat Pengunci
= 0,5 kg
Panjang Palang atau penumpu kain
= 0,5 m
= m . g
= (3 + 0.75 + 0.5) kg . 9.81

= 4,25 kg . 9.81 2
= 41,35 N
4.1.1 Prosedur Menggambar Diagram Benda Bebas

Langkah 1
Dibayangkan benda terisolasi atau membuatnya bebas dari
kungkungan dan hubungan hubunganya,
kemudian
mengambaar sketsa bentuk garis - grisnya
45

Langkah 2
Identifikasikan semua gaya gaya eksternal dan momen yang
bekerja pad benda. Mereka umumnya dijumpai sebagai (1)
beban-beban yang di terapkan, (2) reaksi-reaksi yag terjadi pada
penopang atau pada titik kontakan degan benda lai, (3) Berat
benda, Untuk memperhitungkan seua efek ini, akan membantu
kalau menelusuri seluruh batas, dengan secara seksama
memperhatikan masing-masing gaya atau momen yang terjadi
tehadap benda
Langkah 3
Tunjukan dimensi benda yang perlu untuk mengjitung momenmomen gaya . Gaya gaya dan momen momen kopel yang
diketahui harus di label dengan besar dan arahnya yang benar.
(R. C Hibbeler. 2002. Engineering Mechanics ; Statics;190)

Berdsarkan gambar palang penumpu kain batik serta penjepit, maka


sambungan antara power screw dengan penumpu tergolong
sambungan jepit atau tetap.

Gambar. 4.1 Penumpu kain


Diagram Benda bebas

Gambar. 4.2 Diagram benda bebas Penumpu kain


46

Dari Gambar penampang penumpu kain batik terkena atau tergolong


beban merata dengan distribusi gaya sebagai berikut :

0,5
2

x 41,5 N

= 10,375 N

+ = 0 ; =0
+ = 0 ; W = 0

=w
= 10,375N
+ = 0
1

+ W (3 0,5) m = 0
= - W (0,167) m
= - 10,375 N x 0,167 m
= 1,729

47

Potongn Kiri
41,35 N

1 2

W
1,729 W

1 = (

0,5 0,25
0,5

) x 41,35 N

= (0,5 x 41,35) N
= 20,675 N

2 = 41,35 N 20,675 N
= 20.675 N

W =

2 0,25
2

20,675 0,25
2

= 2,584

W = 2 x l
= (20,675 x 0,25)
= 5,168
y
+ = 0;
= 0
48

+ = 0 ;
1,729 W W = 0
(1,729 5,168 2,584) =
= 6,023 ( )
+ = 0 ;
-1,729 + 1,729 (0,25 m) -W (0,2 m) W (0,125 m) - = 0
-1,729 + 1,729 (0,25 m) - 2,584 (0,2 m) - 5,168 (0,125 m)=
= -1,729 + 0,4325 - 0,5168 - 0,646
= (- 2,891 + 0,432)
= -2,459 ( )
+ = 0 ;
-1,729 + W (0,05 m) + W (0,125 m) - = 0
-1,729 + 2,584 (0,05 m) + 5,168 (0,125 m) =
= - 0,953 ( )
Potongan Kanan

1 = (

0,5 0,25

x 41,35 N

+ = 0;
- - W (0,083 m)
= - 0,214 ( )

49

0,5

= 20,675 N

Wrata-rata
Potongan kiri

Potongan kanan

Wrata-rata Total pada tiap - tiap Plang :


Wrata rata + Wrata rata
2
Wrata-rata Potongan Kiri
W +W
2

5,168 +2,589
2

= 3,876
Wrata-rata Potongan Kiri
W = 2,584
Wrata-rata =
Wrata rata + Wrata rata
2
3,876 + 2,584
Wrata-rata = (
)
2
= 3,23
4.1.2 Prosedur Menggambar Diagram Geser dan Momen
1. Gambar Diagram Benda Bebas
2. Hitung Reaksi tumpuan
3. Potong Benda A (potongan terjadi diantara 2 gaya v/beban
merata ada gaya terpusat)
50

4. Gambar potonganya
5. Hitung gaya-gayanya sebagai fungsi jarak
6. Gambar diagram geser dan momenya
Diagram Benda Bebas
y
x
I

II

10,375 N

II

+ = 0 ;
= 0
+ = 0 ;
10,375 N + = 0
+
= 10,375 N..(1)
+ = 0 ;
10,375 (0,25) - (0,5) = 0
= 2,593 / 0,5
= 5,1875 N
Masukan Harga ke dalam persamaan 1, sehingga diperoleh
harga :
+ = 10,375 N

= 10,375 N -
= (10,375 - 5,1875 ) N
= 5,1875 N

51

Potngan I-I

5,1875 N

1
Gambar. 4.3 Potongan I-I Penempu kain

+ = 0 ; ( 0 1 0,25 )
5,1875 - 1 = 0
1 = 5,1875
X=0
V1 = 5,1875
X = 0,25
V1 = 5,1875
+ = 0 ; ( 0 1 0,25 )
5,1875 ( 1 ) - = 0

