Anda di halaman 1dari 16

AB II Perintah I: JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN DI HADAPANKU

2.1 Maksud awal


Larangan ini harus dipahami dalam konteks pernyataan Allah: Akulah Tuhan, Allahmu yang telah
membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan. Dari pernyataan tersebut menjadi jelas
bahwa Allah yang benar dan otentik adalah Allah Pembebas, yang menuntut dari umatNya
pengabdian khusus, ketaatan tanpa syarat. Allah Pembebas meminta satu relasi eksklusif dari
umatNYa. Allah yang telah membawa mereka dari negeri perbudakan mengklaim sebagai satu-satunya
Allah, sehingga Israel tidak diperkenankan memberi tempat pada Allah lain. Dalam konteks inilah
pemazmur melukiskan ketakberdayaan berhala-berhala buatan tangan manusia. Berhala mereka
adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut tetapi tidak dapat berkata-kata,
mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dapat mendengar .
(Mzm 15,2-8).
Dari mazmur ini dapat dilihat bahwa tidak ada gunanya menaruh harapan kepada barang-barang
duniawi, berhala. Ini hanyalah ilusi. Percayalah hanya kepada Allah yang memang sudah jelas
kekuasaanNya, yang telah mereka alami dalam peristiwa pembebasan dari negeri Mesir. Perintah ini
melarang bangsa Israel untuk menyembah dewa-dewa lain, illah-illah lain, karena di negara-negara
sekitar Israel memang ada kultus penyembahan dewa-dewa.
Perintah jangan ada padamu allah-allah lain mendasarkan klaimnya karena Israel telah menjadi milik
Yahwe , maka Ia meminta satu sikap radikal, penyembahan tunggal dengan hati yang tidak terbagi.
2.2 Perkembangan lebih lanjut
Firman I dapat dipahami juga sebagai larangan menyembah berhala, idol-idol. Berhala adalah nilai
manusiawi/duniawi dan terbatas sifatnya yang dimutlakan: mengallahkan apa yang bukan Allah. Pada
jaman modern berhala-berhala itu dapat berupa harta kekayaan, kekuasaan, Ilmu pengetahuan dan
teknologi, manusia sendiri. Sesungguhnya dengan menyembah berhala, manusia menundukkan dirinya
di bawah kuasa apa yang diberhalakan, apa yang diTuhankan, ia ditindas, dijadikannya tidak bebas lagi.
Tidak jarang orang menjadikan barang-barang duniawi sebagai andalan hidup, penentu segalanya,
penentu kebahagiaan.
Dalam kaitannya dengan larangan menyembah dewa-dewa lain, ada larangan membuat patung.
Apakah yang dilarang itu semua pembutan patung? Bagaimana dengan adanya kerub-kerub, dan
perintah Allah kepada musa untuk membuat patung ular tembaga?
Dasar biblis dari larangan ini adalah apa yang ditulis dalam kitab Ulangan:Suara kata-kata kamu
dengar, tetapi suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara, supaya jangan kamu berbuat busuk
dengan membuat patung bangimu (Ul. 4:12,16).
Yang dilarang dalam perintah ini adalah membuat patung Yahwe, sebab dengan pembuatan patung
Yahwe manusia mereduksi Allah, merendahkan ke taraf ciptaan, dengan menghadirkan Allah dalam
patung berarti manusia menguasai ruang gerak Allah. Padahal Allah israel adalah Allah yang bebas.
Hanya satu yang dapat menjadi simbol Allah yaitu Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia. Dialah
gambar Allah yang kelihatan, yang menjadi model dan contoh bagi manusia.
2.3 Dosa-dosa yang melanggar firman I:
Penyembahan berhala: mengallahkan apa yang sesungguhnya bukan Allah: uang, kekuasaan, ideologi,
ras, kebebasan, seks.
Ramalan dan magi: persoalan masa depan manusia tidak bisa ditentukan oleh manusia sendiri, namun
tergantung dari penyelenggaraan Ilahi. Melalui kekuatan-kekuatan magis, manusia meminta
perlindungan atau malahan mencelakakan orang lain, yakni melalui teluh seperti banyak terjadi di jawa
barat. Di samping itu, penggunaan jimat dan susuk merupakan pelanggaran terhadap firman I dekalog.
Meminta kekayaan melalui penyembahan dewa, ngiprit merukan pelanggaran terhadap firman I juga.
Mencobai Allah dengan perkataan dan perbuatan, memaksa Allah untuk membuat mujizat. Sacrilegi:
menghina,menajiskan, tidak menghormati sakramen-sakramen, terutama ekaristi. Simoni: jual beli
barang rohani, karunia Allah, merendahkan martabat berkat/anugerah Allah. Kamu telah menerima
dengan cuma-cuma, karena itu, berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Atheisme:
Humanisme atheistik: manusia menjadikan dirinya sebagai tujuan, manusia mengandalkan hidup dan
usahanya mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup melulu pada kekuatan dan prestasinya

sendiri.
Otonomi manusia yang diabsolutkan, akibatanya manusia menyangkal setiap
ketergantungannya pada Allah, bahkan manusia memanggap Allah sebagai rival dalam mencapai
kebebasannya.
Atheisme: menolak keberadaan Allah.
Sekularisme: pandangan hidup yang bertumpu melulu pada hal-hal duniawi dan menganggap tidak
berguna segala sesuatu yang melampaui dunia yang kelihatan, mengesampingkan nilai-nilai
spiritual/rohani, hanya menganggap penting apa yang material, sehingga manusia menghapus Allah
dari kehidupannya.
Agnostisisme: seorang agnostik tidak mengambil sikap terhadap keberadaan Allah karena tidak
mungkin membuktikannya.
Firman II: Jangan Menyebut Nama Tuhan dengan sembarangan
Landasan Kitab Suci: Kel. 20:7 // Ul. 5:11
Apa yang menjadi landasan larangan tersebut? Apa maksudnya menyebut nama Allah dengan
sembarangan? Bagaimana dengan penyebutan nama Allah dalam sumpah y]ang dituntut dalam
lingkungan profesi tertentu?
Yang menjadi landasan larangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan adalah karena nama
Tuhan itu kudus. Nama menunjukkan identitas diri Allah sendiri. Yahwe yang berarti Aku adalah Aku
(Kel. 3:14). Larangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dikaitkan dengan identitas Allah
yang adalah Kudus dan benar. Kekudusan nama Allah menuntut bahwa orang tidak memakainya untuk
hal-hal yang tidak penting (Kat. Art. 2155). Dia yang kudus harus dihormati dan diesembah dengan
sikap iman. Larangan ini harus dipahami dalam konteks penyembahan Allah. Di samping itu, nama
Allah itu penuh kuasa. Oleh karenanya, jangan menyalahgunakan nama Tuhan yang penuh kuasa untuk
tujuan yang tidak seharusnya.
Apa maksudnya menyebut nama Tuhan dengan sembarangan? Dalam bahasa Inggris kata yang
digunakan untuk kata ibrani lassaw adalah
mischief artinya ditujukan untuk merugikan dan
mencelakakan orang lain. Jangan memakai nama Allah untuk mengutuk sesama. Dengan demikian,
maksud dari larangan ini adalah supaya tidak menggunakan nama Allah untuk mencelakakan orang
lain. Ini berarti menyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan inheren nama Allah demi tujuan jahat,
yakni membahayakan hidup orang lain.
Kata lain yang digunakan adalah in vain dan vanity yang artinya kesia-siaan, dengan sikap menghina
dan merendahkan, tanpa makna, dengan sembrono. Nama Allah tidak boleh digunakan untuk sesuatu
yang sia-sia, tidak sungguh-sungguh. Penggunaan kata vain ini dapat kita lihat juga dalam Yes.1:13
Jangan lagi membawa persembahan yang tidak sungguh-sungguh, sebab baunya adalah kejijikan
bagiKU.
Penggunaan nama Allah dalam mengambil sumpah sejauh itu dilakukan dengan penuh kesungguhan,
dapat dibenarkan. Artinya dalam mengangkat sumpah, orang menggunakan nama Allah untuk
menjamin kesungguhan, keseriusan sumpah tersebut. Dalam hal ini, orang memanggil Allah sebagai
saksi. Berkaitan dengan sumpah, Hukum Kanonik mengatakan: Sumpah ialah menyerukan nama Allah
selaku saksi kebenaran, hanya boleh diucapkan dalam kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan (HK.
Kan. 1199).
Sumpah dipengadilan menggunakan kata demi Allah atau dalam nama Allah, maksudnya adalah
untuk menjamin kebenaran dari perkataan saksi.
Di samping itu, nama Allah boleh digunakan dalam konteks janji yang dibuat dengan penuh
kesungguhan, misalnya janji perkawinan, kaul, baptis. Maksudnya adalah bahwa janji yang dibuat,
diikrarkan sungguh-sungguh mengikat, mau dilaksanakan dengan setia. Nama Allah dipakai sebagai
jaminan kebenaran. Janji dibuat untuk dilaksanakan bukan untuk diingkari.
Apa yang dilarang dalam konteks firman II adalah bersumpah palsu. Dalam kebiasaan bangsa Israel
kuno dan bangsa-bangsa sekitarnya, orang bersumpah atas nama langit, bumi, tetapi bukan atas nama
Allah. Dalam katekismus dikatakan Bersumpah atau mengangkat sumpah berarti memanggil nama
Allah sebagai saksi untuk apa yang kita ucapkan. Itu berarti memanggil kebenaran ilahi supaya ia
menjamin kejujuran orang yang bersumpah. Sumpah mewajibkan atas nama Allah. Engkau harus
takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya engkau
haruslah engkau bersumpah. (Ul. 6:13). (Kat. Art. 2150).

