Anda di halaman 1dari 32

Makalah KISMIS #9 KUPAS TUNTAS

FIQIH PUASA dari sisi Islam dan


Kesehatan (EDISI LENGKAP)
Posted on July 1, 2013 by takmirohibsin
1

Makalah dr. Avie Andriyani


29 Juni 2013, Fakultas Kedokteran UGM

Manfaat Puasa bagi Kesehatan


Tetap Bugar di Bulan Puasa
Puasanya Orang Sakit
Puasa dalam Kondisi Khusus
Penggunaan Alat Kedokteran Modern ketika Puasa

PUASA

DITINJAU DARI SISI SYARI DAN MEDIS


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala menjanjikan bagi orang-orang yang berpuasa akan
mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat kelak, bahkan mereka akan memasuki surga dari
pintu yang dikhususkan buat mereka yaitu pintu ar Rayyan. Oleh karena itu, kita semua berharap
mendapatkan ganjaran yang terbesar dengan melaksanakan kewajiban puasa sebagaimana
Rasulullah shallallahualaihi wa sallam berpuasa dan menghindari pembatal-pembatal di zaman
modern yang mungkin belum jelas hukumnya bagi kebanyakan kaum muslimin.
MANFAAT PUASA DARI SISI KESEHATAN
Setiap perintah dari Allah pasti mengandung hikmah baik yang bisa kita saksikan maupun yang
tersimpan di sisi Allah Subhanahu wa Taala. Meskipun sudah banyak penelitian dan bukti
mengenai manfaat puasa bagi kesehatan, namun kita tidak diperkenankan melaksanakan puasa
hanya dengan tujuan supaya sehat.
Bulan Ramadhan yang penuh berkah menyimpan banyak sekali manfaat bagi kaum muslimin
yang menjalankan puasa Ramadhan. Salah satu manfaat yang bisa diraih adalah sehatnya badan
dengan berpuasa. Banyak orang yang membuktikan badan terasa lebih sehat dan bugar ketika
menjalani puasa. Orang-orang yang sedang sakit pun tidak ketinggalan ikut merasakan
manfaatnya yaitu penyakitnya membaik dan dapat terkontrol. Dengan berpuasa, ternyata banyak
keuntungan yang diperoleh tubuh, yang tidak didapat ketika seseorang sedang tidak menjalankan
puasa.
Ditinjau dari sudut pandang kesehatan, banyak manfaat yang akan diperoleh seseorang ketika
menjalankan puasa. Bahkan, banyak hasil laporan penelitian baik di bidang ilmu kedokteran dan
gizi kesehatan yang menunjukkan kebenaran adanya manfaat puasa bagi kesehatan. Artikel ini
akan menggambarkan beberapa manfaat puasa bagi kesehatan, meskipun belum semua manfaat
puasa dapat diketahui, karena penelitian terus menerus dilakukan oleh banyak ahli, baik para
peneliti muslim maupun non muslim. Di antara manfaat yang Allah Subhanahu wa Taala
berikan melalui ibadah puasa tersebut ialah:
1. Puasa Mengatur Kadar Gula Darah Khususnya pada Penderita DM
Puasa sangat bagus dalam menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar
seimbang. Berdasarkan hal ini, puasa sesungguhnya memberikan kesempatan kepada kelenjar
pankreas untuk beristirahat, sehingga kerja pankreas mengeluarkan insulin yang menetralkan
gula menjadi zat tepung dan lemak pun menjadi ringan. Apabila makanan yang dimakan
merangsang produksi insulin yang berlebihan, dengan kekuasaan Allah, maka pankreas akan
mengalami tekanan dan melemah. Pada tahap berikutnya, pankreas tidak bisa menjalankan
fungsinya, akibatnya kadar gula darah akan merambat naik, sehingga akhirnya muncul penyakit
diabetes.
2. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Berpuasa ternyata juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Mekanismenya antara lain adalah
pengurangan konsumsi kalori akan membuat berkurangnya laju metabolisme energi. Buktinya,
suhu tubuh orang berpuasa akan menurun, dan itu menunjukkan adanya pengurangan konsumsi
oksigen. Puasa juga akan mengurangi produksi senyawa oksigen yang bersifat racun (radikal
bebas oksigen).
Dilaporkan, sekitar 3% dari oksigen yang digunakan sel akan menghasilkan radikal bebas
oksigen, dan itu akan menambah tumpukan oksigen racun, seperti anion superoksida (O2-) dan
hidrogen peroksida (H2O2), yang secara
alamiah terjadi dalam tubuh. Kelebihan radikal bebas oksigen itu akan mengurangi aktivitas
kerja enzim, sehingga menyebabkan terjadinya mutasi dan kerusakan dinding sel, dengan izin
Allah Subhanahu wa Taala.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pada saat puasa akan terjadi peningkatan limfosit (sel
darah putih yang berperan dalam pertahanan tubuh ) hingga sepuluh kali lipat. Kendati
keseluruhan sel darah putih tidak berubah, ternyata sel T (salah satu jenis limfosit) mengalami
kenaikan pesat. Lebih jauh lagi, terjadi pula perubahan aksidental lipoprotein yang berkepadatan
rendah (LDL, biasa dikenal sebagai lemak jahat), tanpa diikuti penambahan HDL (Highdensity lipoprotein, dikenal sebagai lemak baik). LDL merupakan model lipoprotein yang
memberikan pengaruh stimulasi bagi respon imunitas tubuh.
3. Detoksifikasi
Detoksifikasi adalah isu yang paling banyak diangkat dalam pembahasan manfaat berpuasa.
Detoksifikasi adalah proses normal tubuh untuk mengeliminasi atau memurnikan racun melalui
hati, usus besar, ginjal, paru- paru, kelenjar limpa, dan kulit. Proses ini dipercepat dengan
berpuasa, karena ketika makanan tidak lagi memasuki tubuh, maka tubuh akan mengubah
simpanan lemak menjadi energi.
Nilai lemak pada manusia adalah 3.500 kalori per pon. Suatu nilai yang cukup untuk
memberikan energi bagi aktivitas sehari-hari. Simpanan lemak terjadi karena adanya kelebihan
glukosa dan karbohidrat yang tidak digunakan sebagai sumber energi dan untuk pertumbuhan.
Kelebihan glukosa dan karbohidrat ini disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak dan tidak
dibuang. Saat simpanan lemak digunakan untuk energi selama berpuasa, proses ini melepaskan
zat kimia yang berasal dari asam lemak ke dalam sistem pencernaan, yang kemudian dieleminasi
melalui organ-organ pembuangan.
Manfaat puasa berikutnya adalah membantu proses penyembuhan, yang dimulai dalam tubuh
selama berpuasa. Selama berpuasa, energi dialihkan dari sistem pencernaan, karena energi tidak
dibutuhkan untuk aktivitas pencernaan. Energi akan digunakan untuk metabolisme dan sistem
kekebalan tubuh. Proses penyembuhan selama berpuasa dipercepat dengan pencarian sumber
energi baru dalam tubuh.
4. Mencegah Stroke

Manfaat puasa, menurut beberapa hasil penelitian ilmiah, antara lain dapat mengurangi risiko
stroke. Puasa juga dapat memperbaiki kolesterol darah. Kadar kolesterol darah yang tinggi dalam
jangka panjang akan menyumbat saluran pembuluh darah dalam bentuk aterosklerosis
(pengapuran atau pengerasan pembuluh darah). Bila aterosklerosis terjadi di otak, biqadarillah
(dengan takdir Allah), hal ini akan berujung pada stroke. Dan bila terjadi di daerah jantung,
aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit jantung.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa puasa dapat meningkatkan kolesterol darah HDL 25 titik
dan menurunkan lemak trigliserol sekitar 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk
kolesterol LDL yang dapat mengganggu kesehatan.
Selain itu, keadaan psikologis yang tenang, teduh, dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa
ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat seseorang marah, ditubuhnya akan terjadi
peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi
otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner,
meningkatkan tekanan darah arterial, dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak
jantung.
Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol LDL. Berbagai hal tersebut ternyata dapat
meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke,
dan lainnya. Subhanallah.
5. Puasa Menurunkan Faktor Risiko Terkena Penyakit Kardiovaskular (Jantung dan
Pembuluh darah)
Saat berpuasa, di dalam tubuh ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa-1, serta
penurunan LDL. Hal ini bifadhlillah (dengan keutamaan Allah) sangat bermanfaat bagi
kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian chronobiological menunjukkan
bahwa puasa Ramadhan berpengaruh terhadap penurunan distribusi ritme sirkardian dari suhu
tubuh, hormon kortisol, melatonin, dan glikemia.
Berbagai perubahan yang meskipun tampak ringan tersebut ternyata berperanan juga bagi
peningkatan kesehatan manusia. Selain itu, puasa dapat menurunkan faktor risiko peningkatan
terjadinya aterosklerosis yang dapat menyebabkan iskemia/penyumbatan pembuluh darah dan
berakibat infark jantung, stroke, dan penyakit penyumbatan pembuluh darah tungkai bawah.
Hasil penelitian oleh Abdul Mughni (2005), menunjukkan bahwa puasa Ramadhan selama 29
hari dapat mengurangi faktor risiko aterosklerosis, yakni dengan menurunkan berat badan dan
kadar trigliserida. Hal ini dikuatkan penelitian oleh Hari Basuki (2005), yang menyatakan bahwa
puasa selama bulan Ramadhan dapat menurunkan risiko kardiovaskuler melalui penurunan rasio
lingkar pinggang dan pinggul.
6. Memacu Fungsi dan Kerja Sel Darah Merah
Penghentian konsumsi air selama puasa ternyata sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin
dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml

osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu, hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi
ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah.
Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah
prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.
7. Membangun Sel Baru dan Membersihkan Sel Lemak yang Menggumpal di dalam Hati
Jumlah sel yang mati di dalam tubuh dapat mencapai 125 juta per detik, namun yang lahir dan
meremaja lebih banyak lagi. Saat puasa, terjadi perubahan dan konversi yang massif dalam asam
amino yang terakumulasi dari makanan. Sebelum didistribusikan, di dalam tubuh terjadi
mekanisme format ulang, sehingga memberikan kesempatan bagi tunas baru sel untuk
memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya.
Pola makan saat puasa dapat menyuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur
dan berbuka, sehingga terbentuk tunas-tunas protein, lemak, fosfat, kolesterol, dan lainnya untuk
membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati.
8. Mencegah Tumor
Puasa juga berfungsi sebagai dokter bedah yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah
di dalam tubuh. Rasa lapar orang yang berpuasa bisa menggerakkan organ-organ internal tubuh
untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusak atau lemah tadi untuk menutupi rasa
lapar. Hal itu merupakan saat yang bagus bagi badan untuk mengganti sel- sel yang lemah tadi
dengan sel- sel baru, sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas.
9. Membantu Pemulihan Penyakit Persendian
Seseorang yang mengalami gangguan pada sendi berupa pengapuran (osteoartritis) terutama
pada sendi lutut dan sendi tulang belakang dengan terjadinya pengurangan berat badan juga akan
membantu memperbaiki gangguan sendi yang terjadi. Jelas jika puasa Ramadhan dilaksanakan
dengan baik berat badan dapat dikontrol dan dikurangi sehingga akan memperbaiki keadaan
penyakit kronis yang ada. Tetapi tentunya hal ini dapat terwujud jika kaedah-kaedah selama
puasa dapat dilaksanakan dengan baik yaitu tidak makan dan minum yang berlebih-lebihan serta
banyak mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran dan melakukan aktivitas olah raga ringan. Salah
satu aktivitas fisik yang sangat baik adalah melaksanakan sholat tarawih yang bermanfaat
membantu membakar lemak di dalam tubuh kita jika dilakukan secara rutin selama bulan
Ramadhan.
10. Membantu Pemulihan Penyakit Gastritis
Seseorang dengan sakit maag karena kelainan fungsional, pola makannya akan lebih teratur
selama puasa Ramadhan. Pada saat sahur dan berbuka, mereka akan menghindari camilancamilan yang mengandung coklat, keju, makanan berlemak dan berminyak, dimana hal ini akan
baik bagi penyembuhan sakit maagnya. Selain mengkonsumsi makanan camilan yang kurang
sehat untuk lambung, minuman yang mengandung soda kopi dan alkohol serta rokok juga akan
dikurangi selama berpuasa Ramadhan.

Selama berpuasa tentunya mereka juga akan lebih mengendalikan diri terutama mengendalikan
stres dimana faktor stres ini merupakan faktor yang dominan dalam menimbulkan gangguan
pada lambung penderita maag karena kelainan fungsional. Makan secara teratur disertai
berkurangnya konsumsi makanan camilan dan minuman yang tidak sehat untuk lambung serta
mengendalikan diri dari stres merupakan faktor penting yang membuat kondisi penderita sakit
maag membaik selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
11. Manfaat Lainnya
Puasa juga berfungsi menjaga badan dari berbagai kelebihan zat-zat yang berbahaya, seperti
kelebihan kalsium, kelebihan daging, dan kelebihan lemak. Puasa dapat pula mencegah
terjadinya tumor pada awal-awal pembentukannya. Pertumbuhan sesuatu yang tidak normal
dalam tubuh, seperti tumor dan sejenisnya, yang tidak mendapat dukungan penuh suplai
makanan dalam tubuh lebih rentan terhadap autolysis (hancur). Selain itu, produksi protein untuk
penggantian sel-sel yang rusak (sintesis protein) menjadi lebih efisien, karena kesalahan yang
lebih sedikit dilakukan oleh kontrol genetik DNA/RNA, yang berperan dalam proses ini.
Efisiensi yang lebih baik dalam sintesa protein menghasilkan sel, organ, dan jaringan yang lebih
sehat. Itulah mengapa hewan berhenti makan ketika mereka terluka, dan mengapa manusia
kehilangan rasa lapar ketika sakit influenza. Kelaparan terbukti tidak terjadi pada orang yang
mengalami gastritis, tonsilitis, dan demam. Sebab, saat berpuasa, orang secara tidak sadar
mengalihkan energi dari sistem pencernaan ke sistem kekebalan.
Demikianlah gambaran dari beberapa hasil penelitian medis modern yang mengungkapkan
manfaat puasa bagi kesehatan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa manfaat puasa terbatas
hanya seperti penjelasan di atas. Namun, masih terdapat segudang penelitian yang terus
dilakukan oleh banyak ahli baik muslim dan non muslim untuk menggali manfaat-manfaat
lainnya.
Pada akhirnya, banyak hasil laporan penelitian modern yang mendukung kebenaran manfaat dan
hikmah dari perintah berpuasa tersebut, sehingga tiada keraguan sedikitpun bagi kita umat
muslim bahwa Allah tidak akan memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali pasti
syariat-Nya itu penuh dengan maslahat duniawi maupun ukhrawi, dan jauh dari kesia-siaan
belaka.
TETAP BUGAR DI BULAN PUASA
Setiap muslim tentu menginginkan badan tetap bugar meski sedang menjalankan ibadah
puasa. Ibadah yang satu ini membutuhkan kesiapan fisik karena kita pasti akan
mengalami rasa haus dan lapar. Selain itu, rasa lemas pun kerap melanda. Jangan
khawatir, karena kita bisa menyiasatinya dengan melakukan berbagai tips sehat berikut
ini :
Ketika Sahur
1. Jangan Tinggalkan Makan Sahur

Sahur sangat penting untuk mendukung kelancaran ibadah puasa, karena makanan yang kita
santap pada saat sahur akan menjadi cadangan energi selama kita berpuasa. Oleh karena itu,
usahakan untuk tidak meninggalkan sahur ketika akan berpuasa karena terdapat berkah dalam
makan sahur. Seperti yang terdapat dalam hadits dari Anas Ibnu Malik , bahwa Rasulullah
bersabda : Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya
(Muttafaq Alaih).
2. Makan dengan Porsi Normal, Jangan Berlebihan
Meskipun sangat dianjurkan untuk makan sahur, namun hendaknya dalam jumlah yang tidak
berlebihan, karena akan menyebabkan melonjaknya kadar gula dalam darah serta merangsang
keluarnya hormon insulin secara berlebihan. Hormon insulin ini akan mengangkut gula darah ke
seluruh jaringan tubuh guna diubah menjadi glikogen atau lemak. Apabila kita makan terlalu
banyak, maka glikogen dan lemak yang dihasilkan juga berlebihan. Padahal, lemak yang
berlebihan sukar diuraikan menjadi gula darah kembali. Akibatnya, seseorang yang makan
berlebihan saat sahur tidak bertambah segar, tapi justru semakin merasa lesu.
2. Konsumsi Karbohidrat Kompleks
Karbohidrat kompleks, adalah jenis karbohidrat yang lama dicerna tubuh sehingga bisa
memberikan cadangan energi lebih lama. Karbohidrat kompleks terdapat pada nasi merah,
gandum utuh, roti gandum, biji-bijian, serta buah dan sayuran.
Produk olahan gandum utuh, serta buah dan sayur yang kaya serat tidak hanya menyediakan
energi tapi juga memperlambat sistem pencernaan sehingga perut terasa kenyang lebih lama.
3. Makan Perlahan
Jangan makan terburu-buru. Makan terlalu cepat bisa mengganggu kadar gula dalam darah dan
membuat perut terasa cepat lapar beberapa jam setelah sahur. Hal ini karena saat makan dengan
cepat, tubuh akan bekerja lebih keras agar nutrisi bisa terserap. Karena proses itulah, nutrisi yang
didapatkan tubuh pun kurang sempurna dan akibatnya tubuh cepat lemas.
4. Cukup Minum
Saat sahur, lebih sehat meminum air putih untuk menyediakan cadangan cairan selama berpuasa.
Perbanyak juga konsumsi buah dan sayur tinggi air seperti semangka atau ketimun. Hindari soda,
kopi, dan teh terlalu banyak karena bisa menyebabkan dehidrasi.
5. Jangan Sembarangan minum suplemen dan minuman isotonic
Bagi kebanyakan orang, mengonsumsi suplemen tentu lebih praktis dan mudah daripada
mengonsumsi sayuran dan buah-buahan segar. Hal seperti ini tentu sangat disayangkan, karena
dosis yang ditawarkan produsen suplemen terlalu tinggi. Dalam kondisi sehat, kebutuhan vitamin
C orang dewasa hanya 60-100 mg sehari. Kebutuhan anak hanya 35 mg sehari. Sedangkan ibu
hamil dan menyusui membutuhkan vitamin C lebih banyak lagi. Disarankan untuk mengonsumsi

vitamin C dari sumber yang alami, antara lain sayur dan buah-buahan seperti jambu biji, tomat,
jeruk, dan lain-lain.
Sebaiknya mengurangi konumsi minuman isotonic yang diklaim bisa menggantikan cairan tubuh
selama berpuasa. Hal ini mengingat kandungan natriumnya yang cukup tinggi sehingga
berbahaya bagi penderita hipertensi. Selain itu kandungan gulanya juga tidak baik bagi penderita
diabetes mellitus (kencing manis). Minuman isotonik juga umumnya berasa asam, sehingga akan
mengganggu fungsi lambung pada orangorang yang menderita maag maupun penyakit lambung lainnya. Oleh karena itu, kita tidak perlu
mengkonsumsi minuman isotonik untuk mengganti cairan tubuh pada kondisi normal. Minuman
isotonik lebih cocok untuk dikonsumsi oleh atlet-atlet olahraga berat karena kebutuhan akan
elektrolit seperti Natrium untuk atlet olahraga berat memang lebih tinggi dari pada orang biasa,
yaitu antara 5-7 gram per hari. Bila merasa kekurangan cairan akibat berpuasa, Anda dapat
mencoba mengganti minuman isotonik dengan air kelapa muda secukupnya. Air kelapa muda
dipercaya sebagai minuman isotonik alami, karena dapat menambah energi serta meningkatkan
stamina bagi yang meminumnya. Air kelapa muda juga mengandung mineral dan gula dengan
komposisi yang pas sehingga memiliki keseimbangan elektrolit yang baik
6. Kurangi makanan manis
Makanan manis akan membuat tubuh melepaskan insulin dengan cepat sehingga memicu rasa
cepat lapar. Fungsi insulin adalah memasukkan gula dari dalam darah ke dalam sel-sel tubuh dan
digunakan sebagai sumber energi. Makanan yang manis hanya bertahan 2 jam setelah dimakan.
Padahal kita harus menahan puasa selama 14 jam jadi akan ada waktu 12 jam kondisi tubuh akan
lemas.
7. Jangan langsung tidur lagi setelah sahur dan sholat subuh
Tidur setelah sahur ini akan membuat tubuh merasa lemas dan cepat lapar, karena saat tidur ion
akan keluar, jadi kalau kita tidur setelah melaksanakan sahur, maka kita akan cepat kehilangan
cairan dalam tubuh kita, sehingga saat pukul 9 pagi kita akan merasa lapar dan haus, serta kita
juga akan malas melakukan sesuatu. Setelah sholat subuh bisa diisi dengan membaca dzikir pagi,
membaca, dan menghafal Al-Quran. Setelah itu, bisa dilanjutkan dengan berolahraga kecil di
depan rumah sambil menghirup udara segar, maka tubuh akan lebih bugar. Kalau perlu, lepas
juga sandal dan berjalan di atas kerikil berukuran agak besar untuk melancarkan peredaran darah.
Siang Hari hingga Menjelang Berbuka
1. Kerjakan aktivitas seperti biasa. Tidak perlu memangkas aktivitas atau rutinitas harian
karena khawatir lemas. Tubuh bisa menyesuaikan diri dalam kondisi puasa. Banyak aktivitas
justru bisa mengalihkan kita dari rasa haus dan lapar. Namun, sebaiknya mengurangi kegiatan
yang ekstrim dan bisa menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang fatal.