= 5,1875 . 1

1 = 0

= 5,1875 . 0 = 0

1 = 0,15

= 5,1875 . 0,15 = 0,778

1 = 0,25

= 5,1875 . 0,25 = 1,296

Potngan II-II
10,375 N

5,1875 N

2
Gambar. 4.4 Potongan II-II Penempu kain
52

+ = 0 ; ( 0,25 2 0,5 )
5,1875 10,375 - 2 = 0
2 = - 5,1875
X = 0,25
V2 = - 5,1875
X = 0,5
V2 = - 5,1875
+ = 0 ; ( 0,25 1 0,5 )
5,1875 ( X2 ) 10,375 ( X2 - 0,125 ) Mpot = 0
Mpot = 5,1875 . X2 10,375 . X2 + 1,296
Mpot = - 5,1875 . X2 + 1,296
2 = 0,25
= - 5,1875 . ( 0,25 ) + 1,296
= 2,592
2 = 0,35
= - 5,1875 . ( 0,35 ) + 1,296
= 3,111
2 = 0,5
= - 5,1875 . ( 0,25 ) + 1,296
= 3,889
Diagram Geser

Gambar. 4.5 Diagram geser pada penumpu kain


53

Diagram Momen

Gambar. 4.6 Diagram Momen pada penumpu kain

4.2 Analisa Tegangan yang Terjadi Pada Palang


Tegangan didefinisikan sebagai gaya normal dibagi tiap
satuan luas, tegangan dianggap terbagi merata pada luas penampang
melintang bagian benda. Tegangan timbul akibat adanya beban atau
gaya yang bekerja pada sebuah benda atau material. Dalam benda atau
material itu sendiri ada tegangan ijin yang besarnya ditentukan oleh
tegangan yield point material dan faktor keamanan yang diambil. Dari
kedua tegangan inilah nanti akan diperoleh dimensi atau ukuran yang
terkecil namun aman terhadap gaya atau beban. (Suhariyanto,Elemen
Mesin I 2011 : 11)
Tegangan-tegangan yang akan timbul dalam perhitungan /
perencanaan elemen mesin khususnya pada palang penjepit terdiri
dari:

54

1. Tegangan Geser (Shears stress)


2. Tegangan Bending / lengkung ( Bending stress ).
3. Tegangan Geser Total / Maksimum (Shears stress total).
4.2.1 Analisa Tegangan Geser (Shear Stress)
Pada Konstruksi alat terdapat empat buah palang yang
digunakan untuk menjepit kain pada saat proses pelorodan malam kain
batik agar kain batik tidak selip atau jatuh saat proses berlangsung.
Penampang dan penjepit dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar. 4.7 Penumpu kain

Dari Gambaran Penampang palang penjepit diatas, Maka dapat


digolongkan ke dalam tegangan geser satu sisi (Single shear).

55

Gambar. 4.8 Tegangan Geser pada penumpu kain


Massa Total :
= (3 + 0.75 + 0.5) kg
= 4,25 kg

Gaya :
F=m.a

= 4,25 kg . 9.81 2
= 41,35 N

Tegangan Geser

F
l.t

=
=

41,35
0,5 0,15
41,35

0,075 2
= 551,33 N/m2
Tebal minimum yang diijinkan
Untuk mencari tebal minimum harus mengetahui tegangan
ijin suatu bahan. Tegangan ijin itu sendiri merupakan tegangan
yang mampu diterima oleh material agar tidak sampai putus atau
terdeformasi plastis.
- SF (Safety Factor) atau angka Keamanan = 2 (beban Statis)
-

yp Stainless Steel

: yp = 215 Mpa = 31200 psi


Panjang l direncanakan : 0,5 m

Konversi Satuan untuk yp:

yp

: UTS = 505 Mpa = 73200 psi

= 215 Mpa = 215 x 106 Pa


= 215 x 106 Pa x 10-5 bar/Pa
56

= 215 x 101 bar


= 215 x 101 Kgf / mm2
Mencari Tebal atau tinggi minimum :

F/ l.t

F .sf

L.t

0,5 . t
0,5 .t
t

41,35 N . 2
0,6 . 2150
82,7

1290
0,0641
0,5

t 0,128 m
Jadi, tebal atau tinggi minimum (t) yang diperbolehkan agar saat
proses berlangsung aman adalah sebesar minimal 0,128 m. Maka
dalam kondisi real menggunakan tebal 0,015 m masih
diperbolehkan atau aman karena jenis penumpu berongga (tidak
pejal).
4.2.2 Analisa Tegangan Bending / Lengkung (Bending Stress)
Disamping konstruksi palang terkena tegangan Geser, Juga
terkena tegangan Bending akibat adanya beban dimana palang hanya
bergantung pada 1 titik tumpu.