Dalam konteks inilah, perkataan Yesus dapat kita pahami Kamu telah mendengar pula yang
difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di
depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Jangan sekali-kali bersumpah baik demi langit, karena
langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi
Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar,Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak,
hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat (Mat. 5: 33-37)..Pada
intinya, orang yang bersumpah, entah nama Allah dikatakan atau tidak, Allah yang hadir di setiap
tempat turut menyaksikan apa yang disumpahkan (bdk. Mzm 139)
Bersumpah palsu artinya orang mengangkat sumpah dengan tidak sungguh-sungguh, bersumpah
untuk kemudian diingkari. Menggunakan nama Allah dalam sumpah palsu berarti mempertaruhkan
kekudusan dan kebenaran nama Allah dengan sia-sia. Seorang yang bersumpah palsu berarti
menjadikan Allah sebagai pembohong dan penipu. Dalam hal ini Katekismus berkata menolak
sumpah palsu adalah satu kewajiban terhadap Allah. Sebagai Pencipta dan Tuhan, Allah adalah tolok
ukur kebenaran. Perkataan manusia itu sesuai atau berlawanan dengan Allah, yang adalah kebenaran
itu sendiri. Sejauh sumpah selaras dengan kebenaran dan sah, ia menggarisbawahi bahwa perkataan
manusia berhubungan dengan kebenaran Allah. Sebaliknya sumpah palsu menempatkan Allah sebagai
saksi untuk suatu penipuan. (Kat. Art. 2151). Santo Ignatius dari Loyola berkata: Jangan bersumpah,
baik pada Pencipta maupun pada ciptaan, kecuali dengan kebenaran, karena keperluan dan dengan
hormat (Ignasius, Ex. Spir. 38. bdk. Kat. Art. 2164) Nama Allah juga tidak dibenarkan untuk
membenarkan tindakan kejahatan melawan kemanusiaan. Jangan mengatasnamakan Allah demi
kepentingan pribadi.
FIRMAN III: KUDUSKANLAH HARI SABAT
Maksud awal
Teks Kel.20, 8-11 Dalam teks ini motivasi dasar dari sabat adalah meniru pola kerja Allah, bekerja
selama enam hari dan pada hari ketujuh ia beristirahat. Di samping itu, sabat merupakan antisipasi dari
sabat abadi setelah manusia selesai dalam memenuhi tugas hidupnya, beristirahat di hadirat Allah.
Dengan beristirahat pada hari ketujuh manusia diajak untuk merenungkan seluruh karya dan
aktivitasnya dan menyadarkan manusia bahwa ia tidak cukup hanya mengandalkan usahanya sendiri.
- praxis Refleksi praxis baru.
Sabat memiliki makna penting pada saat bangsa Israel hidup di tanah pembuangan, di mana bangsa
Israel bertemu dengan bangsa-bangsa asing dan ada godaan meniru pola hidup bangsa lain yang tidak
mempunyai tradisi sabat. Institusi sabat ini mau mengingatkan bangsa Israel agar mereka hidup sesuai
dengan identitas mereka sebagai bangsa pilihan Allah yang telah dibebaskan dari perbudakan Mesir.
Dalam Teks ulangan 5,12-15 yang menjadi motivasi awal sabat adalah pengalaman pembebasan yang
telah dialami bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai mana mereka telah dibebaskan Yahwe,
demikian pula mereka harus membebaskan orang.-orang yang bekerja dalam ketergantungan pada
orang lain. Para hamba laki-laki dan perempuan, bahkan lembu harus menikmati istirahat dan saat
pembebasan. Sabat memiliki dimensi sosial dan moral yakni menjadi saat pembebasan bagi mereka
yang selama enam hari bekerja dalam ketergantungan. (bdk. Katekismus no. 2170)
Perkembangan makna
Dalam perkembangan selanjutnya, sabat direduksi pada sikap legalistis seperti dihayati oleh kaum
Farisi. Mereka membuat banyak aturan sampai ke hal-hal kecil, mengatur jalan sampai berapa langkah,
tidak boleh memasak, tidak boleh meyembuhkan orang. Dengan banyaknya peraturan yang harus
ditaati, sabat bukannya sebagai saat pembebasan dan istirahat, tetapi justru menjadi beban yang
membelenggu dan menindas. Berhadapan dengan sikap legalistis kaum farisi, Yesus mengembalikan
sabat pada motivasi awalnya yakni sebagai hari Tuhan, saat pembebasan sehingga berhadapan dengan
orang yang sakit Yesus lebih memperhatikan hidup dan keselamatan manusia, membebaskan manusia
dari perbudakan penyakit yang selama ini membelenggu mereka. Sabat dibuat untuk manusia
bukannya manusia untuk hari sabat. Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Hari sabat ditujukan
untuk memanusiakan manusia bukan sebaliknya.
Dalam tradisi kristen, sabat digeser ke hari Minggu yang merupakan hari untuk merayakan hari
kebangkitan Yesus, kelahiran baru. Dalam merayakan hari Tuhan , orang tidak dilarang bekerja dan
berbuat baik. Jerome dalam surat 108,20 menceritakan bahwa hari Tuhan ini dipraktekkan oleh
kelompok religius suster di Betlehem. Pada hari Tuhan mereka bersama pergi ke gereja di sebelah
rumah mereka, setiap kelompok mengikuti pemimpinnya. Pulang ke rumah lalu menyelesaikan tugas
mereka dan membuat pakaian bagi mereka sendiri maupun bagi keperluan orang lain. Dengan kata
lain, setelah ibadah di hari Tuhan, pekerjaan dalam komunitas berjalan normal. Dalam katekismus pun
dijelaskan
bahwa Sabat adalah
saat
merenung,
berefleksi
sehingga
manusia dapat

memperkembangkan hidupnya. Institusi sabat dibuat untuk membantu semua orang supaya mendapat
istirahat dan mempunyai waktu luang secukupnya untuk menghayati nilai hidup keluarga, budaya,
sosial dan keagamaan. ( Kat. no. 2117 bdk. GS no. 67).
Orang Kristen harus hati-hati agar jangan tanpa alasan berat mewajibkan orang lain melakukan
sesuatu yang dapat menghalangi mereka untuk merayakan hari Tuhan. Dalam istilah yang lebih
konkret kita beristirahat pada hari minggu bukan sebagai tujuan tetapi sebagai sarana. Memang umat
kristiani mempunyai kewajiban moral untuk merayakan hari Tuhan melalui perayaan ekaristi dan doadoa lainnya, tetapi hal ini tidak berarti orang tidak boleh melakukan sesuatu. Bagi mereka yang bekerja
untuk melayani kepentingan publik, perawat di rumah sakit, para dokter, para karyawan lainnya dapat
terus melaksanakan tugas mereka dengan tenang, yang harus diperhatikan adalah bahwa para majikan
harus memberi kesempatan kepada para karyawan untuk menunaikan tugas kewajiban keagamaannya.
Di samping itu, hari Minggu merupakan hari keluarga, saat yang tepat untuk mengunjungi sanak
saudara, memberi perhatian kepada kaum lanjut usia, orang.-orang sakit. Walaupun tuntutan dan
desakan ekonomi, para majikan hendaknya memberi kesempatan kepada para karyawan waktu khusus
untuk menunaikan kewajiban agamanya. Ini adalah tuntutan dasar dan termasuk hak asasi yang harus
diakui dan dilindungi.
Firman ketiga ini juga mau menyoroti makna kerja bagi manusia. Dalam kitab kejadian kerja keras
untuk mencari nafkah merupakan kutukan dari Allah karena manusia jatuh kedalam dosa: Karena
engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon yang telah kuperintahkan
kepadamu: jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau, dengan bersusah
payah engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupnya Kej. 3,17. Akan tetapi, dalam
pemahaman teologis kerja memiliki makna sebagai partisipasi dalam karya penciptaan Allah, untuk
mengolah dan mengembangkan dunia. Kerja juga memiliki arti antropologis yakni mengembangkan
dan menyempurnakan manusia, dengan dan melalui kerja manusia semakin memanusiakan dirinya. Di
samping itu, kerja memiliki arti sosial yakni memberikan kesempatan kepada manusia untuk menjalin
relasi dengan sesamanya. Kerja juga memiliki makna ekonomis yakni memberikan nafkah kepada
manusia.
Pada saat ini, orang menggeser makna hari sabat, hari minggu untuk rekreasi, lebih dari pada
menguduskannya bagi Allah.Bagi mereka yang sudah pensiun atau bagi mereka yang tidak bekerja,
menganggur, apakah makna sabat bagi mereka? Untuk konteks jaman sekarang, di mana orang
bekerja hanya 5 hari, apakah makna hari sabat?
Perintah IV HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU
1 Maksud awal
Yang menarik dari firman atau perintah ini adalah rumusannya positif. Motif untuk mentaatinya adalah
adanya suatu janji bukannya perasaan takut dihukum. Supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan
Yahwe, Allahmu kepadamu Kel.20, Dalam teks keluaran motif dari firman IV adalah supaya hidup
berlangsung lama di tanah yang dijanjikan.
Dalam konteks keluaran, tanah adalah anugerah istimewa dari Yahwe. Bangsa yang tinggal di tanah
perbudakan akan memiliki tanah terjanji,sebagai milik mereka sebagai bangsa yang bebas merdeka.
Dalam teks Ulangan kita melihat adanya suatu janji : Supaya lanjut umurmu dan supaya baik
keadaanmu di tanah yang diberikan Yahwe, Allahmu kepadamu. Teks ini harus dipahamai dalam
kontek pembuangan. Bangsa Israel hidup di pembuangan sehingga tanah mereka hilang, maka pada
situasi pembuangan umur panjang dab keadaan hidup yang baik menjadi anugerah Allah bagi Israel.
Apakah yang dimaksud dengan menghormati ayah dan ibu?
Dalam Perjanjian lama firman ini menyangkut sikap anak terhadap orang tua, dalam arti negatif yakni
tidak boleh memukul, tidak boleh mengutuk atau menghina orang tua (bdk. Kel. 21:15,17; Im. 20:9; Ul.
27:16; Ams. 19:26 ; 20:20). Orang yang memukul dan mengina orang tua layak mendapat hukuman.
Dalam arti positif, firman IV ini mengajak sikap hormat kepada orang tua, generasi tua yang dipandang
sebagai pewaris tradisi dan punya pengalaman banyak, terutama pengalaman religius: Mereka yang
tua-tua ini menjadi figur dan model kebijaksanaan.
Persoalan yang muncul sekarang adalah orang tua, lanjut usia merasa dirinya tidak dipakai lagi,
bahkan dianggap sebagai beban keluarga dan masyarakat, terutama dalam kultur yang menekankan
produktivitas.