2. Jangan Terlalu banyak tidur. Apabila siang hari Anda mengantuk, cobalah untuk melihat
tetumbuhan hijau dan menggerakkankan badan sejenak. Tubuh akan terasa lebih ringan dan
Anda siap menanti berbuka puasa.
3. Sempatkan untuk Tidur siang. Tidak siang yang singkat namun berkualitas sangat
bermanfaat untuk mencharge kembali energi kita ketika menjalankan ibadah puasa. Tak hanya
bermanffat jika ditinjau dari sisi kesehatan. Yang lebih penting lagi, tidur siang adalah sunnah
yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Beliau
memerintahkan kita untuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik :
Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat
siang.
(HR. Abu Nuaim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah
no. 1637: isnadnya shahih).
Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur.
(An-Nihayah fi Gharibil Hadits)
4. Senantiasa Memaksa Jiwa untuk Berbuat Kebaikan. Fitrah jiwa manusia adalah senantiasa
malas, untuk itu sudah seharusnya kita melecut diri untuk senantiasa menetapi kebaikan. Setiap
akan beraktivitas hendaknya kita pertimbangkan apakah sudah sesuai syari, apakah bernilai
pahala atau hanya sia-sia saja. Ditinjau dari sisi ilmu kejiwaan, semangat untuk selalu berbuat
baik akan memberikan energi positif yang membuat badan terasa lebih segar.
5. Hindari Aktivitas yang tidak Bermanfaat. Jalan-jalan menjelang berbuka puasa jika
dikhawatirkan akan menjurus pada tindakan sia-sia sebaiknya kita tinggalkan. Apalagi jika
sampai menyebabkan kita mengumbar pandangan pada hal-hal yang tidak halal bagi kita. Selain
kurang bermanfaat, aktivitas seperti ini juga cukup menyita tenaga kita. Kita dituntut untuk
memanfaatkan waktu dalam kebajikan dan bukan dalam hal yang sia-sia atau tidak bermanfaat
apa-apa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan
Islam seseorang,



Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat
baginya.
(HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi)
6. Melakukan Olahraga
Bagi yang sudah terbiasa berolahraga, badan justru pegal-pegal jika tidak melakukannya.
Olahraga biasanya dipandang menguras tenaga, oleh karena itu disarankan dilakukan menjelang
berbuka sehingga ketika haus bisa segera minum ketika waktu berbuka sudah tiba. Olahraga
yang disarankan antara lain jogging (lari-lari kecil), bersepeda, dan senam ringan.

Ketika Berbuka Puasa


1. Segerakan berbuka ketika waktunya telah tiba. Seperti yang terdapat dalam salah satu
hadits dari Sahl Ibnu Saad , bahwa Rasulullah bersabda : Orang-orang akan tetap dalam
kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (Muttafaqun Alaih). Syariat Islam yang
sempurna telah mengajarkan pada kita supaya tidak memberat-beratkan diri dengan menunda
berbuka puasa padahal waktunya telah tiba karena hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan
terutama pada organ lambung.
2. Sebaiknya tidak langsung makan dan minum terlampau banyak. Berbuka puasa dengan
makanan berat dalam jumlah banyak justru memberatkan kerja lambung yang sudah dibiarkan
beristirahat sekitar 12 jam. Jangan sampai menjadikan waktu berbuka puasa sebagai ajang balas
dendam setelah seharian menahan lapar dan haus.
3. Disarankan makan dan minum yang manis, ringan, dan mudah dicerna. Salah satu
makanan yang paling pas disantap ketika berbuka adalah kurma. Kandungan gizi yang terdapat
dalam kurma tidak diragukan lagi, yaitu mengandung banyak serat, vitamin, dan mineral yang
dibutuhkan oleh tubuh kita.
Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya
berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka
beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka
dengan seteguk air. (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)
4. Setelah kadar gula darah berangsur-angsur kembali normal, lakukan shalat maghrib. Selang
setengah jam setelah shalat maghrib, makanlah menu lengkap secukupnya. Setelah shalat
tarawih, boleh makan lagi, jika masih merasa lapar.
PUASANYA ORANG SAKIT
Yang dimaksudkan sakit adalah seseorang yang mengidap penyakit yang membuatnya tidak lagi
dikatakan sehat. Para ulama telah sepakat mengenai bolehnya orang sakit untuk tidak berpuasa
secara umum. Nanti ketika sembuh, dia diharuskan mengqodho puasanya (menggantinya di hari
lain). Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Taala,


Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al Baqarah:
185)
Untuk orang sakit ada tiga kondisi :
1. Kondisi pertama adalah apabila sakitnya ringan dan tidak berpengaruh apa-apa jika tetap
berpuasa. Contohnya adalah pilek, pusing atau sakit kepala yang ringan, dan perut keroncongan.
Untuk kondisi pertama ini tetap diharuskan untuk berpuasa.

2. Kondisi kedua adalah apabila sakitnya bisa bertambah parah atau akan menjadi lama
sembuhnya dan menjadi berat jika berpuasa, namun hal ini tidak membahayakan. Untuk kondisi
ini dianjurkan untuk tidak berpuasa dan dimakruhkan jika tetap ingin berpuasa.
3. Kondisi ketiga adalah apabila tetap berpuasa akan menyusahkan dirinya bahkan bisa
mengantarkan pada kematian. Untuk kondisi ini diharamkan untuk berpuasa. Hal ini berdasarkan
firman Allah Taala,

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. (QS. An Nisa: 29)
PUASA DALAM KONDISI KHUSUS
Tanpa terasa, bulan suci Ramadhan akan menyapa kita lagi. Banyak keutamaan pada bulan ini,
diantaranya adalah dilipatgandakannya pahala amal ibadah dan diampuninya dosa-dosa. Tentu
kita tidak ingin melewatinya dengan sia-sia, bahkan kita tidak ingin niatan amal soleh di bulan
Ramadhan ini terhalang oleh sesuatu, terutama sakit. Demikianlah harapan kita, namun apa yang
hendak dikata jika qadarullah (karena takdir Allah) kita dapati diri kita dalam kondisi kesehatan
yang kurang mendukung terlaksananya ibadah puasa. Janganlah kita berkecil hati, karena pada
kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai puasa dalam kondisi khusus, seperti pada ibu hamil,
menyusui, lansia (lanjut usia), dan orang dengan penyakit tertentu.
1. JIKA IBU HAMIL ATAU MENYUSUI INGIN BERPUASA
Meskipun ada keringanan untuk tidak berpuasa, ada kalanya seorang wanita hamil atau
menyusui ingin berpuasa. Mengingat kondisi tiap wanita berbeda antara yang satu dengan yang
lainnya, maka tidak heran jika ada yang tidak sanggup berpuasa, namun ada pula yang sanggup
berpuasa hingga satu bulan penuh. Beberapa yang perlu diperhatikan jika ingin berpuasa:
Konsultasikan dengan dokter mengenai kemungkinan berpuasa dalam kondisi hamil atau
menyusui. Seorang dokter akan memberikan nasihat sesuai dengan kondisi masing-masing ibu.
Adakalanya tidak diperbolehkan, tapi ada pula yang diperbolehkan dengan beberapa catatan.
Mantapkan tekad terlebih dahulu, karena keyakinan akan sanggup berpuasa bisa
menghilangkan was-was atau kekhawatiran akan kondisi ibu maupun anak. Mitos makan untuk 2
orang (ibu dan anak) ketika hamil atau menyusui tidak sepenuhnya benar. Memang kebutuhan
kalori dan zat gizi lainnya akan meningkat ketika hamil atau menyusui, namun bukan berarti
dilipatgandakan menjadi dua kalinya. Pada dasarnya tidak ada efek buruk secara langsung bagi
janin yang dikandung atau bayi yang disusui, selama ibu tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi
sehari-hari.
Pada dasarnya, berpuasa bisa dikatakan hanya menggeser waktu makan, sehingga ibu hamil
atau menyusui tidak perlu khawatir akan makan lebih sedikit dari biasanya. Cara memenuhi
kebutuhan kalori pada saat sedang hamil atau menyusui tapi tetap ingin berpuasa, salah satunya
adalah dengan makan lagi setelah sholat tarawih. Tentu saja, makanan yang disantap tidak harus

makanan berat, tapi bisa juga camilan padat gizi yang menyehatkan atau kudapan berbahan sayur
dan buah (misalnya salad). Dengan begitu, seorang ibu hamil atau menyusui tetap makan 3 kali
sehari.
Bagi ibu menyusi, dalam menu sahur dan berbuka hendaknya ditambah makanan yang
merangsang produksi ASI seperti daun katuk dan daun pepaya, serta diusahakan banyak minum
air hangat. Biasanya, pola menyusui akan berubah. ASI pada siang hari lebih sedikit
dibandingkan malam hari. Usahakan menyusui setelah sahur lebih lama dan segera susui bayi
setelah berbuka.
Konsumsi suplemen bagi ibu hamil dan menyusui (zat besi, kalsium, asam folat, dan lainlain).
Hendaknya mengukur kemampuan diri sendiri. Jangan sampai hanya karena ingin seperti ibu
lain yang sanggup berpuasa ketika hamil atau menyusui, kemudian memaksakan diri untuk tetap
berpuasa. Jika tubuh terasa lemas, pusing, atau berkunang-kunang, segera saja batalkan puasa.
Jangan lupa untuk berdoa, karena hanya Allah Taala yang mampu menguatkan kita sehingga
mampu berpuasa meskipun dalam kondisi lemah karena sedang hamil atau menyusui.
2. JIKA ORANG TUA BERUSIA LANJUT/LANSIA INGIN BERPUASA
Para lansia cenderung memiliki keinginan berpuasa yang lebih tinggi walaupun kondisi fisik
mereka sudah mulai menurun. Bahkan, para lansia memiliki kecenderungan berlomba-lomba
memperbanyak ibadah, mengingat usia yang sudah tidak muda lagi. Pada dasarnya, tidak ada
larangan bagi lansia untuk berpuasa. Bahkan, berdasarkan banyak pengalaman dari lansia yang
berpuasa, justru merasakan banyak manfaat yang diperoleh seperti terkontrolnya kadar gula
darah, tekanan darah, kadar kolesterol, dan lain-lain. Meskipun demikian, puasa harus dilakukan
dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah
hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh lansia yang ingin berpuasa :
Pastikan bahwa kondisi fisik masih kuat dan mampu untuk melaksanakan puasa. Dalam hal ini
bisa dipastikan dengan memeriksakan diri ke dokter. Selain memeriksa fisik, biasanya seorang
dokter juga akan meminta dilakukan pemeriksaan laboratorium (darah, urin) untuk mendeteksi
adanya penyakit tertentu, seperti kadar gula, kolesterol, asam urat, dan lain-lain. Selanjutnya
banyak berkonsultasi dan minta nasehat terkait dengan kondisi kesehatan jika nantinya berpuasa.
Tidak sedang mengalami penyakit komplikasi atau penyakit infeksi yang berat.
Hendaknya memilih aneka ragam makanan padat gizi dan jangan hanya mengandalkan
suplemen. Banyak mengonsumsi makanan berserat, minum cukup cairan, kurangi lemak dan
kolesterol, batasi garam, dan jauhi minuman keras.

