Anda di halaman 1dari 15

PUSKESMAS KEC.

KELAPA GADING
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan

: Penyakit Menular Pasca Banir

Sub Pokok Bahasan

: Penyakit Leptospirosis

Sasaran

: Pasien, Keluarga, dan Masyarakat

Hari/Tanggal

: Jumat, 16 Oktober 2015

Waktu

: 09.00 WIB Selesai

Tempat

: Kantor RW 05 Pegangsaan Dua Kelapa Gading

Penyaji

: dr. Rendi
Lia Yuliarsih
Koass Yarsi

I.

Latar Belakang
Leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh
dunia, khususnya di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis.
WHO menyebutkan kejadian Leptospirosis di negara subtropis berkisar
antara 0,1 1,0 kejadian tiap 100.000 penduduk setiap tahun. Sedangkan
di negara tropis berkisar antara 10,0 100,0 kejadian tiap 100.000
penduduk setiap tahun. Tingginya curah hujan menyebabkan penularan
Leptospirosis lebih cepat terjadi di negara beriklim tropis (WHO, 2003) .
Widarso HS dan Wilfried (2002) menyebutkan bahwa Indonesia
merupakan negara tropis dengan angka mortalitas tinggi, yaitu peringkat
ketiga dunia setelah China dan India. Secara umum angka kematian
Leptospirosis di Indonesia mencapai 2,5 - 16,5 persen pertahun.
Sedangkan pada usia lebih dari 50 tahun angka kematian mencapai 56,0
persen dari total angka kematian Leptospirosis setiap tahunnya.
Di Indonesia, Leptospirosis tersebar antara lain di provinsi Jawa
Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera
Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan
Barat.
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang bersumber dari
tikus. Penyakit ini juga tergolong dalam emerging disease yang erat
hubungannya dengan meningkatnya populasi global, frekuensi perjalanan
dan mudahnya transportasi domestik dan mancanegara, perubahan
teknologi kesehatan dan produksi makanan, perubahan pola hidup dan
tingkah laku manusia, pengembangan daerah baru sebagai hunian manusia
dan munculnya patogen baru akibat mutasi dan sebagainya.
Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang
patogen pada manusia dan hewan. Penyakit ini juga telah menjadi
penyakit endemik di beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa penelitian
terdahulu menunjukkan bahwa kejadian Leptospirosis berkaitan dengan
faktor lingkungan, baik lingkungan abiotik maupun biotik. Komponen
lingkungan abiotik yang diduga merupakan faktor risiko kejadian

Leptospirosis antara lain adalah indeks curah hujan, suhu udara,


kelembaban udara, intensitas cahaya, pH air, pH tanah, badan air alami,
riwayat banjir dan riwayat rob. Sedangkan lingkungan biotik yang diduga
merupakan faktor risiko kejadian Leptospirosis di Indonesia antara lain
adalah vegetasi, keberhasilan penangkapan tikus (trap succes) dan
prevalensi Leptospirosis pada tikus.
Namun, pola perilaku masyarakat merupakan faktor lain yang tidak
dapat diabaikan karena mendukung peningkatan kasus leptospirosis. Tipe
agent, host, lingkungan, dan karakteristik kasus Leptospirosis sifatnya
bervariasi di setiap daerah. Oleh karena itu diperlukan metode khusus dan
sistem kewaspadaan dini untuk mencegah penularan leptospirosis di
lingkungan outbreak Leptospirosis.
II.

Tujuan Umum
Diharapkan setelah penyuluhan, keluarga serta masyarakat
mengerti tentang penyakit Leptospirosis

III.

Tujuan Khusus
1. Keluarga serta masyarakat mengerti dan mampu menjelaskan
pengertian penyakit Leptospirosis
2. Keluarga serta masyarakat mengerti dan mampu menjelaskan
penyebab dari penyakit Leptospirosis
3. Keluarga serta masyarakat mengerti dan mampu menjelaskan tanda
dan gejala penderita penyakit Leptospirosis
4. Keluarga serta masyarakat mengerti dan mampu menjelaskan
klasifikasi penyakit Leptospirosis
5. Keluarga serta masyarakat mengerti dan mampu menjelaskan
pencegahan serta pemberantasan penyebab penyakit Leptospirosis
6. Keluarga serta masyarakat mengerti dan mampu menjelaskan cara-cara
pengobatan penyakit Leptospirosis