Menghormati orang tua pertama-tama adalah tugas dan kewajiban anak dewasa untuk memperhatikan
orang tua yang mulai melemah, tidak berpenghasilan, maka tanggung jawab dan kewajiban anak
dewasa adalah merawat dan mengurus mereka sehingga tidak sampai terlantar. (Bdk. Sir. 3:12-13:16;
Mat. 15:4-6).Anak-anak harus memperhatikan kebutuhan: material, spritual dan psikologis. Problem
orang tua yang dipantijompokan merasa diri dibuang, dijauhkan, merasa diri tidak berguna lagi,
mengalami kesepian mendalam. Hormat kepada orang tua juga mencakup sikap hormat dan mau kerja
sama antara generasi tua dan muda; yang muda mau menerima warisan tradisi secara kritis.
2 Perkembangan makna
Hormat kepada orang tua juga menyangkut ketaatan kepada orang tua dalam batas-batas tertentu,
sesuai dengan perkembangan jaman. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan konflik maka perlu
diciptakan dialog yang baik antara anak-anak dengan orang tua.
Firman keempat ini diperluas cakupannya pada hubungan antara orang muda dengan orang tua,
antara guru dengan murid, antara majikan dengan para pekerja, antara pemerintah dan warga negara.
Tugas dan tanggungjawab orang tua terhadap anak. Orang tua dalam tindakan menurunkan keturunan
menjadi rekan kerja Allah dalam tata penciptaan. Tugas dan kewajiban orang tua bukan hanya
melahirkan dan memberi makan, melainkan mendidik anak-anak dalam kehidupan Iman, sosialisasi
dan moral. Keluarga menjadi basis untuk pembentukan kepribadian anak dan tempat penanaman nilainilai. Bagaimanakah orang tua menciptakan suasana penuh cinta, saling menghormati, persaudaraan,
rasa setia kawan, solidaritas, kesetiaan dalam keluarga sehingga anak dapat bertumbuh dengan baik.
Relasi antara warga negara dengan pemerintah:
Dalam dunia yang ditandai oleh mentalitas utilitarian, di mana orang menilai manusia berdasarkan
pada produktivitas, maka firman ini memiliki relevansi dan sekaligus menjadi tantangan besar.
Firman VI (Perintah V) Jangan Membunuh
4.1 Maksud awal firman:
Maksud awal perintah ini adalah mau melindungi hidup manusia yang tidak bersalah, orang israel
merdeka. Kata yang gunakan untuk menunjuk pada pembunuhan adalah ratsah dan hemit. Kata ratsah
menunjuk pada pembunuhan secara keji,sengaja, dengan maksud jahat membuat mati seseorang.
Kata ratsah ini ditemukan dalam KS sebanyak 46 kali, secara khusus dalam teks-teks hukum yang
mengatur tempat-tempat pelarian, tempat perlindungan di mana orang yang telah membunuh secara
tidak sengaja dapat melarikan diri.
Kata ratsah ini tidak termasuk pada kasus pembunuhan waktu perang, dalam pembelaan diri,
pelaksanaan hukuman mati. Jadi pembunuhan yang dilarang adalah pembunuhan illegal. Kata ratsah
memberi kualifikasi khusus pada pembunuhan keji dengan kekerasan seorang manusia yang tidak
dapat melawan serangan: Siapa yang memukul dengan barang besi sehingga orang itu mati, maka ia
seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh (Bil. 35,16ss).
Pembunuhan yang dikaitkan dengan dendam darah. Jadi yang pertama-tama mau dilindungi adalah
orang Israel merdeka. Dalam kisah pembunuhan yang pertama dimana kakak membunuh adiknya,
Allah berkata: Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah. Maka sekarang terkutuklah engkau,
terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari
tanganmu (Kej. 4,10).
Pada kira-kira abad V A.C tradidi Priest meperluas cakupan perlindungan hidup bagi setiap manusia
Siapa menumpahkan darah manusia, adarahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat
manusia itu menurut gambar-Nya sendiri( Kej. 9,6) Siapa yang memukul seseorang sehingga
mati,pastilah ia dihukum mati (Kel. 21,12). PL membedakan antara hidup orang merdeka dengan
hidup seorang budak (Bdk. Kel. 21, 12-13) antara hidup janin dan hidup orang dewasa (bdk Kel. 21,22).
Firman jangan membunuh mau menjamin nilai kehidupan dan melindunginya dari nafsu dendam
pribadi.
4.2 Pemahaman baru
Dalam perjanjian baru, terutama dalam kotbah di bukit, Yesus memperluas cakupan firman jangan
membunuh sampai pada larangan untuk membenci dan memarahi orang. Yesus tidak hanya
melarang
pembunuhan real, tetapi mengajak untuk
menghormati
hidup manusia dengan
menciptakan satu sikap batin yang tulus dan baik, memiliki kepekaan dan keprihatian terhadap hidup
orang lain, membangun persaudaraan dimana setiap orang dihagai dan diperlakukan sebagai pribadi
yang bermartabat luhur.

Persaudaraan universal dan kehidupan bersama dapat dibangun bukan hanya dengan menjauhkan
nafsu balas dendam, tetapi terlebih dalam kemauan kuat dan kehendak yang baik untuk merangkul
setiap manusia yang jauh untuk menjadi saudara. Ini adalah kasih yang otentik, mendobrak batasbatas SARA. Dengan demikian, firman kelima dalam rumusan positifnya mengajak orang untuk
mencintai, memelihara, melindungi dan membela kehidupan mansia dari berbagai ancaman.
Berkaitan dengan firman jangan membunuh apakah dibenarkan membunuh seseorang dalam rangka
membela diri? Apakah ini memang merupakan satu kekecualian dari larangan membunuh?Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kalau kita mengambil teks dari Evangelim Vitae: Dengan
otoritas yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para penggantinya dalam kesatuan dengan para
Uskup Gereja katolik, saya (Yohanes Paulus II) menegaskan bahwa pembunuhan langsung dan
disengaja manusia yang tidak bersalah adalah selalu merupakan perbuatan immoral, (EV no. 57).
Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa perintah jangan membunuh memiliki dua ketetapan,
yakni: yang pertanma berhubungan dengan tindakan moral yang jelas-jelas immoral dalam dirinya
sendiri per se.
Tindakan immoral adalah pembunuhan langsung dan disengaja. Ketetapan yang kedua berkaitan
dengan dengan obyek perbuatan tersebut: siapa yang membunuh seorang manusia tak berdosa/tak
bersalah adalah salah. Larangan membunuh yang ada dalam dekalog mengacu pada tindakan
kehendak bebas dan sasarn langsung dari perbuatan membunuh adalah manusia yang tidak bersalah.
Dengan ketetapan ini, firman kelima memiliki nilai absolut tanpa kekecualian.
Pembelaan diri melawan agresor yang tidak adil bukanlah kekecualaian dari firman jangan membunuh.
Sebab, agresor yang tidak adil dalam realita bukanlah manusia tak bersalah, sebab ia sendiri malah
menghina dan menginjak-nginjak sakralitas dan intagibilitas hidup manusia. Juga hukuman mati
mendapat pembenaran dari konsep dasar tersebut di atas, yakni membela martabat dan hak-hak dasar
manusia yang telah diinjak-injak si penjahat. Membuat mati orang yang melakukan tindakan kriminal
yang merugikan kesejahteraan umum, adalah tindakan keadilan, mengganjar penjahat sesuai
kejahatan yang dilakukan.
Tekanan dari firman kelima hendaknya dipahami dalam arti positif, suatu perintah untuk
mencintai , mengahargai, memelihara dan melindungi hidup manusia dan intergritas pribadinya.
Bagaiamanakah caranya untuk mengusahakan agar hidup manusia berlangsung terus? Sikap hormat
terhadap nilai hidup manusia, pertama-tama harus menjadikan hidup manusia
sebagai tujuan
bukannya sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan lain.
Firman jangan membunuh mendapat aktualitasnya pada jaman sekarang, di mana hidup
manusia diancam dari berbagai sudut,dari saat permulaan sampai saat akhir hidupnya, lebih-lebih
dalam dunia yang ditandai oleh kultur kematian.Kemajuan ilmu dan pengetahuan di satu pihak
memberi keuntungan bagi hidup manusia, namun di lain pihak, mengancam martabat hidup manusia
itu sendiri: teknologi genetika telah memungkinkan pembuatan manusia menurut kriteria tertentu,
dengan tingkat kecerdasan tertentu, dengan jenis kelamin tertentu melalui manipulasi genetika.
Kemajuan ilmu dan pengetahuan telah memicu eksperimen terhadap manusia, bayi tabung, cloning,
intervensi atas embrio dan pembuatan embrio semata-mata demi kepentingan riset dan farmakologi.
Manusia sudah direduksi ketaraf objek, jaringan biologis yang siap digunakan di laboratorium. Dalam
konteks inilah, katekismus gereja katolik memperluas cakupan firman jangan membunuh sampai ke
4.3 Penerapan firman jangan membunuh
4.3.1. Penghormatan terhadap kehidupan manusia:
pada tahap awal perkembangannya, larangan aborsi and intervensi atas embrio,pembelaan diri yang
sah,bunuh diri dan eutanasia,
4.3.2. Hormat terhadap martabat pribadi Manusia
Hormat pada jiwa,Hormat pada kesehatan, Hormat pada pribadi dalam penelitian ilmiah, Hormat pada
integritas fisik, menyangkut tranplantasi organ. Pembelaan damai: perdamaian dan menghindari
perang
4.3.3 Persoalan Aborsi
Ada dua kelompok yang mencoba menilai moralitas aborsi. Kelompok pertama beranggapan bahwa
dalam batas-batas tertentu aborsi itu boleh dilakukan. Argumen mereka adalah bahwa sampai pada
waktu tertentu embrio itu bukanlah manusia individual, sehingga mengaborsi dibolehkan. Ada banyak
orang yang mencoba menentukan kapan embrio disebut manusia individual dan sebagai pribadi.

