Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ORAL MEDICINE 1

HIV atau AIDS

KELOMPOK 8
Anggota Kelompok:
1.
2.
3.
4.
5.

Marzella Masawa
Rista Kiranti
Katherine Efrinda
Tissa Indria Sari
Hasmila Devi

(04031181320036)
(04031181320037)
(04031181320038)
(04031181320039)
(04031181320040)

Dosen Pembimbing :
drg. Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.Kes

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi


Fakultas Kedokteran
2015

Manifestasi HIV/ AIDS pada jaringan lunak rongga mulut

Aids merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang terjadi akibat menurunnya system
kekebalan tubuh.Aids yang merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome
disebabkan oleh infeksi HIV.Di Indonesia penyakit HIV/AIDS merupakan ancaman dan
dalam 10 tahun terakhir, termasuk pada the Emerging Infectious Disease.Penyakit HIV
memberikan efek terhadap seluruh bagian tubuh.Secara klinis tidaklah mudah bagi petugas
kesehatan untuk mendiagnosa atau mengobati penyakit yang sangat ditakuti ini dan
manifestasinya.Perlu diperhatikan untuk berhati-hati terhadap berbagai bentuk gejala dan
manifestasi dari HIV.
Kesehatan mulut merupakan komponen penting dalam menjaga kesehatan pada orang yang
terkena infeksi HIV.Penyakit ini ditandai dengan timbulnya berbagai penyakit infeksi bakteri,
jamur, parasit, dan virus yang bersifat oportunistik atau keganasan seperti sarcoma, Kaposi,
dan lymphoma.Kewaspadaan terhadap variasi kelainan di mulut yang mungkin muncul
sepanjang perjalanan penyakit HIV dan kerja sama yang baik antara dokter dan dokter gigi
dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pasien secara menyeluruh. Manifestasi oral
HIV/AIDS mempunyai spektrum yang cepat.
Variasi manifestasi oral yang ditemukan dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.

Infeksi: jamur, virus, bakteri

2.

Keganasan (Neoplasma): Kaposis sarcoma, non-Hodgkins Lymphoma

3.

Proses inflamasi: stomatitis nekrotik, ulkus aptosa mayor

4.

Parotid Enlargement

5.

Manifestasi mulut lainnya akibat efek samping terapi anti viral (xerostomia)

1. Candidiasis Oral
2

Candidiasis oral adalah infeksi pada mulut atau tenggorokan yang disebabkan
oleh jamur.Kebanyakan disebabkan oleh C. glabrata,C. tropicalis, C.parapsilosis,
C.krusei, C.kefyr, C.guilliermondii, C.pseudotropicalis, C.lusitaniae, C.stellatoidea,
dan C.dubliniensis. Dalam rongga mulut, C. albicans dapat melekat pada mukosa
labial, mukosa bukal, dorsum lidah, dan daerah palatum.C. albicans sebenarnya
merupakan flora normal mulut, namun karena berbagai factor, salah satunya yaitu
adanya gangguan sistem imun menyebabkan flora normal tersebut menjadi patogen.
Candidiasis oral dapat menyerang semua usia, baik usia muda, usia tua dan
pada penderita defisiensi imun seperti AIDS. Pada pasien HIV/AIDS, C.albicans
ditemukan paling banyak yaitu sebesar 95%.
Klasifikasi dan gambaran klinis kandidiasis oral:
a. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis ini biasanya disebut juga sebagai thrush. Secara klinis, kandidiasis
pseudomembran terlihat sebagai plak mukosa yang putih atau kuning, seperti
cheesy material yang dapat dihilangkan dan meninggalkan permukaan yang
berwarna merah.Kandidiasis ini terdiri atas sel epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa
jamur dan umumnya dijumpai pada mukosa labial, mukosa bukal, palatum keras,
palatum lunak, lidah, jaringan periodontal dan orofaring.Diagnosa banding dari
kandidiasis pseudomembranosus ini meliputi flek dari susu dan debris makanan
yang tertinggal menempel pada mukosa mulut, khususnya pada bayi yang masih
menyusui atau pada pasien lanjut usia dengan kondisi tubuh yang lemah akibat
penyakit.