IV.
V.
VI.

Materi
(Terlampir )
Metode
Ceramah, Demonstrasi, Audio Visual, Tanya-Jawab
Media

LCD, Laptop, Leaflet


VII.
NO.

1
2

Rencana Kegiatan Penyuluhan


Tahap

Kegiatan

Kegiatan

penyaji
Perkenalan

Pembukaan
(10 Menit)
Penyajian
(40Menit)

Kegiatan
Peserta
Tim Perkenalan

Media
dengan

Penyuluhan,

Tim Penyuluhan, Doa -

Doa Pembukaan
o Menjelaskan

Pembukaan
o Mendengarkan

LCD

tentang

penjelasan

Laptop

pengertian

tentang

Leaflet

penyakit

pengertian

Leptospirosis

penyakit
Leptospirosis

o Menjelaskan
tentang

o Mendengarkan

penyebab

penjelasan

penyakit
Leptospirosis

tentang
penyebab
penyakit

o Menjelaskan
tentang

tanda

dan

gejala

penderita
penyakit
Leptospirosis
o Menjelaskan
tentang
klasifikasi

Leptospirosis

o Mendengarkan
penjelasan
tentang

tanda

dan

gejala

penderita
penyakit
Leptospirosis

penyakit
Leptospirosis

o Mendengarkan

penjelasan
tentang
klasifikasi
o Menjelaskan

penyakit
Leptospirosis

tentang
pencegahan
serta
pemberantasan
penyakit
Leptospirosis
o Menjelaskan
tentang

cara

mengobati
penyakit
Leptospirosis

o Mendengarkan
penjelasan
tentang
pencegshsn
serta
pemberantasan
penyakit
Leptospirosis

o Mendengarkan
o Menjawab

penjelasan

pertanyaan dari

tentang

pasien, keluarga

mengobati

serta

penyakit

masyarakat

Leptospirosis

mengenai
penyakit
Leptospirosis.

cara

o Bertanya
mengenai
penyakit
Leptospirosis

Penutup
(10 Menit)

o Memberikan

o Menjawab

pertanyaan

pertanyaan

pemantap

pemantap

kepada pasien,

kepada pasien,

keluarga

serta

masyarakat

masyarakat

mengenai

mengenai

penyakit

penyakit

Leptospirosis

Leptospirosis

o Memberikan
Kesimpulan

VIII.

keluarga serta

o Mendengarkan
Kesimpulan

Evaluasi
Keluarga serta masyarakat menjadi lebih tau apa itu leptospirosis.
Mereka pun menjadi mengerti tentang ciri dan gejala penderita penyakit
Leptospirosis, mengerti tentang klasifikasi penyakit Leptospirosis,
mengerti tentang cara pencegahan dan cara membasmi penyakit
Leptospirosis serta mengerti cara mengobati penyakit Leptospirosis

IX.

Daftar Pustaka
1. http://www.info-kes.com/2013/05/leptospirosis.html
2. Priyanto, A, (2006). Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap
Kejadian

Leptospirosis.dari

http://eprints.undip.ac.id/6320/1/Agus_Priyanto.pdf.
3. Depkes RI. 2014. Pedoman Penanggulangan Leptospirosis di
Indonesia. Jakarta: Depkes RI Ditjen P2M dan PLP.
4. Kartikawati E. 2012. Leptospirosis Penyakit yang di Tularkan oleh
Tikus. Ungaran: V-media.
5. Widarso H dan Wilfried P. 2005. Kebijaksanaan Departemen
Kesehatan

dalam

Penanggulangan

Leptospirosis

di

Indonesia.

Kumpulan Makalah Simposium Leptospirosis. Semarang: Badan


Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

MATERI PENYULUHAN PENYAKIT LEPTOSPIROSIS


Penyakit Leptospirosis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan
oleh strain Leptospira. Penyakit ini paling sering ditularkan dari hewan ke
manusia ketika orang dengan luka terbuka di kulit melakukan kontak dengan air
atau tanah yang telah terkontaminasi air kencing hewan - bakteri juga dapat
memasuki tubuh melalui mata atau selaput lendir. Hewan yang umum menularkan
infeksi kepada manusia adalah tikus, musang, opossum, rubah, musang kerbau,
sapi atau binatang lainnya. Karena sebagian besar di Indonesia Penyakit ini
ditularkan melalui kencing Tikus, Leptospirosis popular disebut penyakit kencing
tikus.
Meskipun lebih umum di daerah tropis, daerah perkotaan non-tropis
dengan tingkat sanitasi rendah juga menemui lebih banyak kasus, terutama selama
bulan-bulan musim panas dan musim gugur. Sebagian besar daerah perkotaan
yang terkena merupakan kota-kota besar di negara berkembang.
Apa penyebab Leptospirosis?
Leptospira, golongan bakteri, dapat hidup dalam tubuh tikus, babi, sapi,
kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Mereka