Gambar 4.9 Tegangan Bending pada penumpu kain


57

Dimensi b dan h yang direncanakan adalah :


b = 3 cm = 0,03 m
h = 1,5 cm = 0,015 m
Karena gaya yang timbul searah dengan gaya F, maka
tegangan bending yang terjadi pada palang penjepit kain dapat
dihitung dengan rumus :

Mb
Wb

dimana :
- Mb = momen bending ( Mb = F . e ), lbf.in atau Nm

) , in3 atau m3

Wb = momen tahanan bending (

I = Momen Inersia , in4 atau m4 (besarnya tergantung


bentuk permukaan, lihat pada tabel)
Y = Jarak yang diukur dari permukaan ke sumbu
netral, in atau m

Mencari Harga Momen Bending (Mb) :


Mb = F . e
= 41,35 N . 0,5 m
= 20,675 Nm

Mencari Harga Momen Tahanan Bending (Wb) :


Wb = (I/y)
- I (Momen Inersia bentuk persegi panjang)
I =
=

. 3
12
0,03 m . (0,15 )3
12

58

=
=

0,03 m . 0,0037 3
12
0,000101 4
12

= 8,437 x 10-6 m4
- Y atau jarak yang diukur dari sumbu netral
Y = 1/2 . h
= 0,5 . 0,015 m
= 0,0075 m
Wb = (I/y)
8,437 x 106 m4 3

0,0075 m

= 112 , 493 x 10-5 m3


= 1,124 x 10-3 m3
Tegangan Bending :

20,675 Nm
Mb
=
Wb 1,124 x 103 3

= 18,394 x 10-3 N/m2


4.2.3 Analisa Tegangan Geser Total / Maksimum (Shear Stress
total)
Tegangan geser total merupakan penjumlahan ( secara vector )
antara tegangan geser dengan tegangan yang lain. Tegangan
maksimum atau tegangan geser total pada penampang dengan luasan
(b.h) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

Gambar 4.10 Tegangan geser total pada penumpu kain


59

Tegangan Geser Maksimum yang Terjadi :

= (b )2 + (s )2
= (18,3941 x 104 )2 + (551,33)2 (N/m2 )
= 338,342 108 + 303964,760 2 /4
= 3383723965 N 2 /m4
= 58169, 785 N/m2

4.3 Analisa Tegangan Pada Ulir Penggerak


Untuk mengetahui Tegangan yang terjadi pada ulir Penggerak
terlebih dahulu dilakukan analisa terhadap macam macam tegangan
yang timbul pada ulir penggerak antara lain adalah :
4.3.1 Tegangan Bearing
Tegangan ini timbul antara permukaan ulir penggerak dengan
permukaan ulir murnya, yang saling berhubungan.

W
.d mh.n

DImana :

Gambar 4.11 Dimensi Dasar Ulir


Penggerak

=Tegagan Bending (Psi)


W = Beban (lbf)
= Diameter rata rata ulir
(in)
h = kedalaman Ulir (in)
n = jumlah ulir

Berdasarkan Pengukuran Ulir penggerak yang sudah direncanakan,


diperoleh data sebagai berikut :
W
= 4,25 kg (tiap palang)
60

= 4 x 4,25 kg (jumlah palang 4)


= 17 kg
Diameter rata-rata ulir :
40 mm
Kedalaman ulir : 0,0054 in x 25,189 mm
= 0,136 mm
Jumlah ulir
: 60

W
.d mh.n

=
=

17 kg
3.14 . 40 . 0,136 . 60
17 kg
1024,896 2

= 0,016 kg/mm2

4.3.2 Tegangan Bending


Beban W dianggap merata dan bekerja pada diameter rata-rata
(dm), yang berjarak 0,5h dari kaki ulir. Sehingga dapat dianggap
bagian yang diarsir pada gambar sebagai suatu batang sentilever yang
pendek.
Harga b di asumsikan 0,0043 in

= (
= (
=

/
3. .

.0,5
( . . ) 2 / 6

. . )
3 . 17 kg . 0,136

. 40 . 60) (0,106 )
6,936

84,674 3 2

= 0,0819 kg/mm2

61

4.3.3 Torsi Untuk Ulir Penggerak


Berikut ini adalah skema atau detil gambar aripada ulir
penggerak (Power Screw)

Gambar 4.12 Konstruksi Ulir Penggerak


Untuk mengetahui kebutuhan daya yang digunakan pada ulir
penggerak (Power Screw) maka perlu mencari 2 Torsi utama yakni :
4.3.3.1 Torsi yang diperlukan untuk menaik-turunkan Ulir
Penggerak (Power Screw)
Berdasarkan Data Hasil Pengukuran secara langsung atau
dengan metode observasi, Dieroleh data berat kain + air, Palang ,
Penjepit yang terkait dalam perhitungan Torsi Ulir Penggerak guna
perencanaan Daya motor adalah sebagai berikut :
62