Kandidiasis Pseudomembranosus Akut


b. Kandidiasis Atrofik Akut

Tipe kandidiasis ini kadang dinamakan sebagai antibiotic sore tongue atau
disebut juga kandidiasis eritematus karena kandidiasis jenis ini membuat daerah
permukaan mukosa oral mengelupas sehingga tampak sebagai bercak-bercak
merah difus yang rata, ukuran bervariasi, bisa dengan plak putih maupun tidak.
Tipe ini biasa dijumpai pada mukosa bukal, palatum, dan bagian dorsal lidah.
Pasien yang menderita kandidiasis ini mengeluh adanya rasa sakit seperti terbakar.

Kandidiasis Atrofik Akut (Kandidiasis eritematus)


c. Kandidiasis Hiperplastik Kronik
Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa bintikbintik putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi
ini dapat berkembang menjadi displasia berat atau keganasan, dan kadang disebut
sebagai Kandida leukoplakia. Bintik-bintik putih tersebut tidak dapat dihapus,
sehingga diagnosa harus ditentukan dengan biopsi.

Kandidiasis Hiperplastik Kronik


d. Cheilitis Angularis
Cheilitis angularis merupakan infeksi C.albicans pada sudut mulut. Biasanya
muncul berwarna kemerahan, ulserasi, dan berfisur-fisur, bisa unilateral maupun

bilateral pada sudut bibir. Sudut mulut yang terinfeksi, tampak merah, dan pecahpecah, serta terasa sakit.

Cheilitis Angularis
Penatalaksanaan kandidiasis oral
perawatan kandidiasis oral yaitu dengan menjaga kebersihan rongga mulut,
memberi obat-obatan antifungal baik lokal maupun sistemik, dan berusaha
menanggulangi

faktor

predisposisi,

sehingga

infeksi

jamur

dapat

dikurangi.Kebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat


daerah bukal dan lidah dengan sikat lembut.
Pemberian obat-obatan antifungal juga efektif dalam mengobati infeksi
jamur.Terdapat dua jenis obat antifungal, yaitu pemberian obat antifungal secara
topikal dan sistemik.Pengobatan antifungal topikal pada awal abad 20 yaitu
dengan menggunakan gentian violet, namun karena perkembangan resisten dan
adanya efek samping seperti meninggalkan stain pada mukosa oral, sehingga obat
itu diganti dengan Nystatin yang ditemukan pada tahun 1951 dan Amphotericin B
pada tahun 1956. Obat-obat tersebut bekerja dengan mengikat sterol pada
membran sel jamur, dan mengubah permeabilitas membran sel. Nystatin
merupakan obat antifungal yang paling banyak digunakan.Obat antifungal
sistemik digunakan pada pasien yang tidak mempan terhadap obat antifungal
topikal dan pada pasien dengan resiko tinggi menderita infeksi sistemik.
2. Infeksi akibat virus
a. Stomatitis Herpes Simplex Virus (Stomatitis Herpetika)
Stomatitis herpetika adalah peradangan mulut yang mengenai mukosa oral dan
bibir, ditandai dengan pembentukan vesikel kekuningan yang pecah dan
menghasilkan ulkus yang tidak rata, nyeri serta dilapisi oleh membran yang
berwarna abu-abu.Stomatitis herpetika adalah penyakit virus menular yang

disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV).Hal ini terlihat terutama pada anakanak muda.
Gejala klinis
Stomatitis herpetik akut diawali dengan mulut yang nyeri tiba-tiba,
hipersalivasi, bau mulut, menolak makan, dan demam kadang-kadang tinggi.Lesi
awal berupa vesikel-vesikel kecil berdiameter 1-3 mm yang berkelompok sebesar
1-2 cm pada bibir, lesi pada intraoral sama dengan lesi yang muncul pada bibir,
tapi sangat cepat pecah sehingga membentuk ulserasi. Lesi sisa berdiameter 2-10
mm dan ditutupi dengan lapisan kuning keabuan. Lesi akan bertambah besar dan
menyebar ke mukosa disekitarnya pada daerah yang mengandung sedikit keratin,
seperti mukosa rongga mulut, mukosa bibir, dan dasar rongga mulut. Pada saat
lapisan terkelupas, yang tersisa adalah luka. Penyakit ini akan sembuh dalam 1-2
minggu.

