Anda di halaman 1dari 15

SMAAK PROFF

Disusun Oleh
Nama

: Ima Rahima Hidayati

Nim

: G111 14 324

Kelas

: Pemuliaan Tanaman C

Asisten

: Feyrisha Nugrani
Muh. Naim

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemuliaan tanaman padi dipusatkan baik pada kuantitas maupun
kualitasnya. Penilaian kuantitas hasil ditunjukkan dengan adanya produksi yang
semakin meningkat. Penilaian kualitas tanaman padi didasarkan pada kualitas dari
hasil yang diberikan, apakah hasil tersebut mampu memenuhi kebutuhan dengan
baik, memuaskan atau tidak. Beberapa faktor yang menentukan kualitas pada
tanaman padi adalah faktor rendemen, bentuk butir, kekerasan dan rasa.
Faktor rasa sebagai penentu kualitas suatu tanaman, misal pada tanaman
padi, muncul karena adanya perbedaan kandungan atau kadar amylose yang
terkandung pada pati dalam butir-butir beras. Sehingga rasa yang didapatkan
adalah berbeda untuk tiap varietas tanaman. Dimana semakin tinggi kandungan
atau kadar amylose yang terkandung, maka akan semakin berkurang keenakan
rasanya karena semakin tinggi kadar amylose yang terkandung, maka struktur nasi
yang diperoleh akan semakin keras dan mempunyai struktur pisah-pisah.
Suatu varietas baru akan berarti dan mempunyai nilai bilamana mendapat
apresiasi yang baik dari petani. Untuk tanaman pangan seperti padi, rasa
merupakan faktor penentu kualitas hasil pertanian tanaman pangan yang sangat
berarti. Oleh karena itu arah pemuliaan tanaman padi perlu memperhatikan faktor
rasa. Faktor rasa merupakan faktor yang paling relatif. Namun kini penilaian
kualitas rasa dapat dilakukan dengan model rancangan serta metode analisis data
statistika sehingga hasil penilaian dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
dan tidak terbantahkan.
Maka dari itu dalam praktikum ini dilakukan Pengujian Rasa (Smaak Proff)
nasi untuk beberapa varietas padi.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mengetahui
pengujian rasa (smaak proff), mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan
perbedaan rasa pada beberapa varietas padi.

1.3 Kegunaan Praktikum


Adapun kegunaan dari praktikum ini yaitu sebagai bahan informasi kepada
mahasiswa mengenai teknik pengujian rasa (smaak proff) serta sebagai
pembanding antara teori dan praktikum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Padi (Oryza sativa)
Tanaman padi adalah sejenis tumbuhan yang sangat mudah ditemukan,
apalagi kita yang tinggal di daerah pedesaan. Hamparan persawahan dipenuhi
dengan tanaman padi. Sebagian besar menjadikan padi sebagai sumber bahan
makanan pokok. Padi merupakan tanaman yang termasuk genus Oryza L. yang
meliputi kurang lebih 25 spesies (Ina, 2007 dalam Mubaroq, 2013).
Dalam perjalanan evolusi padi, Chang (1976) menyimpulkan bahwa Oryza
sativa telah mengalami perubahan-perubahan morfologik dan fisiologik selama
proses pembudidayaan. Perubahan-perubahan tersebut meliputi ukuran daun yang
menjadi lebih besar, lebih panjang dan lebih tebal. Jumlah daun menjadi banyak
dan laju pertumbuhan tanaman lebih cepat, anakan menjadi lebih banyak, dan
pembentukan malai lebih sinkron dengan perkembangan anakan. Pengisian gabah
menjadi lebih lama, tetapi kemampuan untuk membentuk rizoma berkurang,
dormansi lebih pendek, kurang peka terhadap panjang hari, dan tanaman menjadi
lebih inbred daripada cross-pollinated (Markarim dan Suhartatik, 2009).
Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman semusim berbatang
bulat dan berongga yang disebut jerami. Daunnya memanjang dengan ruas searah
batang daun. Batang utama dan anakan membentuk rumpun pada fase vegetatif
dan membentuk malai pada fase generatif (Zainal Ida, 2013).
Air dibutuhkan tanaman padi untuk pembentukan karbohidrat di daun,
menjaga hidrasi protoplasma, pengangkutan dan mentranslokasikan makanan
serta unsur hara dan mineral. Air sangat dibutuhkan untuk perkecambahan biji.
Pengisapan air merupakan kebutuhan biji untuk berlangsungnya kegiatan-kegiatan
di dalam biji (Kartasapoetra, 1988 dalam Zainal Ida, 2013).
Menurut Girst (1960) dalam Sijabat (2007), padi merupakan tanaman
pangan yang berupa rumput-rumputan yang dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
Divisio

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Poales

Famili

: Graminae

Genus

: Oryza Linn

Species

: Oryza sativa L.