Tetap berolahraga dan aktif secara fisik. Sesuaikan dengan kemampuan fisik, mengingat dari
segi usia yang sudah tidak muda lagi. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai olah raga.
3. JIKA ANAK KECIL INGIN BERPUASA
Bulan Ramadhan sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh kaum muslimin. Anak-anak juga tidak
kalah semangat dengan orang dewasa dalam menyambut bulan suci yang mulia ini. Tidak jarang,
anak-anak yang belum baligh sudah mengutarakan keinginannya untuk ikut berpuasa. Sebagai
orangtua, tentu hal ini sangat menggembirakan sekaligus membanggakan. Namun, tidak sedikit
pula orangtua yang justru menjadi khawatir dengan kesehatan anak jika mereka ikut berpuasa.
Pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai kiat aman berpuasa bagi anak supaya tidak
membahayakan kesehatannya. Dengan begitu, kita tidak perlu khawatir lagi dan bisa mendukung
keinginan anak untuk ikut berpuasa.
Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang sholih dan sholihah. Karena
alasan itulah, banyak orangtua yang berniat mendidik anak untuk mengenal dan melakukan
ibadah sedini mungkin. Hal ini tentu sangat baik, karena semakin dini seorang anak dikenalkan
dengan ibadah, maka diharapkan akan menjadi kebiasaan dan terpatri di dalam jiwa anak
mengenai pentingnya ibadah tersebut.
Ada begitu banyak manfaat puasa bagi kesehatan anak, diantaranya adalah pola atau jadwal
makan menjadi lebih teratur sehingga berdampak positif bagi kesehatan lambung anak. Selain
itu, dengan berpuasa, anak tidak lagi makan berlebihan sehingga kemngkinan anak mengalami
obesitas (kegemukan) dapat dikurangi. Jajanan yang tidak sehat juga dapat dikurangi selama
bulan puasa, karena otomatis anak tidak jajan sembarangan ketika siang hari. Hal ini, tentu akan
mengurangi kemungkinan munculnya berbagai penyakit seperti diare dan demam typhoid
(typhus) akibat memakan jajanan yang kurang bersih.
Selain manfaat yang dirasakan oleh tubuh, puasa juga bisa melatih kecerdasan emosional anak.
Apalagi, anak-anak masih sangat tinggi kadar ego/keakuannya. Maka tidak heran jika kita
melihat anak kecil berkelahi hanya karena berebut mainan atau menangis karena keinginannya
tidak terpenuhi. Dengan berpuasa, anak-anak dilatih untuk menahan diri dari makan dan minum,
padahal di luar bulan ramadhan, mereka bisa makan kapan saja. Jangan lupa untuk mengajarkan
pada anak mengenai pentingnya menahan lisan dari berkata-kata yang tidak baik dan menahan
diri dari amarah ketika ada hal-hal yang tidak disukai.
Meski belum banyak dilakukan penelitian, sejauh ini belum pernah diketahui ada anak yang
mengalami sakit atau gangguan kesehatan yang berat akibat berpuasa. Sebaiknya, ada tahap
waktu yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan fisik serta mental anak. Puasa setengah
hari bisa diperkenalkan pada anak usia di bawah 6 tahun. Tentu saja, orang tua tetap harus
memberikan pengertian pada anak bahwa ibadah puasa yang mereka lakukan masih bersifat
latihan dan bukanlah ibadah puasa yang sesungguhnya. Di atas usia 6 tahun, kita bisa
memperkenalkan puasa penuh namun tetap kita berikan kelonggaran jika sewaktu-waktu anak
merasa tidak kuat sehingga ingin berbuka.

Usia memang bukan satu-satunya patokan, mengingat kemampuan puasa juga sangat
dipengaruhi oleh niat dan tekad masing-masing anak. Anak yang berusia lebih muda terkadang
justru lebih kuat berpuasa dibanding anak yang berusia jauh di atasnya. Tentu saja hal ini
disebabkan oleh tekad baja si anak dalam menjalankan ibadah puasa.
Di bulan suci Ramadhan, banyak sekali kegiatan ibadah yang tentunya banyak menguras tenaga
anak. Apalagi jika anak masih harus masuk sekolah, mengikuti les atau kursus, dan malamnya
mereka masih bersemangat untuk sholat tarawih, belajar membaca Al-Quran, sahur dan lainlain. Tetap aktif dan energik memang bagus selama bulan puasa, tapi kita harus sering
mengingatkan anak untuk beristirahat. Sebagai orangtua, hendaknya kita mengatur jadwal tidur
anak, karena mereka masih dalam usia pertumbuhan yang membutuhkan banyak istirahat.
Jangan sampai terjadi gangguan keseimbangan fisiologis dalam tubuh anak, yang berakibat pada
menurunnya kekebalan tubuh sehingga anak menjadi mudah sakit. Jangan memarahi anak jika
mereka mengutarakan keinginan untuk berbuka sebelum waktunya. Jika memang anak merasa
sudah tidak kuat melanjutkan puasanya, berikan izin sambil dinasehati untuk tetap menghormati
orang yang berpuasa, dan terus motivasi anak untuk berlatih puasa.
Kita harus memperhatikan asupan gizi anak, karena dengan berkurangnya jadwal makan (dari 3
kali menjadi 2 kali sehari), ada kemungkinan terjadi penurunan jumlah makanan yang
dikonsumsi anak. Secara umum, prinsip pemilihan makanan dengan jumlah yang cukup dan gizi
seimbang harus diutamakan. Peran ibu sangat penting dalam menyediakan menu sahur dan
berbuka. Biasakan untuk selalu melengkapi menu makanan keluarga dengan sayur dan buah.
Kurangi makanan yang menggunakan bahan pengawet, pewarna, dan penyedap rasa seperti
vetsin/MSG (monosodium glutamat). Jika perlu, bisa ditambahkan suplemen khusus untuk anak
sebagai pelengkap kebutuhan mineral dan vitaminnya.
Agar puasa anak berjalan lancar, orang tua bisa mempraktekkan kiat-kiat praktis berikut ini :
v Berikan makanan yang tinggi kalori dan protein pada anak ketika sahur, supaya anak
mempunyai cadangan energi yang cukup untuk beraktivitas selama berpuasa.
v Cukupi kebutuhan cairan anak supaya tidak terjadi dehidrasi (kekurangan cairan). Usahakan
tercukupi 6-8 gelas cairan. Cairan yang dimaksud tidak hanya air putih, tapi termasuk juga susu,
jus buah, kuah sayur, dan lain-lain.
v Perhatikan jadwal tidur dan istirahat anak supaya tidak kekurangan atau justru berlebihan.
v Ajak anak untuk sahur, karena sahur sangat penting untuk ketahanan anak dalam menjalankan
puasa. Bangunkan dengan hati-hati dan terus motivasi anak untuk mau bangun sahur. Jangan
menggunakan paksaan atau ancaman, karena hal tersebut sangat tidak baik untuk kondisi mental
dan kejiwaan anak. Setelah selesai sahur, ajak anak untuk sholat subuh berjamaah. Selain
mengajarkan pentingnya sholat berjamaah, kebiasaan ini juga bisa mengusir rasa kantuk pada
anak. Usahakan supaya anak tidak langsung tidur kembali dengan perut penuh setelah makan
sahur. Setelah sholat subuh, ajak anak untuk melakukan aktivitas yang tidak terlalu menguras
tenaganya, seperti membaca Al-Quran, membacakan buku cerita untuk mereka, atau mengulang
hafalan doa sehari-hari. Hindarkan anak-anak dari aktivitas yang menguras tenaga, seperti

bermain kejar-kejaran misalnya. Boleh juga mengajak mereka kembali tidur kalau masih ada
waktu sebelum berangkat sekolah, tapi tentu saja jangan berlebihan, karena justru membuat
badan menjadi lemas. Pada waktu siang, hendaknya anak tidur seperti biasanya supaya badan
beristirahat setelah seharian beraktivitas. Sorenya anak boleh melakukan aktivitas yang lebih
banyak, seperti berolahraga misalnya, tapi hendaknya dipilih waktu ketika mendekati saat
berbuka puasa.
v Hendaknya ibu menyiapkan menu makanan berbuka yang bergizi dan disukai anak, misalnya
kurma yang dimakan langsung atau dimodifikasi menjadi puding kurma, kue kurma, es buah
kurma dan lain-lain. Hal ini tentu akan makin menambah semangat anak. Apalagi, kurma
merupakan salah satu makanan yang mengandung gula sederhana yang siap dipakai oleh tubuh.
Selain itu, kurma mengandung kalori dan kalium tinggi yang mudah diserap oleh tubuh, dan
sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Jangan lupa untuk
mengajarkan doa berbuka puasa dan ingatkan anak untuk selalu bersyukur dengan nikmat dari
Allah taala berupa hidangan berbuka. Jangan berlebihan dalam menyiapkan menu berbuka
supaya melatih anak dari kebiasaan makan berlebihan.
v Ajarkan adab makan pada anak kita supaya mereka makin mengenal indahnya Islam. Saat-saat
sahur dan berbuka yang penuh kebersamaan sangat bermanfaat untuk mengenalkan anak pada
ajaran Islam. Misalnya saja, kita jelaskan apa itu puasa, mengapa kita bangun untuk makan
sahur, apa saja yang membatalkan puasa, dan sebagainya.
v Menjelang tidur, kita bisa memberikan susu atau air madu untuk menambah tenaga bagi anak
kita setelah mereka banyak melakukan aktivitas seharian.
Tentu setiap orangtua menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Tekad anak untuk bisa
beribadah puasa tentu patut kita syukuri. Sebagai orangtua, hendaknya kita tidak melarang anakanak ikut berpuasa, tapi justru harus mendukung tekad anak supaya puasa mereka berjalan
dengan lancar. Terkadang ada yang melarang anak-anak
berpuasa dengan alasan sebagai bentuk rasa kasih sayang. Padahal, salah satu bentuk rasa kasih
sayang pada anak justru dengan memerintahkan mereka untuk mengerjakan syariat-syariat Islam
dan membiasakannya. Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan jangan sampai memberatkan
atau memadharatkan anak-anak. Tak perlu khawatir kesehatan anak akan terganggu karena
menjalankan ibadah puasa. Selain usaha-usaha yang ditempuh supaya anak tetap sehat ketika
berpuasa, jangan lupa untuk berdoa demi kebaikan dan kesehatan anak.
4. JIKA ORANG DENGAN SAKIT TERTENTU INGIN BERPUASA
Puasanya Penderita Gangguan Lambung (Maag)
Mungkin banyak penderita sakit maag yang berkecil hati dengan kondisi penyakitnya.
Bagaimana tidak? Terlambat makan sedikit saja akan mengakibatkan munculnya keluhan yang
menyiksa. Namun, kini saatnya penderita sakit maag memantapkan hati untuk berpuasa karena
ternyata tidak ada larangan berpuasa yang sifatnya mutlak bagi seorang penderita sakit maag.

