Anda di halaman 1dari 14

STRATEGI PEMBELAJARAN PAI

By: Ari Susanto


A. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Strategi pembelajaran
1. Pengertian Strategi Pembelajaran PAI
a. Strategi

Kata strategi dalam kamus bahasa Indonesia mempunyai beberapa arti, antara lain:
1) Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran.
2) Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapai musuh dalam kondisi yang
menguntungkan.
3) Tempat yang baik menurut siasat perang.1
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks pembelajaran, seperti yang
diungkapkan oleh Nana Sudjana: strategi mengajar adalah taktik yang digunakan guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar agar dapat mempengaruhi peserta didik untuk mencapai
tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Sedangkan pembelajaran merupakan suatu proses
membelajarkan peserta didik agar dapat mempelajari sesuatu yang relevan dan bermakna bagi
diri mereka, disamping itu, juga untuk mengembangkan pengalaman belajar dimana peserta
didik dapat secara aktif menciptakan apa yang sudah diketahuinya dengan pengalaman yang
diperoleh. Dan kegiatan ini akan mengakibatkan peserta didik mempelajari sesuatu dengan cara
lebih efektif dan efisien.2
Pengertian tentang sesuatu bisa bermacam-macam disebabkan karena perbedaan falsafah
hidup yang dianut dan sudut pandang yang memberikan rumusan tentang sesuatu tersebut.
Dengan demikian, Strategi Pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari pengertian
diatas, ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu: pertama, strategi pembelajaran merupakan
rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai
sumber daya dalam pembelajaran. Kedua, strategi disussun untuk mencapai tujuan tertentu.3
Adapun pengertian strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu strategi
yang menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran
pendidikan agama dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama-sama dengan bahanbahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien. Komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran pendidikan agama
meliputi:
1. Kegiatan pendahuluan,
2. Kegiatan penyajian
3. dan penutup.
b. Pembelajaran
1) Warsita (2008:85) Pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik

belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik.

1 Tim penyusun kamus Besar, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka.1990), 859.
2 Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), 157
3 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2008), 186.
1

2) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20 Pembelajaran adalah proses

interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar.
3) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar
informasi
c. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (Undangundang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003.
Sedangkan definisi pendidikan agama Islam disebutkan dalam Kurikulum 2004 Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SD dan MI adalah :
"Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta
didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia,
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Quran dan Hadits, melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman."
d. Tujuan Umum PAI
Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk mencapai kwalitas yang disebutkan
oleh al-Qur'an dan hadits sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
2. Tujuan dan Fungsi Strategi pembelajaran

Dalam proses belajar mengajar, strategi pembelajaran sangat dibutuhkan. Hal ini
bertujuan untuk lebih mengikatkan kualitas anak didik menuju terbinanya insan yang handal dan
mampu. Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran termasuk didalamnya
mengidentifikasi segala bentuk dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
Muhaimin, mengemukakan bahwa paling tidak strategi pembelajaran tersebut sangat
bermanfaat pada setiap tahapan dan proses belajar mengajar, baik pada tahap kesiapan
(Readiness), pemberian motovasi, perhatian, memberikan persepsi, retensi maupun dalam
melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada siswa.4
Dapat di jelaskan bahwa strategi yang dibutuhkan adalah persiapan proses belajar
mengajar dan yang harus diperhatikan adalah kesiapan belajar siswa baik fisik maupun psikis
(Jasmani-Rohani) yang memungkinkan siswa atau subjek untuk melakukan proses belajar.
Selanjutnya, pada aspek pemberian motivasi, strategi sangat memberikan pengaruh karena
motivasi ini mengharuskan adanya tenaga pendorong (motivator) atau penarik yang
menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu dalam hal ini adalah pada
4 Lihat Lihat Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2001), 137-144.