Norman M. Ford menyatakan bahwa embrio mencapai individualitasnya sebagai manusia setelah hari
ke-14, yaitu saat munculnya stria primitiva (bagian organ otak dan sistem saraf). Penulis lain
mengatakan bahwa embrio itu bukanlah manusia sebagai pribadi karena manusia sebagai person harus
memiliki kriteria-kriteria tertentu: berkesadaran diri, rasionalitas, memiliki pemahaman moral (menurut
TH. Engelhartd), manusia sebagai person kalau ia punya kesadaran akan waktu, kesadaran diri,
otonomi (menurut Josep Fischer), mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan orang lain( R.
McCormik). Manusia itu dikatakan manusia kalau ia mempunyai kemampuan untuk merasakan sakit
dan gembira( Peter Singer).
Judith Thomson seorang feminis dalam artikelnya yang berjudul A Defense of Abortion, ia mengakui
bahwa embrio mempunyai hak untuk hidup, tetapi, hak dia untuk hidup tidak berarti harus melanggar
hak wanita untuk menentukan apa yang akan terjadi atas tubuhnya, embrio tidak mempunyai hak
untuk diam dalam rahim si wanita selama sembilan bulan, jika si wanita tidak mau memberikan ijin
bagi embrio yang diam dalam rahimnya. Jadi dalam hal ini ada konflik antara hak embrio untuk hidup
dan hak wanita untuk tidak memberikan tempat/rahim pada embrio. Anak yang dikandung di rahimnya
dapat dilihat sebagai tamu yang tidak diundang, sehingga dalam kasus kehamilan yang tidak
diinginkan, wanita punya hak untuk mengusir embrio dari rahimnya.
Kelompok yang kedua adalah mereka yang menolak aborsi karena aborsi bertentangan dengan firman
jangan membunuh. Hidup manusia sudah dimulai saat konsepsi, yakni saat sel telur dibuahi oleh
spermatozoa.
Pada saat konsepsi atau pembuahan itulah, sudah mulai manusia baru yang hidup menurut program
dan kodegenetiknya sendiri, sehingga ia bukan lagi hidup bapa maupun hidup ibunya, tetapi hidup
manusia baru yang tumbuh menurut hukum perkembangannya. Kenyataah ini didukung oleh hasil riset
ilmu pengetahuan ilmiah: embriologi dan biologi molekular. Di samping itu, mereka yang menolak
aborsi mendasarkan argumennya pada karakter kudusnya hidup manusia, sebab manusia itu
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang ditentukan untuk bersatu dalam kehidupanAllah
sendiri.
Hidup manusia adalah anugerah Allah sendiri yang harus di rawat, dipelihara, dilindungi dan dicintai.
Manusia tidak mempunyai hak untuk mengambil hidupnya sendiri dan hidup orang lain. Hanya Allah
yang adalah Tuhan daan pemilik hidup, manusia hanyalah sebagai administrator.
Gereja katolik sejak awal menentang aborsi karena aborsi bertentangan dengan hukum Allah, hukum
natural, melanggar prinsip keadilan dan cinta sesama dan dikategorikan sebagai dosa pembunuhan
Posisi gereja berhadapan dengan kejahatan moral aborsi konstan dari dulu sampai sekarang. Hal ini
dapat kita lihat dalam dokumen gereja awal, misalnya dalam Didach 2,2 dikatakan:Engkau tidak
boleh mengaborsi dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan.
Dalam GS juga gereja menegaskan kembali moralitas aborsi: Allah Tuhan kehidupan telah
mempercayakan pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia, untuk dijalankan dengan cara
yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat.
Pengguran dan pembunuhan anak merupakan tindakan kejahatan yang durhaka GS n. 51.
Dalam Ensiklik Evangelium Vitae, Paus Yohanes Paulus II menegaskan kembali ajaran gereja
mengenai aborsi: Saya menegaskan bahwa aborsi langsung dan diinginkan, artinya dilakukan dan
diinginkan sebagai tujuan atau sebagai cara merupakan satu perbuatan immoral berat. (EV no. 57).
Dengan demikian menjadi jelas, bahwa aborsi langsung apapun alasannya tidak dapat dibenarkan
menurut moral. Disamping itu ada aborsi yang dinamakan aborsi eugenetika, yakni mengaborsi janin
yang cacat karena beranggapan lebih baik mati sebelum lahir dari pada menderita seumur hidup.
Aborsi eugenetika tak dapat dibenarkan, sebab ini adalah aborsi langsung. Aborsi tidak langsung dapat
dijinkan di bawah prinsip doubel effect, yakni prinsip moral yang berdasar pada 4 kriteria berikut:
Tindakan/perbuatan pada pada dirinya sendiri per se adalah baik atau indiferen. Maksud agen hanyalah
mencapai efek baik, sedangkan efek buruk hanyalah ditolerir. Efek buruk bukanlah cara/sarana untuk
mencapai efek baik. Ada proporsionalitas yang adekuat antara efek baik dan efek buruk.
Ada kasus-kasus yang bisa menggunakan prinsip double effect, misalnya kasus seorang wanita yang
sedang mengandung, namun ditemukan kanker ganas di rahim. Satu-satunya cara untuk
menyelamatkan si ibu dari kematian akibat kanker ganas tersebut hanyalah dengan mengangkat
rahimya, dengan konsekuensi kematian janin. Dalam kasus ini, kematian janin tidak dinginkan tetapi
hanya sebagai efek samping. Dalam kasus konflik antara nilai hidup ibu dan janin, moral katolik
mengajarkan harus diselamatakan kedua hidup tersebut sebisa mungkin, tetapi kalau tidak
memungkinkan harus diselamatkan hidup yang paling bisa diselamatkan.

Dalam kasus kehamilan sebagai akibat kejahatan pemerkosaan, bebrapa teolog moral katolik
mengatakan bahwa tindakan membersihkan sperma agresif dalam vagina si korban, sah menurut
moral, namun pada saat pembuahan sudah terjadi, tidak dibenarkan untuk menggugurkannya. Maka
dalam kasus sulit demikian, yang harus dilakukan adalah pendekatan pastoral untuk menolong si
korban sehingga ia tidak terlalu stress, down, kehilangan makna hidup, lalu diberi penadmpingan dan
dukungan moral dan spiritual sehingga akhirnya ia dapat menerima dan merawat anak yang sedang
dikandungnya dengan penuh cinta, seraya diberi bantuan finansial kalau ia memang berkekurangan.
Dalam kasus rape(pemerkosaan) baik si wanita korban kejahatan seksual, maupun anak yang
dikandung sama-sama tidak berdosa sehingga sudah sepatutnya dilindungi. Solidaritas dan empati dari
teman-teman dan keluarga, serta jemaat sangat diperlukan, untuk melindungi hidup manusia sejak
saat pembuahannya.
4.3.4 Eutanasia
Eutanasia berasal dari kata eu artinya baik, enak dan thanatos artinya mati. Jadi secara etimologis
eutanasia berarti kematian yang tidak disertai rasa sakit, kematian karena rasa belas kasih. Moralitas
eutanasia didasarkan pada prinsip bahwa hidup itu adalah anugerah Allah yang harus diterima dengan
rasa syukur.
Eutanasia dikategorikan sebagai kejahatan pembunuhan, maka tidak seorang pun punya hak untuk
melakukan eutasia baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang lain yang dipercayakan pada
tanggung jawabnya. Eutanasia merupakan satu penolakan atas rencana cinta Allah atas hidup
manusia. Di samping itu, eutanasia bertentangan dengan keutamaan cinta kepada diri sendiri dan
kepada orang lain.
Ada dua macam eutanasia: eutanasia aktif, yakni tindakan aktif membuat mati seorang pasien yang
berada dalam sakarat maut, atau sakit taktersembuhkan, dengan jalan memberikan obat atau suntikan
letal sehingga mengakibatkan kematian secara prematur. Yang kedua adalah eutanasia pasif, artinya
membiarkan si pasien yang berada dalam keadaan sakarat maut, atau koma dengan tidak memberikan
perawatan yang seharusnya atau malahan menghentikan pengobatan yang memang perlu sehingga
mengakibatkan si pasien mati secara cepat.
Moral katolik mengajarkan bahwa setiap jemaat kristiani hendaknya memberi perawatan yang perlu
kepada pasien sebagai wujud cinta kepada sesama. Akan tetapi dalam kasus, segenap usaha
pengobatan sudah dilakukan tetapi keadaan pasien tetap tidak berubah, malah semakin memburuk,
maka dalam situasi di mana kematian sudah mendekat dan tidak dapat dielakkan, maka menghentikan
pengobatan dapat dijikan secara moral. Hal ini tidak dapat disamakan dengan tindakan eutanasia
tetapi terlebih sebagai ungkapan penerimaan kondisi manusiawi di mana realita kematian memang
tidak bisa dihindari. Sikap yang tepat dalam kondisi demikian adalah, mendampingi si pasien sehingga
ia sungguh dikuatkan dan didukung, seraya menyiapkan ia agar benar-benar siap dan iklas untuk
beralih ke hidup abadi.
Di samping itu, si pasien diajak untuk menyatuakan penderitaan dia dengan penderitaan Kristus yang
tersalib. Dengan demikian kita dapat membantu dia dalam menghidupi saaat-saat akhir perjalanan
hidupnya dengan penuh iman dan menghantar dia untuk menyongsong kematiannya yang sudah
mendekat.
4.3.5 Pembelaan diri yang sah
Dalam moral katolik pembelaan diri yang sah sehingga menimbulkan kematian si aggresor yang tidak
adil, dibenarkan secara moral. Hal ini sesuai dengan kecenderungan kodrati untuk membela hidupnya
sendiri. Individu yang diserang dan hidupnya diancam mempunyai hak dan kewajiban untuk
membela diri, untuk tidak tunduk pada penyerang.
Katekismus denngan mengambil otoritas St. Thomas Aquinas mengatakan: Dari tindakan orang yang
membela diri sendiri, dapat menyusul tindakan ganda, yang satu ia menyelamatkan hidupnya sendiri,
yang lain adalah pembunuhan si penyerang ( Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q. 64, ad. 7;
Katekismus. No. 2263. ). Dari tindakan pembelaan diri tersebut dapat dilihat, bahwa dampak yang
pertama
diinginkan sedangakan yang kedua
tidak disengaja, namun sebagai efek samping.
Pembunuhan si penyerang yang tidak adil, tidak dapat dikategorikan sebagai pembunuhan sengaja.
Pembunuhan ini hanyalah sebagai konseskuensi dari tindakan membela diri. Penilaian moral
pembelaan diri yang sah dapat dilihat dalam kat. No. 2264: Siapa yang membela hidupnya sendiri
tidaklah bersalah karena pembunuhan, juga apa bila ia terpaksa menangkis penyerangnya dengan
satu pukulan yang mematikan.