Ket:(A) Ulserasi menyebar dari bibir (kiri atas, kanan atas), lidah (kanan atas),

palatum keras dan lunak (kiri bawah), dan faring posterior (kanan bawah). Lesi ini
juga dapat meluas ke hipofaring atau pada mukosa squamosa sekitar bibir;(B) dan (C)
Ulserasi dangkal di bibir bawah, lidah dan sudut bibir di sebelah kanan
Penatalaksanaan
Valasiklovir telah terbukti efektif untuk merawat stomatitis herpetika yang disebabkan
oleh virus Herpes.Asiklovir 5 x 2 mg dapat diberikan sebagai profilaksis bukan saat
6

penyakit ini kambuh.Jika pasiennya anak-anak maka jangan memberikan makanan


yang mengandung bumbu-bumbu dan asam seperti jus jeruk, serta hindari pemakaian
obat kumur.Pasien juga dapat diberikan anestesi topikal (biasanya gel lidokain 2%)
untuk meringankan nyeri dan pasta protektif (Orabase).Pengolesan tabir surya pada
bibir juga efektif dalam menurunkan frekuensi kekambuhan akibat induksi dari sinar
matahari.
B. Oral Hairy Leukoplakia
Pada penderita HIV,oral hairy leukoplakia(OHL) merupakan kelainan terbanyak
kedua setelah oral candidiasis.Oral hairy leukoplakiamerupakan lesi filamen
berwarna putih yang biasanya terdapat di sepanjang garis lateral lidah atau pada
lapisan mulut (di dalam pipi, palatum, atau dasar mulut).Oral hairy leukoplakia
disebabkan karena infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan biasanya ditemukan pada
individu yang positif terkena HIV/AIDS. Hal ini sangat wajar terjadi, karena pada
penderita HIV terjadi kemunduran sistem imun dimanajumlah CD4+ pasien berkisar
hanya 200 500 sel/mL sehingga penderita HIV/AIDS sangat sensitif untuk
memperoleh penyakit ini.
Gejala Klinis
Oral hairy leukoplakia (OHL) tampak sebagai suatu bercak putih,
permukaannya kasar, bervariasi mulai dari lapisan vertikal sampai plak keriput. Saat
mulut dalam keadaan kering, lesi iniakan tampak berbulu hairy. Lesi ini biasanya
bilateral pada bagian ventrolateral lidah atau menyerang pada permukaan dorsal lidah,
mukosa bukal, dasar mulut, area retromolar, dan palatum molle.. Karakteristik yang
paling khas adalah proyeksi seperti jari yang tersebar dari dasar lesi.

Oral Hairy Leukoplakia


7

Penatalaksanaan
Pada beberapa kasus, keluhan akan berkurang dan hilang dengan pemberian
acyclovir (zovirax) dosis tinggi sebagai antivirus (anti-EBV), tetapi pada umumnya
lesi-lesi tersebut akan muncul kembali setelah terapi dihentikan.Selain itu,
podophyllum resin topikal, retinoid, dan pembedahan dilaporkan sebagai pengobatan
yang berhasil.Antiretroviral dan/atau terapi antiherpesviral mengurangi prevalensi
HIV yang terkait oral hairy leukoplakia.
C. Infeksi Cytomegalovirus (CMV)
Infeksi Cytomegalovirus adalah suatu penyakit virus yang bisa menyebabkan
kerusakan otak dan kematian pada bayi baru lahir.. Infeksi Cytomegalovirus bisa
terjadi pada orang yang menerima darah terinfeksi atau jaringan cangkokan yang
terinfeksi, misalnya ginjal.Infeksi serius biasanya terjadi pada penderita dengan
gangguan sistem imun (AIDS).Infeksi ini biasanya ditunjukkan pada pasien HIV
stadium IV yaitu ketika terjadi immunosupresi yang lanjut dengan jumlah CD4+ di
bawah 50.
Gejala Klinis
Cytomegalovirus menampakkan virulensinya pada manusia hanya pada
individu dengan penurunan daya tahan dan pada masa pertumbuhan janin. Pada
wanita normal sebagian besar adalah asimptomatik atau subklinik, tetapi bila
menimbulkan gejala akan tampak gejala sebagai berikut:

Mononukleosis-like syndrome yaitu demam yang tidak teratur selama 3


minggu. Secara klinis timbul gejala lethargi, malaise dan kelainan hematologi
yang sulit dibedakan dengan infeksi mononukleosis (tanpa tonsilitis atau

faringitis dan limfadenopati servikal).


Sindroma post transfusi. Viremia terjadi 3 8 minggu setelah transfusi.
Tampak gambaran panas kriptogenik, splenomegali, kelainan biokimia dan

hematologi.
Penyakit sistemik luas antara lain pneumonitis yang mengancam jiwa yang
dapat terjadi pada pasien dengan kelainan sekunder dari proses imunologi

(seperti HIV tipe 1 atau 2).


Hepatitis anikterik yang terutama terjadi pada anak-anak.

Infeksi Cytomegalovirus (CMV)


Penatalaksanaan
Antivirus yang ada saat ini dan telah dicoba untuk pengobatan infeksi CMV
congenital dan perinatal adalah idoksiviridae, 5-fluoro-2-deoksiviridae, sitosin
arabinosid, adenine arabinosid, asiklovir, interferondan gansiklovir.
D. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV)
Human Papilloma Virus adalah virus yang menyerang manusia dimana terdapat
lebih dari 100 tipe HPV yang sebagian besar tidak berbahaya, tidak menimbulkan
gejala yang terlihat dan akan hilang dengan sendirinya.HPV merupakan virus DNA
famili Papovaviridae. DNA virus terdiri dari double strand dan sirkular dengan 5-8
gen. Virus ini menginfeksi sel pipih epitelium dan menyebabkan keadaan hiperplasia
dari sel epitel pipih.
Gejala Klinis
Pada pasien yang terinfeksi HIV, HPV terkait lesi oral memiliki gambaran
papilomatosa, baik menonjol atau tetap, dan terutama berlokasi di palatum, mukosa
bucal, dan commisura labialis.

Infeksi Human Papilloma Virus (HPV)


Penatalaksanaan

Terapi dapat dilakukan dengan memberikan asam salisilat atau asam laktat bila
lesi masih kecil, akan tetapi bila sudah mencapai 40% dapat ditambahkan dengan
asam trikloroasetat (TCA); bisa juga dilakukan pembekuan dengan cara cyrotherapy
dengan nitrogen cair atau kemoterapi dengan bleomicin.
3. INFEKSI AKIBAT BAKTERI
A. Linear Gingival Erythema
Linear gingival erythema (LGE) adalah salah satu lesi dalam rongga mulut yang
sering terdapat pada penderita HIV/AIDS.Pada lesi ini biasanya akan terjadi
penurunan jumlah CD4 dan peningkatan jumlah virus.Secara klinis, LGE
digambarkan sebagai suatu garis kemerahan sepanjang margin gingiva.Meskipun
dilakukan tindakan kontrol plak, root planing maupun scalling, lesi ini tidak hilang.
Perdarahan gingiva dapat terjadi secara spontan, atau pada saat probing.

Linear Gingival Erythema

Gambaran Klinis

gambaran pita kemerahan sekitar 2-3 mm di sepanjang tepi gingiva (bisa sebagian
atau menyeluruh) dan menyebar sampai attached gingival dan mukosa oral

Sering dihubungkan dengan petechiae like lesions dengan warna yang lebih terang
atau menyala jika dibandingkan dengan yang disebabkan oleh adanya plak

Gingiva yang terkena tidak menunjukkan adanya ulser

Dapat disertai peningkatan kedalaman poket periodontal atau attachment loss

B. Necrotizing Ulcerative Gingivitis (NUG)


10

Merupakan destruksi pada satu atau lebih papila interdental disertai dengan
nekrosis dan ulserasi.Destruksi ini terbatas pada margin gingiva.Pada tahap akut
(acute necrotizing ulcerative gingivitis), jaringan gingiva tampak merah menyala dan
bengkak, serta disertai jaringan nekrotik abu-abu kekuningan yang mudah
berdarah.Gejala yang dirasakan pasien yaitu mudah berdarah saat menyikat gigi,
sakit, dan adanya halitosis.Paling sering terjadid bagian anterior rahang bawah.NUG
ini disebabkan oleh bakteri dari flora mulut dan merupakan manifestasi oral yang
ditemukan pada penderita HIV/AIDS stadium III.