pencapaian tujuan proses belajar mengajar. Adapaun target ideal dari strategi dalam proses
pembelajaran adalah kemampuan siswa memahami apa yang telah dipelajari baik kemampuan
kognitif, afektif maupun psikomotorik. Atas dasar ini maka perhatian atau dapat dikatakan
kesungguhan dan keseriusan siswa dalam proses belajar mengajar menjadi sangat urgen. Pada
prinsip ini menyangkut suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat
menerima atau meringkas informasi yang diperioleh dari lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang fungsi strategi pendidikan alangkah pentingnya untuk
menjelaskan terlebih dahulu tentang fungsi pendidikan Nasional sebagai tujuan nasional dari
suatu pendidikan di Indonesia. Perlunya hal ini mengingat bahwa seluruh proses pendidikan
yang di selenggarakan bermuara pada fungsi pendidikan nasional itu sendiri.
Adapun fungsi pendidikan Nasional, sebagai berikut:
a. Alat membangun pribadi, pengembangan warga Negara, pengembangan kebudayaan, dan
mengembangkan bangsa Indonesia.
b. Menurut Undang-Undang RI No. 2 tahun 2003 Bab II pasal 3 pendidikan nasional
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan
martabat bangsa Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.5
Oleh sebab itu fungsi strategi pandidikan dalam arti mikro (sempit) adalah suatu cara atau
teknik yang dapat membantu (secara sadar) pelaksanaan pendidikan dalam mengembangkan
aspek jasmani dan rohani peserta didik.
Dengan demikian maka akan nampak bahwa strategi pendidikan ikut memberikan
tuntunan, bantuan, pertolongan kepada guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan
peserta didik.. Untuk menjamin berkembangnya potensi-potensi agar menjadi lancar dan terarah,
diperlukan pertolongan, tuntunan dari luar. Jika unsur pertolongan tidak ada, maka potensi
tersebut tetap tinggal potensi belaka yang tidak sempat diaktualisasikan.
Berkenaan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, strategi pendidikan merupakan salah
satu aspek yang perlu dipertimbangkan termasuk dalam dalam merencanakan pembelajaran
hingga pada pelaksaan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajar muaranya pada
tercapainya tujuan tersebut.
B.

Jenis-jenis Strategi Pembelajaran


a. Strategi Pembelajaran Ekspoitri

Strategi Pembelajaran ekspoitri adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada


proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan
maksud agar siswa dapat menguasai pelajaran dengan optimal. Metode pembelajaran yang sering
digunakan adalah metode ceramah.
b. Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran inkuiri adalah rangkain kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berpikir secara kritis dan anilitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban
dari suatu masalah.
c. Strategi Pembelajaran Kooperatif

5 Fuad Hasan, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), 127
3

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang menggunakan model pembelajaran


dengan menggunakan sistem pengelompokan yang memiliki latar belakang kemampuan, jenis
kelamin, rasa tau suku yang berbeda.6
C.

Ruang Lingkup Strategi Pembelajaran

Dalam melaksanakan strategi mengajar seorang guru dituntut harus menguasai berbagai
teori yang terkait dengan tugasnya sebagai seorang guru., seperti teori belajar, metode mengajar,
alat bantu belajar, dan pengelolaan kelas. Dengan guru mengetahui berbagai macam teori
tersebut guru diharapkan akan dapat mengantisipasi jika tiba-tiba akan mengubah strategi
mengajarnya.
Dalam menggunakan strategi pembelajaran, seorang guru dituntut harus memperhatikan
tiga hal pokok. Pertama adalah tahapan mengajar, penggunaan metode pembelajaran, dan
penggunaan prinsip mengajar.
a. Tahapan Mengajar
Dalam tahapan mengajar ini, ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh seorang guru, yaitu
tahapan pendahuluan (prainstruksional), tahap pengajaran (instruksional), dan tahap penilaian
dan tndak lanjut. Ketiganya akan dijelaskan di bawah ini
1. Tahapan Prainstruksional
Pada tahap pendahuluan ini memiliki tujuan untuk mempersiapkan siswa untuk
mempelajari pelajaran baru dan menarik perhatian siswa. Dalam pendahuluan ini dipergunakan
pengetahuan lama untuk menjadi tangga bagi pelajaran baru, serta diperhubungkan antara
keduanya. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pendahuluan ini adalah:
a) Guru memeriksa kehadiran siswa
b) Memeriksa kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran baru.Hal ini dapat dilakukan
dengan memberikan pertanyaan kepada siswa atau kelas. Dengan ini guru akan
mengatahui sebatas mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang sudah lalu dan
menjadi tolak ukur bagi guru apakah akan mengulang pelajaran lalu ataukah
melanjutkan pelajaran
c) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai ahan pelajaran yang
belum dikuasainya
d) Mengulang bahan pelajaran yang telah lalu secara singkat. Hal ini dimaksudan untuk
menjadi dasar bagi guru untuk memulai pelajaran berkutnya dan juga untuk
menciptakan suasana belajar. Ibarat suatu kegiatan pemanasan dalam permainan olah
raga tahap prainstruksional merupakan tahap pemanasan dalam pembelajaran yang
akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam menerima materi pelajaran.
2. Tahap Instruksional