Wtotal

Berat kain Batik + Malam + air


Berat Palang atau penumpu kain
Berat Plat Pengunci

= 3 kg
= 0.75 kg
= 0,5 kg
Fnaik & turun

: (3 + 0,75 + 0,5) kg
: 4,25 kg

1
4

3
Gambar 4.13 Beban Pada Ulir Penggerak
Karena Kapasitas proses adalah 4 kain maka,
Wpower screw = 4 x Wtotal
= 4 x 4,25 kg
= 17 kg
= 17 kg x 9,81 m/s2
= 166,77 kgf
Diameter rata-rata ulir dm :
D1
= 44 mm
D3
= 36 mm
D2 / dm =
=

1 + 3
2
Gambar 4.14 Diameter rata rata ulir
44 + 36
2

= 40 mm
Berdasarkan Observasi rmc diperoleh:
rmc
= 60 mm
Koefisien gesek fc Berdasarkan Tabel 5-8 :
Fc = 0,16

63

Tabel 4.1 Koefisien gesek fc


Srecw Material

Steel (dry)

Steel
(lubricated)

Bronze

Steel

Brass

Bronze

Cast Iron

0,15
0,25

0,15
0,23

0,15
0,19

0,15
0,25

0,11
0,17

0,10
0,16

0,10
0,15

0,11
0,17

0,08
0,12

0,04
0,06

0,08
0,10

0,06
0,09

( Sumber : Deutschman, 1985 : 763)

Koefisien gesek fs Berdasarkan Tabel 2-1 :


Fs = 0,74
Tabel 4.2 Koefisien gesek berbagai macam bahan
Koef.
Koef.
No
Bahan
Gesek
Gesek
Statis fs
Kinetis fk
1
Baja diatas baja
0.74
0.57
2
0.61
0.47
Aluminium diatas baja
3
0.53
0.36
Tembaga diatas baja
4
0.51
0.44
Kuningan diatas baja
5
0.85
0.21
Seng diatas besi tuang
6
1.05
0.29
Tembaga diatas besi tuang
7
0.94
0.4
Gelas diatas gelas
8
0.68
0.53
Tembaga diatas gelas
9
0.04
0.04
Teflon diatas teflon
10
0.04
0.04
Teflon diatas baja
(Sumber : Sears, Zemansky : 1982, Fisika I untuk Universitas)
64

Sudut Helix dan Sudut Ulir


Berdasarkan Observasi Sudut Helix dan Ulir berturut turut
diperoleh :
: 7,5
:5

Cos = Cos 7,5


= 0,991
Cos = Cos 5
= 0,996
Sin = Sin 7,5
= 0,130

Gambar 4.15 Sudut Helix dan dimensi


dasar ulir penggerak

Torsi untuk menaikkan dan menurunkan ulir penggerak


TR

dm
2

W .Cos n .Sin
W . fs.Cos

rmc . fc.W

Cos n .Cos fs.Sin Cos n Cos fs.Sin

Tr =
40
166,77 0,74 0,991
[
2 0,996 0,991 0,74 0,130

166,77 0,996 0,130


]
0,74 0,130

+0,996 0,991

+ 59,395 x 0,16 x 166,77


Tr = 20 [
Tr = 20 [

122,299

21,593

0,9870,0962
0,9870,0962
122,299
21,593
0,890

0,890

] + 1584,84

Tr = 20 [137,41 + 24,261] + 1584,84


Tr = 20 [161,671] + 1584,84
Tr = 3233,42 + 1584,84
Tr = 4818,26 kgf.mm = 481,82 kgf.cm

65

] + 1584,84

Daya untuk menaikkan Ulir Penggerak :


P=

Txn
71620

481,82 kgf.cm x 70 rpm


71620

P = 0,5 HP
Jadi, Kebutuhan Daya untuk menaik dan menurunkan Ulir
Penggerak (Power Screw) adalah sebesar 0,5 HP
4.3.3.2 Torsi yang diperlukan untuk memutar Ulir Penggerak
(Power Screw) di dalam Fluida
Torsi untuk memutar Ulir Pnggerak atau Power Screw dalam
aliran fluida adalah :
Tr = FD x r
Dimana :
Tr : Torsi ulir penggerak untuk memutar
FD : Gaya Drug
r : Jari-jari tabung / bidang kerja
Gaya Drag merupakan komponen gaya pada sebuah benda yang
bekerja secara parallel terhadap arah. Dalam pemecahan masalah
mengenai Gaya Drag, FD terhadap benda yang memiliki lengkungan,
berdiameter d, yang bergerak melewati aliran I incompressible dengan
kecepatan V, dengan massa jenis dan viskositas absolut , Gaya drag
dapat ditulis dengan persamaan
FD = f1 (d , V , , v)
2
Untuk luasan d dapat dirumuskan :
FD
.

