Anda di halaman 1dari 25

1

LARINGITIS
NAFSIYATUSY SYUKRIYA
Pembimbing : dr. Patar Luhut Hamonangan Lumbanraja, Sp. THT-KL

Departemen THT-KL
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
Rumah Sakit Tentara Putri Hijau TK II Kesdam I BB
Medan
2015

PENDAHULUAN
Suatu peradangan
pada laring

Dysphonia, Dysphagia,
Odynophagia, Batuk,
Sesak

Laring hiperemis,
edema, stridor

Bailey, Byron J., Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 4th Edition, Lippincott Williams &
Wilkins, 2006, Ch 59

Anatomi Laring

Anatomi Laring
Supraglottis
Diatas glottis Jalur masuk
laring sinus morgagni

Glottis
Pita suara +/- 1 cm

Subglottis
Dibawah dari glottis
batas bawah dari catrilago
cricoid

Probst, Rudolf, et all. Basic Otorhinolaringology. Thieme, 2006.


Ch17. p337-384

Otot-otot Laring
Otot Ekstrinsik
- Otot Elevator
(m.Stilohioideus,
m.geniohioideus,
m.genioglosus, m.hioglosus,
m.digastrikus,
m.milohioideus)
- Otot Depresor
(m. omohioideus,
m.tiroideus,
m.sternocleidomastoideus,)
Tortora, Gerard J. Principles of Anatomy and Physiology. Wiley, 2006. p347

Persarafan
N.Laringeus
Superior

Cab.Interna bersifat sensorik :


vallecula,epiglotis, sinus pyriformis, dan
mucosa bagian dlm laring diatas pita suara
sejati
Cab.Eksternabersifat motoris : m.kriotiroid

N.Laringeus
Inferior

Sensoris : daerah sub glotis dan bag. atas


trakea
Motoris : semua otot laring kecuali
m.krikotiroidea

Aliran Limfe dan Vaskularisasi

Arteri dialiri oleh :


Arteri tiroid superior
Arteri tiroid inferior
Vena mengalir melalui :
Vena tiroid superior dan medial
Vena jugularis interna
Vena tiroid inferior vena
Brachiocephalic kiri
Aliran limfe :
Lateral melalui Kelenjar dalam
leher dan kelenjar paratrakeal
Medial Kelenjar prelaringeal dan
pretrakeal

Probst, Rudolf, et all. Basic Otorhinolaringology. Thieme, 2006.


Ch17. p337-384

Fisiologi Laring

Fungsi Fonasi
Fungsi Proteksi
Fungsi Respirasi
Fungsi Sirkulasi
Fungsi Menelan
Fungsi Batuk
Fungsi Emosi

LARINGITIS AKUT :
Suatu kelainan yang disebabkan adanya peradangan
akut pada laring.

LARINGITS

LARINGITIS KRONIS :
Peradangan kronis pada laring > 3 minggu

Demam
Malaise
Nyeri ketika menelan atau bicara
Suara parau >> afoni
Batuk kering >> Dahak kental

Bakteri radang lokal


Virus radang sistemik

Gejala
Etiologi

LARINGITIS AKUT
10

11

LARINGITIS AKUT
Pemeriksaan Fisik
Hiperemis
Edema Obstruksi

Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pada Rontgen leher steeple
signpenyempitan daerah subglotis
11

Istirahat berbicara 2-3 hari


Menghirup udara lembab
Menghindari iritasi
Antibiotika
Pemasangan pipa endotrakea atau
trakeostomi

Terapi

LARINGITIS AKUT
12

Gejala

Suara parau yang menetap


Rasa tersangkut di tenggorok >> mendehem
tanpa mengeluarkan sekret

Tanda

Tampak mukosa menebal, permukaannya tidak rata


dan hiperemis
Bila terdapat daerah yang dicurigai menyerupai
tumor, maka perlu dilakukan biopsi