Necrotizing Ulcerative Gingivitis (NUG)


C. Necrotizing Ulcerative Periodontitis (NUP)
Merupakan nekrosis jaringan lunak yang parah dan destruksi perlekatan
periodontal dan tulang yang bersifat kronis.Terjadi perdarahan secara spontan dan
nyeri yang dalam.HIV positif dengan manifestasi periodontitis biasanya diikuti
dengan

demam

dan

malaise

terkadang

juga

terjadisubmandibularlymphadenopaty.Pada pasien immunocompremised NUP muncul


bila jumlah CD4+ dalam darah kurang dari 200sel/mm.

Necrotizing Ulcerative Periodontitis (NUP)


Gambaran Klinis
11

Terdapat pembentukan poket karena hilangnya periodontal attachment dan


destruksitulang yang cepat.Manifestasi intraoral pada kasus ini biasanya adalah
demam, oral malodor, malaise, atau lymphadenopathy.
Penatalaksanaan
Debridement jaringan nekrotik dan Terapi antibiotik (Metronidazol, Klindamisin, Koamoksiklav).
D. Bacillary Epithelioid Angiomatosis (BEA)
Bacillary Epithelioid Angiomatosis (BEA) adalah infeksi yang menyerang
pembuluh darah yang secara klinis dan histologis mirip dengan Kaposi Sarkoma
(KS).BEA disebabkan oleh organisme rickettsia, Bartonellaciae henselia, quintana,
dll.Gingiva pada BEA tampak merah, ungu, biru dan bengkak.Selain itu, tampak juga
kerusakan pada ligamen periodontal dan tulang alveolar.Infeksi BEA ini biasa
ditemukan pada penderita HIV yang mengalami penurunan jumlah sel CD4+.Eritromisin adalah terapi pilihan untuk BEA.
E. Sifilis
Sifilis adalah lesi primer dari penyakit kelamin yang umumnya terjadi di
daerah genitalia, tetapi dapat juga dijumpai pada bibir atau mukosa mulut sebagai
akibat kontak orogenital.Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Sifilis sekunder secara klinis akan muncul kira-kira 6 minggu setelah infeksi
primer dan ditandai oleh sebuah ruam makular atau papula,demam,lesu,sakit
kepala,limfadenopati serta sakit pada tenggorokan. Pada kira-kira sepertiga
penderita,mukosa oralakan terlibat dan lesi digambarkan sebagai lesi jejak siput.Sifilis
sekunder ini akan hilang dalam 2-6 minggu.Sifilis dapat menjadi laten dan
menimbulkan lesi tersier beberapa tahun setelah infeksi pertama. Akan tetapi lesi
sifilis tersier jarang sekali dijumpai.Dua lesi yang dikenali sebagai tanda sifilis tersier
adalah gumma di langit-langit serta leukoplakia pada permukaan dorsal lidah.

12

Manifestasi oral pasien sifilis

4. NEOPLASMA
A. Kaposis Sarcoma
Sarkoma kaposi merupakan keganasan akibat proliferasi multisentrik dari sel
endotel.Kaposi sarcoma ini disebabkan oleh virus yang dahulu bernama KS-herpes
virus, tapi sekarang bernama Human Herpes Virus-8 (HHV-8).Kejadian sarkoma
kaposi lebih rendah pada penderita AIDS tanpa transmisi seks sebab kejadian sarkoma
kaposi berhubungan dengan transmisi seksual.Biasanya sarkoma kaposi ditemukan
intraoral yaitu di palatum, gingiva, dan dorsum lidah, bersifat soliter atau bergabung
dengan lesi lainnya.Sarkoma kaposi merupakan manisfestasi AIDS pada stadium IV.
Gejala Klinis
Gambaran klinis dari sarkoma kaposi adalah, pada intraoral berupa makula
berwarna merah, biru,ungu, atau kadang-kadang berwarna coklat atau hitam, yang
kemudian membesar menjadi sebuah nodula atau ulser. Hingga 95% lesi ini terjadi di
palatum, 23% di gingiva, dan lainnya terdapat di lidah atau mukosa buccal.Pada
ekstraoral, sarkoma kaposi biasanya menyebar luas pada kulit,gastrointestinal, dan
tractus respiratorius.