Dalam kasus pembelaan diri yang dapat diterapkan prinsip double effect. Salah satu syarat dari prinsip
ini adalah adanya proporsionalitas antara effek baik dan effek buruk.. Jika seorang waktu membela
dirinya sendiri, mempergunakan kekuatan yang lebih besar dari pada sewajarnya, maka ia tidak
dibenarkan. (St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q. 67, a.4).
Dari semuanya ini dapat disimpulkan bahwa pembunuhan manusia yang tidak berdosa dengan sengaja
secara berat bertentangan dan melawan martabat manusia dan sakralitas hidup manusia,
bertentangan dengan kaidah emas, dengan kekudusan Pencipta. Hukum yang melarang pembunuhan
ini, mempunyai keabasahannya universal, mewajibkan dan mengikat semua dan masing-masing, selalu
dan di mana-mana. (Bdk. Kat. No. 2259 dan 2261).
BAB V FIRMAN VII(Firman VI): JANGAN BERZINA
Sebelum masuk pada maksud awal firman ini, ada baiknya kalau kita mencoba memahami apa yang
dimaksud dengan zina itu sendiri. Dalam PL zinah adalah hubungan seks yang dilakukan oleh seorang
wanita yang sudah bersuami dengan seorang pria lain yang bukan suaminya, entah dengan pria yang
kawin ataupun belum. Oleh karena itu, perzinahan hanyalah melanggar hak suami, tak pernah
melawan hak wanita. Karena dalam tradisi Yahudi yang mempunyai hak hanyalah pria.
5.1 Maksud awal
Maksud awal firman ini adalah melindungi stabilitas keluarga untuk mempertahankan keturunan yang
sah. Melalui perzinahan, seorang pria mengganggu dan merongrong kesatuan keluarga lain dan
sekaligus merebut hak suami atas istri. Sedangkan seorang wanita yang berzina itu sendiri merugikan
dan menghancurkan rumah tangganya dengan hidup tidak setia. Hubungan seksua antara seorang pria
yang sudah beristri dengan seorang pelacur atau wanita yang masih gadis, tidak dikategorikan sebagai
perzinahan.
Dalam pemahaman selanjutnya, firman jangan berzinah mau melindungi nilai kesetiaan dalam
perkawinan. Tata kesatuan dalam perkawinan bisa hancur karena ketidaksetiaan salah satu partner.
Kesetiaan dalam perkawinan menuntut satu relasi cinta yang eksklusif antara suami istri.
Dalam perjanjian lama fenomen perkawinan dipakai oleh para nabi sebagai lambang hubungan antara
Yahwe dengan Israel, di mana Allah/Yahwe sebagai mempelai pria setia kepada Israel yang adalah
mempelai wanita. Walaupun Israel sering kali tidak setia dengan menyeleweng, berzinah dengan
menyembah dewa-dewa asing, Allah tetap menunjukkan cinta dan kesetiaanNya.Gambaran yang
sangat indah dilukiskan dalam pernikahan Hosea dengan seorang pelacur (Hos. 1-3).
5.2 Pemahaman lebih lanjut
Dalam perjanjian baru, Yesus membertikan visi baru berkaitan dengan perzinahan. Kalau dalam PL,
hanya suami yang mempunyai hak dalam perkawianan, dalam PB istri pun mempunyai hak yang sama
seperti suami. Hal ini dapat dilihat dalam perdebatan Yesus dengan orang farisi berkaitan dengan soal
perceraian. Barang siapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam
perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain
, ia berbuat zinah. (Mrk 10,11-12). Berkaitan dengan zina, Yesus memperluas cakupan zinah bukan
hanya perbuatan lahiriah, tetapi juga menyangkut perbuatan kehendak,keinginan dalam hati untuk
mengingini seorang perempuan: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya,
sudah berzina dengan dia dalam hatinya( Mat. 5,28).
Perbuatan zinah merupakan pelanggaran terhadap nilai kesetiaan dalam perkawinan. Dan kesetiaan
yang dilanggar oleh salah satu partner dalam pandangan Yesus, tidak dapat dijadikan alasan untuk
meminta perceraian. Dalam konteks inilah, Yesus mengembalikan makna perkawinan sesuai sesuai
dengan tujuannya yang semula, yakni apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh
manusia. Kesetiaan suami istri dalam untung dan malang akan menjadi gambaran kesetiaan Allah pada
umatNYa, dan gambaran kesetiaan Kristus kepada gerejaNya.
Katekismus memperluas cakupan firman jangan berzina yakni menjauhkan diri dari segala tindakan
yang mencemarkan kemurnian hati dan hidup, di mana setiap orang dipanggil pada kemurnian.
Kemurnian merupakan tugas dan panggilan setiap orang secara pribadi, namun juga membutuhkan
lingkungan dan kultur yang mendukung dimensi dimensi susila dan rohani. Kemurnian adalah
intergrasi seksualitas yang membahagiakan di dalam pribadi dan selanjutnya kesatuan batin manusia
dalam keberadaannya secara jasmani dan rohani. sampai pada nilai kemurnian. Keutamaan kemurnian
menjamin keutuhan
pribadi dan kesempurnaan
penyerahan
diri. Dalam keutamaan ini ada
keutamaan lain yakni pengendalian diri. Dengan akal budinya manusia dapat mengatur dan
mengendalikan nafsu dan dorongan seksualnya. Keutamaan ini penting untuk menjaga kemurnian hati.

Seksualitas yang merupakan bagian dari manusia merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri.
Seksualitas merupakan bagian integral kepribadian manusia, artinya bahwa seksualitas ini
mempengaruhi hidup seseorang, cara dia berprilaku dan cara ia berada. Seksualitas sebagai suatu
energi memang harus diatur dan diarahkan supaya tidak liar. Dalam tata perkawinan seksualitas
menjadi sarana untuk memperdalam kesatuan antara suami dan istri demi kesejahteraan dan
kebahagiaan bersama. Pada hakikatnya seksualitas dalam konteks perkawian terarah pada prokreasi.
Dengan demikian, aktivitas seksualitas yang mengecualikan aspek prokreatif, bertentangan dengan
makna seksualitas yang sesungguhnya.
5.3 Pelanggaran-pelanggaran yang melawan kemurnian:
Pelanggaran-pelanggaran melawan kemurnian:
Ketidakmunian yakni keinginan untuk selalu mengejar keinginan dan kenikmatan seksual.
Masturbasi: rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan untuk mencapai kenikmatan
seksual. Tindakan ini bertentangan dengan ajaran moral gereja karena memisahkan seksualiatas dari
hakikat dan tujuan dasarnya. Seksualitas mengandung dimensi interrelasional, hubungan
intersubjekstif. Masturbasi merupakan pembiasan daya kekuatan seksualitas, yakni menikmati seks
secara egoistik serta memisahkannya dari dimensi prokreatif. Percabulan: yakni hubungan seksual
diantara seorang pria dan seorang wanita yang tidak terikat ikatan perkawinan. Pada hakikatya
seksualiatas manusia ditujukan untuk kebahagiaan suami istri yang terbuka pada kelahiran anak.
Prostitusi: merupakan tindakan yang merendahkan martabat wanita dengan mereduksinya hanya
sebagai alat pemuas nafsu seks, merupakan satu pelecehan terhadap nilai kemurnian dan kekudusan.
Homosekualiatas: ada dua macam homoseksualitas, yakni homoseksualitas karena kelainan kromosom
secara kodrat dan homoseksualitas sebagai kecenderungan. Homoseksualitas adalah daya tarik
seksual terhadap orang sejenis kelamin. Homoseksualitas ini bertentangan dengan hukum kodrat.
Dalam hubungan seksual di antara orang homoseks tidak terbuka pada keturunan/prokreasi,
kekurangan unsur saling melengkapi. Berhadapan dengan orang-orang homoseksual, mereka harus
dipahami dan dihormati sehingga akhirnya mereka dapat memahami dirinya dan secara perlahanlahan diajak untuk menghayati kemurnian dengan pengendalian diri.
Berhubungan dengan firman keenam ini juga masalah pengaturan kelahiran, yakni menyangkut
moralitas penggunaan alat kontrasepsi. Berkaitan dengan soal pengaturan kelahiran, gereja
mengajarkan supaya umat mengikuti keluarga berencana alamiah, yakni dengan melakukan pantang
berkala selama masa-masa subur. Dalam KBA ini ada kerja sama antara suami dan istri, saling
pengertian dan mendukung, meningkatkan komunikasi diantara mereka.
Di samping itu, firman ini juga menyangkut moralitas inseminasi artifisial bagi pasangan-pasangan
yang tidak subur. Apakah Inseminasi artifisial dibenarkan secara moral? Kita harus membedakan antara
FIVET homolog dan FIVET heterolog.
Dalam FIVET homolog baik sel telur maupun spermatozoa berasal dari pasangan yang sama. Oleh
karena ada kelainan hormonal maka diantara mereka tidak bisa melangsunkan pembuahan di dalam
rahim si istri. Melalui FIVET ini, Zigot lalu ditransfer ke rahim si istri.
Dalam FIVET heterolog dilibatkan pihak ketiga, sel telur atau spermatozoa berasal satu dari pasangan
dan satu dari donor, atau malahan kedua-duanya dari donor, dan lebih parah lagi, anak hasil
pembuahan ditransfer bukannya ke istri sendiri, tetapi ditransfer ke rahim orang lain. Hal ini jelas tidak
dapat dibenarkan secara moral.
Keberatan moral dari FIVET ini adalah bahwa anak harus lahir kedunia di dalam dan melalui
perkawianan yang sah sebagai buah cinta suami-istri. Anak merupakan anugerah Tuhan bukannya
sebagai hasil produk laboratorium.
FIRMAN VIII (perintah VII):JANGAN MENCURI
6.1 Maksud awal
Maksud awal firman jangan mencuri dikaitkan dengan pencurian manusia, penculikan manusia bebas.
Jadi firman ini mau melindungi kemerdekaan orang Israel yang bebas. Kata yang digunakan untuk
menunjuk firman ini adalah kata ganav. Kata ganav ini menunjuk pada tindakan pencurian manusia
atau penculikan dalam bahasa sekarang. Dalam kitab keluaran 21,16 diakatakan: Siapa yang menculik
seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum
mati.