Pada tahap instruksional ini guru memberikan materi/bahan pelajaran yang telah disusun
sebelumnya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh seorang guru pada tahap yang kedua
dari tahap strategi pembelajaran ini adalah:
a) Menjelaskan tujuan, kompetensi yang harus dapat dicapai siswa setelah mengikuti
pembelajaran
6 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 189-194.
4

b) Menuliskan pokok-pokok meteri yang akan dibahas dalam pelajaran hari itu
c) Mulai membahas materi demi materi yang telah disampaikan kepada siswa. Dalam hal ini

guru bisa menggunakan cara penjelasan secara deduktif ataupun secara induktif
d) Guru dapat menarik kesimpulan dari pembahasan meteri yang sudah selesai. Akan tetapi
guru juga bisa bekerjasama dengan siswa dalam membuat kesimpulan atau juga bisa
diserahkan sepenuhnya kepada siswa.
Dalam tahap instruksional, sebaiknya kegiatan dipusatkan kepada siswa. Hal ini akan
membuat siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran.

3. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut

Evaluasi dapat didefinisikan sebagai proses pengumpulan informasi untuk mengetahui


pencapaian hasil belajar siswa atau kelas. Hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong pendidik
untuk mengajar kebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik lagi.
Secara umum evaluasi dapat dikatagorikan menjadi dua kelompok besar, yaitu evaluasi
formatif dan evaluasi normatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap
akhir pembahasan atau pokok bahasan/topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana
suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Sedangkan
evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waku yang di
dalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh
mana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya.
Dalam pendidikan islam, evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan skap (efeksi dan
psikomotor) daripada aspek kognitif. Peneknan ini bertujuan untuk mengetahui sejuh mana
kemampuan siswa yang secara garis besar meliputi:
a) Sikap dan pengalamannya terhadap hubungan pribadi dengan Tuhannya
b) Sikap dan pengalamannya terhadap hubungan dirinya dengan masyarakat
c) Sikap dan pengalamannya terhadap hubungan kehidupannya dengan lingkungannya
d) Sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah SWT , anggota
masyarakat, dan khalifah Allah SWT.
D. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Pembelajaran PAI

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya
bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru
tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar
yang telah dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan. Dari pengertian
diatas, Metode Pembelajaran PAI dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh seorang guru
agama dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan pendidikan
pendidikan Islam.

2. Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan dalam Memilih Metode Pembelajaran PAI

antara lain:
1. Keadaan murid yang mencakup pertimbangan tentang tingkat kecerdasan, kematangan,
perbedaan individu lainnya.
2. Tujuan yang hendak dicapai, jika tujuannya pembinaan daerah kognitif maka metode driil
kurang tepat digunakan.
3. Situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, situasi lingkungan. Bila
jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak sulit digunakan apalagi bila
ruangan yang tersedia kecil. Metode ceramah harus mempertimbangkan antara lain
jangkauan suara guru.
4. Alat-alat yang tersedia akan mempengaruhi pemilihan metode yang akan digunakan. Bila
metode eksperimen yang akan dipakai, maka alat-alat untuk eksperimen harus tersedia,
dipertimbangkan juga jumlah dan mutu alat itu.
5. Kemampuan pengajar tentu menentukan, mencakup kemampuan fisik, keahlian.
6. Sifat bahan pengajaran. Ada bahan pelajaran yang lebih baik disampaikan lewat metode
ceramah, ada yang lebih baik dengan metode driil, dan sebagainya. Demikianlah
beberapa pertimbangan dalam menentukan metode yang akan digunakan dalam proses
interaksi belajar mengajar.
3. Prinsip-prinsip metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam:
a.

