Anda di halaman 1dari 14

Tugas Teknik Konservasi Waduk

Kelompok 2

Nama Kelompok
Arya Oktaf D

Rahmat Puji Ermawan

Hadi Satria Setyono

Faisal Rahman F

Jefri Rhus Hartanto

Shoni Abdi M

Arik Dwi Setyawan

Muhammad Yura K

Ahmad Imam D

Danan Dwi P

Roni Yuli S

Fitroh Ramdhani

M. Aditya Rahm

Dedy Ardianto F

Ryan Isra Y

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENGAIRAN
MALANG

Konservasi Waduk Secara Teknis


Perubahan kondisi daerah tangkapan Waduk berupa perubahan pemanfaatan
lahan berdampak pada peningkatan sedimentasi pada waduk tersebut. Peningkatan
sedimentasi pada waduk pada akhirnya berakibat pengurangan volume efektif waduk.
Permasalahan sedimentasi waduk tersebut memerlukan pengkajian secara mendalam
dan perlu segera diupayakan penanganan secara menyeluruh. Sedimen dari Sungai
Keduang yang merupakan salah satu anak sungai yang mengalir ke Waduk
menimbulkan permasalahan yang sangat mendesak untuk ditangani. Muara Sungai
Keduang pada waduk sangat dekat dengan intake PLTA. Apabila tidak dilakukan
penanganan segera, keberlanjutan fungsi waduk untuk penyediaan tenaga listrik akan
segera terhenti. Salah satu upaya yang dikaji dan dipertimbangkan untuk
dilaksanakan adalah dengan membuat waduk penampung sedimen. Cara ini
dilakukan dengan membuat tanggul penutup pada muara Sungai Keduang ke waduk
untuk membuat penampung sedimen dan pada waktu-waktu tertentu dilakukan
flushing (penggelontoran). Penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk
mengetahui besarnya pengurangan sedimen pada Bendungan apabila dilakukan
penanganan berupa pembuatan waduk penampung sedimen pada muara Sungai.
Penelitian dilakukan dengan memodelkan transpor sedimen pada waduk tersebut pada
kurun waktu tertentu.

Sumber utama sedimentasi waduk berasal dari erosi lahan di daerah tangkapan
waduk. Beberapa karakter Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti

topografi,

kelerengan, persoalan landuse/lancover berpengaruh terhadap peningkatan aliran


sedimen di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang selanjutnya mengalir ke waduk. Untuk
beberapa waduk, problem pokok peningkatan erosi disebabkan landcover yang
tidak sesuai peruntukan atau terjadi perubahan fungsi hutan di hulu DAS.

FAKTOR PENYEBAB EROSI DAN SEDIMENTASI


Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang berhubungan dengan
terjadinya sedimentasi yang tidak mungkin dihindari sama sekali melainkan perlu
diantisipasi untuk mengurangi resiko yang ditimbulkan. Sedangkan sedimentasi
adalah proses pengendapan butir-butir tanah yang telah hanyut atau terangkut air
pada tempat-tempat

yang lebih

rendah. Sedimentasi yang terjadi pada sungai

disamping menyebabkan pendangkalan sungai juga sering menimbulkan penciutan


lebar sungi akibat pembentukan tanah baru. Peningkatan sedimentasi ini pada
akhirnya akan mengurangi kapasitas saluran atau sungai yang dapat mempengaruhi
kemampuan sungai dalam menampung debit aliran. Erosi didefinisikan sebagai
proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin baik
berlangsung secara alamiah maupun akibat tindakan manusia. Erosi ada yang
bersifat normal (geological erosion) dan erosi yang dipercepat (acceleration erosion).
Erosi yang normal terjadi secara alamiah

melalui

beberapa

tahap meliputi

pemecahan agregat-agregat tanah atau bongkah-bongkah tanah menjadi butiranbutiran tanah yang kecil, pemindahan partikel tanah tersebut baik oleh air maupun
angin, dan pengendapan partikel tanah yang terangkut tadi ke tempat yang lebih
rendah atau dasar sungai. Erosi yang dipercepat

(acceleration

erosion) terjadi

sebagai akibat pengaruh tindakan atau perbuatan manusia yang bersifat negatif

terhadap tanah atau akibat kesalahan dalam pengelolaan tanah pertanian. Erosi jenis
ini banyak menimbulkan kerugian sebagai akibat kerusakan sistem lingkungan atau
DAS.