Bahkan, jika puasa dilaksanakan dengan mengikuti rambu-rambu yang benar justru akan
mendatangkan manfaat bagi orang yang sedang sakit maag.
Gejala yang sering dikeluhkan penderita maag antara lain rasa tidak nyaman di ulu hati, mual,
muntah, kembung, rasa panas di ulu hati, cepat kenyang, dan mulut pahit. Serangan dapat datang
tiba-tiba dan hilang timbul. Penyakit maag digolongkan dalam 2 kelompok, yaitu organik dan
fungsional. Dikatakan organik bila pada endoskopi ditemukan kelainan di kerongkongan,
lambung, dan usus 12 jari. Dikatakan fungsional, bila pada endoskopi tidak ditemukan
kelainan.
Puasa pada gangguan lambung jenis yang fungsional dapat meringankan bahkan
menyembuhkan penyakit maag yang diderita. Memang pada hari-hari awal puasa terasa tidak
nyaman. Seiring dengan berjalannya waktu, pola makan yang cukup dan teratur justru membuat
kondisi kesehatan penderita maag fungsional semakin membaik, biidznillah (dengan seizin
Allah). Sedangkan penderita gangguan lambung jenis organik harus lebih berhati-hati. Jika ingin
berpuasa, hendaknya berkonsultasi dulu dan selalu sedia obat yang direkomendasikan dokter.
Selain itu, harus dilihat dulu penyebabnya. Bila ada polip atau tumor, ulkus (luka), perdarahan,
atau nyeri hebat maka tidak diperbolehkan puasa.
Pada penderita penyakit maag, sangat dianjurkan untuk makan sahur karena sangat bermanfaat
sebagai persiapan puasa. Pada saat berbuka, penderita dianjurkan makan dan minum yang manis
terlebih dulu. Jangan makan dalam porsi besar, kurangi makanan berlemak dan makanan yang
merangsang seperti asam atau pedas. Hindari makanan yang banyak mengandung gas seperti
buncis, kubis, sawi putih, brokoli, bawang, dan telur. Selain itu, jangan lupa untuk menghindari
minuman bersoda, kopi dan alkohol.
Puasanya Penderita Diabetes Mellitus (Kencing manis)
Diabetes mellitus (DM) adalah sekumpulan gejala yang timbul pada seseorang, ditandai dengan
kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemi) akibat tubuh kekurangan hormon
insulin baik absolut maupun relatif, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata,
ginjal, saraf, dan pembuluh darah. Penyakit DM dapat timbul secara mendadak pada anak-anak
maupun orang dewasa muda, sedangkan pada orang dewasa berusia >40 tahun, penyakit ini
sering muncul tanpa gejala dan baru diketahui ketika yang bersangkutan melakukan pemeriksaan
kesehatan rutin.
Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain : sering merasa haus (polidipsi), sering kencing
(poliuri) terutama malam hari, mudah lapar sehingga sering makan (poliphagi), berat badan
turun cepat tanpa sebab yang jelas, badan terasa lemah, cepat lelah, mudah mengantuk, kulit
kering dan gatal-gatal, sering kesemutan pada jari tangan dan kaki, penglihatan menjadi kabur,
infeksi sulit sembuh, bisul yang hilang timbul, keputihan, infeksi pada kepala zakar (balanitis)
atau gatal pada kemaluan wanita (pruritus vulvae), dan impotensi pada pria.
Puasa tetap boleh dilaksanakan oleh penderita diabetes mellitus (DM) dengan kriteria sebagai
berikut :

Penderita DM tipe-1 (diabetes karena kurangnya produksi insulin) yang stabil atau
terkendali dengan perencanaan makan dan olah raga

Penderita DM tipe-2 (diabetes akibat kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin)
dengan berat badan lebih serta kontrol yang baik dan pengawasan glukosa darah secara
ketat

Penderita DM yang mendapat suntikan insulin satu kali per hari.

Sedangkan yang tidak dianjurkan puasa antara lain :

Penderita DM dengan kadar gula yang tinggi sekali atau tidak stabil

Penderita DM yang tidak mengikuti diet, pemakaian obat dan pengaturan aktivitas

Penderita tipe-1 dan tipe-2 dengan kontrol yang buruk

Penderita DM yang disertai komplikasi jantung, ginjal dan hati (karena kekurangan
cairan dapat semakin membahayakan kerja organ-organ penting tersebut)

Penderita DM yang mendapatkan suntikan insulin dua kali sehari atau lebih

Penderita DM dengan riwayat ketoasidosis

Penderita DM yang sedang hamil

Penderita DM yang sedang mengalami infeksi

Penderita DM dengan usia tua dengan masalah kesadaran

Penderita DM yang mengalami dua kali/lebih episode hipoglikemia selama puasa


Ramadhan.

Penderita DM disarankan supaya memantau kadar glukosa darah dengan ketat dan belajar
mengenali gejala hipoglikemia sejak dini. Hipoglikemi adalah suatu keadaan dimana kadar gula
darah rendah karena tidak ada keseimbangan antara makanan yang dimakan, latihan jasmani, dan
obat yang digunakan. Gejala hipoglikemi antara lain berkeringat dingin, gemetar, pusing, lemas,
mata berkunang-kunang, dan rasa perih di ulu hati seperti orang kelaparan. Bila mengalami
gejala seperti ini, hendaknya segera minum segelas teh manis atau sirup dan segera periksa ke
dokter. Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/dl sebaiknya segera berbuka.
Penderita DM sangat dianjurkan mengakhirkan waktu makan sahur serta menghindari makanan
manis. Penderita DM dapat berbuka dengan makanan dan minuman yang menggunakan gula
rendah kalori. Penderita sebaiknya mengkonsumsi karbohidrat tinggi serat seperti sereal atau roti

gandum. Hendaknya penderita DM tetap rutin mengecek kadar gula darah dan selalu
mengonsumsi obat supaya kadar gula darahnya terkontrol. Jangan lupa untuk konsultasi dengan
dokter mengenai jadwal pemberian obat dan dosisnya.
Puasanya Seseorang dengan Kadar Asam Urat Berlebih
Sebenarnya yang dimaksud dengan asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang
merupakan hasil akhir dari metabolisme purin, yaitu salah satu komponen asam nukleat yang
terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai
pada semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah, kacangkacangan) atau hewan (daging, jeroan, ikan sarden). Jadi, asam urat merupakan hasil
metabolisme di dalam tubuh yang kadarnya tidak boleh berlebih. Kadar asam urat normal pada
pria dan perempuan berbeda. Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5-7 mg/dl dan pada
perempuan 2,6-6 mg/dl. Kadar asam urat diatas normal disebut hiperurisemia.
Seseorang dengan kadar asam urat tinggi dan terus meningkat bisa meunculkan gejala penyakit
arthritis gout. Gejala khas dari serangan arthritis gout adalah serangan akut yang biasanya
bersifat monoartikular (menyerang satu sendi saja) dengan gejala pembengkakan, kemerahan,
nyeri hebat, panas dan gangguan gerak dari sendi yang terserang yang terjadi mendadak dan
mencapai puncaknya kurang dari 24 jam. Lokasi yang paling sering pada serangan pertama
adalah sendi pangkal ibu jari kaki.
Penderita asam urat tetap boleh berpuasa dengan memperhatikan beberapa rambu-rambu, yaitu
senantiasa memantau kadar asam uratnya. Jika kadar asam uratnya sangat tinggi atau gejala yang
muncul sangat parah, maka sebaiknya menunda dulu sampai penyakitnya membaik baru
kemudian boleh berpuasa. Satu hal terpenting jika ingin berpuasa adalah harus cukup cairan
yaitu mengonsumsi sekitar 1,5-2 L air dengan rincian 2 gelas saat buka puasa, 3-4 gelas setelah
sholat tarawih hingga sebelum tidur, 1 gelas saat bangun tidur sebelum sahur , dan 1-2 gelas saat
sahur. Ketika sahur dan berbuka hendaknya menghindari makanan yang mengandung kadar
purin tinggi seperti jeroan (hati, ginjal, jantung, paru), udang, remis, kerang, sardin, ekstrak
daging (abon, dendeng), ragi (tape), alkohol serta makanan kaleng.
Puasanya Penderita Hipertensi (Tekanan darah Tinggi)
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan
tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurangkurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan
mempunyai keadaan darah tinggi (hipertensi). Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak
menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal tidak selalu). Gejala yang
dimaksud adalah sakit kepala, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang bisa saja terjadi
baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika
hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut : sakit kepala,
kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena
adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang penderita hipertensi yang ingin berpuasa,
antara lain :
1. Rutin memeriksa tekanan darah minimal dua kali sehari selama berpuasa yaitu pada pagi hari
sekitar pukul 7 dan malam hari setelah shalat tarawih. Dianjurkan untuk memiliki alat ukur
tekanan darah atau tensimeter di rumah (untuk lebih memudahkan bisa dipilih tensimeter
digital). Selama berpuasa, hendaknya menjaga supaya tekanan darah tetap di bawah 140/90
mmHg. Pada batas itu, insyallah aman berpuasa. Seseorang yang memiliki tekanan darah lebih
dari 140/90 mmHg juga boleh berpuasa selama terkontrol dengan obat, rutin memantau tekanan
darah dan selalu konsultasi dengan dokter.
2. Rutin meminum obat yang diresepkan oleh dokter. Mintalah dokter untuk memberikan obat
yang diminum satu kali dalam sehari supaya lebih mudah mengingat. Biasanya tekanan darah
melonjak pada waktu subuh, kemudian akan turun menjelang siang. Untuk itu, ketika makan
sahur merupakan waktu paling baik untuk minum obat anti hipertensi.
3. Usahakan untuk tidur cukup karena kurang tidur bisa memicu emosi menjadi labil yang bisa
meningkatkan tekanan darah.
KAIDAH-KAIDAH PEMBATAL PUASA
Para ulama dari berbagai madzhab telah menyebutkan di dalam kitab-kitab fikihnya beberapa hal
yang dapat membatalkan puasa yang dapat kita simpulkan dalam beberapa kaidah di antaranya:
1. Al Jima atau bersetubuh (hubungan intim antara suami dan istri), yaitu memasukkan dzakar
(penis) ke dalam farji (kemaluan) wanita. Ini adalah pembatal yang paling besar, serta pelakunya
waib membayar kafarat. Hal ini didasari oleh sebuah hadits yang menceritakan seorang laki-laki
menyetubuhi istrinya ketika berpuasa kemudian diperintahkan membayar kafarat (HR. Bukhari
11/56, Muslim 1111).
2. Ikhrajul Mani atau mengeluarkan air mani (sperma) dengan sengaja, seperti onani dan
semisalnya, sebagaimana dalam hadits qudsi Allah berfirman:
Dia (orang yang berpuasa) meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. (HR.
Bukhari kitab shaum: 3)
3. Al Aklu wa asy Syurbu Amdan atau makan dan minum dengan sengaja, yaitu memasukkan
sesuatu ke dalam rongga-nya melalui mulut atau hidung. Adapun makan dan minum termasuk
pembatal puasa, maka didasari firman-Nya (yang artinya):
Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan
makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian
sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. al Baqarah [2] : 187).