mendiami ginjal dan dikeluarkan ketika hewan tersebut buang air kecil, dan
menginfeksi tanah atau air. Kontaminasi tersebut dapat bertahan dalam tanah atau
air selama berbulan-bulan.
Manusia dapat terinfeksi melalui:
a. Minum air yang terkontaminasi
b. Melakukan kontak dengan air atau tanah yang tercemar dan memiliki luka
terbuka di kulit
c. Mata, hidung atau mulut melakukan kontak dengan air atau tanah yang
tercemar
d. Melakukan kontak dengan darah hewan yang terinfeksi (kurang umum)
Manusia tidak umum terinfeksi Leptospira, akan tetapi umumnya wabah
dapat muncul ketika ada banjir. Manusia jarang menginfeksi manusia lain, tetapi
mungkin melakukannya selama hubungan seksual atau menyusui.
Apa saja tanda dan gejala Leptospirosis?
Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan dapat digambarkan oleh pasien,
seperti nyeri, sedangkan tanda adalah sesuatu yang orang lain bisa deteksi, seperti
ruam.
Tanda-tanda dan gejala Leptospirosis biasanya muncul tiba-tiba, sekitar 7
sampai 14 hari setelah seseorang terinfeksi, dan dalam beberapa kasus, tanda dan
gejala tersebut mungkin muncul sebelum atau sesudahnya.
Tanda dan gejala Leptospirosis ringan:
a. Menggigil
b. Batuk
c. Diare
d. Sakit kepala, bisa datang tiba-tiba
e. Demam tinggi

f. Nyeri otot, khususnya punggung bawah dan betis


g. Mual
h. Hilang nafsu makan
i. Mata merah dan iritasi
j. Nyeri Kulit
Pasien biasanya membaik dalam waktu satu minggu tanpa pengobatan.
Sebagian kecil dari mereka tidak membaik, dan akan menderita Leptospirosis
berat.
Tanda dan gejala Leptospirosis berat
Tanda dan gejala ini akan muncul beberapa hari setelah gejala
Leptospirosis ringan telah menghilang. Tanda dan gejala tergantung pada organ
vital yang telah terpengaruh.

Tanda dan gejala ketika jantung, hati dan ginjal yang terkena
a.

Kelelahan

b.

Detak jantung tidak teratur, seringkali cepat

c.

Nyeri otot

d.

Mual

e.

Mimisan

f.

Nyeri di dada

g.

sesak nafas

h.

Hilang nafsu makan

i.

Tangan, kaki atau mata kaki membengkak

j.

Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan

k.

Putih mata, lidah dan kulit menguning (jaundice)


Pasien yang tidak diobati bisa mengalami gagal ginjal yang mengancam

jiwa.

Tanda dan gejala ketika otak yang terkena


Meningitis mengacu pada infeksi pada lapisan luar otak, sedangkan
ensefalitis mengacu pada infeksi jaringan otak. Tanda-tanda dan gejala bagi
meningitis dan ensefalitis adalah serupa, dan dapat mencakup:
a.

Ruam merah muncul pada kulit. Ketika ditekan, tidak berubah warna atau
memudar

b.

Kebingungan atau disorientasi

c.

Mengantuk

d.

Kejang

e.

Demam tinggi

f.

Mual

g.

Fotofobia (sensitivitas terhadap cahaya)

h.

Masalah dengan gerakan fisik

i.

Leher kaku

j.

Pasien tidak dapat berbicara

k.

Muntah

l.

Agresivitas, atau berperilaku tidak biasa


Meningitis atau ensefalitis yang tidak diobati dapat mengakibatkan

kerusakan otak serius, dan dapat mengancam nyawa.

