Anda di halaman 1dari 11

1.

KERUKUNAN ANTAR
UMAT

Pertimbangan :
penduduk Indonesia sedemikian
majemuk, baik mengenai banyaknya
suku bangsa, budaya, bahasa daerah,
agama/kepercayaan yang dianut dan
sebagainya.
2. Pada dasarnya bangsa Indonesia cinta
damai demi persatuan dan kesatuan
bangsa dengan tidak memasalahkan
perbedaan-perbedaan tersebut di atas

Tujuan utama dicanangkannya Tri


Kerukunan Umat Beragama di
Indonesia adalah :
Untuk lebih memantapkan stabilitas
nasional.
Untuk memperkokoh persatuan dan
kesatuan bangsa.

Kerukunan antara Umat


Beragama dengan Pemerintah
Kerukunan intern umat
seagama.
Kerukunan antar umat yang
berbeda agama.

Upaya pencegahan:
untuk mencegah terjadinya ketegangan, benturan ataupun halhal yang tidak diharapkan dan untuk mendukung terwujudnya
kerukunan antar umat yang berbeda agama, pemerintah
mengatur dengan adanya Pedoman Penyiaran Agama di
Indonesia antara lain :
Keputusan Musyawarah Paripurna Majelis Ulama Indonesia (MUI)
tanggal 15 Pebruari 1976 , tentang Konsultasi Antar Umat
Beragama.

Tidak boleh menyebarkan agama kepada mereka yang sudah


beragama lain.
Menyambut baik (anjuran presiden) diadakannya konsultasi
antar umat beragama.

Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia


nomor 70/1978, tanggal 1 Agustus 1978, tentang
Pedoman Penyiaran Agama.

Tidak dibenarkan ditujukan kepada orang


beragama lain.
Tidak dibenarkan dilakukan dengan
memperguna-kan alat pemikat
(materi/finansial).
Tidak dibenarkan dilakukan dengan
menyebarkan pamflet, bulletin, majalah/buku
di daerah/rumah umat/orang yang beragama
lain.
Tidak dibenarkan dilakukan dengan keluarmasuk dari rumah orang yang telah meme;luk
agama lain.

Keputusan Menteri Agama Republik


Indonesia nomor 77/1978, tanggal 15
Agustus 1978. tentang : Bantuan Luar
Negeri kepada Lembaga Keagamaan
di Indoenesia.
Bantuan luar negeri harus
mendapatkanrekomendasi Menteri
Agama Republik Indonesia.
Tenaga asing harus mendapat izin
mdari Menteri Agama Republik
Indonesia.

Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri


Republik Indonesia nomor 01/BER/MDN-MAG/1969, tanggal 13
September 1969, tentang : Pelaksanaan tugas aparatur pemerintahan
dalam menjamin ketertiban dan kelancaran pelaksanaan
pengembangan dan ibadat agama oleh pemeluk-pemeluknya.

Kepala daerah membimbing dan mengawasi penyebaran agama dan


ibadah, agar :

Tidak menimbulkan perpecahan.


Tidak disertai intimidasi, bujukan, paksaan/ ancaman.
Tidak melanggar hukum, keamanan dan ketertiban umum.

Kepala Perwakilan Departemen Agama memberikan bimbingan,


pengarahan dan pengawasan, agar penerangan agama yang
diberikan oleh siapapuntidak bersifat menyerang/menjelekan
agama lain.
Pendirian rumah ibadah perlu mendapatkan izin dari Kepala
Daerah/Pejabat Pemerintahan yang dikuasakan untuk itu.
Pemberian izin setelah mempertimbangkan :

Pendapat Kepala Kantor Wilayah/Perwakilan Departemen Agama


setempat.
Planologi/Tata koyta.
Situasi dan kondisi setempat.

Apabila dianggap perlu, Kepala Daerah meminta pendapat dari


organisasi keagamaan dan ulama/rohaniwan setempat.

Keputusan Pertemuan Lengkap wadah


Musyawarah Antar Umat Beragama,
tanggal 25 Agustus 1981 di Jakarta, tentang
Pelaksanaan Peringatan Hari-hari Besar
Keagamaan.

Dihadiri : Wakil/Penghubung Majelis


Agama, yaitu :

Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI).
Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI).
Parisada Hindu Dharma Pusat (PHDP).
Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI).

Bersepakat menyampaikan saran/rekomendasi kepada


Pemerintah dalam hal ini Menteri Agama, sebagai berikut
:
1. Peringatan Hari-hari Besar Keagamaan merupakan
sarana peningkatan penghayatan dan pengamalan agama
dan sarana dalam pembangunan kerukunan hidup antara
umat beragama.
2. Adalah wajar bila pemeluk agama lain turut menghormati
(sesuai dengan azas kekeluargaan/ bertetangga baik)
sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agamanya.
3. Para pejabat pemerintah hendaknya memberikan
perhatian yang wajar dan adil dalam melayani hajat
keagamaan bagi semua pemeluk agama dalam wilayah
kewenangannya. Kehadirannya dalam upacara
keagamaan dari suatu agama yang tidak dipeluknya,
hendaklah dalam sikap pasif namun hikmat.
4. Pimpinan lembaga kemasyarakatan perlu dihimbau untuk
bijaksana, sehingga tidak menimbulkan adanya kesan
paksaan atau layangan dan pembauran aqidah dan syariat
(ajaran dan aturan) agama yang berbeda-beda.

Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor


MA/432/1981, tanggal 2 September 1981, tentang Penyelenggaraan
Peringatan Hari-hari Besar Keagamaan. Antara lain :

Peringatan Hari-hari Besar Keagamaan pada dasarnya hanya


diselenggarakan dan dihadiri oleh para pemeluk nagama yang
bersangkutan, namun sepanjang tidak bertentangan dengan
aqidah/ajaran agamanya, pemeluk agama lain dapat turut
menghormati sesuai dengan azas kekeluargaan bertetangga yang
baik.
Unsur peribadatan ialah :
Ibadah bagi Islam.
Kebangkitan/liturgia bagi Kristen/Katholik.
Yadnya bagi Hindu.
Kebangkitan bagi Budha.

Unsur perayaan yang di dalamnya tidak ada unsur ibadah


(seperti yang dimaksudkan di atas) dapat dihadiri dan diikuti oleh
pemeluk agama lain.
peribadatan ialah :
Ibadah bagi Islam.

Kebangkitan/liturgia bagi Kristen/Katholik

Cinta damai tetap muncul dari


kesadaran sebagai manusia yang
memiliki perbedaan
Insya Allah