Anda di halaman 1dari 18

Interaksi Obat di Luar Tubuh

DAVID PUTRASILA S
(12330105)

Interaksi Obat

Definisi :

kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek-efeknya


bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek
baru yang tidak dimiliki sebelumnya.

Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain


perubahan dalam farmakokinetika obat tersebut, seperti Absorpsi,
Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME) obat. Kemungkinan lain,
interaksi obat merupakan hasil dari sifat-sfat farmakodinamik obat
tersebut, misal, pemberian bersamaan antara antagonis reseptor dan
agonis untuk reseptor yang sama.

Obat dapat berinteraksi karena pengobatan dengan beberapa obat


sekaligus (polifarmasi), makanan, zat kimia yang masuk dari lingkungan,
atau dengan obat lain. Pada interaksi obat melibatkan dua jenis obat yaitu:
obat presipitan dan obat objek.

Obat Presipitan

Obat Presipitan adalah obat yang mempengaruhi atau mengubah


aksi efek obat lain. Ciri - ciri dari obat presipitan adalah sebagai
berikut:

Obat - obat dengan ikatan protein yang kuat sehingga akan


menggusur obat dengan ikatan protein yang lemah. Dengan
demikian obat-obat yang tergusur kadarnya akan bebas dalam
darah dan meningkat sehingga menimbulkan efek toksik.

Obat-obat dengan kemampuan menghambat (inhibitor) atau


merangsang (Inducer) enzim-enzim yang memetabolisir obat
dalam hati.

Obat-obat yang dapat mempengaruhi atau merubah fungsi ginjal


sehinga eliminasi obat-obat lain dapat dimodifikasi.

Obat Objek

Obat objek adalah obat yang hasil atau efeknya dipengaruhi atau
diubah oleh obat lain.Cirinya adalah :

Mempunyai kurva dose response yang curam

Obat-obat dengan rasio toksis yang rendah

Faktor-faktor yang
mempengaruhi interaksi obat
a. Faktor penderita

Umur (yang paling peka adalah bayi, balita dan orang lanjut usia)

Sifat keturunan

Penyakit yang sedang diderita

Fungsi hati dan ginjal

b.Faktor obat

Jumlah obat yang digunakan

Jangka waktu pengobatan

Jarak waktu penggunaan dua obat

Urutan pemberian ohat

Bentuk sediaan obat

Macam-Macam Interaksi Obat

Interaksi Farmasetis

Adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat diformulasikan


/disiapkan sebelum obat di gunakan oleh penderita.Misalnya interaksi antara
obat dan larutan infus IV yang dicampur bersamaan dapat menyebabkan
pecahnya emulsi atau terjadi pengendapan.

Bentuk interaksi:

Interaksi secara fisik


Misalnya :
-Terjadi perubahan kelarutan
-Terjadinya turun titik beku

Interaksi secara kimia


Misalnya :
Terjadinya reaksi satu dengan yang lain atau terhidrolisisnya suatu obat
selama dalam proses pembuatan ataupun selama dalam penyimpanan.

Interaksi Farmakokinetika

Pada interaksi ini obat mengalami perubahan pada :

Absorpsi

Distribusi

Metabolisme

Ekskresi

Interaksi Farmakodinamika

Adalah obat yang menyebabkan perubahan pada respon pasien


disebabkan karena berubahnya farmakokinetika dari obat
tersebut karena obat lain yang terlihat sebagai perubahan aksi
obat tanpa menglami perubahan konsentrasi plasma.

Inkompatibilitas obat

Untuk mencegah inkompatibilitas, penting dipikirkan bagaimana obat bisa


berinteraksi di dalam atau di luar tubuh. Jika harus mencampur suatu obat, selalu
ikuti petunjuk pabrik seperti volume dan jenis diluen yang tepat; mana larutan yang
bisa ditambahkan ke pemberian "piggy back"; dan larutan bilas apa yang harus
digunakan di antara pemberian suatu produk dan produk lain untuk menghindari
kejadian-kejadian, seperti pengendapan di dalam selang infus (sebagai contoh,
jangan pernah memberikan fenitoin ke dalam infus juga yang mengandung
dekstrosa, atau jangan campur amphotericin B dengan normal saline). Hal-hal lain
yang perlu dipertimbangkan adalah adanya elektrolit (misal. kalium klorida) yang
dicampur ke infus kontinyu, misal pada sistem piggyback. Jika ingin mencampur
obat dalam spuit untuk pemberian bolus, pastikan obat-obat ini kompatibel di dalam
spuit. Jika tidak mendapat informasi dari referensi obat, kontak apoteker.

