Anda di halaman 1dari 7

Dalam ekonomi, utilitas adalah jumlah dari kesenangan atau kepuasan relatif (gratifikasi) yang

dicapai. Dengan jumlah ini, seseorang bisa menentukan meningkat atau menurunnya utilitas, dan
kemudian menjelaskan kebias aan ekonomis dalam koridor dari usaha untuk meningkatkan kepuasan
seseorang. Unit teoritikal untuk penjumlahan utilitas adalah util.
Doktrin dari utilitarianisme ,elihat maksimalisasi dari utilitas sebagai kriteria moral untuk organisasi
dalam masyarakat. Menurut para utilitarian, seperti Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart
Mill (1806-1876), masyarakat harus bertujuan untuk memaksimalisasikan jumlah utilitas dari
individual, bertujuan untuk "kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar".
Dalam ekonomi neoklasik, rasionalitas didefinisikan secara tepat dalam istilah dari kebiasaan
maksimalisasi utilitas dibawah keadaan ekonomi tertentu. Sebagai kebiasaan usaha hipotetikal,
utilitas tidak membutuhkan adanya keadaan mental seperti "kebahagiaan", "kepuasan", dll.
Utilitas digunakan oleh ekonom dalam konstruksi sebagai kurva indiferen, yang berperan sebagai
kombinasi dari komoditas yang dibutuhkan oleh individu atau masyarakat untuk mempertahankan
tingkat kepuasan. Utilitas individu dan utilitas masyarakat bisa dibuat s ebagai variabel tetap dari
fungsi utilitas (contohnya seperti peta kurva indiferen) dan fungsi kesejahteraan sosial. Ketika
dipasangkan dengan komoditas atau produksi, fungsi ini bisa mewakilkanefisiensi Pareto, yang
digambarkan oleh kotak Edgeworth dan kurva kontrak. Efisiensi ini merupakan konsep utama
ekonomi kesejahteraan.

Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau
menguntungkan.[1] Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar ( the greatest
happiness theory).[2] Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy
Bentham[3] dan muridnya, John Stuart Mill.[2][4] Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang
berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan.[1]
[5] Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan.
[1] Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan
menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.[1]
[sunting] Teori Tujuan Perbuatan
Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari atau mengurangi
kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.
[5] Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan, manfaat, dan keuntungan yang
dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan.[1] Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan
kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi
sebagian besar orang.[1] Dengan demikian, perbuatan manusia baik secara etis dan membawa
dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain.[1]
[sunting] Beberapa Ajaran Pokok
Seseorang

hendaknya bertindak sedemikian rupa, sehingga memajukan kebahagiaan (kesenangan)


terbesar dari sejumlah besar orang.[2]
Tindakan

secara moral dapat dibenarkan jika ia menghasilkan lebih banyak kebaikan daripada
kejahatan, dibandingkan tindakan yang mungkin diambil dalam situasi dan kondisi yang sama.[2]

Secara

umum, harkat atau nilai moral tindakan dinilai menurut kebaikan dan keburukan akibatnya.

[2]
Ajaran

bahwa prinsip kegunaan terbesar hendaknya menjadi kriteria dalam perkara etis.[2] Kriteria
itu harus diterapkan pada konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari keputusan-keputusan etis.[2]
[sunting] Utilitarianisme Peraturan
Kriteria

penilaian moral mendapatkan dasar pada ketaatan terhadap perilaku moral umum. [5][6]