2.2 Deskripsi Varietas Padi yang Diuji


1. Deskripsi Varietas Padi IR 64
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2009), deskripsi
varietas padi IR 64 adalah sebagai berikut:

Nomor seleksi
: IR18348-36-3-3
Asal persilangan : IR5657/IR2061
Golongan
: Cere
Umur tanaman
: 110 - 120 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman
: 115 126 cm
Anakan produktif : 20 - 35 batang
Warna kaki
: Hijau
Warna batang
: Hijau
Warna telinga daun: Tidak berwarna
Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna dau
: Hijau
Muka daun
: Kasar
Posisi daun
: Tegak
Daun bendera
: Tegak
Bentuk gabah
: Ramping, panjang
Warna gabah
: Kuning bersih
Kerontokan
: Tahan
Kerebahan
: Tahan
Tekstur nasi
: Pulen
Kadar amilosa
: 23%
Bobot 1000 butir : 24,1 g

Rata-rata hasil
: 5,0 t/ha
Potensi hasil
: 6,0 t/ha
Ketahanan terhadap Hama : a) Tahan wereng coklat biotipe 1, 2, serta b) agak

tahan wereng coklat biotipe 3


Ketahanan terhadap Penyakit : a) Agak tahan hawar daun bakteri strain IV, b)

Tahan virus kerdil rumput


Anjuran tanam : Baik ditanam di lahan sawah irigasi dataran rendah sampai
sedang

2. Deskripsi Varietas Padi Mekongga


Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2009), deskripsi
varietas padi Mekongga adalah sebagai berikut:

Nomor seleksi
: S4663-5D-KN-5-3-3
Asal persilangan : A2790/2*IR64
Golongan
: Cere
Umur tanaman
: 116-125 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman
: 91-106 cm
Anakan produktif : 13-16 batang
Warna kaki
: Hijau
Warna batang
: Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna
Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun: Hijau
Muka daun
: Agak kasar
Posisi daun
: Tegak
Daun bendera
: Tegak
Bentuk gabah
: Ramping panjang
Warna gabah
: Kuning bersih
Kerontokan
: Sedang
Tekstur nasi
: Pulen
Kadar amilosa
: 23 %
Bobot 1000 butir : 28 g
Rata-rata hasil
: 6,0 t/ha
Potensi hasil
: 8,4 t/ha
Ketahanan terhadap Hama : Agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3
Ketahanan terhadap Penyakit : Agak tahan terhadap hawar daun bakteri strain

Anjuran tanam

: Baik ditanam di lahan sawah dataran rendah sampai

ketinggian 500 mdpl.


3. Deskripsi Varietas padi Ciliwung
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2009), deskripsi
varietas padi Mekongga adalah sebagai berikut:

Nomor seleksi : B4183B-PN-33-6-1-2

Asal persilangan

: IR38//2*Pelita I-1/IR4744-128-4-1-2

Golongan

: Cere

Umur tanaman: 117 - 125 hari

Bentuk tanaman

: Tegak

Tinggi tanaman

: 114 - 124 cm

Anakan produktif

: 18 - 25 batang

Warna kaki

: Hijau

Warna batang : Hijau

Warna telinga daun: Tidak berwarna

Warna lidah daun

Warna daun

Muka daun

: Kasar

Posisi daun

: Tegak

Daun bendera : Miring sampai tegak

Bentuk gabah : Sedang sampai ramping

Warna gabah : Kuning bersih

Kerontokan

: Tidak berwarna

: Hijau tua

: Sedang

Kerebahan

: Tahan

Tekstur nasi

Kadar amilosa : 22%

Bobot 1000 butir

Rata-rata hasil : 4,8 t/ha

Potensi hasil : 6,5 t/ha

Ketahanan terhadap Hama

: Pulen

: 23 g

: Tahan wereng coklat biotipe 1, 2 dan

rentan wereng coklat biotipe 3

Ketahanan terhadap Penyakit : Agak tahan terhadap hawar daun

Anjuran tanam: Baik ditanam di lahan irigasi berelevasi rendah sampai


550 m dpl

2.3 Smaak Proff

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beras

Padi (beras) adalah tanaman pangan yang sangat penting dalam kehidupan.
Salah satu usaha dari peningkatan produksi beras adalah introduksi kultivarkultivar dari lembaga penelitian padi internasional (IRRI). Walaupun varietas
introduksi tersebut tahan terrhadap hama dan penyakit dan relatif berumur lebih
genjah serta memberi hasil panen yang lebih tinggi, akan tetapi rasa nasinya
kurang disenangi. Pada dasarnya penyebabnya adalah kepulenan yang rendah
dibandingkan kultivar lokal (Suwandi, et al.,1985).
Sifat-sifat fisikokimia beras sangat menentukan mutu tanak dan mutu rasa
nasi yang dihasilkan. Lebih khusus lagi, mutu ditentukan oleh kandungan amilosa,
kandungan protein, dan kandungan lemak. Pengaruh lemak terutama muncul
setelah gabah atau beras disimpan. Kerusakan lemak mengakibatkan penurunan
mutu beras (Haryadi, 2006 dalam Menti, 2011).
Selain kandungan amilosa dan protein, sifat fisikokimia beras yang
berkaitan dengan mutu beras adalah sifat yang berkaitan dengan perubahan karena
pemanasan dengan air, yaitu suhu gelatinasi padi, pengembangan volume,
penyerapan air, viskositas pasta dan konsistensi gel pati. Sifat-sifat tersebut tidak
berdiri sendiri, melainkan bekerja sama dan saling berpengaruh menentukan mutu
beras, mutu tanak, dan mutu rasa nasi (Haryadi, 2006 dalam Menti, 2011).
Tinggi rendahnya mutu beras bergantung pada beberapa faktor, yaitu spesies
dan varietas, kondisi lingkungan, waktu dan cara pemanenan, metode
pengeringan, dan cara penyimpanan (Astawan, 2004 dalam Menti, 2011).
Faktor-faktor yang menentukan mutu beras antara lain adalah bentuk,
ukuran, dan warna beras serta rendemenRendemen merupakan salah satu factor
mutu yang penting. Rendemen dikatakan baik apabila gabah diperoleh minimum
70% beras giling, tediri dari 50% beras kepal dan 20% beras pecah (3,8). Faktor
lain yang harus diperhatikan adalah rasa nasi. Nasi lunak (pulen) dan wangi sangat
disukai sebagian besar masyarakat Indobnesia (Widjono dan Syam,1982).

Menurut Menti (2011) berikut ini dikemukakan secara umum kriteria dan
pengertian mutu beras meliputi:

1. Mutu Pasar
Mutu beras dipasaran umumnya berkaitan langsung dengan harganya.
Setidaknya, harga merupakan patokan yang dapat dipergunakan sebagai pedoman
bagi penjual dan pembeli. Persyaratan mutu beras yang ditentukan oleh Bulog
dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu persyaratan kualitatif dan persyaratan
kuantitatif (Menti, 2011).
Persyaratan kualitatif ditentukan secara subjektif yang meliputi bau, suhu,
hama penyakit dan bahan kimia. Persyaratan tersebut tidak dapat ditentukan
dalam satu satuan, tetapi dinyatakan dengan membandingkan terhadap contoh.
Sedangkan persyaratan kuantitatif beras sebagian besar menyangkut akibat
perlakuan-perlakuan lepas panen (Haryadi, 2006 dalam Menti, 2011).
2. Mutu Tanak
Sifat tanak lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik dari pada faktor perlakuan
lepas panen, sehingga sifat ini dimasukkan kedalam ciri-ciri varietas. Ciri-ciri
umum yang mempengaruhi mutu tanak ialah perkembangan volume, kemampuan
mengikat air, stabilitas pengalengan nasi parboiling, lama waktu penanakan, dan
sifat viskositas padi. Sifat beras yang digunakan sebagai ciri penentu mutu tanak
dan prosessing adalah kadar amilosa, uji alkali untuk menduga suhu gelatinasi,
kemampuan pengikatan air pada suhu 70 0C, stabilitas pengalengan nasi parboiling
dan sifat amilografi (Menti, 2011).
3. Mutu Rasa
Dalam perdagangan karena rasa merupakan selera pribadi, rasa tidak
dimasukkan kedalam ketentuan persyaratan mutu beras yang bersifat baku.
Namun demikian mutu rasa secara tidak langsung sudah termasuk dalam
pengelompokan jenis beras atau varietas padi (Haryadi, 2006 dalam Menti, 2011).