Niat dan orientasinya untuk mendekatkan hubungan antara manusia dengan Allah dan
sesama makhluk. Pendekatan kepada Allah disertai dengan tauhid, mengesakan Allah, tiada
Tuhan kecuali Allah. Tauhid ini menjadi ruh bagi aktivitas muslim. Prinsip ketauhidan ini
yang membedakan dengan metode yang lain. Penerapan metode apa pun diterima asal
memperkuat keimanan dan pengabdian kepada Allah. Keterpaduan (integrative, tauhd). Ada
kesatuan antara iman-ilmu-amal, iman-islam-ihsan, dzikir-fikr (hati dan pikir), dhahir-batin
(jiwa-raga), dunia-akhirat, dulu-sekarang-akan datang.

b.

Bertumpu pada kebenaran. Materi yang disampaikan itu benar, disampaikan dengan cara
yang benar, dan dengan dasar niat yang benar.

c.

Kejujuran (sidq dan amnah). Berbagai metode yang dipakai harus memegang teguh
kejujuran (akademik). Kebohongan dan dusta (kidzb) dalam bentuk apapun dilarang.
Keteladanan pendidik. Ada kesatuan antara ilmu dan amal. Pendidik yang mengajar dituntut
menjadi contoh tauladan bagi peserta didiknya. Tidak diperkenankan ada kata saya hanya
mengajar. Pengajar shalat, ia harus juga melaksanakan shalat. Ada dispensasi (rukhshah)
jika pendidik berhalangan secara syari semisal ia mengajar tentang haji sementara ia belum
memiliki biaya untuk naik haji sehingga belum mampu haji.

d.

Berdasar pada nilai. Metode pendidikan Islam tetap berdasarkan pada al-akhlq al-karmah,
budi utama. Metode pendidikan Islam sarat nilai, tidak bebas nilai semisal proses
pembelajaran harus memperhatikan waktu shalat (wajib).

e.

Sesuai dengan usia dan kemampuan akal anak (biqadri uqlihim).

f.

Sesuai dengan kebutuhan peserta didik (child center), bukan untuk memenuhi keinginan
pendidik apalagi untuk proyek semata.

g.

Mengambil pelajaran pada setiap kasus atau kejadian (ibrah) yang menyenangkan ataupun
yang menyedihkan.
6

h.

Proporsional dalam memberikan janji (wad, targhb) yang menggembirakan dan ancaman
(wad, tarhb) untuk mendidik kedisiplinan.
4. Macam-macam Metode Pembelajaran PAI

Berikut ini akan dikemukakan beberapa metode pembelajaran yang sekirannya dapat
dipertimbangkan penggunannya dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam Pendidikan
Agama Islam.
a.

Ceramah Bervariasi

Metode ceramah bervariasi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi
pelajaran melalui penuturan secara lisan divariasikan penggunaanya dengan penyampaian lain,
seperti diskusi, tanya jawab, dan tugas.
Ceramah dimulai dengan menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, menyiapkan garis-garis besar
yang akan dibicarakan, serta menghubungkan antara materi yang akan disajikan dengan bahan
yang telah disajikan. Ceramah akan berhasil jika mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh
dari peserta didik. Pada akhir ceramah perlu dikemukakan kesimpulan, memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk bertanya, dan memberikan tugas kepada peserta didik serta adanya
penilaian akhir.

b.

Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk
pertanyaan dari guru yang harus dijawab oleh peserta didik atau sebaliknya, baik secara lisan
maupun tertulis.
Dalam praktiknya, metode tanya jawab ini dimulai dengan mempersiapkan pertanyaan
yang diagkat dari bahan pelajaran yang akan diajarkan, mengajukan pertanyaan, menilai proses
tanya jawab yang berlangsung.
c.

Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian pelajaran dimana guru bersama-sama
peserta didik mencari jalan pemecahan atas persoalan yang dihadapi. Inti dari pengertian diskusi
adalah meeting of mind. Para peserta didik dihadapkan pada suatu masalah, dan yang
didiskusikan adalah pemecahannya. Dalam pemecahan masalah terdapat berbagai alternatif. Dari
macam-macam kesimpulan jawaban yang dikemukakan dalam diskusi perlu dipilih satu jawaban
yang lebih logis dan tepat. Jawaban ini melalui mufakat. Jawaban yang merupakan pemecahan
masalah itu mempunyai argumentasi yang kuat.
d.

Metode simulasi atau bermain peran

Kata simulasi berasal dari kata simulate yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah,
atau perbuatan yang pura-pura saja. Simulasi dapat digunakan untuk melakukan proses-proses
tingkah laku secara imitasi. Adapun Bentuk-bentuk simulasi adalah sebagai berikut:
1)

Peer Teaching

Latihan atau praktek mengajar, yang menjadi peserta didiknyaadalah temannya sendiri.
Tujuannya untuk memperoleh keterampilan dalam mengajar.
2)

Sosiodrama

Sosiodrama adalah sandiwara atau dramatisasi tanpa skrip (bahan tertulis), tanpa latihan terlebih
dahulu, dan tanpa menyuruh peserta didik menghapal sesuatu.
3)

Psikodrama

Permainan peranan yang dilakukan, dimaksudkan agar individu yang bersangkutan memperoleh
insight atau pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan self concept.
Psikodrama digunakan untuk maksud terapi. Masalah yang diperankan adalah perihal emosional
yang lebih mendalam yang dialami seseorang.
4)

Simulasi game

Simulasi game adalah permainan bersaing untuk mencapai tujuan tertentu dengan mentaati
peraturan-peraturan yang ditetapkan.
5)

Role playing

Role playing adalah permainan peranan yang dilakukan untuk mengkreasi kembali
peristiwa-peristiwa sejarah masa lampau, mengkreasi kemungkinan-kemungkinan masa depan
dan mengekspos kejadian-kejadian masa kini. Permainan ini lebih cocok untuk pelajaran sejarah.
e.

Metode pemberian tugas dan resistasi

Metode pemberian tugas dan resistasi adalah suaatu cara penyajian pelajaran dengan cara
guru memberi tugas tertentu kepada peserta didik dalam waktu yang telah ditentukan dan
peserta didik mempertanggungjawabkan tugas yang dibebankan kepadanya.
Pelaksanaan pengerjaan tugas oleh peserta didik seyogyanya dapat dipantau sehingga dapat
diketahui bahwa tugas tersebut betul-betul dikerjakan oleh peserta didik sendiri terutama bila
tugas itu dilakukan diluar sekolah atau diluar jam tatap muka.
Pemeriksaan tugas dilakukan sebaik mungkin, artinya tidak ditangguhkan sampai tugas
berikutnya. Jika tugas peserta didik tidak diperiksa sebagai mana mestinya, anak akan kecewa
dan akhirnya tidak akan menghiraukan tugas berikutnya.7
f.

Metode Demonstrasi dan Eksperimen

Metode Demontsrasi dan Eksperimen adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan
penjelasan lisan disertai perbuatan atau memperlihatkan sesuatu proses tertentu yang kemudian
diikuti atau dicoba oleh peserta didik untuk melakukannya. Dalam Demonstrasi, guru atau
peserta didik melakukan suatu proses yang disertai penjelasan lisan. Setelah guru atau peserta
didik meragakan suatu demonstrasi tersebut, selanjutnya di eksperimenkan oleh peserta didik
yang lainnya.[14]
g.

Metode Kerja Kelompok

Metode Kerja kelompok adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan cara peserta didik
mengerjakan sesuatu tugas dalam situasi kelompok dibawah bimbingan guru.
h.

Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah)

7 Moh. Uzer Usman, Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, 128-129.
8

Metode Problem solving adalah suatu cara penyajain pelajaran dengan cara peserta didik
dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahakan atau diselesaikan, baik individual
maupun kelompok.
Metode ini baik untuk melatih kesanggupan peserta didik dalam memecahkan masalahmasalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Tak ada manusia yang lepas dar kesulitan atau
masalah dalam hidupnya yang harrus diselesaikan secara rasional. Oleh sebab itu, sekolah
berkewajiban melatih kemampuan memecahkan masalah melalui situasi belajar-mengajar.
i.

Metode Karyawisata/ Widyawisata/Studiwisata

Metode karyawisata/widyawisata/studi wisata adalah suatu cara penyajian pelajaran


dengan membawa para peserta didik langsung kepada objek tertentu untuk dipelajari, yang
terdapat diluar kelas dengan bimbingan guru.
Alasan penggunaan metode ini antara lain adalah karena objek yang akan dipelajari hanya ada di
tempat objek itu berada. Selain dari itu, pengalaman langsung pada umumnya lebih baik
daripada tidak langsung, misalnaya mengunjungi museum atau situs sejarah akan lebih jeas jika
diamati secara langsung. Dengan metode ini, peserta didik lebih banyak mengetahui bukti-bukti
nyata dari peninggalan peristiwa sejarah yang dilakukan oleh para pejuang pada masa lampau.8
j.

Metode Suri Tauladan

Yakni metode mengajar dengan cara memberikan contoh dalam ucapan, perbuatan, atau
tingkah laku yang baik dengan harapan menumbuhkan hasrat bagi peserta didik untuk meniru
atau mengikutinya. Dalam pemberian keteladanan tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak
langsung. Yang bersifat langsung misalnya: pendidik memberikan contoh bagaimana sikap
membaca Al-Quran yang baik, sikap sholat yang benar, dan lain sebagainya. Sedangkan yang
bersifat tidak langsung misalnya: tampilan fisik dan pribadi pendidik dan tenaga lainnya yang
sesuai dengan suasana agamis. Pendidik hendaknya harus memiliki sikap yang penuh sopan
santun, disiplin serta selalu menyambut peserta didiknya ketika masuk dengan sambutan yang
ramah.
k.

Metode Kisah Atau Cerita

Merupakan suatu cara mengajar dengan cara meredaksikan kisah untuk menyampaikan
pesan-pesan yang terkandung di dalam materi pembelajaran.9
b.

Prinsip Mengajar

Dalam mengajar, ada beberapa prinsip mengjar yang bisa dilakukan oleh seorang guru,
diantaranya:
1) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki oleh siswa
2) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis
3) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa
4) Kesiapan (readiness) dalam mengajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar
5) Tujuan pembelajaran harus diketahui oleh siswa
6) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
E.

Dasar-Dasar Strategi Pembelajaran PAI

8 Moh. Uzer Usman, Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, 131-134.
9 Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 153.
9

Secara umum ada empat dasar yang berkaitan dalam menentukan strategi pembelajaran,
yakni:
1. Mendefinisikan dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan

kepribadian yang diharapkan dari siswa.


2. Memilih cara pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup

masyarakat yang dianggap paling efektif dan tetap untuk mencapai sasaran.
3. Memilih atau menentukan prosedur metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap

paling efektif dan efisien sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam
melaksanakan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma batas minimal keberhasilan kriteria atau standar keberhasilan
sehingga guru mempunyai pegangan yang dijadikan ukuran untuk memilih sejauh mana
keberhasilan tugas yang telah dilaksanakan.10
Selain empat dasar diatas, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan juga sebelum
mengembangkan strategi pembelajaran pendidikan agama, yakni:
1. Tujuan pembelajaran umum pendidikan Agama (dapat dilihat pada silabus atau garisgaris besar program pembelajaran yang diberlakukan)
2. Karakteristik bidang studi pendidikan Agama
3. Karakteristik siswa yang akan mengikutinya (dapat diketahui melalui pre tes secara lisan
maupun tertulis, angket dan lainnya)11
F.