Waspada dengan obat yang dikenal memiliki riwayat inkompatibilitas bila berkontak
dengan obat lain. Contoh-contoh furosemide (Lasix), phenytoin (Dilantin), heparin,
midazolam (Versed), dan diazepam (Valium) bila digunakan dalam campuran IV. Ada
obat injeksi yang tidak kompatibel dengan kandungan larutan infus. Contoh khas
adalah natrium bikarbonat dengan Ringer laktat atau Ringer asetat.

Inkompatibilitas Fisik

Inkompatibilitas fisik atau ketidakcampuran fisik sering disebut


dengan obat tidak tercampurkan yang dibuktikan dengan tidak
biapsanya obat menyatu dengan baik. Hampir mustahil kita bisa
memberikan dosis obat yang seragam dalam bentuk larutan atau
campuran. Bahan-bahan seperti minyak dan air (yang tidak
dapat bercampur) dan zat-zat yang tidak larut di dalam media
tertentu adalah contoh dari inkompatibilitas fisik.

Inkompatibilitas Kimia

Inkompatibilitas kimia terjadi ketika agen yang diresepkan bereaksi secara kimia
saat dicampurkan sehingga mengubah komposisi satu atau lebih bahan yang
dicampur (unsur pokok).

Meskipun hampir mustahil bagi kita untuk menghilangkan seluruh agen-obat


tidak tercampurkan beberapa kombinasi dapat merespons terhadap langkahlangkah perbaikan berikut :

Penambahan bahan yang tidak mengubah nilai terapis (seperti penambahan


suatu bahan untuk mengubah daya larut suatu agen)

Penghilangan agen yang tidak memiliki nilai terapi atau yang dapat diberikan
secara terpisah;

Perubahan bahan (misalnya pergantian bahan yang tidak dapat larut dengan
bahan yang dapat larut)

Mengubah zat larut

Penggunaan teknik-teknik khusus dalam pencampuran

Mekanisme Obat Tidak


Tercampurkan

Masalah obat tidak tercampurkan lebih cenderung terjadi ketika


obat dalam volume konsentrasi kecil dicampurkan di dalam
sebuah alat suntik daripada di dalam kantung infus dengan
volume yang lebih besar. Hal ini terjadi karena konsentrasi obat
yang lebih tinggi dan perubahan pH yang lebih besar dalam
konsentrasi yang kecil.

Upaya Meminimalkan
Ketidaktercampuran bisa diminimalkan dengan mengikuti panduan-panduan
Ketidaktercampuran

umum yang ada sebisa mungkin:

Gunakan larutan dengan cepat setelah preparasi untuk menjamin pemberian


produk yang paling stabil karena degradasi banyak obat dipengaruhi oleh
waktu. Jika campuran obat yang baru dibuat tidak bisa digunakan segera
maka harus dimasukan ke lemari pendingin.

Minimalkan jumlah obat yang ditambahkan ke satu larutan. Semakin banyak


jumlah tambahan obat kemungkinan ketidaktercampurkan naik secara
geometris, jika lebih dari dua obat di campurkan di dalam satu larutan, maka
sulit untuk memperoleh informasi tentang potensi tidaktercampurkan di
dalam di dalam campuran yang dihasilkan.

Periksa referensi obat tidak tercampurkan secara dekat jika salah satu obat
meiliki pH yang sangat tinggi atau sangat rendah karena sebagian obat
bersifat asam, maka kombinasi dengan obat yang memiliki pH sangat tinggi,
sperti sodium bikarbonat atau aminofilin, berpeluang lebih besar
menimbulkan ketidak tercampurkan.

Periksa referensi obat tidak tercampurkan secara teliti jika salah satu obat
tambahan adalah obat yang mengandung kalsium, magnesium, atau fosfat
karena zat-zat ini menyebabkan pengendapan;

Interaksi Obat di Luar Tubuh

Interaksi obat selain terjadi di dalam tubuh atau terjadi setelah


obat diberikan kepada pasien, namun dapat terjadi sebelum
diberikan kepada pasien atau dengan kata lain interaksi obat
terjadi di luar tubuh. Interaksi obar diluar tubuh manusia disebut
juga interaksi inkompabilitas, karena interaksi ini terjadi sebelum
obat diberikan antara obat yang tidak dapat dicampur
(inkompatibel). Pencampuran obat demikian menyebabkan
terjadinya interaksi langsung secara fisika atau kimia, yang
hasilnya mungkin terlihat sebagai pembentukan endapan,
perubahan warna dan lain-lain. Interaksi ini biasanya berakibat
inaktivasi obat.

Contoh Interaksi Obat di Luar


Tubuh
NO
Obat Presipitan
Obat Objek
Mekanisme Kerja
Efek
1.