Tanda dan gejala ketika paru-paru yang terkena


Tanda dan gejala ini adalah yang paling serius dan mengancam nyawa.
Hilangnya fungsi paru-paru, ketika pasien tidak bisa bernapas adalah kondisi fatal.
Tanda dan gejalanya dapat meliputi:
a.

Demam tinggi

b.

Sesak nafas

c.

Batuk darah - dalam kasus yang parah, akan ada begitu banyak
darah sehingga menyebabkan pasien tersedak.

Jenis Leptospirosis
Ada dua jenis utama Leptospirosis:
Leptospirosis ringan - pasien mengalami nyeri otot, menggigil dan
mungkin sakit kepala. 90% dari kasus Leptospirosis tergolong jenis ini.
Leptospirosis berat - dapat mengancam jiwa. Ada risiko kegagalan organ
dan pendarahan internal. Jenis Leptospirosis ini terjadi ketika bakteri menginfeksi
ginjal, hati dan organ utama lainnya. Para ahli tidak yakin mengapa beberapa
pasien terserang bentuk yang parah sementara yang lain tidak. Pada beberapa
kasus, orang yang sudah sangat sakit, seperti mereka yang menderita pneumonia,
anak-anak balita, dan orang lanjut usia lebih cenderung untuk menderita
Leptospirosis yang parah.

Dimana Leptospirosis terjadi?


Seperti disebutkan di atas, Leptospirosis lebih umum terjadi di daerah
tropis, tetapi juga dapat terjadi di pemukiman miskin di kota-kota besar negara
berkembang yang tidak berada di daerah tropis. Ketika kasus Lepospirosis terjadi,
biasanya cenderung bersifat sporadis.
Leptospirosis merupakan penyakit global, tetapi lebih sering terjadi pada
daerah tropis dan subtropics, Karena bakteri tumbuh subur di lingkungan panas
dan lembab.
Berikut adalah area/negara/benua yang dikenal memiliki insiden tertinggi
Leptospirosis: Afrika, India, Cina, Amerika Tengah, Brasil, Karibia, Asia
Tenggara, dan Rusia Selatan. Kasus infeksi juga dilaporkan di beberapa hotspot
wisata berikut: Selandia Baru, Australia, Hawaii, dan Barbados.
Setelah banjir, wabah besar Leptospirosis sering muncul. Menurut
WHO (World Health Organization), sekitar 10 juta orang diperkirakan terserang
Leptospirosis setiap tahun. Tingkat kematian penyakit ini sulit untuk dihitung,
karena Leptospirosis cenderung terjadi di beberapa bagian dunia dengan
pelayanan kesehatan masyarakat yang sangat mendasar yang tidak secara rutin
melaporkan banyak penyebab kematian.
Perubahan iklim, termasuk meningkatnya kejadian banjir di seluruh dunia,
membuat kemungkinan kejadian Leptospirosis global akan meningkat. WHO
percaya angka kematian Leptospirosis mungkin antara 5% sampai 25% dari
pasien yang terinfeksi. Ini tidak berarti bahwa orang yang terinfeksi dengan akses
ke pelayanan kesehatan yang tepat memiliki risiko kematian yang sama.
Cara Penularan Leptospirosis
Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda,
anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan
paling sering melalui tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke
dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata
dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik
urin tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia.

Saat masuk ke ginjal, kuman akan melakukan migrasi ke interstitium,


tubulus renal, dan tubular lumen menyebabkan nefritis interstitial dan nekrosis
tubular. Ketika berlanjut menjadi gagal ginjal biasanya disebabkan karena
kerusakan tubulus, hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas
kapiler. Pada gangguan hati, akan tampak nekrosis sentrilobular dengan proliferasi
sel Kupffer, yang terjadi karena disfungsi sel-sel hati. Leptospira juga dapat
menginvasi otot skletal dan menyebabkan edema (bengkak), vacuolisasi miofibril,
dan nekrosis lokal.
Gangguan sirkulasi mikro muskular dan peningkatan permeabilitas kapiler
dapat menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemi sirkulasi. Dalam kasus
berat akan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Gangguan paru adalah
mekanisme sekunder dari kerusakan pada alveolar and vaskular interstisial yang
mengakibatkan hemoptu. Leptospira juga dapat menginvasi cairan humor (humor
aqueus) mata

yang

dapat

menetap

dalam

beberapa

bulan,

seringkali

mengakibatkan uveitus kronis dan berulang.