Dan adapun memasukkan sesuatu ke dalam rongganya lewat hidung termasuk juga membatalkan
puasa, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang berwudhu
menghirup air dalam-dalam ke hidungnya. Sabda beliau:
Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa (HR. Tirmidzi: 27, Abu
Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil: 935)
4. Maa Kaana fii Mana al Akli wa asy Syurbi atau segala sesuatu yang semakna dengan makan
dan minum, seperti menggunakan cairan infus yang berfungsi menggantikan makan dan minum,
dan semisalnya; hal ini lantaran termasuk memasukkan sesuatu yang sama dengan makanan dan
minuman ke dalam rongganya, walaupun tidak melalui mulut dan hidungnya.
5. Al Qai-u Amdan atau muntah dengan sengaja. Adapun kalau tidak sengaja, tidak
membatalkan puasanya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa muntah secara tidak sengaja sedangkan dia berpuasa, maka tidak ada qadha
baginya; dan barangsiapa menyengaja muntah, maka dia harus meng-qadha-nya. (HR. Tirmidzi
3/79, Abu Dawud 2/310, Ibnu Majah 1/536, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Misykatul
Mashahih; 2007, dan lihat Silsilah Shahihah: 923).
Hadits di atas mengatakan bahwa orang yang muntah dengan sengaja harus meng-qadha puasa.
Ini menunjukkan bahwa puasanya tidak sah, sehingga harus di-qadha (diganti).
6. Khuruju dammi al haidh wan nifas atau keluarnya darah haid dan nifas, sebagaimana hadits
Aisyah radhiyallahu anha tatkala ditanya tentang masalah haid, beliau mengatakan:
Hal itu (haid) telah kami alami juga, maka kami diperintah meng-qadha puasa dan tidak mengqadha shalat. (HR. Bukhari 4/329 dan Muslim; 335).
Adapun nifas juga termasuk pembatal puasa. Hal ini didasari oleh hadits Ummu Salamah
radhiyallahu anha dalam riwayat Abu Dawud: 311-312, Tirmidzi: 139, Ibnu Majah: 648, dan
telah dishahihkan oleh al Albani.
Demikianlah kaidah pembatal-pembatal puasa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam al
Quran dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam berbagai sabdanya. Adapun masalahmasalah baru yang tidak terdapat dalilnya secara khusus, maka para ulama meng-qiyas-kan
(menggabungkan kepada dalil/kaidah di atas kemudian menarik hukumnya) disesuaikan dengan
masalah tersebut.
HUKUM PENGGUNAAN ALAT KEDOKTERAN MODERN KETIKA BERPUASA
Berikut ini akan kami sebutkan beberapa alat modern yang biasa digunakan oleh manusia dan
hukum penggunaannya bagi orang yang sedang berpuasa.
1. Bronkodilator

Yaitu sebuah alat yang berisikan obat pembuka saluran bronki yang menyempit oleh denyutan,
yang disemprotkan ke mulut untuk mengobati atau meredakan penyakit sejenis asma/sesak
napas.
Alat ini mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain: air, oksigen, dan bahan-bahan
kimia lainnya.
Hukumnya?
Para ulama berbeda pendapat tentang alat ini menjadi dua pendapat:
(a) Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa alat ini tidak membatalkan puasa. Ini adalah
pendapat Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Ibnu Jibrin, dan keputusan Lajnah Daimah.
Dalil mereka:

Menurut mereka alat ini tidak membatalkan puasa lantaran bukan termasuk makan dan
minum, bahkan unsur yang masuk ke dalam rongga hanya angin saja.

Andaikata kita katakan ada unsur kimia yang masuk ke dalam rongga walaupun sedikit,
maka ini hanyalah perkiraan yang belum pasti, dan ini adalah sesuatu yang meragukan.
Sedangkan asal hukum puasa adalah sah/tidak batal, sampai ada pembatal yang jelas.

(b) Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa alat seperti ini membatalkan puasa. Ini adalah
pendapat Fadhl Hasan Abbas, Syaikh Muhammad Mukhtar as Salami, dan para ahli medis di
zaman ini.
Dalil mereka:

Menggunakan alat ini hampir dipastikan adanya unsur kimia yang masuk ke dalam
rongga sehingga membatalkan puasa.

Pendapat yang kuat. Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu alat ini tidak
membatalkan puasa, lantaran tidak bisa dipastikan unsur bahan kimia dari alat ini yang masuk ke
dalam rongga, sehingga asal hukum puasa adalah sah. Kemudian alat ini di-qiyas-kan dengan
siwak yang mempunyai beberapa unsur bahan kimia, yang apabila siwak digunakan, pasti unsurunsur kimia yang berupa angin itu masuk ke rongga, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam menggunakan siwak walaupun beliau sedang berpuasa.
Walaupun demikian, sebaiknya tidak menggunakan alat (bronkodilator) ini ketika berpuasa
kecuali terpaksa.
2. Jarum suntik/injeksi
Yaitu penggunaan obat yang dimasukkan dengan jarum dan disuntikkan kepada bagian tubuh
seperti paha dan semisalnya.

Hukumnya?
Apabila jarum suntik tidak berfungsi sebagai pengganti makan atau minum, maka para ulama
kontemporer mengatakan bahwa jarum suntik tidak membatalkan puasa. Sebagaimana pendapat
Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Ibnu Bakhith, Muhammad Saltut, DR. Fadhl Hasan Abbas, dan
keputusan Majma al Fiqhi, dan tidak diketahui perbedaan pendapat dalam masalah ini.
Dalil mereka:

Menurut mereka, jarum suntik yang tidak berfungsi sebagai pengganti makanan dan
minuman adalah sekedar memasukkan obat ke aliran darah dan tidak sampai ke rongga
manusia. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai makanan dan minuman, dan tidak dapat
dikatakan sebagai pengganti keduanya, juga tidak semakna dengan makanan dan
minuman; bahkan tidak termasuk ke dalam semua kaidah pembatal puasa.

Asal hukum puasa adalah sah (tidak batal), kecuali ada pembatal yang jelas dengan dalil
yang jelas pula, dan dalam hal ini tidak ada dalil bahwa sekedar penggunaan jarum suntik
membatalkan puasa.

3. Infus
Yaitu suplemen yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia dengan cara suntikan (masuk ke
pembuluh darah, red), berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman, dan biasa digunakan
oleh orang sakit yang membutuhkan cairan tambahan.
Hukumnya?
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat:
(a) Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa cairan infus dan semua yang dimasukkan ke
dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman walaupun tidak
melalui mulut dan hidung adalah membatalkan puasa. Inilah pendapat Ibnu Sadi, Ibnu Baz, Ibnu
Utsaimin, dan juga merupakan keputusan al Majma al Fiqhi.
Dalil mereka:

Cairan infus apabila berfungsi menggantikan makanan dan minuman, maka hukumnya
sama dengan makanan dan minuman.

Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa orang-orang sakit yang menggunakannya
mampu bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu tanpa makan dan minum. Ini
menunjukkan bahwa infus sama hukumnya dengan makanan dan minuman yang
membatalkan puasa.

(b) Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa infus tidak membatalkan puasa, ini adalah
pendapat Syaikh Muhammad Bakhith, Muhammad Saltut, dan Sayyid Sabiq.

Dalil mereka:

Penggunaan alat seperti ini tidak membatalkan puasa lantaran tidak ada sesuatu yang
masuk ke dalam rongga dari mulut atau hidung.

Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, yaitu penggunaan alat
semacam ini membatalkan puasa karena alasan-alasannya lebih kuat.
4. Obat tetes hidung
Hidung adalah saluran (jalan) yang sangat berkaitan erat dengan tenggorokan dan dapat
mengantarkan sesuatu yang masuk melalui hidung menuju tenggorokan, diteruskan ke dalam
rongga manusia, sebagaimana telah diketahui dengan kenyataan dan juga dengan dalil syari,
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa (HR. Tirmidzi: 27, Abu
Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil: 935)
Hukumnya?
Para ulama berbeda pendapat dalam penggunaan tetes hidung ketika sedang berpuasa.
(a) Pendapat pertama. Mereka mengatakan tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat
Syaikh Haitsam al Khayyath dan Ajil an Nasyami.
Dalil mereka:

Menurut mereka bahwa tetes hidung yang masuk ke dalam rongga sangat sedikit, dan
cairan yang sangat sedikit itu kalau dibandingkan dengan bekas berkumur ketika wudhu
masih jauh lebih sedikit; padahal seorang yang berkumur ketika berwudhu bisa
dipastikan ada sisa-sisa airnya masuk ke rongganya dan sudah dimaklumi bersama bahwa
puasanya tidak batal.