Tindakan

moral yang dibenarkan adalah tindakan yang didasarkan pada peraturan moral yang
menghasilkan akibat-akibat yang lebih baik.[5]
[sunting] Referensi
1.^ a b c d e f g A. Mangunhardjana. 1997. Isme-isme dalam Etika dari A sampai Z. Jogjakarta:
Kanisius. Hal.228-231.
2.^ a b c d e f g Lorens Bagus. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hlm.
1144.
3.^ HYPERLINK "http://www.iep.utm.edu/bentham/" Encyclopedia of Philosophy
4.^ (id) Bryan Magee. 2001. The Story of Philosophy. Jogjakarta: Kanisius
5.^ a b c d Robert Audi. 1995. The Cambridge Dictionary of Philosophy. United Kingdom:
Cambridge University Press. Hlm. 824-825.
6.^ Rosen, Frederick. 2003. Classical Utilitarianism from Hume to Mill. Routledge, p.28.
HYPERLINK "http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/0415220947" ISBN 0-41522094-7
Disini saya memposisikan pendapat J.S. Mill sebagai pendapat kaum utilitarian dan kritiknya oleh
Rawls.
Utilitarianisme merupakan tahap pertama empirisme yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham dan
diteruskan oleh J.S. Mill. Menurut Bentham, utilitarianisme bermaksud menunjukan serta
menyediakan tolak ukur untuk menilai gagasan moral yang biasanya diterima serta lembaga-lembaga
hokum dan politik dengan maksud memperbaikinya. ( Lanur, 2005: xi).
J.S. Mill menekankan cita-cita tentang manusia. Ia menyatakan ba hwa kodrat manusia dapat
menjadi patokan kegiatan manusia agar mencapai kesenangan. Kodrat manusia ini merupakan ciri
individualitas yang terkandung kebebasan dalam diri manusia. Kehendak tiap masing-masing
individu apabila disatukan merupakan kehendak um um apabila dicapai bersama akan tercipta
kebahagian umum yang memungkinkan tercapainya tujuan kehendak individu. Ini artinya bahwa
kehendak umum harus dicapai secara kolektif dari setiap kehendak individu masing-masing.

Pendapat J.S. Mill ini memunculkan ap a yang disebut dengan prinsip manfaat. Yaitu setiap orang
bebas mengembangkan potensi dirinya yang tidak mengganggu kehendak umum yang telah dicapai
bersama. Pemaksaan menjadi wajib untuk menekankan kehendak individu yang melanggar kehendak
umum. Dengan i ni maka kehendak alami individu hilang demi mewujudkan kehendak umum. J.S.
Mill mengatakan bahwa jika kehendak umum tercapai maka kehendak individu akan tercapai pula.
Menurut kaum utilitarian dalam hal ini diwakili oleh J.S. Mill mengatakan bahwa bentuk id eal
pemerintah adalah pemerintahan yang dapat mewujudkan akibat-akibat yang menguntungkan dan
memiliki masa depan yang mana individu terlibat langsung dalam prosesnya. Dengan garis besar
kaum utilitarian ingin menyampaikan bahwa utilitarianisme dapat memb erikan tolak ukur objektif
untuk menentukan baik buruk, benar salah suatu tindakan.
Kritik dari Rawls terhadap utilitarianisme didasarkan oleh konsep keadilan. Rawls mengatakan
bahwa utilitarianisme menganggap setiap kehendak individu adalah sama yang diwuj udkan sebagai
kehendak umum. Artinya utilitarianisme dianggap valid dalam memberikan suatu kebahagiaan bagi
setiap individu masing-masing. Jika dengan memberikan kebahagian terhadap individu masingmasing maka kehendak umum tercapai. Dengan kata lain bahw a ada suatu kalkulasi yang matematis
dalam pencapaian kebahagian tersebut dalam hal ini Rawls mengatakan kebahagian yang bersifat
material bagi masing-masing individu. (Ata Ujan, 2001: 29)
Padahal kebahagian tidak bisa dikalkulasi secara matematis karena ke bahagian sangatlah sulit
mengetahui mana batasannya. Kebahagian akan tercapai jika kehendak umum tercapai mengabaikan
kehendak individu karena kehendak individu tidak bisa begitu saja dianggap sebagai kehendak
umum. Ukuran kebahagian umum menurut Rawls ad alah jika kebahagian masing-masing individu
telah tercapai dan itu dapat mendukung kebahagian umum.
Rawls mengatakan bahwa utilitarianisme gagal memenuhi konsep keadilan sebagai fairness. Rawls
juga mengatakan bahwa pemerintah ideal adalah pemerintah yang d apat menjamin kebebasan
masing-masing individu untuk mencapai kebahagiaan terlebih dahulu dan baru kemudian kebahagian
individu tersebut menjadi basis bagi kebahagian umum.
Disinilah perbedaan pendapat antara kaum utilitarian dengan Rawls. Kaum utilitarian mengatakan
bahwa kebahagian individu harus terlebih dahulu mewujud kehendak umum sedangkan Rawls
sebaliknya, yaitu kebahagian individu yang harus diwujudkan terlebih dahulu guna mencapai
kebahagian umum.
sumber:
Ata Ujan, Andre. Keadilan Dan Demokrasi Telaah Filsafat Politik John Rawls. Yogyakarta:
Kanisius, 2001.
Lanur, Alex. On Liberty Perihal kebebasan. Terjemahan Karya John Stuart Mill, Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 2005.

Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benarbenar ada adalah materi.[1] Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah
hasil interaksi material.[1] Materi adalah satu-satunya substansi.[1] Sebagai teori, materialisme
termasuk paham ontologi monistik.[1] Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang

didasarkan pada dualisme atau pluralisme.[1] Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas,
materialisme berseberangan dengan idealisme.[2]
Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti: roh, hantu, setan dan malaikat.
[2] Pelaku-pelaku immaterial tidak ada.[2] Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural.
[2] Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas
materi.[2] Materi dan aktivitasnya bersifat abadi.[2] Tidak ada penggerak pertama atau sebab
pertama.[2] Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal.[2] Semua gejala berubah, akhirnya
melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan
wujud yang abadi dari materi.[2]
[sunting] Definisi Materialisme
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme.[1] Materi dapat dipahami sebagai bahan; benda;
segala sesuatu yang tampak.[3] Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala
sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan
mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.[3] Sementara itu, orang-orang yang
hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis.[3] Orang-orang ini adalah para
pengusung paham (ajaran) mater ialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata
(harta,uang,dsb).[3]
[sunting] Tokoh-tokoh dan Karya-karya Materialisme
Filsuf yang pertama kali memperkenalkan paham ini adalah Epikuros.[4] Ia merupakan salah
satu filsuf terkemuka pada masa filsafat kuno.[4] SelainEpikuros, filsuf lain yang juga turut
mengembangakan aliran filsafat ini adalah Demokritos dan Lucretius Carus.[4] Pendapat mereka
tentang materialisme, dapat kita samakan dengan materialisme yang berkembang di Prancis pada
masa pencerahan.[4] Dua karangan karya La Mettrie yang cukup terkenal mewakili paham ini adalah
L'homme machine (manusia mesin) dan L'homme plante (manusia tumbuhan).[4]
Dalam waktu yang sama, di tempat lain muncul seorang Baron von Holbach yang mengemukakan
suatu materialisme ateisme.[4] Materialisme ateisme serupa dalam bentuk dan substansinya, yang
tidak mengakui adanya Tuhan secara mutlak.[2] Jiwa sebetulnya sama dengan fungsi-fungsi otak.
[4] Pada Abad 19, muncul filsuf-filsuf materialisme
asal Jerman seperti Feuerbach, Moleschott, Buchner, dan Haeckel.[4][5] Merekalah yang kemudian
meneruskan keberadaan materialisme.[4]
[sunting] Ciri-ciri paham materialisme
Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:[2]
Segala
Tidak

yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi (ma dah).[2]

meyakini adanya alam ghaib.[2]

Menjadikan

panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.[2]

Memposisikan

ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum.[2]

Menjadikan

kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.[2]