V2

= f2 {

d2

. v. d

Bentuk persamaaan diatas juga sesuai untuk benda yang melewati


atau melawan arus Incompressible yang memiliki panjang b dan lebar
h, dirumuskan sebagai berikut :
CD =

FD
1/2 . V2 . A

FD = CD . . V2 . A
66

DImana :

FD : Gaya Drag (Gaya yang dibutuhkan untuk melawan arus


Incompressible)

: Massa Jenis Zat cair

V : Kecepatan aliran

A : Luasan Penampang (panjang h, lebar l)

CD : Koefisien Drag
Untuk mencari harga CD dapat dilihat melalui grafik :

Gambar 4.16 grafik hubungan antara koefisien drag dengan


aspek rasio untuk bidang datar dengan Re > 1000
Grafik diatas merupakan grafik yang menunjukkan harga CD melalui
rasio panjang dan lebar benda Namun, grafik ini digunakan jika Harga
Renold Number (Re) > 1000
Mencari angka Renold (Reynold Number)
Re =

Gaya Inersia
Gaya Viskos

. V. D

Dimana :
= Massa Jenis (Kg /m3)
V = Kecepatan Aliran (m/s)
D = Diameter bidang kerja (m)

= Viskositas absolut (N. s/m2)

67

Re =

V ( ) D (m) ( 3 )
s

(N . 2 )

m
s

V ( ) D (m)
Re =

2
)

Untuk putaran motor direncanakan sebesar 70 rpm


Hubungan antara kecepatan linear dan kecepatan sudut:
2. .
V =xr
=
60

2. .

2 . . 70

60
60
= 7,326 rad/s
V =xr
= 7,326 rad/s x 0,5 m
= 3,663 m/s
Berdasarkan tabel Viskositas Air dengan Suhu maksimum
85C adalah :
0,342 106

Jadi, Harga Re :
m
s

(3,663 ) (1,2 m)
Re =

(0,342 106
0,6996

Re =

(0,342 106

2
)

2
)

Re = 2,0456 x 106

68

Karena Harga Re > 1000, maka grafik untuk menentukn Harga CD dapat
digunakan,
b

h
Untuk harga b/h = 0,5 m / 2 m
= 0,25
Gambar 4.17 Material datar yang bergerak terhadap aliran fluida
Berdasarkan Grafik koefisien Drag diatas, Harga CD adalah :
1,1
FD = CD . . V2 . A

=1

FD

kg
m3

V = (3,663 m/s)2
A =bxh
= (0,5 x 2) m
=1m
= 1,1 . . 1 . 3,663 . 1
= 2,014 kgf

Jadi, Gaya Drag yang terjadi antara palang penumpu yang


diberikan kain bergerak terhadap Hambatan Fluida yang dihitung
berdasarkan Mekanika fluida besarnya diketahui :
FD = 2,014 kgf

69

Karena jumlah Palang ada 4 buah, maka :


FD = 2,014 kgf x 4
= 8,05 kgf
FD
r
r

FD

FD
r

FD
Gambar 4.18 Gaya Drag yang terjadi
Torsi untuk memutar ulir penggerak (Power Screw):
T = FD x r
= 8,05 x 0,5 kgf.mm
= 4,02 kgf.mm
= 0,402 kgf.cm
Daya untuk memutar Ulir Penggerak di dalam fluida:
Txn

0,402 kgf.cm x 70 rpm

P = 71620 =
71620
P = 0,14 HP
Jadi, Kebutuhan Daya untuk memutar beban pada Ulir
Penggerak (Power Screw) adalah sebesar 0,14 HP
Kebutuhan Daya Ulir Penggerak (Power Screw)
Ptotal = Pnaik-turun + Pputar
= 0,5 HP + 0,14 HP
= 0,64 HP
Jadi, daya minimum motor (P) yang diperbolehkan agar saat
proses berlangsung aman adalah sebesar minimal 0,64 HP. Maka
dalam kondisi real menggunakan motor dengan daya HP.

70

4.4 Perencanaan Belt dan Pulley


Belt termasuk alat pemindah daya yang cukup sederhana
dibandingkan dengan rantai dan roda gigi. Belt terpasang pada dua
buah pulley atau lebih, pulley pertama sebagai penggerak diver
sedangkan pulley kedua sebagai driven yang digerakkan. Pada Alat ini
Belt dan Pulley hanya sebagai transmisi daya, tanpa memperbesar atau
memperkecil daya yang ditransmisikan