Kaposis Sarcoma
13

Penatalaksanaan
Terapi yang dapat dilakukan pada pasien HIV dengan sarkoma kaposi adalah
pemberian terapi antiviral.Utuk agen infeksi HHV-8, dengan injeksi vinblastine
(0,2mg/ml).
B. Non-Hodgkins Lymphoma (NHL)
Limfoma malignum non Hodgkin atau limfoma non Hodgkin adalah suatu
keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat.Merupakan limfoma yang
paling umum dikaitkan dengan infeksi HIV dan biasanya terlihat pada penderita
stadium akhir dengan jumlah limfosit CD4+ kurang dari 100/Ml.Penyebabnya yaitu
infeksi virus, salah satu yang dicurigai adalah virus Epstein-Barr yang berhubungan
dengan limfoma Burkitt, sebuah penyakit yang biasa ditemukan di Afrika. Infeksi
HTLV-1 (Human T Lymphoytopic Virus type 1).
NHL terlihat sebagai massa yang cepat membesar, jarang berupa ulkus atau
plak, dan sering terjadi pada palatum atau gingiva.Limfoma sel B non-Hodgkins
tampak sebagai massa ungu yang difus dan cepat berproliferasi pada daerah palatum
retromolar.

Non-Hodgkins Lymphoma (NHL)


5. Major aphthous ulceration
Merupakan kelainan oral terkait gangguan sistem imun yang berhubungan
dengan HIV, dengan prevalensi sekitar 2-3%.Ulkus aptosa biasanya soliter besar atau
multiple, kronis, dalam dan sakit.

14

Major aphthous ulceration


Penatalaksanaan
Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan steroid topikal seperti
clobetasol(salep 0,05% dioleskanselama 45detik3kali sehari)jika lesi terjangkau atau
menggunakan deksametason oral rinse (0,5 mg/5 mldeksametason3 kali sehari,
bilasselama 45detikdandiludahkan) jika lesi berada di daerah yang tidak terjangkau.
Terapi sistemikglukokortikosteroid(prednisone 1 mg/kg) mungkin diperlukan pada
kasus ulkus multiple yang besar yang tidak merespon pada pengobatan topikal. Terapi
alternatif seperti dapsone 50-100 mg/hari dan thalidomine 200 mg/hari selama 4
minggu perlu dipertimbangkan untuk kasus yang buruk.Penggunaan bersamaan
dengan obat anti jamur seperti flukonazol, itrakonazol dan obat anti bakteri seperti
glukonatchlorhexidine oral rinse mungkin diperlukan.
6. Necrotizing Stomatitis
Merupakan ulserasi akut yang nyeri yang sering mengenai daerah tulang di
bawahnya dan menyebabkan kerusakan jaringan yang cukup besar.Lesi ini dapat
merupakan varian dari ulserasi aphthous, tetapi terjadi di daerah permukaan atas
tulang dan berhubungan dengan kerusakan kekebalan tubuh yang parah.Lesi dapat
juga terjadi didaerah edentulous.

Necrotizing Stomatitis
Penatalaksanaan

15

Seperti pada ulserasi aptosa mayor, pengobatan sistemik kortikosteroid atau


topical steroid adalah pilihan untuk pengobatan necrotizing stomatitis.
7. Parotid Enlargement
Infeksi HIV berhubungan dengan penyakit kelenjar ludah yaitu adanya
pembesaran pada kelenjar parotis (parotid enlargement).Pembesaran ini melibatkan
ujung dari kelenjar parotis atau yang lebih jarang kelenjar submandibula, dan dapat
uni atau bilateral dengan periode peningkatan dan penurunan ukuran.Pembesaran
parotis berhubungan dengan progresi yang lambat dari infeksi HIV, yang dapat terjadi
pada

setiap

tingkat

imunosupresi.