[sunting] Kritik terhadap Materialisme


Salah satu kritik terhadap paham materialisme dikemukakan oleh aliran filsafat eksistensialisme.
[2] Materialisme mengajarkan bahwa manusia pada akhirnya adalah thing, benda, sama seperti
benda-benda lainnya.[2] Bukan berarti bahwa manusia sama dengan pohon, kerbau, atau meja, sebab
manusia dipandang lebih unggul.[2] Akan tetapi, secara mendasar manusia dipandang hanya sebagai
materi, yakni hasil dari proses-proses unsur kimia.[2] Filsafateksistensialisme memberikan kritik
terhadap pandangan seperti ini.[2] Cara pandang paham materialisme seperti ini mereduksi totalitas
manusia.[2] Manusia dilihat hanya menurut hukum-hukum alam, kimia, dan biologi, sehingga seolah
sama seperti hewan, tumbuhan, dan benda lain.[2] Padahal manusia memiliki kom pleksitas dirinya
yang tak dapat diukur, misalnya saja ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial seperti
pengambilan keputusan, kecemasan, takut, dan sebagainya.[2]
[sunting] Referensi
1.^ a b c d e f Lorens Bagus. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hlm.
593-600
2.^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x N. Drijarkara. 1966. Pertjikan Filsafat. Jakarta: PT.
Pembangunan Djakarta. Hal. 57-59.
3.^ a b c d Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2000. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm. 946.
4.^ a b c d e f g h i P. A. van der Weij. 1988. Filsuf -filsuf Besar Tentang Manusia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama. Hal 108-110.
5.^ Bryan Magee. 2008. The Story of Philosophy. Yogyakarta: Kanisius. Hlm 135-136.
Kita sering menganggap agen maximizers utilitas. Kami bahkan menyebutnya "rasionalitas". Di sisi
lain dalam percobaan tidak ada yang baru-baru ini kami berhasil mengetahui perkiraan bahkan
bentuk fungsi util itas mereka, dan kita mengetahui jumlah besar tentang cara bagaimana agen
menyimpang dari maksimalisasi utilitas. Bagaimana pergi? Salah satu penjelasan cukup jelas. Alam
mengandung banyak proses seleksi - evolusi dan pasar yang paling jelas, tapi banyak orang lain
seperti kompetisi antar forum pengguna Internet di menarik, dan antara politisi berusaha untuk
mendapatkan dipilih. Dalam proses seleksi seperti properti tertentu - kebugaran - berperilaku sangat
mirip fungsi utilitas. Sebagai pendekatan yang b a ik suatu sifat yang memberikan kebugaran agen
yang lebih tinggi diharapkan bertahan dan berproliferasi. Dan sebagai hasil bahwa agen yang
bertahan proses seleksi tersebut bereaksi terhadap masukan cukup andal seolah-olah mereka
mengoptimalkan beberapa fun gsi utilitas - fitness dari proses seleksi yang mendasarinya. Jika itu
seluruh cerita, kita dapat menyimpulkan beberapa hal: maksimisasi Utility terkait dengan beberapa
proses seleksi - kebugaran evolusi, uang, kesempatan untuk mendapatkan terpilih - sangat umum dan
cukup handal. Kami tidak akan menemukan maksimalisasi utilitas terkait di luar proses seleksi - jadi
kita tidak maximizers ketika datang ke kebahagiaan, kesejahteraan global, tanggung jawab ekologis,
dan sebagainya. Jika proses seleksi ini tidak cukup kuat, kita tidak akan melihat maksimalisasi
utilitas banyak. Jadi kita bisa memprediksi bahwa oligopoli cukup buruk untuk memaksimalkan
keberhasilan pasar - sebagai tekanan sangat rendah. Jika proses seleksi ini tidak berjalan cukup lama,