Sinusitis kronis
Deviasi septum yang berat
Polip hidung
Bronkitis kronis
Vocal Abuse

Etiologi

LARINGITIS KRONIS
13

Mengobati peradangan di hidung,


faring serta bronkus yang
mungkin menjadi penyebab
laringitis kronis itu
Vocal rest

Terapi

LARINGITIS KRONIS
14

15

Laringitis
kronis spesifik
Laringitis
tuberkulosa
Laringitis
luetika

16

Laringitis Tuberculosis
Tuberkulosis paru aktif
M.Tuberculosis
Infeksi melalui udara pernapasan,
sputum yang mengandung kuman,
penyebaran melalui aliran darah atau
limfa
16

17

Gejala :

Serak
disphagia atau odinophagia
Batuk lama
Penurunan berat badan
Demam

Diagnosis :
Sputum samples (+)
Karakteristik yang jelas pada
rontgen thorak
Hasil biopsi (+)

18

Laringitis Tuberculosa
Tahapan Stadium
1. Stadium infiltrasi
Hiperemis mukosa laring bagian posterior dan kadang-kadang
pita suara terkena juga.
Mukosa laring berwarna pucat.
Submukosa terbentuk tuberkel semakin membesar timbul
ulkus.

2. Stadium ulserasi
Ulkus membesar.
Ulkus ini dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkijuan, serta sangat
dirasakan nyeri oleh pasien.

19

3. Stadium perikondritis
Terjadi kerusakan tulang rawan (kartilago eritenoid dan
epiglottis nanah yang berbau sequester. Keadaan pasien
pada stadium ini sangat buruk dan dapat meninggal dunia.

4. Stadium pembentukan tumor


Rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring
Suara parau berlangsung berminggu-minggu, bahkan bias
afoni
Hemoptisis
Nyeri menelan yang hebat.
Keadaan umum buruk
Pada pemeriksaan paru (secara klinis dan radiologis)
terdapat proses aktif (biasanya pada stadium eksudatif atau
pada pembentukan kaverne)

20

Histopathologi
Tubercles berisi center dari kaseosa
yang homogen
A perifer dari sel epitel yang
mengandung satu atau lebih sel
giant
Zona luar yang berisi lymfosit

Terapi

Isoniazide
Ethambutol
Rifampicin
Streptomycin

21

Laringitis Luetika
Yaitu pembentukan guma,
menyerupai keganasan
laring

Ditemukan pada lues


stadium tertier (ketiga)

Gambaran klinis
Guma pecah -> ulkus (sangat dalam, tepi
dengan dasar yang keras, berwarna merah tua,
eksudat kekuningan)
Ulkus tidak nyeri dan menjalar cepat ->
perikondritis
16/06/2010

ER-REFERAT

21

22

Laringitis Luetika
Gejala
Suara parau
Batuk kronis
Disfagia (guma dekat introitus esofagus)
Diagnosis
Laringoskopik dan serologik

Terapi
Penisilin, pengangkatan sekuester
trakeostomi
16/06/2010

ER-REFERAT

22

23

KesimpulanKESIMPULAN
Laringitis merupakan proses inflamasi pada laring,
ditandai dengan perubahan suara
Laringitis akut banyak diderita pada anak anak, proses
penyakit berjalan cepat dan tidak jarang menimbulkan
sumbatan jalan nafas
Pada laringitis kronis penting untuk membedakan
dengan proses keganasan

23

24

KESIMPULAN
Pemeriksaan dengan laringoskopi merupakan suatu
standar baku emas dalam pemeriksaan fisik untuk
mengintepretasi kelainan yang terdapat pada laring
Dalam menangani laringitis akut atau kronis, ada tiga hal
yang perlu dilakukan : progresifitas dari gejala terutama
yang berkaitan dengan dispneu, gejala yang berkaitan
dengan gejala sistemik dan faktor predisposisi

24

25

TERIMA KASIH

25