Gambar 4.19 Gambaran Belt Pulley


DIrencanakan :
D1 = D2 adalah130 mm, Putaran pulley 1 dan Pulley 2 sama n1 = n2
adalah 70 rpm.
4.4.1 Daya yang Ditransmisikan
Daya yang ditransmisikan atau di pindahkan oleh system Belt
dan Pulley adalah :
Pd = fc x P
Dimana :
Pd = Daya yang ditrencanakan
fc = Faktor koreksi Belt (Lihat Tabel faktor koreksi)
P = Daya motor yang direncanakan (Hp)
Pd = fc x P
= 1,0 x 0,75 Hp
= 0,75 Hp
Jadi, Daya Desain yang dibutuhkan adalah 0,75 HP

71

4.4.2 Torsi Pada Belt


T1 = 71620 x

Pd

= 71620 x

n
0,75 Hp
70 rpm

= 71620 x 0,0107
= 767,35 kgf.cm = 7673,5 kgf.mm
Karena putaran pulley n1 dan n2 sama 70 rpm, maka Torsi yang
terjadi pada pulley 2 = pulley 1 sebesar 7673,5 kgf.mm
4.4.3 Dasar Pemilihan Belt
1 Hp = 0,746 kw
0,75 Hp = 0,75 x 0,746 x Hp x

kw
Hp

= 0,559 kw
Daya yang ditransmisikan dalam kw :
Pd
= fc x P
= 1,0 x 0,559 kw
= 0,559 kw
Berdsarkan Diagram Pemilihan V-Belt, dengan :
Daya rencana 0,559 kw
Putaran 70 rpm

Gambar 4.20 Diagram Pemilhan sabuk -V


72

Maka Type Belt yang dipilih adalah tipe B. Berdasarkan Tabel untuk
Dimensi V Belt tipe B adalah sebagai Berikut :
b = 17 mm
h = 10,5 mm
A = 1,38 cm2

Gambar 4.21 Dimensi V-Belt type B


4.4.4 Perencanaan Panjang Belt
Berdasarkan tabel 3-6 Sudut kontak dan Panjang Belt,
didapatkan persamaan untuk mencari panjang Belt sebagai berikut:

Gambar 4.22 Jarak Antar pusat Pulley atau C


Berdasarkan perencanaan, Haraga C atau jarak antar pusat
Pulley adalah 520 mm.
L = 2C +

(D1 + D2) + [

= 2 x 520 mm +

1 2 2
4

(130 mm + 130 mm) + [

= 1040 mm + 1,57 (260 mm) + 0


= 1040 mm + 408,2 mm
= 1448,2 mm
= 1,4482 m

73

130 mm130mm 2
4 x 520 mm

Untuk penyesuaian Belt yang akan dipakai, melihat Tabel 39 sehingga Panjang Belt yang dipakai adalah 1600 mm atau 1,6 m.
4.4.5 Kecepatan Keliling atau Kecepatan Linear
Kecepatan keliling atau kecepatan linear pulley dapat
dirumuskan sebagai berikut :
V =
=
=

x D1 x n1
60 x 1000
x 130 mm x 70 rpm
60 x 1000
28574
60000

V = 0,476 m/s

4.4.6 Menghitung Gaya Trik F1 dan F2


Kondisi F1 adalah Kndisi kencang
Kondisi F2 adalah Kndisi kendur

Gambar 4.23 Distribusi tarikan atau gaya pada belt


Keterangan gambar:
= sudut kontak antara belt dengan pulley
F1 = gaya tarik pada bagian yang kencang
F2 = gaya tarik pada bagian yang kendor
P = distribusi tarikan/gaya
N = gaya normal
r = jari-jari pulley
74

Berdasarkan Persamaan diperoleh :


P =
Fe =
=

Fe x v
102
102 x P
V
102 x 0,559 kw
0,476

= 119,785 kgf
Mencari harga F1 dan F2 :
F1 / F2 = efs .

Dimana ; fs : koefisien gesek


: Lihat Tabel 3-6 Elemen Mesin
e : Bilangan Natural
Mengacu pada tabel 3-6 sudut kontak dan panjang belt Buku
Elemen Mesin 2,maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

= 180 -

2 1

x 60

= 180 - 0 x 60
= 180
= 180 rad

1 rad = 360 / 2
1 rad = 57,2

= 180
= 180 / 57,2
= 3,146 rad
f adalah koefisien gesek yang dilihat pada tabel berikut :

75

Tabel 4.3 koefisien gesek antara belt dan pulley

Maka fs = 0,3
F1 / F2 = efs .
F1 / F2 = 2,7180,3 . 3,146
F1 / F2 = 2,7180,943
F1
= 2,567 F2
Berdasarkan persamaan diperoleh :
Fe = F1 - F2
F1 = 2,567 F2
Fe = 2,567 F2 - F2
F1 = 2,567 x 76,442
Fe = 1,567 F2
F1 = 196,227 kgf
F2 = Fe / 1,567
F2 = 119,785 / 1,567
F2 = 76,442 kgf
4.4.7 Tegangan Maksimum yang Terjadi pada Belt
Tegangan maksimum (max) terjadi pada saat belt mulai
menyentuh pulley penggerak (titik D pada Gambar 4.24) atau di titik
awal belt memasuki pulley penggerak. Besarnya tegangan maksimum
merupakan penjumlahan dari ke empat tegangan-tegangan tersebut