Penicilin

Larutan RL (Ringer Terbentuknya


Laktat)

kompleks

Karbenisilin

Gentamisin

dengan

Rifampisin

Isoniazid (INH)

tidak

dicampur
bersamaan

larutan ringer sehingga

dengan

terjadi

proses

hidrokortison

pengendapan
Jika diberikan

secara Gentamisin

Tidak dicampur

bersaam

karbenisilin tidak

menghambat
3.

tidak Penicillin

antara aktif (endapan)

penicillin

2.

senyawa Penicillin

Solusi

kerja kabenisilin

aktif, secara
bersamaan

gentamisin
rusak
Bila digerus bersamaan, INH mengalami Pemberian
menurunkan
INH

karena

rifampisin
higroskopis.

aktifitas penurunan

obatnya

sifat aktifitas

dipisah,

yang

digerus
bersama.

tidak

4.

Amfoterisin

Larutan
fisiologis/

garam Terbentuknya
larutan kompleks

Ringer

amfoterisin

senyawa Amfoterisin
antara akan

terjadi

Fenitoin

NaCl 0.9%

Terjadinya

infus

fisiologis/laruta
n Ringer
interaksi Fenitoin

akan Fenitoin

antara fenitoin dengan mengendap


NaCl 0.9% jika berikan dalam
secara bersamaan
6.

Diazepam

Cairan Infus

Terjadinya
antara

7.

Pseudoefedrin Vitamin
kompleks

tidak

dicampur

larutan bersamaan

NaCl 0.9%

dengan cairan

infus
interaksi Diazepam akan Diazepam
diazepam mengendap

dengan cairan infus jika dalam


diberikan

bersamaan

larutan dengan cairan

proses garam

pengendapan
5.

tidak dicampur

dengan mengendap

larutan ringer sehingga dalam

Amfoterisin

diberikan

cairan secara terpisah

secara infus

bersamaan
B Saat
penggerusan sehingga

dengan cairan
infus
Bahan

obat

pseudoefedrin mengikat menyebabkan

yang

air dari udara

higroskopis

campuran

bersifat

8.

Oksitetra

Diphenhidramin

Terjadinya

Oksitetrasiklin-

interaksi antara HCl

siklin- HCl

oksitetrasiklinHCl

diphenhidramin
jika

akan HCl

mengendap

dengan dalam

Oksitetrasiklintidak

dicampur

larutan bersama cairan

diphenhidramin

diphenhidramin

Phenitoin-Na

Phenitoin-Na

diberikan

secara
9.

Phenitoin-Na

Infus

bersamaan
Terjadinya

interaksi antara akan

tidak

phenitoin-Na

bersama cairan

dengan
jika

mengendap

infus dalam

dicampur

larutan infus

diberikan infus

secara
10.

Aspirin

Natrium

bersamaan
Dalam
udara Aspirin

bikarbonat

terdapat

H2O Terhidrolisis

Pemakaian
wadah

ampul

kemungkinan

yang

berwarna

terjadinya

gelap

hidrolisis

(menghindari

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan pada interaksi farmasetik antara lain :

Obat intravena diberikan secara suntikan bolus.

Hindari pemberian obat lewat cairan infus kecuali cairan glukosa.

Hindari pencampuran obat dalam cairan infus atau jarum suntik bacalah
petunjuk pemakain obat dari brosurnya.

Mencampur cairan infus dengan seksama dan amati adanya perubahan. (Tidak
ada perubahan belum tentu tidak ada interaksi).

Penyiapan larutan obat hanya kalau diperlukan.

Bila lebih dari 1 obat yang diberikan secara bersamaan, gunakan jalur infus yg
berbeda kecuali yakin tidak ada interaksi.

Jam pencampuran obat dan cairan infus harus dicatat dalam label, dan tuliskan
infus harus habis.

Konsultasi dengan apoteker RS.

Kesimpulan

Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas


obat. Efek-efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau
menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya.Interaksi bisa saja
terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan
mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus

Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan


toksisitas atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi. Mekanisme
interaksi obat diantaranya yaitu inkompatibilitas ini terjadi diluar tubuh
(sebelum obat diberikan) antar obat yang tidak tercampurkan
(inkompatibel). Pencampuran obat demikian menyebabkan terjadinya
menyebebkan terjadinya interaksi langsung secara fisik atau kimiawi, yang
hasilnya mungkin terlihat sebagai pembentukan endapan, perubahan
warna, terjadi kelembapan bahan obat dan lain lain, atau mungkin juga
tidak terlihat. Interaksi ini biasanya berakibat inaktivasi obat.

Anda mungkin juga menyukai