Faktor- faktor yang dapat mendorong terjadinya proses erosi meliputi, faktor iklim,
faktor tanah, topografi, faktor tutupan lahan dan faktor kegiatan atau perilaku
manusia. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa faktor iklim akan menentukan
nilai indek erosivitas hujan, sementara faktor
kerakteristikanya

tanah

dengan

sifat

atau

menentukan erodibilitas tanah. Topografi akan berpengaruh

terhadap kecepatan aliran permukaan yang mampu mengangkut pertikel tanah.


Faktor tutupan lahan (vegetasi) bersifat melindungi tanah dari timpaan langsung
air hujan yang dapat merusak susunan tanah bagian atas. Disamping itu, tanaman
dengan akarnya mampu memperbaiki susunan tanah. Sedangkan faktor perilaku
manusia dapat lebih mempercepat laju erosi akibat perilaku negatif terhadap tanah
dan tanaman.

DAMPAK EROSI DAN SEDIMENTASI


Air akan mengalir dipermukaan tanah apabila jumlah air hujan lebih besar dari
kemampuan tanah menginfiltrasi air ke lapisan yang lebih dalam. Akibat penurunan
porositas tanah, karena sebagaian pori tertutup oleh partikel tanah yang halus, maka
laju infiltrasi akan semakin berkurang. Hal ini akan mengakibatkan aliran air

dipermukaan semakin banyak dan menimbulkan kemerosotan kesuburan fisik tanah.


Akibat langsung dari erosi adalah hilangnya lapisan atas atau lapisan olah tanah,
sedikit demi sedikit sehingga sampai pada lapisan bawah (sub soil) yang umumnya
memiliki sifat fisik tanah yang lebih jelek.

PENGELOLAAN SEDIMENTASI WADUK


Secara umum problem yang dihadapi waduk-waduk di Indonesia adalah tingginya
sedimen yang masuk ke waduk. Beberapa waduk di Indonesia bersifat multi
purpose yang tidak hanya untuk satu kepentingan saja melainkan difungsikan untuk
beberapa tujuan seperti irigasi, perlindungan banjir, air minum, perikanan,
pariwisata serta untuk energi listrik. Dengan demikian, tingginya sedimentasi
akan menimbulkan terganggunya system operasional waduk tersebut.
Peningkatan produksi sedimen di daerah tangkapan waduk biasanya dipengaruhi oleh
buruknya kondisi DAS di atas waduk itu sendiri. Kondisi DAS yang buruk tersebut
mendorong peningkatan erosi lahan yang menjadi sumber

produksi

sedimen.

Ketersediaan data untuk analisis sedimentasi waduk umumnya sangat terbatas


sehingga sangat menyulitkan dalam upaya pengelolaannya. Hanya beberapa waduk
saja yang melakukan pengukuran

data

sedimen

secara periodik. Di samping

terbatasnya data, metode pengukuran sampel sedimen yang tidak sesuai standar juga
menjadi kendala (Kironoto, 2001). Berdasarkan definisi International Commission of
Large Dams (ICOLD), di Indonesia telah dibangun 82 buah bendungan besar
(Suripin, 2001). Dari jumlah tersebut 25 buah dibuat sebelum tahun 1975. Saat ini
jumlah tersebut telah bertambah dengan dibangunnya beberapa waduk baru sampai
tahuan 2008 ini. Sebagian besar waduk-waduk di Indonesia tersebut saat ini telah
mengalami permasalahan

sedimentasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari

beberapa penelitian, sedimentasi beberapa beberapa waduk di jawa menunjukkan


kondisi sedimentasi yang bervariasi dari 0,42 mm/tahun sampai 12,74 mm/tahun

dengan rata- rata 3,82 mm/tahun. Berikut disajikan data sedimentasi beberapa waduk
di Indonesia.
Strategi pengelolaan sedimentasi waduk
Terdapat dua kelompok kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka mengurangi laju
sedimentasi waduk, yaitu kegiatan pada daerah tangkapan, serta kegiatan pada
waduknya sendiri. Tingkat kemudahan dan keberhasilan dari kegiatan yang dilakukan
sangat tergantung pada tingkat permasalahan sedimentasi

dari

waduk

yang

bersangkutan. Namun demikian, pada umumnya penanganan sedimentasi dengan


cara evakuasi atau pembuangan sedimen dari dalam waduk dengan cara
pengerukan merupakan alternatif terakhir yang sebaiknya dihindari. Untuk itu suatu
strategi

pengelolaan

sedimentasi waduk perlu disusun secara cermat, sehingga

pilihan jenis kegiatan penanganan akan merupakan pilihan terbaik baik dari segi
teknis ataupun non-teknis. Penyusunan strategi pengelolaan sedimentasi waduk
perlu didasarkan pada runtutan kajian yang memandu kearah pilihan terbaik atas
kegiatan penanganan yang harus dilakukan. Penanganan sedimentasi waduk secara
umum dapat dibedakan menjadi empat jenis kegiatan atau usaha, yaitu: a). Menekan
laju erosi kawasan hulu, b) Meminimalkan beban sedimen yang masuk ke waduk, c)
Meminimalkan jumlah sedimen yang mengendap di waduk dan d) Mengeluarkan
endapan sedimen di waduk.