Dalam kitab Ulangan dikatakan: Apabila sekarang kedapatan sedang menculik orang, salah seorang
saudaranya dari antara orang Israel, lalu memperlakukan dia sebagai budak dan menjual dia, maka
haruslah penculik itu mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu! Ul.
24,7. Dari kedua ayat ini menjadi jelas, bahwa firman jangan mencuri pertama-tama mau melindungi
kebebasan orang merdeka dan melarang penjualan manusia untuk dijadikan budak. Landasan dasarnya
jelas bahwa orang Israel pun dulu sebagai budak, namun kasih dan kebaikan Allah telah membebaskan
mereka dari status budak menjadi seorang merdeka. Pengalaman pembebasan ini hendaknya menjadi
titik acuan bagi orang Israel untuk menghormati manusia lain sebagai manusia bebas merdeka.
Di Israel oleh karena keadaan ekonomi yang buruk dan kemiskinan membuat orang dengan terpaksa
menjual tanahnya sebagai gadaian dan bahkan menjual anak atau dirinya sebagai budak untuk
menghapus utang. Akan tetapi, ada aturan bahwa seorang budak harus dibebaskan pada tahun ketujuh
(Tahun sabat) dan pada tahun ke lima puluh (Tahun Yobel). Apabila engkau membeli seorang budak
Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun ke tujuh ia dijinkan
keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa (Kel. 21,2).
Pada tahun kelima puluh tanah-tanah yang terpaksa dijual karena kemiskinan harus dikembalikan pada
miliknya karena tanah ini merupakan anugerah Allah bagi bangsa Israel, tanah janganlah dijual mutlak
karena Tuhanlah pemilik tanah, sedangkan orang-orang israela adalah orang asing dan pendatang bagi
Allah, (Imamat 23,23) juga harus dibebaskan kaum budak :Apabila saudaramu jatuh miskin di
antaramu, sehingga menyerahkan diri kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. Sebagai orang
upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus
bekerja padamu. Kemudian ia harus diijinkan keluar dari padamu,ia bersama anak-anaknya , lalu
pulang kembali kepada kaumnya da ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya(Im. 25,39-41).
Motif dasar dari pembebasan ini adalah tindakan pembebasan Allah yang dilakukan atas Israel. Hal ini
menjadi tuntutan etis dan moral bagi Israel.
6.2 Perkembangan pemahaman
Perkembangan lebih lanjut dari firman jangan mencuri diacu pada pencurian barang. Pencurian barang
milik orang lain jelas bertentangan dengan prinsip keadilan yang memerintahkan memberikan kepada
setiap orang apa yang menjadi haknya. Dalam perjanjian lama milik bukanlah hak mutlak sebab yang
menjadi pemilik mutlak adalah Allah sendiri. Yang dilarang dalam firman ini adalah pencurian dari atas,
tanpa mengabaikan pencurian dari bawah. Dalam kitab ulangan dikatakan Jika ia seorang miskin,
janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya. Kembalikanlah barang gadaian itu kepadanya
sebelum matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati
engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan Tuhan Allahmu(Ul. 24, 12-13).
Para nabi terutama Amos mengkritik para penguasa dan kaya serta para penikmat karena mereka
telah bersikap masa bodoh terhadap nasib orang miskin, bahkan mereka berbuat curang terhadap
orang miskin. Nabi Mika mengkritik para spekulan dan pencatut tanah: Yang menginginkan ladangladang, mereka merampasanya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang
dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya.(Mika 2,2). Pencurian dari atas ini dapat dilihat
dalam peristiwa penyerobotan Raja Ahab yang menginginkan tanah milik Nabot seorang miskin. Ahab
bersama permaisurinya Izabel berdaya upaya untuk merebut tanah milik Nabot dengan fitnah
sehingga Nabot dihukum mati. Lalu Elia menubuatkan hukuman berat atas raja Ahas dan keturunannya
karena kejahatannya itu.
Firman jangan mencuri diperluas maknanya sampai pada makna sosial dari milik. Kekayaan adalah
anugerah Allah yang diberikan kepada semua manusia dan ditujukan kepada seluruh manusia. Maka
bertentangan dengan firman jangan mencuri tindakan penumpukan kekayaan oleh segelintir orang
sehingga menimbulkan penderitaan dan kemiskinan bagai sebagian besar orang. Adalah satu tindakan
jahat membiarkan orang lain mati karena keserakahan dan kerakusan seseorang.
Dalam konteks sekarang, firman ketujuh memperoleh aktualisasinya dalam memperlakukan manusia.
Manusia janganlah dijadiakn objek atau direduksi hanya sebagai alat produksi. Bagaimanapun juga,
manusia harus tetap menjadi subjek, dan tujuan dari segala aktivitasnya. Adalah bertentangan dengan
dengan firman ketujuh yang membuat manusia sebagai objek untuk memperkaya diri, misalnya
seorang dokter atau psikolog yang menggunakan kesempatan dalam proses pengobatan, kaum
majikan yang menggaji karyawan dengan gaji di bawah standar minimum. Tindakan eksploitasi
terhadap para papa miskin dan kaum buruh jelas bertentangan dengan prinsip keadilan yang sangat
erat berhubungan dengan firman ketujuh.
Jurang yang semakin lebar antara kaum kaya dan kaum miskin menuntut adanya keadilan dalam
pemerataan pembagian hasil dan pemberian kesempatan yang sama. Untuk itu, dibutuhkan juga
solidaritas antar manusia, antar golongan, antar negara. Solidaritas menuntut kesediaan mereka yang
punya untuk dengan rela hati mau membagi kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

Firman ketujuh melindungi pribadi manusia melalui perlindungan pada hak milik yang merupakan
dasar untuk menjamin kebebasan sebagai manusia. Firman ketujuh juga mengajak kita untuk
memperhatikan kaum miskin sehingga merekapun dapat memenuhi tuntutan minimal untuk hidup
sebagai manusia. Prinsip keadilan dan cinta kasih mendapat wujud konkrit dalam pelayanan kepada
kaum miskin, di mana Kristus sendiri mengidentifikasikan dirinya dalam dan melalui mereka. Hal-hal
yang perlu dipahami dalam terang firman jangan mencuri: tindakan memperlakukan manusia sebagai
budak dalam kasus para pembantu yang dibayar dengan gaji rendah dan jam kerja non-stop (bentukbentuk baru perbudakan); para karyawan pabrik yang dibayar rendah dalam sistem ekonomi kapitalis
(the primacy of capital over labour). Manusia yang dibebaskan Allah tidak boleh dijadikan korban
kepentingan ekonomi.
Kasus penjarahan masal, apakah dibenarkan secara moral, melakukan pencurian karena situasi
mendesak demi mempertahankan hidup? Kasus korupsi yang dilakukan oleh para bos, atau juga
pencurian waktu yang dilakukan oleh para karyawan, bagaimana secara moral?
Tuntutan untuk membangun persaudaraan sejati dalam terang iman kepada Yesus, dengan
memperlakukan setiap manusia sebagai saudara, tidak pernah dibenarkan menjadikan orang lain
sebagai obyek, dan kepadanya setiap orang memiliki tanggung jawab.
BAB VII FIRMAN IX (PERINTAH VIII):
JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA TENTANG SESAMAMU
1. Maksud awal:
Larangan untuk bersaksi dusta erat kaitannya dengan perkara di pengadilan. Teks kel. 20,16 saksi
dusta yang berasal dari kata hibrani syaker yang artinya dusta ada unsur kesengajaan, tahu bahwa
itu salah. Sedangkan dalam teks Ulangan 5,20 mengacu pada larangan untuk bersaksi palsu yang
berasal dari kata Ibrani syave. Dalam hal ini orang memberi kesaksian tapi tidak diverifikasi terlebih
dahulu, belum dibuktikan kebenarannya. Tujuan semula dari firman ini adalah melindungi orang dari
tuduhan palsu yang berdampak negatif, merusak nama baik atau bahkan menentukan hidup matinya
seseorang. Hal ini dapat dipahami dalam konteks tradisi Israel kuno di mana proses pengadilan
dilakukan di pintu gerbang kota.
Dalam proses pengadilan tersebut kedudukan 2 orang saksi sangat menentukan nama baik dan hidup
seseorang yang dituduh bersalah. maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang
telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu
harus dilempari dengan batu sampai mati. Atas kesaksian dua atau tiga orang saksi haruslah mati
dibunuh orang yang dihukum mati.
Dalam masyarakat Israel kita bisa melihat bahwa seorang benar dapat terpaksa harus mati karena
kesaksian palsu dari kedua orang saksi palsu. Karena keserakahan, iri hati dan ambisi pribadi, raja
Ahaz membunuh nabot melalui kesaksian palsu. Juga Susana karena ia tidak memenuhi keinginan
nafsu seksual kedua hakim yang bejat, akhirnya Susana dihukum rajam karena kesaksian palsu kedua
hakim jahanan (Daniel 13,1-49).
Secara positif firman jangan bersaksi dusta tentang sesamamu mengajak orang untuk membela
kebenaran demi menyelamatkan orang benar dari tuduhan yang tidak benar. Memberi kesaksian
berarti memberi keterangan dan penegasan atas apa yang telah terjadi. Seorang saksia adalah orang
yang sungguh turut menyaksikan suatu tindak kejahatan. Maka seorang saksi yang benar dan jujur
akan mendukung proses pengadilan yang adil.
Dengan demikian firman ini mau menjamin keadilan di hadapan pengadilan, menjamin proses
pengadilan yang bersih, jujur dan benar, menegakkan kepastian hukum sehingga orang tidak mainmain dengan kebenaran. Yesus sendiri mengatakan kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak,
selebihnya berasal dari si jahat. Kebenaran dan keadilan dalam pengadilan sering kali dirongrong oleh
kebiasaan suap.
Keadilan dan kebenaran bisa dikorbankan karena uang, sehingga orang miskin yang tidak punya uang
sering kali menjadi korban. Hal ini sering dilakukan bahkan sudah menjadi kebiasaan. Kitab suci
melaporkan hal demikian: Celakalah mereka yang membenarkan orang fasik karena suap, yang
memungkiri hak orang benar (Yes. 5,22-23).
Nabi Amos sendiri terkenal sebagai nabi yang berani mengkritik ketidakailan yang dilakukan oleh para
penguasa dan orang kaya: Dosamu berjumlah besar hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit,
yang menerima uang suap dan mengesampingkan orang muskin di pintu gerbang (Amos 5,12).