Tetes hidung walaupun masuk ke dalam rongga manusia tetapi dia tidak berfungsi
sebagai pengganti makan dan minum.

(b) Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa tetes hidung membatalkan puasa. Ini adalah
pendapat Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Muhammad as Salami, dan DR. Muhammad al Alfi.
Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu tetes hidung yang
sampai masuk ke dalam rongga membatalkan puasa. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hal,
diantaranya:

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang telah lalu:

Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa (HR. Tirmidzi: 27, Abu
Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil: 935)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang berpuasa untuk terlalu dalam
ketika menghirup air ke hidungnya. Tidaklah kita mengetahui hikmahnya melainkan bahwa
dikhawatirkan (apabila terlalu kuat menghirup air ke dalam hidung) air akan masuk ke dalam
rongga sehingga membatalkan puasa, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarangnya,
dan sudah kita maklumi bersama bahwa air yang masuk ke hidung ketika berwudhu (beristinsyaq) tidak akan menggantikan makan dan minum.

Hidung adalah saluran yang berkaitan sangat erat dengan mulut dan keduanya adalah
jalan (saluran) menuju rongga manusia; ini terbukti dengan kenyataan, berbeda dengan
mata. Oleh karena itu, suatu ketika seorang yang tersedak akan keluar makanan dan
minuman dari mulut dan hidungnya. Begitu juga kita menjumpai suatu ketika ada
seorang muntah dari mulut dan hidungnya secara bersama-sama.

Bahkan akhir-akhir ini telah digunakan cara memasukkan cairan pengganti makanan
dan minuman melalui hidung bagi orang yang sedang mengalami gangguan pada
mulutnya (NGT = Nasogastric Tube, selang untuk memasukkan makanan dan minuman
dari hidung dan terhubung sampai ke lambung). Wallahu alam.

5. Obat tetes mata


Pembahasan masalah ini sebenarnya bisa di-qiyas-kan/digabungkan kepada pembahasan
penggunaan celak mata ketika sedang berpuasa, baik celak yang berfungsi untuk obat mata,
atau hanya untuk sekedar berhias. Masalah penggunaan celak mata bagi orang yang berpuasa
telah dibahas oleh para ulama terdahulu.
Hukum celak mata ketika berpuasa
Para ulama terdahulu berbeda pendapat tentang penggunaan celak mata ketika sedang berpuasa.
Pendapat pertama. Mereka mengatakan celak mata tidak membatalkan puasa. Ini adalah
madzhab imam Abu Hanifah, dan madzhab imam Syafii, dan juga dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah
dalam Majmu Fatawanya 25/242.
Dalil mereka:

Mereka mengatakan celak mata walaupun sampai terasa di tenggorokan tidaklah


membatalkan puasa; lantaran mata bukan termasuk saluran yang mengantarkan sesuatu
ke dalam rongga manusia, dan karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya
menyebutkan hidung saja yang ada kaitannya dengan tenggorokan sebagaimana dalam
hadits yang telah lalu.

Pendapat kedua. Mereka mengatakan celak mata membatalkan puasa apabila terasa di
tenggorokan. Ini adalah pendapat madzhab imam Malik dan madzhab imam Ahmad.

Dalil mereka:

Menurut mereka, mata sangat berkaitan erat dengan tenggorokan sehingga


mengantarkan sesuatu yang masuk ke mata kemudian menuju rongga manusia, dan ini
terbukti, bahwa seorang yang menggunakan celak mata (terutama jenis celak yang
dingin) dia akan segera merasakannya pada tenggorokannya.

Pendapat yang kuat tentang celak mata adalah pendapat yang pertama, yaitu celak mata tidak
membatalkan puasa, walaupun sampai terasa pada tenggorokan atau pada rongga manusia.
Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hanya melarang ber-istinsyaq (menghirup atau


memasukkan air ke hidung) dalam-dalam ketika sedang berpuasa, dan tidak melarang
yang lainnya.

Terbukti dengan keadaan para sahabat yang menggunakan celak mata, dan mereka tidak
membatalkan puasanya dengan penggunaan celak mata.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya menggunakan


celak mata secara umum setiap saat tanpa dikecualikan ketika puasa (lihat HR. Bukhari
kitab ath Thib: 18).

Adapun perkataan bahwa mata ada kaitan erat dengan tenggorokan, maka ini bukanlah
dalil syari, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Celak mata bukan makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam rongga melalui
mulut atau hidung, juga tidak berfungsi sebagai makanan dan minuman, dan tidak dapat
menggantikan keduanya.

Tetes mata dan pendapat yang kuat


Kami tidak menumpai pembahasan tetes mata bagi orang yang berpuasa di dalam kitab-kitab
para pendahulu. Akan tetapi, kami menjumpainya telah dibahas oleh para ulama kontemporer;
kebanyakan mereka mengatakan bahwa penggunaan obat tetes mata tidak membatalkan puasa
walaupun sampai terasa di tenggorokan. Ini adalah pendapat Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin,
DR. Fadhl Muhammad Abbas, DR. Wahbah az Zuhaili, DR. Shiddiq adh Dharir dan kebanyakan
ahli medis.
Pendapat mereka didasari oleh dalil-dalil yang telah lalu. Selain itu, juga dikuatkan oleh
beberapa hal, diantaranya:

Menurut penelitian, kelopak mata tidak bisa menampung sedikit pun dari benda cair.
Oleh karena itu, bila seseorang meneteskan satu tetes obat mata (yang ukurannya 0,06
mm), pasti cairan itu keluar/tumpah dari kelopak mata; padahal satu tetes itu sangat
sedikit. Sehingga cairan yang masuk ke dalam kelopak mata sangatlah sedikit, apalagi

yang sampai ke tenggorokan adalah lebih sangat sedikit lagi; dan ini menjadikan hal
tersebut dianggap tidak ada (dimaafkan).

Telah terbukti dalam penelitian medis bahwa yang dirasa pada tenggorokan hanya
sekedar rasa dan tidak ada wujud zat/bendanya. Hal itu lantaran terlalu sedikitnya cairan
yang bisa ditampung oleh kelopak mata, kemudian cairan yang sangat sedikit tersebut
diserap urat-urat kelopak mata dan habislah cairan itu, kemudian tinggallah sisa-sisa rasa
cairannya saja yang dapat dirasakan tenggorokan.

Adapun rasa cairan di tenggorokan, maka itu tidak harus membatalkan puasa, dan itu
bukan alasan syari untuk membatalkan puasa. Oleh karena itu, sebagai bandingan,
apabila ada seseorang yang menginjak buah Handhalah kemudian dia merasakan
pahitnya buah ini di tenggorokan dan alat pencernaannya, maka puasanya tidak batal dan
tetap sah.

6. Tetes telinga
Yaitu cairan yang diteteskan ke dalam telinga sebagai obat atau sekedar pembersih bagian dalam
telinga.
Hukumnya?
Masalah tetes telinga telah dibahas oleh para ulama terdahulu.
Pendapat pertama. Mereka mengatakan tetes telinga membatalkan puasa. Ini adalah pendapat
madzhab Abu Hanifah, madzhab Maliki, salah satu pendapat madzhab Syafii, dan madzhab
Ahmad bin Hambal.
Dalil mereka:

Mereka mengatakan tetes telinga dan semisalnya membatalkan puasa dengan alasan
tetes telinga dapat masuk ke dalam rongga atau otak manusia.

Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa tetes telinga tidak membatalkan puasa. Ini adalah
salah satu pendapat madzhab Syafii dan madzhab Ibnu Hazm.
Dalil mereka:

Menurut mereka, telinga bukanlah saluran masuknya sesuatu menuju ke rongga


manusia,

Sesuatu yang dimasukkan ke dalam telinga bukan termasuk makanan dan minuman,
tidak dapat menggantikan keduanya, dan tidak dapat berfungsi sebagai makanan dan
minuman.

Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat ialah tetes telinga tidak membatalkan puasa, karena
alasan-alasannya lebih kuat, dan sebenarnya pembahasan tetes telinga tidak jauh dari
pembahasan tetes mata. Kalau kita me-rajih-kan (menguatkan) pendapat bahwa tetes mata tidak
membatalkan puasa, maka demikian juga tetes telinga lebih layak lagi untuk kita katakan tidak
membatalkan puasa (lihat alasan-alasan tentang tetes mata tidak membatalkan puasa).
7. Oksigen
Dalam hal ini adalah unsur kimia yang diberikan pada orang sakit dan yang membutuhkan udara
tambahan. Alat ini tidak mengandung zat-zat yang yang berupa gas atau benda padat, tidak
berwarna, dan tidak mempunyai bau, melainkan hanya udara; sehingga tidak berfungsi sebagai
pengganti makanan dan minuman, akan tetapi hanya sebagai pendukung pernapasan saja.
Hukumnya?
Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat para ulama tentang masalah ini. Dan tidak dijumpai
satu dalil pun yang kuat untuk membatalkan puasa dengan penggunaan alat semacam ini, karena
oksigen bukan termasuk makanan dan minuman dan tidak berfungsi sebagai pengganti makanan
dan minuman, sehingga alat seperti ini tidak membatalkan puasa.
8. Donor darah
Yaitu mengeluarkan sebagian darahnya untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.
Masalah ini belum pernah dibahas oleh para ulama terdahulu. Hanya saja, para ulama
kontemporer menyamakan/meng-qiyas-kan donor darah dengan masalah bekam/cantuk
(pengobatan dengan cara mengeluarkan sebagian darah kotor), yang keduanya sama-sama
mengeluarkan darah. Oleh sebab itu, sebelum menentukan hukum donor darah bagi orang yang
berpuasa, perlu dijelaskan hukum bekam bagi orang berpuasa.
Hukum bekam ketika berpuasa
Para ulama berbeda pendapat tentang pembekaman, termasuk membatalkan puasa ataukah tidak.
Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa bekam membatalkan puasa. Ini adalah madzhab
Hambali, Ishaq, Ibnul Mundzir, dan mayoritas fuqaha (ahli fikih), dan dikuatkan oleh Ibnu
Taimiyah, dan juga Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.
Dalil mereka:

Menurut mereka bekam adalah salah satu hal yang dapat membatalkan puasa.