Usaha meminimalkan jumlah sedimen yang mengendap di waduk


Walaupun jumlah sedimen yang masuk ke waduk cukup besar, permasalahan
sedimentasi masih dapat diatasi dengan cara mencegah terjadinya deposisi sedimen
yang masuk tersebut ke dasar waduk. Cara ini

umumnya

disebut

pelewatan

(sluicing) sejumlah sedimen yang masuk ke waduk tersebut. Beberapa persyaratan


umum yang dapat menunjang keberhasilan kegiatan pelewatan sedimen antara lain
adalah tersedia volume air yang cukup selama waktu pelewatan sedimen, bentuk

kolam waduk memanjang dan jenis sedimen yang akan dikeluarkan mempunyai
ukuran relatif kecil (fraksi lumpur atau lempung)
Pemindahan (evacuation) sedimen keluar dari waduk
Usaha

pengurangan

jumlah sedimen yang masuk ke waduk serta pencegahan

sedimen yang mengendap di dasar waduk kemungkinan tidak cukup untuk


mengatasi permasalahan sedimentasi waduk Apabila dijumpai kondisi yang demikian
maka pemindahan sedimen keluar dari waduk merupakan upaya terakhir yang tetap
harus dilaksanakan. Dua cara yang sering ditempuh

adalah

dengan

cara

penggelontoran (flushing) melalui fasilitas keluaran bawah (bottom outlet), serta


pengerukan (dredging). Persyaratan

tindakan penggelontoran

sedimen

adalah

hampir sama dengan persyaratan tindakan pelewatan sedimen, antara lain tersedia
volume air yang cukup selama waktu penggelontoran sedimen, jenis sedimen yang
akan dikeluarkan mempunyai ukuran relative kecil (fraksi lumpur atau lempung),
hanya sedimen yang berada di dekat daerah pintu pengambilan saja yang dapat
digelontor dan perlu disertai dengan penguraian sedimen yang terlanjur memadat,
misalnya dengan metode penyemprotan dengan bubble jet. Sedangkan hal-hal yang
harus diperhatikan dalam kegiatan pengerukan atau dredging adalah volume
sedimen yang akan dikeruk, lokasi

pengerukan

yang

tidak membahayakan

stabilitas struktur bendungan, lokasi tempat pembuangan bahan hasil pengerukan


dan

masalah

lingkungan

lainnya (pencemaran jalan akses, dll). Setiap usaha

penanganan, baik di sistem lahan, sistem alur, ataupun di waduknya sendiri, harus
mempunyai tolok ukur, dan sedapat mungkin dikuantifikasi. Tolok ukur keberhasilan
penanganan sedimentasi waduk ditetapkan berdasar beberapa pendekatan, antara
lain :
1) Menurunnya nilai erosi daerah tangkapan,
2) Menurunnya jumlah sedimen yang masuk ke waduk,
3) Menurunnya gradien perubahan nilai SDR,
4) Bertahannya kapasitas tamping waduk,

5) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam usaha konservasi daerah tangkapan.

Pembuatan Rancangan Dam Pengendali (DPi)