Pendekatan Strategi Pembelajaran PAI

Berbagai pendekatan pembelajaran pendidikan agama di sekolah yang dapat dilakukan


oleh para guru agama antara lain:
a. Keimanan, memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman
adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan makhluk seluruh jagad raya.
b. Pengamalan, memberikan kesempatan peserta didik untuk mempraktikkan dan merasakan
hasil pengamalan ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam
kehidupan.
c. Pembiasaan, memberikan kesempatan peserta didik untuk berperilaku baik sesuai ajaran
Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan.
d. Rasional, usaha memberikan peranan pada rasio (akal) peserta didik dalam memahami dan
membedakan bahan ajar dalam materi pokok serta kaitannya dengan perilaku baik dan buruk
dalam kehidupan duniawi.
e. Emosional, upaya menggugah perasaan atau emosi peserta didik dalam menghayati perilaku
yang sesuai ajaran agama dan budaya bangsa.
f. Fungsional, menyajikan semua materi pokok dan manfaatnya bagi peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari.
g. Keteladanan, menjadikan figur guru agama serta petugas sekolah lainnya maupun orangtua
sebagai cermin manusia berkepribadian agama.
G. Standar Kompetensi Pendidik

10 Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar, (Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2001)., 4
11 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, 106-107.
10

H. Media Pembelajaran
a) Pengertian Media Pembelajaran

Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997).
Media pembelajaran adalahsebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan
pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan
bahan ajar. Banyak batasan atau pengertian yan dikemukakan para ahli tentang media,
diantaranya adalah: Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Asosociation of Education
and Communication Technology (AECT).
Dari pengertian diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa substansi dari media
pembelajaran adalah bentuk saluran, yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau
bahan pelajaran kepada penerima pesan atau pembelajar dapat pula dikatakan bahwa media
pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan dalam lingkungan pembelajar
yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar
b) Tujuan dan Manfaat Media Pembelajaran

1. Tujuan Media Pembelajaran


Tujuan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran, adalah sebagai berikut :
11

a. mempermudah proses pembelajaran di kelas


b. meningkatkan efisiensi proses pembelajaran
c. menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar
d. membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran
2. Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai
berikut :
a. pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
b. bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih di pahami pembelajar, serta
memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik
c. metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-semata hanya komunikasi verbal melalui
penuturan kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
d. pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan
penjelasa dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lainya.
1. Manfaat Media pembelajaran bagi pengajar, yaitu:
a. memberikan pedoman, arah untuk mencapai tujuan
b. menjelaskan struktur dan urutan pengajarn dengan baik
c. memberikan kerangka sistematis secara baik.
d. memudahkan kembali pengajar terhadap materi pembelajaran
e. membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian dalam pembelajaran.
f. membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar.
g. meningkatkan kualitas pembelajaran
2. Manfaat media pembelajaran bagi pembelajar, yaitu:
a. meningkatkan motivasi belajar pembelajar
b. memberikan dan meningkatkan variasi belajar pembelajar
c. memberikan struktur materi pelajaran
d. memberikan inti informasi pelajaran
e. merangsang pembelajar untuk berpikir dan beranalisis.
f. menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan.
g. pelajar dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan pengajar .
c) Pertimbangan Pemilihan Media

Pertimbangan media yang akan digunakan dalam pembelajaran menjadi pertimbangan


utama, karena media yang dipilih harus sesuai dengan:
1. tujuan pengajaran
2. bahan pelajaran
3. metode mengajar
4. alat yang dibutuhkan
5. pribadi mengajar
6. minat dan kemampuan mengajar
7. situasi pengajaran yang sedang berlangsung
Keterkaiatan antara media pembelajaran dengan tujuan, materi, metode, dan kondisi
pembelajar, harus menjadi perhatian dan pertimbangan pengajar untuk memilih dan
menggunakan media dalam proses pembelajaran dikelas, sehingga media yang digunakan lebih
12

efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebab media pembelajaran tidak dapat
berdiri sendiri, tetapi terkait dan memiliki hubungan secara timbalebalik dengan empat aspek
tersebut. Dengan demikian, alat-alat, sarana, atau media pembelajaran yang digunakan harus
disesuaikan dengan empat aspek tersebut, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan
efisien.
d) Fungsi Media Pembelajaran
Media Pembelajaran berfungsi untuk merangsang pembelajaran dengan:
1.menghadirkan obyek sebenarnya dan obyek yang langkah
2.membuat duplikasi dari obyek yang sebenarnya
3.membuat konsep abstrak ke konsep konkret
4.memberi kesamaan persepsi
5.mengatasi hambatran waktu, tempat, jumlah, dan jarak
6.menyajikan ulang informasi secara konsisten
7.memberi suasana yang belajar yang tidak tertekan, santai, dan menarik.
I.

Materi Pendidikan Agama Islam

Sebelum penulis menjelaskan materi Pendidikan Agama Islam terlebih dahulu


diungkapkan isi materi Pendidikan Agama Islam secara umum yaitu:
1. Akidah
Aqidah merupakan pondasi keyakinan atau kepercayaan seseorang. Secara bahasa akidah
berasal dari kata aqd yang berarti ikatan. Secara terminologi, akidah adalah apa yang diyakini
manusia, benar maupun salah. Adapun akidah Islam adalah meyakini seluruh prinsip-prinsip
ajaran Islam, seperti rukun iman yang enam, rukun Islam dan lain-lain. 12[43] Kita mengenal
dalam Islam terdapat rukun iman yang enam, yakni: Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat,
Iman kepada kitab-kitab, Iman kepada Rasul-Rasul Allah, Iman kepada adanya akhirat, dan Iman
kepada qada dan qadar. Ini adalah ajaran Allah melalui al-Quran. Hal ini adalah pondasi ajaran
Islam. Tanpa keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, seluruh aktivitas ibadah akan sia-sia
tanpa makna. Sehingganya dalam terminologi al-Quran, selalu di dahulukan iman dari amal
kebaikan. Karena amal kebaikan akan bermakna dan bernilai jika yang menjadi landasan
dasarnya adalah iman.
2. Ibadah

Secara bahasa, ibadah berarti taat, tunduk, menurut, mengikuti, dan doa. Menurut ulama
tauhid ibadah adalah mengesakan Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri
serta menundukkan jiwa setunduk-tunduknya kepadaNya.13[46]
Ibadah dari segi pelaksanaannya dapat dibagi dalam tiga betuk. Pertama, ibadah
jasmaniah ruhiyah yaitu perpaduan ibadah jasmani dan rohani, seperti sholat dan puasa. Kedua,
ibadah ruhaniah dan maliyah, yaitu perpaduan antara ibadah rohani dan harta, seperti zakat.
Ketiga, ibadah jasmaniah, ruhiyah, dan maliyah sekaligus, seperti malk ibadah haji.
3. Syartiat
12
13
13

Syariat secara bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti: sumber air minum, atau tempat
yang dituju manusia dan hewan untuk minum air.14[47] Sedang menurut istilah secara umum
adalah seluruh ketentuan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah
SAW.15[48] Hal ini berarti, bahwa syariat mencakup seluruh ajaran agama Islam, baik
menyangkut bidang aqidah, maupun ahkam(hukum-hukum fiqh). Hal ini sejalan dengan firman
Allah dalam QS Al-Jatsiyah: 18
Namun, dalam pengertian yang lebih sempit, syariat adalah ketentuan-ketentuan agama Islam
yang mencakup bidang hukum-hukum Fiqh, dan tidak termasuk bidang akidah dan akhlak. 16[50]
Pada garis besarnya, ketentuan-ketentuan hukum yang tercakup dalam syari'atau dalam
pengertian khusus ini terbagi dalam dua bagian yaitu, pertama: bidang ibadah, menyangkut
perbuatan manusia dalam hubungannya secara langsung dengan Allah SWT, seperti shalat,
puasa, dan ibadah haji. Kedua: bidang muamalah, menyangkut perbuatan manusia dalam
hubungannya dengan sesama manusia serta makhluk lainnya, seperti perkawinan, jual beli,
warisan, wakaf dan sebagainya

14
15
16
14