Meskipun kemungkinan dapat terjadi komplikasi yang berat tetapi lebih
sering terjadi self limiting disease dan tidak fatal. Sejauh ini, respon imun
siostemik dapat mengeliminasi kuman dari tubuh, tetapi dapat memicu reaksi
gejala inflamasi yang dapat mengakibatkan secondary end-organ injury.
Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien. Masa inkubasi
leptospirosis adalah dua hingga 26 hari. Sekali berada di aliran darah, bakteri ini
bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan khususnya hati dan
ginjal.
Penularan tidak langsung terjadi melalui genangan air, sungai, danau,
selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan seperti tikus, umumnya
terjadi saat banjir. Wabah leptospirosis dapat juga terjadi pada musim kemarau
karena sumber air yang sama dipakai oleh manusia dan hewan. Sedangkan untuk
penularan secara langsung dapat terjadi pada seorang yang senantiasa kontak
dengan hewan (peternak, dokter hewan). Penularan juga dapat terjadi melalui air
susu, plasenta, hubungan seksual, pecikan darah manusia penderita leptospira
meski kejadian ini jarang ditemukan.

Bagaimana Diagnosa Leptospirosis?


Pada tahap awal, Leptospirosis ringan akan sulit untuk didiagnosa, karena
gejalanya mirip dengan flu dan infeksi umum lainnya. Prosedur diagnostik flu
biasanya tidak baik untuk mengidentifikasi Leptospirosis.
Bila ada kemungkinan Leptospirosis berat, barulah tes diagnostik yang
ditargetkan baru dilakukan. Dokter mungkin akan bertanya apakah pasien pernah
berenang di sebuah danau, kolam, kanal atau sungai. Pasien harus memberitahu
dokter tentang segala kegiatan yang terjadi di rumah pemotongan, pertanian,
perawatan hewan, atau apa pun yang mungkin dapat menjadi sebab kontak dengan
air kencing atau darah hewan. Jika dokter ingin mengkonfirmasi Leptospirosis,
serangkaian tes darah dan urin akan diperintahkan.

Pencegahan Leptospirosis
Para ahli mengatakan bahwa untuk pencegahan Leptospirosis, mereka
yang rutin melakukan aktivitas di air tawar harus memastikan bahwa setiap luka
dikulit harus ditutupi dengan berpakaian tahan air (juga untuk melindungi
terhadap infeksi lain, seperti hepatitis A atau giardiasis). Setelah berenang di
daerah air tawar, harus mandi secara menyeluruh.

Pencegahan di tempat kerja


Bagi mereka yang selalu melakukan kontak dengan hewan, atau air atau
tanah yang berpotensi terkontaminasi harus memastikan mereka memakai pakaian
pelindung yang sesuai dengan aturan, seperti mengenakan sarung tangan, masker,
sepatu boot dan/atau kacamata pelindung.

Perjalanan ke negara-negara lain


Di daerah di mana Leptospirosis adalah umum, jangan berenang di air
tawar, dan hanya melakukan kontak dengan air tawar jika mengenakan pakaian
yang cukup melindungi. Minumlah air kemasan bersegel, atau air tawar yang

direbus. Pastikan setiap lesi kulit terbungkus dalam pakaian tahan air. Jika terluka,
segera perban dan bersihkan.
Anggota tim penyelamat atau personel militer di zona bencana disarankan
minum antibiotik sebagai tindakan pencegahan (profilaksis).
Apa saja pilihan pengobatan untuk Leptospirosis?
Leptospirosis akut
Dokter mungkin meresepkan 5 sampai 7 hari saja antibiotik tetrasiklin.
Leptospirosis berat
Pasien perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan antibiotik intravena.
Tergantung pada organ yang terkena, alat bantu pernapasan mungkin diperlukan
untuk membantu pernapasan, seperti juga mungkin dialysis diperlukan jika ginjal
yang terkena. Cairan intravena juga diperlukan untuk hidrat pasien dan
memberikan nutrisi penting.
Rawat inap dapat berkisar dari hanya beberapa minggu sampai beberapa
bulan. Sebagian besar durasi tinggal di Rumah Sakit tergantung pada bagaimana
pasien merespon pengobatan antibiotik, dan seberapa parah organ mereka
terpengaruh atau rusak.