a. Persiapan
1. Pemilihan calon lokasi Pemilihan calon lokasi dilakukan dengan cara
inventarisasi terhadap beberapa calon lokasi dam pengendali yang telah
ditetapkan dalam Rencana Teknik Tahunan (RTT) yang telah disusun, dengan
kriteria sebagai berikut :
a) Lahan kritis dan potensial kritis
b) Sedimentasi dan erosi sangat tinggi
c) Struktur tanah stabil (badan bendung)
d) Luas DTA 100 -250 ha
e) Tinggi badan bendung 8 meter
f) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15-35 %
g) Prioritas Pengamanan bangunan vital
2. Orientasi lapangan
Calon lokasi yang terpilih (memenuhi kriteria) kemudian dilakukan orientasi
lapangan untuk menentukan letak dan ukuran badan bendung, saluran
pelimpah dan daerah tangkapan air (DTA) serta daerah genangan air.
3. Konsultasi
Berdasarkan hasil orientasi lapangan dilakukan konsultasi dengan instansi
terkait baik secara formal (Dinas Kimpraswil/PU, Dinas Pertanian dsb.)
maupun non formal (kelompok tani, lembaga adat dsb) untuk memperoleh
masukan sebelum lokasi dan tipe dam pengendali ditetapkan.
4. Pengadaan bahan dan alat
Pengadaan bahan dan alat diprioritaskan terhadap bahan habis pakai,
sedangkan peta dasar dan peralatan lain seperti alat ukur/survey lapangan
dapat memanfaatkan yang sudah ada.
5. Administrasi
Persiapan administrasi meliputi :
a) Administrasi kegiatan
b) Surat menyurat (pemberitahuan, surat ijin, kesepakatan masyarakat dsb.)
b. Pengumpulan data dan informasi lapangan.
1. Data primer
Data primer diperoleh dengan cara survey dan pengukuran lapangan, meliputi

sebagai berikut :
a) Topografi lokasi bangunan
b) Penutupan lahan dan pola tanam
c) Tanah (jenis, tekstur, permeabilitas)
d) Luas DTA
e) Jumlah, kepadatan dan pendapatan penduduk dan tingkat harga/upah
disekitar lokasi
2. Data sekunder, meliputi :
Data sekunder dapat diperoleh dengan cara pengumpulan data yang telah
ada/tersedia baik di instansi pemerintah, swasta dsb.
a) Administrasi wilayah
b) Curah hujan (jumlah, intensitas dan hari hujan)
c) Erosi dan sedimentasi
d) Adat istiadat masyarakat disekitar lokasi
c. Pengolahan dan analisa data/informasi.
Dari hasil pengumpulan data dan informasi di lapangan dilakukan pengolahan dan
analisa, sebagai berikut :
1. Dari data tanah, erosi/sedimentasi, topografi, curah hujan dan luas DTA diolah
dan dianalisa menjadi:
a) Letak bangunan
b) Spesifikasi teknis bangunan utama dan pelengkap
c) Debit aliran air/debit banjir rencana
d) Daya tampung air
e) Umur teknis bangunan
2. Dari data jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan serta adat istiadat

d.
1.
2.
3.
4.
5.

diolah dan dianalisa menjadi informasi:


a) Potensi ketersediaan tenaga kerja
b) Standar satuan biaya/upah yang berlaku.
Penyusunan rancangan teknis
Sesuai norma yang berlaku rancangan dam pengendali (DPi) berisi :
Tata letak bangunan
a) Administrasi
b) Geografis
Kata Pengantar
Lembar pengesahan
Rsalah/data umum lokasi
Spesifikasi teknis
a) Fisik
b) Hidrologi

c) Sosek dan budaya


6. Rencana anggaran biaya (RAB).
Rencana anggaran biaya disusun secara rinci didasarkan pada volume
pekerjaan dan satuan biaya (bahan, upah) yang berlaku.
7. Tata waktu pelaksanaan.
Rancangan harus memuat tata waktu pelaksanaan baik kegiatan fisik maupun
pemeliharaan. Penyusunan rancangan sebaiknya dibuat pada T-1. Namun
demikian pada kondisi tertentu penyusunan rancangan dapat dibuat pada T-0
sebelum pelaksanaan pekerjaan.
8. Sosialisasi
Sebelum dilakukan pembuatan dam pengendali, agar dilakukan sosialisasi
terlebih dahulu kepada kelompok tani yang akan melaksanakan kegiatan
tersebut. Disamping itu pada saat pengukuran dan penyusunan rancangan dam
pengendali, kelompok tani tersebut dilibatkan sehingga ada rasa memiliki dan
ini akan meningkatkan kontinuitas atau kelestarian kegiatan tersebut
khususnya pasca proyek.
9. Gambar dan peta
Rancangan dam pengendali perlu dilampiri gambar dan peta yang meliputi
a) Gambar detail konstruksi dan spesifikasi teknis bangunan utama (badan
bendung), saluran pelengkap (saluran pelimpah, saluran pembagi) skala 1 : 50
s/d 1 : 100.
b) Peta situasi/administrasi, skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000.
c) Peta kontur site (lokasi) bangunan utama, pelengkap dan daerah tangkapan
air serta daerah genangan air, skala 1 : 1000 s/d 1 : 10.000.
10. Mekanisme Prosedur
Rancangan Dam Pengendali (DPi) disusun oleh Kepala Sub Dinas yang
menangani perencanaan pada Dinas Kabupaten/Kota, dan dikonsultasikan
dengan Dinas Kimpraswil/PU. Sebagai penilai adalah BPDAS dan disahkan
oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota.
e. Hasil Kegiatan
Sebagai hasil kegiatan penyusunan rancangan berupa buku rancangan dam
pengendali (DPi) yang dilengkapi dengan lampiran data, gambar dan peta dan
telah disahkan oleh instansi terkait yang berwenang. Gambar skematis tentang