Dalam kitab Ulangan ditegaskan hal keadialan di pengadilan: Dalam mengadili janganlah pandang
bulu, sebab pengadilan adalah hak Allah (Ul. 1,17).
2 Perkembangan makna
Firman ini dalam pemahaman selanjutnya tidak hanya terbatas pada perkara pengadilan yang harus
dilakukan secara benar dan adil, tetapi juga menunjuk pada ajakan untuk hidup dalam kebenaran.
Hidup dalam kebenaran adalah konsekuensi dari iman kepada Allah, yang adalah sumber segala
kebenaran, bahkan kebenaran tertinggi. Sabda dan hukumNya adalah kebenaran. Kristus sendiri
menampilkan diriNya sebagai kebenaran, menampilkan anugerah RohNYa sebagai Roh kebenaran (Yoh
14,17) yang membimbing pada para murid pada kebenaran. Kristus sendiri di hadapan Pilatus, Ia
sendiri menyatakan bahwa kedatangannya ke dunia untuk memberi kesaksian tentang kebenaran
(Yoh. 18,37). Hal ini mengajak umat Kristiani untuk berani memberi kesaksian tentang kebenaran.
Kristus juga telah menjadi saksi kebenaran sampai Ia sendiri mati karena kebenaran. Ini adalah tindak
kemartiran. Kemartiran adalah kesaksian tertinggi dalam memberi kesaksian tentang kebenaran iman.
Hal ini diungkapkan dalam pilihan kita untuk memilih nilai yang lebih tinggi, nilai moral dan kebaikan
interior atau kekudusannya sendiri. Kehidupan fisik adalah relatif dalam hubungannya dengan
kehidupan spiritual sehingga dalam situasi konflik, secara moral orang harus memilih kehidupan
spiritual. Kebenaran dan kesetiaan Allah menjadi dasar atau motivasi bagi manusia untuk bertindak
benar dan adil.
Perintah kedelapan ini juga mau mengajak orang untuk tidak menipu dan berbohong pada diri sendiri,
sesama dan Allah. Kejujuran terhadap diri sendiri merupakan dasar moralitas. Dalam realitas seharihari, ketidakberanian orang untuk mengatakan kebenaran sering kali dikondisikan oleh faktor-faktor
keamanan. Orang yang vokal dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan biasanya tidak lama dalam
jabatan atau tugas yang dipercayakan kepadanya, ia menderita dikucilkan dan difitnah, dipecat dll.
Katekismus memperluas cakupan firman kedelapan ini pada hal kebebasan dalam mengungkapkan dan
menyuarakan kebenaran. Sejauh manakah kita harus mengatakan kebenaran dalam hidup sehari-hari.
Apakah benar dan bijaksana mengatakan semua apa adanya dan di mana saja? Apakah etis
menelanjangi kesalahan orang di depan banyak orang? Tentu saja dalam mengungkapkan kebenaran
kita harus memperhatikan integritas pribadi orang lain dan memperhatikan kepentingan umum. Untuk
itu, dalam mengungkapkan kebenaran orang harus bijaksana.
Berkaitan dengan hak atas informasi, maka hak tersebut harus diarahkan oleh kebenaran, kebebasan,
cinta kasih dan solidaritas. Dalam kaitan dengan persoalan ini, KV II melalui Inter Mirica (IM)
mengatakan:
Di dalam masyarakat manusia terdapat hak atas informasi mengenai hal-hal yang sesuai dengan
manusia baik perorangan maupun tergabung dalam masyarakat, menurut situasi masing-masing. Akan
tetapi, pelaksanaan hak ini secara tepat menuntut agar mengenai isi, komunikasi selalu benar dan
utuh, sambil memperhatikan keadilan dan cinta kasih. Selain itu, mengenai caranya, hendaklah
berlangsung dengan jujur dan memenuhi syarat; maksudnya, hendaknya komunikasi itu mengindahkan
sepenuhnya hukum-hukum moral, hak-hak manusia yang semestinya serta martabat pribadinya, baik
dalam mencari maupun dalam menyebarkan berita; karena bukan semua pengetahuan
menguntungkan, hanya cinta membangun (1 Kor 8:1) (IM 5)
Penilaian moral atas informasi yang benar hanya keluar dari maksud demi kebaikan umum,
disesuaikan dengan prinsip keadilan, kebenaran, kebebasan dan solidariatas. Masyarakat mempunyai
hak untuk memperoleh informasi yang benar dan utuh, tidak dimanipulasi.
Mereka yang bertanggung jawab dalam bidang percetakan dan media massa/informasi mempunyai
kewajiban moril untuk memperhatikan kebenaran dan kasih dalam memberikan informasi yang
proporsional, akurat, tepat dan tidak menyesatkan serta tidak meresahkan dan mengganggu
kesejahteraan umum. Tugas luhur mereka yang terlibat dalam pelayanan penyebarluasan informasi
adalah membentuk opini publik yang sehat, membentuk suara hati yang benar. setiap pelanggaran
melawan keadilan dan kebenaran membawa serta kewajiban untuk pemulihan, juga apabila
pengampunan sudah diberikan kepada pencetusnya (Kat. 2487).
Yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam menyampaikan kebenaran, orang harus memperhatikan
keadaan dan kesiapan orang yang akan menerimanya. Harus dilakukan berdasarkan kasih dan
bijaksana, misalnya kebenaran yang menyangkut keadaan pasien.
Berkaitan dengan rahasia jabatan: dokter,militer, hakim: informasi pribadi yang merugikan orang lain,
tidak boleh disebarluaskan tanpa dasar yang memadai. Berkaitan dengan kode etik dalam pengakuan
dosa, pelayan pengakuan dosa tidak boleh dengan keras membocorkan rahasia pengakuan dosa (Kan.
983).

Firman ini juga melarang orang untuk berdusta, artinya orang mengatakan yang tidak benar dengan
maksud untuk menyesatkan. Dusta berasal dari iblis: Iblislah bapamu, . Ia tidak pernah memihak
kebenaran, sebab tidak ada kebenaran padanya. Kalau ia berdusta, itu sudah wajar karena sudah
begitu sifatnya. Ia pendusta dan asal segala dusta (Yoh. 8,44). (Bdk. Kat. 2482). dusta adalah
pelanggaran paling langsung terhadap kebenaran. Berdusta berarti berbicara atau berbuat melawan
kebenaran untuk menyesatkan seseorang yang mempunyai hak untuk mengetahui kebenaran (Kat.
2483).
Firman ini juga melarang orang untuk memfitnah, yaitu menyampaikan kesalahan dan pelanggaran
seseorang kepada orang lain yang tidak tahu menahu mengenai hal itu tanpa dasar yang obyektif dan
sah; membuat penilaian yang lancang, tanpa bukti yang memadai.(Bdk. Kat. 2477)
Firman jangan bersaksi dusta tentang sesamamu juga mau membangun tata hidup bersama atas dasar
kebenaran dan saling percaya. Manusia tidak dapat hidup bersama dalam suatu masyarakat kalau
tidak saling mempercayai, sebagai orang yang menyatakan kebenaran satu sama lain (Summa
Theologiae II-II, q. 103, a.3).
Di samping itu, firman kedelapan ini juga mengajak orang untuk tidak berbohong kepada diri sendiri,
tidak mentolerir kesalahan diri sendiri. Kita harus menghindari sikap munafik. Sikap kita yang
mendiamkan kejahatan dan ketidakadilan berarti kita telah melanggar firman ke delapan. Hal ini
didukung oleh budaya sungkan yang dipupuk dalam kultur feodalisme.
Kesimpulan
Firman jangan bersaksi dusta dimaksudkan untuk menjamin kebenaran dan keadilan dalam proses
pengadilan, sehingga hak orang kecil dan lemah tidak dikorbankan. Di samping itu, firman ini mau
menegaskan bahwa tata hidup bersama dapat diupayakan hanya jika kepercayaan yang menjadi dasar
hidup bersama tidak dirusak. Firman ini juga menegaskan panggilan kita dan setiap orang yang
berkehendak baik untuk
hidup dalam kebenaran, menjadi saksi kebenaran, karena kebenaranlah
yang akan memerdekakan kita.(Bdk. Yoh. 8: 32)
BAB VIII FIRMAN IX:
JANGAN INGIN BERBUAT CABUL
8.1 Makna awal
Rumusan asli dari perintah ini berbunyi: Jangan mengingini istri sesamamu (Ulangan 5,21a). Kata
Ibrani yang merujuk pada perintah ini adalah kata hamad yang artinya mengingini. Dalam konteks ini
mengingini bukan sekedar mengingini dalam hati, tetapi sudah mengacu pada tindakan mengambil
apa yang diinginkan. Dengan demikian, mengingini istri sesamamu berarti
lebih dari sekedar
rangsangan hati. Dalam perintah kesembilan ini, larangan untuk mengingini istri sesama disertai oleh
usaha untuk mengambilnya untuk dijadikan miliknya.
Yang dipertaruhkan dalam firman ini adalah kelangsungan dan stabilitas keluarga orang lain yang
dilakukan oleh pihak ketiga yang berusama memisahkan istri dan ibu, menghancurkan keharmonisan
keluarga orang lain. Dengan demikian, firman ini bermaksud menjaga keutuhan keluarga dan
melindunginya dari nafsu tak terkendali pihak ketiga.
8.2 Perkembangan makna
Perintah jangan mengingini istri sesamamu diperluas cakupannya bukan hanya keingingan hati yang
mengarah pada tindakan mengambil istri orang lain, tetapi mengajak orang untuk menjaga kemurnian
hatinya. Kalau perintah ke-6 lebih mnegacu pada tindakan lahiriah, sedangkan perintah ke-9 lebih ke
sikap hati yang tidak murni, yang mencanangkan kejahatan mengambil istri orang. Mengapa kemurnian
ini mendapat penekanan? Sebab pada hakikatnya segala dosa dan kejahatan berawal dari sikap hati
yang tidak murni,bersih. Yesus sendiri dalam kotbah di bukit menekankan sikap hati/disposisi batin
yang baik. Barang siapa memandang seorang wanita dengan nafsu birahi birahi, dia sudah berjinah
dengan wanita itu dalam hatinya (Mat. 5,28). Dalam teks ini kita bisa melihat bahwa moral Yesus yang
radikal adalah moral hati, sehingga zinah bukan hanya persoalan tindakan lahiriah, tetapi sikap hati
yang melanggar kemurniannya. Hati adalah tempat munculnya kebaikan dan kejahatan: Dari hati
timbul segala pikiran jahat, perjinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, hujat (Mat. 15,19).
Berkaitan dengan soal keinginan, St. Yohanes membedakan tiga macam hawa nafsu atau keinginan:
keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan dunia. Perintah kesembilan ini mengacu pada
keinginan daging. Rasul Paulus menggunakan kata keinginan pada pemberontakan daging melawan
Roh (Gal. 5,16-17,24). Setiap orang diajak untuk menjaga kemurnian hati, mengendalikan keinginan
dagingnya dan membiarkan diri diarahkan oleh Roh Allah. Roh Allah sudah memberikan kepada kita