atau a turan diubah baru-baru ini, kita tidak akan melihat maksimalisasi utilitas banyak. Jadi orang
yang benar-benar mengerikan pada memaksimalkan jumlah anak mereka di lingkungan modern kita
dengan kontrol kelahiran dan sumber daya tak terbatas. Dan kita bisa meramalkan bahwa ini
mungkin berubah dengan waktu yang cukup. Jika input atipikal, bahkan cukup handal maximizers
utilitas cenderung berperilaku buruk. Agen tidak utilitas maximizers seluruh proses seleksi. Jadi
sementara politisi dapat diasumsikan untuk memaksimalkan kesempatan mereka untuk mendapatkan
terpilih sangat baik, mereka harus cukup buruk di mendapatkan sebagai memaksimalkan pendapatan
mereka, atau jumlah anak. Namun, proses pemilihan sering berhubungan - historis seseorang yang
membuat lebih b anyak uang mampu untuk memiliki anak lagi, politisi kaya dapat menggunakan
kekayaan mereka untuk meningkatkan kesempatan mendapatkan terpilih, perusahaan dengan
kekuasaan politik yang lebih bisa bertahan di pasar yang lebih baik, forum internet dan butuh uang
pengguna untuk bertahan hidup, jadi harus lintas mengoptimalkan untuk kedua dll ini dapat
memberikan ilusi satu fungsi utilitas lintas domain besar, tapi seleksi di seluruh domain sering tidak
terlalu kuat. Kami secara alami buruk untuk mencapai tujuan kita dan menjadi bahagia dalam
lingkungan modern. Untuk memiliki peluang, kita secara sadar harus penelitian yang berhasil dan
yang tidak. Banyak orang menjadi bingung atas kegunaan yang berbeda dari "utilitas" kata. Ini
pemahaman saya. Keputusan agen-teoritis memiliki preferensi seputar negara di dunia. Anda dapat
menetapkan nomor telepon ke negara masing-masing sehingga agen selalu lebih memilih negara
dengan jumlah tertinggi. Jumlah ini disebut "utilitas", dan agen "pemaksimal utilitas". Jika agen a
dalah tidak pasti tentang konsekuensi dari tindakan yang berbeda, Anda bisa menunjukkan bahwa di
bawah asumsi yang wajar agen memberikan utilitas untuk hasil individu, dan lebih memilih tindakan
setelah nilai yang diharapkan dari utilitas ini adalah yang tertinggi. Ini disebut "Diduga Utility
Teorema", dan agen untuk yang berlaku adalah "utilitas pemaksimal diduga". formalisme ini
digunakan baik di bidang ekonomi dan dalam etika. Ekonomi (dari jenis neoklasik) model konsumen
dan pelaku ekonomi lainnya seb agai maximizers utilitas tersebut. Model ini tidak sempurna, dan ada
banyak kontroversi atas kegunaan mereka yang posting ini tidak akan mengomentari. Apa yang jelas
adalah utilitas yang, dalam konteks ekonomi, bukan kebahagiaan. Kebahagiaan mungkin berhu
bungan dengan utilitas dalam beberapa cara, tapi mereka tidak sama. Utility bukan sesuatu yang bisa
mengalami. Ini hanya membangun matematika digunakan untuk menggambarkan struktur optimasi
dalam perilaku Anda. Setiap agen hanya peduli tentang utilitas send iri, jadi tidak ada gunanya
menambah utilitas di agen yang berbeda, baik. etika konsekuensialis mengatakan perbuatan itu benar
jika akibatnya baik. perilaku moral di sini jumlah untuk menjadi pemaksimal utilitas. Apa itu
"utilitas"? Ini agen moral apapun seharusnya berusaha menuju. utilitarianisme asli Bentham
mengatakan utilitas adalah kesenangan minus sakit; saat ini setiap teori consequentalist cenderung
disebut "utilitarian" jika ia mengatakan Anda harus memaksimalkan kesejahteraan beberapa ukuran,
dij umlahkan atas semua individu. Penjumlahan utilitas adalah bagian penting dari teori ini, dan cara
untuk melakukannya baik akan terlihat jelas (seperti jika utilitas adalah jumlah pisang Anda makan),
atau harus ditentukan oleh teori ini (seperti jika utili tas adalah derajat yang Anda mencapai tujuan
Anda). Perhatikan: tidak semua maximizers utilitas yang utilitarianisme. Tidak ada koneksi yang
diperlukan antara kedua jenis utilitas lain dari itu mereka menggunakan matematika yang sama. Ini
mungkin untuk mem buat sebuah teori etika utilitarian di mana utilitas adalah jumlah dari utilitas
ekonomi setiap orang (dikalibrasi entah bagaimana), tetapi ini hanyalah salah satu dari banyak
kemungkinan. Siapa pun yang mencoba untuk alasan tentang satu jenis utilitas melalui yang lainnya
di tanah goyah. Seringkali itu tergoda untuk menafsirkan teori ekonomi sebagai asumsi orang
berusaha setelah kebahagiaan, atau orang yang telah mencapai tujuan mereka lebih bahagia daripada
orang yang tidak, atau orang mencapai tujuan me reka adalah hal yang baik, atau orang-orang
mencapai tujuan mereka adalah satu-satunya hal yang baik, atau orang-orang rasional yang egois.
Beberapa ekonom mengatakan hal-hal ini. Ekonomi tidak. Itu tidak sepenuhnya benar bahwa

ekonomi mengatakan apa-apa tentang utilitas dalam arti pakar etika itu. Ada cabang ekonomi yang
disebut "ekonomi kesejahteraan" yang tidak. Misalnya, ekonom John Harsanyi membuktikan bahwa
jika anda berada di belakang tabir ketidaktahuan, Anda harus menerima utilitarianisme, yang me
ngatakan kebijakan terbaik adalah salah satu yang memaksimalkan jumlah utilitas individu setiap
orang. Tetapi seperti bukti membuat beberapa asumsi eksplisit. Salah satunya adalah "Pareto
efisiensi", gagasan bahwa jika melakukan sesuatu yang membuat tidak ada yang lebih buruk dalam
hal preferensi dan setidaknya satu orang lebih baik, itu harus dilakukan. Kedengarannya masuk akal,
tetapi tidak berasumsi bahwa tidak ada hal-hal lain selain pemenuhan preferensi. Ini bukan kebenaran
etis yang jelas. Dengan banyak kesempatan untuk kebingungan, keDengan banyak kesempatan untuk
kebingungan, ketika orang menyebut "utilitas", itu ide yang baik untuk memastikan Anda (dan
mereka) tahu persis bagaimana mereka menggunakan kata.