Dari Rafi bin Khadij radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: Berbuka (batal puasa) orang yang membekam dan dibekam. (HR. Tirmidzi: 774,
Ahmad 3/465, Ibnu Khuzaimah: 1964, Ibnu Hibban: 3535; hadits ini telah dishahihkan oleh
imam Ahmad, imam Bukhari, Ibnul Madini (lihat al Istidzkar 10/122). Demikian juga al Albani

menshahihkannya dalam Irwaul Ghalil: 931, Misykatul Mashabih: 2012, dan Shahih Ibnu
Khuzaimah: 1983).
Pendapat kedua. Menurut pendapat kedua, bekam tidak membatalkan puasa. Ini adalah
pendapat jumhur (mayoritas) ulama secara umum, baik dari kalangan ulama salaf (terdahulu),
maupun khalaf (ulama masa kini).
Dalil mereka:

Menurut mereka ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi
wa sallam pernah berbekam sedangkan beliau sedang dalam keadaan puasa, sebagaimana
dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berbekam sedangkan beliau berpuasa. (HR.
Bukhari:1838,1939, Muslim: 1202).
Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu berbekam tidak
membatalkan puasa, dengan alasan dalil yang tersebut di atas; dan dikuatkan oleh beberapa hal
di antaranya:

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu
alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan puasa adalah me-nasakh (menghapus) hadits
yang mengatakan batalnya puasa seorang yang berbekam dan yang dibekam. Hal ini
dibuktikan bahwa Abu Said al Khudri radhiyallahu anhu mengatakan:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi rukhshah (keringanan) bagi orang yang
berpuasa untuk berbekam. (HR. Nasa-I 3/432, Daruquthni 2/182, Baihaqi 4/264; Daruquthni
mengatakan seluruh perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Ibnu
Khuzaimah: 1969)
Berkata Ibnu Hazm rahimahullah: Perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi
rukhshah tidak lain menunjukkan arti larangan sebelum datangnya rukhshah (sehingga asalnya
dilarang, lalu diizinkan). Oleh karenanya, benarlah perkataan/pendapat bahwa ini (hadits Ibnu
Abbas radhiyallahu anhuma) me-nasakh hadits yang pertama. (al Mushalla 6/204)

Pendapat ini diperkuat dengan adanya hadits-hadits lain yang mengisyaratkan bahwa
hadits Rafi bin Khadij radhiyallahu anhu dihapus, seperti:

Dari Tsabit al Bunani beliau berkata: Telah ditanya Anas bin Malik radhiyallahu anhu:
Apakah kalian (para sahabat) di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membenci
bekam bagi orang yang berpuasa? Beliau menjawab: Tidak (kami tidak membencinya), kecuali
kalau menjadi lemah (karena bekam). (HR. Bukhari 4/174; lihat Fathul Bari dalam penjelasan
hadits ini, dan juga perkataan al Albani rahimahullah yang menguatkan masalah ini dalah
Misykatul Mashabih: 2016)

Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, karena diqiyas-kan kepada masalah bekam menurut pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan puasa.
FATWA UNTUK MUSLIMAH DI BULAN RAMADHAN
(Yang terkait dengan bidang medis dan kesehatan)
HUKUM MEMAKAI OBAT PENCEGAH HAID KETIKA BULAN RAMADHAN
Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya wanita memakai obat pencegah haidh di bulan Ramadhan?
Jawab :
Wanita yang memakai obat pencegah haidh, apabila tidak membahayakan dirinya ditinjau dari
sisi medis, maka tidaklah mengapa dengan syarat ia tetap meminta izin kepada suaminya. Yang
aku (Syaikh Ibn Utsaimin) ketahui, obat-obat semacam ini membahayakan wanita, karena haidh
merupakan darah yang keluar secara alami. Apabila dicegah pada waktunya maka akan
membahayakan tubuh. Kemudian perlu diperhatikan pula, obat-obat semacam ini menjadikan
kebiasaan para wanita menjadi tidak teratur, akibatnya mereka akan bimbang dan ragu (apakah
mereka telah suci atau belum -red) ketika shalat atau saat bersenggama dengan suaminya.
Oleh karena itu, aku tidak mengatakan itu haram, hanya aku tidak menganjurkannya. Selayaknya
bagi para wanita untuk ridha menerima takdir yang Allah takdirkan. Dikisahkan, Nabi
shallallahu alaihi wa sallam pernah menemui Aisyah radhiallahu anha sedang menangis pada
waktu haji Wada. Saat itu Aisyah radhiallahu anha sudah mengenakan pakaian ihram.
Rasulullah shalallahualaihi wa salam bertanya,
Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah engkau haidh?
Aisyah radhiallahuanha menjawab, Ya, wahai Rasulullah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasehati, Yang demikian itu adalah sesuatu yang
Allah telah tetapkan bagi para wanita.
Maka, selayakanya bagi para wanita untuk bersabar dan mencari pahala dari Allah ketika
meninggalkan shalat dan puasa karena haidh. Sesungguhnya, pintu dzikir terbuka luas, ia bisa
berdzikir, bertasbih, shadaqah, berlaku baik kepada manusia dengan perkataan maupun
perbuatan dan ini adalah amalan yang paling utama. (Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih alUtsaimin 1/304, lihat pula fatw Lajnah Daimah 5/400)
HUKUM MENGGUNAKAN PASTA GIGI DAN MOUTHWASH KETIKA BERPUASA
Pertanyaan: Bolehkah seseorang yang berpuasa menggunakan pasta gigi mengingat bahwa ia
dapat menggunakan sikat gigi saja? Apa hukumnya memakai mouthwash (obat kumur)?

Jawab: Tidak mengapa menggunakan pasta gigi ketika berpuasa, namun orang yang berpuasa
harus mengeluarkan kembali pasta gigi yang terlarut di dalam mulut. Apabila ada sebagiannya
yang masuk ke kerongkongan tanpa kesengajaan, yang demikian ini tidak berpengaruh pada
puasanya.
Demikian pula penggunaan mouthwash yang mengandung obat, dengan syarat setelahnya
dikeluarkan dari mulut dan tidak ada dari mouthwash itu yang ditelan masuk dengan sengaja ke
kerongkongan.
HUKUM MENGGUNAKAN CELAK MATA DAN PERLENGKAPAN KECANTIKAN
LAINNYA DI SIANG HARI RAMADHAN
Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Apa hukumnya menggunakan celak mata dan
perlengkapan kecantikan lainnya bagi kaum wanita pada siang hari bulan Ramadhan, apakah hal
ini dapat membatalkan puasanya atau tidak? Jawaban Celak mata tidak membatalkan puasa
kaum pria maupun wanita menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat ulama,
akan tetapi memakainya pada malam hari lebih utama bagi orang yang sedang berpuasa. Begitu
juga menggunakan perlengkapan kecantikan wajah lainnya yang berhubungan dengan wajah,
seperti sabun, cream dan sejenis lainnya yang berhubungan dengan kulit, termasuk inai, make up
dan sebagainya, hanya saja make up sebaiknya tidak digunakan jika dapat merusak wajah.
[Kitab Fatawa Ad-Da'wah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/170]
MENGGUNAKAN INAI PADA RAMBUT SAAT BERPUASA
Pertanyaan Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya : Apakah boleh menggunakan inai pada saat berpuasa
dan saat shalat, karena saya telah mendengar pendapat yang menyatakan bahwa inai dapat
membatalkan puasa?
Jawaban Pendapat itu tidak benar, karena sesungguhnya menggunakan inai saat puasa tidak
membatalkan puasa dan tidak berdampak apa pun bagi orang yang berpuasa, sama halnya
dengan menggunakan celak mata, dan sama halnya juga dengan menggunakan obat tetes mata
atau obat tetes untuk telinga, karena semua itu tidak dapat membahayakan puasa seseorang dan
tidak membatalkan puasa. Adapun menggunakan inai saat shalat, saya tidak paham bagaimana
maksud dari pertanyaan ini, sebab wanita yang sedang shalat tidak bisa memakaikan inai,
mungkin yang dimaksud penanya adalah : Apakah inai dapat mengahalangi sahnya wudhu
seorang wanita jika ia menggunakannya? Jawabannya adalah : Bahwa menggunakan inai tidak
membatalkan wudhu, karena inai tidak memiliki dzat yang dapat mencegah mengalirnya air pada
kulit. sebab inai hanyalah warna saja, adapun yang dapat membatalkan wudhu adalah sesuatu
yang memiliki dzat yang mana dzat itu dapat menghalangi mengalirnya air pada kulit, maka dzat
tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu hingga wudhu menjadi sah. [Fatawa Nur'ala Ad-Darb,
Syaikh Ibnu Utsaimin, halaman 46]
HUKUM BERENANG KETIKA SEDANG PUASA
Pertanyaan :

Apa hukum berenang di pantai atau kolam renang di siang hari Ramadhan ? Jawaban :
Kami katakan, tidak apa-apa orang yang sedang berpuasa berenang di pantai atau di kolam
renang, baik itu kolam yang dalam ataupun yang dangkal, ia boleh berenang dan berendam
sesukanya, hanya saja harus berusaha semampunya agar air tidak sampai masuk ke dalam
tenggorokannya. Renang bisa menambah semangat dan membantunya dalam melaksanakannya
dalam puasa. Apa pun hal yang bisa menambah semangat dalam mentaati Allah, maka itu tidak
terlarang, karena hal tersebut dapat meringankan beban ibadah pada seorang hamba dan
memudahkannya.
Allah taala telah berfirman mengenai puasa,



Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, (QS. AlBaqarah :185)
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pun telah bersabda, Sesungguhnya agama ini mudah, dan
tidaklah seseorang berlebihan dalam menjalan agama, kecuali ia akan terkalahkan
Dari itu, boleh berenang di kolam renang atau lainnya. Wallahu alam. (Syaikh Ibnu Utsaimin,
Masail an Ash-Shiyam, Dar Ibnu Jauzi, Hal.32)
Referensi :

Abu Ibrahim Muhammad Ali, Pembatal Puasa di Zaman Modern, majalah Al Furqon
tahun 6 edisi spesial Ramadhan dan Syawal 1427H.

Dr. K. Widyo, Sp.S, dkk, tahun 2006, Faktor Risiko Stroke Mutakhir, penerbit Medika
FK UGM Yogyakarta.

Dr. C. Triwikatmani, Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. Tahun


2002. Penerbit PB PERKENI, Jakarta.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Buku Metode Pengobatan Nabi,Tahun 2008. Penerbit Griya
Ilmu.

Muhammad Abduh Tuasikal, Buku Panduan Ramadhan, Pustaka Muslim.

Scott C. Litin, M.D (editor), Buku Mayo Clinic, Family Health Book Edisi kedua,
Tahun 2007. Penerbit PT Intisari Mediatama, Jakarta.

http://www.ummushofiyya.wordpress.com

http://www.majalahmuslimsehat.com

http://www.muslimah.or.id

http://www.muslim.or.id

http://www.rumaysho.com

http://www.almanhaj.or.id