hidup yang baru, oleh sebab itu, Dia jugalah harus menguasai hidup kita.(Gal. 5,25). Untuk mencapai
kemurnian hati, orang dituntut ungtuk mengendalikan dirinya, tidak hidup dikuasai dan diperbudak
oleh nafsu, tetapi diarahkan oleh akal budi dan disinari oleh Roh Allah sendiri. Orang yang telah
dibebaskan dari perhambaan dosa harus selalu berjuang demi kemurnian. Dengan bantuan rahmat
Allah orang mampu hidup baik ( Bdk. Katekismus 2520).
FIRMAN X (perintah X):JANGAN MENGINGINI MILIK SESAMAMU
1 Maksud awal
Dalam rumusan keluaran dikatakan: Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya,
atau hambanya laki-laki atau perempuan, atau lembunya atau keledainya atau apa pun yang dimiliki
sesamamu (Kel. 20,17). Sedangkan dalam versi Ulangan dikatakan: Janganlah mengingini istri
sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau
hambanya perempuan atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu (Ul. 5,21). Dari kedua
versi teks ini dapat kita lihat suatu perbedaan susunan.
Dalam teks keluaran istri diletakan setelah rumah sedangkan dalam teks Ulangan, sebaliknya istri
ditempatkan pertama. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pemahaman bahwa dalam teks
keluaran istri disejajarkan dengan barang milik, sedangkan dalam teks ulangan istri ditempatkan diatas
barang milik, sebagai pribadi. Dalam perintah kesepuluh ini yang mau ditekankan adalah perlindungan
harta milik dalam hal ini rumah dan tanah pusaka dari tindakan penyerobotan pihak lain. Dengan kata
mengingini tidak semata-mata keinginan biasa tetapi keinginan yang sudah mengarah pada tindakan
mengambil punya orang lain secara tidak adil (bdk. Ul. 7,25). Yang dilarang adalah mengingini sesuatu
yang bukan hak dan miliknya.
Dalam tradisi PL rumah itu merupakan tempat tinggal tetap yang berbeda nilainya dengan kemah atau
gubuk untuk berteduh. Rumah beserta tanahnya merupakan milik pusaka yang harus dilindungi dari
tindakan keserakahan dan kesewenang-wenangan penguasa. Tanah adalah basis untuk hidup, bahkan
yang dijanjikan Allah. Yang menjadi pemilik mutlak tanaha adalah Yahwe sendiri sebab umat Israel
sendiri memperolehnya dari Allah. Dengan demikian, tanah tidak boleh dijual mutlak maka ada aturan
pada tahun kelima puluh tanah yang digadekan karena situasi kemiskinan harus dikembalikan.
2 Perkembangan makna
Selanjutnya firman jangan mengingini milik sesama diperluas jangkauannya pada perlindungan hidup
orang miskin dari tindakan sewenang-wenang: penyerobotan. Juga firman ini menyangkut larangan
untuk meminjamkan uang dengan riba, dan hal-hal yang perlu untuk hidup tidak boleh diambil sebagai
gadaian (Ul. 24,6, 12-13, 17-18). Hal ini banyak disuarakan oleh para nabi yang melihat ketidakadilan
dan penindasan yang dilakukan oleh orang berkuasa (bdk. Amos 4,1-3).
Dalam kitab Yesaya dikatakan: Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau
ladang demi ladang sehingga tak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal
di dalam negeri.( Yes. 5,8). Berkaitan dengan penyerobotan tanah oleh penguasa dapat dilihat dalam
contoh pengambilan tanah milik Nabot secara paksa oleh raja Ahaz.
Firman jangan mengingini milik sesamamu memiliki relevansi sangat kuat kalau kita kaitkan dengan
tindakan penyerobotan dan penggusuran yang dilakuan oleh para penguasa dan orang kaya. Berapa
ribu hektar tanah yang digusur secara paksa oleh penguasa untuk kepentingan proyek-proyek mereka:
lapangan golf, pabrik-pabrik, real estate dll. Berapa juta petani harus meninggalkan secara paksa tanah
milik dan warisannya hanya karena keserakahan dan kerakusan segelintir orang. (Lihat
X pos edisi
no. 44/I, 31 Oktober-6 November 1998).
Dalam Katekismus gereja katolik memberikan penjelasan dari perintah X ini dengan mengacu pada
tindakan untuk mengendalikan keinginan yang berawal dalam hati manusia. Perintah ini melarang
keinginan barang orang lain karena dari keinginan itu lahir pencurian, perampokkan dan penipuan.
Keinginan yang tak terkontrol dapat mengarah pada tindak kekerasan bahkan pembunuhan.
Perintah X ini melarang keserakahan dan keinginan tanpa batas akan barang-barang duniawi, sikap
rakus dan nafsu uang. Pada prinsipnya menginginkan itu sendiri tidaklah jahat, sejauh orang hendak
mendapatkannya dengan cara-cara yang benar dan adil, tetapi menjadi buruk kalau keinginanan akan
barang-barang tersebut dipenuhi dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum moral
dan prinsip keadilan.
Pada hakikatnya keinginan yang mengarah pada keserakahan berawal dari asumsi bahwa dengan
memiliki barang ini aku akan bahagia, akan tetapi yang namanya manusia keinginannya itu selalu
muncul, yang satu terpenuhi sudah menanti keinginan lain yang harus dipuaskan. Hal ini dapat dilihat

dari contoh orang yang sudah kecanduan narkotik, ia akan selalu ingin mengecap keadaan flay ini dan
begitu kecanduannya, maka akhirnya ia akhirnya menjadi budak narkotik. Kebahagiaan yang selama ini
ia dambakan teryata malah menyiksa dirinya, membuat dirinya semakin tidak bebas. Epikuros
mengatakan: jika kamu menginginkan orang lain bahagia janganlah menambah apa yang telah ia
miliki, tetapi ambillah dari keinginan-keinginannya. Dengan kata lain, ketamakan tak dapat dipuaskan
dengan memenuhi sesuatu yang diinginkan tetapi dapat disembuhkan dengan menghilangkan
keinginan tersebut.
Bentuk sederhana dari ketamakan adalah ketamakan atas hal-hal material, uang dan atas hal-hal
yang dapat dibeli dengan uang. Kitab suci mengatakan bahwa nafsu uang adalah akar dari segala
kejahatan: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa
orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka. (1 Tim. 6,10).
Perintah ini juga mengajak orang untuk menjauhkan rasa iri dari hati manusia. Rasa iri muncul pada
saat melihat orang lain memiliki sesuatu lalu dalam hatinya ingin memiliki barang tersebut, dan untuk
memperoleh barang tersebut ia menempuh cara apapun termasuk yang dilarang hukum. Rasa iri
menghantar orang pada tindakan-tindakan terjahat yang akhirnya membawa pada kematian (lihat
Yakobus 4,1-2).
Untuk menjauhkan sikap tamak dan rakus maka kita harus mengembangkan sikap murah hati sesuai
dengan apa yang dikatakan Santo Fransiskus dari Asisi: Dengan memberi aku menerima!. Di samping
iti kita harus mengembangkan sikap hati yang miskin, melepaskan diri dari kelekatan pada materi:
Dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Mat. 6,21). Umat kristiani diminta untuk
mengarahkan keinginan hati yang tepat supaya mereka dalam mengejar cinta kasih yang sempurna
jangan dirintangi
karena menggunakan hal-hal duniawi dan melekat pada kekayaan melawan
semangat kemiskinan menurut Injil LG no. 42. Setiap orang yang telah menerima Kristus dalam
dirinya, maka ia harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5,24);
dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus(Rom. 8,27). Hal ini sangat relevan dalam situasi dunia
sekarang ini dimana kita dihadapkan pada tawaran-tawaran yang menawarkan nikmat dan firdaus
dunia, terutama didukung oleh teknologi periklanan yang canggih.