Jika

dibandingkan

dengan

kandidiasis,

pasiendengan pembesaran parotis menunjukkan persentase CD4+

yang lebih

tinggi.Pembesaran kelenjar parotis terjadi pada 10-30% anak-anak yang terinfeksi


HIV.Kriteria presumtif,Pembengkakan jaringan lunak difus bilateral atau unilateral,
wajah tampak tidak normal, dapat disertai rasa sakit.Kriteria definitive, Tidak ada
kriteria definitif untuk memastikan diagnosa.
Penatalaksanaan
Peradangan parotis secara rutin dapat diatasi dengan menggunakan zidovudine
(AZT).Rekurensi dapat terjadi sehingga perlu dilakukan biopsi secara berkala.

Pembesaran kelenjar parotis pada HIV

8. Xerostomia
Xerostomia biasa ditemukan pada penderita penyakit HIV, sering sebagai efek
samping dari obat antivirus atau obat lain yang digunakan untuk pasien HIV, seperti
angiolytics, antijamur, dan lain-lain. Xerostomia merupakan faktor resiko yang
signifikan

untuk

karies

dan

dapat

mengakibatkan

kerusakan

gigi

yang

cepat.Xerostomia juga dapat menyebabkan kandidiasis oral, cedera mukosa, nyeri dan
mengurangi asupan makanan.
16

Daftar Pustaka
1. McCullough MJ, Savage NW. Oral candidosis and the therapeutic use of antifungal
agents in dentistry. Aust Dent J 2005;50(2):S36-9.
2. Muzyka B C. Oral fungal infections. Dent Clin N Am 2005;49:49-65.
3. Langlais RP, Miller CS. Atlas berwarna kelainan rongga mulut yang lazim.
Hipokrates : 58.
4. The Ohio State University, Temple University. Oral candidiasis: current concepts in
the diagnosis and management in the institutionalized elderly patient a review. Dental
Forum 2005; 2(33): 65-70.
5.

Kroidl, A., A. Schaeben., et all. Prevalence of Oral Lesions and Periodontal Disease in
HIV Infected Patients On Antiretroviral Therapy. European Journal Of Medical

6.

Research. 2005.
M, Maeve Coogan., Greenspan John., Challacombe J Stephen., Oral Lesions in

7.

Infection With Human Immunodeficiency Virus. Bulletin of The WHO. 2005.


Vaseliu, N., Harrison Kamiru., Mark Kabue., Oral Manifestation Of HIV Infection.

8.

Available at http: www.Obayloraids.org. AccessedFebruary 24, 2008.


Mocroft A, Phillips AN, Halai R, et al. Anti-herpes virus treatment and risk of
Kaposi's sarcoma in HIV infection. Royal Free/Chelsea and Westminster Hospitals

Collaborative Group. AIDS 1996 Sep; 10(10):1101-1105.


9. Ashish S. Bodhade, Sindhu M. Ganvir,Vinay K. Hazarey. Oral manifestations of HIV
infection and their correlation with CD4 count. J of Oral Science ; 2011 : 53: 206
17

10. Arvind Shetti, Ishita Gupta, Shivyogi. Oral candidiasis : Aiding in the diagnois of
HIV- a case report. J Hindawi Publishing Corporation; 2011:2011:2
11. Anwar khan, malik a, subhan khan. Profile of candidiasis in HIV infected patients.
Iranian Journal Of Microbiology;2012:4:207
12. Okonkwo , Alo M, Nworie O, Orji J. Agah M. Prevalence of oral candida albicans
infection in HIV Sero-positive patients in abakaliki. American Journal of Life
Sciences ; 2013:2: 73
13. Smitha Byadarahally R, Shashanka Rajappa. Isolation and identificantion of candida
from the oral cavity. J International Scholarly Research Network;2011 :2-4

18