76

Gambar 4.24Diagram tegangan pada bagian bagian Belt


d
max = 0 +
+ v + b
2

max =

F0
A

= 12

= 12

2A

kgf

kgf
cm2

= 79,633

cm2

kgf
cm2

300

Fe

x v2
10 x g

+E

h
Dmin
1,5

119,785 kgf

2 x 1,38 cm2

kg
dm3

x (0,476
m

m 2
)
s

10 x 9,81 2
s

1,05 cm
13 cm

+ 43,400

kgf
cm2

+ 0,00346

kgf
cm2

+ 24,230

kgf
cm2

kgf
cm2

Jadi Tegangan Maksimum yang dialami Belt adalah sebesar


79,633

kgf
cm2

4.4.8 Prediksi Umur Belt


Untuk dapat mengetahui tau memprediksi umur Belt, maka
digunakan persamaan sebagai berikut :
77

m
max
.3600 .u. X .H mfat .Nbase

H =

Nbase

fat m

3600 . . x max

Dimana :
H
Nbase
fat

fat

= Umur Belt (jam)


= basis dari fatique test, yaitu 107 cycle
= fatique limit fatique limit atau endurance
limit yang berhubungan dengan Nbase dapat
dicari dari "fatique curve
= tegangan Maksimum yang terjadi
= Jumlah putaran perdetik atau sama dengan
v/l (v dalam m/s , l dalam panjang belt m)
= jumlah pulley yang berputar
= 8 untuk V- Bet

Mencari nilai
= v/l
=

0,476 m/s
1,448 m

= 0,328
fat
UntukV-Belt, fat = 90 kg/cm2
Umur Belt
H =
=
=
=

Nbase

fat m

3600 . . x max
107

90 kg/cm2

3600 . 0,328 . 2 79,633 kg/cm


107
8

[1,130]

236,16
2,661 x 107
2361,6

78

]
2

= 11271,692 jam = 1,304 Tahun

4.5 Perhitungan Poros


Dalam perhitungan poros ini, diasumsikan ulir penggerak atau
power screw sebagai poros karena antar sisi ulir saling simetri
sehingga dapat dikategorikan poros.
4.5.1 Analisa Gaya
Skema gaya pada alat sebagai berikut :

Gambar 4.25 KonstruksiUlir Penggerak pada kerangaka alat

Gambar 4.26 Diagram Benda Bebas Ulir Penggerak


79

Keterangan :
F1 dan F2 merupakan gya tarik pada pulley
F1 Karena sistem Pulley
dan Belt hanya sebagai
F1 cos
F1 sin
transmisi daya, = 0
Sehingga,
F1 =196,227 kgf
F2 cos
F2 = 76,442 kgf
F2
F2 sin
Gambar 4.27 Gaya Tarik F1 dan F2 pada Belt

BH (Gaya pada bearing arah Horizontal) dan Bv (Gaya pada


bearing arah Vertikal)
F merupakan Gaya pengaduk:
F = 8,05 kgf
W1 = W 2
= m . g

= (3 + 0.75 + 0.5) kg . 9.81 2

= 4,25 kg . 9.81 2

= 41,35 kgf

80

4.5.1.1 Reaksi Tumpuan Horizontal

II

II

+ = 0 ;
BH + (F1 + F2) +8,05-8,05 = 0
BH = - (196,227 + 76,442)
BH = - 272,669 N

+ = 0 ;
BV (4W + Wporos + pulley) = 0
BV = (4 x 41,35 N) + 215 N
BV = 380,4 N
Gambar 4.28 Reaksi tumpuan arah horizontal
Potongan I - I
F1 + F2
X1
+

Mt

V1

+ = 0
F1 + F2 -V1 = 0
V1 = (196,227 + 76,442)
= 272,669
+ = 0
- Mt + (F1 + F2) . X1 = 0
Mt = 272,669 (X1)

( 0 1 0,05 )
1 = 0
= 272,669 . 0 = 0
1 = 0,025
= 272,669 . 0,025 = 6,816
1 = 0,05
= 272,669. 0,05 = 13,633
81

Potongan II - II
F1 + F2
0,05 m
BH

X2

Mt

V2

+ = 0
F1 + F2 V2 +BH = 0
V2 = (196,227 + 76,442) - 272,669
= 272,669 - 272,669
=0
+ = 0
- Mt + (F1 + F2) . (0,05 + X2 ) + BH (X2) = 0
Mt = 272,669 (0,05 + X2) - 272,669 (X2)
= 13,633 + 272,669 .X2 - 272,669 .X2
= 13,633
( 0,06 2 0,7 )
1 = 0,3
= 13,633
1 = 0,5
= 13,633
1 = 0,7
= 13,633
82