bangunan pengendali tipe busur dan tipe kedap air dapat dilihat pada Gambar
14 dan 15 di bawah ini.

Dam Pengendali (Tipe Busur)

Dam Pengendali (Tipe Kedap Air)


Pembuatan Dam Pengendali (DPi)
a. Persiapan
1. Penyiapan Kelembagaan
a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi rencana
pelaksanaan pembuatan dam pengendali.

b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.


2. Pengadaan sarana dan prasarana
Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan habis
pakai. Sedang pembuatan sarana dan prasarana dibuat dengan tujuan untuk
memperlancar pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang antara lain :
a) Pembuatan jalan masuk
b) Pembuatan gubuk kerja/gubuk material
3. Penataan areal kerja
a) Pembersihan lapangan
b) Pengukuran kembali
c) Pemasangan patok batas
d) Pembuatan badan bendung dan saluran pelimpah/spill way di tanah milik
masyarakat, tidak ada ganti rugi.
b. Pembuatan
1. Pembuatan profil bendungan
2. Pengupasan, penggalian dan pondasi bangunan
3. Pembuatan saluran pengelak
4. Pembuatan/pemadatan tubuh bending
5. Pembuatan saluran pengambilan/lokal dan pintu air
6. Pembuatan bangunan pelimpah (spill way)
7. Pembuatan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jalan inspeksi
8. Pemasangan gebalan rumput
c. Pemeliharaan
Pemeliharaan bangunan Dam Pengendali (DPi) meliputi :
1. Pemeliharaan badan bendung dan saluran pelimpah serta saluran pembagi
2. Perbaikan gebalan rumput
d. Pelaksanaan Pembuatan Dam Pengendali
Berdasar sistem pembayarannya, pembuatan bangunan Dam Pengendali dapat
dilaksanakan melalui dua alternatif, yaitu:
1. Sistem Swakelola, melalui SPKS dengan kelompok tani, dalam rangka
pemberdayaan sumberdaya dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal
secara langsung serta menumbuhkan rasa memilikinya dan kepedulian
memelihara apabila konstruksi telah selesai.
2. Sistem pemborongan oleh Pihak III, melalui lelang dengan mengutamakan
potensi lokal yang ada.

Tanggul Penghambat
Tanggul penghambat atau cek dam adalah bendungan kecil dengan konstruksi
sederhana (urugan tanah atau batu), dibuat pada alur jurang atau sungai kecil. Tanggul
penghambat berfungsi untuk mengendalikan sedimen dan aliran permukaan yang
berasal dari daerah tangkapan di sebelah atasnya.

Tanggul penghambat dibuat dengan luas daerah tangkapan air dari 100 250 ha, dan
dapat lebih luas untuk wilayah-wilayah tertentu yang mempunyai curah hujan yang
rendah. Tinggi dan panjang bendungan maksimal adalah 10 meter tergantung pada
kondisi geologi dan topografi lokasi yang bersangkutan. Pembuatan tanggul
penghambat biasanya dilakukan pada musim kemarau.
Keuntungan

Menghindari pendangkalan waduk / sungai yang ada di hilirnya.

Mengendalikan aliran permukaan di daerah hilir

Menyediakan air untuk kebutuhan air minum, air rumah tangga, pengairan
daerah di sebelah bawahnya (terutama pada musim kemarau), ternak dan
sebagainya.

Meningkatkan permukaan air tanah daerah sekitar tanggul penghambat

Pengembangan perikanan di daerah genangan tanggul penghambat

Pebaikan iklim mikro setempat

Untuk rekreasi

Kelemahan

Perlu pemeliharaan termasuk pengerukan sedimentasi

Perlu tambahan tenaga kerja

Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi

Faktor biofisik

Ketersediaan bahan-bahan untuk membangun tanggul penghambat

Faktor sosial ekonomi

Pembuatannya perlu gotong royong atau dibiayai pemerintah

Perlu insentif bagi pengelolaan tanggul penghambat