Dalam penentuan mutu rasa nasi dikenal nasi pera dan nasi pulen. Nasi pera

adalah nasi keras dan kering setelah dingin, tidak lekat satu sama lain, dan lebih
mengembang dari nasi pulen. Nasi pulen ialah nasi yang cukup lunak walaupun
sudah dingin, lengket tetapi kelengketannya tidak sampai seperti ketan, antar biji
lebih berlekatan satu sama lain dan mengkilat (Haryadi, 2006 dalam Menti, 2011).

BAB III
METODOLOGI
2. 1 Waktu dan Tempat
Praktikum identifikasi alat reproduksi tumbuhan dilaksanakan di
laboratorium Budidaya 1, Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas
Hasanuddin, Makassar pada hari Senin, 12 Oktober 2015 pukul 08.00 sampai
selesai.
3. 2 Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu beras dan air. Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum yaitu rice cooker dan alat tulis-menulis.
3. 3 Metode Pelaksanaan
Metode percobaan dalam praktikum ini antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


Mencuci beras sebanyak tiga kali
Menanak nasi dengan takaran air yang sudah ditentukan
Mencicipi nasi yang telah masak
Memberikan nilai antara 1-5 pada tiga varietas yang sudah ditentukan sesuai

6.

dengan selera.
Membuat kesimpulan dari percobaan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Tabel 1. Pengamatan Rasa
Blok
1

2, 89

3,1

2,62

2,62

2,62

3,75

2,22

2,88

2,33

1,2

1,3

1,1

3,2

2,63

3
2,5

2
3
4

8
8,61

5
6
7

Total
(Bi)

Treatment

8,99
7,43

2,6

8
2,8
3,1
Total
8,29
8,82 7,46 8,63 4,63
(Ti)
Sumber: Data Primer, diolah Tahun 2015

6,93

4,5

8,7

7,3
2,63
2,5

8,26
7,6

2,3

8,2

7,43

60,89

Tabel 2. HasilAnalisis Treatment


No

Total
Treatment
(Ti)

Bt

Qt=T1(Bt/k)

t=Qt(k/b)

Ti Adjusted

8,29

24,41

0,16

0,06

2,70

8,82

25,8

0,22

0,08

2,86

7,46

25,03

-(0,88)

-(0,33)

2,81

8,63

20,92

1,66

0,62

2,25

4,63

19,23

-(1,78)

0,66

2,20

6,97

20,06

0,25

0,09

2,22

8,7

23,16

0,98

0,36

2,54

0,22

2,69

8
7,43
24,06
-(0,59)
Sumber: Data Primer, diolah Tahun 2015

Tabel 3. Penilaian Rasa pada SetiapVarietas

Varietas
Ti (Adjusted)
Padi
1
IR 64
2,70
2
Mekongga
2,86
3
Ciliwung
2,81
4
Inpari 23
2,25
5
Rojolele
2,20
6
Inpari 27
2,22
7
Ciherang
2,54
8
Cigelis
2,69
Sumber: Data primer, diolah Tahun2015-10-15
No

DAFTAR PUSTAKA

Markarim, Suhartatik. 2009. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi. Jakarta:


Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.
Mubaroq I. Abdurrachman. 2013. Kajian Potensi Bionutrien Caf dengan
Penambahan Ion Logam Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan
Tanaman Padi. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia.
Meti A.S. 2011. Mutu Beras. Medan:Universitas Sumatera Utara.
Zainal Ida. 2013. Botani dan Morfologi Tanaman Padi. Jakarta: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Sijabat BR. 2007. Epdemi Penyakit Blas pada Beberapa Barietas Padi Sawah
dengan Jarak Tanam Berbeda di Lapangan. Medan: Universitas Sumatera
Utara.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2009. Indonesian Agency for
Agricultural Research and Development. Jakarta: Agroindustri.