Diagram Momen arah Horizontal

0,05 m

0,7 m

Gambar 4.29 Diagram Momen arah Horiontal


4.6 Perhitungan Bearing Pada Poros / Ulir Penggerak
Dari analisa dan perhitungan pada bagian sebelumnya
diperoleh data-data sebagai berikut :
Fr
F
Gaya pada bantalan :
Fa

Gambar 4.30 Gaya Pada Bearing

83

Fa = FV
Fa = 380,4 N = 38,04 kgf
Fa = 38,04 kgf

Fr = FH
Fr = 272,6 N = 27,26 kgf

4.6.1 Beban Eqivalen Bantalan


Untuk mengetahui beban eqivalen pada bantalan
diketahui melalui persamaan :

dapat

= +
Dimana :
P = beban ekivalen, lbf
Fr = beban radial, lbf
Fa = beban aksial, lbf
V = faktor putaran (konstan) bernilai :
1,0 untuk ring dalam berputar
1,2 untuk ring luar yang berputar
X = konstanta radial (dari tabel, dapat dilihat pada lampiran)
Y = konstanta aksial (dari tabel, dapat dilihat pada lampiran)
Cara memilih harga X dan Y dapat dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut :
Diameter Poros : dm = 40 mm

1 84,672
5020

= 0.0168

Jadi, nilai e = 0,22

84,672
160,108

= 1,408

Sehingga :

>e

Maka Harga X dan Y Berdasarkan tabel Beban Eqivalen


Bearing.
84

X = 0,56 dan Y = 1,99


Nilai Fs ball bearing = 2,5 ( Heavy Shock Load )
V = 1 ( ring dalam yang berputar )
Jadi Beban Eqivalen Bantalan adalah :
P = V . X. Fr + Y . Fa
= 1 . 0,56 . 60,108 + 1,99 . 84,672
= 33,660 + 168,497
= 202,157 lbf
= 91.681 kgf
4.6.2 Menghitung Umur Bantalan
Untuk mengetahui berapa umur bantalan yang nantinya diganti
baru, maka umur bantalan sebaiknya diganti dengan umur :
106

C b

L10 = 60n (P)


p

Dimana :
C = 1670 kgf (ball bearing)
b = 3 (untuk ball bearing)
n = 70 rpm (putaran poros)
Maka, umur bantalan ,

10 =

106

1670 3

60 70 rpm 91,68
106

10 = 4200 (18,215)3
10 = (238,095 6043,486)
10 = 1438923,82

85

4.7 Perhitungan Pasak


Pada perencanaan dimensi pasak, bahan direncanakan
menggunakan bahan ST 37 dan diketahui diameter poros 35 mm.
Sehingga didapat data data sebagai berikut :
Syp = Tegangan ijin bahan menggunakan ST 37
Yang mempunyai nilai 21,46 kg.f/mm2
W
= Lebar pasak 4,5 mm (tabel E1)
N
= Angka keamanan = 2,5 (tabel G)
Ks = Koefisien tegangan geser (0,6)
Kc = Koefisien tegangan kompresi (1,2)
T1
= Momen torsi Motor (8905,142kg mm)

M t 974 .000
= 974.000

N
n
0,64 Hp
70 rpm

= 974.000 x 0,00914
= 8905,142 kg.mm
4.7.1 Perhitungan panjang pasak pada poros
tegangan geser

Gambar 4.31 Gaya geser pada pasak

K Syp
2 T1
s
W LD
N
86

berdasarkan

2 T N
W D K s Syp
2 8905,142 kg mm 2,5
4,5mm 30 mm 0,6 21,46 kgf / mm 2

25,61 mm (Poros)
4.7.2 Perhitungan panjang pasak pada poros berdasarkan
tegangan kompresi

Gambar. 4.32 Gaya kompresi pada pasak

K S
4 T
c YP
H LD
N

4 T N
K C Syp W D
4 8905,142 kg mm 2,5
1,2 21,46 kgf / mm 2 4,5mm 30 mm

25,61mm
87

4.8 Pembahasan Hasil Pengujian Mesin


Dari percobaan proses pelorodan malam pada kain batik
diperlukan waktu pelorodan dengan hasil yang optimal, sebagai
berikut :
Tabel 4.4 Hasil Percobaan Mesin Pelorod Malam Kain Batik
Pengujian
1
2
3
4
5

Waktu Pelorodan
3 menit
4 Menit
5 Menit
6 Menit
7 Menit

Kandungan Malam
50%
40%
35%
33%
20%

Berdasarkan pengujian Mesin Pelorod Malam Kain Batik


didapatkan waktu optimal untuk pelorodan adalah selama 7 Menit
dengan kandungan malam tersisa 20%.

88

Halaman ini sengaja dikosongkan

89